Faktor Kosmogenik: Waspadai Potensi Bencana Sekitar Bulan Baru dan Purnama (Potensi Pemicu Banjir Pasang, Gempa, atau Letusan Gunung?)


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

(Animasi dari http://hrcst.org.uk/wp/index.php/weather/)

Faktor kosmogenik bermakna bersumber dari alam di luar bumi. Walau bukan penyebab utama, faktor pemicu bencana dari faktor kosmogenik perlu diwaspadai. Sekitar bulan baru atau bulan purnama, pasang akibat gravitasi bulan diperkuat oleh gravitasi matahari yang berada hampir satu garis. Akibatnya air laut naik lebih tinggi dari pasang biasa. Air pasang akan makin tinggi bila posisi bulan dan matahari segaris dan jaraknya dari bumi pada posisi terdekat. Ini berpotensi menyebabkan pasang tinggi. Bila efek pasang ini diperkuat oleh efek meteorologis akibat angin, maka gelombang pasang (rob) besar berpotensi terjadi. Sesuai dengan konfigurasi bumi-bulan-matahari, pasang maksimum di laut terjadi sekitar tengah malam atau sekitar tengah hari.

Namun efek pasang surut (pasut, tides) sebenarnya juga dialami oleh kulit bumi. Walau gayanya relatif kecil dibandingkan gaya yang menggerakkan lempeng bumi dan bagian-bagiannya, diyakini bahwa pasut berpotensi memicu pelepasan energi yang berdampak gempa atau gunung meletus. Sekali lagi, hanya sebagai pemicu pelepasan energi, karena sebenarnya penumpukan energi sepenuhnya merupakan proses geologis di kulit bumi. Walau secara statistik belum ditemukan bukti yang meyakinkan antara kaitan pasut maksimum bulan-matahari dengan kejadian gempa, tetapi beberapa gempa besar terjadi sekitar bulan purnama atau bulan baru. Sedangkan kaitannya dengan peristiwa gunung meletus, secara statistik telah ditemukan bahwa sebagian besar kejadian gunung meletus terjadi sekitar bulan baru atau bulan purnama. Hal ini yang tampaknya menjelaskan

Situs Survei Geologi Amerika Serikat

http://vulcan.wr.usgs.gov/Outreach/AboutVolcanoes/do_tides_affect_volcanoes.html

menyimpulkan, “Gaya yang dihasilkan pasang surut hanya bagian kecil dari gaya yang menyebabkan gempa bumi dan letusan gunung. Walau gayanya kecil, tetapi dapat memicu kejadian itu. Ilmuwan memang tidak mendapati korelasi pasang surut dengan gempa. Tetapi, hubungan antara pasang surut dan letusan gunung telah teridentifikasi”

Mauk dan Johnston (1973), dalam makalahnya “On the Triggering of Volcanic Eruptions by Earth Tides, J. Geophys. Res., 78(17), 3356-3362” melaporkan bahwa dari data 680 letusan gunung berapi besar sejak tahun 1900 di daratan, sebagian besar terjadi saat pasang maksimum. Demikian juga data dari Stasiun Pengamat Gunung Berapi Hawaii (HVO) melaporkan dari 52 letusan sejak Januari 1832, sebagian besar (hampir setengahnya) terjadi sekitar pasang maksimum.

Terkait dengan hubungannya dengan gempa, situs USGS (Survai Geologi Amerika Serikat, http://earthquake.usgs.gov/learn/faq/?faqID=109) memaparkan jawaban ringkas, bahwa riset mutakhir mengindikasikan ada kaitan efek pasang surut bulan dan matahari saat purnama atau bulan baru dengan beberapa jenis gempa. Salah satu mekanismenya adalah karena pengurangan efek “jepitan” pada subduction zone (wilayah lempeng yang menyusup ke bawah lempeng lainnya) karena berkurangnya gaya yang menekannya akibat efek pasang surut. Karena berkurangnya “jepitan” lempeng diatasnya, maka lempeng kemudian menyusup ke bawah dan melepaskan energi tekanannya berupa gempa. Hal ini yang tampaknya menjelaskan beberapa kejadian gempa terjadi pada pagi hari (sepert gempa Aceh 2004) saat pasang rendah (surut) terjadi di sekitar wilayah tersebut, sedangkan pasang tinggi pada arah matahari/bulan.

Berikut ini beberapa data gempa besar dan gunung meletus terbesar di Indonesia yang tampaknya pelepasan energinya dipicu oleh pasang maksimum bulan-matahari:  (Mohon berhati-hati menggunakan informasi ini, bukan untuk menimbulkan ketakutan, tetapi sekadar untuk mewaspadai potensi efek penguatannya)

Lokasi Gempa
Kejadian Gempa Bulan Baru/Purnama
Gempa Alor 12 November 2004 Menjelang bulan baru,

28 Ramadhan 1425

Gempa Nabire 26 November 2004 Menjelang purnama,

13 Syawal 1425

Gempa Aceh 26 Desember 2004 Saat purnama,

14 Dzulqaidah 1425

Gempa Simeulue 26 Februari 2005 Setelah purnama,

16 Muharram 1426

Gempa Nias 28 Maret 2005 Setelah purnama,

17 Safar 1426

Gempa Mentawai 10 April 2005 Saat bulan baru,

1 Rabiul Awal 1426

Gempa Yogya 27 Mei 2006 Menjelang bulan baru,

29 Rabiuts Tsaniah 1427

Letusan Gunung Tanggal Kejadian Bulan Baru/Purnama
Tambora

(korban 92.000 orang)

10 – 12 April 1815 Bulan baru

10 April 1815

Krakatau

(korban 36.000 orang)

26-28 Agustus 1883 Bulan baru,

1 September  1883

Kelud

(korban 10.000 orang)

19 Mei 1919 Purnama,

15 Mei 1919

Papandayan

(korban 3000 orang)

12 Agustus 1772 Purnama,

13 Agustus 1772

Iklan
%d blogger menyukai ini: