Kriteria Imkanur Rukyat Khas Indonesia: TITIK TEMU PENYATUAN HARI RAYA DAN AWAL RAMADHAN


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan  Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 30 Januari 2001)

Perbedaan pelaksanaan hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) serta awal Ramadhan di Indonesia sudah sering terjadi. Walaupun menimbulkan sedikit kebingungan di masyarakat, pada umumnya dengan tingkat toleransi masyarakat yang cukup tinggi perbedaan tersebut tidak terlalu dipermasalahkan. Namun tidak tertutup kemungkinan masalah agama yang peka tersebut bisa menimbulkan keresahan yang akan mengganggu ketentraman bila ada faktor lain yang memicunya.

Idul Adha 1421 mendatang mungkin akan terjadi dua pendapat: 5 dan 6 Maret 2001. Hal itu karena adanya perbedaan kriteria di antara ahli hisab (perhitungan astronomi) dan kemungkinan perbedaan dengan ahli rukyat (pengamatan). Muhammadiyah dengan kriteria hisab wujudul hilal (wujudnya hilal di atas ufuk) sudah pasti akan beridul adha 5 Maret 2001. PERSIS yang mencantumkan pada almanaknya Idul Adha pada 5 Maret, tampaknya akan menunggu keputusan pemerintah saja, karena belum adanya kesepakatan kriteria hisab yang digunakannya.

NU dengan rukyatul hilal mungkin memutuskan 5 atau 6 Maret, tergantung hasil pengamatan pada 23 Februari. Pemerintah (Depag RI) bila menggunakan kriteria yang disepakati bersama Menteri-menteri Agama Brunai, Indonesia, Malaysia, dan Singapura  (MABIMS) semestinya menetapkan Idul Adha 6 Maret. Namun ternyata hari libur nasional Idul Adha dinyatakan 5 Maret yang tampaknya tidak menerapkan kriteria secara utuh atau menerapkan kriteria wujudul hilal seperti bulan-bulan lainnya. Kelompok lain yang tidak mempermasalahkan hisab atau rukyatnya, tetapi kesamaan hari dengan Arab Saudi, mungkin akan beridul adha 5 atau 6 Maret.

Idul Adha 1421 mendatang ini memang bermasalah. Di kalangan ahli hisab sendiri tidak ada kesepakatan. Terutama bersumber pada kriteria masuknya awal bulan. Perbedaan dengan ahli rukyat, mungkin juga terjadi. Namun, sebenarnya masih bisa dicarikan titik temunya antara sesama ahli hisab dan antara ahli hisab dan ahli rukyat. Titik temu itu adalah kriteria imkanur rukyat atau visibilitas hilal, kriteria kemungkinan hilal bisa dirukyat.

Imkanur Rukyat

Selama ini belum ada penelitian sistematik tentang kriteria imkanur rukyat berdasarkan data rukyatul hilal di Indonesia. Kriteria yang digunakan Badan Hisab Rukyat Depag RI dari kesepakatan Musyawarah III MABIMS 1992 adalah kriteria imkanur rukyat sebagai berikut: tinggi hilal minimum 2 derajat, jarak bulan dari matahari minimum 3 derajat, dan umur bulan (dihitung sejak saat ijtima’) pada saat matahari terbenam minimum 8 jam. Kriteria itu tampaknya diturunkan dari rekor minimum pengamatan di Indonesia pada 16 September 1974. Kriteria imkanur rukyat tersebut lebih rendah daripada kriteria yang diakui para astronom. Hal itu menjadi alasan bagi Muhammadiyah sehingga belum bersedia menggunakan kriteria tersebut. Saat ini yang digunakan Muhammadiyah adalah kriteria wujudul hilal.

Kriteria imkanur rukyat ditentukan berdasarkan keberhasilan pengamatan hilal. Kriteria dasar yang dapat digunakan berdasarkan pengamatan dan model teoritik astronomi adalah limit Danjon: hilal tidak mungkin teramati bila jarak bulan-matahari kurang dari 7 derajat. Kriteria lain di antaranya dikembangkan oleh Mohammad Ilyas dari IICP (International Islamic Calendar Programme), Malaysia. Kriteria imkanur rukyat yang dirumuskan IICP meliputi tiga kriteria.

Pertama, kriteria posisi bulan dan matahari: Beda tinggi bulan-matahari minimum agar hilal dapat teramati adalah 4 derajat bila beda azimut bulan – matahari lebih dari 45 derajat, bila beda azimutnya 0 derajat perlu beda tinggi lebih dari 10,5 derajat. Kedua, kriteria beda waktu terbenam: Sekurang-kurangnya bulan 40 menit lebih lambat terbenam daripada matahari dan memerlukan beda waktu lebih besar untuk daerah di lintang tinggi, terutama pada musim dingin. Ketiga, kriteria umur bulan (dihitung sejak ijtima’): Hilal harus berumur lebih dari 16 jam bagi pengamat di daerah tropik dan berumur lebih dari 20 jam bagi pengamat di lintang tinggi.

Kriteria IICP sebenarnya belum final, mungkin berubah dengan adanya lebih banyak data. Kriteria berdasarkan umur bulan dan beda posisi nampaknya kuat dipengaruhi jarak bulan-bumi dan posisi lintang ekliptika bulan, bukan hanya faktor geografis. Rekor pengamatan hilal termuda bisa dijadikan bukti kelemahan kriteria beda posisi dan umur hilal. Rekor keberhasilan pengamatan hilal termuda tercatat pada umur hilal 13 jam 24 menit yang teramati pada tanggal 5 Mei 1989 (pada saat jarak bumi-bulan relatif paling dekat).

Hilal  Indonesia

Terlalu berat bagi ahli hisab Indonesia untuk mengikuti kriteria imkanur rukyat IICP. Padahal kriteria itulah yang secara astronomi telah diterima luas. Muhammadiyah yang beralasan belum menggunakan kriteria imkanur rukyat karena “belum disetujuinya had imkanur rukyat yang ilmiah” (Basit Wahid, PR, Feb. 1998), pasti akan terasa berat bila disodori kriteria ilmiah yang sesungguhnya itu. Sebab, Muhammadiyah hanya mensyaratkan beda waktu terbenam minimal 1 menit sedangkan kriteria IICP mensyratkan beda waktu 40 menit. PERSIS pun masih belum memutuskan untuk menerima kriteria MABIMS, apalagi kriteria IICP. Kriteria IICP bila diterapkan di Indonesia, mungkin selalu menimbulkan perbedaan dengan penganut rukyatul hilal. Hal itu terjadi karena pada umumnya laporan rukyatul hilal di Indonesia tinggi bulannya sangat rendah, di bawah kriteria IICP.

Menyadari hal itu, LAPAN Bandung sebagai lembaga penelitian dan pemanfaatan antariksa mengkaji ulang secara sistematis data pengamatan hilal di Indonesia untuk mendapatkan kriteria imkanur rukyat khas Indonesia. Adanya dokumentasi lengkap yang dilakukan Depag RI memungkinkan untuk melakukan analisis astronomis yang diperlukan untuk memilah-milah pengamatan hilal yang meyakinkan secara astronomis dan yang diduga mengandung kesalahan pengamatan. Kriteria tersebut diharapkan menjadi masukan bagi Depag RI dan organisasi-organisasi Islam lainnya untuk menentukan kriteria imkanur rukyat yang sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan penetapan awal Ramadhan dan hari-hari raya.

Data pengamatan hilal diambil dari himpunan keputusan Menteri Agama tentang penetapan tanggal 1 Ramadhan dan 1 Syawal 1381-1418 H / 1962-1997 M. Ada 38 pengamatan hilal yang dilaporkan dalam selang waktu tersebut. Data pengamatan hilal yang dianalisis adalah tanggal pengamatan, jumlah lokasi pengamatan dan jumlah pengamat, serta waktu pengamatan. Data tersebut kemudian dikonfirmasikan dengan data astronomis penampakan bulan serta planet Venus dan Merkurius pada saat matahari terbenam

Pada umumnya beda tinggi bulan-matahari yang kurang dari 3 derajat (tinggi hilal kurang dari 2 derajat) hanya dilaporkan dari 1 atau 2 lokasi pengamatan. Hal ini bisa menunjukkan bahwa laporan rukyatul hilal dengan ketinggian hilal yang rendah mungkin disebabkan oleh kesalahan pengamatan, yaitu menganggap objek terang yang sebenarnya bukan hilal sebagai hilal. Objek terang itu bisa berupa objek latar depan di bumi (a.l. awan, lampu di kejauhan, pesawat terbang jauh yang bergerak searah pandangan sehingga tampak hanya bergerak perlahan ke bawah) atau objek latar belakang di langit (terutama dari planet Venus atau Merkurius yang posisinya dekat posisi bulan).

Untuk mengurangi efek kesalahan pengamatan tersebut, dilakukan analisis awal untuk memilah data berdasarkan kriteria berikut: Bila beda tinggi bulan-matahari kurang dari 4 derajat (kriteria beda tinggi minimum menurut IICP), harus didukung hasil pengamatan yang dilakukan oleh tim pengamat independen di tiga lokasi atau lebih. Selain itu, data pengamatan minimum harus didukung satu laporan lengkap tentang waktu pengamatannya sehingga bisa diuji kebenarannya berdasarkan perbandingan dengan waktu terbenam bulan. Bila semua waktu pengamatannya ternyata setelah waktu bulan terbenam, data tersebut tidak digunakan. Dengan kriteria utama ini jumlah data berkurang dari 38 menjadi 15 data.

Gangguan astronomis dari planet Venus atau Merkurius yang cukup terang bisa mengecohkan pengamat. Untuk meminimumkan kemungkinan kesalahan pengamatan maka dibuat kriteria tambahan: Bila pada saat pengamatan ada planet Merkurius atau Venus yang cukup terang dekat dengan posisi bulan, maka data tersebut juga tidak digunakan. Maka data akhir yang dianalisis selanjutnya berjumlah 11 data (5 pengamatan awal Ramadhan dan 6 pengamatan awal Syawal).

Khas Indonesia

Hasil analisis dengan penyaringan data tersebut menghasilkan kriteria imkanur rukyat khas Indonesia: Pertama, umur hilal minimum 8 jam. Kedua, jarak sudut bulan-matahari minimum 5,6 derajat. Ketiga, beda tinggi bulan-matahari minimum tergantung beda azimutnya. Untuk beda azimut sekitar 6 derajat beda tinggi bulan-matahari minimum 3 derajat (tinggi hilal sekitar 2 derajat). Bila beda azimutnya kurang dari 6 derajat perlu beda tinggi yang lebih besar. Untuk beda azimut 0 derajat, beda tingginya minimum 9 derajat (tinggi hilal sekitar 8 derajat).

Kriteria imkanur rukyat khas Indonesia tersebut sudah mendekati kriteria IICP dan kriteria internasional lainnya. Kriteria beda tinggi 8 derajat untuk beda azimut 0 derajat sama dengan kriteria IICP bila mengakomodasi pengamatan hilal termuda dengan tinggi sekitar 8 derajat.

Data ketinggian minimum berasal dari pengamatan 16 September 1974 yang menyatakan beda tingginya 3,02 derajat, beda azimut 6,03 derajat, jarak sudut bulan-matahari 6,75 derajat, dan umur hilal 8,08 jam serta beda waktu terbenam matahari-bulan 8 menit. Jarak sudut bulan-matahari 6,75 derajat sudah mendekati limit Danjon (7 derajat) yang merupakan kriteria yang didukung alasan teoritik.

Alasan teoritik limit Danjon menyatakan bahwa bulan tidak mungkin tampak bila jarak sudut bulan-matahari kurang dari 7 derajat karena alasan keterbatasan sensitivitas mata manusia rata-rata. Makin ke arah tanduk sabitnya, cahaya hilal makin redup. Dengan sensitivitas mata manusia rata-rata pada 8 magnitudo (skala kecerlangan relatif benda langit), pada jarak bulan sekitar 7 – 8 derajat hilal hanya tampak sebagai titik cahaya yang tidak menujukkan bentuk sabit sama sekali. Telaah teoritik tersebut bisa disimpulkan juga bahwa bila ada pengamat yang sangat peka matanya, mungkin saja dia mampu melihat hilal yang jarak sudut bulan-matahari kurang dari 7 derajat.

Jarak sudut bulan-matahari minimum berasal dari pengamatan hilal 4 Agustus 1978. Data hilal pada saat itu adalah beda azimut bulan-matahari 4,1 derajat, beda tingginya 3,9 derajat, jarak bulan-matahari 5,6 derajat, dan umur hilal 9,9 jam, serta beda waktu terbenam matahari-bulan 13 menit. Analisis astronomis lebih mendalam juga tidak menemukan adanya bintang terang di dekatnya. Hilal ini disaksikan oleh 11 orang di 4 lokasi yang terpisah jauh sehingga kecil kemungkinannya semua saksi salah melihat objek latar depan yang sama yang dianggap hilal. Secara astronomis, pengamatan tersebut mungkin dapat dijelaskan dari telaah teoritik yang menyatakan kemungkinan adanya pengamatan hilal yang jarak sudut bulan-matahari kurang dari 7 derajat bila mata pengamatnya sangat sensitif. Hal itu mungkin saja terjadi.

Kriteria IICP sepenuhnya berdasarkan bukti empirik pangamatan di berbagai tempat di dunia. Pengamatan di Indonesia pun semestinya dapat digunakan untuk menyempurnakan kriteria di daerah tropik. Dokumentasi Depag RI relatif sangat lengkap mengungkapkan pengamatan hilal di Indonesia. Data tersebut tidak dapat di kesampingkan, kecuali ada alasan ilmiahnya seperti diungkapkan dalam kriteria utama dan kriteria tambahan pemilahan data. Apalagi pengamatan tersebut didukung sumpah atas kebenaran pengamatan yang dilakukan. Tidak ada alat konfirmasi lain yang dapat membuktikan atau menolak pengamatan hilal, selain menyingkirkan faktor-faktor ketidakmungkinannya berdasarkan analisis astronomis yang akurat (antara lain, bulan telah berada di bawah ufuk pada saat maghrib, pengamatan dilakukan setelah waktu bulan terbenam, dugaan kuat adanya gangguan objek non-hilal, dan salah posisi hilal relatif terhadap titik terbenamnya matahari). Penggambaran bentuk hilal tidak mungkin dilakukan untuk hilal yang sangat muda, karena bisa jadi bentuknya sekedar titik cahaya tanpa tanduk.

Dengan kriteria imkanur rukyat dari LAPAN ini, kriteria Depag RI disempurnakan dalam dua hal: Pertama, jarak sudut bulan-matahari semula minimum 3 derajat menjadi 5,6 derajat. Ke dua, ketinggian hilal minimum tidak lagi seragam 2 derajat, tetapi harus memperhatikan beda azimut bulan-matahari. Tinggi minimum 2 derajat bila beda azimutnya lebih dari 6 derajat, sedangkan untuk beda azimut kurang dari 6 derajat tinggi minimumnya antara 2 – 8 derajat.

Dengan kriteria imkanur rukyat tersebut (termasuk kriteria Depag RI yang berlaku) Idul Adha 1421 semestinya jatuh pada 6 Maret 2001. Hal ini karena ijtima’ pada 23 Februari 2001 terjadi pada pukul 15.23 WIB. Sehingga saat maghrib 23 Februari 2001 itu di Indonesia umur hilal kurang dari 8 jam, tidak imkanur rukyat. Imkanur rukyat baru pada 24 Februari 2001. Sehingga awal Dzulhijjah jatuh pada 25 Februari 2001 dan Idul Adha pada 6 Maret 2001.

Titik Temu

Kriteria imkanur rukyat berdasarkan pengamatan hilal di Indonesia diharapkan menjadi titik temu antarkomponen ahli hisab rukyat. Badan Hisab Rukyat Depag RI dapat menyempurnakan kriteria imkan rukyatnya. Muhammadiyah yang selama ini menggunakan kriteria minimum wujudul hilal diharapkan menggunakan kriteria tersebut sehingga tidak berbeda dengan hasil rukyat. NU yang menggunakan rukyatul hilal semestinya juga dipandu dengan kriteria imkanur rukyat untuk menghindari kesalahan pengamatan. Pengamat yang jujur tidak selalu berarti faham dengan apa yang dilihatnya, sehingga perlu ada tolok ukur tentang kebenaran objek yang dilihatnya. PERSIS punya kecenderungan menggunakan hisab dengan kriteria imkanur rukyat, tinggal menyempurnakan kriteria yang digunakannya.

Kriteria imkanur rukyat yang mengakomodasi hasil-hasil rukyat terdahulu dan memanfaatkan hisab yang akurat merupakan titik temu untuk penyatuan awal Ramadhan dan hari raya di Indonesia. Biarlah NU tetap merukyat dengan teliti dan sungguh-sungguh, dipandu dengan hisab yang akurat. Hasilnya akan digunakan untuk terus menyempurnakan kriteria imkanur rukyat. Biarlah Muhammadiyah dan PERSIS tetap menghisab, asalkan tidak melupakan imkanur rukyat. Tidak mungkin hisab secara murni tanpa kriteria rukyat, karena batasan waktu maghrib dalam menghisab merupakan pengakuan atas rukyat yang hanya bisa dilakukan pada saat maghrib. Hisab dan rukyat bukan lagi sesuatu yang berbeda, tetapi suatu komplemen yang memang seharusnya ada.

%d blogger menyukai ini: