ANALISIS GLOBAL AWAL RAMADLAN DAN IDUL FITRI 1420


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariks, Lapan Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 8 Desember 1999)

Pada era globalisasi informasi saat ini, penentuan awal Ramadlan dan idul fitri tidak mungkin hanya berdasarkan penentuan setempat. Mau tidak mau, infomasi dari daerah lain segera diketahui dari radio, TV, atau internet. Bila terjadi perbedaan, semestinya harus segera dijelaskan kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kebingungan.

Sumber perbedaan yang utama adalah perbedaan metode yang digunakan oleh lembaga pemerintah atau organisasi Islam yang mengumumkan keputusannya. Secara garis besar memang hanya ada dua metode: ru’yatul hilal (pengamatan bulan sabit pertama) dan hisab (perhitungan astronomis). Tetapi pada kenyataannya saat ini ada beragam variasi metode tersebut.

Kalangan yang menganut ru’yat terbagi menjadi ru’yat lokal dan ru’yat global. Ru’yat lokal mengacu pada pengamatan di suatu wilayah. Wilayah lain mungkin berbeda keputusannya, tergantung hasil pengamatan di wilayah tersebut. Kalangan NU (Nahdlatul Ulama) menganut metode ru’yat lokal ini.

Ru’yat lokal pun masih bervariasi. Ada ru’yat terpandu kriteria hisab. Ada juga ru’yat yang apa adanya. Ketika PB NU menyetujui keputusan pemerintah dalam penetapan idul fitri 1418/1998 jatuh pada 30 Januari 1998, PW NU Jawa Timur tetap berpegang pada kesaksian hilal di wilayah tersebut dan beridul fitri pada 29 Januari 1998. Saat itu perwakilan PB NU menolak hasil ru’yat tersebut karena ketinggian hilal hanya sekitar 1 derajat atau kurang, lebih rendah dari kriteria imkan ru’yat (tinggi hilal yang mungkin di ru’yat). Sedangkan PW NU Jawa Timur menerima apa adanya kesaksian yang diperkuat dengan sumpah itu.

Ru’yat global mengacu pada pengamatan hilal yang pertama di mana pun di dunia ini. Kalangan yang menganut metode ini mendefinisikan masuknya awal puasa bila saat terjadinya ru’yatul hilal di mana pun di dunia saat shubuh belum tiba. Kalangan ini pun berijtihad membuat hukum untuk mengqadla puasanya bila informasi ru’yatul hilal itu datang terlambat. Agar jangan sampai mengqadla puasa, semestinya mereka harus berjaga sampai shubuh mendengarkan radio, mencari informasi dari internet, atau rajin menelpon ke berbagai negara. Sungguh menyulitkan jadinya.

Mengingat metode hisab dengan data astronomi modern kini sudah sangat akurat, saat ini banyak juga kalangan yang hanya mengandalkan pada hisab. Selain alasan syariat yang diyakini mereka membolehkannya, metode ini sangat memudahkan ummat. Bukankah salah kaidah dalam syariat Islam adalah memilih hal yang paling memudahkan ummat, bila syariat membolehkannya.

Namun ternyata metode hisab yang saat ini digunakan juga bervariasi. Muhammadiyah menggunakan metode hisab dalam penentuan awal Ramadlan dan hari raya, tetapi dengan kriteria wujudul hilal (wujudnya hilal). Kriteria ini menyatakan yang penting bulan telah wujud di atas ufuk pada saat maghrib. Tidak penting dipertimbangkan mungkin tidaknya diru’yat. Jadi, data hisab yang diperlukan hanyalah ketinggian bulan pada saat maghrib. Bila telah positif di atas ufuk, masuklah tanggal baru. Atau bila saat bulan terbenam lebih lambat daripada matahari, walaupun hanya berselisih satu menit atau kurang, masuklah tanggal baru.

Persis (Persatuan Islam) menggunakan metode hisab juga, tetapi menggunakan kriteria imkan ru’yat yang telah ditetapkan Departemen Agama RI. Dengan beda kriteria itu Muhammadiyah dan Persis mengambil keputusan yang berbeda tentang idul fitri 1418/1998 lalu. Muhammadiyah menetapkan idul fitri jatuh pada tanggal 29 Januari 1998, sedangkan Persis sepakat dengan keputusan pemerintah yang menetapkan idul fitri jatuh pada tanggal 30 Januari 1998.

Bagi masyarakat umum perbedaan-perbedaan yang sering muncul memang membingungkan. Tetapi, dengan memahami sumber perbedaan itu kita akan lebih siap mengambil sikap. Dan sesungguhnya, bila memahami karakteristik posisi bulan dan matahari pada suatu saat, kita bisa memprakirakan perbedaan yang akan terjadi. Kemungkinan perbedaan seperti itu penting untuk segera diinformasikan kepada masyarakat. Memang menarik mengikuti dinamika perbedaan penentuan awal Ramadlan dan idul fitri.

Dengan hisab global kita bisa melihat kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Tampaknya awal Ramadlan dan idul fitri mendatang ini akan seragam di seluruh dunia. Dalam pengertian awam, seragam berarti sama tanggalnya di seluruh dunia untuk mengawali dan mengakhiri puasa Ramadlan.

Hisab Global

Untuk mengakomodasi kriteria hisab yang digunakan saat ini, kita akan melihat berbagai garis tanggal berdasarkan ketinggian bulan pada saat maghrib. Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal dengan ketinggian bulan 0 derajat. Departeman Agama RI dan Persis menggunakan kriteria imkan ru’yat ketinggian bulan 2 derajat. Sedangkan kesepakatan internasional di Istambul 1978, yang mendekati kriteria IICP (International Islamic Calendar Programme), menetapkan ketinggian bulan 5 derajat.

Sebenarnya kriteria IICP lebih kuat dasarnya secara astronomis, karena dibuat berdasarkan data-data pengamatan astronomi dari berbagai wilayah di dunia. Kriteria imkan ru’yat yang dirumuskan IICP (dengan sedikit modifikasi, bukan nilai rata-rata yang diambil sebagai kriteria, tetapi nilai minimalnya) terbagi menjadi tiga jenis, tergantung aspek yang ditinjau.

Berdasarkan posisi bulan dan matahari, ketinggian hilal tergantung beda azimut bulan-matahari. Ketinggian minimal hilal dapat teramati adalah 4 derajat bila beda azimut bulan – matahari lebih dari 45 derajat. Tetapi  bila beda azimutnya 0 derajat perlu ketinggian minimal 10,5 derajat.

Berdasarkan beda waktu terbenam matahari dan bulan dipengaruhi kondisi atmosfer lokasi pengamatan. Bulan sekurang-kurangnya 40 menit lebih lambat terbenamnya daripada matahari. Ini untuk daerah tropis, di sekitar ekuator. Sedangkan untuk daerah sub-tropis dan lintang yang lebih tinggi memerlukan beda waktu lebih besar lagi, terutama pada musim dingin.

Kemungkina ru’yatul hilal juga dipengaruhi umur bulan (dihitung sejak ijtima’, bulan baru astronomis). Hilal harus berumur lebih dari 16 jam bagi pengamat di daerah tropik dan berumur lebih dari 20 jam bagi pengamat di lintang tinggi. Kriteria IICP sebenarnya belum final, mungkin berubah dengan adanya lebih banyak data.

Ratusan laporan pengamatan hilal kini dikumpulkan untuk menyempurnakan kriteria imkan ru’yat tersebut. Sayangnya, kriteria ini belum dapat diterapkan sepenuhnya. Brunai Darussalam, Malaysia, dan Singapura ternyata lebih memilih kritera imkan ru’yat yang digunakan Indonesia. Empat negara tersebut selalu bersidang dalam menyeragamkan masalah hisab dan ru’yat dalam penetapan awal Ramadan dan hari raya.

Dengan kriteria tinggi bulan 0, 2, dan 5 derajat itu dapat dibuat garis tanggal awal Ramadlan dan Syawal 1420. Garis tanggal tersebut memisahkan  daerah yang lebih dahulu memasuki awal Ramadlan atau idul fitri. Karena bulan semakin lama semakin tinggi, maka daerah di sebelah barat garis mempunyai kemungkinan yang pertama melihat hilal, baik dalam arti secara fisik meru’yat maupun secara hakikat dengan menghisab. Garis tanggal itu diperlihatkan pada gambar.

Ijtima’ awal Ramadlan 1420 terjadi pada 7 Desember 1999, 22:33 UT (Universal Time, GMT) atau 8 Desember 1999, 05:33 WIB. Garis tanggal (dari kiri ke kanan pada gambar) untuk ketinggian bulan 5, 2, dan 0 derajat. Pada saat maghrib 7 Desember 1999 di Amerika Selatan, Afrika, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Australia bulan masih di bawah ufuk. Tetapi pada saat maghrib 8 Desember 1999 di benua Amerika, Afrika, Timur Tengah, dan sebagian Asia Tenggara tinggi bulan telah mencapai 5 derajat atau lebih. Maka awal Ramadlan  1420 di hampir seluruh wilayah jatuh pada tanggal 9 Desember 1999.

Ijtima’ awal Syawal 1420 terjadi pada 6 Januari 2000, 18:15 UT atau 7 Januari 2000, 01:15 WIB. Pada saat maghrib 6 Januari 2000 di Afrika,  Asia, dan Australia bulan masih di bawah ufuk. Sedangkan pada saat maghrib 7 Januari 2000 di benua Amerika, Afrika, Timur Tengah, dan Asia Tenggara tinggi bulan telah mencapai 5 derajat atau lebih. Jadi, Idul Fitri 1420 di hampir seluruh wilayah jatuh pada tanggal 8 Januari 2000.

%d blogger menyukai ini: