“Meteor” Cirebon Sesungguhnya Bukan Meteorit


T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-astrofisika, LAPAN

Berita mengheboh kembali terjadi soal meteor. Kini agak aneh, dikabarkan ada meteor jatuh di komplek Pabrik Gula Tersana Baru, Babakan, Kabupaten Cirebon pada Rabu malam, 18 Agustus 2010,  sekitar pukul 20.30 WIB. Beberapa karyawan pabrik dan warga merekamnya dengan video dan kamera HP. Meleleh terbakar dengan warna api biru. Sehingga ada media menjulukinya “Meteor Biru”. Bau belerang sangat menyengat di lokasi tersebut. Warga dan satpam setempat memadamkan apai dengan menaburkan pasir. Polisi dari Polsek Babakan bertindak cepat, mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi kemudian mengambil sampel lempengan beku dari lokasi terebut. Lempengan bekuan lelehan tersebut berdiameter sekitar 50 cm. Ketika dibongkar, lempengan tersebut rapuh sehingga menjadi kepingan-lepingan selebar telapak tangan (gambar di atas).

Untuk menjawab pertanyaan masyarakat LAPAN mengirimkan tim ke lokasi. Dua peneliti, T. Djamaluddin dan Abdul Rahman, didampingi Tim Humas LAPAN mengumpulkan sampel dan informasi pendukung pada Kamis malam. Pertama, mendapat penjelasan dari Kapolsek Babakan, Pak Sunarko, SH tentang kejadiannya disertai dengan foto-foto dan sampel yang telah dikumpulkan. Beberapa sampel dan foto diambil untuk dianalisis. Kemudian mengunjungi lokasi kejadian untuk melihat langsung dugaan titik jatuh dan mengumpulkan informasi dari para saksi.

Informasi yang kami dapatkan tidak menunjukkan adanya lubang seperti diberitakan. Hanya tanah datar berpasir yang di atasnya sebelumnya ada lempengan bekuan yang diduga meteorit. Jadi tidak ada indikasi tumbukan keras. Tidak ada saksi yang dapat menjelaskan arah jatuhnya “bola api”, tetapi tiba-tiba melihat api berwarna biru yang menyala. Walau pun kabarnya ada juga warga di tempat yang jauh melihat cahaya meluncur, tetapi tidak  diperoleh informasi arah datangnya.

Berdasarkan sampel dan informasi tersebut kami melakukan analisis pendahuluan dimulai dari analisis fisik sampel dan informasi saksi. Walau pun sebagian sampel tampaknya seperti logam, tetapi sangat rapuh dan tidak menunjukkan sifat magnetik. Adanya sampel dengan sisa belerang menjadi kunci awal yang menjelaskan fenomena yang terjadi. Bau belerang disebabkan karena adanya belerang yang terbakar. Analisis kemudian mengarah pada sifat fisis belerang.

Belerang (sulfur) adalah zat yang mudah terbakar dan bila terbakar menimbulkan nyala api berwarna biru.  Api berwarna biru seperti itu  pula yang bisa kita saksikan pada foto-foto lava belerang panas di Kawah Ijen. Belerang juga mudah meleleh pada suhu sedikit di atas titik didih air, sekitar 100 derajat C. Dua sifat tersebut menjelaskan objek yang dikira meteor itu bisa meleleh dan terbakar dengan api berwarna biru.  Bila terpapar panas tinggi sampai 200 derajat, warnanya berubah menjadi merah tua. Warna merah itu yang juga tersisa pada sebagian sampel seperti gambar di atas.

Dari mana asal muasal belerang di lokasi tersebut? Belerang (tepatnya gas hasil pembakarannya, SO2) memang digunakan di Pabrik Gula tersebut untuk memutihkan kristal gula. Jadi bisa saja ada belerang yang tercecer (atau sengaja diletakkan) di tempat tersebut. Lalu dari mana asal muasal api yang membakar belerang tersebut? Tim LAPAN tidak berminat untuk mencari tahu, yang jelas bukan dari langit. Tidak ada meteor api. Hal yang mungkin terjadi adalah segumpal belerang terbakar atau dibakar  lalu terlempar atau dilemparkan. Belerang terbakar menghasilkan api biru yang menarik perhatian. Orang yang datang ke lokasi akan melihat belerang yang meleleh dan terbakar. Lelehannya menyebar mengikuti alur tanah, mungkin ada yang menafsirkan membentuk seperti lafaz Allah. Sementara belerang terbakar menghasilkan belerang oksida SO2 dengan bau menyengat.

Hasil pengkajian lapangan dan analisis sampel secara umum mengindikasikan hal-hal berikut: Tidak adanya lubang tumbukan. Tidak ada saksi yang menjelaskan arah datangnya “meteor”. Secara astronomi tidak dikenal adanya meteorit yang meleleh dan menghasilkan api. Dan temuan sisa belerang memberikan indikasi sifat fisis objek diduga meteor itu seperti pembakaran belerang. Atas dasar pengkajian lapangan dan analisis tersebut kami menyimpulkan dugaan “meteor” di Cirebon tersebut sebenarnya bukan meteor, tetapi belerang yang terbakar atau dibakar.

%d blogger menyukai ini: