Kesepakatan Garis Tanggal Mutlak Diperlukan untuk Mewujudkan Kalender Global

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementeria Agama RI

(Gambar dari Wikipedia)

Kalender adalah hasil perhitungan (hisab) dengan suatu kriteria tertentu dalam menetapkan hari dan tanggal setiap siklus harian, bulanan, dan tahunannya. Karena bumi kita bulat, awal hari, awal bulan, atau awal tahun pada sistem kelender global harus ditetapkan batasnya. Itulah yang dinamakan garis tanggal. Secara umum ada 2 sistem kalender, sistem matahari (solar calendar atau almanak syamsiah, berdasarkan ketampakan matahari) dan sistem bulan (lunar calendar atau almanak qamariyah, berdasarkan ketampakan bulan). Animasi di atas adalah ilustrasi garis tanggal internasional (International Datel Line, IDL, berupa garis merah yang berputar mengikuti rotasi bumi) untuk kelender matahari. Pada kalender matahari internasional, awal hari ditetapkan pada tengah malam pukul 00.00. Jadi, ketika IDL melintasi waktu pukul 00.00 maka saat itulah mulai terjadi pergantian hari dan tanggal.

Garis tanggal internasional ditetapkan sekitar garis bujur 180 derajat. Tidak mungkin lurus karena mengikuti keputusan otoritas di sekitar garis tanggal itu. Sampai 1845 Filipina dan Indonesia terpisah oleh garis tanggal. Alasannya, penjajah Spanyol datangnya dari arah benua Amerika, jadi harinya disamakan dengan waktu di benua Amerika. Demikian juga Alaska. Sampai 1867, Alaska dan Kanada terpisah oleh garis tanggal, karena Alaska masih milik Rusia sebelum dibeli oleh Amerika Serikat. Kiribiti pada 1995 menggeser garis tanggal 30 derajat ke Timur, sehingga hari di Kiribiti sama dengan negara-negara Asia-Pasifik lainnya. Berikut ini garis tanggal internasional yang disepakati saat ini:

Updated: Sejak 31 Desember Samoa dan Tokelau menggeser garis tanggalnya ke arah Timur, sehingga mengikuti wilayah waktu negara-negara tetangganya di Asia Pasifik. Samoa dan Tokelau melompat dari Kamis 29 Desember menjadi Sabtu 30 Desember 2011. Gari tanggalnya menjadi seperti berikut:

(Gambar dari The Australian.com.au)

Bagaimana kalender Hijriyah yang berdasarkan bulan akan diglobalisasikan? Prinsipnya sama, harus ada garis tanggal. Namun harus disadari, hari harus tunggal, baik untuk kalender matahari maupun kalender bulan, walau mulainya bisa saja sedikit berbeda. Maka, hari mengikuti sistem kalender matahari dengan garis batas hari sama dengan garis tanggal internasional, tetapi mulainya sejaka maghrib saat biasa dilakukan rukyat. Nah, awal tanggalnya yang harus ditetapkan berdasarkan garis tanggal menurut kriteria yang disepakati secara global. Kalender Hijriyah didasarkan pada kriteria ketampakan hilal, walau rumusannya belum ada kesepakatan. Bagaimana pun, memberlakukan suatu sistem secara global harus didasarkan pada kesepakatan global juga. Kesepakatan yang utama adalah kriterianya. Dengan kriteria yang disepakati, mudah saja dibuatkan garis tanggalnya. Astronom mudah membuatkan garis tanggal itu tergantung kriteria yang disepakati.

Berikut contoh garis tanggal awal Syawal 1432 berdasarkan 3 kriteria:

(1) Kriteria Wujudul Hilal, kriteria paling sederhana, hanya berdasarkan hitungan bulan lebih lambat terbenam dari matahari sesudah ijtimak (Garis merah).

(2) Kriteria Imkan Rukyat 2 derajat, yang sederhana hanya didasarkan pada data rukyat terbatas yang belum tervalidasi (Garis kuning).

(3) Kriteria Imkan Rukyat astronomi yang didasarkan pada data rukyat secara global dan jangka panjang yang divalidasi secara astronomis (Garis biru).

Dari tiga kriteria itu silakan dipertimbangkan untuk diajukan secara global untuk disepakati. Kalender Hijriyah yang kita kehendaki adalah kalender yang bisa digunakan untuk penetapan waktu ibadah, bukan sekadar kalender administratif ala Ummul Quro di Arab Saudi . Arab Saudi menetapkan waktu ibadah dengan rukyatul hilal, tidak bergantung pada kalender Ummul Quro.

(1) Kriteria Wujudul Hilal tidak populer secara internasional dan pada saat posisi bulan rendah pasti terjadi perbedaan dengan hasil rukyat yang masih diprakteknya di banyak negara (termasuk Arab Saudi).

(2) Kriteria Imkan rukyat 2 derajat, walau pun masih sederhana dan hanya didasarkan pada beberapa data rukyat yang belum tervalidasi, kriteria ini telah disepakati oleh sebagian besar ormas Islam di Indonesia dan negara-negara MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

(2) Kriteria Imkan Rukyat astronomi yang punya landasan ilmiah astronomis.

Kalau sudah disepakati kriterianya, langkah berikutnya adalah implementasinya.

(a) Kalau mau diberlakukan secara global (satu hari-satu tanggal dalam sistem kalender Masehi, ala Jamaluddin Ar-Raziq dari Maroko), maka penetapan tanggal didasarkan pada imkan rukyat pertama kali. Kalau digunakan kriteria Imkan Rukyat Astronomis (garis biru), Afrika bagian Selatan, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan sudah imkan rukyat pada 29 Agustus. Maka 1 Syawal berlaku global jatuh pada haris Selasa, 30 Agustus 2011. Dengan sistem ini rukyat lokal tidak berlaku lagi. Tetapi, selama belum ada otoritas tunggal secara global ala khilafah, cara ini sulit diimplementasikan.

(b) Kalau mau diberlakukan atas dasar zona atau regional, maka implementasinya didasarkan pada imkan rukyat yang pertama kali di zona atau regional tersebut. Namun ini pun bergantung pada kesepakatan zona atau regional tersebut. Saat ini baru ada kesepakatan di antara negera-negara MABIMS. Maka bila itu diterapkan di regional MABIMS (yang mungkin diperluas ke ASEAN), maka dari garis tanggal tersebut (garis biru) terlihat imkan rukyat di wilayah Asia Tenggara baru terjadi pada 30 Agsutus, sehingga di regional tersebut 1 Syawal jatuh pada 31 Agsutus 2011.

(c) Implementasi realistis yang mungkin diterapkan saat ini adalah dengan prinsip wilayatul hukmi, yaitu berdasarkan otoritas wilayah hukum negara. Kalau prinsip wilayatul hukmi yang diterapkan, maka awal bulan didasarkan pada imkan rukyat pertama kali di sebagian wilayah negara tersebut. Maka kita akan melihat garis tanggal dibelok-belokkaan mengikuti batas negara, mirip seperti dibelok-belokkanya garis tanggal internasional. Garis tanggal 1 Syawal 1432 menjadi seperti berikut ini (gambar dari iwanmr):

Satelit Alami Bumi Selain Bulan Sesungguhnya Asteroid

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

(Gambar dari Wikipedia)

Benarkah hanya bulan satelit bumi yang alami? Ya. Satelit bumi yang alami adalah yang mengitari bumi (geosentrik) dan orbitnya sepenuhnya didominiasi oleh gravitasi bumi. Sampai saat ini hanya bulan yang mempunyai sifat orbit seperti itu.

Namun ada beberapa objek yang kini diketahui seolah seperti satelit bumi, walau hanya untuk sementara. Beberapa objek itu antara lain 2006 RH120, 2002 AA29 , dan 3753 Cruithne. Dari bumi, asteroid itu tampak seperti mengitari bumi, walau dengan jarak yang berubah-ubah, tidak mengikuti orbit lonjong lazimnya gerak orbit yang dipengaruhi gravitasi bumi. Gambar di atas adalah ilustrasi untuk asteroid Crithne yang mengitari bumi untuk sementara waktu, hanya sekitar 4 bulan. Asteroid itu tampak mengitari bumi selama bumi berada pada jalur orbit warna kuning. Waktu selebihnya tampak tidak mengitari bumi sama sekali.

Bagaimana menjelaskan “saudara sementara” bagi bulan ini? Asteroid itu sebenarnya mengelilingi matahari, sama seperti bumi. Namun, kalau di lihat dari bumi yang diam, asteroid itu tampak mengitari bumi selama beberapa bulan saja. Kondisi itu berulang secara berkala.

Updated: Ada mekanisme lain yang lebih rumit yang dijelaskan melalui simulasi superkomputer terkait dengan dinamika asteroid yang mengorbit dekat bumi (rincinya silakan baca http://www.skyandtelescope.com/community/skyblog/newsblog/Pseudo-moons-Orbit-Earth-136435308.html ). Simulasi itu menunjukkan bahwa sekitar Januari (saat bumi paling dekat dengan matahari) atau Juli (saat bumi paling jauh dari matahari), ada kemungkinan asteroid kecil tertangkap gravitasi bumi lalu mengorbit beberapa kali sebelum asteroid lepas dari bumi dan kembali beredar pada orbit yang mengelilingi  matahari. Simulasi superkomputer itu sekaligus menjelaskan orbit 2006 RH120 yang tampak sangat kompleks.

(Gambar dari Sky&Telescope)

Memaknai Refleksi “Tahun Penuh Dusta” dalam Konteks Internal Muhammadiyah untuk Menuju Kehidupan Berbangsa yang Lebih Baik

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI

(Dari http://oase.kompas.com/read/2011/12/20/03010073/Din.Syamsuddin.2011.Tahun.Penuh.Dusta)

 

Ketua Umum PP Muhammadiyah memaparkan refleksi akhir tahun dengan menyatakan bahwa tahun 2011 adalah “tahun penuh dusta”. Saya tidak tertarik dengan makna politis pernyataan itu, karena itu bukan kompetensi saya. Tetapi saya tertarik dengan makna luas refleksi itu, yang mengarah bukan hanya eksternal tetapi juga internal Muhammadiyah. Apalagi dalam Islam ada prinsip da’wah yang bersifat eksternal sekaligus internal yang diajarkan Allah dalam Al-Quran surat Ash-Shaaf: 2 – 4:

 

”Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS 61: 2 – 4).

 

Ayat 4 sangat relevan dengan tujuan saya memaknai refleksi tersebut, untuk menjadikan ummat ini satu barisan yang kokoh seperti bangungan yang tersusun rapih. Tujuan refleksi akhir tahun tentunya bukan sekedar kritik kosong tak bermakna, tetapi sarat dengan muatan tekad untuk membenahi kehidupan berbangsa di Indonesia. Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang besar tentu punya peran penting dalam membangun bangsa ini. Kita semua mengakui dan mengapresiasi peran sosial keagaman Muhammadiyah tidak bisa diabaikan sejak pra-kemerdekaan RI sampai saat ini. Gerakan tajdid (pembaruan) menjadi ciri menonjol pada awal sejarah persyarikatan Muhammadiyah.

 

Sayang, jiwa tajdid itu kini tampak meredup. Ketika ummat menghendaki persatuan dengan simbol fenomena sosial kebersamaan dalam berhari raya, Muhammadiyah masih bersikukuh dengan kriteria usangnya “Wujudul Hilal” (asal “hilal” wujud di atas ufuk) yang menghambat persatuan itu. Pernyataan keras tokoh-tokohnya menghadapi kritik atas kriteria usang itu mengindikasikan ada dusta internal yang didokrinkan seolah hisab itu paling hebat dan seolah hisab itu hanya wujudul hilal. Ketika diajak untuk bersatu dan bersepakat pada hisab kriteria imkan rukyat (perhitungan astronomi tentang kemungkinan terihatnya hilal) yang menyetarakan hisab dan rukyat tanpa meninggalkan metode hisab yang diyakininya, perwakilan mereka melakukan disenting opinion dan yang terlanjur menandatanganinya bersikeras membantah mewakili Muhammadiyah. Muhammadiyah ingin tetap berbeda dengan yang lain, seolah ajakan pada QS 61:4 untuk bersatu dalam barisan yang kokoh dianggapnya tidak penting. Superioritas organisasi tampaknya mengabaikan seruan Allah itu.

 

Paradoks wujudul hilal atau dalam bahasa awamnya “dusta” wujudul hilal sudah sangat nyata dan landasan dalilnya sangat lemah. Mereka masih berlindung pada dalil hisab yang sebenarnya juga berlaku bagi hisab imkan rukyat. Ego organisasi sangat kental terasa. https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/12/13/membongkar-paradoks-wujudul-hilal-untuk-mendorong-semangat-tajdid-muhammadiyah/ .

Pimpinan Muhammadiyah sebenarnya punya peran besar untuk menghapus ”dusta” itu dan berupaya mempelopori perubahan atas dasar tajdid yang mencerahkan. Sungguh indah kalau orgnasisasi besar Muhammadiyah dan NU dengan dukungan ormas-ormas Islam lainnya mau maju selangkah menuju penyatuan kriteria hisab rukyat yang menjadi dasar kelender Hijriyah. Dengan kriteria tunggal kemapanan kalender hijriyah bisa kita bangun dan kebersamaan dalam berhari raya bisa terwujud. ”Bigbang” ledakan besar pembaruan bisa berasal dari para pemimpin ormas Islam, terutama ormas-ormas besarnya seperti Muhammadiyah dan NU. Pemerintah sebagai fasilitator yang mengayomi semuanya akan mendukung upaya besar itu.

Mari kita maknai refleksi “tahun penuh dusta” dalam konteks internal Muhammadiyah. Kita rujuk saja salah satu berita media massa dan kita ganti kata ”negara”, ”bangsa”, dan ”pemerintah” menjadi ”MUHAMMADIYAH”. (Berita dari http://oase.kompas.com/read/2011/12/20/03010073/Din.Syamsuddin.2011.Tahun.Penuh.Dusta). Inilah refleksi internal Muhammadiyah yang disampaikan oleh Ketua umumnya:

“Namun, ketika ada masalah, sering para pemimpin MUHAMMADIYAH ini lari dari masalah atau merasa tidak ada masalah. Mungkin merasa ada legitimasi yang lebih besar sehingga terjadi penumpukan masalah,” katanya.

Din menilai jika persoalan yang ada tidak dapat diselesaikan dengan baik, maka dikhawatirkan akan menjadi masalah yang semakin kronis.

“Jalan keluarnya adalah ledakan dahsyat dari komandan tertinggi MUHAMMADIYAH ini. Tapi sayang, big bang itu tidak bisa dilaksanakan. Saya khawatir big bang itu datangnya dari bawah,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini MUHAMMADIYAH masih punya harapan untuk memperbaikinya karena masih ada jalan untuk mencari solusi.

“Memang asa masih tersisa, maka marilah kita kumpulkan asa secara bersama-sama agar kita bisa mengatasi masalah besar sekalipun,” ucap Din.

 

Komet Lovejoy, Komet Pelintas Matahari Dipantau Lima Teleskop Antariksa

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika

LAPAN

(Gambar dan video dari situs NASA dan http://science.soup.io/)

Komet Lovejoy yang ditemukan oleh astronom Australia Terry Lovejoy pada 27 November 2011 dari pengamatan landas bumi dengan teleskop biasa menarik perhatian. Komet ini yang ditaksir akan hancur saat melintasi matahari pada jarak relatif dekat, hanya sekitar 120.000 km dari permukaan matahari, menembus korona matahari yang bersuhu jutaan derajat, ternyata bisa bertahan. Para astronom belum bisa menjelaskan alasan komet ini bisa bertahan, padahal komet hanya terdiri dari bongkasan es dan debu dan ditaksir berdiameter sekitar 200 km. Dengan bertahannya komet ini, kesimpulan awal adalah ukuran komet sebenarnya lebih besar dari taksiran semula, yaitu lebih dari 500 km. Atau ada mekanisme lain yang belum diketahui. Para astronom memanfaatkan sekaligus lima pesawat antariksa pengamat matahari (sepasang pesawat STEREO milik NASA, Proba2 milik Eropa, Hinode milik Jepang, SDO milik NASA, dan SOHO milik ESA-NASA) untuk mengikuti proses “kematian” komet Lovejoy. Ternyata, setelah melintas satu jam di balik matahari pada pagi 16 Desember 2011 sekitar pukul 08.00 WIB, komet ini muncul lagi dan masih bertahan dengan ekornya masih menjulang, walau tampak ekornya tak sepanjang sebelumnya. Ini pertanyaan yang paling menarik bagi para astronom untuk mengkaji mekanisme efek korona matahari dan angin matahari pada komet pada jarak yang relatif sangat dekat. Gerak ekor yang terekam teleskop SDO juga tampak aneh, lebih dominan membelakangi arah gerak komet, bukan membelakangi arah matahari. Tampaknya kompleksitas medan magnetik lebih dominan daripada tekanan angin matahari.

Berikut ini rekaman foto dan video dari teleskop antariksa pemantau matahari. Perhatikan, komet bergerak dari arah kiri matahari dan keluar dari arah kanan matahari dengan ekornya yang menjauhi matahari. Ekornya dibentuk dari ionisasi akibat pemanasan matahari dan debu yang dilepaskannya yang diembus oleh angin matahari (embusan partikel bermuatan dari matahari). Arah ekornya menjauhi matahari akibat efek angin matahari dan sedikit melengkung akibat efek gerak orbitnya. Ekor yang lebih panjang dan lebih cemerlang menjelang memasuki titik terdekat dengan matahari daripada sesudahnya mengindikasikan berkurangnya jumlah debu yang dilepaskannya.

Komet Lovejoy baru terpantau teleskop antariksa pada 11 Desember 2011 oleh pesawat antariksa STEREO (the Solar Terrestrial Relations Observatory). Komet terlihat melintas dari kanan bawah di antara citra bintang-bintang:

Video: http://www.nasa.gov/multimedia/videogallery/index.html?collection_id=15504&media_id=124437811

Pesawat STEREO tersebut terus memantaunya dengan instrumen the Sun Earth Connection Coronal and Heliospheric Investigation (SECCHI) 12 – 14 Desember 2012:

Video: http://www.nasa.gov/multimedia/videogallery/index.html?media_id=124763581

Walau kurang tampak jelas, satelit pengamat matahari Proba2 milik Eropa juga turut memantaunya.Terlihat komet bergerak dari arah kiri matahari dan muncul kembali di kanan atas. Beberapa saat gambar gambar menghilang karena satelit mengorbit ke sisi malam bumi sehingga tidak bisa melihat matahari.

Teleskop optik pemantau matahari di pesawat Hinode milik Jepang memantau komet (titik merah di kiri bawah) beberapa saat sebelum komet masuk di balik matahari pada 16 Desember 2011:

Teleskop antariksa pemantau dinamika matahari the Solar Dynamics Observatory (SDO) milik NASA memantau saat-saat sebelum dan sesudah melintasi titik terdekat dengan matahari. Ada yang menarik pada video SDO, ternyata ada ekor yang arahnya ke belakang gerak komet, seperti asap yang mengepul di belakang pesawat atau kapal. Ini aneh, karena ekor komet yang terembus angin matahari (baik ekor ion maupun ekor debu) mestinya menjauhi arah matahari. Salah satu dugaannya adalah, kompleksitas medan magnetik dekat permukaan matahari yang menyebabkan pola ekor yang tidak lazim seperti itu.

Video: http://science.nasa.gov/media/medialibrary/2011/12/16/comet_whoosh.m4v

Video: http://science.nasa.gov/media/medialibrary/2011/12/16/lovejoyemerges.m4v

Teleskop antariksa SOHO (the Solar Heliospheric Observatory) mengabadikan secara lengkap proses komet Lovejoy melintasi matahari pada 15-16 Desember 2011 (Klik untuk menampilkan video):

Ini kisah Lovejoy di Youtube:

Membongkar Paradoks Wujudul Hilal untuk Mendorong Semangat Tajdid Muhammadiyah

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementrian Agama

 

 

Ketidaknyamanan hari raya yang berbeda di suatu lokasi semakin disuarakan masyarakat. Siapa yang dipersalahkan? Pemerintah dan ormas-ormas Islam yang dianggap kurang dalam upaya mempersatukan ummat. Sebenarnya upaya untuk mempersatukan kalender hijriyah yang menjadi dasar penentuan Ramadhan terus dilakukan, namun masih ada ganjalan penolakan dari Muhammadiyah. Semua ormas Islam sudah bersepakat dengan kriteria imkan rukyat. Walau belum sepenuhnya memenuhi kriteria astronomi, kriteria yang disepakati telah mempersatukan kalender hijriyah di antara sebagian besar ormas Islam dan Taqwin Standar Indonesia yang dijadikan rujukan resmi pemerintah.

Penyakit kronis superioritas di kalangan warga Muhammadiyah membangun ego organisasi yang menghambat penyatuan ummat dalam mewujudkan sistem kalender hijriyah yang mapan. Salah satu superioritas yang senantiasa diusung adalah kesan seolah hanya Muhammadiyah yang bisa menentukan hari raya jauh-jauh hari, bahkan untuk sekian tahun ke depan. Superioritas itu senantiasa diucapkan untuk merendahkan metode rukyat (pengamatan) hilal yang seolah dianggap hanya mampu menentukan awal bulan setelah melihat hilal. Superioritas itu telah menutup mata atas kenyataan metode hisab dan rukyat (perhitungan dan pengamatan) hilal yang sesungguhnya setara.

Pemahaman hisab-rukyat yang benar bukan sekedar untuk menyeragamkan penentuan hari raya, tetapi lebih penting dari itu adalah untuk membangun sistem kalender Hijriyah yang mapan. Sistem kalender yang bisa memberikan kepastian waktu ibadah (terutama mengawali Ramadhan, mengakhirinya dengan Idul Fitri, dan Idul Adha) dan kepastian untuk administrasi negara dan bisnis. Keseragaman hari raya tentu memberikan kenyamanan bagi masyarakat, karena hari raya bukan sekadar terkait dengan ibadah, tetapi juga fenomena sosial budaya yang bersifat massal. Keseragaman dan perbedaan hari raya bisa menjadi cermin yang kasat mata atas kesatuan ummat.

Penentuan awal bulan qamariyah dilakukan dengan dua metode (cara): dengan metode rukyat (pengamatan) dan metode hisab (perhitungan). Metode hisab dulu dianggap sulit, karenanya kadang orang beranggapan metode hisab lebih superior daripada metode rukyat. Hisab terus berkembang, dari yang paling sederhana dengan hisab urfi (periodik 29 dan 30 hari), kemudian hisab taqribi (pendekatan, aproksimasi), sampai hisab hakiki (posisi bulan-matahari yang sesunguhnya). Saat ini hisab sudah dimudahkan dengan beragam software astronomi, sehingga hisab hanyalah menggunakan beberapa klik di tombol komputer. Namun metode hisab hakiki sebenarnya hanya menghasilkan angka-angka terkait dengan posisi bulan dan matahari. Untuk menentukan masuknya awal bulan, ahli hisab harus menggunakan kriteria (batasan).  Kriteria pun berkembang, dari kriteria paling sederhana wujudul hilal (asal bulan sudah di atas ufuk) sampai pada kriteria imkan rukyat (visibilitas hilal atau ketampakan hilal). Kriteria imkan rukyat pun terus berkembang, dari kriteria yang paling sederhana (sekadar ketinggian minimal 2 derajat) sampai yang makin canggih (mencakup berbagai parameter hilal dan kontrasnya terhadap cahaya syafak/senja). Kriteria imkan rukyat adalah kriteria yang mempersatukan metode hisab dan rukyat.

Banyak saudara-saudara kita di Muhammadiyah berhenti hanya sampai kriteria paling sederhana wujudul hilal. Kalau pun ada yang mengklaim bahwa sebelumnya Muhammadiyah menggunakan kriteria imkan rukyat, itu pun kriteria imkan rukyat lama pra-1969. Saat ini kriteria imkan rukyat terus berkembang sesuai dengan perkembangan astronomi. Banyak orang masih menganggap seolah kriteria imkan rukyat hanyalah kriteria ketinggian 2 derajat. Itu hanyalah kriteria kesepakatan sementara yang masih bisa berubah. Saat ini banyak parameter digunakan untuk menggambarkan kemungkinan terlihatnya hilal, misalnya umur hilal, ketinggian hilal, jarak bulan-matahari, beda waktu terbenam bulan-matahari, dan lebar sabit hilal. Inti semua parameter itu adalah gambaran fisis yang memungkinan cahaya hilal yang sangat tipis dan redup dapat mengalahkan cahaya syafak (cahaya senja) di ufuk Barat. Perlu difahami, hasil penelitian astronomi tentang kriteria imkan rukyat yang beragam untuk implementasinya perlu dipilih dan disepakati bersama untuk diberlakukan pada sistem kalender hijriyah nasional maupun global. Pemilihan harus didasarkan pada kemudahan dilaksanakan oleh semua ahli hisab.

Kriteria wujudul hilal yang masih dipegang oleh Muhammadiyah mempunyai banyak kelemahan, baik dari segi tafsir astronomis pada dalilnya sampai pada logika astronomisnya (Lihat https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/11/04/hisab-wujudul-hilal-muhammadiyah-menghadapi-masalah-dalil-dan-berpotensi-menjadi-pseudosains/).  Kali ini saya ingin membongkar paradox wujudul hilal yang logikanya secara astronomi aneh.

Apa yang disebut wujudul hilal menurut Muhammadiyah? Ada dua syarat: (1) ijtimak (newmoon atau bulan baru astronomi, segarisnya bujur bulan dan matahari) terjadi sebelum maghrib dan (2) bulan terbenam sesudah matahari. Dari sudut pandang hisab, “bulan terbenam sesudah matahari” adalah “piringan atas bulan masih di atas ufuk saat piringan atas matahari menyentuh ufuk (horizon). Piringan atas bulan masih di atas ufuk itulah yang disebut secara keliru sebagai “hilal sudah wujud”. Benarkah hilal sudah wujud?  Ahli hisab yang hanya menghafal rumus sulit untuk memahami kerancuan logika astronominya konsep “wujudul hilal”. Oleh karenanya saya ingin mengajak melihat fenomena gerhana matahari menjelang maghrib. Pada gambar di atas, lengkungan di atas piringan matahari adalah bulan yang menghalangi cahaya matahari. Gambaran skematis posisi bulan (bulatan hitam) digambarkan pada gambar berikut ini.


Terlihat dengan jelas posisi piringan atas bulan dan piringan atas matahari. Di manakah posisi hilal? Hilal sebagai pantulan cahaya matahari yang berada di piringan bulan terdekat dengan titik pusat piringan matahari (ditunjukkan dengan ujung  segitiga putih). Gerak semu (akibat rotasi bumi) matahari dan bulan di ufuk Barat adalah ke arah bawah. Sementara gerak sejati bulan mengitari bumi tampak perlahan menuju ke atas dari ufuk Barat. Saat matahari terbenam ditandai dengan masuknya piringan matahari secara penuh ke bawah ufuk, yaitu piringan atas matahari menyentuh ufuk. Pada saat itulah dihitung ketinggian piringan atas bulan. Ketika masih di atas ufuk, itulah yang dianggap “wujudul hilal”. Benarkan hilal masih wujud saat itu? TIDAK BENAR! Gambar di atas secara jelas menunjukkan saat matahari terbenam, hilal pun terbenam, artinya hilal sudah tidak wujud lagi. Inilah PARADOX WUJUDUL HILAL, dikatakan “wujudul hilal” padahal hilalnya sudah terbenam.

Apakah logika aneh semacam ini yang masih ingin  dipertahankan Muhammadiyah, apalagi mengatasnamakan astronomi atau ilmu falak? Seharusnya tidak. Semangat tajdid (pembaruan) Muhammadiyah semestinya merombaknya dan secara bersama-sama dengan ormas Islam lainnya mendialogkan kriteria baru yang secara astronomi dapat diterima dalam menafsirkan dalil-dalil syar’i. Astronomi dapat membantu mempersatukan ummat dengan memberikan pemahaman yang tepat atas dalil-dalil syar’i, yang mempersatukan metode rukyat dan hisab yang selama ini dianggap berbeda. Rukyat dan hisab akan setara dengan menggunakan kriteria imkan rukyat.

Muhammadiyah Mulai Meninggalkan Wujudul Hilal

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Sebagai bagian dari edukasi menuju penyatuan kriteria menuju kalender Hijriyah yang mapan, saya tuliskan pertanyaan terarah di dinding FB saya:

“Bagaimana kira-kira isi maklumat PP Muhammadiyah tentang gerhana bulan 10 Desember 2011? Kira-kira berbunyi sbb: Malam 16 Muharram 1433 akan terjadi gerhana bulan total, pukul sekian. Adakah yang punya copy edaran PP Muhammadiyah atau MTT Muhammadiyah tentang gerhana bulan nanti?
Lalu bagaimana tanggapan para pengusung hisab mundur mengacu pada purnama tanggal 15? Mereka akan menemukan 1 Muharram = 27 November, sama dengan hasil hisab dengan imkan rukyat, bukan lagi sama dengan wujudul hilal. Masih konsistenkah dengan hisab mundurnya? Kamis pukul 18:35).

Ada dua alasan saya sampaikan pertanyaan yang menjurus tersebut. Pertama, untuk menguji konsistensi Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam penggunaan hisab wujudul hilal yang sebelumnya tampak diunggulkan (kadang dilakukan konperensi pers agar tampak keunggulannya) yang memberi kesan Muhammadiyah unggul dalam hisab. Kedua, untuk menguji konsistensi pembelaan atas wujudul hilal dengan purnama yang pada saat penentuan awal Syawal 1432 sangat gencar disuarakan.

Alasan pertama didasarkan pada maklumat atau release berita yang dilakukan MTT (dengan ttd Ketua  Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A. dan Sekretaris  Drs. H. Dahwan, M.Si.) terkait gerhana bulan 16 Juni 2011.

————————————– (Kutipan) ———————————–

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150284358943694

Release dan Tuntunan Majelis Tarjih PP MUHAMMADIYAH Terkait GERHANA BULAN

oleh Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA) pada 15 Juni 2011 pukul 19:36

Assalamu’alaikum w. w.

Dengan ini kami sampaikan, menurut hisab hakiki wujudul hilal akan terjadi gerhana bulan total pada hari Kamis, 14 Rajab 1432 H / 16 Juni 2011 M pukul 01.22 s.d. 05.03 WIB, yang melewati/melintasi seluruh wilayah Indonesia. Sehubungan dengan itu, kami mohon Redaksi Website Muhammadiyah dapat memuat maklumat atau rilis berita sebagai anjuran untuk menjalankan ibadah terkait dengan terjadinya gerhana bulan tersebut.

(Bagian seterusnya dipenggal).

——————————— (Akhir kutipan) ———————————

Namun menjelang gerhana bulan total 10 Desember 2011, nuansa menggunggulkan hisab hakiki wujudul hilal tidak dimunculkan lagi. Semoga ini pertanda baik bahwa Muhammadiyah mulai menyadari kelemahan kriteria wujudul hilal untuk kemudian bisa bersama-sama ormas lain mengkaji ulang kriteria bersama dalam penetapan awal bulan qamariyah. Kalau masih konsisten dengan wujudul hilal, bunyi maklumat akan seperti ini (perhatikan redaksi kedua maklumat hanya copy-paste dengan revisi data), “Dengan ini kami sampaikan, menurut hisab hakiki wujudul hilal akan terjadi gerhana bulan total pada hari Sabtu, 16 Muharram 1433 H / 10 Desember  2011 M pukul 19.45 s.d. 23.18 WIB, yang melewati/melintasi seluruh wilayah Indonesia”. Tetapi kali ini,dalam maklumat yang ditandatangani Wakil Ketua Drs. H. Oman Fathurohman SW., M.Ag. dan Sekretaris Drs. H. Dahwan, M.Si., ungkapan “… menurut hisab hakiki wujudul hilal …” dihapuskan.

———————————– (Kutipan) —————————————

 http://www.muhammadiyah.or.id/news-659-detail-release-dan-tuntunan-majelis-tarjih-terkait-gerhana-bulan-besok.html

Release dan Tuntunan Majelis Tarjih Terkait Gerhana Bulan Besok

Jum’at, 09-12-2011

Assalamu’alaikum w. w.

Dengan ini kami sampaikan bahwa akan terjadi gerhana bulan total pada hari Sabtu, 10 Desember 2011 M, yang melewati/melintasi seluruh wilayah Indonesia. Sehubungan dengan itu, kami mohon Redaksi Website Muhammadiyah dapat memuat maklumat atau rilis berita sebagai anjuran untuk menjalankan ibadah terkait dengan terjadinya gerhana bulan tersebut.

(Bagian Selanjutnya dipenggal)

 ————————— (Akhir kutipan) ————————————–

Kalau hisab hakiki wujudul hilal dicantumkan, tentu akan “memukul” para pembela wujudul hilal yang pada saat penentuan awal Syawal lalu sangat gencar disuarakan untuk melakukan “koreksi” atau “hitung mundur” dengan anggapan purnama terjadi pada malam 15 pada kalender hijriyah. Pada waktu itu purnama pada 12 September 2011 dijadikan dasar untuk membenarkan wujudul hilal bahwa Idul Fitri yang benar adalah 30 Agustus 2011. Kalau gerhana bulan kali ini yang tentu saja terjadi pada saat purnama, dan itu dianggap malam 15 Muharram, tentu itu berarti menyalahi hisab wujudul hilal yang mencantumkannya malam 16 Muharram. Jadi, para pengguna purnama bukanlah pendukung wujudul hilal atas dasar ilmu,  tetapi atas dasar yang lain.

Info Gerhana Bulan 10 Desember 2011

T. Djamaluddin

Profesor Astronomi-astrofisika, LAPAN

 

(Dari http://eclipse.gsfc.nasa.gov/eclipse.html)

Untuk memahami proses gerhana bulan 10 Desember 2011 dan untuk persiapan shalat gerhana dan pengamatannya, berikut ini beberapa penjelasan ringkas:

Gerhana bulan terjadi pada saat purnama, yaitu saat seluruh piringan bulan memantulkan cahaya matahari secara penuh. Namun, karena bulan hampir segaris dengan garis hubung bumi-matahari, maka bulan akan terhalangi oleh bayangan bumi. Pada gambar di atas, bayangan bumi digambarkan dengan lingkaran coklat gelap. Karena matahari bergerak ke Barat, maka bayangan bumi bergerak ke Barat juga (ke atas kalau kita melihat ke arah Timur, seperti pada gambar di atas). Sementara bulan bergerak ke arah Timur (ke bawah kalau kita melihat ke arah Timut, seperti pada gambar di atas). Akibatnya, kita akan menyaksikan gerhana dimulai dari piringan bawah. Karena gerhana bulan terjadinya pada permukaan bulan, maka wilayah mana pun yang mengalami malam berpotensi bisa melihatnya, tinggal mengkonversikan waktunya menjadi waktu setempat.

Orang awam hanya bisa menyaksikan gerhana umbra (bayangan gelap bumi). Sedangkan gerhana penumbra (bayangan sekunder) hanya akan teramati oleh pengamat berpengalaman atau dengan menggunakan alat ukur cahaya. Berikut urutan kejadian gerhananya:

Pukul 19:46 WIB (posisi U1) bulan mulai tergerhanai bagian bawahnya. Sedikit demi sedikit piringan bulan bagian kiri bawah mulai tertutup bayangan bumi. Ini dinamakan proses gerhana sebagian. Setelah melihat proses gerhana awal, disarankan shalat gerhana mulai pukul 20.00 WIB. Setelah itu lanjutkan pengamatan, khususnya saat mulai memasuki fase total.

Pukul 21:06 WIB (posisi U2) bulan mulai gelap total. Ini mulai proses gerhana total. Fase total akan berlangsung sampai pukul 21:57 WIB (posisi U3). Kemudian bulan secera perlahan mulai meninggalkan bayangan bumi. Piringan bulan bagian kanan bawah sedikit demi sedikit mulai terang kembali.

Pukul 23:18 WIB proses gerhana berakhir.