Menjaga Jiwa Istiqamah


T.Djamaluddin

(Dimuat di Tadzkir – Buletin DKM LAPAN Bandung, Januari 1995)

Dalam perjalanan hidup seorang Muslim, iman senantiasa naik turun. Dan kita semua tahu bahwa perjalanan hidup ini penuh tantangan, debu-debu dosa pun terserak di mana-mana. Sementara itu kita tidak tahu ke arah mana perjalanan hidup ini akan berlangsung di masa depan kita. Kita tidak tahu lingkungan keluarga bagaimanakah yang akan tercipta. Kita tidak tahu lingkungan tempat kerja yang bagaimanakah yang akan jita masuki. Dan kita tak pernah tahu lingkungan masyarakat yang bagaimanakah yang akan kita jumpai. Yang menjunjung nilai-nilai Islam kah? Yang liberal kah? Atau yang anti Islam? Lebih jauh dari itu, kita tak pernah tahu masih adakah iman ini ketika malakul maut menjemput. Akankah kita mati masih dalam iman Islam?

Coba kita baca diri kita. Kita persiapkan hidup kita. Kalaupun lumpur-lumpur dosa bertebaran di mana-mana, sedapat mungkin kita waspada. Perkuat jiwa istiqamah kita, jiwa yang kukuh menjaga iman kita. Tetapi bagaimana? Kita mesti berbenah diri, kita saling mengingatkan dan tak memandang diri lebih baik dari yang lain.

Pembinaan pribadi

Salat menjaga kita dari perbuatan tercela dan dosa (Q.S.29:45). Salat adalah cara kontrol pribadi yang paling efektif bila dilakukan dengan benar. Salat yang dilakukan minimal lima kali sehari senantiasa mengingatkan bahwa kita dalam pengawasan-Nya setiap saat. Tidak ada saat sekejap pun yang memungkinkan kita berbuat dosa dan tercela yang luput dari hisab-Nya.

Namun, godaan dan tantangan yang berupa penderitaan, ketakutan, dan berbagai kesulitan hidup tak akan lepas dari kehidupan manusia. Putus asa dan “kepalang basah” bukanlah solusi menghadapi godaan dan tantangan itu. Allah memberikan solusinya agar meminta pertolongan Allah dengan salat dan sabar (Q.S.2:45, 153). Ada dua segi yang ditekankan dalam dua ayat itu. Pertama, dalam Q.S. Al-Baqarah:45 menekankan bahwa memohon pertolongan dengan sabar dan salat itu tidak gampang. Hanya orang yang khusyu’ yang bisa melakukannya, yaitu orang yang

yakin menghadap Allah dan yakin akan kembali kepada-Nya. Kedua, Q.S. Al-Baqarah:253 menekankan bahwa Allah senantiasa beserta orang-orang yang sabar. Dalam kata sabar terkandung makna “usaha yang terus-menerus dalam mengatasi tantangan dan godaan”, bukan sikap pasrah menerima apa adanya. Sabar mencakup sabar dalam melaksanakan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi penderitaan.

Hal penting lainnya dalam memperkuat pribadi adalah salat malam (tahajjud) dan membaca Al-Qur’an dengan baik, karena semua itu untuk menguatkan jiwa dan menempatkan kita pada tempat yang terpuji (Q.S. 17:78, 73:3).

Pembinaan Keluarga

Kita sadar bahwa jiwa keagamaan seseorang terus berkembang. Dalam pembinaan di keluarga, kita harus tahu sampai pada tahap mana perkembangan jiwa keagamaan kita dan anak kita. Dari sana kita tahu bagaimana metode pembinaan yang tepat. Sekedar gambaran umum yang mungkin pernah kita rasakan dan kita amati, anak yang berumur kurang dari 11 tahun pemahaman keagamaannya masih ikut-ikutan. Contoh yang baik kepada mereka amat diperlukan. Pada umur 12 – 17 tahun biasanya mereka mulai kritis dalam beragama. Jelaskan dasar-dasar agama dengan pengamalan dan diskusi. Remaja umur 18 – 24 tahun biasanya mengalami masa kebimbangan, inilah masa kritis dalam pembinaan. Bina mereka dengan keterbukaan dan keluasan berfikir. Seorang dewasa umur 24 – 39 tahun sedang menuju kemantapan, kemapanan berfikir dan beragama. Umur 40 tahun, biasanya mereka yang terbina baik akan mapan dalam beragama.

Pembinaan keluarga dimulai sejak kita mencari pasangan hidup. Nabi berpesan agar kriteria pemilihan calon haruslah pada ketaatan pada agama. Karena itu yang akan menjamin keselamatan dunia akhirat. Suami harus bisa membina istri dan keluarganya kelak. Istri pun harus bisa mengingatkan suami akan jalan Allah yang lurus. Saling mengingatkan bisa dimulai sejak saling mengenal. Pengenalan sang calon dan keluarganya pun sangat penting sebelum memutuskan pernikahan. Tetapi dalam masa pengenalan itu, semua pembicaraan dan pertemuan janganlah menyendiri berdua, sebab Nabi berpesan bahwa dalam keadaan demikian setanlah pihak yang ketiga, yang bisa menggoda ke arah dosa. Bertemu bersama keluarganya untuk saling mengenal adalah cara yang terbaik. Kalau sudah sesuai, segera menikah bila telah mampu, jangan terlalu lama menunggu yang mungkin bisa membawa fitnah.

Allah sudah mengingatkan bahwa istri/suami dan anak-anak bisa menjadi suatu cobaan bagi keimanan kita. Diperlukan pembinaan dengan penuh kesabaran dan kelapangan dada (Q.S.64:14-15). Jagalah diri kita dan keluarga kita dari dosa-dosa yang bisa membawa kita ke neraka (Q.S.66:6). Berdoa agar keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, saling mencintai dan saling mengingatkan pada ketaqwaan (Q.S.25:74) harus menjadi kebiasaan.

Istiqamah di Masyarakat

Di mana pun kita berada menjaga jiwa istiqamah amat diperlukan. Kukuh menghadapi segala cobaan dan godaan. Mata, telinga, dan lisan kita harus kita jaga. Tangan dan kaki harus kita jaga. Perut pun harus kita jaga dari makanan dan minuman, serta harta yang haram.

Menghadapi tantangan dan godaan yang tak ringan kini dan di masa depan, idealisme di masa muda dan masa mahasiswa –yang biasanya kaya akan slogan-slogan anti penyelewengan dan kemaksiatan– mungkin lambat laun akan terkikis. Tanpa usaha gigih menjaga jiwa istiqomah, slogan yang pernah digembar-gemborkan mungkin tinggal sekedar slogan kosong, dan larutlah dalam arus yang mudah menggelincirkan dan menghanyutkan. Na’udzu billah min dzalik. Tanpa jiwa istiqomah para pemegang amanat pemerintahan dan kita semua, pemerintahan yang bersih hanya sekedar omong kosong.

Robbanaa laatuzigh qulubana ba’da idzhadaytana wahablana minladunka rohmah innaka antalwahhab (Tuhan kami, jangan Kau goncangkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk, karuniakanlah rahmat dari sisi-Mu. Sungguh Engkau Maha Pemberi Rahmat) (Q.S. 3:8).

%d blogger menyukai ini: