INOVASI, KEMANDIRIAN, DAN PERAN PENELITI

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika, LAPAN

Membaca tulisan kolega sesama peneliti Asvi Warman Adam dari LIPI tentang Negara dan Nasib Peneliti (Kompas, 15/9), komentar segera saya tuliskan di status FB dan di milis. Peneliti memang idealis. Hanya karena kecintaan pada profesi, peneliti harus menegakkan kepala menunjukkan eksistensi dan berupaya berkontribusi, walau dalam hatinya kadang menangis melihat ketidakadilan ini.

Kalau kita bicara soal kemandirian bangsa, peneliti menjadi salah satu pendukungnya. Tanpa idealisme, godaan untuk keluar dari profesi peneliti sangat besar. Saya kira ‘brain drain’ terbesar ada di lembaga penelitian. Ini yang menyedihkan. Memang pertanyaan standar waktu mewawancara calon PNS peneliti, “Mengapa anda pilih jadi peneliti, peneliti kan kecil gajinya?” Hanya yang punya idealisme yang akan menjawabnya dengan mantap. Kalau menyesali jadi peneliti, benar kata teman saya “Salah sendiri jadi peneliti…”. Walau sebenarnya menyenangkan dan menantang jadi peneliti. Bagi orang idealis, kepuasan batin lebih utama dari kepuasan material, walau keduanya sama pentingnya.

Saya kira ungkapan tentang nasib peneliti hanya cetusan keprihatinan yang sudah lama terpendam dan sedikit tersalurkan ketika silaturrahim bersama Menristek di LIPI, BATAN, dan LAPAN di Bandung pertengahan Ramadhan lalu (27/8). Pada kesempatan itu pula saya menyoroti aspek lain, tetang peran riset (dan tentunya dengan komponen utama penelitinya) secara umum dalam mendukung inovasi nasional yang sedang menjadi perhatian Presiden dengan dibentuknya Komite Inovasi Nasional (KIN).

Peran Sentral Peneliti

Untuk mengingatkan bersama tentang komitmen Presiden, saya ingin mencuplik apa adanya beberapa butir arahan Presiden kepada Komite Inovasi Nasional dan Komite Ekonomi Nasional pada 15 Juni 2010, terkait peran riset dalam inovasi nasional. Presiden berpesan, ”… saya ingin sempitkan lingkup dari innovation di sini adalah eco innovation of research, development, and application. Biar connect sama ekonomi, KEN tadi, apa yang dilakukan oleh pemerintah, maka KIN bertugas betul bagaimana energi, pangan, dan air ini betul-betul dapat kita jaga ketahanannya, security-nya.

Selanjutnya pesan Presiden, “Mari, jangan diabaikan ini. Ini segala membangun intellectual curiosity seperti apa. …Kesehatan dan kedokteran, saya tidak berharap banyak di sini, negara kita negara tropis bukan hanya mencapai MDG, bukan hanya meningkatkan kesehatan masyarakat tapi juga memerangi penyakit-penyakit menular, malaria, demam berdarah, HIV AIDS, apalagi Ibu Menkes? Banyak sekali di Papua, di negara segala macam itu, dan siapa tahu Tuhan menakdirkan lahir di bumi Indonesia ini researcher, innovator yang bisa menghasilkan obat anti kanker misalnya, anti HIV AIDS, dan yang lain-lain.”

Dalam bidang lain Presiden berpesan, “Kelautan, maritim. Bayangkan Indonesia, lihat ini Bapak, Ibu. Ini skalanya mungkin pas tidak. Tapi yang jelas daratannya ini seperempat, tiga perempat itu ocean, lautan, dengan segala resources di dalamnya. Itu kalau resources. Tapi juga untuk pelintasan kapal, untuk macam-macam, untuk menjaga ekosistem kita, bisa juga untuk carbon capture, carbon sink, dan sebagainya. Mari kita bangun inovasi, teknologi, seperti apa kelautan, maritim ini bisa kita kembangkan dengan baik.”

Presiden juga menantang, ”Pertahanan dan teknologi kesenjataan. Saya kira sangat jelas itu doktrin kita, yang bisa kita bikin sendiri tidak perlu kita beli. Kita membeli kalau memang tidak bisa kita bikin sendiri dan kita perlukan benar. Itu pun dengan konsep sharing, joint investment, joint production, transfer of technology,the rest harus bisa kita hasilkan di negeri sendiri. dan sebagainya. Memalukan sebagai bangsa kalau peluru, senapan-senapan, perlengkapan militer kita beli.”

Di telinga peneliti, pesan Presiden sangat indah dan menantang. Inovasi berakar dari riset, tanpa membedakan riset dasar, riset terapan, kapasitas produksi, dan difusi. Semuanya saling terkait dan saling mendukung. Kemandirian berasal dari inovasi. Tanpa inovasi jangan berharap menjadi bangsa yang mandiri. Tanpa riset, kita hanya jadi bangsa pengguna teknologi dan pencontek informasi. Jumlah publikasi ilmiah dan paten menjadi ukuran keunggulan riset dan inovasi suatu bangsa.

Kalau riset dan inovasi dianggap sentral dalam kemandirian bangsa, mengapakah nasib peneliti dinomorsekiankan? Akankah kecenderungan ”brain drain” disuburkan, aset SDM bangsa dibiarkan mengalir ke luar negeri dan peneliti beralih haluan ke profesi lain yang lebih menjanjikan? Saya percaya komitmen Presiden segera diwujudkan dalam membangun budaya riset yang kondusif serta memberikan kelayakan hidup dan kenyamanan kerja bagi penelitinya. Tentunya itu berorientasi pada terwujudnya gairah inovasi nasional menuju kemandirian bangsa.

Badai Matahari dan Badai Geomagnetik: Bukan Badainya yang Lumpuhkan Bumi, tetapi Teknologi Manusia yang Rentan Badai Antariksa

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Lagi-lagi ada berita yang menakutkan seolah badai matahari dan badai geomagnetik (secara umum disebut badai antariksa) akan melumpuhkan seluruh bumi. Media massa mengutip pernyataan Menteri Pertahanan Inggris Liam Fox bahwa badai geomagnetik akan melumpuhkan seluruh bumi pada 2013. Hal ini perlu diluruskan.

Tidak ada prakiraan ilmiah yang menyatakan akan terjadi badai antariksa hebat yang akan membahayakan bumi. Secara umum siklus aktivitas matahari yang puncaknya sekitar 2013 tidak lebih kuat daripada siklus-siklus sebelumnya. Pada saat puncak aktivitas tersebut memang akan terjadi peningkatan kejadian badai antariksa. Tetapi, tidak ada satu pun prakiraan akan adanya badai antariksa superkuat yang akan mengancam bumi.

Lalu mengapa dikhawatirkan? Kekhawatiran muncul karena makin meningkatnya ketergantungan manusia pada teknologi yang rentan terhadap gangguan badai antariksa, yaitu teknologi satelit. Khusus di negara-negara dekat kutub, teknologi jaringan listrik  juga sangat rentan terkena induksi.

Bisakah diatasi? Insya-allah bisa. Karena kerentanan ada pada sistem teknologinya, maka mitigasinya harus pada pengamanan sistem teknologi tersebut. Bila diperkirakan akan terjadi badai antariksa atau telah terjadi badai antariksa yang beberapa saat lagi dampaknya mencapai lingkungan antariksa sekitar bumi, maka operator satelit dan operator jaringan listrik harus melakukan langkah-langkah pengamanan, antara lain dengan mematikan sementara instrumen yang peka badai matahari.

Tidak ada dampak badai antariksa secara langsung pada kehidupan manusia. Hanya aspek teknologi yang mungkin terganggu bila tidak diantisipasi.

Tulisan terkait:

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/09/21/badai-matahari-dan-badai-geomagnetik-bukan-badainya-yang-mematikan-tetapi-teknologi-manusia-yang-rentan-badai-antariksa/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/06/17/badai-matahari-2013-tidak-hancurkan-bumi/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/21/badai-matahari-dan-isu-kiamat-2012/

Tentang Kontroversi Hawking: Allah Mencipta Semesta dengan Cara-Nya

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika LAPAN

Buku sains populer oleh Stephen Hawking, pakar kosmologi dan fisika teoritik, sering menyinggung sisi kontroversi hubungan sains – agama. Isinya secara umum membahas tentang hukum-hukum fisika dan fenomena alam semesta, tetapi kemudian dikaitkan dengan eksistensi Tuhan menurut cara pandang pribadinya. Kesimpulannya: Tidak ada Tuhan. Dua buku yang menarik perhatian publik adalah ”A Brief History of Time” (1988) yang mempertanyakan peran Tuhan dan “The Grand Design” yang baru diluncurkan September 2010 ini yang tegas menyatakan tidak perlu ada Tuhan untuk terjadinya alam semesta ini. Sisi kontroversial ini yang kemudian menjadi sorotan media massa, karena ketika nilai-nilai agama tersentuh, orang seolah tergugah rasa ingin tahunya, walau sebenarnya kesimpulan hubungan sains – agama terasa mengada-ada.

Hawking dalam buku “A Brief History of Time” menyatakan bahwa tidak ada  batas  dalam waktu, tidak ada singularitas Big  Bang dengan menyebutnya “No-boundary condition”. Dengan   menggunakan  keadaan  tak   berbatas     ini (“No-boundary condition”),   Hawking menyatakan bahwa alam  semesta  mulai hanya    dengan   keacakan   minimum   yang   memenuhi    Prinsip Ketidakpastian.  Kemudian  alam semesta mulai  mengembang  dengan pesat.  Dengan Prinsip Ketidakpastian ini, dinyatakan bahwa  alam semesta tak mungkin sepenuhnya seragam, karena di sana sini pasti didapati  ketidakpastian posisi dan kecepatan  partikel‑partikel. Dalam alam semesta yang sedang mengembang ini kerapatan (density) suatu  tempat  akan  berbeda  dengan  tempat  lainnya.  Gravitasi menyebabkan daerah yang berkerapatan tinggi makin lambat  mengembang dan mulai memampat (berkontraksi).  Pemampatan  inilah  yang akhirnya  membentuk galaksi‑galaksi, bintang‑bintang,  dan  semua benda‑benda langit. Berdasarkan  model  tersebut  Hawking  menyatakan,   “Sejauh anggapan  bahwa alam semesta bermula, kita mengganggap  ada  Sang Pencipta.  Tetapi  jika  alam  semesta  sesungguhnya  ada  dengan sendirinya, tak berbatas tak bertepi, tanpa awal dan akhir,  lalu di manakah peran Sang Pencipta.”

Buku barunya yang ditulis bersama pakar fisika Leonard Mlodinow ”The Grand Design” (berdasarkan pemaparan Wikipedia) mengulas tentang alam semesta dan hukum-hukumnya secara populer. Bagian utama yang disorot adalah bahasan tentang teori mekanika kuantum dan teori relativitas yang diarahkan untuk menjelaskan bahwa alam semesta dapat terbentuk dari ketiadaan. Hawking menyatakan, ”Karena ada hukum seperti Hukum Gravitasi, alam semesta dapat dan akan menciptakan dirinya dari ketiadaan. Penciptaan dengan sendirinya menjadi alasan adanya sesuatu bukannya ketiadaan, adanya alam semesta, dan adanya kita. Tidak perlu campur tangan Tuhan untuk menjadikan alam semesta.”

Cara pandang Hawking dalam buku pertama dan kedua sama saja, bahwa karena adanya hukum alam seperti hukum gravitasi maka alam semesta bisa tercipta dengan sendirinya. Peran Tuhan tampaknya digambarkan sesuai dengan definisi keyakinannya, sehingga adanya hukum alam itu sendiri dianggapnya ada dengan sendirinya. Kalau mau ditelusur lagi logikanya, kita bisa mempertanyakan, lalu hukum alam itu dari mana asal usulnya? Hawking tidak membahas asal-usul hukum itu sendiri. Logika orang beriman segera mengarahkan bahwa pasti ada Tuhan Sang Pencipta yang menciptakan hukum-hukum di alam. Dalam bahasa Islam, hukum-hukum itu kita sebut Sunnatullah. Perintah-Nya ketika menciptakan alam ”Kun fa ya kun, Jadilah maka jadilah”, bisa difahami dengan sains bahwa Allah menciptakan alam dengan menciptakan hukum-hukum-Nya sehingga alam berproses sesuai hukum Allah (sunnatullah) tersebut. Jangan dibayangkan Allah menciptakan seperti manusia mencipta. Allah memang menciptakan alam semesta dengan cara-Nya.

Kita Bisa Bersatu Tanpa Mempermasalahkan Metode

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN dan Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI

Pertemuan Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama RI pada 2 September 2010 di Jakarta terasa istimewa. Bukan hanya dihadiri perwakilan Ormas Islam yang sudah biasa hadir dalam setiap pertemuan BHR, tetapi ada sejumlah kelompok yang sengaja dihadirkan untuk memberikan informasi langsung terkait tentang metode yang mereka gunakan dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Kelompok-kelompok tersebut sengaja dihadirkan karena sering berbeda dengan keputusan pemerintah dalam menetapkan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Namun hanya lima perwakilan yang hadir: Jamaah An Nadzir, Naqsabadiyah Padang, Naqsabandiyah Kholidiyah Jombang, Tariqah Satariyah Sidoarjo, dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Pertanyaan pokok yang disampaikan Dirjen Bimas Islam Prof. Dr. Nasaruddin Umar dalam pengantarnya, “Mungkinkah kita menyamakan visi tanpa mempermasalahkan metode”.

Setelah mendengarkan pemaparan singkat mereka, saya menyampaikan tanggapan yang intinya, “Kita bisa bersatu tanpa mempermasalalkan metode, tetapi dengan menyamakan kriteria.” Kesamaan utama semua kelompok tersebut sehingga mereka sering berbeda dengan keputusan pemerintah adalah ketaatan kepada Guru atau pemimpin mereka dalam melaksanaan ketaatan kepada Allah yang mereka yakini. Kita bisa menyamakan visi dan persepsi dalam bentuk suatu kriteria bersama tanpa mengubah ketaatan yang mereka yakini. Sama halnya dengan menyamakan persepsi antara NU dan Muhammadiyah tanpa mengubah metode yang mereka yakini masing-masing.

Jamaah An Nadzir sangat taat pada ajaran Gurunya yang mengajarkan penentuan awal bulan dengan menghisab dan mengamati bulan sejak purnama sampai bulan tua. Kemudian juga mengamati tanda-tandanya antara lain pasang air laut yang terbesar. Tariqat Satariyah, Naqsabandiyah Padang, dan Naqsabandiyah Kholidiyah Jombang menggunakan rukyat dengan mata hati dan didukung oleh hisab lama yang bersifat urfi (bulan berselang seling 30 dan 29 hari, Ramadhan selalu 30 hari). Hizbut Tahrir mendasarkan pada rukyat yang bersifat global.

Bisakah menyatukan persepsi mereka?  Menurut saya, bisa.  Kuncinya jangan mempermasalahkan metode mereka, apalagi yang terkait dengan ketaatan yang diyakininya. Kalau mereka benar-benar mempunyai tujuan yang sama dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, mestinya tidak ada niat untuk menonjolkan ego kelompoknya. Memang dalam pertemuan tersebut saya menyimpulkan tidak tampak adanya ego kelompok, tetapi semata-mata ingin menyempurnakan ketaatan yang diyakininya. Kalau begitu, pasti ada titik temu yang bisa kita upayakan untuk menyamakan persepsi.

Kesamaan persepsi itu kita dudukkan dalam kerangka sistem kalender yang mapan, yang bisa kita gunakan untuk kegiatan muamalat sehari-hari dan dalam kegiatan ibadah. Suatu sistem kalender akan mapan bila terpenuhi 3 syarat:

  1. Ada batasan wilayah keberlakukan (nasional atau global).
  2. Ada otoritas tunggal yang menetapkannya.
  3. Ada kriteria yang disepakati.

(Lihat: https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/08/10/menuju-kalender-islam-indonesia-pemersatu-ummat/ )

Mari kita samakan dulu persepsi batas wilayah keberlakuan sistem hisab rukyat dan kalender kita. Walau kita semua berharap adanya adanya kesatuan ummat Islam secara global, kita memerlukan tahapan yang realistis. Batas wilayah yang realistis bisa kita tetapkan sementara, batas wilayah Indonesia, tempat kita berada. Umumnya ulama kita bersepakat dengan batas wilayah ini dalam bentuk wilayatul hukmi, wilayah hukum. Nanti, bila kita sudah bersepakat dan mapan di tinggkat nasional, wilayah keberlakukan kita kembangkan menjadi tingkat regional ASEAN (seperti kesepakatan MABIMS: Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), kemudian tingkat global. Secara umum semua ormas dan kelompok ummat Islam di Indonesia bisa bersepakat dalam soal batas wilayah ini, walau kita bercita-cita mengembangkannya untuk batas wilayah global.

Konsep rukyat global saudara-saudara kita dari HTI sebenarnya juga bisa sejalan dengan konsep batas wilayah nasional tersebut, kalau kita samakan persepsi bahwa garis tanggal qamariyah berbeda dengan garis tanggal syamsiah. Niat ikhlas menegakkan syariat Allah saudara-saudara kita HTI jangan sampai terjebak pada garis tanggal internasional hasil konvensi manusia. Dalam kaidah ilmu falak-astronomis, rukyat global bermakna merujuk pada wilayah sebelah Timur. Konsep tersebut merepresentasikan eksistensi garis tanggal qamariyah yang merupakan batas wilayah yang lebih dulu rukyat (sebelah Barat) dan yang belakangan rukyat (sebelah Timur). Garis tanggal qamariyah selalu berubah setiap bulannya karena tergantung pada posisi bulan dan matahari yang terus berubah. Garis tanggal qamariyah pun sebenarnya tidak selalu membagi Timur dan Barat, tetapi bisa Timur-Laut dan Barat-Daya atau Tenggara dan Barat-Laut. Hadits Kuraib yang menjadi fokus perdebatan mathla’ lokal dan mathla’ global menjadi tidak relavan dipersoalkan bila memandangnya ada garis tanggal qamariyah yang memisahkan antara Madinah dan Syam (Syria). Pada zaman dahulu, orang cenderung melihatnya secara lokal di sekitar garis tanggal tersebut sehingga seolah ada mathla’ lokal. Kini kita harus melihatnya secara global bumi sebagai bola. Pasti ada awal hari yang bergerak ke arah Barat sehingga seolah wilayah sebelah Timur menjadi belakangan harinya. Kalau di negara-negara Arab lebih dulu beridul fitri (bila didasarkan pada rukyat yang benar) daripada di Indonesia adalah hal yang wajar bila garis tanggal qamariyah  membelah antara wilayah Arab dan Indonesia. Dalam hal seperti itu, rukyat dimulai dari wilayah Arab dan Afrika, kemudian Eropa, Amerika, dan baru Asia.

Kita juga bisa samakan persepsi tentang otoritas tunggal sistem hisab rukyat dan kalender kita. Menteri Agama secara umum bisa kita terima menjadi otoritas tunggal yang menetapkan awal bulan qamariyah secara nasional. Dalam penentuannya Menteri Agama dibantu oleh Badan Hisab Rukyat yang terdiri dari perwakilan ulama, ormas Islam, dan pakar yang menguasai hisab rukyat. Khusus dalam penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah Menteri Agama pun menetapkannya dalam suatu forum musyawarah yang disebut sidang itsbat. Kalau nanti akan dikembangkan secara regional atau global, otoritas yang realistis menurut kondisi sekarang adalah otoritas kolektif semacam MABIMS di tingkat ASEAN atau semacam OKI (Organisasi Konferensi Islam) di tingkat global. Konsep khilafah saudara-saudara kita HTI dengan melihat realitas ummat saat ini mestinya juga bisa sejalan. Bersatu bersama tetangga dan saudara satu wilayah tentu punya dampak dakwah dan ukhuwah yang lebih kuat dan mendalam.

Kita juga perlu samakan persepsi tentang kriteria. Ini belum terwujud. Tetapi suasana cair ormas-ormas Islam yang mulai terbuka untuk berdialog tentang kriteria ini sudah mulai tampak. Dimulai sejak pertemuan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi dan Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Dien Syamsuddin yang difasilitasi Wapres Jusuf Kalla pada Ramadhan 1428/September 2007 lalu dan kemudian ditindaklajuti dengan pertemuan teknis di PBNU (2 Oktober 2007) dan PP Muhammadiyah (6 Oktober 2007) yang difasilitasi Dirjen Bimas Islam, Prof. Nasaruddin Umar. Menyamakan kriteria tanpa harus mengubah metode yang diyakini masing-masing ormas. Metode hisab atau rukyat terus jalan, walau beberapa metode perlu ada penyesuaian dan penyempurnaan. Metode pengamatan bulan tua dan pasang maksimum yang diterapkan Jamaah An Nadzir juga silakan diteruskan, tetapi perlu masukan astronomis yang nanti perlu dibicarakan. Metode rukyat dengan mata hati dan hisab dengan sistem urfi yang digunakan beberapa kelompok tariqat juga perlu disempurnakan. Masih perlu waktu, tetapi jalan sudah terbuka. Insya-allah kita bisa bersatu.

Jabal Magnet Sekadar Ilusi

T. Djamaluddin

Sudah lama saya mendengar tentang keanehan bukit magnet dekat Madinah yang selalu menjadi tujuan kunjungan jamaah haji dan umrah. Benarkah karena tarikan magnet yang kuat sehingga mobil kecil sampai besar bisa meluncur lebih dari 100 km/jam dengan kondisi gigi netral? Secara ilmiah tidak ada teori yang bisa menjelaskan itu pengaruh magnetik yang kuat atau pengaruh gravitasi. Kalau karena magnetik, pertanyaan yang muncul adalah mengapa setelah lewat bukit tersebut mobil tidak tertarik kembali, karena mobil sekadar dianggap seperti besi yang terkena pengaruh magnet.

Ada yang mengaitkan karakteristiks magnetik di wilayah sekitar Madihah dan Mekkah yang seolah berbeda dengan wilayah lain di dunia. Digambarkan seolah jarum kompaspun arahnya tak tentu. Arah jarum kompas di seluruh dunia tergantung arah deklinasi magnetik (penyimpangan utara magnetik dari Utara sebenarnya) yang setiap tahun berubah. Lembaga survey geomagnetik selalu mengeluarkan kontur deklinasi magnetik secara berkala. Nilai deklinasi magnetik positif berarti Utara magnetik menyimpang agak ke Timur sekian derajat dari Utara sebenarnya. Misalnya, di lokasi Jabal Magnet (24,72 LU, 39,44 BT) pada Oktober 2010 deklinasi magnetiknya 3 derajat 19′ dengan perubahan 0 derajat 4’/tahun. Perubahan secara global sejak 1590 – 1990 digambarkan berikut ini:

Di banyak tempat fenomena seperti itu juga ada, disebut Bukit Magnet (Magnetic hills) atau Gravity Hills. Wikipedia sudah mengumpulkan bukit-bukit tersebut di http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_magnetic_hills

Para ilmuwan sudah menyatakan bahwa itu bukan karena pengaruh magnet atau gravitasi, tetapi sekadar ilusi topografi setempat. Jalan yang menurun, tetapi tampak seolah datar atau menanjak akibat struktur bukit di sekitarnya. Akibatnya yang terlihat dan terasa mobil dalam keadaan gigi netral bisa dengan mudah meluncur, tanpa menggunakan tenaga mesinnya.

Ilustrasi ilusi dibuatkan simulasinya oleh Koukichi Sugihara yang membuat  video berjudul  “Impossible motion: magnet-like slopes” dalam kompetisi visual ilusi internasional dan memenangkannya pada Mei 2010 lalu. Pada video tampak seolah bola-bola kayu menanjak dengan sendirinya. Nyatanya, jalur menanjak itu hanyalah ilusi. Yang sesungguhnya terjadi jalur tersebut menurun. Kamera video mensimulasikan cara mata kita terilusi oleh sudut pandang topografi setempat. Kalau kita melihat dari sudut pandang lain, maka jelaslah kondisi yang sebenarnya jalan tersebut menurun. Hal yang sama juga terjadi pada kasus jabal magnet atau bukit magnet di dekat Madinah. Ini video simulasinya: