Crop Circle Sleman: Rekayasa Pola Geometris di Lahan Pertanian

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

(Crop Circle Sleman, dari internet)

Ahad, 23 Januari 2011, masyarakat Sleman, Yogyakarta, dihebohkan dengan adanya pola-pola lingkaran teratur di sawah padi. Secara umum pola seperti itu sudah banyak dijumpai di luar negeri, terutama di Inggris, yang dikenal sebagai crop circle, lingkaran di lahan pertanian. Sebagian mempercayainya sebagai bukti kedatangan UFO (Unidentified Flying Objects, Benda Terbang Tak dikenal) yang diasosiasikan dengan kendaraan makhluk cerdas dari luar angkasa. Benarkah?

UFO sendiri secara ilmiah dianggap tidak ada. Penjelasan kesaksiannya cenderung bersifat hoax (kabar bohong), rekayasa, atau tergolong pseudosains (sains semu). Tidak ada penjelasan ilmiahnya. Walau astronom menyakini adanya kehidupan di luar bumi, tetapi sampai saat ini belum terbukti ada bukti fisik makhluknya, apa lagi yang berkunjung ke bumi dengan pesawat antariksa mereka. Masyarakat kadang terbawa informasi yang bersumber dari cerita-cerita fiksi ilmiah, termasuk dari film-film yang sebenarnya hanya khayalan. Kalau UFO tidak ada, maka pola geometris crop circle dipastikan bukan disebabkan oleh manuver pesawat antariksa atau UFO.

Pola geometris di Sleman bukan juga disebabkan oleh puting beliung atau pengaruh elektromagnetik dari SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi milik PLN). Puting beliung tidak akan menghasilkan pola yang rapih. SUTET pun tidak akan memberi dampak pola geometris, karena tanaman padi tidak terpengaruh oleh medan listrik atau medan magnet dari jaringan listrik itu.

Kalau begitu apa sebabnya? Saya menduga itu hasil rekayasa tangan-tangan kreatif. Di banyak negara terbukti crop circle adalah hasil rekayasa kreatif manusia. Tahun 1990-an dua orang Inggris buka rahasia, bahwa sekian banyak crop circle di Inggris adalah hasil karya mereka. Mereka pun mempraktekkannya dengan menggunakan tali dan papan. Tancapkan satu tonggak sebagai pusat lingkaran. Lalu tali digunakan untuk membuat pola lingkaran, sementara papan yang digantung pada tali diputar sambil diijak mengelilingi tonggak tersebut. Injakan membuat batang padi tumbang. Radius lingkaran tergantung pengaturan letak papan yang diinjak-injakkan. Pola garis lurus dan segitigajuga bisa dibuat dengan cara-cara yang kreatif. Jangan takut jejak kaki terlihat, karena kaki menginjak batang-batang tanaman yang rebah. Mau coba? Ini salah satu caranya:

(Crop Cicle di luar negeri, dari internet).

Iklan

Tidak Ada Penambahan Zodiak Menurut Astrologi dan Astronomi

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

(Dari Astronomy.swin.edu.au)

Benarkah ada perubahan atau penambahan zodiak? Baik secara astronomi maupun astrologi, tidak ada perubahan. Menurut astronomi sejak dulu zodiak ada 13. Sedangkan menurut astrologi (khususnya astrologi Barat) zodiak ada 12. Lalu mengapa sekarang dipersoalkan? Karena ada upaya mencampuradukkan astronomi dan astrologi yang sejak lama berpisah haluan. (Baca https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/05/13/astronomi-membantah-astrologi/ ).

Zodiak menurut astronomi adalah rangkaian rasi bintang yang tampak dilalui oleh matahari dalam perjalanan siklus tahunannya.  Pada gambar di atas terlihat 13  rasi bintang: (1) Leo, (2) Cancer, (3) Gemini, (4) Taurus, (5) Aries, (6) Pisces, (7) Aquarius, (8) Capricornus, (9) Sagitarius, (10) Ophiucus, (11) Scorpius, (12) Libra, dan (13) Virgo.  Tetapi menurut astrologi (khususnya astrologi Barat), zodiak merupakan 12 zona di lintasan matahari yang sama rentangnya dan diasosiasikan dengan 12 rasi, tanpa memasukkan Ophiucus. Jadi, tidak ada perubahan jumlah rasi bintang. Rasi Ophiucus (rasi “Pemegang Ular”) sejak dulu ada di sabuk zodiak dengan nama lama “Serpentaurus”.

(Dari AAVSO)

(Dari astronomy.swin.edu.au)

Gambaran rasi Ophiucus menurut mitologi dan menurut astronomi memang melalui ekliptika (garis lintasan matahari bila dilihat dari bumi).  Bahkan sebenarnya, rasi Ophiucus lebih dominan dibandingkan dengan Scorpius.  Matahari melintasi rasi Ophiucus selama 18,4 hari, sedangkan melintasi rasi Scorpius hanya 8,4 hari. Namun, astrologi punya aturan sendiri, zodiak dibagi rata menjadi 12 yang sama sekali tidak lagi terkait dengan posisi matahari pada suatu rasi. Misalnya, menurut astrologi matahari berada di Aries 21 Maret – 19 April, tetapi saat ini menurut astronomi matahari berada di Aries 19 April – 14 Mei.

(Dari wwu.edu)

Pada awal perkembangan astronomi dan astrologi memang benar matahari berada di rasi Aries pada tanggal 21 Maret, sebagai titik awal musim semi. Namun karena gerak presisi (gerak perputaran sumbu rotasi bumi seperti gasing berperiode 26.000 tahun, lihat gambar di atas) maka terjadi pergeseran waktu melintasnya matahari. Saat ini titik musim semi sekitar 21 Maret berada di rasi Pisces, bukan lagi di Aries. Nah, rasi Aries kini dilintasi matahari 19 April – 14 Mei. Mungkin hal semacam ini yang kemudian dipersepsikan seolah zodiak mundur satu bulan. Secara astronomi ya, terjadi pengunduran waktu. Tetapi di masyarakat konteksnya berbeda, zodiak dalam pemahaman astrologi yang menurut para astrolog tidak ada perubahan. Misalnya, yang lahir 28 April tetap zodiaknya Taurus, bukan Aries, karena astrologi tidak mengikuti batasan rasi menurut astronomi.

Berikut tabel zodiak menurut astronomi dan astrologi. Jangan dirancukan!

Nama

Rasi

Batas Zodiak

Versi Astronomi

Lamanya

Matahari

di Rasi ini

Aries 19 April – 14 May 25.5 hari
Taurus 14 May – 21 June 38.2 hari
Gemini 21 June – 21 July 29.3 hari
Cancer 21 July – 11 August 21.1 hari
Leo 11 August – 17 September 36.9 hari
Virgo 17 September – 31 October 44.5 hari
Libra 31 October – 21 November 21.1 hari
Scorpius 21 November – 30 November 8.4 hari
Ophiuchus 30 November – 18 December 18.4 hari
Sagittarius 18 December – 21 January 33.6 hari
Capricornus 21 January – 17 February 27.4 hari
Aquarius 17 February – 12 March 23.9 hari
Pisces 12 March – 19 April 37.7 hari

Nama

Rasi

Batas Zodiak

Versi Astrologi

Aries 21 March – 19 April
Taurus 20 April – 20 May
Gemini 21 May – 20 June
Cancer 21 June – 22 July
Leo 23 July – 22 August
Virgo 23 August – 22 September
Libra 23 September – 22 October
Scorpio 23 October – 21 November
Ophiuchus n/a
Sagittarius 22 November – 21 December
Capricorn 22 December – 19 January
Aquarius 20 January – 18 February
Pisces 19 February – 20 March

Empat Asteroid Bernama Astronom Indonesia

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Asteroid, saat ini lebih dikenal sebagai planet minor, adalah objek tatasurya yang mengorbit matahari yang bukan planet, planet kerdil, atau komet. Populasi terbanyak berada di antara planet Mars dan Jupiter. Namun banyak juga yang mengorbit dekat bumi.

Penamaan ketika pertama kali ditemukan didasarkan pada tahun penemuan diikuti oleh kode huruf (dan bila perlu angka), misalnya 1989 AC dan 2002 LM60. Setelah orbitnya diketahui dengan pasti kemudian dikatalogkan dengan nomor urut di dalam basis data Pusat Planet Minor (Minor Planet Center). Penamaan spesifik kemudian diberikan berdasarkan ketentuan yang diatur oleh IAU (International Astronomical Union). Nama-nama tersebut diusulkan oleh penemunya disertai dengan alasannya. Kemudian Kelompok Kerja Penamaan Benda Kecil Tatasurya (asteorid dan komet) akan membahasnya dan menetapkannya.

November 2010 lalu Kelompok Tugas tersebut mengumumkan 64 nama baru asteroid, 4 di antaranya adalah nama astronom Indonesia, semuanya mantan Kepala Observatorium Bosscha, ITB:

Prof. Dr. Bambang Hidayat

Dr. Moedji Raharto

Dr. Dhani Herdiwijaya

Dr. Taufiq Hidayat.

Berikut ini 4 nama asteroid baru yang diumumkan di Minor Planet Circular 28 November 2010:

http://www.minorplanetcenter.org/iau/ECS/MPCUPDATE/this/Citations.txt

(12176) Hidayat = 3468 T-3

Discovered 1977 Oct. 16 by C. J. van Houten and I. van Houten-Groeneveld on Palomar Schmidt plates taken by T. Gehrels.

Bambang Hidayat (b. 1934) is an active promotor of astronomy in Indonesia. Known for his work on visual binaries and H-emission-line stars, he was director of Bosscha Observatory in Lembang during 1968-1999 and vice-president of the IAU during 1994-2000.

(12177) Raharto = 4074 T-3

Discovered 1977 Oct. 16 by C. J. van Houten and I. van Houten-Groeneveld on Palomar Schmidt plates taken by T. Gehrels.

Indonesian astronomer Moedji Raharto (b. 1954) is senior lecturer at the Institut Teknologi Bandung and was director of Bosscha Observatory in Lembang during 2000-2003.  He is an authority on Galactic structure, based on the Hipparcos and IRAS-Point Source catalogues.

(12178) Dhani = 4304 T-3

Discovered 1977 Oct. 16 by C. J. van Houten and I. van Houten-Groeneveld on Palomar Schmidt plates taken by T. Gehrels.

Indonesian astronomer and solar physicist Herdiwijaya Dhani (b. 1963) was director of Bosscha Observatory in Lembang during 2004-2005.  He is known for his work on binaries, solar magnetic activity and its influence on weather and climate.

(12179) Taufiq = 5030 T-3

Discovered 1977 Oct. 16 by C. J. van Houten and I. van Houten-Groeneveld on Palomar Schmidt plates taken by T. Gehrels.

Indonesian astronomer Taufiq Hidayat (b. 1965), associate professor at the Institut Teknology Bandung, was director of Bosscha Observatory in Lembang during 2006-2009.  Known for work on the solar system and extrasolar transits, he actively fights the adverse effects of urbanisation around the observatory.

Memahami Musim Hujan Januari 2011 yang Kering

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika LAPAN

Mantan Kepala Pusat Pemanfaatan  Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN

(Citra dari LAPAN, klik untuk animasi)

Tahun baru 2011 lalu betul-betul semarak. Di sekitar tempat tinggal saya di perbatasan Cimahi-Bandung, kembang api meluncur di mana-mana. Alhamdulillah, cuaca cerah menambah kesemarakan tahun baru di banyak tempat di Indonesia. Pada sisi lalu, sejak awal Januari saya pun harus mulai rajin menyiram tanaman di pot di depan rumah karena hujan mulai jarang turun. Itulah kondisi awal tahun 2011, musim hujan tetapi cenderung kering. Citra satelit yang diolah LAPAN, seperti ditunjukkan di atas, memperlihatkan awan relatif sedikit di wilayah Indonesia, khususnya di sekitar Jawa.  Mengapa musim hujan kering?

(Citra dari NOAA, klik untuk animasi)

Salah satu penyebabnya karena  suhu muka laut Indonesia mulai kembali normal, tidak seperti saat kemarau basah tahun lalu. (Lihat https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/07/09/memahami-kemarau-basah-2010/ ). Data satelit NOAA menunjukkan sejak Desember anomali suhu muka laut di wilayah Indonesia cenderung normal. Sehingga pengaruh La Nina yang cenderung menambah liputan awan relatif tidak terasa lagi.

Faktor utama lain yang mempengaruhi musim hujan kering adalah siklus 1-2 bulanan yang disebut MJO (Madden-Julian Oscillation). Siklus dinamika atmosfer tersebut memungkinkan fase peningkatan konveksi pembentukan awan (ditandai oleh warna biru) dan fase penurunan konveksi (warna kuning-coklat). Dari data NOAA terlihat sejak awal Januari 2011 wilayah Indonesia (bujur 90-140 East) cenderung mengalami fase penurunan konveksi.  Dalam prakiraan dinamis maupun statistik pun, kondisi fase penurunan konveksi diprakirakan berlanjut sampai menjelang akhir Januari. Itu berdampak pada penurunan curah hujan, sehingga musim hujan pada bulan Januari cenderung kering, terutama di wilayah Barat Indonesia.

Kalender Hijriyah bisa Memberi Kepastian Setara dengan Kalender Masehi

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

Ada suatu kerinduan ummat Islam untuk mendapatkan ketentraman dalam beribadah dengan kepastian dan keseragaman waktu beribadah, khususnya dalam mengawali bulan Ramadhan, mengakhirinya dengan Idul Fitri, dan dalam merayakan Idul Adha. Waktu beribadah tersebut ditentukan berdasarkan kalender Hijriyah. Lebih jauh lagi, mungkinkah kalender Hijriyyah bukan hanya digunakan untuk penentuan waktu ibadah tetapi juga digunakan untuk kepentingan administrasi pemerintahan dan transaksi bisnis, sebagaimana kalender masehi? Sangat mungkin kalau 3 prasyarat kalender mapan terpenuhi. Kalender Masehi perlu waktu 19 abad menuju kemapanan. Kalender Hijriyah baru 14 abad.

Sistem kalender yang mapan mensyaratkan tiga hal:

  1. Ada otoritas (penguasa) tunggal yang menetapkannya.
  2. Ada kriteria yang disepakati
  3. Ada batasan wilayah keberlakukan (nasional atau global).

Kita lihat sejarah panjang kelender Masehi (lihat https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/28/milenium-dalam-perspektif-matematis-astronomis/ ). Selalu ada otoritas yang menetapkan, termasuk kriterianya. Wilayah keberlakuannya tentu saja sebatas wilayah kekaisaran atau wilayah pengaruh otoritas yang berkuasa. Perhatikan, sistem kalender bergantung pada kriteria.

Dasar kalender Masehi ditetapkan pada 46 SM (sebelum Masehi) oleh Kaisar Julius dengan penasihatnya astronom Sosigense. Ada 3 kriteria yang ditetapkan. Pertama, vernal equinox (awal musim semi, saat malam dan siang sama panjangnya) ditetapkan 25 Maret dengan menjadikan tahun 46 SM lebih panjang 85 hari. Kedua, awal tahun ditetapkan 1 Januari 45 SM. Ke tiga, menetapkan jumlah hari dalam satu tahun 365 hari, kecuali setiap tahun ke empat menjadi tahun kabisat dengan penambahan hari pada bulan Februari. Ketika diketahui ada pergeseran vernal equinox, kriterianya diubah pada 325 M. Vernal equinox ditetapkan menjadi 21 Maret.

Namun ketidakakuratan kriteria menyebabkan vernal equinox terus bergeser.  Pada 1582 vernal equinox sudah bergeser menjadi 11 Maret. Atas saran astronom pula, Paus Gregorius sebagai otoritas tunggal saat itu dalam penetapan kalender mengubah lagi kriteria kalender. Pertama, mengembalikan vernal equinox pada 21 Maret dengan cara menghilangkan 10 hari dari tahun 1582 dengan menetapkan hari Kamis 4 Oktober langsung menjadi hari Jumat 15 Oktober.  Ke dua, rata-rata satu tahun ditetapkan 365,2425 hari. Caranya, tahun kabisat didefinisikan sebagai tahun yang bilangannya habis dibagi empat, kecuali untuk tahun yang angkanya kelipatan 100 harus habis dibagi 400. Dengan aturan tersebut tahun 1700, 1800, dan 1900 bukan lagi dianggap sebagai tahun kabisat. Tahun 2000 adalah tahun kabisat.

Sampai hampir dua abad berikutnya wilayah keberlakuan kalender Masehi dengan kriteria baru masih terbatas hanya di wilayah pengaruh Katolik. Inggris baru menerapkannya pada 1752 dengan melakukan lompatan 2 September langsung menjadi 14 September 1752. Sempat terjadi kekacauan di masyarakat saat itu. Jadi, jangan dikira kalender Masehi mulus-mulus saja dalam penerapannya. Ini menunjukkan bahwa pada kalender Masehi pun perbedaan sempat terjadi dan meresahkan masyarakat. Sebelum perubahan itu, hari Natal di Inggris dan di Roma berbeda 11 hari. Ketika Roma merayakan Natal 25 Desember, di Inggris masih 14 Desember. Sampai awal abad 20 masih ada beberapa negara yang belum menerapkannya, misalnya Rusia baru menerapkan pada 1923. Walau pun demikian, syarat ketiga tentang batas keberlakuan kalender Masehi berhasil ditetapkan dengan kesepakatan garis tanggal internasional pada Oktober 1884. (lihat https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/08/17/perlukah-menggantikan-gmt-dengan-mecca-mean-time/).

Bayangkan, kalender Masehi sampai 19 abad untuk mencapai kemapanan yang bersifat global. Kalender Hijriyah yang baru menapak 14 abad wajar belum mencapai kemapanan sehingga belum bisa dijadikan sistem kalender yang memberi kepastian untuk urusan pemerintahan dan bisnis. Namun, upaya menuju kemapanan seperti itu terus dilakukan. Jangan terlalu jauh dulu mencita-citakan kalender hijriyah global. Mulailah dari yang sudah ada di depan mata kita, kalender hijriyah nasional. Dari 3 prasyarat, sudah ada 2 prasyarat yang terpenuhi, yaitu adanya otoritas tunggal (yaitu Pemerintah yang diwakili Menteri Agama) dan adanya batas wilayah keberlakukan (yaitu wilayah hukum Indonesia). Tinggal selangkah lagi, mengupayakan kesepakatan kriteria. (lihat https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/08/10/menuju-kalender-islam-indonesia-pemersatu-ummat/).

Kalau kita berhasil mencapai kesepakatan kriteria hisab rukyat nasional, maka kita akan mempunyai kalender hijriyah yang memberikan kepastian. ”Kepastian” adalah kunci menjadikan sistem kalender terpakai dalam urusan yang lebih luas, bukan hanya ibadah. Dokumen resmi kenegaraan dan transaksi bisnis pun dapat dilakukan dengan sistem kalender itu. Kalender Hijriyah akan setara dengan kalender Masehi dalam memberikan kepastian.

Mari kita perluas mimpi kita. Kalau kita berhasil menjadikan kalender Hijriyah mapan di Indonesia dengan 3 prasyarat terpenuhi, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, kita bisa menjadikannya sebagai prototipe sistem kalender Hijriyah global yang mapan. Insya-allah, kita dapat menyepakati kriteria yang bersifat global yang ditetapkan oleh suatu otoritas kolektif negara-negara Islam. Batas wilayahnya bukanlah batas wilayah tetap (seperti Garis Tanggal Internasional), tetapi batas wilayah yang dinamis sesuai dengan kemungkinan terlihatnya hilal. Itu mudah ditetapkan berdasarkan kriteria yang disepakati. Saya kira sebelum melewati tahun 1500 H kalender Hijriyah global yang mapan bisa kita wujudkan. Insya-allah.

https://tdjamaluddin.wordpress.com/: 2010 in review

The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

Healthy blog!

The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.

Crunchy numbers

This blog was viewed 49,673 times in 2010. If it were the Taj Mahal, it would take about 6 days for that many people to see it.

In 2010, there were 160 new posts, not bad for the first year! There were 369 pictures uploaded, taking up a total of 97mb. That’s about 1 pictures per day.

The busiest day of the year was November 15th with 2,165 views. The most popular post that day was Menyikapi Perbedaan Idul Adha 1431.

Where did they come from?

The top referring sites in 2010 were facebook.com, google.co.id, t-djamaluddin.spaces.live.com, id.wordpress.com, and mail.yahoo.com.

Some visitors came searching, mostly for masjidil aqsa, perbedaan idul adha, thomas djamaluddin, komet halley, and penyebab hujan meteor.

Attractions in 2010

These are the posts and pages that got the most views in 2010.

1. Menyikapi Perbedaan Idul Adha 1431 November 2010

2. Potensi Perbedaan Idul Adha 1431/2010 November 2010

3. T. Djamaluddin (Thomas Djamaluddin) April 2010

4. Jawaban Pertanyaan Publik: Langit Terbelah, Empat Matahari, Hujan Darah India August 2010

5. Perlukah Menggantikan GMT dengan Mecca Mean Time? August 2010