Bencana


T. Djamaluddin

(Dimuat di Republika, Hikmah,  25 Mei 2000)

Sebagian orang mungkin mempercayai ramalan bencana 5 Mei 2000 lalu. Superkonjungsi, berkelompoknya matahari, bulan, dan lima planet terang lainnya dalam area sempit di langit, diramalkan menyebabkan bencana alam yang hebat, gempa bumi dan banjir besar.

Istilah superkonjungsi dan ramalan seperti itu sepenuhnya berlandaskan nalar astrologi. Superkonjungsi tidak dikenal dalam terminologi astronomi. Astronomi mengenal konjungsi dalam makna dua benda langit tampak segaris bujur. Tidak mungkin terjadi konjungsi yang melibatkan banyak planet atau superkonjungsi.

Astrologi memang mengunakan posisi benda-benda langit untuk meramal nasib manusia, baik dalam konteks pribadi maupun konteks sosial. Ramalan bencana alam atau bencana sosial karena kekhasan posisi planet-planet merupakan salah satu ramalan astrologi.

Namun ada konsekuensi aqidah berkaitan dengan kepercayaan pada ramalan astrologi. Rasulullah menyampaikan peringatan Allah dalam hadits qudsi: “Siapa yang berkata hujan karena bintang ini dan itu maka telah kafir kepada-Ku dan percaya kepada bintang” (HR Bukhari-Muslim).

Allah menegaskan dalam Alquran, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami mengadakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS 57:22). Bencana bukan karena posisi suatu planet atau bintang, tetapi karena sunnatulah, ketentuan Allah.

Sunnatullah yang bukan mu’jizat dapat difahami secara logis, dianalisis secara saintifik, sehingga dapat dirumuskan sebab akibatnya. Apa yang tertulis di lauhul mahfudz tentunya bukan daftar bencana yang bakal terjadi di bumi dan diri manusia. Kalau yang dimaksud daftar bencana, upaya manusia akan sia-sia belaka: tak perlu berhati-hati di jalan raya dan tak perlu melakukan konservasi alam. Tentu bukan itu maksudnya. Tetapi yang tertulis, ketentuan-ketentuan-Nya dalam formulasi sunnatullah.

Sains berupaya mengungkap sunnatullah tersebut, sehingga mitigasi bencana dapat dilakukan. Benda-benda langit mungkin menimbulkan bencana, tetapi bukan seperti argumentasi astrologi. Sains mengkaji gaya pasang surutnya, radiasinya, pancaran partikelnya, atau kemungkinan gangguan orbitnya yang bisa mengancam bumi.

Banjir diteliti apa sebabnya dan bagaimana seharusnya diatasi. Kekeringan, tanah longsor, kelaparan, wabah penyakit, sampai gempa bumi dan gunung meletus memungkinkan untuk dikaji sebab dan akibatnya. Kalau pun tidak dapat dicegah bencananya, setidaknya diminimalisasi dampaknya. Hasil kajian ilmiah tentang kemungkinan bencana bukan ramalan, tetapi prakiraan yang didasari alasan-alasan logis.

Alam hanya mengikuti hukum yang telah ditentukan Allah (QS 22:18). Ulah manusia yang mengganggu keseimbangan alam bisa menyebabkan bencana (QS 30:41). Pemanasan kota (’heat island’, terjadi juga di Jakarta) dan pemanasan global tidak lepas dari kontribusi gas buang kendaraan bermotor. Banjir, kekeringan, dan tanah longsor bukan semata-mata berkait dengan curah hujan, tetapi juga karena tidak terkontrolnya resapan air.  Penyakit mewabah bisa karena sampah, kebocoran limbah cair, atau polusi udara.

Egoisme manusia yang mementingkan kenyamanan diri kadang melupakan kondisi lingkungan. Pernahkah kita berfikir, jangan-jangan diri kita telah menjadi bagian egoisme manusia yang dampak bencananya jauh lebih besar daripada ramalan bencana superkonjungsi? Bencana antropogenik (dari manusia) bisa lebih hebat daripada bencana kosmogenik (dari alam semesta).

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 191 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: