Presentasi di Munas Tarjih PP Muhammadiyah 2003: Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi


T. Djamaluddin

Pengantar: Pada Munas Tarjih ke-26 PP Muhammadiyah Oktober 2003 di Padang saya diundang untuk berbicara tentang “Kritik terhadap Teori Wujudul Hilal dan Mathla’ Wilayatul Hukmi”. Judul itu diminta oleh panitia. Namun saya memperluas dan memperhalus menjadi “Pengertian dan Perbandingan Madzhab tentang Hisab Rukyat dan Mathla” dengan tetap mecantumkan judul yang diminta Panitia. Alasan saya memperluas judul, karena saya bukan hanya mengkritisi wujudul hilal, tetapi juga imkan rukyat yang terlalu rendah.

File presentasi dan makalah lengkap dalam format PDF bisa didownload di bagian bawah slide-slide presentasi ini.

File presentasi lengkap dalam format PDF: Tarjih Muhammadiyah 2003-Presentasi

File makalah lengkap dalam format PDF: Tarjih Muhammadiyah 2003-makalah

(Makalah ini dipublikasikan juga di PR 20 dan 21 Februari 2004 dengan sedikit penyesuaian Redefinisi Hilal Menuju Titik Temu Kalender Hijriyah )

Usulan baru kriteria imkan rukyat (2010) ada dalam booklet berikut: Astronomi-Memberi-Solusi-Penyatuan-Ummat-Lengkap

27 Tanggapan

  1. Mulai bijaksana. Harusnya memang begitu. Serangan balik (kritikan balik) pembaca kpd penulis jangan diartikan sebagai perlawanan, tapi sebuah koreksi agar kita lebih dewasa dan bijaksana dalam menyampaikan ekspresi. Memang menerima kritik itu berat apalagi kita selaku individu yang kadang ego tinggi. Kalau sebuah organisasi dikritik dan tidak segera berubah, itu mungkin ada beberapa alasan, al :
    1) Keputusan tsb sudah hasil kesepakatan bersama (meski mungkin tidak bulat)
    2) Saat ini sedang terus dikaji ulang dengan melibatkan banyak pakar
    3) Mekanisme organisasi tidak memungkinkan perubahan keputusan dilakukan secara prematur (hanya tingkat bagian/majelis) dan memerlukan sidang paripurna.
    4) Hal2 lainnya.

    Jadi kita sebagai pengritik, mesti memahami itu.

    • Ini presentasi dan makalah tahun 2003, 8 tahun lalu, di forum Munas Tarjih ke-26 PP Muhammadiyah, di Padang. Begitulah yang saya suarakan sejak awal 1990-an. Saya mengkritisi WH dan IR yang rendah. Muhammadiyah hanya sedikit berubah dengan menambahkan “ijtimak qablalghurub”, setelah kritik saya tsb. Sebelumnya kriteria WH hanya “bulan terbenam lebih lambat dari matahari”.

      • Pak Djamaluddin,

        Sejauh saya bisa cek literatur yang behubungan dengan wujudul hilal, faktor ijtimak qablal ghurub sudah masuk sejak konsep wujudul hilal diusulkan oleh K.H. Wardan Diponingrat tahun 1957, dan dipakai oleh Muhammadiyah sejak tahun 1968. Selain itu, menurut pengakuan Pak Syamsul Anwar:

        Di dalam Muhammadiyah hisab wujudul hilal sudah digunakan sejak abad yang lalu. Sejak penulis mulai masuk menjadi pengurus Muhammadiyah tahun 1985 di PMW DIY dan sejak tahun 1990 di Pimpinan Pusat, hisab ini sudah dipakai dan terus berlaku hingga sekarang. Ada perubahan, namun hanya perubahan cara menghitung, bukan perubahan kriteria (kaidah memulai bulan baru). Harap dibedakan antara kaidah memasuki bulan baru dan metode perhitungan. Kaidah memasuki bulan baru dalam hisab wujudul hilal adalah tiga parameter yang kita semua sudah tahu, yaitu (1) telah terjadi ijtimak, (2) ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, (3) saat matahari terbenam hilal di atas ufuk.

        Jadi saya benar-benar skeptis kalau faktor ijtimak qablal ghurub baru dipikirkan tahun 1990-an dan merupakan hasil kritik Pak Djamaluddin. Mohon konfirmasinya sekali lagi. Saya akan lebih berterimakasih lagi kalau Pak Djamaluddin juga bisa menujukkan bukti mengenai “jasa” Pak Djamaluddin tersebut.

      • Pak Djamaluddin,

        Saya masih berharap anda bersedia menjawab permintaan konfirmasi saya di atas. Bahwa Muhammadiyah belum menggunakan kriteria ijtima’ dalam konsep wujudul hilal sebelum tahun 2003 dan merubahnya setelah mendapat kritikan anda. Menurut saya itu sangat fundamental karena pernyataan anda telah mengeliminasi banyak alasan dan dasar yang menyebabkan Muhammadiyah mengubah kriteria awal bulan dari kriteria “ijtima’ qablal ghurub” ke kriteria “wujudul hilal” di tahun 1968.

        Ada sebagian pembaca menasehati saya agar tidak lancang dan menghormati kepakaran anda, tapi saya terus terang hanya menilai apa yang keluar sebagai tulisan anda tersebut. Mohon kesediannya agar permintaan tersebut diperhatikan.

      • Referensi yang saya punya (makalah-makalah dari wakil Muhammadiyah dalam pertemuan Badan Hisab Rukyat dan buku “Hisab Awal Bulan” yang menjelaskan wujudul hilal) pra-2003 menyebutkan konsep wujudul hilal bukan seperti yang disebutkan Pak Syamsul Anwar, dengan 3 rincian seperti itu. Saya menduga ada penyederhanaan konsep seolah “bulan terbenam lebih lambat dari matahari” sudah pasti ijtimaknya sebelum maghrib, karenanya walau diketahui ijtimak qablal ghurub sebagai pra-syarat tetapi dianggap sudah terwakili oleh konsep wujud seperti itu. Karena itulah dalam makalah itu saya kritisi, bahwa WH yang hanya memperhatikan ketingian bulan bisa terjadi wujud sebelum ijtimak dengan contoh kasus yang saya sebutkan dalam makalah. Kalau ada makalah atau buku yang menjelaskan seperti pengakuan Pak Syamsul Anwar, silakan ditunjukkan dan sebutkan tahunnya. Jadi, silakan tunjukkan bukti bahwa 3 syarat (minimal 2 syarat — syarat 2 dan 3) itu sudah dituliskan di makalah atau buku Muhammadiyah pra-2003. Mungkin saya belum mempunyai makalah seperti itu saat menulis makalah tsb. Kalau ada makalah seperti itu, gugurlah klaim saya bahwa Muhammadiyah menambahkan syarat ijtimak qablal ghurub pasca saya kritisi.

      • Pak Djamaluddin,

        Saya menduga ada penyederhanaan konsep seolah “bulan terbenam lebih lambat dari matahari” sudah pasti ijtimaknya sebelum maghrib, karenanya walau diketahui ijtimak qablal ghurub sebagai pra-syarat tetapi dianggap sudah terwakili oleh konsep wujud seperti itu. Karena itulah dalam makalah itu saya kritisi, bahwa WH yang hanya memperhatikan ketingian bulan bisa terjadi wujud sebelum ijtimak dengan contoh kasus yang saya sebutkan dalam makalah.

        Mengingat “wujudul hilal” diposisikan sebagai jalang tengah antara ijtima’ qablal ghurub (yang dipakai Muhammadiyah sebelumnya) dengan imkanu rukyat, ada penjelasan yang lebih logis yang lain bahwa “penyederhanaan” tersebut karena konteksnya sudah jelas, bahwa ketiga-tiganya menggunakan ijtima’ qablal ghurub sebagai salah satu kriterianya.

        Kalau ada makalah atau buku yang menjelaskan seperti pengakuan Pak Syamsul Anwar, silakan ditunjukkan dan sebutkan tahunnya. Jadi, silakan tunjukkan bukti bahwa 3 syarat (minimal 2 syarat  syarat 2 dan 3) itu sudah dituliskan di makalah atau buku Muhammadiyah pra-2003.

        Saya tidak mempunyai hard copy buku Hisab ‘Urfi dan Hakiki dari Wardan Diponingrat, tapi kalau pernyataan dalam tulisan dibawan adalah benar, penggunaan ijtima’ sudah dipakai dalam buku tersebut dari pertama.

        43 Yang dimaksud hilal sudah wujud (sudah berada di atas ufuk) adalah matahari telah terbenam lebih dahulu dari pada terbenamnya bulan (hilal) pada hari terjadinya ijtimak, walau berjarak satu menit (artinya ketika matahari terbenam,- bulan/hilal masih beradadi atas garis ufuk/horison dan belum terbenam). Teori ini desebut wujudul hilal. Selengkapnya lihat: Muhammad Wardan, Hisab‘Urfi dan Hakiki, op. cit., hal. 43

        Tulisan yang kurang lebih mengatakan hal yang sama juga saya temukan di tempat lain. Selain itu, dari maklumat PP Muhammadiyah di bawah, selau disebut waktu ijtima’ sebagai akhir bulan, jauh sebelum tahun 2003 dimana Pak Djamaluddin klaim masih belum menggunakan ijtima’.

        http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1997/12/22/0039.html
        Menurut siaran pers yang ditandatangani Wakil Ketua PP Muhammadiyah
        Sutrisno Muhdam, kesimpulan datangnya Bulan Suci Ramadhan dan Idul
        Fitri berdasarkan pada data hisab. Pertama, Ijtima’ akhir bulan
        Sya’ban menjelang bulan Ramadhan 1418 H terjadi pada hari Senin
        tanggal 29 Desember 1997 pukul 23.58 WIB. Pada saat terbenam Matahari
        (pada hari itu) di seluruh wilayah Indonesia hilal belum wujud.

        Dikatakan, ketinggian hilal pada saat itu di Sabang -03 derajat 34
        menit, di Yogyakarta -05 derajat 08 menit dan di Merauke -06 derajat
        12 menit. Oleh sebab itu Majelis Tarjih menetapkan, senja itu dan
        keesokan harinya ditetapkan tanggal 30 Sya’ban 1418 H.

        “Dengan menyempurnakan bulan Sya’ban 30 hari (istrikmal), maka tanggal
        1 Ramadhan 1418 H jatuh pada hari Rabu bertepatan dengan tanggal 31
        Desember 1997,” kata siaran pers PP Muhammadiyah yang dikeluarkan
        Sabtu (20/12) lalu.

        Kedua, Ijtima’ akhir bulan Ramadhan 1418 H menjelang bulan Syawal 1418
        H terjadi pada hari Rabu tanggal 28 Januari 1998 pukul 13.02 WIB. Pada
        saat Matahari terbenam (pada saat itu), ketinggian hilal di Sabang +01
        derajat 46 menit dan 52 detik, di Yogyakarta +00 derajat 34 menit 12
        detik, dan di Merauke -00 derajat 31 menit 45 detik.

        http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1999/01/13/0029.html
        Dalam siaran pers yang ditandatangani Wakil Ketua PP Muhammadiyah
        Sutrisno Muhdam, disebutkan bahwa ijtima’ akhir bulan Ramadhan 1419 H
        atau menjelang bulan Syawal 1419 H terjadi pada hari Ahad Pahing, 17
        Januari 1999 pukul 22:48 WIB.

        Pada saat terbenam matahari pada hari itu, di seluruh wilayah
        Indonesia hilal belum mewujud. Keesokan harinya, Senin Pon tanggal 18
        Januari 1999 ditetapkan sebagai hari terakhir bulan Ramadhan 1419 H.

        Mungkin saya belum mempunyai makalah seperti itu saat menulis makalah tsb. Kalau ada makalah seperti itu, gugurlah klaim saya bahwa Muhammadiyah menambahkan syarat ijtimak qablal ghurub pasca saya kritisi.

        Dari semua bentuk tulisan lama Pak Djamaluddin mengenai wujudul hilal yang saya temui, anda selalu menganggap kalau wujudul hilal sekedar “moonset after sunset” dengan mengabaikan faktor ijtima’, sesuatu yang sampai sekarang belum pernah saya temukan referensinya dari Muhammadiyah. Saya tidak tahu apakah sekedar “gugurlah klaim saya” sebagai konsekuensi yang cukup terhadap kesalahan (kalau memang benar sebuah kesalahan), mengingat anda seorang pakar astronomi yang mengaku menggunakan hisab ini sebelumnya, dan konsisten mengritik konsep wujudul hilal dari dulu melalui media publik.

      • Ya, begitulah definisi wujudul hilal yang berkembang pra-2003 dalam buku dan makalah-makalah dari Muhammadiyah, dengan definisi “bulan terbenam setelah matahari, walau hanya berbeda 1 menit”, termasuk yang ditulis oleh Pak Basit Wahid perwakilan Muhammadiyah di BHR. Silakan tunjukkan saja kalau ada definisi seperti yang disebut Pak Syamsul Anwar dalam buku atau makalah pra-2003, bukan soal penyebutan data hisab yang memang selalu menyebut ijtimak pukul sekian.

      • Sepertinya Pak Agus kali ini telah ceroboh dalam membaca literatur.

        Literatur yang Pak Agus ajukan justru memperkuat pendapat Prof. Thomas bahwa sebelum tahun 2003 wujudul hilal belum memasukkan kriteria “ijitma’ terjadi sebelum matahari terbenam”. Kalimat yang Pak Agus kutip mengenai definisi wujudul hilal itu hanya menyebut “pada hari terjadinya ijtima'” dan sama sekali tidak menyebut “ijtima’ terjadi sebelum terbenamnya matahari”.

        Dan dari contoh contoh maklumat PP Muhammadiyah yang Pak Agus ajukan, tampak juga bahwa yang dimaksud dengan “hari” pada “hari terjadinya ijtima’ ” itu merujuk pada definisi hari dalam kalender syamsiyah (dimulai pukul 00:00 tengah malam), bukan pada definisi hari dalam kalender qamariyah (dimulai saat matahari terbenam).

        Kedua contoh maklumat tsb menyebutkan ijitma’ terjadi saat matahari telah terbenam (pukul 23:58 dan pukul 22:48). Tetapi, walaupun ijitma’ terjadi setelah maghrib, tetap saja hal ini sama sekali tidak menjadi syarat “wujudul hilal”. Yang dijadikan parameter untuk menentukan “wujudul hilal” adalah posisi rembulan thd ufuk pada saat matahari terbenam di hari itu (yang ijtima’nya terjadi setelah maghrib sekalipun); bukan posisi rembulan thd ufuk pada saat matahari terbenam di hari berikutnya (yang ijtima’nya harus terjadi sebelum maghrib).

        Jadi menurut saya Pak Agus telah melakukan kecerobohan dalam membaca literatur, dan kecerobohan Pak Agus ini justru memperkuat pendapat Prof. Thomas.

        Mudah mudahan dengan terkuaknya kecerobohan ini, Pak Agus lebih menyadari kekurangan Pak Agus dan belajar memberikan respek kepada orang lain, lebih lebih orang berilmu seperti Prof. Thomas; bukan malah merendahkannya dengan menyebut sebagai “ignoran bergelar profesor”.

      • Pak Djamaluddin,

        Terus terang saya sendiri tidak menemukan pernyataan eksplisit dalam tentang ijtima’ qablal ghurub baik di buku “Hisab ‘Urfi dan Hakiki” (Wardan Diponingrat, 1957) maupun buku “Hisab Awal Bulan” (Saadoe’ddin Djambek, 1977). Hanya saja, secara implisit masih bisa diartikan demikian, karena memang keduanya membicarakan ijtima’ terlebih dahulu sebelum masuk ke hisab hilal (bulan).

        Bahwa pengertian wujudul hilal juga berarti ijtima’ qablal ghurub yang bertanggal sebelum tahun 2003 saya temukan di sini:

        http://digilib.sunan-ampel.ac.id/files/disk1/12/hubptai-gdl-syaugimuba-585-1-hisab–.pdf
        Karenanya menurut Basith Wahid, bahwa wujud alhilal mengandung pengertian : (1) sudah terjadi ijtima’ qablal ghurub, dan (2) posisi bulan sudah positif di atas ufuk mar’i. [38]

        [38] Basith Wachid, Hisab untuk Menentukan Awal dan Akhir Ramadhan (Jakarta:Gema Insani Press,1995), hlm. 95.

        Sepertinya klaim Pak Djamaluddin memang tidak berdasar fakta. Dari sejarahnya pun terlihat bahwa ijtima’ qablal ghurub bukan kriteria yang seluruhnya diganti, tapi lebih tepatnya “disempurnakan” dengan memperhatikan posisi hilal (bulan) di atas ufuk:

        http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/message/15031
        Wujudul Hilal itu Pilihan Muhammadiyah
        sumber : SM, 16-30 Nopember 2002

        Perubahan dari Ijtima’ qablal ghurub ke wujudul hilal ini, atas tausyiyah Saaduddin Djambek yang saat itu ada di Majelis Tarjih Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta kepada KH Wardan Dipaningrat yang saat itu menjadi Ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah. Tausiyah ini berdasarkan penetapan Idul Fitri pada saat itu yang berbeda satu hari antara PP Muhammadiyah dengan Muhammadiyah Jakarta. Tausyiyah ini dapat dimengerti oleh Majelis Tarjih sehingga sistem hisab Ijtima’ qablal ghurub disempurnakan dengan memperhatikan posisi hilal di atas ufuq atau yang dikenal dengan sistem Wujudul Hilal.

      • Ungkapan “wujud alhilal mengandung pengertian : (1) sudah terjadi ijtima’ qablal ghurub, dan (2) posisi bulan sudah positif di atas ufuk mar’i” itulah yang kemudian melahirkan simplifikasi “asal bulan sudah terbenam lebih dahulu dari matahari walau hanya berbeda 1 menit”. Dalam pedoman baru Muhammadiyah saat ini, simplifikasi seperti itu tidak digunakan lagi sehingga 3 syarat itu secara eksplisit di tuliskan.

      • Pak Djamaluddin,

        “Simplikasi” yang dimaksud Pak Djamaluddin justru datang lebih dahulu, karena disebut dalam buku Hisab ‘Urfi dan Hakiki (silakan baca bukunya langsung), jadi lebih tepat kalau “simplikasi” tersebut diperjelas dengan apa yang di tegaskan Basit Wahid dalam bukunya, juga dalam Pedoman Hisab Muhamamdiyah. Apa yang ditulis di Pedoman Hisab Muhammadiyah itu sendiri sebenarnya hanya 2 kriteria karena kriteria (1) dan (2) pada dasarnya berarti ijtima’ qablal ghurub.

        Jadi, faktor ijtima’ qablal ghurub sudah jelas ada sebelum tahun 2003 pada saat Pak Djamaluddin melontarkan kritik tersebut.

      • Ada alasan historis mengapa saya tidak menjawab tulisan Pak Rois, tapi setelah berbulan-bulan kemudian melihat dan menemukan kembali ulir ini, tidak ada salahnya meninggalkan komentar (bukan sebagai jawaban terhadap Pak Rois).
        Meskipun terlihat ketidak-konsistenan dalam penulisan maklumat Muhammadiyah tersebut, saya tidak melihat kesalahan atau fakta yang berlawanan dengan pendapat saya. Semua contoh adalah hilal yang tidak “wujud” di tanggal 29, yaitu ketika ijima’ setelah maghrib, ataupun bulan masih di bawah ufuk di tanggal itu.
        Argumentasi yang lebih kuat tentusaja dengan literatur-literatur yang yang sebutkan kemudian dalam ulir ini, bahwa syarat ijima’ qabla ghurub sudah ada jauh sebelum tahun 2003, tidak seperti klaim dari Pak Djamaluddin.

  2. Pak Djamal….tidak ada artinya kita berdebat soal Rukyat, WH atau IR kalau kita hanya bicara skope lokal. Kesepakatan tingkat lokal (negara) tdk otomatis bisa diterima di tingkat regional. Demikian juga kesepakatan tingkat regional tidak otomatis bisa diterima secara global. Contoh MABIMS, berhasil disepakati padahal di tingkat ormas Indonesia sendiri belum sepakat. Logikanya, di internal negara dulu sepakat baru merambah ke tingkat regional (ini kalau menurut logika berfikir anda). Yang paling pas menurut saya, kita dorong pembicaraan tingkal global dan biarkan dulu praktek yg berlaku di tingkat lokal termasuk kelompok berjalan apa adanya.

    Penyatuan kalender hijriyah tidak bisa dipisahkan dengan Arab Saudi, karena dia yang selama ini memiliki otoritas penetapan hari ibadah. Sesungguhnya Arab Saudi kan sudah memiliki kalender hijriyah ummul quro, dan penyusunannya menggunakan hisab wujudul hilal (piringan bawah). Saya rasa ini sudah suatu lompatan (kemajuan) yang sangat spektakuler. Tinggal lagi kita dorong agar hari2 ibadah juga merujuk ke situ. Saya yakin ulama2 besar Arab Saudi bisa diberi pemahaman dan saya yakin mereka lebih bisa berfikir jernih serta arif karena mereka sudah tidak memikirkan perut lagi. Sedikit berbeda dengan kita, mikirin perut saja susah, apalagi mikirin rembulan.

    Lalu bagaimana dengan negara2 lain? Konsep Ka’bah jadi pusat belahan bumi bisa digunakan. Konsep ini membelah bumi pada Lautan Atlantik (di bagian barat) dan membelah Australia serta Indonesia (di bagian timur). Untuk menghindari terbelahnya benua Australia serta Indonesia, geser sedikit ke arah timur. Atau bisa juga kita pakai garis batas tanggal internasional yang sekarang. Jika dengan cara ini masih ada negara2 yg satu belahan bumi dengan Arab Saudi tapi bulan di bawah ufuk (terutama kawasan sebelah timur Arab Saudi), bisa saja kriterianya dinaikkan (WH ummul quro diganti IR). Konsep ini otomatis membuat Indonesia selalu memulai puasa, hari raya dan hari raya haji lebih dulu dari Arab Saudi. Saya yakin negara2 lain mau mengikuti, termasuk Muhammadiyah. Persoalan tanggal bukan sesuatu yang mutlak, apalagi diberlakukan bagi kawasan yang luas seperti bumi ini. Hadits rukyat itu merujuk kepada lokasi, yaitu Mekkah Madinah. Buktinya, rukyat tidak bisa diberlakukan di kawasan lintang tinggi. Soal sahur dan buka utk kawasan kutub, bisa merujuk pada kawasan terdekatnya seperti pendapat anda. Kekeliruan sedikit dalam menentukan waktu dan tanggal tidaklah merupakan dosa besar dan insyaallah Allah swt mengampuni. Makanya serangan anda kpd Muhammadiyah seakan anda telah menjadi Tuhannya waktu dan tanggal. Ini yang keliru besar. Kecuali 2 x 2 harus sama dg 4, dan jika ada orang yang menjawab 5 maka dikatakan salah besar.

    Dalam upaya menyatukan kalender hijriyah global, pasti ada kriteria yang ”dikalahkan”. Kalau tidak pasti tidak akan ada kesepakatan. Jangan2 kriteria anda juga tidak bisa diterima secara global. Ini harus dimaklumi. Dan saya yakin, kesepakatan global jauh lebih efektif implementasinya di tingkat lokal ketimbang kita sibuk memulai dari kesepakatan lokal. Kalau bisa melompat kenapa kita masih juga melangkah setapak demi setapak?

    • Kita tahu, kesepakatan global harus di tingkat pemerintahan. Sementara pembicaraan tingkat pemerintahan tidak mungkin pada aspek teknis, tetapi pada aspek kebijakan. Kebijakan tidak lepas dari praktek yang sudah atau memungkinkan dilaksanakan di masing-maisng negara. Jadi, tidak mungkin kita melompat ke kesepakatan global untuk aspek teknis seperti kalender hijriyah. Jadi, kesepakatan nasional lalu regional mau tidak harus dilalui. Seminar-seminar hanya membangun wacana, tetapi implementasi tetap bergantung pada kebijakan pemerintah masing-masing yang tidak terlepas dari kesepakatan nasional dan regional mereka.

  3. Tahapannya bukan langsung ke tingkat pemerintahan pak. Harus dimulai dari tingkat pakar astronomi dan ahli fiqih (meskipun unsur pemerintahan/kemenag baik juga diundang). Setelah diperoleh kesepakatan baik metode maupun kriterianya, baru dilakukan pertemuan tingkat pemerintah (kementerian agama). Nggak bisa ujug2 pertemuan tingkat pemerintah, karena ini menyangkut teknis dan juga fiqih. Sebenarnya pertemuan tingkat pakar kan sudah dilakukan 2x. Mudah2an di pertemuan ke 3 sudah ada kesepakatan bersama.

    • Pak Prasojo… mungkin kita bisa kerucut kan solusi yang disampaikan pak Prasojo di topik sebelah…

      a) Wilayah administrasi Arab Saudi paling timur dijadikan garis batas tanggal hijriyah global… atau

      b) Ka’bah dijadikan pusat…

      .

      Kita ambil saja, solusinya adalah solusi ‘b’
      Dan Kriteria yang digunakan adalah Kriteria IR…
      Kriteria IR “Need Optical Aid” dalam Kriteria IR Odeh… Daerah yang berwarna biru dalam tampilan di software Accurate Times…

      Sebab kalau dipaksakan tetap menggunakan Kriteria WH… memang sangat mungkin terlalu banyak wilayah di daerah sebelahTimur Mekah yang Hilal nya belum Wujud sama sekali…

      Contohnya pada Hilal Rabiul Akhir 1434, Hilal tgl 10/02/2013, hari Ahad malam Senin…
      Ketika Saudi Arabi, India dll sudah masuk zona Wujudul Hilal (wilayah “No Color” di Accurate Times)… Indonesia cuma ujung Sumatera yang masuk daerah ini… Sebagian besar Indonesia, Australia, Polinesia masih Zona Merah (Hilal di bawah ufuk)…

      .

      Bila kemudian Alternatif Solusi ini banyak dukungan dari berbagai pihak… misalnya Muhammadiyah, NU, Persis, Lapan dan Ormas / Instansi Luar Negeri…

      Ormas dan Instansi tersebut bisa melobi atau mendesak Pihak Ummul Quro untuk merevisi Kriteria Awal Bulan nya menjadi Kriteria IR “Need Optical Aid” dalam Kriteria IR Odeh…
      Agar bisa digunakan sebagai Kalender Hijriyah untuk seluruh Dunia… dari Khatulistiwa ~ Kutub, dari Timur ~ Barat…

      Bila Pihak Ummul Quro sudah merubah kriteria nya… kita bisa mendesak Otoritas Mekah untuk menjadikan nya Kalender Ibadah juga…
      Agar tanggal Ibadah pun bisa jauh-jauh hari ditetapkan…

      Permasalahan kemudian nantinya masih ada Laporan terlihatnya Hilal dari saksi, sementara posisi Hilal nya sendiri masih di bawah kriteria…
      Bisa diusulkan, Saksi tersebut Harus menunjukkan Bukti Foto nya…
      Tidak cukup hanya laporan lisan atau tulisan saja…

      Dengan begitu Laporan Keterlihatan Hilal tersebut bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah…
      Dan juga untuk lebih meningkatkan inovasi-inovasi teknologi Pemantauan Benda Angkasa di kalangan umat Islam…

      .

      Dengan begini, Mudah-mudahan Kalender Hijriyah Global bisa cepat terwujud…

      sehingga kita bisa mengucapkan “selamat tinggal” kepada Perdebatan Kalender Hijriyah…
      dan “Selamat Datang” kepada Pengoptimalan Penggunaan Kalender Hijriyah…🙂

  4. Pak Thomas….Anda tentu masih ingat dengan Allahuyarhambapak KH Abdurrohim….masih ingat juga kan perkatan beliau untuk anda waktu Munas di Padang 2003 itu??!!

  5. Pak Ivan….saya memang setuju alternatif b (Ka’bah sbg pusat belahan bumi). Yang terpenting, Arab Saudi sebagai pusat belahan bumi harus menaikkan kriteria tinggi hilal/bulan agar seluruh kawasan dalam belahan bumi yang sama dengan Arab Saudi (dari Australia dan sekitarnya hingga Afrika paling barat), posisi bulan sudah di atas ufuk pada saat Arab Saudi menetapkan tanggal 1. Jika pergeseran harian bulan terhadap matahari sekitar 12 derajat, sesungguhnya kesepakatan itu sangat mungkin dan mudah. Dalam kesepakatan ini, tidak diperlukan lagi rukyat untuk penetapan bulan baru. Rukyat hanya diperlukan untuk menyempurnakan perhitungan hisab.

    Dalam posisi ini, saya tidak setuju dengan IR, karena intinya kita harus menjaminan bahwa seluruh negara (dalam belahan yg sama dg Arab Saudi) posisi bulan sudah di atas ufuk (positif). Misalnya IR diketahui 2 derajat. Tapi pada saat di Arab Saudi tinggi hilal/bulan pas 2 derajat (IR terpenuhi), masih ada negara dalam belahan bumi yang sama, posisi bulan masih ada yang di bawah ufuk, maka kriteria 2 derajat harus dinaikkan, sampai seluruh negara bulan wujud (positif).

    Bagaimana jika kasusnya sebaliknya? Misalnya Arab Saudi bulan masih di bawah ufuk, sementara di banyak negara bulan sudah wujud? Mau tak mau negara2 lain tetap harus menunggu sampai Arab Saudi wujud. Dalam kasus ini, kriteria WH berlaku bagi Arab Saudi.

    Kriteria yang saya sampaikan ini berbeda dengan IR. Kalau IR yang dipakai, maka jika di Arab Saudi sudah tercapai IR, maka saat itu dimulai bulan baru untuk belahan bumi itu, tak peduli negara lain masih di bawah ufuk. Ini membuat negara2 yang masih di bawah ufuk akan tidak tunduk kepada kalender hijriyah global. Kalau ini yang terjadi, maka kita akan set back lagi. Jadi harus ada jaminan semua negara terpenuhi kriterianya (bulan positif).

    Bagaimana jika bulan wujud/terlihat di belahan lain (wilayah Amerika)? Terpaksa belahan bumi yang dipusati Arab Saudi (Ka’bah) memulai tanggalnya menyusul belahan Amerika. Ini tidak masalah. Jadi untuk kalender hijriyah global, ada kalanya belahan bumi yang dipusati Arab Saudi memulai bulan baru terlebih dahulu, ada kalanya belakangan, tergantung bulan muncul duluan di belahan mana.

    • Menurut saya, Bila Kriteria Awal Bulan Kalender Hijriyah Global adalah :
      Dimulai dari Belahan Bumi mana yang duluan sesuai kriteria…
      ==> Konsekuensi nya akan ada 2 Kalender Hijriyah…

      Bisa kita lihat dari Software Accurate Times…
      Katakanlah Kriteria Awal Bulan yang dipakai adalah Kriteria Belahan yang Paling Duluan berwarna Biru…

      .

      Untuk Tahun 1433 Hijriyah :

      1. Muharram
      tgl 1 – Amerika – Jumat malam Sabtu siang –> Sabtu 26 Nopember 2011
      tgl 1 Mekah – Sabtu malam Ahad siang —> Ahad 27 Nopember 2011

      2. Shafar
      tgl 1 – Mekah – Ahad malam Senin siang –> Senin 26 Desember 2011
      tgl 1 Amerika – Ahad malam Senin siang –> Senin 26 Desember 2011

      Kalender Hijriyah 1433 Amerika, bulan Muharram nya akan bertanggal s.d 30
      Kalender Hijriyah 1433 Mekah, bulan Muharram nya akan bertanggal s.d 29

      Dengan kondisi Penanggalan berbeda antara Amerika dan Mekah… Penanggalan Hijriyah otomatis harus ada 2… yaitu :
      – Kalender Hijriyah Mekah, dan
      – Kalender Hijriyah Amerika…

  6. Jika Ka’bah dijadikan garis bujur 0 derajat, rasanya tepat sekali. Alasannya :

    1) Sesuai yang Pak Ivan sampaikan, merupakan titik pangkal perkembangan manusia

    2) dengan demikian garis batas tanggal membelah Samudera Pasifik pada wilayah perairan yang boleh dikatakan kosong (tanpa pulau/manusia)

    3) Ada yang menduga bahwa Ka’bah itu dulu merupakan Kutub Utara bumi dan Kutub Selatan nya adalah Lautan Pasifik (arah ke Amerika Latin). Pergeseran kutub bumi terjadi pada Zaman Nabi Nuh (bersamaan banjir bandang Zaman Nabi Nuh). Masih menurut dugaan itu, peristiwa bergesernya kutub bumi itu disebabkan oleh pergeseran orbit planet Mars yang sangat berpengaruh kepada posisi bumi. Adalah logis kalau Ka’bah (yang dulunya diduga sebagai kutub utara bumi) merupakan titik/garis bujur 0 derajat sebagaimana Pak Ivan sampaikan. Dengan bergesernya kutub bumi, maka bumi mengalami kemiringan (tilt) sebesar 22,5 derajat.

    Terlepas dari benar/salahnya alasan nomor 3), ada fakta alam yang sesunggunhnya memperkuat dugaan itu. Antara lain, jazirah Arab kaya akan minyak, demikian juga Negara Venezuela (yang berdekatan dengan dugaan ex kutub selatan). Lalu, dalam ibadah haji dikenal satu ritual yaitu lari2 mengelilingi Ka’bah. Arah larinya berlawanan dengan arah jarum jam (searah rotasi bumi). Ini menjadi menarik jika dikaitkan dengan dugaan Ka’bah sebagai awal kutub utara tersebut. Memang di Alquran tidak disinggung soal itu, tapi yang namanya dugaan boleh saja.

    Kalau kita sedikit mencermati bola bumi (globe) sesuai yang dikatakan Pak Ivan, memang posisi2 daratan (benua) dan pulau2 telah diatur sedemikian rupa, dan pantas Ka’bah merupakan titik/garis bujur 0 derajat dan Samudera Pasifik (lebih kurang sepertiga arah daratan Amerika Latin) sebagai garis batas tanggal internasional, baik Masehi (syamsiah) maupun Hijriyah (qomariah), bukan ke arah Australia sebagaimana yang sekarang. Lalu mengapa seperrtiga arah daratan Amerika Latin? Boleh jadi pada lokasi itu, masa (gap) antara masuk tanggal sampai masuk tanggal bagi kawasan benua Australia dan kepulauan di sekitarnya berlangsung agak cukup lama (pergerakan gelap malam yang melintasi 2/3 Samudera Pasifik berlangsung cukup lama).

  7. Pak Thomas katanya ingin mewujudkan kesatuan kalender hijriyah. Tapi tulisan2nya justru tidak menyinggung bagaimana upaya2 menyatukan kelender hijriyah tersebut. Penyatuaan kalender hijriyah tidak lepas dari kaidah : Ka’bah sebagai center bumi. Atau memang Pak Thomas tidak cukup paham ilmu geografi?

    Penyatuan kalender hijriyah tak dapat dipisahkan dari kaidah Ka’bah sebagai center bumi. Saya yakin Allah swt menaruh batu Ka’bah di tempat yang sekarang itu bukan hanya untuk hadapan (kiblat sholat). Selain sebagai kiblat sholat, Ka’bah juga merupakan center of earth. Dapat saya gambarkan sebagai berikut :

    Sebuah payung yang tadinya berposisi tegak, lalu sekarang dicondongkan ke arah kita (observer) sekitar 22,5 derajat. Maka sekarang titik pusat payung kelihatan nyata dari arah kita. Jika payung diputar perlahan berlawanan dengan jarum jam, maka itulah yang disimbulkan oleh ritual ibadah ‘thawaf’ dalam ibadah haji. Jadi thawaf itu sebuah simbul perputaran bumi dengan pusatnya (kutubnya) adalah Ka’bah (dulu). Sesungguhnya thawaf itu memperingati Ka’bah sebagai bekas kutub utara. Penjelasan soal ini memang tidak ada dalam nash, tapi fakta2 alam sangat mendukung ke arah itu.

    Lalu jari2 payung itu (dulunya) ibarat garis bujur yang jika diteruskan ujung2nya akan bertemu di Samudra Pasifik. Itulah harusnya garis batas tanggal Syamsiah maupun qomariah, bukan pada garis batas yang sekarang (dalam hal ini saya setuju dengan Pak Ivan). Penetapan garis bujur 0 derajat yang melewati kota Greenwich adalah keliru dan menyesatkan. Oleh karena itu ummat islam harus bersatu padu mendorong diubahnya garis bujur 0 derajat dari kota Greenwich ke Mekkah (Ka’bah).

    Dengan kaidah ini, maka tanggal qomariah (hijriyah) tetap dimulai dari kawasan Kepulauan Hawai, Samoa dan sekitarnya (sesuai perubahan garis batas tanggal yang baru). Dengan demikian, maka tidak mungkin terjadi Indonesia berpuasa belakangan dari Arab Saudi. Artinya, Indonesia selalu memulai puasa, lebaran dan idul adha duluan dibanding Arab Saudi. Ini kalau kita mau bicara penyatuan kalender hijriyah. Bagaimana kriteria penyusunan kalender hijriyah, sudah tidak sulit lagi. Jika memungkinkan, gunakan hisab Wujudul Hilal. Jika tidak memungkinkan, naikkan kriterianya apakah 2 derajat, 4 derajat, 6 derajat dst (untuk Arab Saudi). Yang terpenting, dalam satu belahan bumi harus tidak boleh ada yang di bawah ufuk. Pastikan semua kawasan di belahan bumi yang sama (khususnya pada kawasan tropis) tidak ada lagi hilal yang di bawah ufuk.

    Kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal), sudahlah….lupakan saja. Tidak penting sama sekali. Biarlah para pakar pengusung IR tambah keluh kesah.

  8. Ini bukan pseudosains pak….. Dalam sejarahnya, Nabi Adam As diturunkan di suatu tempat yang sekarang diyakini sebagai Ka’bah (Mekkah). Penurunan Nabi Adam di lokasi ini bukan tanpa makna. Terkadang kita saja yang tidak mampu menangkap makna itu berdasarkan fakta2 yang ada sekarang. Makna itu semakin diperkuat oleh tuntunan Nabi Muhammad saw dalam ibaadah haji, yaitu ritual Thawaf (berjalan mengelilingi Ka’bah). Hingga saat ini hampir tidak ada kajian soal ritual Thawaf. Allah (termasuk Nabi) memerintahkan sesuatu tentu ada maksud baik yang tersurat maupun yang tersirat. Allah memerintahkan puasa agar manusia bertaqwa (tersirat). Yang tak tersirat, fungsi puasa itu banyak termasuk untuk kesehatan. Pada awalnya logika puasa untuk kesehatan pasti ditentang, tetapi dewasa ini dunia medis justru membuktikan.

    Jadi saya setuju dengan Pak Ivan, bahwa sejarah perkembangan manusia dimulai dari Ka’bah (meskipun istilah Ka’bah itu baru muncul saat kenabian Muhammad saw). Dari Ka’bah peradaban manusia berkembang ke barat dan ke timur dan berakhir di kepulauan yang beraada di Samudera Pasifik. Makna ini harus ditangkap oleh ummat islam. Memang mengubah garis bujur 0 derajat dari Greenwich ke Mekkah bukan perkara mudah. Hal ini barangkali hanya bisa dicapai kalau ummat islam sudah menjadi ummat Penakluk bukan Pecundang seperti yang disampaikan pada postingan di blog ini.

    Bagaimana soal Alaska? Pak Thomas coba cermati garis wujudul hilal atau garis visibilitas hilal. Itu sangat kompatibel dengan fakta alam bahwa batas garis tanggal harus dibelokkan ke Selat Bering. Tidak harus memotong Alaska. Jadi memahami ilmu astronomi dan geografi tidak lepas dari makna posisi2 bola bumi ini, bukan sekedar melihat yang tampak.

  9. Di Hawai, sisa-sisa Informasi bahwa zaman dahulu :

    Hari orang Hawaii = Hari orang Polinesia lain nya, bisa kita lihat dari Informasinya di Wikipedia :

    In Hawaii, Saturday is Shabbat according to the majority opinion. Therefore, the local Saturday is fully observed as Shabbat. The day known locally as Friday is Shabbat according to the minority opinion, and one should not perform Shabbat Torah prohibitions on that day. Cooking for Shabbat should therefore be done on Thursday.

    ( http://en.wikipedia.org/wiki/International_Date_Line )

    .

    Hari Jumat di Hawaii yang berlaku sekarang, seharusnya adalah Hari Sabtu…
    Hari Kamis di Hawaii yang berlaku sekarang, seharusnya adalah Hari Jumat… artinya :

    Muslim Hawaii seharusnya Shalat Jum’at di hari yang dianggap sekarang di sana sebagai Hari Kamis…
    Yahudi Hawaii seharusnya merayakan Shabbat di hari yang dianggap sekarang di sana sebagai Hari Jumat…

    Masalah Keagamaan adalah “celah” bagi masuknya Tawaran Promosi Ka’bah sebagai Alternatif Pengganti Greenwich kepada Dunia Internasional (khusus nya kepada penduduk Polinesia)…
    Selain tentunya faktor kemudahan Hubungan administrasi dan perdagangan antar wilayah di Polinesia…

    .

    Mengenai Garis Tanggal Antara Alaska dan Kanada yang berupa daratan, bila Ka’bah Mekah dijadikan 0° bujur Timur-Barat, Garis Batas Tanggal dan Hari akan membelah daratan…
    Garis nya dibelokan seperti sekarang pun itu tidak jadi masalah…

    Hanya aneh nya (menurut saya)… Perbatasan Alaska dan Kanada, garis nya adalah hampir seluruh nya garis lurus dengan Garis Bujur sekitar 140° 58’…
    Dengan sangat kebetulan berdekatan dengan Garis Bujur “Belakang” Ka’bah, yaitu 140° 10’…
    Shalat di perbatasan Alaska Kanada kiblatnya adalah mengarah Lurus ke Kutub Utara…

    Suatu kebetulan yang bagi yang menyakini nya, adalah Tanda-tanda dari Allah swt bahwa :
    Planet Bumi dan Manusia (dalam alam bawah sadar nya) sebetulnya sudah dikondisikan oleh Allah swt agar menjadikan Ka’bah Mekah sebagai 0° bujur Timur-Barat… Manusia Sudah dikondisikan agar hati nya selalu mengait ke sana…

    Nah, begitu pun dengan Kalender Hijriyah Global… seharusnya lah kita sebagai umat Islam, Umat yang sebetulnya adalah Pewaris Sah Planet Bumi ini, menjadikan nya sebagai Koordinat untuk menentukan Penanggalan Global…

  10. Pak Ivan….setuju. Soal Alaska, garis batas tanggal bisa dibelokkan ke Selat Bering. Menurut saya ini kompatibel dengan garis hilal yang juga serong, juga kompatibel dengan tilt bumi.

    Perkara hadapan sholat, arahnya adalah Ka’bah dengan prinsip mencari jarak yang terdekat.

  11. Tinggalkan hadist-hadits tentang ru’yat. sehingga kita tidak terikat pada melihat hilal atau tidak. Masalah pergantian bulan qomariyah adalah murni domain ilmu pengetahuan bukan tugas kerasulan. Ilmu pengetahuan itu yang paling pentinga adalah “kesepakatan”. Kesepakan ilmiyah bisa diwujudkan jika suatu pendapat disertai alasan-alasan logis dan ilmiyah.
    Pergantian bulan adalah sunnatullah yang telah ada jauh sebelum Nabi diutus, manusia telah dapat menetukan pergantian bulan tersebut sesuai dengan kemapuan akalnya.
    Para Sahabat saat ini masih awam dengan ilmu hisab (kunna ummatun ummiyahtun…) maka pergantian bulan qomariyah hanya mereka ketahui dengan menculnya hilal, sehingga Nabipun menggunakannya untuk mengawali puasa dengan laporan sahabat/orang-orang gunung yang telah melihat hilal (hadits ru’yah).
    Ketepatan menggunakan dalil (hadits) tidak hanya didasarkan pada keshahihannya semata, namun juga perlu mempertimbangkan seberapa tingkat kecocokkannya dengan permasalahan dengan melihat latarbelakang (sosio-historis) hadits itu disabdakan Nabi.
    Saat ini adalah erah digital, manusia dapat menggunakan ilmu hisab (Arithmatic) yang kebenarannya sudah tidak disangsikan lagi. Gerakan matahari, bumi dan bulan dapat diketahui dan posisinyapun bisa dapat dikethaui dengan rumus-rumus yang tepat (pasti) Dengan menggunakan rumus-rumus “Spherical Trigonometri”. Sehingga meraka dapat memastikan terjadinya Ijtima’;
    Ijtima’ adalah fenomena yang unik dan spesifik, kiranya dapat diterima oleh akal sehat jika Ijtima’ sebagai batas “awal dan akhir” bulan qomariyah.
    Ijtima’ bisa dihitung dengan detiknya, demikian juga ghurub bisa dihitung dengan detiknya, hal ini bisa meminimalkan daerah-daerah kritis (daerah perbatasan) akhir/awal bulan,jauh berbeda jika kita menggunakan kriteria “imkanurru’yah”.
    Sekarang tugas ilmuwan buatlah kalender dengan paradigma “Ijtima’ sebagai awal dan akhir bulan qomariyah”. Tidak usah ewuh pekewoh dengan hadits-hadits tersebut, karena Rasulullah telah menyerahkan urusan itu kepada kita “antum a’lamu biumuri dunyakum”.
    Ummat Islam selama 14 abad sering berbeda dalam masalah ini, jenuh rasanya. Padahal Allah menyatakan ummat Islam adalah “ummatan wahidatan”. Selesaikan dengan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan yang ilmiyah, bukan dengan kaidah ilmu tafsir dan ilmu hadits.

    • Bagaimana pun kelender Hijriyah tetap terikat hukum syar’i untuk pelaksaan ibadah. Secara astronomi, saat new moon itulah pergantian awal bulan. Tetapi dalam praktek kalender setiap sistem keagamaan/kepercayaan punya aturan sebdiri. Kalender China, Hindu, Budha, dan lainnya diatur oleh sistem agama/kepercayaan mereka. Kalender Hijriyah juga diatur oleh aturan syar’i, karena terkait dengan aturan pelaksanaan ibadah. Jadi kelbeedr Hijriyah bukan hanya domain ilmu pengetahuan. Kalau hanya domain ilmu pengetahuan, ahli fikih tidak akan berdebat. Ilmuwan tidak mungkin mengambil alih sepenuhnya masalah kalender hijriyah, tetapi bisa memberi masukan untuk penyelesaiannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: