Memaknai Refleksi “Tahun Penuh Dusta” dalam Konteks Internal Muhammadiyah untuk Menuju Kehidupan Berbangsa yang Lebih Baik


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI

(Dari http://oase.kompas.com/read/2011/12/20/03010073/Din.Syamsuddin.2011.Tahun.Penuh.Dusta)

 

Ketua Umum PP Muhammadiyah memaparkan refleksi akhir tahun dengan menyatakan bahwa tahun 2011 adalah “tahun penuh dusta”. Saya tidak tertarik dengan makna politis pernyataan itu, karena itu bukan kompetensi saya. Tetapi saya tertarik dengan makna luas refleksi itu, yang mengarah bukan hanya eksternal tetapi juga internal Muhammadiyah. Apalagi dalam Islam ada prinsip da’wah yang bersifat eksternal sekaligus internal yang diajarkan Allah dalam Al-Quran surat Ash-Shaaf: 2 – 4:

 

”Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS 61: 2 – 4).

 

Ayat 4 sangat relevan dengan tujuan saya memaknai refleksi tersebut, untuk menjadikan ummat ini satu barisan yang kokoh seperti bangungan yang tersusun rapih. Tujuan refleksi akhir tahun tentunya bukan sekedar kritik kosong tak bermakna, tetapi sarat dengan muatan tekad untuk membenahi kehidupan berbangsa di Indonesia. Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang besar tentu punya peran penting dalam membangun bangsa ini. Kita semua mengakui dan mengapresiasi peran sosial keagaman Muhammadiyah tidak bisa diabaikan sejak pra-kemerdekaan RI sampai saat ini. Gerakan tajdid (pembaruan) menjadi ciri menonjol pada awal sejarah persyarikatan Muhammadiyah.

 

Sayang, jiwa tajdid itu kini tampak meredup. Ketika ummat menghendaki persatuan dengan simbol fenomena sosial kebersamaan dalam berhari raya, Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria usangnya “Wujudul Hilal” (asal “hilal” wujud di atas ufuk) yang menghambat persatuan itu. Pernyataan keras tokoh-tokohnya menghadapi kritik atas kriteria usang itu mengindikasikan ada dusta internal yang didokrinkan seolah hisab itu paling hebat dan seolah hisab itu hanya wujudul hilal. Ketika diajak untuk bersatu dan bersepakat pada hisab kriteria imkan rukyat (perhitungan astronomi tentang kemungkinan terihatnya hilal) yang menyetarakan hisab dan rukyat tanpa meninggalkan metode hisab yang diyakininya, perwakilan mereka melakukan disenting opinion dan yang terlanjur menandatanganinya bersikeras membantah mewakili Muhammadiyah. Muhammadiyah ingin tetap berbeda dengan yang lain, seolah ajakan pada QS 61:4 untuk bersatu dalam barisan yang kokoh dianggapnya tidak penting. Superioritas organisasi tampaknya mengabaikan seruan Allah itu.

 

Paradoks wujudul hilal atau dalam bahasa awamnya “dusta” wujudul hilal sudah sangat nyata dan landasan dalilnya sangat lemah. Mereka masih berlindung pada dalil hisab yang sebenarnya juga berlaku bagi hisab imkan rukyat. Ego organisasi sangat kental terasa. https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/12/13/membongkar-paradoks-wujudul-hilal-untuk-mendorong-semangat-tajdid-muhammadiyah/ .

Pimpinan Muhammadiyah sebenarnya punya peran besar untuk menghapus ”dusta” itu dan berupaya mempelopori perubahan atas dasar tajdid yang mencerahkan. Sungguh indah kalau orgnasisasi besar Muhammadiyah dan NU dengan dukungan ormas-ormas Islam lainnya mau maju selangkah menuju penyatuan kriteria hisab rukyat yang menjadi dasar kelender Hijriyah. Dengan kriteria tunggal kemapanan kalender hijriyah bisa kita bangun dan kebersamaan dalam berhari raya bisa terwujud. ”Bigbang” ledakan besar pembaruan bisa berasal dari para pemimpin ormas Islam, terutama ormas-ormas besarnya seperti Muhammadiyah dan NU. Pemerintah sebagai fasilitator yang mengayomi semuanya akan mendukung upaya besar itu.

Mari kita maknai refleksi “tahun penuh dusta” dalam konteks internal Muhammadiyah. Kita rujuk saja salah satu berita media massa dan kita ganti kata ”negara”, ”bangsa”, dan ”pemerintah” menjadi ”MUHAMMADIYAH”. (Berita dari http://oase.kompas.com/read/2011/12/20/03010073/Din.Syamsuddin.2011.Tahun.Penuh.Dusta). Inilah refleksi internal Muhammadiyah yang disampaikan oleh Ketua umumnya:

“Namun, ketika ada masalah, sering para pemimpin MUHAMMADIYAH ini lari dari masalah atau merasa tidak ada masalah. Mungkin merasa ada legitimasi yang lebih besar sehingga terjadi penumpukan masalah,” katanya.

Din menilai jika persoalan yang ada tidak dapat diselesaikan dengan baik, maka dikhawatirkan akan menjadi masalah yang semakin kronis.

“Jalan keluarnya adalah ledakan dahsyat dari komandan tertinggi MUHAMMADIYAH ini. Tapi sayang, big bang itu tidak bisa dilaksanakan. Saya khawatir big bang itu datangnya dari bawah,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini MUHAMMADIYAH masih punya harapan untuk memperbaikinya karena masih ada jalan untuk mencari solusi.

“Memang asa masih tersisa, maka marilah kita kumpulkan asa secara bersama-sama agar kita bisa mengatasi masalah besar sekalipun,” ucap Din.

 

About these ads

21 Tanggapan

  1. KURANG KERJAAN AJA…

  2. Hehehe….masih saja pak Djamal mengambil kesimpulan yang salah. Kasus kondisi bangsa yang memprihatinkan (terutama secara ekonomi, meski dampaknya juga secara sosial) mau disamakan dg kasus ranah ”ijtihadi” dalam berpuasa dan berhari raya. Ini kasus antara bumi dan langit. Makanya…kalau basic nya astronomi jangan bicara masalah ekonomi (dan sosial), biar nggak dicap ngawur dan kurang kerjaan.

  3. Wua..ha..ha..ha. Lucu juga sampeyan…
    Ayo pak djamal mari kita tertawa bersama-sama..
    Sbg refleksi tahun baru masehi utk memperingati kelahiran dewa matahari..
    Ayo pak djamal, wuahaha.. Wuahaha.. Sekali lagi pak djamal, wuahaha.. Wuahaha.. Cukup ya pak djamal..
    Nb. Sbnarnya muales ngapeli sampeyan lagi. Tp lucu juga sampeyan kali ini

  4. Kalau Din Syamsuddin memberi stempel ”Penuh Dusta”, mungkin beliau memang punya data2 untuk itu. Kalau saya mah lebih suka mengatakan ”kurang serius”. Setidaknya dari hal2 yang masih dirasakan berikut ini.

    1) Katanya mau berada di barisan paling depan memberantas korupsi, tapi menteri yang terindikasi ‘bermasalah’ masih tetap dipakai. Rekening gendut di jajaran aparat dan birokrasi tidak diperintahkan untuk diusut tuntas. Kebocoran anggaran masih terjadi baik pada pra anggaran maupun pelaksanaan anggaran.
    2) Katanya mengutamakan kepentingan rakyat, tapi prakteknya rakyat banyak dirugikan (sengketa lahan seperti kasus Mesuji, izin industri/pemanfaatan SD Alam, dll).
    3) Katanya pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi (meski angkanya boleh jadi bener) siapa sesungguhnya yang menikmati? Bukankah yang paling menikmati adalah para pemilik modal/pelaku usaha? Rakyat bawah dan karyawan mah…hidupnya tetap kembang kempis.
    4) Katanya mau efisiensi anggaran, tapi belasan wakil menteri justru diangkat.
    5) Katanya reformasi birokrasi dan remunerasi, tapi belum dirasakan hasilnya dan diskriminatif. Buktinya baru beberapa instansi pusat. Apa PNS daerah bukan bagian dari republik?

    Hal2 di atas umumnya hanya bisa dirasakan, tapi tidak mudah membuktikannya. Kasus2 yang terungkap boleh jadi hanya sebagian kecil dari praktek yang ada, itupun terungkap secara tidak sengaja, semisal saat Gayus nonton tennis di Bali.

    Jadi, penggunaan istilah ”penuh dusta” itu tak jauh beda dengan pernyataan anda ”paradoks” dan ”pseudosains” terhadap WH. Saya jadi teringat awal2 reformasi dulu, banyak kaum yang mengaku reformis dan mengatakan ”ganyang koruptor”. Tapi begitu mereka duduk, prilakunya tak jauh beda, bahkan ada yang lebih parah. Idealnya, dakwah itu bil-lisan dan bil-hal. Kalau hanya bil-lisan dan prilakunya tdk sejalan dg lisannya, namanya munafik. Sebaliknya kalau hanya bil-hal tapi tidak disertai dengan ekspose, maka hanya sedikit yang tahu dan syiarnya kurang.

  5. hehehe,, ternyata pak Thomas yang ketahuan berdustanya :)… aku heran deh dengan pak Thomas…

  6. Dikira pak Djamal, penentuan puasa dan hari raya itu suatu kebijakan yg berpengaruh pada taraf hidup rakyat, jadi disamakan dg politik mengelola negara terutama bidang ekonomi. Jauh beda pak….

    Kalau SBY menerapkan politik ekonomi negara dg cara yg salah (semisal tidak berpihak pada rakyat kecil), maka pasti dampaknya akan merugikan rakyat kecil. Atau misalnya SBY mengaku menerapkan politik ekonomi kerakyatan, tapi prakteknya menerapkan politik kapitalisme, maka ini bentuk kebohongan dan pasti merugikan rakyat kecil.

    Kalau MHD menggunakan hisab WH, maka tak ada pengaruhnya bagi kesejahteraan masyarakat (ekonomi). Nggak ada kaitannya blassss. Bagaimana dg implikasi sosial? Relatif nggak ada masalah. Ummat islam akar rumput kini sudah cerdas (kecuali justru tokoh2nya seperti anda) dan tidak mudah terprovokasi kecuali diprovokasi oleh tokohnya. Paling mereka bertanya, kenapa bisa beda. Itu saja. Dan, setelah dijelaskan, mereka akan paham dan mengatakan….”ooooooo….gitu…”.

    Saya menduga, anda begitu resah belum bisa menyatukan ummat islam indonesia dalam berpuasa dan berhari raya, lantaran anda sudah dibiayai oleh negara keliling 5 benua dan 46 kota dan digaji dari kemenag sbg anggota BHRI, tapi belum membawa hasil seperti yang diharapkan. Jika keresahan ini yang anda rasakan, saya dapat memahami, sbg bentuk wujud rasa tanggung jawab kpd publik dan Allah swt. Tapi harap diingat, strategi anda dalam upaya menyatukan ummat islam (terutama MHD) adalah keliru besar. Ibarat mau melamar gadis dan ditolak…lalu anda mengata-ngatain si gadis. Harusnya anda tunjukkan kelebihan anda dibanding lelaki lainnya. Begitulah ibarat melamar gadis.

  7. Nyetres lagi.. Nyetres lagi.. Hobby koq nyetres..
    Hobby korupsi.., itu baru elite..

  8. ahhhh, kok saya merasa ini basi ya?… penyatuan hari raya itu bukan hal yg begitu urgent dan bisa menjadi alasan kuat sehingga harus mengeluarkan kata kata “DUSTA” buat sesama saudara seiman!!

    saya setuju komen yg terdaulu itu, ibarat meminang gadis, pinanglah dengan cara yg baik, sehinga gadis itu akan mempercayai anda, bukan malah ketika ditolak sekali, anda langsung memaki-maki di jalanan dan seluruh dunia dengan kata kata DUSTA!!

    sungguh tak elok untuk sesama muslim, apalagi melihat gelar yang selalu anda sematkan di depan dan belakang nama anda!!

    salam
    masdhenk

  9. Inilah kalau orang sudah kehabisan akal merayu MHD. Jd stress sendiri. Bingung mau nulis apa. Akhirnya Din Syamsudin yang jadi sasaran. Nggak tau kalau ibarat gadis cantik, MHD nggak tertarik sama sekali dg rayuan gombal pengusung IR. MHD udah punya pacar sendiri yang namanya WH.

    BTW tulisan pak Djamal ada hikmahnya. Setidaknya saya jd rajin menulis (sanggahan). Bahasa Indonesia saya jd tetap terpelihara dan otak saya jd terus bekerja. Nggak cepat pikun. Bahkan pemikiran saya jd lebih maju, sampai ke penerbangan antar planet dan transmigrasi antar planet. Problemanya, bagaimana ummat islam kelak di sana merukyat bulan ya? Problema yang pak Djamal sendiri pasti masih bingung mikirkannya.

  10. Ada tulisan guru saya tentang perbedaan Idul Fitri 2002 yang mungkin bermanfaat….
    =====================================================
    IDUL FITRI 1423 H, KAMIS ATAU JUM’AT ?
    Oleh : H. Agus Salim *)

    Seperti yang pernah terjadi di tahun-tahun lalu, lebaran atau Idul Fitri tahun ini, 1423 H akan terjadi perbedaan. Suara Merdeka edisi Kamis 28 Nopember menurunkan berita dibawah judul : Muhammadiyah : Idul Fitri, hari Kamis 5 Desember. Jauh sebelumnya PP Muhammadiyah Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam telah mengedarkan Maklumat tentang awal Ramadhan dan satu Syawal. Awal Ramadhan 1423 jatuh hari Rabu Legi 6 Nopember dan satu Syawal jatuh hari Kamis Kliwon 5 Desember 2002. Sementara Pemerintah baru akan mengumumkan Idul Fitri sesudah Sidang Itsbat, menunggu hasil Rukyat Rabu petang 4 Desember 2002. Mengapa terjadi perbedaan penetapan Idul Fitri ? dan bagaimana sebaiknya kita bersikap ?

    Cara Menetapkan awal Ramadhan dan satu Syawal
    Ibadah puasa wajib dijalankan di bulan Ramadhan, maka untuk memulai puasa awal Ramadhan harus diketahui, demikian pula lebaran pada satu Syawal. Tanggal satu bulan qamariyah ditandai dengan munculnya hilal (bulan tanggal satu) di atas ufuq barat saat matahari terbenam.
    Ada beberapa cara untuk memastikan hilal telah berada di atas ufuq. Cara konvensional untuk mengetahui awal Ramadhan dan satu Syawal adalah dengan rukyatul hilal, melihat bulan dengan mata telanjang. Kedua, bila hilal gagal dilihat maka ditempuh cara menggenapkan bulan Sya’ban atau Syawal menjadi 30 hari, yang dikenal dengan istikmal. Cara ketiga adalah dengan hisab manazil.
    Ketiga cara tersebut intinya untuk memastikan bahwa hilal sebagai ‘alamatu-s syahr telah berada di atas ufuq sesaat setelah matahari terbenam. Rukyatul hilal dipakai untuk membuktikan bahwa hilal telah di atas ufuq, istikmal ditempuh untuk memastikan hilal telah di atas ufuq dan hisab dipergunakan untuk memperhitungkan bahwa hilal telah wujud di atas ufuk.
    Masalahnya, untuk memastikan hilal sudah di atas ufuq sebagai ‘alamatus syahr, selain dengan rukyatul hilal dan istikmal dapatkah hisab dimanfaatkan untuk menentukan awal Ramadhan dan tanggal satu Syawal ? Karena hal inilah yang menjadi salah satu penyebab perbedaan penetapan awal Ramadhan dan satu Syawal, karena itu pula Idul Fitri 1423 H ada yang telah menetapkan Kamis 5 Desember, sementara lainnya Jum’at 6 Desember.

    Mengapa dengan rukyatul hilal
    Untuk memulai puasa Ramadhan Nabi Muhammad s.a.w. memberi petunjuk : shuumuu liru’yatih waftiruu liru’yatih. Berpuasalah karena melihat hilal dan berlebaranlah karena melihat hilal. Bila hilal tertutup genapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. (Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah). Laa tashuumuu hatta taraw al hilal walaa tuftirru hatta taraw al hilal. Jangan berpuasa sebelum melihat hilal dan jangan berlebaran sebelum melihat hilal, bila mendung, maka perkirakanlah. (Bukhari –Muslim dari Ibnu Umar).
    Petunjuk Nabi Muhammad s.a.w. ini kemudian dipegangi sebagai cara menentukan awal Ramadhan dan satu Syawal. Tetapi harus diingat Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda : Innaa ummatun Ummiyah laa naktub walaa nahsub, kami ini kelompok orang yang tidak pandai baca tulis, tidak pandai berhitung. (Riwayat Bukhari). Maka petunjuk tehnis penentuan awal Ramadhan dan satu Syawal beliau saat itu adalah harus diterima sebagai rahmat yang harus disyukuri, sebab bila mereka diharuskan menggunakan ilmu hisab, akan menyulitkan dan tidak mungkin mereka laksanakan, padahal Alah telah berfirman : laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha. Allah tidak menurunkan perintah melainkan sekadar menurut kemampuan.

    Penentuan awal bulan, urusan Din atau Dun-ya ?
    Ad Din adalah wahyu, yang kebenarannya mutlak, baik Qur’an atau Sunnah. Puasa di bulan Ramadhan dan lebaran pada satu Syawal adalah din, karena baru diketahui setelah ada petunjuk wahyu. Adapun penentuan awal Ramadhan dan satu Syawal masih dapat didiskusikan, urusan din atau dun-ya. Bila termasuk din maka tidak ada ruang untuk ijtihad di dalamnya, bahkan seorang doctor astronomi pun tidak berhak menentukan awal Ramadhan dan satu Syawal dengan ilmunya, apabila penentuan awal ramadhan dan satu syawal bulan masuk urusn diin. Lain halnya bila masuk dalam kawasan dun-ya.
    Urusan dun-ya adalah al umuur allati lam yub’ats li ajliha al anbiya’, masalah yang penyelesaiannya tidak memerlukan petunjuk para Nabi, siapapun – asal mampu – dapat melakukannya. Maka bila penentuan awal Ramadhan dan satu Syawal masuk kawasan dun-ya, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad s.a.w: antum a’lamu bi umuuri dunyaakum, kamu lebih tahu urusan duniamu, maka Iptek dapat berpartisipasi di dalamnya, dan penentuan awal Ramadhan dan satu Syawal dapat ditetapkan dengan hisab.

    Hisab sebagai Alternatif.
    Sabda Nabi Muhammad s.a.w. tentang rukyatul hilal benar adanya, tetapi kita harus fathonah dalam menerapkannya. Persoalan akan muncul seperti dalam mensikapi petunjuk Nabi Muhammad s.a.w. tentang adab buang air.
    Nabi Muhammad s.a.w. melarang buang air menghadap kiblat (Ka’bah) dan beliau bersabda : walaakin syarriquu aw gharribuu, (Muntaqal Akhbar, I : 49) menghadaplah ke Timur atau ke Barat. Sabda di atas shahih. Bila kita menerima menurut bunyinya, kita akan bingung, dilarang menghadap atau membelakangi kiblat tetapi disuruh menghadap ke Timur atau ke Barat. Apakah beliau salah ucap atau kita salah tangkap ?
    Nabi Muhammad s.a.w. bersabda tentang adab buang air di Madinah. Ilmu pengetahuan memberi informasi bahwa kiblat atau Ka’bah berada di Makkah yang secara geografis terletak di selatan Madinah. Maka beliau melarang buang air menghadap kiblat tetapi memberi alternatif untuk menghadap ke Timur atau ke Barat. Kita yang tinggal di Semarang bila akan buang air “secara Islami” justru harus nyulayani sabda beliau. Karena secara umum kiblat atau Ka’bah terletak di arah barat Semarang, maka kita dilarang menghadap ke Timur atau ke Barat. Oleh karenanya, dengan mengingat bahwa perintah rukyat disabdakan disaat masyarakat masih ummiy dan budaya tulis baca serta ilmu hitung belum populer, maka perintah rukyatul hilal harus terima dengan fathonah dan saat ini hisab dapat dijadikan alternatif sebagai tehnik penentuan awal Ramadhan dan satu Syawal.

    Manfaat Hisab
    Atas dasar sabda Nabi Muhammad s.a.w. Shuumu li ru’yatih wa-ftiruu liru’yatih, sebagian ulama menempatkan methode rukyatul hilal sebagai satu-satunya cara menentukan awal Ramadhan dan satu Syawal, namun ajaibnya pengikut aliran rukyatul hilal memberi wewenang kepada Hakim untuk menolak kasaksian orang yang mengaku melihat hilal bila ternyata keterangannya bertentangan dengan asas-asas ilmu hisab.
    Taqiyuddin as Subki, seorang tokoh ulama dikalangan madzhab Syafi’i seperti dikutip oleh Dr. Yusuf Qardhawi dalam Fiqhus Shiyam (1992 :30), mengatakan : Bila Hisab menolak kemungkinan rukyatul hilal dengan mata telanjang, maka Hakim wajib menolak kesaksian orang yang mengaku melihat hilal, karena hisab itu pasti sedang rukyatul hilal itu hanya dugaan. (ingat, rel kereta api terlihat mata berimpit, tapi kenyataannya rel KA selalu sejajar).
    Ungkapan As Subki menggambarkan bahwa hisab lebih diunggulkan di atas rukyatul hilal. Ahli rukyatpun mengaku tidak akan dapat melakukan rukyatul hilal tanpa bantuan hisab. Hisab digunakan untuk menentukan posisi hilal, dan berapa umur hilal di atas ufuk sebelum terbenam.
    Lebih dari itu, hisab bahkan dapat untuk melacak awal Ramadhan dan satu Syawal 14 abad yang lalu, ketika Nabi Muhammad s.a.w. masih hayat. Dengan kemampuan ilmu falaknya, K.H. Noor Ahmad SS, pakar ilmu falak yang anggota Lajnah Falakiyah PBNU dan anggota Badan Hisab dan Ru’yat Departemen Agama dalam makalahnya yang disampaikan pada forum Lokarkarya di IAIN Walisongo menjelang Ramadhan belum lama ini menginformasikan bahwa Nabi Muhammad s.a.w. menjalankan puasa Ramadhan pertama kali adalah hari Sabtu tahun 2 H tinggi hilal saat itu 1o24’, puasa ramadhan terakhir yang dijalani Nabi Muhammad s.a.w. dimulai hari Sabtu tahun ke 10 H tinggi hilal 0o 39’, dan beliau berlebaran 1 Syawal tahun 9 H hari Rabu setelah Selasa petang sehari sebelumnya hilal berada pada ketinggian 0o 36’.
    Luar biasa, hisab dapat memberikan informasi awal Ramadhan dan satu Syawal 14 abad yang lalu, tetapi mengapa ilmu hisab tidak diberi hak untuk menetapkan awal Ramadhan dan satu Syawal untuk waktu-waktu mendatang ? Seolah-olah hisab hanya dapat dipergunakan untuk membuat jadwal imsakiyah, untuk menolak kesaksian orang yang mengaku melihat hilal bila bertentangan dengan asas-asas ilmu hisab, untuk melacak awal Ramadhan dan satu Syawal masa lalu dan untuk membantu menentukan posisi hilal yang akan dirukyat dalam rangka menetapkan awal Ramadhan dan satu Syawal, tetapi tidak boleh digunakan untuk menetapkan awal Ramadhan dan satu Syawal. Kasihan nasib ilmu hisab !

    Sumber perbedaan
    Perbedaan penentuan awal Ramadhan dan satu Syawal bermula dari cara penentuannya, rukyatul hilal atau hisab. Keduanya diharapkan saling mendukung namun, penentuan awal Ramadhan dan satu Syawal adalah masalah fiqih, maka sesuai dengan tabi’atnya, fiqih selalu melahirkan beda pendapat.
    Menteri-menteri Agama se ASEAN (Mabims) dalam pertemuannya di Brunei beberapa waktu yang lalu sepakat memutuskan : Karena hilal pada 4 Desember mungkin tidak terlihat maka satu Syawal diputuskan jatuh pada hari Jum’at 6 Desember.
    Menurut hisab, pada 4 Desember saat matahari terbenam posisi hilal sudah di atas ufuk namun ketinggiannya kurang dari dua derajat, berdasarkan kebiasaan posisi hilal di bawah dua derajat sulit dilihat.
    Memang demikian, bagi ahli rukyat dan yang berpegang pada imkanur rukyat. Tetapi mengapa harus dua derajat ? Sebab sebagaimana dikemukakan di atas Nabi Muhammad s.a.w. pernah mengawali puasa tanggal 1 Ramadhan tahun 2 H saat itu tinggi hilal kurang dari dua derajat, dan pada tahun 10 H tinggi hilal kurang dari satu derajat. Nabi Muhammad s.a.w. juga pernah berlebaran pada tahun 9 H pada satu syawal dan tinggi hilal hanya 36 menit, kurang dari setengah derajat. Tetapi madzhab imkanur rukyat mengharuskan minimal dua derajat.
    Musykil memang, ada ketentuan : hilal mungkin di rukyat dan kesaksian orang yang melihat dapat diterima bila ketinggian hilal di atas dua derajat, sedang Nabi Muhammad s.a.w. pernah ber’idul fitri setelah hilal terlihat pada ketinggian kurang dari satu derajat, dan dewasa ini kesaksian melihat hilal pada ketinggian empat derajat disangsikan kebenarannya, human error !
    Karena itu methode hisab hakiki dengan mabda’ : bila menurut perhitungan hilal telah ada di atas ufuk saat matahari terbenam, berapapun tingginya, tampak atau tidak, tanggal satu dianggap telah tiba, lebih mengarah pada kesamaan pendapat dalam menentukan awal Ramadhan dan satu Syawal. Seperti kata Ketua Komisi Fatwa MUI, K.H. Ma’ruf Amin (Suara Merdeka, 28 Nopember) : Jika menggunakan cara hisab maka mungkin Idul Fitri hampir dipastikan perhitungannya sama.
    Melihat kenyataan perbedaan mabda’ yang berujung pada terjadinya beda idul Fitri, harapan Menteri Agama layak disambut postif. Semoga Idul Fitri dapat menjadi kekayaan khazanah ummat Islam. Walau berbeda tidak apa-apa, yang penting kita saling menghormati dan tetap dalam kebersamaan.

    Bersama dalam perbedaan
    Berbeda dalam idul fitri bukan hanya sekali ini. Di zaman khulafa rasyidin juga pernah terjadi. Orang Madinah berpuasa 28 hari, selesai lebaran Khalifah Ali bin Abi Thalib menyuruh mengqada’ puasa sehari. Abdullah bin Abbas di Madinah juga pernah berbeda dalam ber’idul fitri dengan Mu’awiyah di Syam (Suriah). Para shahabatnya mengusulkan : apa tidak cukup dengan rukyatnya Muawiyah, Ibnu Abbas menjawab : Tidak, Nabi Muhammad s.a.w. pernah mengajarkan demikian. (Sunan Baihaqi, IV : 231).
    Dua hal yang beda dalam mengamalkan agama bisa jadi benar kedua-duanya. Pernah dua orang shahabat Nabi Muhammad s.a.w. bepergian bersama, tiba waktu shalat keduanya mencari air untuk wudhu, karena tak ada air keduanya shalat dengan tayamum. Selesai shalat mereka menemukan air. Satu diantara keduanya wudhu kemudian mengulang shalat, yang lain mencukupkan shalatnya dengan tayamum. Setiba di Madinah kedua menceritakan pengalamannya kepada Nabi Muhammad s.a.w. Kepada yang mengulang shalat beliau bersabda : laka-l ajru marratain, kamu dapat dua pahala. Dan kepada yang tidak mengulang shalat beliau bersabda : ashabta-s sunnah, apa yang kamu lakukan sesuai dengan sunnah. Artinya sama dapat dua pahala, pahala shalat dan pahala mengikuti sunnah Rasul. (Bulughul Maram, 1995 : 34).
    Insya Allah, kepada yang ber’idul fitri 5 Desember akan diberi pahala karena telah berijtihad dengan hisabnya, dan yang berlebaran 6 Desember akan menerima pahala karena mengikuti sunnah dengan rukyatul hilal atau istikmal.

    Penutup
    Satu hal yang layak diperhatikan : kita boleh beda, asal tidak waton suloyo. Dalam sebuah perbincangan dengan almarhum Prof. K.H. Ibrahim Hosen, mantan Ketua Komisi Fatwa MUI, pada satu Seminar di Dibya Puri, Semarang, Penulis mendapat pelajaran berharga. Di hadapan beliau Penulis menyampaikan suatu sinyeleman bahwa saat ini di kalangan ummat, bahkan Ulamanya, ada kecenderungan waton suloyo. Beliau berkomentar : miah fil miah shahih, artinya seratus persen betul. Kemudian beliau berkisah bahwa dulu, sekitar tahun 40 an di Bengkulu para ulama menetapkan awal Ramadhan dan satu Syawal berdasarkan hisab, hal itu dilakukan bertahun-tahun. Kemudian datang para muballigh dari Yogyakarta, menjelang Ramadhan mereka menyebarkan maklumat tentang awal Ramadhan dan satu Syawal berdasarkan hisab haqiqi. Esoknya para kiyai, yang sebelumnya setiap tahun menggunakan hisab sebagai cara menentukan awal Ramadhan dan satu Syawal, berbalik mengumumkan : mulai saat ini kita mengawali puasa dan berlebaran berdasarkan rukyatul hilal !
    Menurut hisab, Rabu 4 Desember hilal sudah wujud di atas ufuk, maka Kamis 5 Desember adalah idul fitri, demikian kesimpulan pengguna metode hisab untuk menentukan satu Syawal. Tetapi saat itu hilal mungkin belum terlihat dan tidak akan terlihat karena tingginya kurang dari dua derajat, maka bilangan puasa digenapkan menjadi 30 hari, dan idul fitri jatuh hari Jumat 6 Desember, demikian kesimpulan pengguna metode rukyatul hilal.
    Dalam menentukan awal Ramadhan dan satu Syawal nampak seperti telah ada kesepakatan untuk tidak sepakat. Idul Fitri 1423 H harinya beda-beda. Walau berbeda tidak apa-apa, yang penting kita saling menghormati dan tetap dalam kebersamaan, demikian harapan Menteri Agama (Suara Merdeka, 28 Nopember).
    Beruntung kita mempunyai pasal 29 UUD 1945, ayat (2) pasal tersebut memberi keleluasaan ummat Islam mengamalkan agamanya meskipun beda, asal tidak waton suloyo dan tidak ittiba’u-l hawa’ seperti yang dikisahkan Prof. Ibrahim Hosen, Allah yarhamuh.
    Akhirnya, mari renungkan pesan Sayidina Umar r.a. ketika menjabat Khalifah, kepada para pembantunya : innallaha laa yaqbalu mina-l ‘ibad illa ma kaana mukhlishan li-llahi ta’ala. Sungguh, Allah tidak akan menerima amal hamba-Nya kecuali yang ikhlas lillahi ta’ala.

    Semarang, 30 Nopember 2002

    *) Drs. H. Agus Salim, SH, MH. Hakim Tinggi pada Pengadilan Tinggi Agama Jawa Tengah. Pegiat Pusat Pengkaian Hukum Islam dan Masyarakat PPHIM Perwakilan Jawa Tengah.

  11. Pemikiran pak Djamal masih lokalan (bumi). Padahal jagad raya ini sangat sangat sangat luas. Tatasurya terdiri dari puluhan planet. Galaksi terdiri dari ribuan tatasurya. Dan, jagad raya terdiri dari ribuan galaksi. Makanya Allah swt berfirman, 1 thn di sisi Allah itu setara 1000 thn di sisi manusia. Begitu luasnya kekuasaan Allah. Makanya kalau cuma berkutat berbicara soal bumi….alangkah kecilnya manusia. Manusia diberi potensi memikirkan jagad raya. Penerbangan antar planet itu bukan sesuatu yang mustahil (meski pak Djamal masih pesimis). Saya sangat yakin ada kehidupan (sekelas manusia) di luar bumi. Betapa Allah menciptakan jagad raya ini dg haq. Alangkah ”sia-sia”nya (skali lagi tanda kutip) planet yang jumlahnya milyaran itu jika hanya planet bumi yang dihuni manusia. Jadi pak Djamal tidak bisa mengklaim WH itu pseudosains, karena IR sesungguhnya juga tak layak. Untuk diberlakukan di kutub saja IR sudah nggak relevan. Makanya untuk ranah ijtihadi tidak ada yang paling benar. Atau lebih fairnya, sama2 benar dan sama2 salah. Namanya juga metode atau cara. Nabi menjelaskan (utk lingkup Mekah saat itu) dg rukyat. Tapi rukyat tidak bisa dibawa ke kutub. Apalagi ke angkasa dan planet lain. Artinya perlu penafsiran ulang jika dibawa ke kutub atau planet lain. Kita suka tidak sadar bahwa terkadang suatu hukum itu hanya berlaku di tempat dan waktu tertentu. Untuk memberlakukan di tempat lain atau waktu yang berbeda, terkadang perlu penafsiran ulang atau koreksi. Contoh sederhana, bagaimana kita mau merukyat hilal (bulan) kalau kita sendiri sedang berada di bulan (seperti astronot)? Atau kita sedang berada di stasiun ruang angkasa? Atau bagaimana kita mau mengetahui waktu masuk sholat 5 waktu ketika kita berada di stasiun ruang angkasa atau di planet lain? Dengan berpedoman terbit dan terbenamnya matahari boleh jadi tidak relevan bukan?

  12. Arimadyadya…..uraiannya sangat mencerahkan. Thanks

  13. Membaca tulisan TJ di atas, mengindikasikan bahwa dia mulai terjangkiti penyakit gila nomer dua belas …

  14. Terlalu membanggakan diri sebagai orang yang palin pintar se Indonesia, mungkin sedunia..halaah sampean juga nantinya Mati kok sombong sekali,mendingan berbuat sesuatu yang berguna..

  15. Apalagi dalam Islam ada prinsip da’wah yang bersifat eksternal sekaligus internal yang diajarkan Allah dalam Al-Quran surat Ash-Shaaf: 2 – 4:

    ”Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS 61: 2 – 4).

    Saya setuju pak Thomas…

    Mudah-mudahan… Umat Islam seDunia bisa ada “dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh”…

    Umat yang sama Hari dan Tanggal nya di seluruh dunia… dari Khatulistiwa sampai Kutub… dari Timur sampai Barat…

    .

    Mengenai Dusta… Dusta tidak identik dengan Perbedaan Pendapat / Ketidaktahuan / Kekurangpahaman dan Kesalahmengertian… :)

  16. Jawa Pos hari ini, 28-12-11:
    “Komunitas Satelit ITS menemukan jati dirinya sbg salah satu penyumbang teknologi komunikasi satelit Indonesia di masa depan. Mereka berhasil membuat stasiun bumi portabel. Teknologi tersebut bisa memantau pergerakan satelit yg berjarak ribuan kilometer dr stasiun bumi pengendali”
    Selamat buat adik-adik ITS, para pembinanya dan tentunya pak Nuh (Prof.DR. Muhammad Nuh, DEA) yg dengan kerja keras beliau membesarkan PENS dan ITS. ITS Cuk! Sekali lagi selamat buat ITS Cuk!.
    Utk pak Djamal mari kita bekerja lagi.. Jangan membikin tulisan2 comberan lagi. Tulisan2 anda justru berpotensi memecah kerukunan umat seiman ini.

  17. Yang saya herannya, para pendukung Pak Djamaluddin (catatan; tidak identik dengan pendukung imkanu rukyat) cenderung diam untuk tipe tulisan yang seperti ini. Padahal banyak yang telah berargumentasi kalau Pak Djamaluddin sudah sangat objektif dan ilmiah terhadap tema wujudul hilal dan Muhammadiyah dalam setiap tulisannya di blog ini.

  18. Assalamu’alaikum, Saya pendatang baru, tapi sudah sering ngikutin berbagai tulisan/diskusi di blok ini, walaupun sudah banyak orang yang mengkritisi Pak Djamaludin, tapi hanya sebuah arogansi yang ditunjukkan apalagi juga di manfaatkan oleh orang-orang yang anti WH (yang selama ini mungkin khawatir dianggap usang karena tidak menerima WH, padahal mereka tahu WH adalah salah satu cara termodern, terakurat untuk mengetahui posisi bulan), akhirnya Allah Swt punya kehendak, “tergelincirlah” Pak Djamaludin dengan tulisan yang ia buat ini, terbuka sudah apa, siapa dan bagaimana qualitas si Pak Djamaludin ini

  19. benar kata pepatah, gajah di kelopak mata tak terlihat, semut di seberang pulau nampak jelas. terus lanjutkan kritiknya prof, sampai negeri ini mempunyai satu kalender yang sama/satu mengenai ibadah.

  20. sebaiknya prof. TD tidak memberikan kritik yang berlebihan, mari kita saling menghargai…. apalagi kalo terkesan menuding MHD ber “DUSTA” meski tersirat….

  21. mr. thomas org yg “sakit”……..smg sgr diberikan “kesembuhan” dan “diberi jalan terang”…..amien……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 191 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: