Potensi Kering dan Panas pada Musim Pancaroba Menuju Kemarau 2011


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, Peneliti Hubungan Matahari-Bumi, Mantan Kapus Sains Atmosfer & Iklim LAPAN

(Dari http://www.bom.gov.au/)

Menarik memantau terus perkembangan kondisi atmosfer (awan, angin, hujan, dan dinamikanya), suhu permukaan laut, serta matahari (posisi dan aktivitasnya) terkait hubungan matahari-bumi. Maret – April – Mei merupakan masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau di Indonesia. Beberapa daerah diprakirakan akan memulai kemarau pada April ini, walau sebagian besar akan memulainya pada Mei – Juni. Kemarau dimulai dari wilayah Timur menuju Barat Indonesia. Tetapi tonggerek (atau tonggeret, serangga yang bunyinya nyaring pada akhir musim hujan) di pepohonan sekitar kantor di LAPAN Bandung sudah mulai terdengar suaranya, pertanda berakhirnya musim hujan menuju kemarau.

Bagaimana gambaran masa peralihan menuju kemarau tersebut? Matahari berada di sekitar ekuator, mulai bergerak ke utara. Efek pemanasan terpusat di sekitar ekuator. Angin rata-rata mulai berubah, tetapi cenderung  tanpa pola. Berbeda dengan keadaan saat musim hujan yang pola anginnya bertiup dari belahan Utara menuju belahan Selatan, karena matahari berada di belahan Selatan. Juga berbeda dengan keadaan musim kemarau yang pola anginnya bertiup dari belahan Selatan menuju belahan Utara karena matahari berada di belahan Utara. Efek pemanasan terpusat di sekitar ekuator, suhu rata-rata wilayah Indonesia pada masa peralihan ini cenderung lebih panas daripada pada musim hujan atau kemarau.

(Dari http://www.bom.gov.au/)

Kondisi liputan awan bukan hanya dipengaruhi oleh perpindahan massa udara basah yang secara reguler digerakkan oleh angin pasat yang berubah mengikuti perubahan posisi matahari. Kini diketahui ada dinamika atmosfer global dan pemanasan laut di wilayah Indonesia dan sekitarnya yang berperan besar juga pada variabilitas iklim Indonesia. Musim kemarau yang basah tahun 2010 lalu (lihat https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/07/09/memahami-kemarau-basah-2010/) dan musim hujan yang kering pada awal 2011 (lihat https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/01/11/memahami-musim-hujan-januari-2011-yang-kering/) menunjukkan regularitas musim di Indonesia tidak bisa lagi menjadi rujukan pasti.

Dinamika atmosfer yang berpengaruh pada variabilitas iklim Indonesia adalah aktivitas konveksi pembentukan awan yang diwakili oleh parameter MJO (Madden-Julian Oscillation). Pada awal pancaroba ini, MJO aktif dengan fase pengurangan aktivitas konveksi pembentukan hujan di atas wilayah Indonesia (kontur coklat di sekitar garis bujur 90 – 140 Bujur Timur). Kondisi suhu permukaan laut di wilayah Indonesia yang relatif lebih dingin dari rata-rata (warna biru di peta anomali suhu permukaan laut) juga menambah efek pengurangan pembentukan awan di atas wilayah Indonesia. La Nina yang ditandai dengan dinginnya suhu permukaan laut Pasifik Timur kini juga mulai menuju normal. Kondisi dinamika atmosfer dan suhu permukaan laut tersebut bermakna, ada potensi kondisi kering pada masa pancaroba menjelang musim kemarau 2011. Liputan awan pada awal April 2011 (gambar paling atas) tampak mulai berkurang.

(Dari http://www.cpc.ncep.noaa.gov/)

Suhu permukaan laut dan anomalinya 12 Jan – 30 Mar 2011 (klik gambar untuk animasinya)

(Dari http://www.cpc.ncep.noaa.gov/)

Dampak ikutan perubahan pola pemanasan dan pola angin, panas terik mulai terasa menyengat pada masa pancaroba ini, sementara tidak ada efek pendinginan dari belahan Utara (saat musim hujan) atau dari belahan Selatan (saat musim kemarau). Suhu rata-rata di beberapa kota besar di Indonesia menunjukkan suhu meninggi saat pancaraboa. Pada kenyataannya, suhu harian sangat tergantung kondisi liputan awan. Dalam kondisi cerah dengan awan minimum, maka pemanasan akan lebih efektif sehingga suhu jauh lebih tinggi dari rata-rata. Kondisi pemanasan kota (urban heat island) sebagai dampak berkurangnya pepohonan dan bertambahnya emisi karbondioksida oleh aktivitas manusia (transportasi, industri, rumah tangga) memperparah keadaan yang terik ini.

(Data diolah dari http://www.worldclimate.com/)

2 Tanggapan

  1. […] distribusi panas di wilayah Indonesia seolah terkungkung di dalam wilayah Indonesa yang memicu temperatur tinggi di beberapa kota.  Pemanasan lokal di wilayah minim pepohonan pada siang hari yang terik disertai dengan dinamika […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: