Arah Qiblat Masjid Nabawi dan Masjid Kobe

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

Ketika shalat di masjid Nabawi (Madinah) dan masjid Kobe (Jepang), saya tidak pernah mempermasalahkan arah qiblatnya. Saya percaya saja pada arah qiblat yang selama ini diikuti oleh sekian banyak jamaah. Namun, kini ada qiblalocator (www.qiblalocator.com) perangkat lunak on-line pengukur arah qiblat yang dipadu peta satelit berbasis Google Earth. Ketika ada teman yang mempermasalahkan arah kiblat kedua masjid yang pernah saya kunjungi tersebut, saya coba periksa di qiblalocator. Hasilnya, memang ada penyimpangan. Saya coba menganalisisnya dan menyarankan cara menyikapinya.

Masjid Nabawi dilihat dengan qiblalocator terlihat ada penyimpangan sekitar 4 derajat ke arah kanan. Namun ada yang menarik. Masjid Nabawi asli adalah yang ada kubah hijau di atasnya, di samping makam Rasulullah SAW. Dari data satelit terlihat sisi Timur makam Rasulullah justru sangat tepat arahnya (lihat garis merah pada peta di bawah ini). Ini menunjukkan arah qiblat masjid Nabawi asli sangat tepat arahnya. Hanya bangunan perluasan yang tampaknya menyimpang sekitar 4 derajat tersebut. Lalu, apakah perlu dipermasalahkan penyimpangan derajat tersebut? Tidak perlu dipermasalahkan. Itu dalam batas toleransi, karena penyimpangan oleh sikap badan kita lebih besar dari 4 derajat.

Masjid Kobe di Jepang dibangun tahun 1935 oleh para pedagang asal Turki. Tampaknya mereka merujuk pada peta datar. Bila kita menggunakan peta datar, maka arah kiblat dari Kobe ke Mekkah arahnya seolah ke Barat agak ke Selatan (arah Barat Daya). Garis biru pada peta satelit di bawah ini menunjukkan arah mihrab masjid Kobe yang mengarah ke Barat Daya. Semestinya, arah qiblat ditentukan dengan menggunakan globe atau perhitungan dengan model bumi sebagai bola. Arahnya ditunjukkan oleh garis merah pada qiblalocator (lihat gambar di bawah) yang arahnya Barat agak ke Utara. Lalu bagaimana menyikapinya?  Karena penyimpangannya terlalu jauh, sekitar 50 derajat, disarankan arah qiblatnya disesuaikan. Kalau ada teman-teman Muslim yang berada di wilayah Kansai yang sempat berkunjung ke Masjid Kobe, tolong ingatkan hal ini.

Catatan Perjalanan

T. Djamaluddin
 

Sampai November 2010 baru 43 kota di 19 Negara. Di Afrika Selatan sempat juga sekadar transit di bandara beberapa jam (tetapi di cantukan dalam Peta tersebut karena hanya singgah di bandara). Jadi, saya pernah menginjakkan kaki di  lima benua. Hampir semuanya dalam rangka tugas dinas atau seminar dengan biaya dari sponsor (UN, ESA, NASA,  JAXA, dll) atau biaya dinas dari LAPAN. Alhamdulillah.