Muhammadiyah Mulai Meninggalkan Wujudul Hilal


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Sebagai bagian dari edukasi menuju penyatuan kriteria menuju kalender Hijriyah yang mapan, saya tuliskan pertanyaan terarah di dinding FB saya:

“Bagaimana kira-kira isi maklumat PP Muhammadiyah tentang gerhana bulan 10 Desember 2011? Kira-kira berbunyi sbb: Malam 16 Muharram 1433 akan terjadi gerhana bulan total, pukul sekian. Adakah yang punya copy edaran PP Muhammadiyah atau MTT Muhammadiyah tentang gerhana bulan nanti?
Lalu bagaimana tanggapan para pengusung hisab mundur mengacu pada purnama tanggal 15? Mereka akan menemukan 1 Muharram = 27 November, sama dengan hasil hisab dengan imkan rukyat, bukan lagi sama dengan wujudul hilal. Masih konsistenkah dengan hisab mundurnya? Kamis pukul 18:35).

Ada dua alasan saya sampaikan pertanyaan yang menjurus tersebut. Pertama, untuk menguji konsistensi Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam penggunaan hisab wujudul hilal yang sebelumnya tampak diunggulkan (kadang dilakukan konperensi pers agar tampak keunggulannya) yang memberi kesan Muhammadiyah unggul dalam hisab. Kedua, untuk menguji konsistensi pembelaan atas wujudul hilal dengan purnama yang pada saat penentuan awal Syawal 1432 sangat gencar disuarakan.

Alasan pertama didasarkan pada maklumat atau release berita yang dilakukan MTT (dengan ttd Ketua  Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A. dan Sekretaris  Drs. H. Dahwan, M.Si.) terkait gerhana bulan 16 Juni 2011.

————————————– (Kutipan) ———————————–

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150284358943694

Release dan Tuntunan Majelis Tarjih PP MUHAMMADIYAH Terkait GERHANA BULAN

oleh Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA) pada 15 Juni 2011 pukul 19:36

Assalamu’alaikum w. w.

Dengan ini kami sampaikan, menurut hisab hakiki wujudul hilal akan terjadi gerhana bulan total pada hari Kamis, 14 Rajab 1432 H / 16 Juni 2011 M pukul 01.22 s.d. 05.03 WIB, yang melewati/melintasi seluruh wilayah Indonesia. Sehubungan dengan itu, kami mohon Redaksi Website Muhammadiyah dapat memuat maklumat atau rilis berita sebagai anjuran untuk menjalankan ibadah terkait dengan terjadinya gerhana bulan tersebut.

(Bagian seterusnya dipenggal).

——————————— (Akhir kutipan) ———————————

Namun menjelang gerhana bulan total 10 Desember 2011, nuansa menggunggulkan hisab hakiki wujudul hilal tidak dimunculkan lagi. Semoga ini pertanda baik bahwa Muhammadiyah mulai menyadari kelemahan kriteria wujudul hilal untuk kemudian bisa bersama-sama ormas lain mengkaji ulang kriteria bersama dalam penetapan awal bulan qamariyah. Kalau masih konsisten dengan wujudul hilal, bunyi maklumat akan seperti ini (perhatikan redaksi kedua maklumat hanya copy-paste dengan revisi data), “Dengan ini kami sampaikan, menurut hisab hakiki wujudul hilal akan terjadi gerhana bulan total pada hari Sabtu, 16 Muharram 1433 H / 10 Desember  2011 M pukul 19.45 s.d. 23.18 WIB, yang melewati/melintasi seluruh wilayah Indonesia”. Tetapi kali ini,dalam maklumat yang ditandatangani Wakil Ketua Drs. H. Oman Fathurohman SW., M.Ag. dan Sekretaris Drs. H. Dahwan, M.Si., ungkapan “… menurut hisab hakiki wujudul hilal …” dihapuskan.

———————————– (Kutipan) —————————————

 http://www.muhammadiyah.or.id/news-659-detail-release-dan-tuntunan-majelis-tarjih-terkait-gerhana-bulan-besok.html

Release dan Tuntunan Majelis Tarjih Terkait Gerhana Bulan Besok

Jum’at, 09-12-2011

Assalamu’alaikum w. w.

Dengan ini kami sampaikan bahwa akan terjadi gerhana bulan total pada hari Sabtu, 10 Desember 2011 M, yang melewati/melintasi seluruh wilayah Indonesia. Sehubungan dengan itu, kami mohon Redaksi Website Muhammadiyah dapat memuat maklumat atau rilis berita sebagai anjuran untuk menjalankan ibadah terkait dengan terjadinya gerhana bulan tersebut.

(Bagian Selanjutnya dipenggal)

 ————————— (Akhir kutipan) ————————————–

Kalau hisab hakiki wujudul hilal dicantumkan, tentu akan “memukul” para pembela wujudul hilal yang pada saat penentuan awal Syawal lalu sangat gencar disuarakan untuk melakukan “koreksi” atau “hitung mundur” dengan anggapan purnama terjadi pada malam 15 pada kalender hijriyah. Pada waktu itu purnama pada 12 September 2011 dijadikan dasar untuk membenarkan wujudul hilal bahwa Idul Fitri yang benar adalah 30 Agustus 2011. Kalau gerhana bulan kali ini yang tentu saja terjadi pada saat purnama, dan itu dianggap malam 15 Muharram, tentu itu berarti menyalahi hisab wujudul hilal yang mencantumkannya malam 16 Muharram. Jadi, para pengguna purnama bukanlah pendukung wujudul hilal atas dasar ilmu,  tetapi atas dasar yang lain.

28 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum pak Djamal..
    Wah.. Ada perubahan gaya nich.. Lebih santun kali ini, tdk ngomel2 sendiri lagi.. Nampak fresh dan nggak stress lagi..
    Lagi gembira ya pak.. Oooo habis melancong ke negerinya sai baba.. Kok nggak sekalian ke agra pak? Dibiayai uang negara ya kok nggak bisa kesana.. Wah kalau begitu saya ikut membiayai anda disana lho.. Dari pajak penghasilan sy yg +/- 5jt perbulan. Tp sy nggak mengapa drpada sampeyan stress terus..
    Saran saya untuk anda, jika ada kesempatan lagi untuk bertatap muka dengan para ahli hisab muhammadiyah jangan lagi colong playu tinggal gelanggang seperti di lokakarya kemarin.. Utk sementara pendapat saya disini dulu sambil memonitor kejiwaan anda yg lagi happy..

    • pendukung WH mulai kehilangan kata-kata

      • Kehilangan kata2?? Tidaklah bos…, saya hanya mensyukuri idola sampeyan yg lagi happy..
        Sowan ke negerinya Sai Baba yg oleh pengarang buku syiah dianggap sbg dajjal tp sdh mampus.. Jadi sekarang sdg mencari “the next dajjal”
        Alangkah baiknya sowan ke sana utk “hand over” dan sekalian ritual hindu 1000hr utk kyai sai baba..

    • Agres.. anda tidak mencerminkan ummat muhammadiyah, bahkan komentar anda jauh panggang dari api..tidak mencerminkan seorang muslim..begitulah salahsatu pengikut faham taklid Buta tidak konsisten

      • Betul sampeyan…, saya hanya orang biasa2 saja dan terima kasih sekali jika sampeyan tdk menganggap sy orang Muhammadiyah dan bukan muslim karena yg bukan “mereka” menurut sampeyan adalah seorang yang taklid buta dan tdk konsisten.. Nah siapa mereka?? Yaitu dagus dan sekte ingkar rukyat.. Jelasnya begini..
        Negara: NK NURI
        Raja: yg dipertoehan agung Tan Sri Dajjaluddin bin luciferuddin
        Agama: Scienthology Sekuler Ingkar Rukyat
        Hari Kemerdekaan: Hari Raya Imkan Rukyat 2 syawal 1432h

        Utk pak djamal yg lagi happy semoga kejiwaan sampeyan kembali pulih seperti sedia kala. Amiiin

    • Oh…seperti ini yah sikap seorang Muhammadiyah. Payah….

      • Yaach.. Lebih konyol lagi para pewaris tradisi hindu yg taklid buta pada tan sri dajjaludin bin luciferuddin..

      • Lebih baik taklid kepada hindu (akhlaknya) daripada ente yang ngaku Islam tapi akhlaknya wuihhhhh….jauh banget dari Islam……

  2. Saya pikir di Kriteria WH Muhammadiyah tidak ada kok syarat :
    Full Moon harus tgl 15…🙂

    ‘Full Moon selalu tgl 15 sebagai cara mengetahui ketepatan tgl 1 sebelumnya’… itu sepertinya hanya masih wacana saja…

    dan ternyata hal tersebut (berdasarkan kasus gerhana bulan malam Ahad 16 Muharram 1433 – WH malam tadi) tidak bisa dipakai untuk menguji ketepatan Penetapan tgl 1 sebelumnya…

    • Hanya kalau patokan nya adalah Lokasi Mekah (dg perhitungan Accurate Times) :

      Full Moon Muharram 1433 adalah tgl 10/12/2011 jam 17:36 waktu Mekah…
      Dengan waktu magrib di Mekah adalah jam 17:42 waktu Mekah…

      Sepertinya jam 17:36 itu masih tgl 15 waktu Mekah…🙂

  3. petinggi md (mtt) memang harus segera bicara. tidak seperti sekarang “bungkam” menanggapi setiap tulisan tj. tantang itu tj dalam forum ilmiah dan terbuka biar org. pada tahu. kalau yang bicara cuma “kroco2” malah memalukan org. md. saya sendiri gregetan, ini yang benar mana? tj apa md. saya jadi curiga jangan2 memang benar bahwa md dalam hal ilmu falak mulai kehilangan tajdid. pakar falak md tidak terdengar gaungnya. oh tolong bapak2 di pp jaga donk kaderisasi falak md. saya juga sebenarnya mau komentar gak trima tulisan tj yg memojokkan md tapi saya takut karena saya goblog ilmu falaknya, nanti malah semakin memalukan md saja.

    • Agama itu bukan buat tantang-tantangan…
      Memangnya selain Muhammadiyah, mereka sudah sepakat dengan IR pa Thomas gitu ?…

      Kalau mau tahu yang benar tj apa md… cari tahu saja sejak kapan Umat Islam mengenal kriteria Imkan Rukyat dalam Hisab Penetapan Awal Bulan… Apakah dari sejak zaman Umar bin Khattab ra ?…

      Terus coba dong semua pengguna IR sedunia “Rapat”… biar menghasilkan 1 Kriteria IR yang sama… dan dijamin tidak berubah kalau nanti dapat temuan-temuan baru…

  4. kalau niat kita baik & ikhlas, insya Allah tidak akan pernah sia-sia tiap usaha & doa kita.
    tapi rasanya tak mungkin kita merubah orang lain dg cara menghina & merendahkannya, sekalipun yg kita sampaikan adalah suatu kebenaran.
    Sepakat atau tidak sepakat dg satu kriteria ‘fikih’, semoga kita tidak semakin menyakiti hati saudara muslim dg kotornya hati & lisan kita.

    • Ya beginilah jadinya jika kesombongan sains yg dipaksakan dlm domain keyakinan yg akhirnya berujung pada pembohongan keyakinan itu sendiri seperti yg telah di usung oleh toean djamaluddin..

      • Keyakinan Opo Taklid ???????

      • Mbak endang sayank…, penjelasan sy terdahulu yg terang benderang yg namanya taklid buta bin pasrah bongkotan akan pemikiran ingkar rukyat ala mbah djamal telah diterima sepenuh hati oleh para pewaris tradisi hindu khususon bulan2 ibadah yang hanya 2 saja kok.. Seperti tea celup saja dua kali pakai lalu buang..
        Jadi itulah yg namanya taklid buta yaitu taklid terhadap tea celup..
        Mbak endang sayank jelas?? Kalau belum jelas baca lagi artikel2 mbah djamal sejak jaman JAHILiyah yg lalu..

  5. mari fastabiqul khoirooot dgn menjunjung tinggi sportifitas,,jgn dgn mencaci,,,,,”md” itu kan cuma ormas……………utk pak thomas kami selalu mendukung mu,,,,krn kami tahu engkau sungguh mulia tujuan yg hendak di capai, dan melibatkan persatuan ummat.

  6. Pak Djamaluddin,

    Ketika membuat artikel baru, saya sarankan anda melakukan peer-review seperlunya, agar tulisan anda
    – lebih objektif
    – memberikan informasi yang akurat
    – membedakan antara spekulasi dan fakta

    Buat orang yang mempunyai informasi dan pemahaman yang cukup, sangat jelas kalau konsep wujudul hilal hanya berbicara tentang kriteria awal bulan, tidak berhubungan dengan perhitungan waktu bulan purnama atau gerhana matahari. Dan saya yakin, anda juga sudah tahu akan hal itu. Toh, tetap saja disengaja persepsi yang salah dari “pendukung wujudul hilal” ini diasosiasikan ke konsep wujudul hilal itu sendiri, bahkan untuk malah untuk menguji “konsistensi” Majelis Tarjih & Tajdid (padahal ini dua subjek yang berbeda). Penggunaan “hisab hakiki wujudul hilal” masih dalam ruang lingkup kesalahan redaksional, ataupun kalau memang disengaja bisa saja berkaitan dengan tanggal Hijriyah yang dicantumkan di salah satu maklumat tersebut (maklumat yang kedua tidak ada tanggal hijriyah sama sekali, dan tidak ada hisab hakiki wujudul hilal).

    Karena Pak Djamaluddin mengaku pencerahan adalah misi anda, seharusnya anda memberi informasi yang benar dan akurat, bukan justru memanfaatkannya. Terhadap kesalahan anggapan bahwa waktu purnama bisa digunakan untuk mengklarifikasi penentuan awal bulan, anda hanya bisa menulis seperti ini:

    Secara ilmiah astronomi pun tidak ada dasarnya. Awal bulan mestinya didasarkan pada fenomena yang ada batas awalnya. Hilal ada batas awalnya, karena hari sebelumnya tidak tampak, kemudian tampak sebagai tanda awal bulan. Tampak bisa dalam arti fisik, terlihat, atau tampak berdasarkan kriteria visibilitasnya. Purnama sulit menentukan batas awalnya. Dari segi ketampakan, bulan tanggal 14 dan 15 hampir sama bentuknya (lihat gambar di atas urutan ke-13 dan 14), sama-sama bulat. Secara teoritik, rata-rata purnama terjadi pada 14,76 hari setelah ijtimak (bulan baru). Artinya, purnama bisa terlihat pada malam ke-14 atau ke-15, sehingga tidak memberikan kepastian ketika ditelusur mundur.

    Mengingat anda adalah profesor astronomi, seharusnya bisa mengeluarkan sesuatu yang lebih dari sekedar kata “rata-rata” dan menghindar dengan permasalahan kerelatifan “sama-sama bulat”. Padahal kalau seseorang yang terdidik mau sedikit melakukan PR (homework) untuk mencari tahu, tidak sulit untuk mendapat fakta bahwa orbit bulan berbentuk elips, dan dari sample perhitungan di tahun 2011/2012 saja, waktu yang diperlukan antara new moon ke full moon memang cukup variatif, dari 13.9 hari sampai 15.6 hari. Variasi angka ini jauh lebih signifikan maknanya dibanding rata-rata yang anda cantumkan.

  7. Dalam FB ditulis:
    Assalamu’alaikum w. w.

    Dengan ini kami sampaikan, menurut hisab hakiki wujudul hilal akan terjadi gerhana bulan total pada hari Kamis, 14 Rajab 1432 H / 16 Juni 2011 M pukul 01.22 s.d. 05.03 WIB, …dst

    Dalam muh.org.id ditulis:
    Assalamu’alaikum w. w.
    Dengan ini kami sampaikan bahwa akan terjadi gerhana bulan total pada hari Sabtu, 10 Desember 2011 M,… dst.

    Bapak TJ mungkin tergelitik dengan perubahan bahasa, mengapa kata-kata “hisab hakiki wujudul hilal” dibuang? Sehingga bahasa langsung yang menyatakan “menurut….” menjadi bahasa tak langsung dengan “bahwa….”. Beliau tergelitik dengan perubahan gaya bahasa yang mencolok.

    Mungkin, bahasa orang pusat lebih diplomatis dibanding bahasa orang di daerah. Maklum, bagaimanapun pusat lebih berpengalaman.

    Ada-ada aja… ketergelitikan Bapak. Terima kasih.

    • Gerhana bulan mah tidak ada hubungan dengan kriteria WH atau IR…

      Selama hitungan astronomi nya “satu guru satu elmu”…
      mau Hisab IR, WH atau Hisab “Batu Turun Pasir Naik” (Kriteria Nego)… hasil hitungan gerhana akan sama waktu hari dan jam terjadi nya…🙂

  8. itu yang disayangkan dari Prof (R) Thomas, bukan prof. Thomas,,krn dia peneliti bukan akademisi.. Pak thomas berusaha mengaburkan permasalahan wujudul hilal, seolah olah purnama merupakan bagian dari kriteria wujudul hilal.. menurut saya ini akan membodohi umat dan menimbulkan polemik baru,, serta menggiring opini kalau Muhammadiyah akan meninggalkan wujudul hilal dan beralih ke imkanurrukyat..padahal itu masih khyalan pak thomas tapi pak Thomas berhasil membungkusnya seolah olah itu fakta.. pak Thomas jangan gilaaa dong🙂

  9. 1. Thomas Jamaludin memang sering sekali membangun opini sendiri. Setelah membaca dua berita di website tersebut, lalu menemukan sesuatu yang mengganjal, mestinya dia tanyakan dulu, mengapa demikian. Tapi, karena memang maunya mencari-cari kesalahan sekaligus membenarkan diri sendiri, ya wajarlah begitu.
    2. Mengapa Muhammadiyah tidak menuliskan kata wujudul hilal dalam rilis berita itu, karena dianggap sudah tidak perlu lagi. Orang sudah dianggap mafhum bahwa Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal. Itu hal teknis yang sama sekali tidak penting untuk didiskusikan.
    3. Tambahan saya, Muhammadiyah pun di situ tidak mencantumkan tanggal hijriyahnya. Mengapa? Ya, karena ada kesulitan teknis dalam penulisan konversi tanggal dalam kalender yang menuliskan 2 macam perhitungan kalender sekaligus. Siang hari, tanggal 10 Desember adalah tanggal 15 Muharram, sementara magribnya, sudah masuk tanggal 16 Muharram. Padahal, yang ditulis dalam kalender Muhammadiyah mengacu pada waktu siang, bukan malam. Sehingga yang tertulis tanggal 10 Desesmber = 15 Muharram. Jika dalam rilis disebut tanggal 15 Muharram, secara hakiki tentu keliru karena ba’da magrib tanggal sudah berganti. Namun jika ditulis tanggal 16 Muharram, secara teknis di kalender Muhammadiyah tanggal 16 Muharram = tanggal 11 Desember, karena acuannya pada hari siang (aktif). Jadi, tanggal hijriyah memang tidak dicantumkan supaya tidak membingungkan umat
    4. Muhammadiyah sama sekali tidak pernah membuat rilis resmi bahwa mengetahui awal bulan dapat ditentukan dengan menghitung mundur dari waktu purnama

    • Bukan pada masalah teknis, tetapi pada masalah konsep. Gerhana 16 Juni terjadi sebelum terbukanya kontroversi penetapan 1 Syawal. Sesudah terbukanya kontroversi 1 Syawal, banyak pendukung WH ramai-ramai membelanya dengan pembuktian bulan purnama, walau itu bukan pendapat resmi Muhammadiyah, namun banyak warga Muhammadiyah diyakinkan dengan logika purnama itu. Pada gerhana 16 Juni yang dihitung adalah tanggal hijriyah saat maghrib. Kalau hal yang sama diberlakukan, maka mestinya dituliskan gerhana pada 16 Muharram 1433/10 Desember 2011. Namun, tampaknya itu akan menampar muka sendiri bagi para pendukung WH dengan pembenaran purnama, karena logika itu dibangun dengan asumsi purnama tanggal 15. Kali ini, kalau logika purnama yang digunakan, pembenaran jatuh pada pengguna IR, WH akan terpukul.
      Mengapa saya sebut Muhammadiyah mulai meninggalkan WH? Dengan membandingkan 2 maklumat gerhana itu tampak, MTT tidak memunculkan lagi hasil WH. Dalam prinsip da’wah, ketika sudah ada perubahan positif, walau sedikit, kita harus dorong terus. Tujuan kita satu: menyamakan kriteria yang mempersatukan rukyat dan hisab agar diperoleh satu kalender hijriyah yang mapan yang menjamin kesamaan hari raya, simbol persatuan ummat yang paling kasat mata.

      • Bedakan antara: (1) konsep wujudul hilal, (3) Majelis Tarjih & Tajdid, (3) pendukung wujudul hilal. Tiga objek yang tidak sama. Selain itu, kesimpulan Pak Djamaluddin hanya sebatas spekulasi, karena menggunakan kesalahan dalam menggunakan logika (lihat definisi “post hoc ergo propter hoc”). Jadi ini kesimpulan yang tidak logis.

    • Itulah repotnya diskusi dengan orang yang keras kepala. Muhammadiyah tidak mengingkari bahwa Sabtu malam pada saat gerhana itu sudah masuk tanggal 16 Muharram. Tapi, selama ini kita lebih terbiasa menggunakan konversi kalender sesuai dengan waktu siangnya. Misalkan malam ini, mestinya sudah masuk tanggal 22 Muharram. Tapi, ketika membuat surat, saya menulisnya tetap tanggal 21 Muharram/ 16 Desember, dan begitulah yang tertulis di Kalender Muhammadiyah 2011. Mengapa? Sekali lagi karena secara administratif kita masih mengikuti konversi kalender Masehi waktu siang hari. Ini terjadi karena perbedaan awal memulai hari. Kalender Masehi tengah malam, sementara kalender hijriyah awal malam.

  10. Pak Thomas memang lucu. Masa seorang peneliti…pakar lagi bisa membuat kesimpulan hanya dengan berpedoman kata-kata. Hayyyaaa……. Ini pakar pembodohan ummat. Sebagai pakar…tunjukkan saja kelebihan keyakinan anda…. Jika keyakinan anda memang unggul, pasti akan diikuti orang. Mudah sebenarnya. Sama saja dengan iklan shampoo….kalau dipakai ternyata nyaman pasti akan dibeli orang. Tapi kalau dipakai justru membuat gatal kepala, pasti akan ditinggalkan orang. Begitu lho…namanya pakar.

  11. Maaf Pak Thomas, artikel Bapak tentang ini salah besar.

    Sesuai kalender hijriyah yang diterbitkan oleh Majelis Tabligh PWM DIY, hari Sabtu 10 Desember 2011 itu bukan bertepatan dengan 16 Muharram 1433 H tetapi 15 Muharram 1433 H.

    Saya tidak tahu dari mana Bapak sampai menulis 10 Desember 2011 menurut Muhammadiyah bertepatan dengan 16 Muharram 1433 H.

    Mohon Bapak segera meralat tulisan Bapak dan meminta maaf kepada umat Islam, Pembaca setia Blog Bapak ini dan khususnya keluarga besar Muhammadiyah / MTT PP Muhammadiyah.

    • Maaf Pak Thomas, saya keliru. Sabtu 10 Desember 2011 habis maghrib benar sudah masuk 16 Muharram 1433 H.
      Sekalig lagi saya mohon maaf. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: