Halo : Cincin Pelangi di Sekitar Matahari


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN

Siang 12 Oktober 2010 masyarakat di beberapa wilayah Jawa Barat, seperti Cimahi-Bandung, Bogor, Depok, dan Kuningan melaporkan adanya fenomena tidak bisa di sekitar matahari. Ada cincin pelangi di sekitar matahari yang tampak gelap di bagian dalam cincin tersebut.

Cincin pelangi tersebut (kadang tak tampak warnanya) disebut “halo”. Halo disebabkan adanya kristal es di awan Cirrus yang membiaskan cahaya matahari seperti prisma. Cahaya yang terurai tampak membentuk cahaya pelangi yang melingkari matahari. Warna hitam di antara matahari dan cincin hanya akibat efek kontras saja. Cincin tersebut berdiameter sekitar 22 derajat atau kira-kira sejengkal bila lengan kita rentangkan ke arah matahari. Bila terjadinya malam saat ada bulan purnama, halo juga bisa terjadi melingkari bulan.

Awan tipis tampak membayangi wilayah Jawa Barat. Dalam kondisi yang sangat dingin di awan cirrus tersebut dapat terbentuk kristal-kristal es. Wilayah yang kebetulan mataharinya terhalang oleh awan cirrus tersebut akan melihat fenomena halo. Memang kadang bersifat lokal. Pada sekitar pukul 11.30, hanya wilayah Cimahi-Padalarang yang melihatnya, di kota Bandung tidak melihatnya. Tetapi sekitar pukul 13.00 di Bandung pun bisa melihat halo. Mengapa tidak selalu terjadi? Kondisi relatif cerah yang menyisakan awan cirrus tidak selalu terjadi.

Kejadian di Padang pada Kamis, 21 Oktober 2010 juag serupa prosesnya. hari relatif cerah dengan awan tipis di atas. Tidak ada kaitan dengan pertanda gempa atau bencana lainnya. Pada masa pancaroba sekitar September-Oktober-November serta Maret-April-Mei, kejadian halo sering terjadi di Indonesia.

%d blogger menyukai ini: