Peduli Sampah


T. Djamaluddin
LAPAN BAndung

 

Sedikit catatan dan renungan perjalanan saya ke Wina, 7 – 18 Februari 2011, mengikuti pertemuan keantariksaan di kantor PBB Wina. Masalah sampah menjadi salah satu perhatian di Wina (Austria). Tak heran bila Wina ditetapkan sebagai kota terbaik di dunia dalam pengelolaan sampah tahun 2010. Memang jumlah penduduk yang relatif sedikit dan ketatnya aturan hukumnya, seperti kebanyakan kota di Eropa, menjadi salah satu faktor pengendali yang efektif. Tetapi kita pun perlu belajar, karena nilai-nilai positif juga kita punyai namun kadang kita lupakan. Prinsip 3 R (reduce, reuse, dan recycle – mengurangi, menggunakan ulang, dan mendaur ulang) dalam pengendalian sampah tampaknya diterapkan dengan baik di Wina dan perlu kita biasakan juga.

 

Beberapa hari lalu saya belanja makanan ke mini market di samping hotel. Saya beli  susu, jus buah, roti, dan sayur beku. Setelah membayar, saya bingung sendiri. Barang belanjaan dibiarkan begitu saja tanpa diberi tas plastik (’keresek’) seperti lazimnya di Indonesia dan beberapa negera lain yang pernah saya kunjungi. Beberapa saat tengok kanan-kiri mencari tempat tas plastik dan sambil memperhatikan orang lain. Saya tak berani bertanya, selain saya tak bisa berbahasa Jerman, juga karena khawatir bertanya sesuatu yang tidak lazim. Benar saja, saya perhatikan semua orang memasukkan belanjaannya ke dalam tas yang mereka bawa. Belakangan saya tahu dari teman KBRI bahwa tas plastik sebenarnya tersedia juga, tetapi harus dibeli. Alasan utamanya adalah pengurangan sampah plastik.

 

Di Indonesia budaya berbelanja membawa tas atau keranjang sendiri sudah lama ditinggalkan. Alasan kepraktisan telah mengubah budaya berbelanja. Meninggalkan keranjang dan menggantinya dengan banyak tas plastik, walau sangat mengotori lingkungan dalam jangka panjang. Seingat saya, semasa SD dulu awal tahun 1970-an, saya selalu ke pasar bersama ibu dengan membawa keranjang rotan atau plastik. Sayur mayur dimasukkan begitu saja ke dalam keranjang. Barang basah seperti daging, ikan, atau tahu dibungkus dengan daun daun jati atau daun pisang.  Sampah pembungkus mudah busuk sehingga tidak membahayakan lingkungan.

 

Kini budaya berbelanja membawa tas atau keranjang sendiri sudah langka. Kadang saya dan istri ke pasar membawa tas plastik dari rumah, tetapi tetap saja pulang ke rumah membawa banyak sampah pembungkus plastik. Hampir semua barang dibungkus plastik. Cabe, bawang, timun, tempe, apalagi yang basah seperti ikan, daging, dan tahu. Ada supermarket menjual tas plastik untuk membawa belanjaan. Tas itu diharapkan bisa dipakai berulang-ulang setiap belanja dan yang bisa ditukar gratis bila rusak. Tetapi tampaknya tidak laku karena dianggap tidak praktis.

 

Budaya belanja dengan membawa tas sendiri mungkin sulit dikembalikan, walau sebenarnya di Wina itu bisa diterapkan. Tetapi kita sebenarnya bisa dibiasakan untuk memilah sampah. Saya tidak tahu apakah sejak dulu warga Wina peduli sampah seperti itu atau karena adanya tekanan aturan hukum. Sampah sebenarnya sebagian besar masih bisa didaur ulang, termusuk plastik. Tetapi untuk daur ulang kuncinya ada upaya pemilahan sampah dari sumbernya. Di beberapa lokasi di Wina, tempat sampah ada beberapa dengan pemilahan jenisnya. Di kafetaria ada 4 tempat sampah: sampah plastik daur ulang, botol,  kaleng/aluminium, dan sampah lainnya (umumnya tissu atau sisa makanan).

 

Kita pun bisa. Di beberapa lokasi di Indonesia tempat sampah yang dipilah sudah mulai banyak tersedia. Tinggal pembiasaan yang perlu terus menerus kita lakukan. Kadang kita sendiri menilai negatif bangsa sendiri yang dianggap sebagai bangsa yang tidak berdisiplin. Saya menilai pencitraan negatif seperti itu kontraproduktif. Bangsa kita pun bisa berdisiplin kalau aturannya bisa ditegakkan. Sekadar contoh, aturan antri dan pakai helm bagi pengendara sepeda motor yang tahun 1980-an masih dianggap sulit diterapkan sekarang sudah menjadi kebutuhan banyak orang. Anomali selalu ada dan itu akan dianggap aneh dan menyimpang. Peduli sampah pun harus terus menerus dibiasakan sehingga akan tiba saatnya orang akan menganggap penyimpangan bila orang membuang sampah secara sembarang atau tidak memilah sampahnya.

 

Harus diakui, saat ini pengelolaan sampah di Bandung – Cimahi (tempat tinggal saya, mungkin juga di banyak tempat di Indonesia) masih sangat buruk. Akibatnya sampah sekadar dibuang secara tidak bertanggung jawab. Banyak orang terpaksa atau bahkan terbiasa membuang sampah di lahan kosong atau di sungai. Langsung atau tak langsung. Beberapa kompleks perumahan mungkin merasa tidak ikut perpartisipasi membuang sampah ke sungai, karena sampah dikumpulkan tertib di kotak sampah lalu tukang sampah mengangkutnya. Kemana sampah dari kompleks perumahan itu dibuang? Kita tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa banyak tukang sampah membuangnya tempat pembuangan yang tak layak atau ke sungai. Dalam jangka pendek kita tenang bebas sampah, tetapi tanpa memikirkan dampaknya. Sampah yang tercecer atau sengaja dibuang di saluran air atau sungai mengakibatkan banjir di mana-mana, walau sekadar hujan sedang saja. Banyak di antara kita yang kemudian berkata, “Banjir bukan urusan kita”, walau mungkin secara tidak sadar dan tidak langusng kita berkontribusi dengan sampah yang menyumbat saluran air.

 

Sejak peristiwa bencana di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Leuwigajah yang berlanjut dengan “Bandung lautan sampah” beberapa tahun lalu, saya berupaya memilah sampah. Sejak saat itu saya hampir tidak pernah membuang sampah ke luar. Sampah organik ditimbun di lahan sempit di depan rumah. Lubang kecil, kira-kira  40 x 40 x 40 mampu menampung sampah organik selama 2 pekan. Bila penuh, ditutup dengan tanah dari galian di sampingnya. Ada empat lubang yang dipakai bergiliran, sehingga saat kembali ke lubang awal sampah sudah menjadi kompos. Sampah kertas, plastik, kaleng, dan barang yang bisa didaur ulang dikumpulkan dan secara berkala diberikan ke pemulung. Sampah non-organik yang tak bisa didaur ulang terpaksa dibakar dua pekan sekali.

 

Kok dibakar? Bukankah itu berbahaya dan menambah potensi pemanasan kota? Terpaksa. Suatu pilihan yang saya anggap relatif lebih ringan dampaknya di antara dua pilihan yang berat: membuang ke tempat pembuangan yang tak layak yang berpotensi banjir atau membakar. Di wilayah saya belum ada fasilitas pembuangan sampah yang terkelola baik, sehingga sampah secara sengaja atau tak sengaja berakhir di sungai. Daripada berkontribusi pada banjir, saya memilih membakarnya dengan pembakaran yang terkontrol dan sempurna.

 

Sebenarnya pilihan membakar sampah secara perorangan bukanlah pilihan yang baik. Tetapi itu suatu keterpaksaan, sebelum ada sistem pembakaran yang terpusat di tingkat kota, seperti yang ada di Wina. Saya memimpikan suatu saat nanti semua warga peduli memilah sampah. Kemudian pemerintah kota/kabupaten mengelolanya dengan baik. Sampah organik menjadi kompos. Sampah daur ulang diproses lebih lanjut. Dan sampah yang harus dibakar dimanfaatkan panasnya untuk energi.

Inilah pembakaran sampah di Wina, penghasil energi sekaligus objek wisata juga:

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/02/12/plsa-wina-sumber-energi-dan-objek-wisata-lingkungan/

About these ads

2 Tanggapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 192 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: