Menuju Kalender Hijriyah Tunggal Pemersatu Ummat

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Mari kita niatkan bersama untuk mewujudkan kalender hijriyah menjadi kalender pemersatu ummat. Suatu kalender yang mapan yang setara dengan kalender Masehi (https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/01/06/kalender-hijriyah-bisa-memberi-kepastian-setara-dengan-kalender-masehi/ ). Jangan teruskan mengkerdilkan kalender hijriyah dalam kotak kelompok-kelompok kecil, sehingga kalender hijriyah hanya berlaku untuk ormas tertentu saja, tidak berlaku nasional apalagi global. Untuk menjadi sistem kalender yang mapan tiga syarat harus terpenuhi:

  1. Ada otoritas (penguasa) tunggal yang menetapkannya.
  2. Ada kriteria yang disepakati
  3. Ada batasan wilayah keberlakukan (nasional atau global).

Untuk mewujudkannya, kita lakukan secara bertahap, dimulai dari tingkat nasional, kemudian diperluas menjadi regional, dan akhirnya global. Untuk tingkat nasional kita tinggal selangkah lagi. Otoritas tunggal kita sudah mempunyainya, yaitu pemerintah yang diwakili Menteri Agama. Batas wilayah keberlakukan kita sepakati, yaitubatas wilayah NKRI. Tinggal satu lagi yang kita upayakan, menyamakan kriteria. Kriteria yang kita tetapkan harus bisa mempertemukan hisab dan rukyat, sehingga aplikasinya senantiasa sejalan dengan kebutuhan ibadah yang bagi sebagian kalangan mensyaratkan adanya rukyatul hilal. Itu mudah, kita gunakan kriteria imkanur rukyat atau visibilitas hilal. Dengan kriteria itu kita bisa menentukan kalender dengan hisab sekian puluh atau sekian ratus tahun ke depan, selama kriterianya belum diubah.

Seandainya, kriteria itu sudah kita sepakati, satu tahapan dapat kita capai: kita akan mempunyai satu kalender hijriyah nasional yang baku. Sistem kalender yang berlaku untuk semua ormas dan menjadi acuan pemerintah dalam menetapkan hari-hari besar Islam. Awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha insya-allah akan seragam, karena hasil rukyat pun insya-allah akan sejalan. Sidang isbat, kalau masih diperlukan, hanya untuk menetapkan hasil rukyat dan menetapkan keputusan ketika ada permasalah dengan hasil rukyat dalam kondisi mendung, dengan tetap merujuk pada kriteria hisab-rukyat yang disepakati.

Marilah kita bermimpi untuk kemudian memperluasnya ke tingkat regional dan global. Mungkinkah? Sangat mungkin. Kita perluas otoritasnya menjadi otoritas kolektif regional (misalnya kesepakatan tingkat ASEAN) atau global (misalnya kesepakatan Organisasi Konferensi Islam, OKI) dan kita perluas wilayahnya menjadi wilayah regional atau global. Kalau perlu kriterianya ditinjau lagi untuk mendapatkan kesepakatan di tingkat regional dan global. Ya demikian sederhananya konsep penyatuan kalender hijriyah itu, yang terpenting ada keterbukaan untuk mencari kesepakatan.

Lalu bagaimana konsep harinya untuk pemberlakukan secara global? Kita harus sadari, kriteria imkanur rukyat terkait dengan batas tanggal qamariyah (lunar date line) yang senantiasa berubah-ubah. Kita tidak mungkin mendapatkan “satu tanggal satu hari” di seluruh dunia. Jadi kita tidak mungkin untuk mendapatkan, misalnya, hari Arafah 9 Dzulhijjah seragam hari Senin di seluruh dunia, kecuali bila garis tanggalnya memungkinkan. Peluang terbesar, akan terjadi dua hari untuk tanggal hijriyah yang sama. Misalnya di wilayah Barat Senin, tetapi di wilayah Timur Selasa.

Konsep “satu hari satu tanggal” yang dihendaki sebagian orang hanya dapat terjadi kalau ada  “pemaksaan”. Wilayah yang belum mengalami rukyatul hilal (berdasarkan kriteria imkanur rukyat) dipaksa untuk ikut wilayah yang sudah imkanur rukyat. Artinya, menggeser garis tanggal qamariyah menjadi sama dengan garis tanggal internasional. “Pemaksaan” hanya bisa dilakukan kalau ada otoritas tunggal secara global, sehingga berlakuknya wilayatul hukmi global.

Untuk meminimalkan “pemaksaan” dalam kondisi saat ini, pendekatan yang bisa dilakukan adalah membuat zona-zona tanggal, seperti dilakukan oleh Ilyas dalam gagasan Internasional Islamic Calendar Program atau Odeh dalam program Universal Hijric Calendar. Odeh membagi dunia menjadi Zona Timur (180  BT – 20  BB,  meliputi Asia, Afrika, dan Eropa) dan zona Barat (20  BB – 180  BB, meliputi Benua Amerika). Dengan konsep zona, “pemaksaan” juga terjadi, tetapi dalam lingkup yang lebih terbatas. Saya lebih cenderung tidak menggunakan zona, tetapi menggunakan garis batas tanggal qamariyah dengan sedikit pembelokan menurut wilayatul hukmi negara-negara. Batas tanggalnya menjadi dinamis, berubah setiap bulan:

Berikut ini contohnya garis tanggal awal Syawal 1432:

Bila menggunakan kriteria “beda tinggi bulan-matahari >4 derajat dan jarak bulan-matahari >6,4 derajat”, garis tanggalnya adalah garis yang paling bawah (4 derajat) dan garis pendek (jarak bulan-matahari 6,4 derajat) — gambar dengan program Excel yang saya buat, hasilnya mirip dengan gambar-gambar di bawah ini –. Itu berarti di wilayah Afrika Tengah dan Selatan serta Amerika Tengah dan Selatan, awal Syawal jatuh pada 30 Agustus 2011. Di wilayah lainnya (termasuk Indonesia dan negara-negara Arab) awal Syawal Jatuh pada 31 Agustus 2011.

Bila menggunakan kriteria Odeh di situs ICOP, wilayah yang  bisa mengamati hilal pada 29 Agustus dengan menggunakan alat optik (teleskop atau binokuler) adalah wilayah yang berwarna biru. Wilayah berwarna magenta dan hijau menyatakan wilayah yang mungkin bisa melihat hilal dengan mata telanjang. Berdasarkan garis tanggal warna biru, kita bisa simpulkan di Afrika Selatan, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan 1 Syawal jatuh pada 30 Agsutus 2011. Di wilayah lain, termasuk di Indonesia dan negara-negara Arab 1 Syawal jatuh pada 31 Agustus 2011.

Dengan menggunakan kriteria yang disepakati, kita bisa membuat garis tanggalnya. Berdasarkan garis tanggal itu kita bisa tentukan awal bulan di berbagai negara, dengan menggunakan prinsip wilayatul hukmi. Dengan teknologi informasi yang makin canggih, pembuatan garis tanggal mudah dilakukan dan mudah diakses oleh siapa pun. Kita bisa menghitung untuk sekian puluh atau sekian ratus tahun ke depan dengan mudah. Berikut ini contoh garis tanggal dinamis (dibuat teman saya Iwan) dengan garis tanggal qamariyah menggunakan kriteria Odeh, tetapi gambarnya dari situs Moonsighting: