Asteroid Melintas Dekat Bumi di Atas Indonesia


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Sebuah asteroid seukuran bis besar (5 – 10 meter) melintasi bumi pada jarak yang relatif paling dekat dengan bumi pada malam rabu lalu, 12 Oktober 2010 pukul 19.50 WIB. Asteroid yang diberi nama “2010 TD54” pertama kali terdeteksi pada Sabtu 9 oktober 2010 oleh teleskop pemantau langit Catalina yang operasikan NASA.  Sistem otomatiknya segera menyimpulkan lintasan orbit dan perkiraan ukurannya. Asteroid 2010 TD54 melintas bumi sangat cepat (sekitar 63.000 km/jam) pada ketinggian 45.500 km, sedikit di atas orbit satelit-satelit komunikasi yang berada pada ketinggian 36.000 km. Posisi saat melintas kira-kira di atas Indonesia. Perlintasan tersebut tidak berdampak apa pun di bumi. Astronom amatir dari AS Patrick Wiggins berhasil merekamnya (asteroid tampak sebagai garis putih, karena asteroid bergerak relatif terhadap bintang-bintang) yang rangkaian gambarnya ditunjukkan dalam movie berikut:

Sebelumnya, pada Oktober tahun lalu sebuah asteroid jatuh di perairan Bone, Sulawesi. Sistem pemantau suara infra (infrasound sebenarnya untuk pemantauan  percobaan nuklir)  dari 11 stasiun melaporkan mendeteksi adanya ledakan besar yang berpusat di sekitar lintang 4,5 LS, 120 BT, sekitar pukul 11.00 WITa pada 8 Oktober 2009, seperti laporan media massa.  Analisis ledakan menunjukkan bahwa kekuatan ledakan sekitar  50 kiloton TNT diduga akibat meteorit yang berasal dari asteroid berukuran sekitar 10 meter. Ledakan terjadi karena tekanan atmosfer yang menyebabkan pelepasan  energi yang cukup besar. Ledakan tersebut juga sinyalnya mencapai stratosfer yang tingginya lebih dari 20 km. Diperkirakan meteorit dari asteroid itu berukuran 5 – 10 meter dengan kecepatan jatuh sekitar  20.3 km/detik (73.080 km/jam). Berdasarkan perkiraan sebaran meteoroid-asteroid di antariksa dekat bumi objek seperti itu punya kemungkinan jatuh di bumi setiap  2 – 12 tahun.

Sayangnya, asteroid yang jatuh di Bone sebelumnya tidak terdeteksi oleh sistem pemantau objek antariksa dekat bumi. Memang sulit sekali menemukan objek berukuran relatif kecil seperti itu yang kurang dari sepuluh meter.  Objek tersebut sangat-sangat redup.  Pencahayaan dari matahari menjadi sumber cahaya utama. Sehingga bila posisinya tidak memantulkan cahaya matahari, asteroid tersebut tidak terpantau, tiba-tiba saja sudah jatuh ke bumi.

Tetapi ada juga yang beruntung terekam teleskop Catalina sebelum jatuh ke bumi. Asteroid 2008 TC3 ditemukan 6 Oktober 2008 dan diperkirakan jatuh di gurun di Sudan 20 jam kemudian. Ternyata benar, satelit cuaca di atas Afrika, Meteosat 8 / EUMETSAT, berhasil merekam kejadian jatuhnya asteroid tersebut. Beberapa bulan kemudian ekspedisi pencarian meteorit pecahan asteroid dilakukan dan menemukan banyak pecahannya yang berukuran kira-kira sekepalan tangan atau lebih kecil.

Mungkin ada yang bertanya, kok seperti ada keteraturan kejadiannya: 6 Oktober 2008, 8 Oktober 2009, dan 12 Oktober 2010. Itu hanya kebetulan, karena sebaran asteroid di antariksa sangat acak. Bila kita melihat data asteroid yang mendekat bumi, hampir setiap hari ada asteroid yang melintas dengan jarak yang bervariasi. Dengan semakin canggihnya sistem pamantau objek dekat bumi (NEO, Near Earth Objects), dalam beberapa tahun terakhir rata-rata ada sekitar 700 objek baru terdeteksi.

%d blogger menyukai ini: