Jabal Magnet Sekadar Ilusi


T. Djamaluddin

Sudah lama saya mendengar tentang keanehan bukit magnet dekat Madinah yang selalu menjadi tujuan kunjungan jamaah haji dan umrah. Benarkah karena tarikan magnet yang kuat sehingga mobil kecil sampai besar bisa meluncur lebih dari 100 km/jam dengan kondisi gigi netral? Secara ilmiah tidak ada teori yang bisa menjelaskan itu pengaruh magnetik yang kuat atau pengaruh gravitasi. Kalau karena magnetik, pertanyaan yang muncul adalah mengapa setelah lewat bukit tersebut mobil tidak tertarik kembali, karena mobil sekadar dianggap seperti besi yang terkena pengaruh magnet.

Ada yang mengaitkan karakteristiks magnetik di wilayah sekitar Madihah dan Mekkah yang seolah berbeda dengan wilayah lain di dunia. Digambarkan seolah jarum kompaspun arahnya tak tentu. Arah jarum kompas di seluruh dunia tergantung arah deklinasi magnetik (penyimpangan utara magnetik dari Utara sebenarnya) yang setiap tahun berubah. Lembaga survey geomagnetik selalu mengeluarkan kontur deklinasi magnetik secara berkala. Nilai deklinasi magnetik positif berarti Utara magnetik menyimpang agak ke Timur sekian derajat dari Utara sebenarnya. Misalnya, di lokasi Jabal Magnet (24,72 LU, 39,44 BT) pada Oktober 2010 deklinasi magnetiknya 3 derajat 19′ dengan perubahan 0 derajat 4’/tahun. Perubahan secara global sejak 1590 – 1990 digambarkan berikut ini:

Di banyak tempat fenomena seperti itu juga ada, disebut Bukit Magnet (Magnetic hills) atau Gravity Hills. Wikipedia sudah mengumpulkan bukit-bukit tersebut di http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_magnetic_hills

Para ilmuwan sudah menyatakan bahwa itu bukan karena pengaruh magnet atau gravitasi, tetapi sekadar ilusi topografi setempat. Jalan yang menurun, tetapi tampak seolah datar atau menanjak akibat struktur bukit di sekitarnya. Akibatnya yang terlihat dan terasa mobil dalam keadaan gigi netral bisa dengan mudah meluncur, tanpa menggunakan tenaga mesinnya.

Ilustrasi ilusi dibuatkan simulasinya oleh Koukichi Sugihara yang membuat  video berjudul  “Impossible motion: magnet-like slopes” dalam kompetisi visual ilusi internasional dan memenangkannya pada Mei 2010 lalu. Pada video tampak seolah bola-bola kayu menanjak dengan sendirinya. Nyatanya, jalur menanjak itu hanyalah ilusi. Yang sesungguhnya terjadi jalur tersebut menurun. Kamera video mensimulasikan cara mata kita terilusi oleh sudut pandang topografi setempat. Kalau kita melihat dari sudut pandang lain, maka jelaslah kondisi yang sebenarnya jalan tersebut menurun. Hal yang sama juga terjadi pada kasus jabal magnet atau bukit magnet di dekat Madinah. Ini video simulasinya:

%d blogger menyukai ini: