Janji Hakiki


T. Djamaluddin

(Dimuat di Republika,  Hikmah, 23 Maret 2000)

Dia (Allah) berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. (QS 41:11)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka  menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)

Setelah Allah menciptakan alam semesta dan manusia, kemudian Allah ‘melantiknya’ dengan mengambil janji. Langkah ini pula yang kita tiru ketika kita menetapkan seseorang menjadi pejabat pemegang amanat. Maksudnya, tentu agar setiap langkah dan tindakannya tidak lepas dari janji yang pernah diucapkannya.

Langit dan bumi adalah makluk fisik yang tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan sebatas ‘program’ yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih dari itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS 33:72).

Bukti ketaatan langit dan bumi mudah dilihat dari gerakan mengitari pusat massanya. Gunung-gunung mengitari pusat bumi. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari. Matahari dan ratusan milyar bintang mengitari pusat galaksi. Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya gravitasi. Dalam bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan kepada Khaliq-nya, tanpa tawar-menawar sesuai janjinya.

Jasad manusia pun benda fisik yang tidak berbeda dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen juga terdapat di alam. Gerakannya pun mengikuti hukum yang berlaku di alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti jatuhnya batu. Bila mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah. Secara jasmaniah, manusia memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi tercipta.

Namun manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian ruhani yang menjadi ciri dasar kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya (QS 17:70). Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan diberi pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-31), hingga malaikat pun diperintahkan Allah untuk bersujud. Allah memang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS 95:4). Namun keistimewaan itu bersyarat, bila  sejumlah keterbatasannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi.

Manusia punya kecenderungan tidak sabar, banyak berkeluh kesah, dan kikir (QS 70:19). Manusia juga lemah (QS 4:28) dan bersifat tergesa-gesa (QS 17:11). Kelemahan-kelemahan seperti itu terkait dengan catatan Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh, walaupun sanggup memegang amanat yang berat.

Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya itu manusia pun bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak disertai iman dan amal shalih (QS 95:5). Memelihara amanat dan janji adalah salah satu kunci mengatasi kelemahan manusia (QS 70:32) dan menjadi ciri keimanan (QS 23:8).

Thawaf saat berhaji yang menirukan gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji hakiki saat awal makhluk diciptakan-Nya. Setidaknya kita semua diingatkan dengan bacaan Al-Fatihah setiap rakaat shalat akan janji hakiki pengakuan keberadaan Allah. Memegang janji yang hakiki itu menjadi dasar untuk menjaga janji dan amanat yang lebih luas.

Iklan
%d blogger menyukai ini: