Muhammadiyah Menuju Persatuan: Semangat Kalender Unifikasi Didasarkan Pada Hisab Imkan Rukyat


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

Muhammadiyah sebagai ormas besar dengan semangat tajdid (pembaharu) yang kuat tentu tidak ingin memisahkan diri dari persatuan ummat. Ketika ummat menghendaki adanya ketenteraman dalam beribadah dengan “satu hari satu tanggal” dalam mengawali Ramadhan, beridul fitri, dan beridul adha, saya kira Muhammadiyah pun tidak akan nyaman untuk senantiasa berbeda dengan tetangganya, sementara bermimpi adanya satu Kalender Pemersatu Ummat secara global. Semangat itu sudah saya baca ketika berdiskusi dengan teman-teman anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, baik saat Munas Tarjih di Padang 2003 maupun saat kunjungan ke Majelis tarjih dan Tajdid Muhammadiyah di Yogyakarta 2009 dan pada kesempatan lainnya. Memang harus diakui bayang-bayang seolah hisab itu identik dengan wujudul hilal masih kental terasa.

Saya mencoba menelusur gagasan tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam karya tulisnya. Hal yang paling menonjol adalah gagasan untuk mendukung Kalender Unifikasi ala Jamaluddin Abd al Raziq. Kalender Unifikasi tersebut dibahas dalam buku Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, MA (Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah) berjudul “Hari Raya & Problematika Hisab Rukyat” dan buku Dr. HM Ma’rifat Iman, KH, MA (anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah) berjudul “Kalender Pemersatu Dunia Islam”. Kalender Unifikasi itu menghendaki “satu hari satu tanggal dan satu tanggal satu hari” untuk seluruh dunia.

Ada 3 prinsip dasar, 7 syarat, dan 3 kaidah. Tiga prinsip dasar itu adalah (1) diterimanya hisab, (2) adanya transfer rukyat dari kawasan Barat yang diberlakukan di kawasan Timur, dan (3) permulaan hari menggunakan garis bujur 180 derajat (setara dengan garis tanggal internasional untuk kalender Masehi). Kemudian tujuh syarat itu adalah (1) aliran hari yang tertib dengan prinsip satu hari satu tanggal di seluruh dunia, (2) berdasarkan peredaran faktual bulan di langit, (3) di wilayah batas tanggal sisi Barat, tidak boleh masuk bulan baru sebelum ijtimak (newmoon, konjungsi), (4) ada syarat imkan rukyat untuk wilayah Barat, (5) tidak boleh menunda masuk bulan ketika bulan telah terlihat jelas dengan mata telanjang, (6) berlaku di seluruh dunia tanpa pembagian zona, (7) sistem waktu mengikuti kesepakatan internasional. Terkahir ada tiga kaidah, yaitu  (1) sederhana, mudah diterapkan, (2) konsisten, tidak diintervensi oleh tangan manusia, dan (3) jika waktu konjungsi  pukul 00.00 – 12.00 UT, maka bulan baru hari berikutnya dan bila konjungsi pukul 12.00 – 24.00 UT, maka bulan baru lusanya.

Walau ada beberapa hal yang perlu kita kritisi, karena adanya “pemaksaan” yang terlalu luas kesaksian hilal di Barat untuk diberlakukan di seluruh wilayah, cobalah kita terima dulu gagasan itu. Secara astronomi itu sangat mudah difahami dengan mengubah dua-zona ala Syaukat Audah (Odeh) atau zona Regional IICP-Ilyas menjadi zona tunggal. Makna fisisnya, asal di wilayah di antara 180 derajat BB sampai 180 BT ada prakiraan hilal terlihat di suatu wilayah berdasarkan imkan rukyat yang disepakati pada suatu tanggal (misalnya Selasa, 28 September), maka besoknya (Rabu, 29 September) adalah awal bulan baru. Jamaluddin Abd al-Raziq yang dirujuk menggunakan kriteria imkan rukyat, bukan wujudul hilal. Artinya, penulis buku tersebut secara implisit mendukung kriteria imkan rukyat, dengan mengganti wujudul hilal. Kalau kita sepakati, kriteria imkan rukyat bisa memberikan kepastian seperti pada garis tanggal Universal Hijric Calender oleh Odeh atau IICP oleh Ilyas yang kurvanya bisa digambarkan secara pasti. Itu juga sederhana, karena program komputer mudah dibuat. Itu juga bisa dilakukan secara konsisten, tanpa campur tangan manusia, karena bisa dihasilkan secara otomatik dengan program komputer.

Lalu bagaimana implementasinya? Suatu sistem kelender harus ada otoritas yang menentukannya, harus ada kriterianya, dan harus ada batas wilayahnya. Menentukan otoritas global bukan hal yang mudah. Demikian juga mencari kesepakatan kriteria. Batasan wilayah mudah didefinisikan, apalagi untuk kalender ala Jamaluddin Abd al-Raziq, batasnya sama dengan garis tanggal internasional. Nah, sebelum kesepakatan global-internasional tercapai, kita bisa juga mengimplementasikan prinsip “satu hari satu tanggal” di Indonesia sebagai percontohan. Itulah persatuan kalender hijriyah yang kita cita-citakan. Jalannya sudah terbuka dengan kesepakatan pada Lokarya Kriteria Awal Bulan yang difasilitasi Kementerian Agama RI. Wakil-wakil ormas Islam yang hadir menyepakati. Apalagi ada amanat pada butir terakhir “Mengamanatkan kepada para peserta untuk menjadikan hasil-hasil Keputusan Lokakarya Mencari Kriteria Format Awal Bulan di Indonesia Tahun 2011 sebagai pedoman bersama dalam penyusunan Kalender Hijriyah Indonesia”.

Berikut ini dokumen kesepakatan yang ditandatangani ketua dan sekretaris sidang perumusan hasil lokakarya itu yang semestinya amanatnya tidak dikhianati setelah disepakati. Peran besar Prof. Dr. H. Susiknan Azhari, MA (Wakil Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah) dan Dr. H. Ahmad Izzuddin, MAg (Anggota Lajnah Falakiyah NU) dalam perumusan ini harus kita hargai, karena itu merupakan suatu lompatan besar menuju persatuan ummat di Indonesia. Semoga segera terwujud.

Baca juga:

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/09/26/lokakarya-kriteria-awal-bulan-perwakilan-ormas-islam-bersepakat/

About these ads

72 Tanggapan

    • Kyai dajjaludin luaaar biasa.. focus, focus halusinasinya…

    • Prof TDj menulis berdasarkan fakta dokumen (sudah di scan pula)… apakah itu salah?

      Kenapa gak fokus membahas point2 hasil scan itu? Ini lebih produktif bro… lebih esensial

      • Poin2 halusinasi? He…he..he..
        Kate bank kaji rhoma.. Cukup satu kali kehiilaangan tongkat.. Cukup satu kali

      • Ngemeng2, sampeyan menulis Prof. TDj secara implisit itu berarti profokator Toean Dajjaluddinkah? He…he..he..

  1. Koq bisa ya…Lokakarya menghasilkan sebuah keputusan yang merupakan produk hukum formal layaknya Keputusan Bersama Tiga Menteri? Inilah problemnya kalau pakar astronomi mencoba membuat suatu keputusan dari hasil sebuah Lokakarya, yang seharusnya hanya sekedar Rumusan, Kesepakatan atau Rekomendasi tetapi dibuat Keputusan Bersama dan bersifat mengikat seluruh peserta (baca : organisasi/lembaga/institusi yang diwakilinya). Apa tidak ada ahli hukum yang dilibatkan? atau ini memang jebakan? Waduh….duh….duh……

  2. yah begitulah jika professor udah kurang kerjaan,
    seharusnya mencerdaskan malah menyebarkan pembodohan,
    bagi yang faham, mesti tahu bhwa gak ada namanya lokakarya menghasilkan keputusan (yang mengikat)
    lokakarya itu forum diskusi/masukan/formulasi wacana berfikir, kalo perlu ada perdebatan ilmiah yang panjang.
    Tentang ttd hasil sidang, itu biasa sebagai salah satu prosedural lokakarya/seminar yang profesional (diperlukan semacam notulensi yg rapi),yah itu memang betul…

    kalaupun benar itu sebuah keputusan (krn itu memang ttd beliau, prof Susiknan), tapi apa kaitannya dengan sikap/keputusan muhammadiyah ??. Dalam surat yg di ttd itupun tidak tertera jika beliau mewakili muhammadiyah,,,disinilah pembodohan ke-2 itu terjadi.

    Pembodohan ke-3 adalah, kementrian agama sebagai penyelenggara saja tidak mengeluarkan statement tersebut ? kok justru seseorang yang seolah2 “menteri agama’ justru menggebu2 launching berita ??.

    yah begitulah jika ingin jadi pahlawan (kesiangan), padahal dalam forum lokakarya saja tidak sepenuhnya ikut…hemm,saatnya umat harus mendapat pencerahan dan belajar kembali arti kejujuran…..

    Dan disinilah terbukti, bahwa tingkat pendidikan tidaklah linear dengan tingkat kejujuran & hati nurani seseorang….:(

    ya sudahlah, gak perlu diungkap lg segala bentuk pembodohan2 yg lain…

    maaf bung thomas,,salam ukhuwah!
    wassalam

  3. Orang awam terperangah malu ketika merayakan lebaran hari Rabu 31 Agustus 2011. Fakta nyata bulan sudah tinggi sekali. Mereka tidak percaya lagi dengan Pemerintah, sidang is bad yang menghasilkan kebusukan, dan pembohongan umat. Bahkan hari selasa 30/8 udah banyak tuh yang lebaran, dan mereka tepat dengan 1 Syawal. Atau mungkin Pak Thomas yang terlalu canggih sehingga bulan pada tanggal 1 syawal sudah tinggi???, lihatlah tulisan2nya selalu menyudutkan Muhammadiyah, padahal kenyataannya , bulan sudah meninggi… jangan tendensius bang… profesor kok begitu, malu dong ama anak TK

    • Bukannya prof menyatakan 30 sudah masuk 1 Syawal. Bagaimanapun lebaran 2011, adalah lebaran penuh “kehangatan” ketupan, semur, makanan hangatan.

  4. Yooo lanjut lagee. Bakal kenceng neh thread, walau gak pake pertamax. Yah, semoga tetap terkendali deh.
    Ayo Muhammadiyah, tetap semangat menuju persatuan umat. Jangan kalah sama organisasi yg sering disebut kolot. Go! Go! Go!

    • Ayoo Indonesia.. Kita menyatu dgn mekkah dan dunia jangan kalah dengan muhammadiyah yg sudah menuju kesanaa..
      Ayo NU,PERSIS,LDII,Islam rabo legi, Islam Kejawen, kasulthanan JAHIL Liyah juga nggak pa2… Kita menuju penyatuan umat islam sedunia
      Jangan menyendiri lagi dgn umat mekkah dan dunia

    • Mas, istilah “organisasi yang sering disebut kolot” ini sampean tujukan ke mana? Kalau maksudnya adalah kaum sarungan, saya informasikan ke sampean, bahwa dulu Kyai Basir yang tangan kanan KH Ahmad Dahlan pernah nyantri ke pesantren lho.Kyainya juga menyarankan untuk membantu KH Dahlan karena beliau itu teman satu majelis pada Syekh Ahmad Khatib. Bahkan Kyai Basir menyerahkan putranya yaitu KH.Azhar Basir, yang kelak ngegantiin Pak AR Fakhrudin jadi ketum Muhammadiyah, untuk nyantri ke KH.Abdul Qodir Munawir al-hafidz di Krapyak, Jogja. KH Azhar Basir juga rutin menghadiri kajian KH Ali Maksum yang pakar bahasa Arab & fiqh itu. Kalau mau sedikit tawadhu’ untuk mencari ilmu, banyak orang kolot menurut pandangan sampeyan yang ilmunya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan yang mengaku-ngaku modern. Tidak sedikit “fatwa-fatwa” kaum yang mengaku modern yang ternyata hal itu sudah pada dibahas oleh ulama-ulama dulu,yang warisannya tertulis di kitab-kitab yang dibaca & dipelajari kaum yang sampean sebut kolot. Memang mas, untuk mendaras ilmu dari kitab-kitab karya ulama salaf itu memang perlu waktu panjang, kesabaran,keikhlasan, dan banyak melakukan riyadhoh. Karena itu, saya pribadi lebih yakin dengan keilmuan “kaum kolot” itu karena dilandasi olah ruhani untuk tholabul ilmi demi, disamping yang jelas, sanad ilmu mereka bersambung ke Rasulullah SAW.

  5. Tanda2 persatuan sudah semakin terlihat… semoga oh semoga…

  6. Pak Thomas yth, kenapa saya harus menjawab bahwa kalimat yang menyebutkan Peran besar Prof. Dr. H. Susiknan Azhari, MA (Wakil Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah), adalah “sesat menyesatkan” . Sekali lagi saya hadir bukan atas nama Muhammadiyah. Janganlah mempolitisir untuk kepentingan sesaat. Waktu saya diminta tanda tangan oleh sdr Ismail saya hanya disodori nama saya dan tidak disertakan konsep secara utuh tentang hasil tersebut. Waktu itu saya sangat keberatan tapi saya berhusnudzon tidak akan terjadi kasus semacam ini. Tim perumus masih hidup semua silahkan dipertemukan ulang. Apakah yang bapak maksud itu adalah yang diinginkan oleh tim perumus. Kalau memang sejak awal sudah ada skenario agar saya menjadi ketua dan pak Izzuddin sekretaris sebagaimana yang bapak sampaikan. Tentu cara-cara seperti ini tidak fair. Apalagi dalam forum tersebut NU tidak mempresentasikan makalah. Kalau pak Thomas sdh merasa cukup hadir di awal itu adalah hak panjenengan. Tapi ada pepatah arab “laisa al-khabar ka al-Muayyanah”. Persoalan yang kita hadapi sangat serius cukupkah kita hanya minta info dari pihak lain. Padahal sebagai pelaku dan yang lebih penting persoalan ini tidak cukup diselesaikan 40 org. Jika kita ingin membangun kebersamaan yang sejati jangan ada dusta diantara kita. Wa Allahu A’lam bi as-Sawab.

    • Bagi saya tidak ada yang sesat dan menyesatkan. Demi kebaikan ummat, ha yang positif harus kita dorong. Benar 40 orang tidak akan menyelesaikan masalah. Tetapi dengan ‘psotive thinking’ itu bisa jadi jalan untuk menyatukan ummat, walau mungkin awalnya ada pertentangan. Insya-allah, dengan niat ikhlas demi kebaikan ummat, kita bisa bersatu.

      • Ha..ha..ha.., Dajjaluddin sakit jiwa dan hampir gilaaaa..aa.

      • Hahaha… Bagus juga ternyata Argres ini ada di lapax ini. Buat lucu-lucuan. Kalau dia taxi, masih mending lah soalnya argres gitu loh – ARGo RESmi…

      • Kayak Gus Doer gitu loh, dalam situasi apapun bisa mbayol…
        Pak susiknan saja punya selera humor yg bagus..
        Pak djamaluddin, ingin rasanya anda menuliskan humor2 syufi…, saya yakin anda tdk hanya belajar kesyufian tapi pada “LAKU SYUFI” itu sendiri…

      • Dia lemparkan bola panas itu ke arah benteng karang yg kokoh berupa keyakinan “wujudul Hilal”
        Bahkan tubuhnyapun ikut dihempaskan..
        “Kemaluannya” pun tak ia hiraukan..
        Dia tahu bola itu akan memantul lebih kuat ke segala arah..
        Dia sadar hal itu dan kesitulah yang dituju
        Hanya seorang syufi yg mau seperti itu

  7. Silakan download “CARA TEPAT MENETAPKAN 1 SYAWAL & IDUL ADHA” di:

    http://www.mediafire.com/?5e87dw6w9w1m12s

  8. Jadilah Prof. (Profesor) yg berakhlakul karimah, bukan Prov. (Provokator)

  9. Habis ini, KEJAHILAN apalagi ya dari ki djoko bodong yg sakit jiwa dan hampir gilaaaa ini yaa..
    Kira2 selanjutnya dia kayaknya mau ngajak taruhan bulan mungkin…mungkin….mungkin….

    • Coba cek dulu tempratur badan ente? Kayaknya radiator ente bocor deh, ampe overheating gituh …

    • kang, hati2 berucap, meski sampeyan tidak suka ataupun benci terhadap seseorang, tp jangan sampai sampean berkata yg tdk terpuji, apalagi sampai sangat berlebihan/di luar batas, smpaikan sj dgn cara yg baik2. kalo sampeyan masih muda, belajarlah kendalikan emosi, kelak sampeyan akan merasakan sndri di usia tua (kalo dikasih usia tua).
      sama halnya kita harus mempertanggungjawabkan setiap ucapan kita, kelak sampeyan pun akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap kata yg sampeyan tulis. termasuk di setiap kata sampeyan di laman ini.

  10. Pak Thomas,
    Moga2 komen sy yang ini tidak dimoderasi…(sy coba pake bahasa yg halus), sekalipun anda sendiri terbiasa pake bahasa preman….

    Anda ini kok aneh, tolong deh jangan merasa “keminter” (kata orang jawa), bolehlah kita berdebat & berdiskusi bahkan berbeda pendapat, tapi selayaknya hal itu dilakukan dengan cara yang ikhsan. Bagaimana anda mau menegur muhammadiyah, anda sendiri ditegur tidak mau, apalagi minta maaf (kayaknya itu sudah menjadi karakter dasar anda), hemm seharusnya pemerintah menyesal mengangkat anda dlm tim hisab rukyat.

    Saat ini persoalannya sudah bukan lagi “perbedaan penentuan awal bulan qomariah” (baik metodenya, kriterianya, dsb), tetapi persoalan mendasar adalah “etika dan adab”. Anda seyogyanya malu berpredikat profesor tapi masih tidak mau diingatkan dan diklarifikasi, terlebih diklarifikasi oleh seseorang yang nyata2 namanya anda angkat dalam tulisan (khususnya di blog). Ingat, ketika info itu benar dan kita suka ngomongin orang jadinya “gibah”, ketika info itu salah dan terus diomongin jadinya “fitnah”. saya pun buikan orang suci yang menggurui anda, maaf sebelumnya, niat tulus hanya watawa saubilhaq dan watawa saubissobri.

    Jujur saja saya juga berkecimpung dalam dunia riset dan akademik (maaf2, juga mirip anda yang juga alumni luar negeri, baik S2 & S3), tapi rasanya sudah tidak perlu kita berdebat pada tataran ilmiah dan akademis. Hemat saya, tataran normatif dan moral lebih baik dan memang harus didahulukan ketika berdebat dengan anda.

    Mengkritisi komentar anda menjawab pak susiknan berupa “positive thingking”. Positive thingking bagaimana ? positif thingking dgn mempolitisir berita kah ? positif thingking dengan menyebarkan info yang tidak utuh dan apa adanya kah ?,,,hemm kalo perlu dilokakaryakan saja topik “positif thingking” ini, agar anda lebih faham!.

    Saya perlu usul ke depdiknas, agar pelajaran etika harus diperbanyak di perguruan tinggi, agar kelak jika jadi ilmuwan tetaplah rendah hati dan tidak angkuh seperti anda.

    Hatur maaf jika ada yang tidak berkenan.
    semoga Allah SWT mengampuni dosa2 kita semua.amin

    Fastabiqul Khoirot!
    Wassalam

    • Silakan sampaikan argumentasi pada substansi. Bantahlah substansi yang dianggap perlu didebat, jangan alihkan pada non-substansi. Soal cara dan pilihan kata sangat subjektif. Tidak ada cara-cara preman atau kata-kata kasar yang saya sampaikan. Saya mengkritisi Muhammadiyah bukan atas dasar kebencian, tetapi demi upaya menghindari perbedaan yang terus berulang. Pada tulisan di atas, saya coba menggali sumber internal Muhammadiyah. Silakan bantah substansinya. Saya menghargai setiap pendapat, walau itu berbeda.

      • Sholat jum’at 2 september 2011 penganut JAHIL liyah koq bisa sama ya dgn kalender wujudul hilal ummul quro? Ooooo dalilnya dalil masehi kalee

  11. Kenapa ya, yg berdarah-darah koq ya hrs si dajjaluddin ini ya, padahal profesinya hanya seorang toekank therophonk aja bahkan kondisinya sdh sakit jiwa dan hampir gila ini. Kenapa wahai pemerintah Indonesia?
    Dimana kamu wahai menag, dirjen depag, mui bahkan bapak presidenku tercinta? Ditangan anda, keutuhan NKRI dipertahankan……d

  12. Mengakui kekeliruan (krn mencatut nama orang, memplintir ucapan seseorang) itu memang pekerjaan yang sangat berat. Lebih berat daripada jihad (perang) sekalipun. Apalagi itu seorang Profesor Riset Astronomi, Kepala LAPAN dan anggota Badan Hisab dan Rukyat Kemenag. Apalagi dianya sudah sepuh. Jadi mohon dimaklumi saja, terutama yang muda2. Sekarang eranya sdh berubah, yang muda yang menasehati yang tua. Nggak apa-apa.

    • Belum sepuh mas prasodjo, umurnya masih 49 th, sedang hot2nya. Bahkan masih bisa kawin lagi koq, bahkan pula bisa meletakkan matahari dan bulan di kedua tangannya… Lha gimana wong sakit jiwa dan hampir gila koq.

  13. Kata paranormal ki buto ijo, sekarang jaman edan. Yang dicirikan : yang tua pada kegenitan, pada kekanak-kanakan, pada ngeyel-ngeyelan, pada sok pinter-pinteran, pada catut-catutan, pada plintir-plintiran, dst…….. Makanya yang muda harus menjadi panutan, yang menjadi teladan, yang menjadi ikutan, yang memberi wejangan, yang memberi pencerahan, dst….. Mareeeee……

  14. Agres….yang bener aja? Saya pikir kebalikannya?

    • Maaf mas prasodjo, saya jadi latah ttg dikotomi “jebak-menjebak” & “sesat-menyesatkan” jadi ya begini ini jadinya.. He..he..he..

  15. Kita nikmati saja setiap komentar. Mari kita saling menilai kualitasnya, karena setiap komentar memuat sekian banyak informasi di balik kata-kata yang dituliskan. Semoga Allah memberi petunjuk kita semua. Saya sama sekali tak sakit hati dengan segala ungkapan kasar, hanya saya menjadi iba kepada penulisnya. Ketika seseorang tak mampu membantah substansinya, wajar saja yang diserang adalah aspek non-substansi yang bersifat subjektif yang tidak ilmiah. Silakan saja, asal masih wajar akan saya approve.

    • Bapak Thomas yth,
      kalo memang ingin substansi ? anda sendiri sebetulnya suka lari dari pokok bahasan. Coba saja anda renungkan, pak susiknan sudah bbrpa kali mengingatkan anda bahwa tolong (1) jangan dipolitisir sebuah keputusan lokakarya.(2) Pak susiknan tidak mewakili muhammadiyah sbg ormas yg memiliki kaedah dlm penentuan awal bln komariah,dll..Eh malah anda tidak menggubris sama sekali pernyataan beliau (prof susiknan), malah membantah dgn menyatakan positif thinking. Saya pribadi menangkap bahwa pak susiknan yang begitu bijak tidak meminta anda utk memohon maaf, at least meminta anda untuk menyampaikan apa adanya (hasil lokakarya secara utuh dan dpt dipertanggung jawabkan).

      Boro2 anda mw menerima pernyataan beliau, lah dinyatakan bhw anda tidak ikut seminar secara keseluruahan malah dijawab “tidak perlu ikut semua”,,wah wah…bagaimana jika ada 10 saja pakar seperti anda ?.

      Saya tidak kenal pak susiknan, sy tidak ada kaitannnya dgn anggota PP Muhammadiyah, bahkan saat ini saya dalam lingkungan yang tidak ada kalangan muhammadiyah, tapi saat ini media sudah transparan, masyarakat dari berbagai lapisan bisa melek, masyarakat sudah tidak mudah diprovokasi dgn kedok2 ilmuwan,dsb. Masyarakat saat ini (dari latar belakang apapun ; pendidikan,kelas ekonomi,dll), sudah bisa membedakan sendiri mana yang layak diikuti maupun tidak, bahkan sekedar info, lebaran 1432 H sholat hari selasa 30 agustus 2011 bukan sekedar lantaran mengikuti ketetapan pengurus pusat muhammadiyah atau bahkan mekah, tapi dengan pemahaman..(ya walaupun itu memang hak masing2 utk saling meyakini sesuai dasar yg dipegang, maksudnya kami tidak menyalahkan sodara2 yg sholat tgl 31 agustus 2011).

      terakhir, kalimat anda diatas ttg “menilai kualitasnya” sebetulnya juga peringatan untuk anda sendiri. Ketika anda menulis dan mengkritik membabi buta dengan tendensius, jelas sekali kualitas keprofesoran anda dipertanyakan….??

      mari kita tegakkan kebenaran, bukan kepentingan sesaat yg berujung kebencian.

      mohon maaf sebelumnya.
      wassalamualaikum.

    • Dari judul saja “Muhammadiyah Menuju Persatuan: Semangat Kalender Unifikasi didasarkan pada HISAB IMKAN RUKYAT” sudah terkesan NDESO ditulis wong NDESO…
      Atas mandat siapa anda bisa mengatakan MUHAMMADIYAh? Lho pak susiknan bagaimanapun juga khan bajunya tetap melekat MD begitu kan? Apa MUHAMMADIYAH=SUSIKNAN SUSIKNAN=MUHAMMADIYAH konyol sekali anda.
      Dari segi judul saja sudah halusinasi, tubuhnya..

  16. Hhhh, capek deh. Sudah jelas Prof. Susiknan mengaku diutus oleh UIN Yogyakarta, yang berarti beliau berposisi sebagai akademi ahli, eeee Thomas Djamaluddin kok “ngotot” Prof. Susiknan dianggap mewakili Muhammadiyah. Sudahlah, buktikan saja dengan surat tugas/ sppd yang ada di Panitia. Ketahuan lah nanti …

  17. Prof TDJ….soal substansi iya tau…penting. Tapi soal pernyataan anda bahwa pak susiknan mewakili muhammadiyah itu jauh lebih penting. Masalahnya ini soal mandat dan kewenangan. Apa kalau anda diutus Kemenag anda akan mengaku juga diutus LAPAN? Yang bener donk…. Atau barangkali anda memang mendapat mandat dari kedua lembaga tsb? Dari LAPAN dan dari KEMENAG? Saya yakin dan percaya serta mendoakan semoga anda tidak mendapat mandat dari kedua lembaga itu sekaligus, sebab kalau demikian halnya dikhawatirkan pembiayaannya juga dobel, suatu hal yang bertentangan dg peraturan keuangan negara. Sekali lagi saya yakin dan percaya, anda tdk membawa mandat dari dua lembaga sekaligus. Pernyataan pak Susiknan itu secara implisit dapat kita pahami, bahwa beliau hanya membawa mandat dari UIN dan demikian juga pembiayaannya. Jadi anda jangan memaksakan diri untuk mengatakan, pak Susiknan mewakili Muhammadiyah.

    • Beginilah komentar orang yang tak tahu masalah sebenarnya.
      Biarlah itu diselesaikan di dalam Badan Hisab Rukyat (BHR). Saya berteman kok dengan Pak Susiknan di BHR dan soal perbedaan pendapat hal yang biasa saja. Kalau benar Pak Susiknan tidak mewakili Muhammadiyah, nanti ada surat resmi Muhammadiyah yang menyatakan Pak Susiknan bukan wakil Muhammadiyah. Tidak masalah. Tetapi, Pak Susiknan sebagai anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah tetap melekat, karena pendapatnya pun tidak independent, tetap bernuansa Muhammadiyah. Pada lokakarya tsb, peserta non-ormas hanya dari LAPAN, ITB, dan Planetarium. Peserta lain, walau diundang atas nama kampusnya, umumnya sudah punya kaitan langsung dengan ormas Islam tertentu.
      Yang jelas dokumen otentik yang ditandatangani, tepat di atas tandatangannya tertulis jelas “Mengamanatkan kepada para peserta untuk menjadikan hasil-hasil Keputusan Lokakarya Mencari Kriteria Format Awal Bulan di Indonesia Tahun 2011 sebagai pedoman bersama dalam penyusunan Kalender Hijriyah Indonesia”. Itu bukan rekayasa, tetapi begitulah semangat di BHR dalam mengupayakan penyatuan. Kalau kemudian ada peserta yang mengingkarinya, itu masalah lain.

      • Nah…, kalau sudah tahu masalah sebenarnya kenapa begitu sembrono mencantumkan judul yg “SEXY EIUY” Muhammadiyah berjuta-juta bung!
        Pak Susiknan jelas2 bilang “waktu saya diminta tanda tangan oleh sdr ismail SAYA HANYA DISODORI NAMA SAYA DAN TIDAK DISERTAKAN KONSEP SECARA UTUH TENTANG HASIL TERSEBUT” artinya apa ini? Rekayasa scanningkah? Mana stempel resmi kemenag?

  18. Pak TDj….keputusan itu batal demi hukum. Tidak ada kewenangan sekelompok orang dlm forum lokakarya membuat keputusan seperti itu (yuridis). Meski maksudnya baik, isinya baik, tapi batal demi hukum. Itu naskah peraturan formal, hanya lembaga formal yang bisa menetapkan seperti itu. Lokakarya itu bukan lembaga formal. Ini Tim sekretariat Kemenag tidak paham soal kaidah hukum. Menyedihkan sekali. Nanti ada sekelompok orang yang kongkow2 sambil diskusi, lalu membuat keputusan bersama yang mengatasnamakan UU. Gawat kalau begini caranya. Jangan2 anda juga ikut mengonsep? Forum non-formal itu tdk bisa mengeluarkan keputusan, apalagi isinya ”mengamanatkan”, atas nama UU lagi. Mengamanatkan (atas nama UU) itu bersifat perintah/wajib. Pihak yang tidak melaksanakan atau mentaati bisa dituntut secara hukum. Sejak kapan peserta lokakarya itu mendapat mandat UU sehinggga bisa memerintahkan dan mengamanatkan? Coba anda berdiskusi dg ahli hukum tata negara. Nanti anda bisa ditertawakan, karena anda yang punya inisiatif. Menurut saya, sebaiknya diadakan lokakarya ulang, rumuskan pokok2 pikiran terkait soal itu, coba dikerucutkan pendapat yang berkembang, lalu dicari kesepakatan2 (bukan keputusan!). Di dalam rumusan itu boleh saja ada poin yang menyatakan : menghimbau atau merekomendasikan kepada Kemenag,MUI, dan ormas2 islam (bukan peserta seperti dalam keputusan yang dibuat itu) agar mengadopsi kriteria penyusunan kalender hijriyah…bla…bla…bla…. Insya Allah ini sesuai dengan sifat lokakarya yang bukan lembaga yang bisa memerintah kepada pihak lain (termasuk peserta sendiri). Nggak apa2 diulang, wong pakar itu bukan malaikat yang selalu benar koq.

  19. Pak TDJ…soal seseorang pendapatnya mirip dg organisasi tempat ia bergabung, itu logikanya begini lho pak. Seseorang kalau pendapatnya A, maka ia tidak akan mungkin masuk organisasi yang kontra A. Anda jangan membalik logika berpikir. Dlm konteks pak Susiknan, anda tdk bisa berlogika begini : karena muhammadiyah memakai kriteria wujudul hilal, maka pak Susiknan menyuarakan wujudul hilal. Ini logika yang belum tentu benar. Banyak orang masuk muhammadiyah bukan karena muhammadiyah begini begitu, tapi karena pendapat dan keyakinan seseorang itu sama dg apa yang menjadi khitah muhammadiyah, maka mereka lalu bergabung. Jadi mereka telah memiliki keyakinan terlebih dulu (yg kebetulan sama dg yg diamalkan muhammadiyah), makanya mereka memilih bergabung dg muhammadiyah. Anda pun saya rasa demikian, andai pemahaman dan keyakinan anda ternyata sejalan dg NU misalnya, tentu anda akan gabung ke NU ketimbang muhammadiyah. Ini sesuatu yg logis. Jadi kalau pak Susiknan mengeluarkan pendapat pribadinya (karena kepakarannya) dan kebetulan sama dg kaidah di muhammadiyah, itu bukan berarti beliau sebagai corong muhammadiyah. Bahkan boleh jadi, beliau akan mengkritik muhammadiyah. Banyak koq warga muhammadiyah yang mengkritik muhammadiyah untuk perbaikan, bukan menjadi anggota taklid buta. Jadi anda jangan mensimflifikasi logika berfikir. Harusnya kepakaran anda menjadikan kemampuan analisis anda jauh lebih tajam.

  20. Pak TDj….biar anda lebih mudah memahami, saya gambarkan begini saja. Seseorang yang akalnya atau hatinya meyakini bahwa bulan baru (qomariah) itu ditentukan secara ilmu astronomi, maka kalau ia akan gabung ke organisasi atau mungkin diajak teman utk masuk di organisasi, tentu akan memilih muhammadiyah daripada NU misalnya. Demikian pula sebaliknya. Nah, kalau ada seseorang yang pemahamannya A tapi ia masuk organisasi yang pemahamannya B, tentu ini patut dipertanyakan. Boleh jadi ia sedang melaksanakan tugas khusus seperti misalnya spionase atau penyusupan. Harusnya anda sudah pahamlah.

  21. Mungkin pak prof TDJ menganggap kedudukan Lokakarya itu setara dengan Munas Parpol, Muktamar Ormas Islam atau Rakernas Organisasi. Pak Prof….kalau Munas, Muktamar atau Rakernas itu kan forum resmi yang tertuang dalam AD/ART suatu organisasi dan memang dinyatakan sebagai forum yang dapat mengambil keputusan. Lha ini lokakarya? Lokakarya itu forum milik siapa? Kemenag? Di Kemenag tidak ada forum resmi yang namanya lokakarya yang bisa menghasilkan keputusan. Yang ada Keputusan Menteri, Keputusan Dirjen dst. Jadi yang benar adalah, rumusan lokakarya (bukan keputusan) menjadi bahan pertimbangan Menteri Agama untuk menerbitkan Keputusan. Disebut forum bersama ormas islam juga tidak. Jadi bagaimana lokakarya bisa mengambil keputusan yang mengatasnamakan UU?

    Coba tolong beri alasan kenapa Lokakarya bisa mengambil keputusan secara yuridis? Saya yakin ini konsep keputusan disiapkan oleh Panitia Lokakarya dari Kemenag yang benar-benar tidak paham soal administrasi hukum. Saya bukan apriori terhadap kesepakatan peserta lokakarya (saya tidak ingin menyebut keputusan!), tapi Keputusan (menurut terminologi peserta lokakarya) sebaik apapun dan bertujuan baik pun, kalau dikeluarkan oleh pihak yang tidak berwenang maka keputusan itu batal demi hukum. Kalau batal demi hukum, kenapa harus dipedomani?

  22. coba dipikir dg akal sehat dan sederhana saja,kalender sholat ( jadwal sholat ) itu dibuat dengan metoda apa,apakah setiap kali kita harus melihat bulan untuk menentukan sdh masuk tidaknya waktu sholat………….kalo mengikuti berita yg lalu tentang penentuan hari raya….bukankah yang membuat perbedaan adalah yang menggunakan metoda rukyat karena Muhammadiyah sudah jauh hari menentukan waktu hari raya…….akan menjadi lucu kalo yang telah menetapkan dahulu kemudian dianggap berbeda hanya karena para pemegang kepentingan menetapkan waktu yg berbeda jauh hari kemudian….

    • Pliiis deh, fahami persolannya. Saat ini bukan saatnya lagi mempertentang hisab dan rukyat. Masalah sekarang adalah hisab wujudul hilal vs hisab imkan rukyat. Hisab imkan rukyat mendasarkan pada data kemungkinan bisa dirukyat. Jadi nantinya hasil hisab imkan rukyat akan klop dengan hasil rukyat. Itu mirip dengan kriteria penentuan jadwal shalat, jadwal maghrib bersesuaian dengan jadwal terbenamnya matahari + tambahan waktu ikhtiyati. Jadwal waktu shalat pun pada dasarnya hisab imkan rukyat untuk fenomena matahari yang terkait dengan dalil jadwal shalat. Yuk kita belajar lagi soal hisab dan rukyat agar dapat memahami persoalan ummat dengan lebih tepat.

  23. Pak Thomas,
    Tahu tidak kenapa muhammadiyah itu mesra dgn NU,persis,alwasliah,al irsyad, serta berbagai ormas2 lain (baik keagamaan maupun non keagamaan) ??. Jika tidak tahu, akan sy beritahu bahwa diantara ormas2 tsb dapat saling menghargai sekalipun ada perbedaan (apalagi perbedaan itu hanya seputar fiqih-khilafiah), nah perbedaan itu diantaranya disebabkan output penafsiran yg tidak sama.
    Persoalan penentuan awal qomariah, sy yakin andapun sudah faham, bahwa akar persoalan hanyalah cara kita dalam mengimplementasikan ayat, atau bahasa agama terdapat penafsiran yg berbeda, sehingga muncullah kaidah wujudul hilal atau imkanur rukyat. (atau apalah namanya).

    Kalau anda mw minta komentar substansi, tidaklah terlalu tepat di blog ini, selayaknya di forum semacam lokakarya, namun terbukti anda sendiri kan tidak fokus pada kepakaran anda dlm lokakarya terakhir di kemenag, artinya anda sendiri sudah nyasar ke substansi lain, bahkan anda tidak full mengikuti acara sehingga sangat rawan adanya misskomunikasi (referensi : pernyataan pak susiknan).
    Persoalan nya sekaran pada kacamata ilmiah, anda memang pakar astronomi, tapi yang sangat disayangkan dari kepakaran anda, anda tampak tidak konsisten sbg ilmuwan yang seharusnya memberi jalan tengah dari sebuah keahlian. Kok, terkesan selalu menyalahkan pihak lain yang tidak sejalan dengan anda. Ups, mungkin anda akan jawab, ini kan bentuk dari sebuah kiritik ilmu. Ok, jika memang itu sebuah kritik, kenapa harus ambisius hingga mengambil berbagai cara hanya utk meraih ‘kemenangan’ dari usulan kritik anda ?.
    cobalah sedikit merenung dengan bijak, bahwa alangkah baiknya kritik itu bukan hanya disampaikan dgn ‘substansi’ yang bebar TAPI juga ‘cara’ yang benar dan elegan. Sehingga orang awam akan tetap mendapat ilmu sekaligus hikmah. Tahu tidak, justru dengan cara2 anda, banyak masyarakat yang semakin simpati pada muhammadiyah (maaf, kecuali yang fanatik sbg makmum anda). Apalagi masyarakat saat ini sudah luntur kepercayaan pada pemerintah (contoh hal 1 syawal 1432 H yang lalu, pemerintah boleh saja memutuskan sesuatu, tapi masyarakat jaman skrg tidak selugu 30an thn yang lalu,masyarakat saat ini turut mengkonfirmasi benar tidaknya sudah masuk bulan baru).

    Itu sajalah, ketimbang nanti anda cari pembelaan lagi bhwa komentar ini tidak substansial.
    Saran saya pada muhammadiyah (khususnya para warganya), sudahlah STOP ngurusin Thomas Djamaluddin. Urusan umat yang lebih besar masih lebih banyak dan lebih penting. Toh persoalan kalender hijriah pak thomas tidak punya kewenangan apa2, beliau hanyalah ilmuwan yang kebetulan akhir2 ini cukup menggebu2 mengkritik muhammadiyah.
    Maju terus saja muhammadiyah dengan amal usahanya yang kongkrit dan untuk umat dan bangsa. Muhammadiyah ada sudah sejak RI belum lahir (termasuk pak Thomas) dan bukan hal baru dalam tubuh muhammadiyah mengurusi penentuan awal bulan qomariah, artinya sekenyang2 pak thomas makan garam ilmu astronomi dan falak, masih lebih kenyang muhammadiyah. Apalagi muhammadiyah membahasnya tidak hanya dari sisi astronomi, tapi juga dari sisi lain seperti ulumul hadits, tafsir alquran, fikih fatwa ttg ijtihad penentuan awal bulan,dll.
    Kami sebagai masyarakat biasa justru mengapresiasi upaya santun dan penghargaan muhammadiyah thd umat islam yang memiliki pandangan dan pilihan berbeda.

    Salam semangat ukhuwah islamiyah.
    Wassalam.

  24. Ada banyak hal yang membuat Anda layak digelari Profesor bodoh, diantaranya……:
    1. Buku yang anda baca itu tidak menunjukkan keinginan Muhammadiyah untuk menggunakan Imkanurrukyat dalam sistem penanggalan Hijriah di Indonesia, kecuali kalau secara internasional ummat Islam bisa disatukan. Tapi bisakah anda baca bahwa metode itu dengan imkanurrukyat di belahan barat bukan sebagai dasar utama;
    2. Buku2 yang Anda baca itu semakin mempekuat dugaan bahwa anda adalah profesor bego, alangkah begonya anda memvonis Muhammadiyah beberapa bulan lalu mematikan tajdij, usang dll, tanpa anda baca bukunya… buku itu sudah terbit tahun 2008, kok baru sekarang anda baca… dan ternyata anda jauh lebih ketinggalan dari pada pemikiran Muhammadiyah.
    3. Akhirnya saya tahu….. Anda telah memprolakmirkan diri sebagai PEMERSATU UMMAT untuk kelender hijriah (seperti anda tampalkan d website, koran dan tv). Tapi karena pemikiran anda tidak diakomodasi oleh Muhammadiyah, maka anda jadi frustasi karena GELAR PEMERSATU UMMAT belum bisa anda peroleh karena Muhammadiyah tidak mau pake imkanurrukyat.
    4. Kami sedang2 bersiap2 mendengar pernyataan anda nanti (sama seperti tulisan anda) kalau akhirnya Muhammadiyah mengadopsi suatu kelender yang ada imkanurrukyat pasti anda mengatakan itu berkat jasa anda…..
    5. Anda tahukan bahwa Muhammadiyah dulu sebelum anda lahir sudah pernah menggunakan imkanurrukyat…. tapi untuk saat ini bagi Muhammadiyah di Indonesia wujudulhilal lah yang paling cocok, sehingga imkanurrukyat tidak dipakai saat ini.Kalau nanti muhammadiyah paka imkanurrukyat berarti kembali ke tiori Muhammadiyah 80 tahun yang lalu……. bukan karena mengikuti trend apalagi mengikuti pendapat profesor provokator, tukang fitnah Prof Susiknan dan pemecah belah ummat seperti anda.

    • Saya hanya ingin mengomentari khusus butir 5. Pasti penulis belum baca buku “Pedoman Hisab Muhammadiyah” (saya juga ragu apakah penulis sudah membaca buku yang saya sebut di tulisan di atas yang gambarnya tercantum juga). Aneh, begitu mengebunya membela, justru “Pedoman Hisab Muhammadiyah” yang seharusnya dijadikan rujukan diabaikan. Disitu disebutkan bahwa sebelum menggunakan wujudul hilal, Muhammadiyah menggunakan rukyat. Dan secara tegas disebutkan Muhammadiyah tidak pernah menggunakan kriteria imkan rukyat. Sebenarnya itu wajar, karena pada saat itu sekitar tahun 1970-an hisab masih sulit, jadi ahli hisab Muhammadiyah tidak mau repot-repot untuk menghitung aspek-aspek yang terkait kemungkinan rukyat. Saat ini hisab begitu mudahnya, hanya dengan beberapa klik di komputer hasilnya keluar. Lalu tinggal diperiksa memenuhi kriteria imkan rukyat atau belum. Itulah trend internasional saat ini.

      • Baru kemarin rasanya… Pak djamal menggelitik nuraniku..
        Baru kemarin rasanya… Pak djamal menusuk sembilu keyakinanku…
        Tak terasa sudah waktu tlah berlalu…
        Kusadar bahwa pak djamal tlah berlalu…
        Meninggalkan bayang2 semu yg semakin membiru…

        Mohon maaf atas kekhilafanku

      • untuk buka “Pedoman Hisab Muhammadiyah” memang belum saya baca. Tapi Muhammadiyah pernah menggunakan imkanurrukyat justru saya tahu dari blog anda di https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/08/27/muhammadiyah-terbelenggu-wujudul-hilal-metode-lama-yang-mematikan-tajdid-hisab/ . Diblog itu dipajang buku “Metode Hisab Muhammadiyah”, saya kira anda membahas buku itu…
        Alangkah kasihan anda seorang profesor memberi informasi ke masyarakat dengan sangat ceroboh. Berarti gelar anda bertambah lagi “Profesor ceroboh”.
        Oya, masalah trend internasional saat ini……? Bagaimana kalau 2 tahun lg trend internasional menggunakan wujudul hilal…. karena yang namanya trend itu kan berubah2, sesuai pola fikir yang berkembang saat itu…
        Tapi asal Prof tahu dikalangan masyarakat yang menggunakan peredaran bulan dalam tatanan praktis seperti masyarakat pesisir dan pengunungan bagi mereka justru wujudul hilal lebih cocok atau ngetrend…. !

      • http://arsip.gatra.com/2007-09-28/artikel.php?id=108151
        — kutipan –
        Perubahan kriteria di Muhammadiyah bukan mustahil. Sebab, dalam sejarahnya, kata Susiknan, pernah dipakai berbagai metode. Pada fase awal, Muhammadiyah memakai rukyat dengan standar imkanur ru’yat 3 derajat. Lalu bergeser ke kriteria ijtima’ qablal ghurub bahwa asal konjungsi (bumi-matahari-bulan dalam satu garis) terjadi sebelum magrib, maka malamnya sudah tanggal baru.

        Setelah tahun 1938, Muhammadiyah baru memakai wujudul hilal. “Itu jalan tengah antara hisab murni dan rukyat murni,” katanya.
        — kutipan —

        Saya persilahkan konfirmasi dengan Pak Susiknan mengenai hal di atas. Kalau memang informasi dari Pak Thomas yang tidak akurat, silakan revisi pernyataannya. Hal yang tidak sukar, bukan?

        Hanya saja melihat sikap anda terhadap klarifikasi Pak Susikan terkait dengan hasil lokakarya yang anda besar-besarkan, terus terang saya cukup pesimis.

        HAK JAWAB ATAS ARTIKEL THOMAS DJAMALUDDIN (Astronomi Islam 21)
        http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/?p=1991

      • hehe,bener kata pak riky, tampaknya pak thomas yang blm baca buku pedoman hisab muhammadiyah, tuh di tulisan sebetulnya nyebutin muhammadiyah pernah imkan rukyat,,,sekarang malah dibantah sendiri,,,weleh2….jaman wis edan, semuanya mudah diremehkan begitu saja, tanpa intropeksi….

        hemmmm…….
        peace!

        wassalam

      • Pak thomas tidak konsisten dengan yang diucapkannya, tidak perlu di ikuti

  25. AYOOOOO……STOP NGURUSIN PAK DJAMAL. LEBIH BAIK NGURUSIN UMMAT YANG PERLU PERHATIAN SEGERA.

  26. Begitu pongahkah saudara riky? Pemikiran manusia itu nisbi yang mutlaq benar hanyalah Alloh Subhanahu wa Ta’ala.Begitu juga pemikiran orang-orang Muhammadiyah juga relatif benarnya,Maka manusia yang baik adalah orang yang mengambil argumentasi yang lebih kuat dari argumentasi-aragumentasi yang ada berdasarkan burhan (Al-Qur’an dan As-Sunnah),perlu diingat sains itu adalah segala hal yang diciptakan Alloh Subhanahu wa Ta’ala, maka kita-kita ini hanyalah sainstis yang mempunyai kekurangan,maka contohlah para pencinta ilmu, mereka berprinsip hasil analisanya bukanlah yang paling benar tapi mereka akan mengikuti analisa yang mendekati kebenaran

    • saya tidak pongah, saya hanya mengingatkan agar Prof kita tidak pongah yang menganggap imkanurrukyat yang paling benar, wujudulhilal usang dan pemecah belah ummat. Insya Allah pada saatnya MD akan berubah pada kriteria yang lebih baik, toh sejak awal berdirinya kriteria itu sudah berubah beberapa kali seperti kata Prof TJ. Dan perubahan kriteria d MD selama ini tanpa menggunakan argumen cerdas Prof TJ, karena waktu perubahan itu Prof TJ belum lahir atau belum jadi ilmuan……

  27. Sesungguhnya kedudukan ilmu itu mubah (netral). Ia bisa menjadi “dianjurkan” untuk mempelajarinya manakala akan dimanfaatkan untuk kemaslahatan ummat. Sebaliknya, ia akan menjadi “haram” untuk mempelajarinya manakala akan dimanfaatkan untuk kejahatan. Ibarat sebuah pisau, semula ia hukumnya mubah (netral). Ia akan bermanfaat dan bernilai kebaikan apabila digunakan untuk misalnya mengiris bawang, mengocek buah, dll. Sebaliknya, ia akan menjadi bernilai jahat (dosa) bila untuk melukai seseorang, misalnya.

    Dalam konteks ibadah mahdhoh, ilmu memiliki peranan yang sangat penting. Dulu, sebelum orang mengenal ilmu geografi, shalat berpedoman kepada posisi matahari. Untuk shalat ashar (di Indonesia), manusia mengambil posisi kiblat serong sedikit ke arah utara dari posisi matahari. Pada kala itu, tentulah tidak menjadi masalah. Apalagi ada yang berpendapat, sesungguhnya Allah maha mengetahui hati seseorang. Tetapi harap di catat, bahwa ternyata kemudian diketahui bahwa posisi matahari itu bergerak semu ke utara dan ke selatan. Pada bulan Juni, posisi matahari berada pada garis lintang utara 22,5 derajat. Jadi kalau kita shalat ashar serong kanan sedikit dari matahari, arah shalat kita bisa ke arah Danau Kaspia dan terus ke wilayah Jerman. Sebaliknya pada bulan Desember posisi matahari berada pada lintang selatan 22,5 derajat, sehingga kalau kita shalat ashar serong kanan sedikit dari matahari, mungkin kita mengarah ke Maroko. Di sinilah ilmu pengetahuan (geografi dan astronomi) memegang peranan penting dalam membantu mengarahkan kepada kiblat yang benar (Ka’bah). Kedua ilmu ini menjadi sangat penting untuk dipelajari. Mempelajari ilmu tersebut dapat dikatakan menjadi wajib. Ilmu geografi atau astronomi tentu tidak bisa memberikan kepastian yang mutlak. Apalagi permukaan bumi ini sebenarnya tidak datar sebagaimana yang kita lihat. Tetapi ilmu pengetahuan itu bisa mendekatkan kepada kebenaran, bahkan untuk kondisi saat ini tingkat ketelitiannya sudah sangat tinggi. Jadi mengarahkan hadapan kita ke arah kiblat yang lebih tepat dengan menggunakan ilmu pengetahuan itu menjadi dianjurkan (untuk tidak menyebut wajib). Demikian juga halnya penentuan tanggal baru qomariah, termasuk penentuan 1 Ramadhan, 1 Syawal dan 10 Zulhijjah.

    Mempelajari ilmu sebagaimana di atas bukan berarti kita menuhankan ilmu. Ilmu itu milik Allah dan Allah pula yang menciptakan. Jadi kalau kita menggunakan hisab wujudul hilal itu bukan kita menuhankan ilmu astronomi. Demikian juga kita menggunakan imkan rukyat, tidak menuhankan ilmu astronomi. Bahkan, Allah mempersilakan kepada manusia untuk mengerahkan segala ilmunya untuk melihat Allah, tapi Allah sudah menjamin bahwa manusia tidak akan mampu melihat Allah.

  28. wekekekekekekeke..yang saya ketahui..si Prof. okator ini tukang maksa keinginan ke orang lain..
    dari jaman Dulu muhammadiyah ga pernah memaksakan keinginannanya kpd ormas lain..karen dalam agama itu yang terpenting masalah keyakinan dan kebenaran..meski kedudkan Menag dipegang oleh org muhammadiyah..tapi sejak Menag dipegang oleh Non MUhammadiyah..pemaksaan kehendak dan keinginan dengan DALIH PERSATUAN selalu digaungkan..bahkan meski ketika sudah ditunjukan kebenaran teori muhammadiyah pun si Prof.okator tm ini selalu ga bisa menerima kebenaran..baginya hanya satu..bahwa dia ingin diakui sbg org pintar dan benar..emski ilmunya sudah sangat banyak diakui kesalahannya..oraang jawa bilang ISIN MUNDUR..salah ora salah meski nyemplung sumur..tetep aku yang paling pinter dan paling benar..

  29. maju terus pak thomas….demi persatuan umat

  30. satuju pisan

  31. Tetap istiqomah pak Thomas.. MAYORITAS ummat Islam di Indonesia mendukung anda dlm mengupayakan persatuan ummat islam indonesia dlm hal ini.

  32. sampe lebaran kuda berdebat sama Muhammadiyah gak akan selesai pak Thomas, mereka tetep keukeuh untuk tafaruq dari negara Republik Indonesia. mereka ingin kebebasan beribadah sesuai pasal 29 UUD kali ya pak. saya bukan NU, Persis alirsyad dll, saya ikut pemerintah. semoga Allah terus memberikan kesehatan untuk Prof. Thomas dan teruslah berjuang demi persatuan pak. saya selalu mendukung anda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 191 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: