PLTSa Wina: Sumber Energi dan Objek Wisata Lingkungan


T.  Djamaluddin

LAPAN Bandung

Februari 7 – 18, 2011, saya mengunjungi Wina (Austria) menghadiri pertemuan Komite Penggunaan Damai Antariksa, PBB (UNCOPUOS).  Menjelang mendarat di Wina, saya melihat “ladang energi angin” dengan banyak turbin angin pembangkit listrik. Kebetulan di Bandara ada sebuah majalah kota Wina menyajikan juga pengenalan kota Wina dengan informasi sumber energi di Wina. Rupanya selain PLTA (Pusat listrik tenaga air), Wina mengandalkan sumber energinya dari turbin angin dan energi hasil pembakaran sampah.

Tentang turbin angin, saya tidak akan membahasnya, sekadar menyajikan fotonya di bagian akhir tulisan ini. Tetapi keunikan Pusat Listrik Tenaga pembakaran Sampah,PLTSa Wina menarik perhatian saya, terkait PLTSa Gedebage di Bandung yang masih dipermasalahkan. Untuk mudah pembandingannya dengan di Bandung, saya sebut saja PLTSa,  walau tepatnya  Pusat Pembangkit Energi dengan pembakaran Sampah, karena di Wina langsung air panasnya yang digunakan, tidak diubah jadi listrik. Tetapi prinsip dasarnya sama, panas pembakaran sampah digunakan untuk memanaskan air, hanya untuk PLTSa uap air panas digunakan untuk penggerak turbin listrik.

PLTSa di Eropa memang sangat umum, ada ratusan PLTSa. PLTSa di Wina salah satu yang  sangat unik. Ada nilai artistiknya dan punya nilai tambah ekonomi dan pendidikan karena menjadi objek wisata lingkungan hidup. Pasca kebakaran besar 1989, aristek lingkungan Friedensreich Hundertwasser, membuat rancangan PLTSa yang  inovatif dan artistik. Hasilnya, PLTSa selain aman berada di tengah kota, juga menjadi objek wisata yang menarik. Kepada wisatawan selain disajikan keindahan dan keunikan bangunan dan lingkungannya, juga disajikan pengetahuan tentang pengelolaan sampah kota, sistem daur ulang sampah, serta masalah lingkungan hidup dan perubahan iklim.

Karena inovasi dan keunggulam sistem pengelolaan sampahnya, Wina dianugerahi penghargaan “World City closest to sustainable Waste Management” (Kota Dunia paling baik dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan) tahun 2010.  Bandung dan kota-kota lain di Indonesia bisa mencontohnya dengan inovasi yang tak kalah kreatifnya.

Pembangkit listrik tenaga angin di Austria

Iklan

4 Tanggapan

  1. Mas Djamaludin Thomas

    Terima kasih infonya. Saya kira bukan hanya Bandung, tetapi seluruh kota di Indonesia perlu mengikutinya. Agar kota kita lebih sehat, lebih bersih, lebih indah, dan dapat menyediakan energy makin banyak buat masyarakat.

    Wassalam,
    Henry Faizal Noor

  2. Assalaamualaikum ww,
    Bermanfaat dan inovatif. Saya kira ada yang salah dalam masyarakat kita, baik pengambil kebijakan (pemerintah) dalam melakukan sosialisasi manfaat dan dampak lingkungannya maupun masyarakat (terutama dekat lokasi PLTSa) yang cenderung berpikiran negatif bakal terkena dampak limbah maupun pencemarannya….. studi banding untuk kajian model begini rasanya mesti dilakukan dan diterima sebagai kewajaran sebelum teknologi ini diterapkan tanpa ada gejolak penolakan dari masyarakat setempat.
    Terimakasih atas artikelnya kang.
    Wassalam

  3. subkhanallah….
    foto nya menyiratkan kenyamanan, keserasian lingkungan. Satu hal yang ‘pasti’ dan dominan menjadikan-nya seperti itu adalah ‘tata-ruang-lahan’, yang sama-sama disadari bahwa itu adalah ‘penting’.
    Ini artikel yang menarik.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

  4. mantab,.. mereka seperti tdk ada masalah dgn energi, sementara indonesia yg kaya raya potensi energi, tdk bersyukur dgn anugerah tsb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: