Melbourne-Jakarta: Mengamati Awan dari Pesawat

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Mantan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN

Perjalanan pulang dari Melbourne, Australia, menuju Jakarta pada siang hari 27 November 2010 tidak saya sia-siakan untuk mengamati dan memotret awan dari dekat. Terbang dengan pesawat Garuda Airbus A330-200, saya memilih kursi di samping jendela dan mendapatkan deretan kanan, artinya saya akan menghadap sisi Timur Laut. Menguntungkan, karena sinar matahari tidak langung menyinari jendela seperti di sisi kiri, tetapi justru membantu menyinari awan dari sisi samping-belakang saya.

Untuk perbandingan, gambar di atas adalah potret awan dari satelit MTSAT yang menunjukkan Australia Tenggara diliputi awan, demikian juga di sekitar Pulau Jawa. Perjalanan diawali dalam kondisi hujan. Awan stratokumulus (Sc) dan Nimbostratus (Ns, awan hujan yang merata) menyelimuti langit Melbourne. Awan rendah sekitar 2.000 m menggumpal (kumulus) dan membentuk satu lapisan (stratus) yang rapat. Sulit membedakan awan Sc dan Ns dari segi bentuknya, namun awan yang menyebabkan hujan itulah yang disebut nimbus (awan hujan). Awan kumulus terbentuk akibat konveksi, yaitu naiknya uap air hangat ke udara lalu berkondensasi (menggumpal) membentuk awan saat suhunya mulai dingin.

Beginilah suasana menembus awan. Di luar jendela hanya tampak putih, kadang sayap pesawat pun tak tampak. Pesawat sedikit berguncang, mirip naik mobil yang melalui jalan berbatu-batu. Ya, kerapatan awan yang tidak merata menyebabkan ada sedikit guncangan-guncangan. Selepas itu langit biru menyambut. Dari atas, lapisan awan nimbostratus terlihat seperti hamparan salju putih dan stratokumulus tampak lebih tipis dengan bentuk menggumpal tak merata.

Di atas wilayah gurun Australia tampak awan-awan kumulus yang menggumpal-gumpal seperti kapas. Baik bergerombol maupun terpisah-pisah. Awan itu masih tergolong rendah, terlihat dari bayangan awan yang tampak masih dekat dengan awannya.

Semakin tinggi (walau tergolong awan menengah), ada kumpulan awan altostratus (awan berlapis yang tinggi) dan altokumulus (awan bergumpal yang tinggi) pada ketinggian sekitar 6.000 meter. Perhatikan dua ketinggian awan dari jarak awan dan bayangannya (citra hitam di tanah). Gumpalan kecil awan yang bayangannya terlihat dekat adalah awan rendah. Sedangkan altostratus berderet lebih tinggi yang terlihat dari bayangannya lebih jauh. Bila di lihat dari atas tampak gumpalan-gumpalan rapat yang membentang. Ada juga altokumulus, gumpalan-gumpalan awan tinggi yang bergerombol.

Di atas awan altokumulus, ada awan tipis. Itulah awan tinggi yang disebut awan Cirrus. Dalama kondisi tertentu awan cirrus yang terdiri dari kristal es bisa menyebabkan fenomena halo, cincin cahaya di sekitar matahari.

Menjelang memasuki wilayah dekat ekuator Indonesia, aktivitas konveksi makin menguat. Awan Cumulonimbus (Cb, awan bergumpal bertumpuk-tumpuk penyebab hujan) mulai tampak. Dasar awannya halus, namun gelap.

Ada juga fenomena menarik yang sempat saya potret: peristiwa hujan dari awan Cumulonimbus (tampak seperti alur kabur ke arah kanan bawah) dan di bawahnya ada pelangi (perhatikan gambar di bagian tengah, walau kurang jelas) akibat pembiasan cahaya matahari oleh titik-titik air hujan. Pelangi terbentuk karena posisi matahari tepat berada di arah belakang pengamat.

ASIA TRY ZERO G IN SPACE: Belajar Fisika Di Laboratorium Tanpa Bobot

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

Internasional Space Station (ISS) adalah laboratorium antariksa kerjasama banyak negara, termasuk Jepang. Jepang sendiri menyediakan fasilitas Japan Experimen Module (JEM) yang diberi nama ”Kibo” (artinya pengharapan). Penjelasan sederhana tentang ISS dan kondisi umum antariksa serta kehidupan astronot bisa dilihat di situs ISS Kids versi Bahasa Inggris ada di situs JAXA (Badan Antariksa Jepang)

http://iss.jaxa.jp/kids/en/index.html

Situs itu telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh peneliti LAPAN, bisa dilihat di situs LAPAN Bandung

http://www.dirgantara-lapan.or.id/kids/index-ina.htm

Di dalam modul ”Kibo” ada udara yang tekananannya sama dengan tekanan dan suhu yang sama dengan di permukaan bumi. Sehingga astronot bisa memakai baju biasa. Di luar modul, udara sangat tipis (cenderung vakum) sehingga bila astronot tidak menggunakan pakaian khusus tubuhnya bisa menggembung akibat tekanan dari dalam tubuh yang tidak diimbangi tekanan udara di luar. Suhunya pun sangat ekstrem. Panas matahari bisa menyebabkan suhu sampai 120o C tetapi tanpa matahari (saat terhalangi bayangan bumi) suhunya bisa -150o C.

Salah satu kelebihan laboratorium antariksa adalah kondisi tanpa bobot atau zero gravity (Zero G) atau sering juga disebut mikrogravitasi. Banyak eksperimen sains perlu dilakukan dalam kondisi tanpa bobot seperti itu, antara lain membuat kristal kualitas tinggi. Mengapa tanpa bobot? Jangan dikira di ISS tidak ada gravitasi. Justru ISS bisa terus mengorbit bumi karena adanya gravitasi bumi (penjelasnnya ada di

http://www.dirgantara-lapan.or.id/kids/space/101-indo.htm ). Karena sama-sama mengalami gravitas yang sama, baik ISS maupun muatan di dalamnya, maka relatif tidak ada gaya tarik ISS terhadap muatan di dalamnya. Sehingga semua yang ada di dalam ISS (khususnya modul ”Kibo”) akan melayang-layang tanpa bobot.

Di samping eksperimen teknis, Kibo dimanfaatkan juga untuk percobaan sederhana hukum-hukum fisika dalam kondisi tanpa bobot untuk tujuan pendidikan yang menyenangkan (edutainment). Sejak 2009, astronot Jepang melakukan percobaan sederhana tanpa bobot (Try Zero G) oleh astronot Wakata dan Astronot Noguchi yang bisa dlihat di

http://iss.jaxa.jp/iss/jaxa_exp/wakata/omoshiro/

http://iss.jaxa.jp/library/video/ng_education_video_100306.html

http://iss.jaxa.jp/library/video/ng_education_video_100502.html

Beberapa hukum fisika dijelaskan percobaan sederhana, antara lain sebagai berikut:

Hukum aksi-reaksi dan hukum konservasi momentum. Karena di antariksa kondisinya tanpa bobot, gaya aksi dan reaksi budah terihat tanpa intervensi gravitasi. Tampak menghibur, tetapi bisa menjelaskan hukum fisika dengan mudah. Tarik tambang berubah menjadi adu badan, karena tarikan kita (aksi) langsung mendapat reaksi pada arah sebaliknya. Panco antar dua astronot berbuah berputarnya kedua astronot sebagai reaksi gerak tangan. Setiap gerak tubuh astronot bisa menghasilkan gerak berlawanan. Momentum gerak (perkalian massa dan kecepatan) mudah sekali ditransfer ke benda lain yang ditabraknya sesuai hukum konservasi (kekekalan) momentum.

Percobaan pusat massa dilakukan dengan palu, saset air teh, kunci L, tang, dan benda berbentuk U. Gerak benda berputar selalu menjadikan pusat massanya sebagai pusat gerak putarnya. Pada gerak palu, saset air, kunci L mudah mendapatkan titik pusat massanya yang berada pada bagian tentu pada benda tersebut. Tetapi untuk bentuk tang atau bentuk U, titik pusatnya sulit dikenali karena berada di luar benda tersebut.

Prinsip gerak roket juga diperagakan. Roket bergerak bukan karena tekanan semburan gasnya mendorong udara, karena di luar angkasa tidak ada udara. Prinsip yang digunakan hukum kekekalan momentum. Dengan massa gas yang disemburkan dengan kecepatan tertentu, menyebabkan roket mendapatkan gerak majunya. Percobaan sederhananya dilakukan dengan oleh astronot dengan sarung tangan karet (bersfungsi sama dengan balon) yang dipasangi sedotan minuman berperang seperti roket. Tekanan udara yang keluar dari sarung tangan karet yang semula ditiup memberi efek dorongan. Roket bergerak karena adanya semburan propelan. Pada roket air, semburan propelan digantikan dengan campuran air dan udara bertekanan tertentu.

Dalam kondisi tanpa bobot beberapa percobaan yang tidak mungkin dilakukan di bumi dapat terjadi. Tidak akan ada gerak pendulum, karena ayunan tidak mendapat tarikan kembali sehingga gerak ayunan berubah menjadi gerak rotasi. Astronot pun bisa ”terbang” di atas selembar kertas, mirip karpet terbang, karena kertas tidak mendapat beban apa pun dari astronot. Permainan lompat tali tak ubahnya dengan memutarkan tali mengitari tubuh, karena astronot tidak perlu melompat-lompat karena tidak ada tarikan ke bawah.

Apa jadinya bila udara, air, dan minyak dicampurkan? Di bumi urutannya air di bawah, lalu minyak, dan di atasnya udara karena beba berat jenis yang dipengaruhi gravitasi. Di ruang tanpa bobot, air, minyak, dan udara tersebar merata berupa kumpulan kecil-kecil tergantung jumlahnya. Tegangan permukaan air yang memisahkan air dengan udara. Air dan minyak relatif tampak sseperti bercampur karena tersebar merata. Kondisi seperti ini yang dimanfaatkan untuk membuat kristal atau campuran kimia (termasuk obat) yang lebih berkualitas.

Ada juga percobaan prinsip Bernollli. Semakin cepat mengembuskan udara di antara di lembar karton atau dua kotak kardus, apa yang terjadi? Dua kertas makin menjauh atau makin mendekat? Jawabnya, semakin cepat embusan udara yang dilakukan, jarak antara karton atau kotak semakin dekat. Inilah prinsip Bernouli, semakin cepat gerak udara maka semakin kecil tekanan udaranya. Prinsip ini digunakan dalam perancangan sayap pesawat. Sayap pesawat dibuat agar gerak udara di atas sayap lebih cepat geraknya (dengan membuat lebih melengkung dari bagian bawahnya) sehingga tekanan udara di atas lebih rendah daripada di bawahnya yang berdampak pesawat akan terangkat ke atas. Prinsip yang sama digunakan oleh helikopter. Baling-baling di atas digunakan untuk mengangkat ke atas, baling-baling di depan untuk maju dan baling-baling di ekor belakang untuk mencegah gerak berputar.

Kini JAXA mengajak siapa pun di negara-negara Asia (diberi nama ”Asian Try G in Space” untuk mengusulkan percobaan sederhana namun unik (belum pernah dilakukan astronot sebelumnya). Usulan yang diterima akan dilakukan oleh astronot Furukawa yang dijadwalkan berada di Kibo pada Mei 2011. Usulan percobaan dapat dikirimkan melalui Humas LAPAN untuk dilanjutkan ke sekretariat APRSAF (Asia Pacific Regional Space Agency Forum) atau langsung ke aprsaf[at]jaxa.jp. Peneliti LAPAN bisa membantu menyempurnakan usulan untuk menghindari duplikasi dengan usulan sebelumnya dan memberikan pertimbangan fisisnya. Usulan bisa diterima oleh APRSAF pada 14 Februari 2011 dan diumumkan pada Maret 2011. Walau tanpa hadiah, akan ada kebanggaan kalau ide kita diterima untuk dilakukan oleh astronot di antariksa.

Warna Fajar Tanda Shubuh

T. Djamaluddin

Profesor Astronomi Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI

Awal waktu shubuh masih dipertanyakan sebagian ummat Islam. Untuk memberi gambaran warna cahaya fajar sebagai penentu waktu shubuh, saya mencoba mengambil gambar cahaya ufuk dari pesawat. Dalam perjalanan dari Jakarta ke Melbourne dini hari 22 November 2010, saya memotretnya (Saya selalu meminta duduk dekat jendela untuk menentukan waktu shalat dalam perjalanan dan mengamati fenomenanya). Saya tidak menentukan posisi mataharinya (karena tidak memungkinkan melakukan perhitungan posisinya), tetapi sekadar mengamati perubahan warna terkait dengan fisika pembentukan cahaya fajar.

Baca juga pembahasan saya tentang waktu shubuh di

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/15/waktu-shubuh-ditinjau-secara-astronomi-dan-syari/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/19/matahari-dan-penentuan-jadwal-shalat/

Awal fajar shadiq ditandai cahaya putih sangat redup, yang tidak mampu menerangi benda di sekitar kita:

Fajar shadiq (fajar sebenarnya) muncul dengan cahaya putih, tanpa warna (sesungguhnya kebiruan, hanya tak tampak karena sangat redup), karena sekadar hamburan cahaya matahari oleh atmosfer tinggi. Ini disebut fajar astronomi, karena berdampak pada mulai meredupnya bintang-bintang (lihat QS 52:49). Karena cahaya ini hasil hamburan atmosfer bumi, maka cahayanya memanjang di sepanjang ufuk. Berbeda dengan cahaya fajar kidzib (fajar semu) yang menjulang tinggi karena disebabkan oleh hamburan cahaya matahari oleh debu-debu antarplanet. Fajar kidzib terjadi sebelum fajar shadiq.

Cahayanya makin menguning kemudian memerah ketika matahari makin mendekati ufuk. Susunan cahayanya dari ufuk adalah merah, kuning, kemudian putih kebiruan. Bila kita melihatnya di laut, cahaya fajar yang makin terang mulai menampakkan ufuk secara jelas yang penting bagi perhitungan posisi selama pelayaran. Karenanya disebut fajar nautika (bermakna terkait pelayaran). Bila makin terang dengan warna makin merah yang mulai menerangi sekitar kita, it disebut fajar sipil (bermakna terkait dengan masyarakat). Kalau diamati dari udara, awan pun mulai bisa dikenali wujudnya.

Berikut ini gambar-gambar perubahan cahaya di ufuk yang makin menguning dan memerah sebelum terbit matahari.

Berikut ini perubahan gambar cahaya fajar (sebelum matahari terbit), sesaat setelah matahari terbit (cahaya merah menerangi alam), dan setelah matahari mulai meninggi (cahaya terang tanpa warna). Perhatikan perubahan cahaya yang menerangi mesin pesawat terbang.

Haruskah Shaum Arafah Sama Harinya dengan Wukuf?

T. Djamaluddin

Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI

Terkait dengan perbedaan Idul Adha, saya sudah menjelaskan sebab-sebabnya di

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/11/09/menyikapi-perbedaan-idul-adha-1431/

Namun yang masih sering ditanyakan adalah “mengapa kita tidak mengikuti saja wukuf di Arafah?” Persoalan yang paling mendasar adalah apakah ada dalil yang secara tegas memerintahkan shaum Arafah bersamaan saat jamaah haji berwukuf? Menurut kaidah fikih, suatu ibadah hanya dilaksanakan bila ada dalil yang memerintahkannya.

Dalil yang ada (merujuk pada situs HTI) hanya ini:

«فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ، وَعَرَفَةُ يَوْمَ تُعَرِّفُوْنَ»

Hari Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah. (HR as-Syafii dari ‘Aisyah, dalam al-Umm, juz I, hal. 230).

Tidak ada seorang pun yang mengingkari hadits ini bahwa wukuf dilaksanakan pada hari Arafah. Hari Arafah hanya penamaan 9 Dzulhijjah, sama halnya dengan Yaum Nahar untuk 10 Dzulhijjah, dan Yaum Tasyrik untuk 11-13 Dzulhijjah. Karena Yaum Arafah hanya penamaan hari, maka sebagian besar ulama di Indonesia dan Malaysia serta beberapa negera lainnya memahaminya bahwa hari itu bisa ditentukan secara lokal tergantung kondisi hilalnya.

Di wilayah sekitar Arafah, shaum Arafah dilaksanakan bersamaan dengan wukuf karena di sana pun 9 Dzulhijjah. Di tempat lain, shaum Arafah juga dilaksanakan pada hari Arafah (artinya 9 Dzulhijjah) yang ditentukan secara lokal, namun belum tentu bersamaan dengan wukuf. Kalau pelaksanaan shaum Arafah yang tidak bersamaan dengan wukuf dianggap kesalahan, anggapan itu haruslah didukung dalil qath’i yang tegas memerintahkan shaum Arafah saat jemaah haji sedang wukuf. Sayangnya dalil qath’i (tegas) seperti itu tidak ada atau belum saya temukan.

Belum lagi masalah beda waktu untuk wilayah yang jauh dengan Arab Saudi yang juga harus difahami. Tidak sekadar menyamakan hari (misalnya Senin wukuf, shaum juga harus Senin) yang pada dasarnya merujuk pada definisi hari garis tanggal internasional (hasil konvensi manusia), bukan hari menurut garis tanggal qamariyah (murni aturan Allah sesuai sunnatullah). Tanpa pemahaman fisik bulatnya bumi, kita bisa terjebak pada konsep kesamaan hari konvensi buatan manusia dengan mengabaikan hakikat hari menurut kaidah qamariyah. Dengan kata lain, karena ketidaktahuan konsep fisisnya, niat ikhlas menerapkan syariat bisa terbelokkan oleh penafsiran manusiawi yang mementingkan kesamaan hari dalam konsep garis tanggal internasional dan mengabaikan konsep hari menurut garis tanggal qamariyah.

Perbedaan pemaknaan hari Arafah dan implementasinya bisa berdampak pada perbedaan penentuan hari Idul Adha. Hari Idul Adha adalah tanggal 10 Dzulhijjah, artinya keesokan hari setelah Hari Arafah.

Menyikapi Perbedaan Idul Adha 1431

T. Djamaluddin

Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama

Pada sidang itsbat 8 November 2010 yang merupakan forum resmi yang dihadiri perwakilan ormas-ormas Islam dan pakar hisab rukyat, pemerintah memutuskan Idul Adha jatuh pada 17 November 2010.  Ada dua Ormas Islam yang berbeda penetapannya dan menyatakan berlaku untuk internal mereka.  Muhammadiyah berdasarkan kriteria wujudul hilal menyatakan Idul Adha jatuh pada 16 November. Sedangkan Dewan Da’wah Indonesia karena mengikuti wukuf di Arafah pada 15 November, juga menetapkan Idul Adha jatuh pada 16 November. Saya kira masih ada ormas lain yang berbeda dengan dua alasan tersebut, selain ada kelompok kecil yang juga berbeda karena sistem perhitungan yang berbeda.

Terkait dengan perbedaan kriteria, telah saya jelaskan di

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/11/03/potensi-perbedaan-idul-adha-14312010/

Sedangkan terkait dengan perbedaan pemaknaan hari Arafah dapat saya jelaskan sebagai berikut. Ada 2 pendapat terkait hari Arafah. Pendapat pertama mengaitkan dengan wukuf di Arafah sedangkan pendapat kedua tidak mengaitkan dengan wukuf. Pendapat yang mengaitkan dengan wukuf di Arafah berpendapat bahwa puasa/shaum Arafah tergantung tanggal pelaksanaan wukuf di Arafah. Pada musim haji 1431/2010 saat ini wukuf di Arafah ditetapkan pada 15 November 2010. Jadi, pada hari itulah mereka melaksanakan shaum Arafah dan beridul Adha pada 16 November 2010. Sedangkan pendapat mayoritas ulama di Indonesia dan Malaysia serta beberapa negara lainnya menyatakan bahwa hari Arafah hanyalah penamaan hari (yaum) 9 Dzulhijjah yang ditetapkan secara lokal. Perlu kita ketahui bahwa yaum Arafah adalah 9 Dzulhijjah, yaum nahar (hari qurban) pada 10 Dzulhijjah, dan yaum tasyrik pada 11 – 13 Dzulhijjah.

Sebagian masyarakat bingung, karena khawatir haram bila shaum pada 16 Dzulhijjah karena sudah ada yang beridul adha. Tidak perlu bingung, karena ibadah didasarkan pada keyakinan. Pilih dulu Idul Adha yang paling meyakinkan. Kalau saya, saya pilih 17 November karena itu merupakan hasil sidang itsbat yang dasar syar’i dan ilmiahnya paling kuat. Secara syar’i, menaati hasil keputusan pemerintah demi kemaslahatan ummat hukumnya wajib (seperti difatwakan MUI pada 2004). Secara ilmiah, tidak mungkin ada rukyat hilal (baik di Indonesia maupun di Arab Saudi) pada 6 November sehingga 1 Dzulhijjah jatuhnya pada 8 November dan Idul Adha 10 Dzulhijjah jatuh pada 17 November 2010. Nah, kalau sudah yakin Idul Adha jatuh pada 17 november 2010, yakin juga bahwa 16 Dzulhijjah masih hari Arafah, jadi disunnahkan shaum Arafah. Jangan dibimbangkan oleh saudara-saudara kita yang punya keyakinan berbeda bahwa 16 Dzulhijjah sudah Idul Adha.

Faktor Kosmogenik: Waspadai Potensi Bencana Sekitar Bulan Baru dan Purnama (Potensi Pemicu Banjir Pasang, Gempa, atau Letusan Gunung?)

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

(Animasi dari http://hrcst.org.uk/wp/index.php/weather/)

Faktor kosmogenik bermakna bersumber dari alam di luar bumi. Walau bukan penyebab utama, faktor pemicu bencana dari faktor kosmogenik perlu diwaspadai. Sekitar bulan baru atau bulan purnama, pasang akibat gravitasi bulan diperkuat oleh gravitasi matahari yang berada hampir satu garis. Akibatnya air laut naik lebih tinggi dari pasang biasa. Air pasang akan makin tinggi bila posisi bulan dan matahari segaris dan jaraknya dari bumi pada posisi terdekat. Ini berpotensi menyebabkan pasang tinggi. Bila efek pasang ini diperkuat oleh efek meteorologis akibat angin, maka gelombang pasang (rob) besar berpotensi terjadi. Sesuai dengan konfigurasi bumi-bulan-matahari, pasang maksimum di laut terjadi sekitar tengah malam atau sekitar tengah hari.

Namun efek pasang surut (pasut, tides) sebenarnya juga dialami oleh kulit bumi. Walau gayanya relatif kecil dibandingkan gaya yang menggerakkan lempeng bumi dan bagian-bagiannya, diyakini bahwa pasut berpotensi memicu pelepasan energi yang berdampak gempa atau gunung meletus. Sekali lagi, hanya sebagai pemicu pelepasan energi, karena sebenarnya penumpukan energi sepenuhnya merupakan proses geologis di kulit bumi. Walau secara statistik belum ditemukan bukti yang meyakinkan antara kaitan pasut maksimum bulan-matahari dengan kejadian gempa, tetapi beberapa gempa besar terjadi sekitar bulan purnama atau bulan baru. Sedangkan kaitannya dengan peristiwa gunung meletus, secara statistik telah ditemukan bahwa sebagian besar kejadian gunung meletus terjadi sekitar bulan baru atau bulan purnama. Hal ini yang tampaknya menjelaskan

Situs Survei Geologi Amerika Serikat

http://vulcan.wr.usgs.gov/Outreach/AboutVolcanoes/do_tides_affect_volcanoes.html

menyimpulkan, “Gaya yang dihasilkan pasang surut hanya bagian kecil dari gaya yang menyebabkan gempa bumi dan letusan gunung. Walau gayanya kecil, tetapi dapat memicu kejadian itu. Ilmuwan memang tidak mendapati korelasi pasang surut dengan gempa. Tetapi, hubungan antara pasang surut dan letusan gunung telah teridentifikasi”

Mauk dan Johnston (1973), dalam makalahnya “On the Triggering of Volcanic Eruptions by Earth Tides, J. Geophys. Res., 78(17), 3356-3362” melaporkan bahwa dari data 680 letusan gunung berapi besar sejak tahun 1900 di daratan, sebagian besar terjadi saat pasang maksimum. Demikian juga data dari Stasiun Pengamat Gunung Berapi Hawaii (HVO) melaporkan dari 52 letusan sejak Januari 1832, sebagian besar (hampir setengahnya) terjadi sekitar pasang maksimum.

Terkait dengan hubungannya dengan gempa, situs USGS (Survai Geologi Amerika Serikat, http://earthquake.usgs.gov/learn/faq/?faqID=109) memaparkan jawaban ringkas, bahwa riset mutakhir mengindikasikan ada kaitan efek pasang surut bulan dan matahari saat purnama atau bulan baru dengan beberapa jenis gempa. Salah satu mekanismenya adalah karena pengurangan efek “jepitan” pada subduction zone (wilayah lempeng yang menyusup ke bawah lempeng lainnya) karena berkurangnya gaya yang menekannya akibat efek pasang surut. Karena berkurangnya “jepitan” lempeng diatasnya, maka lempeng kemudian menyusup ke bawah dan melepaskan energi tekanannya berupa gempa. Hal ini yang tampaknya menjelaskan beberapa kejadian gempa terjadi pada pagi hari (sepert gempa Aceh 2004) saat pasang rendah (surut) terjadi di sekitar wilayah tersebut, sedangkan pasang tinggi pada arah matahari/bulan.

Berikut ini beberapa data gempa besar dan gunung meletus terbesar di Indonesia yang tampaknya pelepasan energinya dipicu oleh pasang maksimum bulan-matahari:  (Mohon berhati-hati menggunakan informasi ini, bukan untuk menimbulkan ketakutan, tetapi sekadar untuk mewaspadai potensi efek penguatannya)

Lokasi Gempa
Kejadian Gempa Bulan Baru/Purnama
Gempa Alor 12 November 2004 Menjelang bulan baru,

28 Ramadhan 1425

Gempa Nabire 26 November 2004 Menjelang purnama,

13 Syawal 1425

Gempa Aceh 26 Desember 2004 Saat purnama,

14 Dzulqaidah 1425

Gempa Simeulue 26 Februari 2005 Setelah purnama,

16 Muharram 1426

Gempa Nias 28 Maret 2005 Setelah purnama,

17 Safar 1426

Gempa Mentawai 10 April 2005 Saat bulan baru,

1 Rabiul Awal 1426

Gempa Yogya 27 Mei 2006 Menjelang bulan baru,

29 Rabiuts Tsaniah 1427

Letusan Gunung Tanggal Kejadian Bulan Baru/Purnama
Tambora

(korban 92.000 orang)

10 – 12 April 1815 Bulan baru

10 April 1815

Krakatau

(korban 36.000 orang)

26-28 Agustus 1883 Bulan baru,

1 September  1883

Kelud

(korban 10.000 orang)

19 Mei 1919 Purnama,

15 Mei 1919

Papandayan

(korban 3000 orang)

12 Agustus 1772 Purnama,

13 Agustus 1772

Potensi Perbedaan Idul Adha 1431/2010

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat Kementeria Agama

Garis tanggal wujudul hilal pada gambar di atas tampak melalui Afrika Utara, Arab Saudi, India, dan bagian Utara Indonesia. Maknanya, di sebelah Barat garis tersebut pada saat maghrib 6 November 2010 (hari terjadinya ijtimak, saat bulan dan matahari segaris bujur) bulan telah berada di atas ufuk. Dengan garis tanggal ini, kita bisa membaca adanya potensi perbedaan hari raya di Indonesia yang disebabkan perbedaan kriteria dan perbedaan konsep Idul Adha. Bulan di Indonesia saat maghrib 6 November 2010 sudah di atas ufuk dengan tinggi positif), tetapi umumnya kurang dari 2 derajat.

Di Indonesia dikenal ada 2 kriteria umum yang digunakan oleh ormas-ormas Islam dan Badan Hisab Rukyat (BHR, terdiri dari wakil ormas dan pakar astronomi dan hisab-rukyat) sebagai perangkat Kementerian Agama. Pertama, kriteria wujudul hilal yang dianut Muhammadiyah. Menurut kriteria itu awal bulan ditandai dengan posisi bulan telah berada di atas ufuk pada saat maghrib atau bulan lebih lambat terbenam daripada matahari. Kedua, kriteria imkanurrukyat, kemungkinan bisa dirukyat yang dianut Persis dan NU (dalam hisabnya) serta BHR. Di Indonesia digunakan kesepakatan kriteria tinggi bulan minimal untuk bisa dirukyat adalah 2 derajat (walau secara astronomi dianggap terlalu rendah).

Tinggi bulan di Indonesia yang sudah di atas ufuk tetapi umumnya kurang dari 2 derajat berpotensi menimbulkan perbedaan penetapan awal Dzulhijjah 1431, sehingga Idul Adha di Indonesia berpotensi  terjadi perbedaan. Berdasarkan kriteria wujudul hilal, hilal yang telah wujud pada 6 November menjadi dasar penetapan awal Dzulhijjah pada 7 November dan  Idul Adha bertepatan 16 November 2010. Tetapi bila menggunakan kriteria imkanur rukyat (kemungkinan hilal dirukyat), hilal yang masih sangat rendah itu tidak mungkin bisa dirukyat sehingga awal Dzulhijjah sangat mungkin pada 8 November dan Idul Adha bertepatan dengan 17 November 2010.

Di Arab Saudi pun tidak mungkin ada rukyat pada 6 November 2010, sehingga awal Dzulhijjah pada 8 November, wukuf diperkirakan 16 November, dan Idul Adha 17 November. Ada sebagian ormas Islam seperti Hizbut Tahrir Indonesia dan Dewan Da’wah Indonesia yang berpedoman pada penetapan hari wukuf di Arafah, namun masih menggunakan konsep hari menurut garis tanggal internasional. Menurut pendapat seperti itu hari Arafah adalah hari wukuf di Arafah (Arab Saudi) dan besoknya Idul Adha.  Pendapat umum di Indonesia hari Arafah adalah tanggal 9 Dzulhijjah, sama halnya penamaan hari Qurban 10 Dzulhijjah dan hari Tasyriq 11 – 13 Dzulhijjah yang bergantung kondisi hilal setempat.  Perbedaan konsep Idul Adha seperti ini juga menjadi sebab terjadinya perbedaan penetapan Idul Adha di Indonesia.

Pedoman umum bagi masyarakat dalam menghadapi potensi perbedaan seperti itu adalah menunggu keputusan sidang itsbat yang diumumkan Menteri Agama pada 8 November 2010 nanti. Sidang itsbat mempertimbangkan banyak aspek dengan meminta pendapat para wakil ormas serta pakar astronomi dan hisab rukyat, sehingga keputusannya merupakan keputusan yang optimum kalau tidak dapat dicapai kesepakatan tunggal.