“Super Moon” Hanya Wacana Astrologi, Bulan Terdekat ke Bumi Tidak Menyebabkan Bencana


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

(Animasi dari http://hrcst.org.uk/wp/index.php/weather/)

Beberapa media massa memberitakan ramalan astrologi bahwa  “super moon” atau ”extreme super moon” bakal menyebabkan bencana. Kabarnya, Sabtu 19 Maret 2011 bulan akan berada pada posisi terdekat dengan bumi (disebut perigee), hampir bersamaan dengan saat puncak purnama. Itulah yang dinamakan ”super moon” pada saat perigee, dan bila diperkuat kondisi purnama dinamakan ”extreme super moon”. Istilah itu hanya dikenal dalam astrologi, tidak dikenal dalam astronomi. Kita harus faham perbedaan astrologi dan astronomi. Astrologi adalah pemahaman bahwa posisi benda-benda langit berpengaruh pada nasib kehidupan manusia di bumi. Astrologi bukanlah cabang sains. Sedangkan astronomi adalah cabang sains atau ilmu pengetahuan yang mempelajari gerakan dan kondisi fisik benda-benda langit.

Menurut ramalan astrologi, kondisi ”super moon” pada 19 Maret 2011 akan mengakibatkan banyak bencana di bumi. Benarkah? Astronomi membantah ramalan bencana, walau membenarkan bahwa pada tanggal itu bulan berada pada jarak terdekatnya dengan bumi hampir bersamaan dengan puncak purnama. Data astronomi menunjukkan pada 19 Maret 2011 pukul 19:10 GMT/UT (20 Maret pukul 02:10 WIB) bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi, pada jarak 356.577 km. Itu berdekatan dengan puncak purnama pada 19 Maret pukul 18:11 GMT/UT (20 Maret pukul 01:11 WIB).

Astronomi membantah ramalan bencana, karena kejadian jarak bulan terdekat dengan bumi (perigee) adalah peristiwa bulanan, walau bervariasi. Periodenya perigee sekitar 27,3 hari. Sedangkan peristiwa purnama juga kejadian bulanan dengan periode sekitar 29,5 hari. Karena perbedaan periode ini, perigee tidak selalu bersamaan dengan purnama. Peristiwa perigee bersamaan dengan purnama baru akan berulang lagi setelah 18 tahun, yaitu kelipatan 241 x 27,3 hari yang sama dengan 223 x 29,5 hari. Tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkan peristiwa perigee bersamaan dengan purnama dengan bencana 18 tahun lalu, Maret 1993 atau sebelumnya.

Adakah dampak perigee bersamaan dengan purnama? Ya, ada, tetapi belum tentu berarti bencana. Bulan pada posisi paling dekat dengan bumi berdampak makin menguatnya efek pasang surut di bumi, terutama pada air laut. Air laut akan makin tinggi dalam kondisi ini. Bila itu bersamaan dengan purnama, ada efek penguatan juga dari gaya pasang surut matahari, sehingga efek pasang surut cenderung paling kuat.

Keberulangan perigee dan purnama selama tahun 2011

Jarak Bumi-Bulan dan Fase Bulan selama Maret 2011

Keberulangan perigee dan purnama selama tahun 1993. Periode 18 tahun tampak dengan kemiripan data 1993 dengan 2011.

Potensi bencana tetap harus diwaspadai bila ada efek penguatan dengan faktor lain, baik faktor cuaca maupun faktor geologis. Bila cuaca buruk di laut dan wilayah pantai diperkuat dengan efek pasang maksimum saat perigee dan purnama, harus diwaspadai potensi bahaya di wilayah pantai yang mungkin saja menyebabkan banjir pasang (rob) yang lebih besar dari biasanya. Demikian juga bila penumpukan energi di wilayah rentan gempa dan gunung meletus, efek penguatan pasang surut bulan mungkin berpotensi menjadi pemicu pelepasan energi. Tetapi kondisi perigee bulan bersamaan dengan purnama bukan sebagai sebab utama bencana, tetapi bisa menjadi pemicu efek penguatan faktor lain. Artinya, kalau tidak ada indikasi cuaca buruk di wilayah pantai atau tidak ada penumpukan energi di wilayah rawan gempa dan wilayah rawan gunung meletus, maka tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan posisi perigee bulan bersamaan dengan purnama.

Tautan terkait:

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/07/01/superkonjungsi-bedakan-astronomi-dan-astrologi/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/11/05/faktor-kosmogenik-waspadai-potensi-bencana-sekitar-bulan-baru-dan-purnama/

About these ads

10 Tanggapan

  1. Assalamu’alaikum wr wb.
    Bagaimana halnya dengan bencana tsunami dahsyat yang terjadi di Jepang ? Adakah penjelasan ilmiahnya? Orang-orang yang percaya dengan ramalan tersebut pasti akan spontan mengatakan bahwa bencana di Jepang tersebut merupakan kenyataan darj ramalan.
    Wassalam wr wb.

    • Tidak ada kaitannya gempa Jepang dengan super moon. Kalau posisi terdekat bulan-bumi (‘super moon’) yang jadi sebab bencana, justru faktanya tidak seperti itu. Pada saat gempa jarak bulan-bumi hampir 400.000 km, hampir jarak terjauhnya.

  2. hanya orang” yg berpikir (ulil albab) yg bisa melihat dan memahami semua itu

  3. Assalmualaikkum

    Prof terima kasih atas info soal supermoonnya, berita prof telah saya tulis dan silakan di lihat di today.co.id

  4. terima kasih pak infonya sangat berguna

  5. [...] Penulis adalah Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama Republik Indonesia. Tulisan ini dipublikasikan ulang dari blognya. [...]

  6. apakah mungkin bulan semakin lama akn semakin dekat dengan bumi dan kemudian tertarik oleh grafitasi bumi karna menurut saya mungkin saja itu terjadi dalam kurun waktu,mungkin 1tahun lamnya

  7. prof..sungguh luar biasa krn prosesnya pasti lebih luar biasa.
    mw nanya perhitungan tentang Peristiwa perigee bersamaan dengan purnama baru akan berulang lagi setelah 18 tahun, yaitu kelipatan 241 x 27,3 hari yang sama dengan 223 x 29,5 hari. jumlah 241 dan 223 itu perhitungany dari mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 191 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: