Perbedaan Idul Fitri Masih Mungkin Terjadi: Urgensi Titik Temu Kriteria Hisab Rukyat


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung, Anggota Badan Hisab Rukyat Jabar dan Depag RI

(Dimuat di Pikiran Rakyat,  30 Oktober 2005)

Seperti sudah diperkirakan, perbedaan awal Ramadhan secara umum tidak terjadi di Indonesia. Semua kriteria hisab-rukyat (perhitungan astronomi dan pengamatan) yang berlaku di Indonesia menyatakan awal Ramadhan jatuh pada 5 Oktober 2005. Selain itu, hasil rukyat yang dilaporkan dari berbagi daerah pengamatan di Indonesia menyatakan hilal tidak terlihat pada saat maghrib 3 Oktober 2005 lalu. Dengan demikian pemerintah (Menteri Agama) pada sidang itsbat 3 Oktober lalu memutuskan Ramadhan jatuh pada 5 Oktober 2005.

Namun Arab Saudi mengawali shaum pada 4 Oktober 2005 berdasarkan fatwa Majlis Al-Qadha’ Al-‘Ala (Majelis Hakim Tinggi) yang menerima kesaksian rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit pertama) di Arab Saudi pada maghrib 3 Oktober. Secara astronomi, kesaksian itu kontroversial. Memang, bulan di Arab Saudi pada saat maghrib sudah berada di atas ufuk, namun ketinggiannya masih terlalu rendah untuk dapat teramati, kurang dari 1 derajat. Namun Majlis tidak mau mempertimbangkan pendapat para astronom, hanya mempercayai kesaksian rukyat. Secara syariat keputusan itu sah.

Penetapan awal Ramadhan di Arab Saudi berimbas juga di Indonesia. Beberapa kalangan di Indonesia melaksanakan shaum Ramadhan mulai 4 Oktober, atas dasar pertimbangan rukyat global atau sekadar mengikut keputusan Arab Saudi. Alhamdulillah, perbedaan mengawali Ramadhan disikapi masyarakat biasa-biasa saja. Mungkin karena tidak tahu, karena shaum tidak terlihat secara fisik. Mungkin juga karena telah memahami kewajaran terjadinya perbedaan.

Perbedaan awal Ramadhan dengan Arab Saudi, insya Allah akan diakhiri dengan keseragaman beridul fitri bila pemerintah memutuskan Idul Fitri jatuh pada 3 November 2005. Masalahnya, ternyata kemungkinan terjadinya perbedaan Idul Fitri di Indonesia masih terbuka. Ada kemungkinan hasil rukyatul hilal di Indonesia mengarah pada keputusan Idul Fitri jatuh pada 4 November 2005. Sementara kalangan yang berpendapat cukup dengan hisab wujudul hilal telah memutuskan idul Fitri pada 3 November 2005. Mengapa masih terbuka peluang perbedaan? Dan bagaimana menyikapinya bila ternyata perbedaan benar terjadi?

Kemungkinan perbedaan

Untuk memahami terjadinya perbedaan awal Ramadhan dengan Arab Saudi dan kemungkinan terjadinya perbedaan Idul Fitri di Indonesia, cara yang termudah adalah dari analisis garis tanggal. Garis tanggal dibuat berdasarkan kemungkinan hilal terlihat dari data ketinggian hilal dan faktor lainnya, misalnya jarak bulan dari matahari. Secara syariat, awal bulan didefinisikan dari satu hadits tentang shaum, “shaumlah bila melihat hilal dan berbukalah bila melihatnya”. Karena penafsiran yang berbeda,, hilal secara kuantitatif dinyatakan dengan kriteria yang berbeda.

Kalangan Muhammadiyah dan Persis menggunakan kriteria wujudul hilal untuk mendefinisikan hilal dan penentu masuknya awal bulan. Kalangan Nahdlatul Ulama telah menggunakan kriteria ketinggian bulan dua derajat untuk mendefisikan kemungkinan rukyatul hilal sebagai tanda masuknya awal bulan. Penelitian ilmiah di LAPAN atas data pengamatan hilal yang didokumentasikan Depag RI (1962 – 1996) merumuskan kriteria kemungkinan terlihatnya hilal (imkan rukyat). Kriteria LAPAN tersebut tidak hanya memperhitungkan ketinggian bulan, tetapi juga jarak bulan dari matahari, karena bagaimana pun cahaya matahari yang kuat sangat menggangu pengamatan hilal yang sangat redup.

Garis tanggal wujudul hilal awal Ramadhan memisahkan Arab Saudi dan Indonesia. Di Arab Saudi bulan telah wujud pada saat maghrib 3 Oktober lalu, sementara di Indonesia belum wujud. Atas dasar ini, masih dapat dimaklumi Arab Saudi bershaum lebih dahulu daripada di Indonesia. Tetapi bila berdasarkan garis tanggal 2 derajat atau garis tanggal dengan kriteria LAPAN, baik Indonesia maupun Arab Saudi sebenarnya  sama-sama tidak mungkin melihat hilal pada 3 Oktober. Karenanya banyak pakar hisab rukyat yang meragukan kesaksian rukyat hilal di Arab Saudi, walau secara syariat dianggap sah.

Garis tanggal awal Syawal menarik untuk dicermati. Menurut kriteria wujudul hilal dan kriteria 2 derajat, di Indonesia pada saat maghrib 2 November 2005, dianggap telah masuk awal Syawal. Karenanya hampir semua kalender di Indonesia, baik yang disusun pemerintah/Depag RI maupun ormas-ormas Islam, mencantumkan 1 Syawal 1426 jatuh pada 3 November 2005. Namun, berdasarkan kriteria LAPAN dari pengalaman rukyatul hilal di Indonesia sejak puluhan tahun lalu pada tanggal 2 November tidak mungkin ada rukyatul hilal karena bulan terlalu rendah dan terlalu dekat dengan matahari. Karenanya, kalender terbitan Percikan Iman yang didasarkan pada kriteria tersebut mencantumkan 1 Syawal jatuh pada 4 November 2005.

Kemungkinan adanya perbedaan Idul Fitri bukan hanya dari analisis garis tanggal. Ketua Lajnah Falaqiyah PBNU dalam pertemuan Badan Hisab Rukyat Nasional menjelang Ramadhan lalu tetap menyatakan bahwa kalangan Nahdhiyyin tetap akan menunggu hasil rukyat dalam penentuan Idul Fitri. Masalahnya, selain kondisi bulan yang terlalu rendah dan terlalu dekat dengan matahari, masalah gangguan cuaca kemungkinan akan mengganggu pengamatan. Di sebagian besar wilayah Indonesia musim hujan mulai datang. Kemungkinan gagal rukyat hingga perlu istikmal (menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari) sangat terbuka. Sehingga dari hasil rukyat, kemungkinan Idul Fitri jatuh pada 4 November sangat terbuka.

Selangkah lagi yang berat

Menyadari kemungkinan adanya perbedaan tersebut, pertanyaan selanjutnya yang menarik dibahas adalah bagaimana menyikapinya dan apa upaya untuk mengatasinya di masa mendatang. Bila akhirnya benar terjadi perbedaan Idul Fitri 1426, sikap terbaik adalah mengikuti keputusan pemerintah, karena telah mempertimbangkan berbagai masukan dalam sidang itsbat yang diikuti berbagai ormas Islam dan pakar hisab rukyat. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 2004 lalu telah mengeluarkan fatwa bahwa wajib bagi ummat Islam untuk mengikuti keputusan pemerintah (sebagai ulil amri) dalam penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Kalau pun ada yang mengambil pendapat sebagian kalangan yang berbeda dari keputusan pemerintah, karena mempunyai dasar pemikiran yang dianggapnya kuat, maka kembalikan pada sikap dasar bahwa ibadah harus didasari oleh keyakinan yang kuat. Bila yakin bahwa Idul Fitri telah datang, haram baginya untuk meneruskan shaum Ramadhan. Namun bila yakin bahwa Idul Fitri belum datang, maka tetap wajib baginya untuk melaksanakan shaum Ramadhan pada hari ke-30. Tidak boleh menganggap haram shaum hanya karena ada orang lain yang beridul fitri, sementara dirinya baru keesokan harinya beridul fitri.

Setiap ada perbedaan selalu memunculkan pertanyaan, apakah tidak ada upaya untuk menyelesaikan masalah ini. Sebenarnya upaya-upaya telah dilakukan oleh berbagai ormas Islam dan Badan Hisab Rukyat Depag RI untuk saling memahami, tidak lagi memperdebatkan dalil. Upaya penyelesaian kini telah mengerucut pada identifikasi masalah bahwa masalah utama adalah kriteria hisab rukyat yang berbeda-beda.

Yang diperlukan sekarang adalah merumuskan satu kriteria hisab rukyat yang bisa disepakati oleh semua kalangan ormas Islam dan para pakar. Oleh karenanya dalam fatwa MUI 2004 direkomdasikan untuk diupayakan merumuskan kriteria hisab rukyat yang dapat menjadi pedoman bagi semua pihak.

Sebenarnya kesatuan kriteria hisab rukyat tinggal selangkah lagi. Masing-masing pihak perlu maju, mengubah kriterianya menjadi lebih mendekati data-data pengamatan hilal. Kriteria wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah dan Persis perlu maju selangkah menuju kriteria visibilitas hilal. Kriteria imkan rukyat dua derajat yang digunakan Nahdlatul Ulama juga perlu maju menuju kriteria visibilitas hilal yang memperhitungkan juga jarak bulan dari matahari.

Perlu disadari bahwa hisab tidak mungkin terlepas dari rukyat. Kriteria wujudul hilal juga berawal dari penafsiran rukyatul hilal. Demikian juga rukyat perlu dipandu kriteria hisab, sebab terbuka kemungkinan salah lihat hilal yang sangat redup. Ketinggian dua derajat masih merupakan kriteria paling dasar yang belum memperhitungkan terangnya cahaya senja yang berpotensi mengganggu visibilitas hilal.

Departemen Agama pernah punya komitmen untuk mengadakan pertemuan besar ormas-ormas Islam bersama para ulama dan pakar astronomi untuk merumuskan kriteria hisab rukyat Indonesia. Kita tunggu realisasinya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kalau hanya ada satu kriteria hisab rukyat, insya Allah keputusan kalangan hisab dan rukyat akan seragam. Dan kemungkinan gagal rukyat pun sudah diperkirakan dalam kriteria hisab rukyat (kecuali masalah awan) sehingga keputusan hasil rukyat pun insya-allah akan seragam.


%d blogger menyukai ini: