Jawaban Pertanyaan Publik: Langit Terbelah, Empat Matahari, Hujan Darah India

Bulan Agustus 2010 ini banyak pertanyaan publik (langsung atau melalui media massa) terkait beberapa fenomena yang dianggap aneh, walau sebenarnya biasa saja. Langit tampak terbelah. Ada empat matahari yang terbit bersamaan, walau sebenarnya sekadar empat cahaya pengiring matahari. Ada hujan darah atau hujan berwarna merah di India.

Beberapa berita sebenarnya berita lama. Video empat matahari sebenarnya berasal dari fenomena Februari 2007 di Kazakhstan, tetapi disebut di Cina.  Berita hujan merah di Kerala, India Selatan, terjadi tahun 2001 dan diangkat lagi tahun 2006 dengan adanya publikasi hasil penelitian baru.

LANGIT TERBELAH

Langit yang tampak terbelah disebabkan oleh adanya awam Cumulonimbus (Cb, awan hujan) yang menjulang di balik ufuk/horizon yang menghalangi cahaya matahari yang menjelang terbit atau baru saja terbenam. Cahaya matahari menjelang terbit atau yang baru terbenam dihamburkan oleh atmosfer dan awan di sekitar ufuk menjadikan langit berwarna merah. Tetapi karena ada sebagian cahaya yang terhalang awan Cb, maka seolah ada celah hilam yang membelah langit. Bila awan Cb tersebut sangat tebal, maka kontrasnya akan terlihat di seluruh langit sehingga seolah seluruh langit terbelah dari Barat ke Timur. Fenomena tersebut dikenal sebagai crepuscular rays yang tampak dari arah matahari terbit/terbenam atau anticrepuscular rays yang tampak seolah dari arah yang berlawanan dengan matahari terbit/terbenam.

Empat Matahari

“Empat matahari” atau ada juga yang menyebutnya “anak matahari” tampak sebagai empat bulatan cahaya kecil di sekitar matahari yang terangkai oleh cincin cahaya. Fenomena itu sama dengan fenomena cincin matahari atau halo yang sering kita lihat di Indonesia. Penyebabknya adalah kristal-kristal es yang sangat halus di awan tinggi (awan Cirrus) atau di udara sekitar. Artinya harus ada kondisi sangat dingin di awan tinggi atau di sekitar wilayah tersebut. Oleh karenanya fenomena seperti itu tidak selalu terjadi, tetapi cukup sering.

Fenomena “empat matahari” disebut fenomena “sundogs” (seolah anjing penjaga matahari) atau parahelia (matahari semu) yang disebabkan oleh kristal-kristal es di awan tinggi (cirrus) atau di udara sekitar. “Sundogs” hanya terjadi di dekat ufuk (kaki langit. horizon), berbeda dengan “halo” yang bisa juga terjadi di langit tinggi. Secara umum, kristal-kristal es halus menyebabkan cahaya matahari dibiaskan membentuk cincing pelangi di sekitar matahari yang dinamakan “Halo”.  Ketika matahari dekat ufuk, selain terbentuknya Halo, ada efek pembiasan lain oleh  kristal-kristal es yang menyebabkan munculnya cahaya lebih kuat di sisi kanan dan sisi kiri halo.

Sundogs biasanya hanya ada dua cahaya pengiring matahari tersebut. Mengapa ada empat? Saya menduga dua pengiring dekat matahari disebabkan oleh kristal-kristal es di awan tinggi (awan Cirrus) dan dua lainnya yang jauh dari matahari disebabkan oleh kristal-kristal es di udara sekitarnya pada musim dingin di Kazakhstan (yang wajah penduduknya dikira Cina) Februari 2007.

Hujan Darah atau Hujan Merah di India

Kejadian hujan merah (media massa menyebutnya hujan darah) di Kerala, India Selatan, terjadi pada 25 Juli sampai akhir September 2001. Kejadian serupa pernah terjadi beberapa kali sebelumnya. Penelitian oleh lembaga riset pemerintah India menyimpulkan bahwa warna merah disebabkan oleh sejenis ganggang bernamaTrentepohlia yang umumnya banyak menempel di batang pohon, batu, dan beberapa benda lainnya di wilayah itu. Tampaknya ada kondisi tertentu yang menyebabkan lepasnya serbuk ganggang tersebut dalam jumlah banyak dan terbawa oleh aliran udara lalu terakumulasi bersama air hujan. Jadi bukan hal yang aneh.

Pada tahun 2006 muncul publikasi peneliti lain yang berhipotesis bahwa partikel merah tersebut berasal dari sel hidup yang berasal dari luar bumi yang jatuh di wilayah tersebut bersamaan meteorit yang pecah. Tetapi hipotesis ini lemah. Partikel-partikel meteorit yang terhambur di atmosfer tidak mungkin bertahan lama (sekitar dua bulan) dalam proses pencucian oleh hujan.

PELANGI

T Djamaluddin

(Dimuat di Republika, Hikmah, 21 Januari 2003)

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa (QS 49:13).

Kombinasi proses pembiasan dan pemantulan cahaya matahari oleh butir-butir air hujan menghasilkan pelangi yang indah melengkung di langit. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu adalah warna lengkapnya yang mengungkapkan hakikat warna cahaya matahari. Keragaman warnanya hanya ditampakkan untuk menunjukkan keindahan.  Hijaunya daun, merahnya mawar, kuningnya emas, putihnya melati, serta birunya langit dan laut tampak karena sifat pantulan, serapan, atau hamburan warna cahaya matahari oleh masing-masing zat tersebut.

Dari segi spektrum energinya, komponen cahaya matahari yang paling kuat adalah cahaya kuning. Tetapi hal itu tidak menjadikan seluruh alam jadi tampak kuning. Masing-masing komponen warna punya perannya masing-masing untuk menunjukkan keindahan alam raya. Ketika bersatu dalam satu berkas cahaya, kita tidak mengenali bahwa cahaya matahari sesungguhnya terdiri dari banyak komponen. Semuanya tampak menyatu. Pelangi menunjukkan keberagaman komponen cahaya matahari dalam keharmonisan dan keindahan.

Pelangi dan cahaya matahari adalah suatu pelajaran tentang persatuan yang hakiki. Karakteristik masing-masing komponen tidak harus ditonjolkan, dihilangkan, atau diseragamkan, karena keanekaragaman adalah suatu kekayaan.  Masing-masing komponen punya peran dan keunggulan tersendiri. Kekuatan mayoritas pun tidak boleh memaksakan atau mendominasi.

Allah menciptakan manusia berkelompok-kelompok (QS 49:13). Dengan kekhasannya masing-masing, anggota kelompok bisa saling mengenal lebih dekat karena kemiripan tradisi, visi, dan misi mereka. Masing-masing kelompok punya karakteristik yang tidak harus dibaurkan atau diseragamkan demi persatuan. Berbangsa-bangsa dan berkelompok-berkelompok itu agar saling mengenal dalam kelompok kecil tersebut, demikian firman-Nya. Bukan untuk berpecah dengan kelompok lain. Bukan untuk membanggakan kelompoknya atau merendahkan lainnya.

Bersuku-suku, berpartai-partai, atau berkelompok-kelompok adalah sunatullah. Biarlah ada suku A, B, atau C. Biarlah ada partai K, L, atau M. Biarlah ada ormas X, Y, atau Z. Keanekaragamannya seindah pelangi. Tetapi ketika dipersatukan dalam memperjuangkan tegaknya agama Allah,  semua menyatu seperti seberkas cahaya matahari yang cemerlang.

Tidak ada suku, partai, atau kelompok yang merasa paling unggul, paling kokoh, paling banyak pendukungnya, paling reformis, atau paling baik dengan merendahkan lainnya. Kelompok yang direndahkan bisa jadi lebih baik (QS 49:11). Sesungguhnya keunggulan hakiki hanyalah Allah yang paling tahu dari kadar ketaqwaannya (QS 49:13).

Persatuan adalah perwujudan keharmonisan masing-masing komponen yang menerima perbedaan sebagai suatu kekayaan yang memperindah kehidupan. Menyeragamkan sering menghasilkan persatuan yang semu. Ibarat pelangi, perbedaan warna muncul hanya untuk menunjukkan keindahan, bukan untuk bercerai berai.

Ceramah Peringatan Nuzulul Quran 1431 di Istana Negara: Al-Quran dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi Astrofisika, LAPAN

(Ceramah hikmah Peringatan Nuzulul Quran di Istana Negara, 17 Ramadhan 1431/26 Agustus 2010)

Yang kami hormati Bapak Presiden dan Ibu Ani Yudhoyono,

Yang kami hormati Bapak Wakil Presiden dan Ibu Herawati Boediono,

Bapak-bapak Pimpinan Lembaga Tinggi Negara yang terhormat,

Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II yang terhormat,

Yang Mulia Para Duta Besar negara sahabat,

Dan hadirin yang berbahagia,

Bila cuaca cerah, malam ini kita akan melihat sebuah bintang sangat terang di ufuk Barat. Itulah bintang paling terang malam ini, Bintang Kejora yang sesungguhnya bukan bintang melainkan planet Venus. Walau sangat terang, kecerlangannya tidaklah abadi.  Menjelang isya cahayanya ditenggelamkan oleh cahaya bulan pasca purnama. Tidak lama ia di langit yang tinggi, hanya dalam beberapa jam bintang cemerlang itu benar-benar terbenam. Muncullah bulan pasca purnama dengan dengan wajah masih hampir bulat terang menguasai langit malam ini.  Tetapi rembulan pun tak kan abadi. Saat pagi Matahari muncul jauh lebih terang, cahayanya memucatkan rembulan di ufuk barat menjelang terbenam. Matahari pun tak kekal di langit, ada saatnya akan terbenam pula.

Bayangkan suasana seperti itu bukan di tengah kota, tetapi di tengah padang pasir. Bayangkan kita sedang bersama Nabiyullah Ibrahim ‘alaihi salam yang sedang merenungi makna tauhid, keesaan Allah, dengan akal langsung dari alam. Allah menceritakan kisah menarik itu di dalam QS Al-An’am: 76-79

“….Ketika malam telah gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Bapak Presiden Republik Indonesia yang saya muliakan, serta hadirin yang saya hormati,

Banyak hikmah dapat kita petik dari kisah Nabi Ibrahim tersebut untuk merenungi ayat-ayat kauniyah, ayat-ayat Allah di alam, untuk menemukan hakikat Allah dan mengambil pelajaran darinya. Ya, membaca ayat-ayat-Nya. Hal yang sama dalam format berbeda diajarkan juga oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad SAW pada malam turunnya Al-Qur-an, Nuzulul Qur-an:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS Al-Alaq:1 – 5).

”Bacalah” bukan sekadar bermakna membaca ayat-ayat Allah di kitab, tetapi membaca juga ayat-ayat Allah di alam semesta, ayat-ayat kauniyah. Membaca alam bermakna merenungi ciptaan Allah. Asal usulnya, prosesnya, hukum-hukum yang berlaku padanya, dan kesudahannya. Itulah menjadikan intelektualitas manusia berkembang. Kecendekiawanannya lebih bermakna.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (para cendekia), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (Bila dijumpai sesuatu yang mengagumkan, ia mengembalikannya kepada Allah yang menciptakan): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau”. (Namun dengan menyadari keterbatan ilmu yang berpotensi salah dalam penjelajahan inetelektualnya sehingga senantiasa ia mohon ampunan Allah), “maka peliharalah Kami dari siksa neraka”.

Pada ayat tersebut Allah mengajarkan kita semua untuk menjadi “ulil albab”, orang yang senantiasa menggunakan akalnya. Menjadi cendekiawan yang senantiasa membaca alam. Empat cirinya: berdzikir, berfikir, bertauhid, dan beristighfar. Senantiasa berdzikir (ingat) kepada Allah dalam segala situasi. Tak jemu berfikir tentang segala fenomena alam. Bertauhid mengesakan Allah yang menciptakan alam ini. Tak lupa beristighfar atas kemungkinan lalai dan salah dalam pemikirannya.

Membaca alam secara mendalam kemudian menganalisisnya, merumuskannya, dan mengujinya akan menghasilkan sains, ilmu pengetahuan. Al-Quran mendorong umat Islam untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Ayat pembuka saat turunnya Al-Quran ”iqra, bacalah”, menjadi motivasi utama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Mestinya juga menjadi pendorong untuk melahirkan inovasi.

Ada tiga peran utama sains yang juga diajarkan Al-Qur-an. Pertama, peran sains menjawab keingintahuan manusia. Keingintahuan utama adalah asal-usul sesuatu dan mekanisme kejadian di alam. Beberapa hal diisyaratkan di dalam Al-Quran untuk renungan bagi manusia untuk memikirkannya. Kedua, peran sains melandasi pengembangan teknologi yang memudahkan manusia. Sepanjang sejarah manusia, teknologi dikembangkan untuk memudahkan aktivitas manusia. Perilaku alam yang dikaji sains banyak menginspirasi pengembangan teknologi. Beberapa ayat Al-Quran pun memberi tantangan untuk menguasai teknologi untuk mengungkap rahasia alam. Ketiga, menurut ajaran Islam sains juga berperan membantu mendekatkan diri kepada Allah.

Bapak Presiden Republik Indonesia yang saya muliakan, serta hadirin yang saya hormati,

Pertanyaan paling mendasar umat manusia adalah tentang asal-usul alam semesta dan segala isinya. Keingintahuan yang pokok inilah yang mendorong manusia mengkaji rahasia alam. Al-Quran merangkum asal-usul alam semesta itu dengan isyarat tentang ”enam hari penciptaan”. Sains yang dikembangkan dalam mengkaji fenomena alam kemudian kita balikkan untuk mencoba memahami isyarat ungkapan-ungkapan dalam Al-Quran

Alam diciptakan Allah dalam enam masa (Q.S. Fushshilat:9-12), dua masa untuk menciptakan langit sejak berbentuk dukhan (campuran debu dan gas), dua masa untuk menciptakan bumi, dan dua masa (empat masa sejak penciptaan bumi) untuk memberkahi bumi dan menentukan makanan bagi penghuninya. Ukuran lamanya masa (“hari”, ayyam) tidak dirinci di dalam Al-Qur’an. Belum ada penafsiran pasti tentang enam masa itu. Namun, berdasarkan kronologi saintifik tentang evolusi alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Al-Qur-an (Q.S. Fushshilat:9-12 dan Q.S. An-Nazia’at:27-32) kita coba fahami enam masa itu sebagai enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya manusia.

Masa pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang) (Q.S. Al-Anbiya:30, langit dan bumi asalnya bersatu) sekitar 13,7 milyar tahun lalu.

Dan Apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Inilah awal terciptanya materi, energi, dan waktu. “Ledakan” itu pada hakikatnya adalah pengembangan ruang yang dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah kuasa meluaskan langit (Q.S. Adz-Dzariyat:47). Materi yang mula-mula terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang-bintang generasi pertama. Hasil fusi nuklir antara inti-inti Hidrogen menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat, seperti karbon, oksigen, sampai besi.

Masa yang ke dua adalah pembentukan bintang-bintang yang terus berlangsung. Dalam bahasa Al-Quran disebut penyempurnaan langit. Dukhan (debu-debu dan gas antarbintang, Q. S. Fushshilat:11) pada proses pembentukan bintang akan menggumpal memadat. Bila intinya telah cukup panasnya untuk memantik reaksi fusi nuklir, maka mulailah bintang bersinar. Kelak bila bintang mati dengan ledakan supernova, unsur-unsur berat hasil fusi nuklir akan dilepaskan. Selanjutnya unsur-unsur berat yang terdapat sebagai materi antarbintang bersama dengan hidrogen akan menjadi bahan pembentuk bintang-bintang generasi berikutnya, termasuk planet-planetnya. Di dalam Al-Qur’an penciptaan langit kadang disebut sebelum penciptaan bumi dan kadang disebut sesudahnya karena prosesnya memang berlanjut.

Itulah dua masa penciptaan langit. Dalam bahasa Al-Qura’an, big bang dan pengembangan alam yang menjadikan galaksi-galaksi tampak makin berjauhan (makin “tinggi” menurut pengamat di bumi) serta proses pembentukan bintang-bintang baru disebutkan sebagai

Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya. (Q.S. An-Nazi’at:28)

Masa ke tiga dan ke empat dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya termasuk bumi. Proses pembentukan matahari sekitar 4,6 milyar tahun lalu dan mulai dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga penciptaan alam semesta. Proto-bumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus berotasi yang menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Itulah yang diungkapkan dengan indah pada ayat lanjutan pada Q.S. An-Nazi’at:29,

dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadikan siangnya terang benderang.

Masa pemadatan kulit bumi agar layak bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat. Bumi yang terbentuk dari debu-debu antarbintang yang dingin mulai menghangat dengan pemanasan sinar matahari dan pemanasan dari dalam (endogenik) dari peluruhan unsur-unsur radioaktif di bawah kulit bumi. Akibat pemanasan endogenik itu materi di bawah kulit bumi menjadi lebur, antara lain muncul sebagai lava dari gunung api. Batuan basalt yang menjadi dasar lautan dan granit yang menjadi batuan utama di daratan merupakan hasil pembekuan materi leburan tersebut. Pemadatan kulit bumi yang menjadi dasar lautan dan daratan itulah yang nampaknya dimaksudkan “penghamparan bumi” pada Q.S. An-Nazi’at:30,

dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya.

Menurut analisis astronomis, pada masa awal umur tata surya gumpalan-gumpalan sisa pembentukan tata surya yang tidak menjadi planet masih sangat banyak bertebaran. Salah satu gumpalan raksasa, 1/9 massa bumi, menabrak bumi menyebabkan lontaran materi yang kini menjadi bulan. Akibat tabrakan itu sumbu rotasi bumi menjadi miring 23,5 derajat dan atmosfer bumi lenyap. Atmosfer yang ada kini sebagian dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya berasal dari pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang komposisi terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi bumi karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio D/H pada air di bumi, sekitar 0.0002. Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam.

Pemanasan matahari menimbulkan fenomena cuaca di bumi: awan dan halilintar. Melimpahnya air laut dan kondisi atmosfer purba yang kaya gas metan (CH4) dan amonia (NH3) serta sama sekali tidak mengandung oksigen bebas dengan bantuan energi listrik dari halilintar diduga menjadi awal kelahiran senyawa organik. Senyawa organik yang mengikuti aliran air akhirnya tertumpuk di laut. Kehidupan diperkirakan bermula dari laut yang hangat sekitar 3,5 milyar tahun lalu berdasarkan fosil tertua yang pernah ditemukan. Di dalam Al-Qur’an Q.S. Al-Anbiya:30 memang disebutkan semua makhluk hidup berasal dari air.

Lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan merupakan masa ke enam dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 milyar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.

Tersedianya air, oksigen, tumbuhan, dan kelak hewan-hewan pada masa ke lima dan ke enam itulah yang agaknya dimaksudkan Allah memberkahi bumi dan menyediakan makanan bagi penghuninya (Q.S. Fushshilat:10). Di dalam Q.S. An-Nazi’at:31-33 hal ini diungkapkan sebagai penutup kronologis enam masa penciptaan,

Ia memancarkan dari padanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh‑tumbuhannya. Dan gunung‑gunung dipancangkan‑Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang‑binatang ternakmu”.

Al-Quran memberi isyarat banyak fenomena alam yang menjadi tantangan sains untuk mengungkapkannya. Tetapi manusia punya keterbatasan ilmu. Penafsiran dengan sains yang terus berkembang bukanlah memutlakkan pemahaman tunggal atas makna ayat-ayat Al-Quran yang terkait dengan fenomena alam. Menggali ’izzah Al-Quran (mukjizat Al-Quran) bukan pula untuk menghasilkan sains baru. Sains adalah temuan yang harus bisa dibuktikan oleh siapa pun

Bapak Presiden Republik Indonesia yang saya muliakan, serta hadirin yang saya hormati,

Al-Quran dengan isyaratnya mendorong eksplorasi antariksa dengan sains tentang perilaku orbit benda langit dan sifat fisis lainnya untuk pengembangan wahana antariksa.

Hai jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. QS Ar-Rahman:33).

Menembus penjuru langit dan bumi harus dengan kekuatan. Kekuatan itu adalah sains dan teknologi. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang kokoh dalam penguasaan sains dan teknologi. Langit pun bisa dikuasai. Pesawat terbang, roket, dan satelit mutlak diperlukan untuk menguasaai langit yang pada gilirannya akan menguasai penjuru bumi. Teknologi antariksa kini digunakan untuk memudahkan komunikasi navigasi segenap penjuru bumi, mengamati perilaku alam, dan mengeksplorasi kandungan sumber dayanya.

Bangsa kita pun sedang berupaya membangun kekuatan seperti itu, walau dengan segala keterbatasan namun dengan motivasi tinggi. Sejak peluncuran Satelit Palapa 1976, kita telah memasukki era satelit dan kini tak mungkin lepas dari ketergantungan pada teknologi satelit. Bukan hanya untuk telekomunikasi, tetapi juga untuk penginderaan jauh dan navigasi. Salah satu keunggulan suatu bangsa diukur juga dari kemandiriannya dalam teknologi antariksa. Dalam hal penerapan teknologi terbaru, boleh jadi sektor swasta telah mengambil peran sangat besar. Tetapi dalam hal kemandirian, peran pemerintah menjadi dominan. Alhamdulillah, LAPAN sebagai lembaga pemerintah untuk litbang keantariksaan telah merintis pembuatan satelit yang kini telah berada di orbit pada ketinggian 630 km, Satelit LAPAN-TUBsat. Kini sedang mempersiapkan satelit kembar Twinsat (LAPAN-A2 dan LAPAN-Orari) yang diharapkan bisa diluncurkan tidak lama lagi. Kemandirian pembuatan roket peluncur satelit kini juga sedang diupayakan. Upaya-upaya tersebut dengan dukungan penguasaan teknologi penginderaan jauh dan sains kedirgantaraan, berorientasi pada peningkatan kemandirian dan kesejahteraan bangsa, selain juga untuk merealisasikan tantangan Al-Quran untuk ”menembus penjuru langit dan bumi”.

Bapak Presiden Republik Indonesia yang saya muliakan, serta hadirin yang saya hormati,

Dalam Islam, sains bukan saja untuk kepentingan intelektual menjawab keingintahuan manusia dan menjadi dasar pengembangan teknologi yang memudahkan aktivitas keseharian. Sains juga bisa kita gunakan membantu menyempurnakan kualitas ibadah, tanpa mencampuri keyakinan dalil syar’i yang diyakini masing-masing.

Matahari banyak mengajarkan kita banyak hal.

demi matahari dan cahayanya di pagi hari (QS Asy-Syams:1)

Matahari di kaki langit mengajarkan relativitas manusia. Matahari di kaki langit yang tampak besar hanyalah ukuran semu karena pembandingnya (bukit, gedung, atau pohon) tampak mengecil di kejauhan. Sedangkan matahari saat tengah hari tampak kecil karena dibandingkan dengan langit yang luas. Sains mengungkapkan makna itu untuk mamahami hikmah yang ditegaskan pada ayat-ayat berikutnya

Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Ukuran relatif manusiawi sering menyebabkan kekotoran jiwa kita dengan keangkuhan dan sikap keunggulan, disamping sikap inferior yang cenderung mengingkari nikmat Allah.  Matahari di kaki langit mengajarkan hikmah untuk berfikir jernih dalam menilai sesuatu. Matahari juga memberi pelajaran penting untuk kita ambil hikmahnya. Spektrum cahayanya  yang sebenarnya beraneka menyatu seolah tanpa warna. Keberagamannya hanya ditampakan untuk menunjukkan keindahan warna pelangi dan beragam warna di alam ini. Matahari mengajarkan dalam hidup pun tak lepas dari keberagaman. Keberagaman tak perlu dileburkan, karena itu memberikan keindahan dengan beragam warna kehidupan. Tetapi bila diperlukan keberagaman dapat pula dipersatukan menjadi tanpa warna demi kesatuan yang menentramkan.

Kita sering menghadapi perbedaan yang kadang meresahkan. Ambil contoh, dalam penetapan awal Ramadhan dan hari raya, kita dihadapkan pada keberagaman interpretasi dalil fikih yang berdampak pada perbedaan penentuan harinya. Sains dapat menjadi solusi menjembatani perbedaan pendapat seperti itu dalam implementasi ibadah yang berakar pada interpretasi dalil yang bersifat ijtihadiyah, tanpa mencampuri keyakinan dalil syari’i. Sehingga dengan sains kita bisa lebih menyempurnakaan ibadah kita dalam mendekatkan diri kepada Allah

dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang yang berilmu). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Bapak Presiden Republik Indonesia yang saya muliakan, serta hadirin yang saya hormati,

Demikianlah, Al-Quran berperan mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan sebaliknya ilmu pengetahuan berperan memahami makna-makna tersembunyi pada ayat-ayat-Nya dan membantu menyempurnakan ketaatan kita kepada Allah.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Ini videonya (dipecah menjadi 3 bagian karena batas kapasitas Youtube)

Bagian 1/3:

Bagian 2/3:

Bagian 3/3:

 

Janji Hakiki

T. Djamaluddin

(Dimuat di Republika,  Hikmah, 23 Maret 2000)

Dia (Allah) berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. (QS 41:11)

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak  Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa  mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka  menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi (QS 7:172)

Setelah Allah menciptakan alam semesta dan manusia, kemudian Allah ‘melantiknya’ dengan mengambil janji. Langkah ini pula yang kita tiru ketika kita menetapkan seseorang menjadi pejabat pemegang amanat. Maksudnya, tentu agar setiap langkah dan tindakannya tidak lepas dari janji yang pernah diucapkannya.

Langit dan bumi adalah makluk fisik yang tidak berjiwa, tidak mempunyai kemampuan berkreasi. Mereka mengerjakan sebatas ‘program’ yang telah ditetapkan penciptanya, tidak ada kemampuan lebih dari itu. Karenanya ketika amanat diberikan Allah mereka menolaknya. Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS 33:72).

Bukti ketaatan langit dan bumi mudah dilihat dari gerakan mengitari pusat massanya. Gunung-gunung mengitari pusat bumi. Bulan mengitari bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari. Matahari dan ratusan milyar bintang mengitari pusat galaksi. Dalam bahasa fisika, gerakan benda-benda langit akibat gaya gravitasi. Dalam bahasa Alquran, gerakan itu bukti ketaatan kepada Khaliq-nya, tanpa tawar-menawar sesuai janjinya.

Jasad manusia pun benda fisik yang tidak berbeda dengan alam. Unsur kimiawinya yang didominasi karbon, hidrogen, oksigen, dan nitrogen juga terdapat di alam. Gerakannya pun mengikuti hukum yang berlaku di alam. Bila terpeleset akan jatuh ke bawah, sama seperti jatuhnya batu. Bila mati akan terurai bersatu kembali dengan tanah. Secara jasmaniah, manusia memang sudah terikat dengan janji ketika langit dan bumi tercipta.

Namun manusia bukan sekadar jasmani, tetapi ada bagian ruhani yang menjadi ciri dasar kemuliaan dan kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya (QS 17:70). Manusia dipercaya sebagai khalifah di bumi dan diberi pengajaran yang tidak diberikan kepada malaikat (QS 2:30-31), hingga malaikat pun diperintahkan Allah untuk bersujud. Allah memang menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS 95:4). Namun keistimewaan itu bersyarat, bila  sejumlah keterbatasannya dapat dikendalikan agar tidak mendominasi.

Manusia punya kecenderungan tidak sabar, banyak berkeluh kesah, dan kikir (QS 70:19). Manusia juga lemah (QS 4:28) dan bersifat tergesa-gesa (QS 17:11). Kelemahan-kelemahan seperti itu terkait dengan catatan Allah bahwa manusia itu zalim dan bodoh, walaupun sanggup memegang amanat yang berat.

Dengan segala potensi keunggulan dan kelemahannnya itu manusia pun bisa jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya bila tidak disertai iman dan amal shalih (QS 95:5). Memelihara amanat dan janji adalah salah satu kunci mengatasi kelemahan manusia (QS 70:32) dan menjadi ciri keimanan (QS 23:8).

Thawaf saat berhaji yang menirukan gerakan langit dan bumi mengingatkan akan janji hakiki saat awal makhluk diciptakan-Nya. Setidaknya kita semua diingatkan dengan bacaan Al-Fatihah setiap rakaat shalat akan janji hakiki pengakuan keberadaan Allah. Memegang janji yang hakiki itu menjadi dasar untuk menjaga janji dan amanat yang lebih luas.

“Meteor” Cirebon Sesungguhnya Bukan Meteorit

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-astrofisika, LAPAN

Berita mengheboh kembali terjadi soal meteor. Kini agak aneh, dikabarkan ada meteor jatuh di komplek Pabrik Gula Tersana Baru, Babakan, Kabupaten Cirebon pada Rabu malam, 18 Agustus 2010,  sekitar pukul 20.30 WIB. Beberapa karyawan pabrik dan warga merekamnya dengan video dan kamera HP. Meleleh terbakar dengan warna api biru. Sehingga ada media menjulukinya “Meteor Biru”. Bau belerang sangat menyengat di lokasi tersebut. Warga dan satpam setempat memadamkan apai dengan menaburkan pasir. Polisi dari Polsek Babakan bertindak cepat, mengamankan lokasi dengan memasang garis polisi kemudian mengambil sampel lempengan beku dari lokasi terebut. Lempengan bekuan lelehan tersebut berdiameter sekitar 50 cm. Ketika dibongkar, lempengan tersebut rapuh sehingga menjadi kepingan-lepingan selebar telapak tangan (gambar di atas).

Untuk menjawab pertanyaan masyarakat LAPAN mengirimkan tim ke lokasi. Dua peneliti, T. Djamaluddin dan Abdul Rahman, didampingi Tim Humas LAPAN mengumpulkan sampel dan informasi pendukung pada Kamis malam. Pertama, mendapat penjelasan dari Kapolsek Babakan, Pak Sunarko, SH tentang kejadiannya disertai dengan foto-foto dan sampel yang telah dikumpulkan. Beberapa sampel dan foto diambil untuk dianalisis. Kemudian mengunjungi lokasi kejadian untuk melihat langsung dugaan titik jatuh dan mengumpulkan informasi dari para saksi.

Informasi yang kami dapatkan tidak menunjukkan adanya lubang seperti diberitakan. Hanya tanah datar berpasir yang di atasnya sebelumnya ada lempengan bekuan yang diduga meteorit. Jadi tidak ada indikasi tumbukan keras. Tidak ada saksi yang dapat menjelaskan arah jatuhnya “bola api”, tetapi tiba-tiba melihat api berwarna biru yang menyala. Walau pun kabarnya ada juga warga di tempat yang jauh melihat cahaya meluncur, tetapi tidak  diperoleh informasi arah datangnya.

Berdasarkan sampel dan informasi tersebut kami melakukan analisis pendahuluan dimulai dari analisis fisik sampel dan informasi saksi. Walau pun sebagian sampel tampaknya seperti logam, tetapi sangat rapuh dan tidak menunjukkan sifat magnetik. Adanya sampel dengan sisa belerang menjadi kunci awal yang menjelaskan fenomena yang terjadi. Bau belerang disebabkan karena adanya belerang yang terbakar. Analisis kemudian mengarah pada sifat fisis belerang.

Belerang (sulfur) adalah zat yang mudah terbakar dan bila terbakar menimbulkan nyala api berwarna biru.  Api berwarna biru seperti itu  pula yang bisa kita saksikan pada foto-foto lava belerang panas di Kawah Ijen. Belerang juga mudah meleleh pada suhu sedikit di atas titik didih air, sekitar 100 derajat C. Dua sifat tersebut menjelaskan objek yang dikira meteor itu bisa meleleh dan terbakar dengan api berwarna biru.  Bila terpapar panas tinggi sampai 200 derajat, warnanya berubah menjadi merah tua. Warna merah itu yang juga tersisa pada sebagian sampel seperti gambar di atas.

Dari mana asal muasal belerang di lokasi tersebut? Belerang (tepatnya gas hasil pembakarannya, SO2) memang digunakan di Pabrik Gula tersebut untuk memutihkan kristal gula. Jadi bisa saja ada belerang yang tercecer (atau sengaja diletakkan) di tempat tersebut. Lalu dari mana asal muasal api yang membakar belerang tersebut? Tim LAPAN tidak berminat untuk mencari tahu, yang jelas bukan dari langit. Tidak ada meteor api. Hal yang mungkin terjadi adalah segumpal belerang terbakar atau dibakar  lalu terlempar atau dilemparkan. Belerang terbakar menghasilkan api biru yang menarik perhatian. Orang yang datang ke lokasi akan melihat belerang yang meleleh dan terbakar. Lelehannya menyebar mengikuti alur tanah, mungkin ada yang menafsirkan membentuk seperti lafaz Allah. Sementara belerang terbakar menghasilkan belerang oksida SO2 dengan bau menyengat.

Hasil pengkajian lapangan dan analisis sampel secara umum mengindikasikan hal-hal berikut: Tidak adanya lubang tumbukan. Tidak ada saksi yang menjelaskan arah datangnya “meteor”. Secara astronomi tidak dikenal adanya meteorit yang meleleh dan menghasilkan api. Dan temuan sisa belerang memberikan indikasi sifat fisis objek diduga meteor itu seperti pembakaran belerang. Atas dasar pengkajian lapangan dan analisis tersebut kami menyimpulkan dugaan “meteor” di Cirebon tersebut sebenarnya bukan meteor, tetapi belerang yang terbakar atau dibakar.

Perlukah Menggantikan GMT dengan Mecca Mean Time?

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Peresmian jam raksasa Mekkah pada awal Ramadhan 1431 H, pada 11 Agustus 2010, membangkitkan kembali keinginan sebagian ulama Islam, terutama di negara-negara Arab, untuk menjadikan Mekkah sebagai pusat waktu. Beberapa argumentasi diajukan, antara lain bahwa Mekkah dianggap sebagai Pusat Dunia, setidaknya kalau dilihat dari distribusi sebaran benua. Sebenarnya proyek tersebut cenderung bersifat ”mercusuar” dengan menjadikannya jam terbesar di dunia dengan beberapa keunggulan lainnya. Tetapi tidak memuat konsep waktu yang berbeda dari yang saat ini diterima secara internasional.

Benar Mekkah sebagai tempat Ka’bah menjadi pusat perhatian Ummat Islam karena menjadi kiblat saat shalat dan menjadi pusat ibadah haji. Tetapi, secara fisik geografis tidak ada keistimewaan yang mendukung untuk menjadikannya sebagai rujukan waktu atau sebagai meridian utama (Prime Meridian). Secara geografis, kalau Mekkah menjadi meridian utama (garis bujur 0), maka garis tanggal internasional pada garis bujur 180 derajat akan memotong Alaska dan terlalu jauh kalau harus dibelokkan ke Selat Bering. Itu berdampak kurang bagus, karena Kanada dan Alaska yang satu wilayah daratan terpaksa harus berbeda hari. Misalnya, di Alaska Senin sedangkan di Kanada masih Ahad. Sehingga untuk mewujudkannya jelas tidak mungkin akan mendapatkan persetujuan internasional. Masalah waktu tidak mungkin diatur secara sepihak, perlu konvensi internasional. Untuk memahaminya, kita harus melihat sejarah konvensi waktu internasional yang merujuk pada waktu rata-rata Greenwich.

Greenwich Mean Time (GMT, Waktu Rata-rata Greenwich) adalah rujukan waktu internasional yang pada mulanya didasarkan pada waktu matahari di Greenwich yang kemudian didasarkan pada jam atom. Sistem waktu yang mapan tersebut mempunyai sejarah panjang yang didukung konvensi internasional dan kajian ilmiah untuk penyempurnaannya. Sampai pertengahan abad 19, masing-masing negara menggunakan sistem jam matahari sendiri dengan menggunakan meridian masing-masing. Meridian adalah garis hubung utara-selatan yang melalui zenit yang dilintasi matahari saat tengah hari. Untuk jaringan transportasi kereta api jarak jauh yang mulai berkembang saat itu, pembuatan sistem waktu baku antarwilayah diperlukan. Tanpa sistem waktu yang baku, jadwal kereta api bisa kacau ketika memasuki wilayah yang menggunakan sistem waktu berbeda. Hal itu terutama dirasakan oleh jaringan kereta api di Kanada dan Amerika Serikat.

Kebutuhan sistem waktu baku tersebut yang mendorong Sir Sandford Fleming, seorang teknisi dan perencana perjalanan kereta api Kanada mengusulkan waktu baku internasional pada akhir 1870-an. Gagasan itu kemudian dimatangkan dalam Konferensi Meridian Internasional di Washington DC pada Oktober 1884 yang dihadiri perwakilan 25 negara (Austria-Hungaria, Brazil, Chile, Kolombia, Costa Rica, Perancis, Jerman, Inggris, Guatemala, Hawii, Italia, Jepang, Liberia, Meksiko, Belanda, Paraguay, Rusia, San Domingo, Spanyol, Swedia, Swiss, Turki, Amerika Serikat, Venezuela, dan Salvador).

Kesepakatan pokok (konvensi) pada konferensi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Bersepakat menggunakan meridian dunia yang tunggal untuk menggantikan banyak meridian yang telah ada.
  2. Meridian yang melalui teropong transit di Observatorium Greenwich ditetapkan sebagai meridian nol.
  3. Semua garis bujur dihitung ke Timur dan ke Barat dari meridian tersebut sampai 180 derajat.
  4. Semua negara menerapkan hari universal.
  5. Hari universal adalah hari matahari rata-rata, mulai dari tengah malam di Greenwich dan dihitung 24 jam.
  6. Hari nautika dan astronomi di mana pun mulai dari tengah malam.
  7. Semua kajian teknis untuk mengatur dan menerapkan sistem desimal pembagian waktu dan ruang akan dilakukan.

Butir ke-2 tidak mendapat kesepakatan bulat. San Dominggo menentang. Perancis dan Brazil abstain.

Saat ini sistem waktu telah ditetapkan dengan 24 waktu baku, secara umum setiap perbedaan 15 derajat garis bujur, waktunya berbeda 1 jam. Dalam pelaksanaannya, waktu baku tersebut disesuaikan dengan batas wilayah agar tidak memecah waktu di suatu wilayah. Pada 1928, dalam konferensi astronomi internasional, berdasarkan kajian soal waktu, maka penamaan GMT diubah menjadi Universal Time (UT). Rujukan waktunya  tetap jam matahari, sehingga tergantung rotasi bumi yang sebenarnya tidak konstan. Pada 1955 ditemukan jam atom Caesium yang lebih stabil, sehingga selalu ada perbedaan dengan UT, walau dalam skala yang sangat kecil dalam orde milisecond (seperseribu detik). Pada akhir 1960-an sampai awal 1970-an banyak dilakukan kajian soal waktu yang sinkron antara UT dan jam atom. Saat ini UT bukan lagi murni didasarkan pada jam matahari, tetapi berdasarkan jam atom yang disinkronkan dengan konsep jam matahari. Namanya menjadi UTC (Universal Time, Coordinated), nama kompromi dari usulan dua bahasa: bahasa Inggris “CUT” untuk “coordinated universal time” dan bahasa Perancis “TUC” untuk “temps universel coordonné”.

Dari sejarah panjang GMT tersebut, kita bisa faham bahwa konvensi waktu baku internasional didasarkan pada kebutuhan untuk mensinkronkan jadwal aktivitas manusia yang bersifat lintas negara. Apalagi saat ini, jadwal penerbangan memerlukan pengaturan waktu yang sangat akurat. Sistem waktu GMT atau UTC yang sudah mapan saat ini tidak mungkin lagi diubah, misalnya dengan MMT (Mecca Mean Time). Tidak ada alasan fisis – teknis yang mendasarinya, selain ghirah (semangat) keagamaan. Juga tidak ada alasan yang mendukung penyatuan waktu ibadah ummat Islam, karena pada dasarnya waktu ibadah bersifat lokal dan sudah tercukupi dengan menggunakan sistem waktu internasional yang telah ada.

Hilal Syar’i vs Hilal Astronomis Awal Ramadhan 1431

T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Anggota Badan Hisab Rukyat, Kementerian Agama RI

Alhamdulillah, pada sidang itsbat yang dipimpin Menteri Agama 1 Ramadhan 1431 diputuskan seragam di wilayah Indonesia. Namun di kalangan ahli falak dan astronomi hal itu masih menjadi bahan diskusi. Bulan pada saat maghrib 10 Agustus 2010 secara umum sudah di atas ufuk dengan ketinggian kurang dari 3 derajat, umur bulan umumnya kurang dari 8 jam, dan fraksi iluminasi (pencahayaan) kurang dari 1%.

Dengan kriteria wujudul hilal Muhammadiyah dan Persis sudah menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada 11 Agustus. Dengan kriteria imkanur rukyat 2 derajat kalender NU dan Taqwim Standar Indonesia menyatakan 1 Ramadhan jatuh pada 11 Agustus 2010. Namun kesaksian rukyat juga harus dipertimbangkan. Menjelang sidang itsbat sempat ada kekhawatiran terjadinya perbedaan bila rukyatul hilal tidak berhasil melihatnya. Secara astronomis ketinggian kurang dari 3 derajat terlalu rendah, umurnya terlalu muda, dan fraksi iluminasi bulan terlalu kecil. Dalam kondisi seperti itu hilal mustahil dapat dirukyat. Kondisi cuaca yang cenedrung banyak awan dan hujan juga kemungkinan mengganggu.

Ternyata pada sidang itsbat dilaporkan ada 4 kesaksian: di Gresik, Probolinggo, Cilincing-Jakarta, dan Bengkulu. Mereka disumpah oleh hakim agama setempat. Atas dasar hasil hisab dan rukyat tersebut sidang itsbat memutuskan 1 Ramadhan jatuh pada 11 Agustus 2010. Semua bersyukur awal Ramadhan akhirnya seragam.

Pada sidang itsbat tersebut saya sampaikan juga bahwa kesaksian hilal tersebut secara astronomis memang kontroversial, tetapi secara syar’i itu sah dijadikan dasar pengambilan keputusan karena saksinya telah disumpah oleh hakim agama. Saya katakan itu “hilal syar’i”. Hilal sya’i terkait juga dengan kesepakatan kriteria imkan rukyat bahwa ketinggian minimal hilal yang mungkin dirukyat adalah 2 derajat. NU beberapa kali menolak kesaksian hilal yang tingginya kurang dari 2 derajat. Tetapi bila ketinggiannya lebih dari 2 derajat bisa diterima. Jadi, hilal syar’i adalah konsekuensi dari kesepakatan batas kriteria imkan rukyat.

Kalau kriteria imkan rukyat masih berbeda dengan kriteria astronomis, hilal syar’i mungkin saja berbeda dengan hilal astronomis. Hilal astronomis adalah hilal yang diyakini kebenarannya secara astronomis. “Hilal” yang diyakini oleh Tim Rukyat Lajnah Falakiyah NU Gresik pada gambar di atas tergolong sebagai hilal syar’i. Saksinya meyakini adanya dan telah disumpah. Tetapi bukti astronominya sulit diyakini.

Agar nantinya hilal syar’i sama dengan hilal astronomis, kita perlu maju selangkah, bersama-sama mengubah kriteria agar sesuai dengan kriteria astronomis. Saya menawarkan Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia:

– Beda tinggi bulan – matahari > 4 derajat

– Jarak sudut bulan – matahari > 6,4 derajat

Lihat catatan lengkapnya di

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/08/02/analisis-visibilitas-hilal-untuk-usulan-kriteria-tunggal-di-indonesia/