Analisis Ramadhan dan Idul Fitri 1421 Global


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 24 Desember 2000)

Para ahli hisab di Indonesia sepakat bahwa Ramadhan  1421 berawal pada 27 November dan Idul Fitri pada 27 Desember 2000. Penetapan awal Ramadhan di Indonesia didukung pula dengan hasil rukyat, walau hanya di satu lokasi pengamatan. Namun di negara-negara lain ada tiga tanggal awal Ramadhan: 26 November, 27 November, dan 28 November. Perbedaan ini bisa menimbulkan tiga kemungkinan idul fitri: 26 Desember, 27 Desember, dan 28 Desember. Bila hal ini tidak difahami, mungkin akan timbul kebingungan di tengah masyarakat.

Sebagian besar negara-negara Islam, termasuk Arab Saudi dan Mesir, memulai shaum pada 27 November. Namun, Libia dan Fiji mengawalinya pada 26 November. Sedangkan Iran, Pakistan, India, Bangladesh, Mauritius, Kenya, Moroko, dan Afrika Selatan mengawalinya pada 28 November. Di Libia dan Fiji idul fitri hampir pasti akan dilaksanakan pada 26 Desember, hari terakhir shaum di Indonesia. Masalah yang biasa timbul adalah kebingungan tentang sah tidaknya puasa pada hari itu, ketika di tempat lain sudah beridul fitri.

Masalah awal Ramadhan

Garis tanggal berdasarkan kriteria wujudul hilal awal Ramadhan melintasi Pasifik, Amerika Tengah, Afrika utara, Timur tengah, dan Asia Tengah. Dengan kriteria ini, seperti digunakan oleh Muhammadiyah, pada saat maghrib 26 November 2000 di seluruh dunia hilal telah wujud di atas ufuk. Itu berarti shaum Ramadhan mulai 27 November 2000. Bahkan di Houston, AS, didukung dengan laporan rukyatul hilal oleh Zaheeruddin. Di Houston saat itu hilal sudah cukup tinggi, lebih dari 9 derajat saat maghrib.

Sebenarnya pada saat maghrib 25 November di Eropa dan Asia Tengah bulan telah wujud di atas ufuk, tetapi belum terjadi ijtima’. Ini menjadi peringatan agar pengguna hisab wujudul hilal berhati-hati. Wujudul hilal tidak selalu berarti masuk bulan baru, karena bisa terjadi sebelum ijtima’. Di wilayah Indonesia wujudul hilal sebelum ijtimak sepeti itu akan terjadi pada bulan Rajab 1422, September 2001.

Namun, dalam kasus penetapan awal Ramadhan di Libia, kriterianya pasti bukan wujudul hilal. Pada saat maghrib 25 November bulan sudah terbenam dengan ketinggian minus 0,5 derajat. Sangat mungkin mereka menggunakan kriteria ijtimak sebelum fajar. Ijtimak terjadi pada pukul 00:13 sedangkan fajar di Tripoli pukul 05:16 waktu setempat. Sehingga mereka menetapkan awal Ramadhan 26 November.

Di Fiji, masalahnya lain lagi. Kriteria ijtimak sebelum fajar pun tidak berlaku. Ijtimak terjadi pukul 10:13 waktu setempat, jelas sesudah fajar. Kemungkinan besar mereka menggunakan hisab urfi, yaitu kalender tetap dengan jumlah hari tiap bulan berganti-ganti antara 30 dan 29 hari. Dalam hisab urfi, Ramadhan selalu 30 hari.

Kemungkinan lainnya, Libia dan Fiji menggunakan rukyat “hilal” akhir bulan yang diamati pada waktu shubuh. Memang ada informasi yang mengatakan bahwa pada 24 November lalu ada “rukyatul hilal” di Libia, suatu hal yang tidak mungkin bila itu diamati pada waktu maghrib. Dugaan penggunaan metode rukyat “hilal” akhir bulan bisa kita lihat pada saat penentuan idul fitri.

Idul Fitri

Dari segi hisab rukyat, idul fitri 1421 sangat menjamin kesatuan. Garis tanggal wujudul hilal berada di Atlantik. Di benua Amerika, bulan telah berada di atas ufuk pada saat maghrib 25 Desember. Dengan kriteria wujudul hilal, di benua Amerika pada prinsipnya bisa beridul fitri 26 Desember. Tetapi di wilayah selain benua Amerika, bulan wujud di atas ufuk baru pada maghrib 26 Desember 2001. Sehingga di sebagian besar wilayah, dengan wujudul hilal idul fitri dilaksanakan pada 27 Desember 2000.

Garis tanggal ketinggian hilal 2 derajat melintasi Pasifik Selatan, Amerika Tengah, dan Pasifik Utara. Ijtima’ awal Syawal terjadi pada 26 Desember 2000 pukul 00:23 WIB, sehingga pada saat maghrib di Indonesia umur hilal telah lebih dari 8 jam. Dengan demikian dengan kriteria imkanur rukyat Depag RI, idul fitri jatuh pada 27 Desember 2000.

Demikian juga dengan kriteria imkanur rukyat yang diusulkan LAPAN yang dibuat berdasarkan analisis kesaksian rukyatul hilal di Indonesia. Garis tanggal imkanur rukyat menyatakan bahwa pada saat maghrib 26 Desember di Jawa dan Sumatra hilal mungkin dirukyat, sehingga dengan berlakunya Indonesia sebagai satu mathla’ idul fitri akan jatuh pada 27 Desember 2000.

Dengan memperhatikan awal Ramadhan di berbagai negara, sebagian besar akan merayakannya pada 27 Desember. Mungkin juga ada yang merayakannya pada 28 Desember seperti Iran, Pakistan, India, dan Bangladesh. Libia dan Fiji hampir pasti merayakannya pada 26 Desember dengan shaum selama 30 hari bila menggunakan metode hisab urfi atau ijtimak qabla fajr. Namun bila ternyata mereka mengumumkan idul fitri jatuh pada 25 Desember, setelah shaum 29 hari, dapat dipastikan metode yang mereka gunakan adalah rukyat “hilal” akhir bulan.

Sebenarnya dari segi syariat dan hisab astronomi tidak ada landasan hukumnya untuk menetapkan idul fitri 26 Desember seperti di Libia dan Fiji. Tetapi informasi tentang idul fitri di Libia atau di Fiji biasanya tidak disertai alasan-alasan penetapannya. Masyarakat yang mendengar pelaksanaan idul fitri yang lebih awal tersebut tanpa memahami alasannya, mungkin akan bingung tentang sah tidaknya puasa pada 26 Desember, hari ke-30 shaum di Indonesia.

Satu pegangan yang harus disadari dalam menyikapi hal ini: metode penetapan idul fitri semestinya sama dengan metode penetapan awal Ramadhannya. Bila itu konsisten, tidak akan menghadapi kebingungan. Muslim di Libia beridul fitri lebih awal karena awal Ramadhannya pun lebih awal. Tidak bisa kita yang mengawali Ramadhan menggunakan sistem di Indonesia ingin mengakhirinya dengan sistem Libia.

Tanggal 26 Desember adalah idul fitri dan haram berpuasa bagi orang yang mengikuti sistem di Libia. Sedangkan di Indonesia kita meyakini 26 Desember masih akhir Ramadhan sehingga tetap wajib shaum.

Iklan
%d blogger menyukai ini: