Memahami Kemarau Basah 2010


T. Djamaluddin

Prefesor Riset Astronomi-Astrofsika, Peneliti Hubungan Matahari-Bumi, Mantan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN

Banyak orang bertanya mengapa kemarau tak kunjung datang, sampai pertengahan Juli 2010 hujan masih sering turun, kadang sangat lebat, di beberapa daerah. Data satelit (dari NOAA) menunjukkan bahwa liputan awan yang diindikasi dari pancaran inframerah dari bumi (OLR: outgoing longwave radiation, lihat gambar atas) secara rata-rata selama Juni 2010 sebagian besar Indonesia bagian Selatan masih diliputi awan tebal (warna biru).

Mengapa  Juni-Juli 2010 masih banyak awan di Indonesia yang menyebabkan kecenderungan kemarau tahun ini menjadi kemarau basah (banyak hujan)?

Dari sekian banyak parameter iklim, salah satu yang dapat memberi penjelasan secara umum kondisi seperti itu adalah gambaran anomali suhu permukaan laut di sekitar Indonesia dan kondisi regional Pasifik dan Lautan Hindia. Suhu permukaan laut dapat memberi gambaran umum pembentukan awan dan dinamika atmosfernya.

Suhu permukaan laut yang lebih hangat dari rata-rata bisa menggambarkan secara umum kecenderungan aktifnya pembentukan awan di wilayah Indonesia, yang berarti juga meningkatnya peluang hujan. Perbedaan suhu permukaan laut secara regional juga memberikan gambaran dinamika atmosfernya yang terkait dengan kecenderungan pengalihan daerah konveksi pembentukan awan.

Pada saat suhu permukaan laut di Pasifik menghangat cukup tinggi selama beberapa bulan, maka terjadilah fenomena El Nino, dengan kecenderungan daerah konveksi pembentukan awan bergeser ke wilayah sekitar Pasifik Timur  (di Benua Amerika). Di Indonesia cenderung miskin awan dan berpotensi kekeringan, seperti tahun 1997.  Sebaliknya bila suhu permukaan laut di Pasifik  cenderung menurun cukup rendah selama beberapa bulan, maka terjadilah fenomena La Nina, dengan kecenderungan wilayah konveksi pembentukan awan bergeser ke wilayah Indonesia. Tentunya itu berdampak banyaknya hujan di Indonesia. Kondisi El Nino-La Nina terkait juga dengan kondisi dinamika atmosfer Pasifik Selatan, sehingga fenomenanya sering digabung sebagai ENSO (El Nino-Southern Oscillation).

Hal yang sama terjadi di Lautan Hindia dengan fenomena Dipole Mode Positif atau Negatif.  Bila suhu permukaan laut di sekitar Indonesia lebih hangat daripada di sekitar Afrika, maka daerah konveksi pembentukan awan wilayah Lautan Hindia  bergeser ke arah Indonesa. Itu berarti bertambahnya peluang hujan dari pengaruh Lautan Hindia. Kondisi tersebut dinamakan Dipole Mode Negatif. Sebaliknya bila suhu permukaan laut di wilayah Indonesia lebih dingin daripada di sekitar Afrika, maka daerah konveksi pembentukan awan menjauh dari Indonesia. Itu dinamakan Dipole Mode Positif dengan potensi berkurangnya peluang hujan di Indonesia.

Efek ENSO sering diperkuat atau diperlemah oleh Dipole Mode, terkait dengan dinamika peralihan daerah konveksi pembentukan awan. Sering pula kondisi lokal suhu permukaan laut di sekitar Indonesia menjadi faktor penentu, karena aktifnya konveksi pembentukan awan di wilayah Indonesia sendiri. Nah, fenomena suhu permukaan laut di sekitar Indonesia tersebut bisa memberikan penjelasan umum tentang kecenderungan kemarau basah 2010 saat ini. Untuk memahaminya, mari kita bandingkan suhu permukaan laut di sekitar Indonesia dan liputan awannya sekitar Juni 2008, 2009, dan 2010.

Inilah kondisi Juni 2008:

Suhu permukaan laut di sekitar Indonesia (khususnya sekitar Jawa-Sumatera) cenderung mendingin (warna biru, panel SST), sementara secara regional relatif tidak ada perbedaan suhu permukaan laut antara Pasifik atau Lautan Hindia Barat dan Indonesia. Kondisi ini yang menyebabkan wilayah Indonesia pun miskin awan (warna coklat-merah, pada panel OLR). Wilayah perairan sekitar Jawa-Sumatera yang paling dingin (warna paling biru di panel SST) cenderung berasosiasi dengan wilayah yang paling miskin awan (warna paling merah di panel OLR). Inilah kondisi kemarau normal.

Kondisi Juni 2009:

Suhu permukaan laut wilayah Indonesia agak menghangat (warna coklat muda, pada panel SST), namun suhu permukaan laut di Pasifik lebih hangat (warna merah). Dipole mode dalam kondisi normal. Dampaknya  di Indonesia cenderung miskin awan (warna coklat-merah, di panel OLR) terkait dengan kondisi normal awal kemarau dan tanda-tanda awal El Nino. Kondisi ini kemarau dengan pengaruh awal El Nino.

Kondisi Juni 2010:

Suhu permukaan laut sekitar Indonesia cenderung menghangat (warna coklat-merah, pada panel SST) dengan  suhu permukaan laut di Pasifik cenderung mendingin (warna biru).  Sementara Dipole Mode dalam kondisi normal. Ini menyebabkan banyaknya liputan awan (dan tentunya potensi hujan) di Indonesia. Jadi kemarau tahun ini cenderung basah dengan pengaruh awal La Nina. Ini berpotensi mengundurkan masuknya musim kemarau dan mempercepat masuknya musim hujan. Sebagian besar model memperkirakan akan terjadinya La Nina tahun 2010-2011.

Baca juga: https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/16/mari-membaca-alam-untuk-mewaspadai-potensi-bencana/

5 Tanggapan

  1. […] satu penyebabnya karena  suhu muka laut Indonesia mulai kembali normal, tidak seperti saat kemarau basah tahun lalu. Data satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat menunjukkan […]

  2. […] suhu muka laut Indonesia mulai kembali normal, tidak seperti saat kemarau basah tahun lalu. (Lihat https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/07/09/memahami-kemarau-basah-2010/ ). Data satelit NOAA menunjukkan sejak Desember anomali suhu muka laut di wilayah Indonesia […]

  3. […] Data curah hujan dari satelit TRMM menunjukkan di sebagian wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi selama Agustus sampai awal September curah hujan di bawah rata-rata (ditandai dengan warna kuning sampai coklat). Mengapa itu bisi terjadi? Dengan pengetahuan sains atmosfer, mari kita memahami terjadinya kemarau yang kering. Ini berbeda dengan kemarau 2010 yang cenderung basah (Baca https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/07/09/memahami-kemarau-basah-2010/). […]

  4. […] memahami terjadinya kemarau yang kering. Ini berbeda dengan kemarau 2010 yang cenderung basah (Baca https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/07/09/memahami-kemarau-basah-2010/).Musim kemarau di Indonesia adalah kondisi periodik tahunan yang terjadi ketika matahari berada di […]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: