INOVASI, KEMANDIRIAN, DAN PERAN PENELITI


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika, LAPAN

Membaca tulisan kolega sesama peneliti Asvi Warman Adam dari LIPI tentang Negara dan Nasib Peneliti (Kompas, 15/9), komentar segera saya tuliskan di status FB dan di milis. Peneliti memang idealis. Hanya karena kecintaan pada profesi, peneliti harus menegakkan kepala menunjukkan eksistensi dan berupaya berkontribusi, walau dalam hatinya kadang menangis melihat ketidakadilan ini.

Kalau kita bicara soal kemandirian bangsa, peneliti menjadi salah satu pendukungnya. Tanpa idealisme, godaan untuk keluar dari profesi peneliti sangat besar. Saya kira ‘brain drain’ terbesar ada di lembaga penelitian. Ini yang menyedihkan. Memang pertanyaan standar waktu mewawancara calon PNS peneliti, “Mengapa anda pilih jadi peneliti, peneliti kan kecil gajinya?” Hanya yang punya idealisme yang akan menjawabnya dengan mantap. Kalau menyesali jadi peneliti, benar kata teman saya “Salah sendiri jadi peneliti…”. Walau sebenarnya menyenangkan dan menantang jadi peneliti. Bagi orang idealis, kepuasan batin lebih utama dari kepuasan material, walau keduanya sama pentingnya.

Saya kira ungkapan tentang nasib peneliti hanya cetusan keprihatinan yang sudah lama terpendam dan sedikit tersalurkan ketika silaturrahim bersama Menristek di LIPI, BATAN, dan LAPAN di Bandung pertengahan Ramadhan lalu (27/8). Pada kesempatan itu pula saya menyoroti aspek lain, tetang peran riset (dan tentunya dengan komponen utama penelitinya) secara umum dalam mendukung inovasi nasional yang sedang menjadi perhatian Presiden dengan dibentuknya Komite Inovasi Nasional (KIN).

Peran Sentral Peneliti

Untuk mengingatkan bersama tentang komitmen Presiden, saya ingin mencuplik apa adanya beberapa butir arahan Presiden kepada Komite Inovasi Nasional dan Komite Ekonomi Nasional pada 15 Juni 2010, terkait peran riset dalam inovasi nasional. Presiden berpesan, ”… saya ingin sempitkan lingkup dari innovation di sini adalah eco innovation of research, development, and application. Biar connect sama ekonomi, KEN tadi, apa yang dilakukan oleh pemerintah, maka KIN bertugas betul bagaimana energi, pangan, dan air ini betul-betul dapat kita jaga ketahanannya, security-nya.

Selanjutnya pesan Presiden, “Mari, jangan diabaikan ini. Ini segala membangun intellectual curiosity seperti apa. …Kesehatan dan kedokteran, saya tidak berharap banyak di sini, negara kita negara tropis bukan hanya mencapai MDG, bukan hanya meningkatkan kesehatan masyarakat tapi juga memerangi penyakit-penyakit menular, malaria, demam berdarah, HIV AIDS, apalagi Ibu Menkes? Banyak sekali di Papua, di negara segala macam itu, dan siapa tahu Tuhan menakdirkan lahir di bumi Indonesia ini researcher, innovator yang bisa menghasilkan obat anti kanker misalnya, anti HIV AIDS, dan yang lain-lain.”

Dalam bidang lain Presiden berpesan, “Kelautan, maritim. Bayangkan Indonesia, lihat ini Bapak, Ibu. Ini skalanya mungkin pas tidak. Tapi yang jelas daratannya ini seperempat, tiga perempat itu ocean, lautan, dengan segala resources di dalamnya. Itu kalau resources. Tapi juga untuk pelintasan kapal, untuk macam-macam, untuk menjaga ekosistem kita, bisa juga untuk carbon capture, carbon sink, dan sebagainya. Mari kita bangun inovasi, teknologi, seperti apa kelautan, maritim ini bisa kita kembangkan dengan baik.”

Presiden juga menantang, ”Pertahanan dan teknologi kesenjataan. Saya kira sangat jelas itu doktrin kita, yang bisa kita bikin sendiri tidak perlu kita beli. Kita membeli kalau memang tidak bisa kita bikin sendiri dan kita perlukan benar. Itu pun dengan konsep sharing, joint investment, joint production, transfer of technology,the rest harus bisa kita hasilkan di negeri sendiri. dan sebagainya. Memalukan sebagai bangsa kalau peluru, senapan-senapan, perlengkapan militer kita beli.”

Di telinga peneliti, pesan Presiden sangat indah dan menantang. Inovasi berakar dari riset, tanpa membedakan riset dasar, riset terapan, kapasitas produksi, dan difusi. Semuanya saling terkait dan saling mendukung. Kemandirian berasal dari inovasi. Tanpa inovasi jangan berharap menjadi bangsa yang mandiri. Tanpa riset, kita hanya jadi bangsa pengguna teknologi dan pencontek informasi. Jumlah publikasi ilmiah dan paten menjadi ukuran keunggulan riset dan inovasi suatu bangsa.

Kalau riset dan inovasi dianggap sentral dalam kemandirian bangsa, mengapakah nasib peneliti dinomorsekiankan? Akankah kecenderungan ”brain drain” disuburkan, aset SDM bangsa dibiarkan mengalir ke luar negeri dan peneliti beralih haluan ke profesi lain yang lebih menjanjikan? Saya percaya komitmen Presiden segera diwujudkan dalam membangun budaya riset yang kondusif serta memberikan kelayakan hidup dan kenyamanan kerja bagi penelitinya. Tentunya itu berorientasi pada terwujudnya gairah inovasi nasional menuju kemandirian bangsa.

Iklan
%d blogger menyukai ini: