Badai Matahari 2013 Tidak Hancurkan Bumi

T. Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

Bermula dari pertemuan “Space Weather Enterprise Forum 2010” bertema Building an Informed and Resilient Society – the Decade Ahead National Press Club, Washington DC June 8, 2010 yang menghadirkan Dr Richard Fisher, seorang pakar NASA di Divisi Heliofisika (hubungan matahari-bumi). Media massa (antara lain The Daily Telegraph) kemudian memberitakannya dengan gaya jurnalistik yang “heboh”. Berita itu kemudian berkembang di berbagai situs, termasuk berita on-line di Indonesia. Bahkan ada situs yang menuliskan dengan judul sensasional “NASA: Civilization will end in 2013 (possibly)”. Peradaban akan hancur 2013?

Di blog saya, masalah badai matahari sudah saya jelaskan bahwa itu tidak berdampak pada kehancuran bumi (https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/21/badai-matahari-dan-isu-kiamat-2012/). Hal yang diungkapkan Dr. Fisher juga bukan hal luar biasa dari segi sains, karena isinya hanya memperingkatkan kemungkinan buruk badai matahari. Tetapi BUKAN KEHANCURAN BUMI.

Inti pernyataannya adalah “We know it is coming but we don’t know how bad it is going to be,” Fisher told the Daily Telegraph. “It will disrupt communication devices such as satellites and car navigations, air travel, the banking system, our computers, everything that is electronic. It will cause major problems for the world.”

Para pakar heliofisika (termasuk di LAPAN) menyadari bahwa dampak badai matahari (ledakan di matahari yang dalam bahasa teknis disebut flare dan CME-Coronal Mass Ejection) saat ini lebih tinggi risikonya dibandingkan pada masa lalu. Kerentanan ini disebabkan oleh perkembangan teknologi navigasi dan telekomunikasi yang berbasis satelit, termasuk untuk kepentingan perbankan. Untuk di daerah lintang tinggi seperti Eropa, Rusia, dan Amerika Utara kerentangan juga dialami jaringan listriknya.

Pada saat terjadinya badai matahari, partikel berenergi tinggi (proton dan elektron) dilontarkan dari matahari. Kadang disertai interaksi dengan medan magnet bumi yang memberikan dampak tambahan. Bila partikel itu mengarah ke bumi, fasilitas manusia yang pertama terdampak adalah satelit. Setelah itu jaringan listrik di wilayah lintang tinggi. Tidak ada yang berdampak langsung pada manusia di permukaan bumi. Jadi, hanya dampak teknologi dan ekonomi yang mungkin terjadi.

Tingginya tingkat kerentanan tidak berarti tingginya tingkat bahaya yang akan dialami manusia. Para operator satelit dan pengelola jaringan lintrik telah berupaya meningkatkan sistem proteksinya. Prakiraan datangnya badai matahari digunakan untuk mempersiapkan antisipasinya. Misalnya, untuk sementara waktu di-non-aktif-kan agar tidak mengalami kerusakan, diganti dengan sistem lain sebagai pengganti.

Badai matahari sebenarnya bukan hanya saat puncak yang diperkirakan 2013. Ledakan di matahari sewaktu-waktu terjadi. Hanya saja frekuensi kejadiannya paling banyak saat puncak aktivitas matahari. Tetapi ”lebih sering terjadi”, bukan pula berarti ”paling kuat”. Tidak ada seorang pakar pun yang bisa memperkirakan kapan badai matahari paling akan terjadi, walau perkiraan kasarnya bisa dibuat, yaitu sekitar puncak aktivitas matahari, bisa sebelum atau sesudahnya.

Badai matahari tidak berdampak mematikan atau menghancurkan bumi. Hanya dampak teknologi dan ekonomi yang saya kira sudah disiapkan antisipasinya. Setidaknya perkembangan teknologi 2013 tidak jauh berbeda dengan saat puncak aktivitas matahari tahun 2000. Sekitar tahun 2000 para operator satelit dan pengelola jaringan listrik bisa mengatasi badai matahari yang terjadi. Kita tidak mengalami gangguan yang berarti. Bahkan saat terjadi badai besar 28 Oktober 2003 tidak ada dampak yang dirasakan masyarakat. Apalagi prakiraan terbaru puncak aktivitas matahari tahun 2013 tidak setinggi tahun 2000, hanya sekitar 2/3 puncak tahun 2000 (lihat gambar di bawah). Jadi, tidak perlu risau dengan berita kehancuran bumi atau kerusakan hebat pada 2013.

Tulisan terkait:

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/09/21/badai-matahari-dan-badai-geomagnetik-bukan-badainya-yang-mematikan-tetapi-teknologi-manusia-yang-rentan-badai-antariksa/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/06/17/badai-matahari-2013-tidak-hancurkan-bumi/

https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/21/badai-matahari-dan-isu-kiamat-2012/

Iklan

Langit

T. Djamaluddin

(Dimuat di Hikmah Republika, 13 September 1999)

Ada sesuatu yang hilang dari kehidupan masyarakat kota: keindahan langit. Gemerlap lampu kota telah merampas hak kerlip bintang-bintang di langit untuk menembus setiap kalbu. Sementara gedung-gedung tinggi menghalangi indahnya matahari terbit dan terbenam yang penuh makna. Mungkin hal itu salah satu sebab kurang pekanya kalbu kita membaca ayat-ayat-Nya di alam.

Padahal Allah mengingatkan dalam firman-Nya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi….(Q. S. 3:190-191).

Menurut riwayat, setelah ayat itu turun Rasulullah SAW menangis. Bilal yang menemuinya pada waktu shubuh bertanya mengapa Rasulullah sampai menangis. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa malam itu turun ayat yang amat berat maknanya. Padahal sedikit umatnya yang merenungkannya.

Mungkin banyak di antara kita terbiasa membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil, tetapi sebatas formalitas dzikir sesudah shalat. Sehingga fenomena yang biasa kita lihat adalah mengejar kuantitas jumlah bacaan, kadang dengan ucapan yang kurang sempurna.

Dzikir sebenarnya tidak hanya diucapkan sesudah shalat, tetapi berlaku sepanjang kehidupan. Sayangnya suasana lingkungan dan kesibukan kota kadang melalaikan. Bila setiap hari hanya kemacetan dan gedung-gedung tinggi yang mewarnai suasana hati, mungkin dzikir terlupakan. Berganti dengan keresahan dan kejenuhan.

Beruntunglah bila masih sempat menikmati langit malam menjelang tidur atau menjelang shubuh. Matikan lampu luar beberapa saat. Pandangi langit bertabur bintang. Bila beruntung berada di lokasi yang tidak terlalu parah terkena polusi cahaya, “sungai perak” galaksi Bimasakti yang memiliki ratusan milyar bintang akan terlihat membujur di langit. Sesekali mungkin terlihat meteor seperti bintang jatuh.

Dalam keheningan malam, ingatlah Allah. Renungkan ayat-ayat-Nya yang terlukis indah di langit. Ucapan tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil saat itu akan lebih mendalam merasuk kalbu daripada sekadar ucapan yang berpacu dengan hitungan biji tasbih atau buku-buku jari.

Di tengah keluasan langit, kita sadari bumi kita hanyalah planet mungil di keluarga matahari. Sedangkan matahari sendiri hanya sekadar bintang kecil di galaksi Bimasakti. Masih banyak bintang raksasa yang diameternya ratusan kali diameter matahari.

Galaksi dihuni oleh milyar bintang serta gas dan debu bahan pembentuk bintang-bintang baru. Padahal jumlah galaksi yang ada di alam semesta ini tak terhitung banyaknya.

Rabbana maa khalaqta haadza baathilaa, subhaanaka faqinaa ‘adzaabannar, “Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau! (Hanya Engkau yang Mahasempurna, kami manusia dhaif penuh kesalahan). Karenanya (ampunilah kami), jauhkan kami dari siksa neraka” (Q.S. 3:191).

Semakin dalam bertafakur, semakin sadar akan kelemahan dan kekecilan diri manusia. Dari segi substansi materinya, jasad manusia tidak ada bedanya dengan debu-debu antarbintang, sama-sama terbentuk di inti bintang. Namun nafsu manusia kadang menghanyutkan pada ketakaburan, merasa diri besar. Setiap yang besar, pasti ada yang lebih besar. Hanya Dia yang Mahabesar. Patutkah kita masih menyombongkan diri?

Menyikapi Perbedaan Idul Fitri dengan Wilayah Arab

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 16 Januari 1999)

Negara-negara Arab, seperti Arab Saudi, Irak, Yaman, dan Yordania mengawali Puasa Ramadan 19 Desember 1998, lebih awal daripada puasa di Indonesia. Itu berarti mereka pun akan beridul fitri lebih awal, Senin 18 Januari 1999.

Sebagian orang di Indonesia mungkin bingung menerima berita seperti itu. Apalagi pada saat puasa terakhir mendengar kabar di negara-negara Arab sudah beridul fitri. Haruskah membatalkan puasa karena berpuasa pada saat idul fitri itu haram?

Untuk menyikapinya setidaknya dua hal pokok perlu difahami. Pertama, perlu diklarifikasi penentuan awal Ramadan di negara-negara Arab. Kedua, berdasarkan argumentasi syariah, perlu diperjelas harus atau tidak kita mengikuti kesaksian mereka.

Ramadan dan Syawal 1419

Untuk mencari klarifikasi penentuan awal Ramadan di negara-negara Arab satu-satunya cara yang dapat kita lakukan adalah mengevaluasinya dengan hisab yang akurat. Jangan berharap mereka bisa dan mau memberikan penjelasan informasi rinci tentang kesaksian rukyatul hilal 18 Desember lalu. Mereka selalu mengklaim bahwa mereka menentukan awal Ramadan dan bulan-bulan lainnya semata-mata dengan rukyat, tanpa menggunakan hisab. Tetapi bagaimana prosedur pengamatannya, mereka tidak terbuka.

Ketika terjadi kontroversi penentuan hari wukuf 1410 H yang diumumkan Arab Saudi jatuh pada 1 Juli 1990, saya mengirim surat kepada lembaga fatwa Arab Saudi, Presidency of Islamic Research, IFTA & Propagation, menanyakan tentang prosedur penentuan awal Dzulhijjah dan bulan-bulan lainnya di Arab Saudi. Tidak ada jawaban yang memuaskan. Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz hanya mengirimkan fatwa yang pernah dikeluarkan lima belas tahun sebelumnya, 1395 H, tentang hisab astronomis.

Prosedur rukyatul hilal di Arab Saudi dan negara-negara Arab lainnya masih merupakan teka-teki. Kabarnya Departemen Agama RI pun tidak dapat memperoleh jawaban memuaskan tentang hal itu.

Dalam diskusi di ISNET beberapa tahun lalu, ada yang menginformasikan bahwa di Arab Saudi ada kebiasaan pemberian penghargaan dari raja kepada penemu hilal yang pertama. Bila informasi ini benar, bisa jadi orang awam pun berlomba untuk menemukan hilal. Dan bisa jadi pula, seperti disinyalir kalangan Muhammadiyah pada saat kontroversi wukuf 1410 H lalu, ada pengamat yang melaporkan bulan sabit akhir bulan pada pagi hari sebagai hilal awal bulan. Mungkin karena keawamannya.

Bila dasar keputusannya hanya keimanan dan kejujuran pengamat hilal, tanpa mau mengkonfirmasikan benar tidaknya hilal yang teramati, maka keputusan kontroversial penentuan awal bulan qamariyah bisa terjadi. Keputusan negara-negara Arab mengawali puasa pada 19 Desember 1999 juga termasuk kontroversial dari segi hisab astronomis.

Hisab global menunjukkan bahwa garis tanggal awal Ramadan 1419 melintasi Amerika Tengah, Afrika bagian utara, Eropa bagian Selatan, dan Rusia. Maka pada saat maghrib 18 Desember di wilayah Amerika Selatan, Afrika, sebagian besar Asia, dan Australia bulan telah terbenam. Bagaimana mungkin ada laporan rukyatul hilal di negara-negara Arab saat itu bila bulannya telah terbenam pada saat maghrib. Apalagi ijtima’ awal Ramadan baru terjadi tengah malamnya.

Mungkin ada yang menyangsikan akurasi hisab astronomisnya. Saya bisa katakan bahwa akurasi hisab astronomis saat ini sudah sangat baik, ketelitiannya sampai orde detik. Bukti yang bisa ditunjukkan adalah penentuan waktu gerhana matahari total. Gerhana matahari sesungguhnya adalah ijtima’ yang dapat diamati.

Dalam setiap pengamatan gerhana matahari total, astronom telah mempunyai data hisab pada detik ke berapa bulan menutup matahari. Sehingga untuk pengamatan mereka biasa melakukan hitung mundur beberapa detik sebelum peristiwa itu untuk menyiapkan pemotretan kejadian-kejadian istimewa yang amat singkat itu. Akurasi perhitungan astronomi itu bisa menjadi dasar untuk mempercayai hisab astronomis penentuan awal bulan qamariyah.

Jadi, dari segi astronomi, penentuan awal Ramadan di negara-negara Arab sebenarnya lebih awal dari seharusnya. Atau dengan kata lain, kesaksian rukyatul hilal yang mereka lalukan sebenarnya keliru. Pasti bukan hilal awal Ramadan yang mereka lihat. Mungkin bulan sabit akhir Syaban yang teramati pagi hari. Mungkin juga objek terang yang dikira hilal.

Konsekuensi penentuan awal Ramadan yang keliru (secara astronomi) akan berdampak juga pada penentuan idul fitri. Pada 29 Ramadan (16 Januari di negara-negara Arab) orang akan mencari hilal. Bila tidak teramati (hampir pasti tidak mungkin teramati karena pada saat maghrib bulan telah terbenam), maka mereka akan memutuskan istikmal, menggenapkan bulan Ramadan 30 hari. Jadilah Idul fitri di sana akan jatuh pada 18 Januari 1999.

Mungkinkah idul fitri di Indonesia akan jatuh pada 18 Januari, sama dengan di negara-negara Arab?

Analisis hisab global menujukkan bahwa garis tanggal awal Syawal melintasi Amerika Selatan, Afrika tengah, Turki, dan Rusia. Maka pada saat maghrib 17 Januari di negara-negara Arab dan sebagian besar Asia serta Australia, bulan telah terbenam. Jadi sebenarnya tidak mungkin ada rukyatul hilal di sebagian besar Asia, termasuk di Indonesia, pada maghrib 17 Januari. Bila ada laporan kesaksian hilal di Indonesia pada hari itu, secara astronomi dapat ditolak. Karena, tidak mungkin bulan yang telah terbenam mewujudkan hilal.

Jadi idul fitri di Indonesia tidak mungkin jatuh pada 18 Januari. Pasti akan jatuh pada 19 Januari.

Tinjauan Syariah

Tinjauan di atas semata-mata didasarkan pada argumentasi ilmiah astronomis. Keliru secara astronomis belum tentu digolongkan keliru secara syariah.

Secara syariah, syarat diterimanya kesaksian hilal hanyalah keimanan dan keadilanan pengamat. Sehingga satu-satunya alat bukti kesaksian hilal yang biasa digunakan adalah sumpah dengan nama Allah. Karena keimanan dan keadilan hanyalah Allah yang mengetahui kebenarannya.

Sebenarnya makna adil yang disyaratkan bagi pengamat hilal juga mengandung pengertian pemahaman yang benar tentang hilal. Karena makna adil secara syariah adalah menempatkan sesuatu secara semestinya.

Pengamat yang adil semestinya memeriksa dengan sungguh-sungguh apakah objek yang dilihatnya itu benar-benar hilal atau bukan. Kalau perlu, gunakan teleskop atau binokuler untuk memastikannya. Hisab yang terbukti akurasinya juga semestinya tidak disisihkan. Pengamat yang adil akan mengutamakan kebenaran daripada segala kepentingan duniawi.

Dalam beberapa kasus rukyatul hilal yang kontroversial, sumpah pengamat dianggap sebagai sesuatu yang final. Tidak ada konfirmasi objek yang dilihatnya itu hilal atau bukan. Tetapi secara syariah, suatu keputusan yang telah diambil itu sah untuk diikuti oleh orang yang meyakininya. Nabi melarang berpuasa pada hari yang meragukan (yawmusy syak). Tetapi bagi orang yang meyakini hari itu sudah masuk awal Ramadan, tentunya hari itu tidak dianggap meragukan.

Jadi, kunci sah tidaknya mengikuti keputusan awal puasa (secara analogi, juga idul fitri) adalah keyakinan akan kebenaran keputusan itu. Maka pilihlah keputusan mana yang paling diyakini, bukan memilih mana yang paling disukai atau paling menguntungkan.

Dalam hal keputusan awal Ramadan dan idul fitri di negara-negara Arab, Muslim di sana sah secara syariah untuk melaksanakan keputusan otoritas setempat, walau pun secara astronomis kontroversial. Tetapi sahkah Muslim di Indonesia mengikuti keputusan negara-negara Arab? Tidak ada dalil qath’i (pasti) yang menyatakan keputusan rukyatul hilal di mana pun harus diikuti oleh semua negara.

Pendapat keberlakukan rukyat secara global bersifat ijtihadiyah. Dasarnya, sifat umum perintah Nabi untuk berpuasa dan beridul fitri bila ada kesaksian rukyatul hilal, yang ditafsirkan bahwa kesaksian itu berlaku untuk semua wilayah. Alasan lainnya, bahwa itu menjamin penyeragaman seluruh dunia. Tetapi analisis astronomis menunjukkan bahwa perbedaan tidak mungkin dihilangkan dengan cara demikian.

Pendapat keberlakukan rukyat secara lokal pun bersifat ijtihadiyah. Hadits itu pun bisa ditafsirkan bahwa kesaksian rukyat bersifat lokal. Nabi tidak memerintahkan untuk menanyakan kesaksian hilal di tempat lain sebelum memutuskan untuk berpuasa atau beridul fitri. Apalagi ada kaidah syariah yang menyatakan bahwa dalam hal ibadah, segalanya haram kecuali bila diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

Jadi, masalah sah tidaknya mengikuti keputusan awal puasa dan idul fitri di negara-negara Arab dikembalikan pada ijtihad mana yang paling diyakini. Hanya saja dari segi kemudahan bagi ummat, rukyat lokal lebih baik daripada rukyat global (PR, 15 April 1998).

Kita harus menghormati saudara-saudara kita yang mengikuti ijtihad keberlakukan rukyat secara global. Bagi mereka, tidak sah berpuasa 18 Januari, karena saat itu mereka harus beridul fitri. Tetapi bagi mayoritas kaum Musliman di Indonesia yang menganut keberlakukan rukyat secara lokal, tidak sah membatalkan puasa pada 18 Januari karena di Indonesia saat itu masih hari terakhir Ramadan, belum idul fitri.

BABAK BARU PENCARIAN KEHIDUPAN DI MARS

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan  Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika , 6 Juni 1997)

Sekitar seabad yang lalu, 1898, H. G. Well menulis cerita fiksi tentang War of the World yang menceritakan tentang serangan makhluk Mars ke Bumi. Kini justru manusia bumi yang sedang merencanakan “menyerbu” Mars. Setelah pada tahun 1970-an berbasil didaratkan Viking 1 dan 2, pada Jumat 4 Juli 1997 (Sabtu 5 Juli, dini hari WIB) Pathfinder (“Pencari Jejak”) mengunjungi lagi planet merah itu. Pathfinder tidak datang sendiri. Sebuah kendaraan mini (mikrorover) Sojourner menjelajahi tanah Mars di sekitar tempat pendaratannya. Nama itu diambil dari nama tokoh pembebasan perbudakan abad 19 di AS, Sojourner Truth.

Ares Vallis dipilih menjadi tempat pencarian kehidupan di Mars. Lembah raksasa yang kini datar seluas sekitar 100 x 200 km persegi itu diduga kaya informasi tentang kehidupan di Mars. Lembah itu telah terisi endapan dari berbagai dataran tinggi di sekitarnya pada saat terjadi banjir besar di masa lalu.

Mikrorover berukuran 58 x 31.5 x 47 cm seberat 16 kg bertugas memeriksa setiap bongkah tanah yang diduga mengandung informasi tentang kehidupan. Ada dua kamera stereo yang berfungsi seperti mata untuk melihat daerah pencariannya dan sebuah kamera 3 warna untuk mengidentifikasi objek penelitian. Dikendalikan oleh Brian Cooper dan Tim JPL (Jet Propulsion Laboratory), mikrorover akan menjelajahi daerah pada radius sekitar 10 meter dari Pathfinder yang juga merupakan stasiun pengirim data ke bumi.

Sampel tanah yang diambil mikrorover segera dianalisis dengan spektrometer sinar-X Alfa (APXS) untuk mengenali komposisi kimianya. Hasilnya segera dikirimkan ke bumi untuk dikaji lebih lanjut, adakah tanda-tanda kehidupan atau sisa-sisa kehidupan masa lampau. Karena keterbatasan daya tahan mesinnya, mikrorover diharapkan bisa mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dalam waktu sepekan.

Bukti Kehidupan?

Tantangan bagi astronom dalam mengamati langit mula-mula berawal dari pertanyaan apa saja serta bagaimana posisi dan gerakan benda-benda langit itu. Selanjutnya apa saja kompoisi kimia yang ada pada benda-benda langit itu dan bagaimana strukturnya dari pusat sampai permukaan dan atmosfernya. Kemudian berkembang pada pertanyaan bagaimana terbentuknya, evolusinya, dan akhirnya. Kini dipertanyakan bukti-bukti (bila ada) kehidupan di benda-benda langit itu.

Mars merupakan salah satu objek penelitian yang menarik dalam mencari bukti-bukti kehidupan lain di alam semesta ini. Mars lebih paling mirip bumi dibandingkan planet-planet lainnya. Pengamatan dengan teleskop sejak lama menunjukkan struktur permukaannya tampak mempunyai banyak kanal, sehingga diduga di sana ada air, unsur sangat vital bagi makhluk hidup.

Hasil-hasil analisis terbaru dari pengamatan pesawat antariksa yang dikirim ke sana mengungkapkan kanal-kanal itu menuju cekungan-cekungan kawah tumbukan atau lembah yang kini tampak datar. Tampaknya endapan yang dibawa air dari kanal-kanal itu mendangkalkan kawah atau lembah itu. Bukti-bukti lain tentang adanya air di masa lampau adalah banyaknya jumlah unsur Deteurium dibandingkan Hidrogen di atmosfer Mars serta dataran kuno (berumur 3,5 – 4,5 milyar tahun) mengalami degradasi berat.

Mars juga mempunyai keunggulan daripada bumi dalam mengungkapkan asal-usul kehidupan di tata surya. Mars adalah tempat terbaik mencari bukti-bukti awal kehidupan dan bagaimana kehidupan itu mulai di atas planet. Mars menyimpan batuan tua berumur lebih dari 3,8 milyar tahun. Di bumi, menurut bukti terbaru yang dikumpulkan Tim dari Institut Oseanografi Scripps, menunjukkan bahwa kehidupan telah ada pada saat batuan tertua terbentuk (sekitar 3,8 milyar tahun yang lalu). Padahal kehidupan di bumi di duga mulai ada sejak 4 milyar tahun lalu. Jadi, sulit mencari bukti bentuk awal kehidupan di bumi.

Missi Viking 1 dan 2 pada tahun 1970-an bertujuan mencari bukti kehidupan di Mars, namun tidak menemukannya. Tetapi analisis kimia menunjukkan tanah itu relatif layak bagi kehidupan. Mungkin bukti-bukti kehidupan berada di bawah tanah yang tidak terjangkau oleh penggalian Viking. Mungkin juga metode pengujian kehidupan yang digunakan Viking tidak tepat atau Viking mendarat bukan pada tempat yang tepat.

Bukti kehidupan di Mars baru muncul tahun lalu. Pada 6 Agustus 1996, Tim peneliti Universitas Stanford dan NASA dipimpin David McKey mengumumkan bukti kemungkinan adanya kehidupan di Mars sekitar 3,6 milyar tahun lalu. Meteorit yang diberi kode ALH84001 (ditemukan tahun 1984 di Allan Hills, Antartika) diyakini berasal dari Mars.

Analisis kimia menunjukkan bahwa meteorit itu berasal dari Mars, tidak mungkin batuan bumi atau benda langit lainnya. Selain itu disimpulkan pula, sekitar 4 milyar tahun lalu batuan itu mengalami tumbukan besar di permukaan Mars, tetapi batuan itu masih bertahan di permukaan Mars. Dijumpai juga adanya mineral karbonat yang berbeda umurnya (berumur 1,8 – 3,6 milyar tahun) dengan dengan umur batuannya (berumur 4,5 milyar tahun). Mineral karbonat itu berasal dari air panas yang mengendap pada batuan itu. Sekitar 16 juta tahun lalu terjadi lagi tumbukan meteorit di Mars yang melontarkannya ke angkasa. Baru 13.000 tahun lalu batuan itu jatuh di Antartika.

Bukti lain yang menimbulkan kontroversi adalah adanya mineral magnetit (besi oksida), besi sulfida, dan polycyclic aromatic hydrocarbon pada ALH84001 yang diduga kuat bukan berasal dari reaksi kimia alami, tetapi melalui reaksi kimia yang melibatkan makhluk hidup (biogenik). Di bumi, bakteri bisa menghasilkan magnetit, besi sulfida, dan karbonat pada satu tempat dan kondisi lingkungan yang sama. PAH bisa berasal dari penguraian bakteri. Juga ditemukan tabung-tabung renik yang diduga mikrofosil, mirip nanobakteri di bumi.

Saat ini diketahui sekurang-kurangnya ada 12 meteorit yang berasal dari Mars. Tetapi baru ALH84001 yang diketahui paling tua dan EETA79001 yang jauh lebih muda (berumur 200 juta tahun) yang mengandung informasi tentang kehidupan di Mars masa lalu. Pada kedua meteorit itu ditemukan rendahnya nisbah isotop karbon 13 terhadap karbon 12 pada mineral karbonat yang diduga mengindikasikan bekas-bekas aktivitas kehidupan. Meteorit lainnya yang tergolong batuan muda masih diteliti ada tidaknya informasi tentang kehidupan di Mars.

Strategi Baru

Kondisi Mars yang hangat dan berair pada masa lalu berangsur berubah menjadi dingin dan kering. Hal ini disebabkan oleh hilangnya atmosfer Mars akibat tumbukan meteorit dan pengikisan oleh angin matahari karena tidak adanya medan magnet di Mars. Hilangnya atmosfer menyebabkan menurunnya efek rumah kaca yang menyebabkan Mars menjadi dingin.

Saat ini atmosfer Mars sangat tipis (5,6 mbar, bandingkan dengan 1000 mbar di bumi) terdiri dari karbondioksida. Tidak adanya lapisan ozon menyebabkan leluasanya sinar UV yang berbahaya bagi kehidupan mencapai permukaan Mars. Suhu permukaannya sangat dingin (-173o sampai +17o C). Rendahnya tekanan udara dan suhu di permukaan Mars menyebabkan hilangnya air cair di Mars.

Bila benar bukti-bukti pada ALH84001 adalah biogenik, maka ada tiga kemungkinan penafsirannya. Pertama, kehidupan pernah ada di Mars pada saat Mars masih hangat dan basah, kemudian punah pada saat lingkungannya berubah. Kedua, kehidupan masa lalu tidak semuanya punah, tetapi mungkin masih ada di beberapa daerah yang masih hangat dan basah seperti di bawah tanah atau di dekat gunung berapi yang masih muda. Ketiga, mungkin juga sejak dahulu Mars kering dan dingin, tetapi kehidupan ada di daerah-daerah yang basah dan hangat saja yang mungkin masih bertahan sampai sekarang.

Maka untuk mencari kehidupan di Mars, baik yang telah punah maupun yang masih ada, dipikirkan beberapa strategi baru. Pertama, pencarian di kawah yang diduga sebagai tempat asal ALH84001. Lokasi-lokasi potensial telah dipetakan oleh pesawat-pesawat Viking dan Mariner serta akan dilengkapi data terbaru dari Mars Global Surveyor yang mencapai Mars September 1997 mendatang. Dr. Nadine Barlow dari University of Central Florida yang meneliti 42.283 kawah tumbukan di Mars telah mengidentifikasi dua kawah yang karakteristiknya sesuai dengan temuan sifat-sifat ALH84001.

Kedua, pencarian di lingkungan air permukaan di masa lampau seperti danau atau laut kering atau sumber-sumber air hangat yang masih ada seperti mata air panas di sekitar gunung berapi. Diharapkan dari pengamatan Spektrometer Emisi Panas pada pesawat Mars Global Surveyor dapat diidentifikasi jenis batuan dan mineralnya pada daerah-daerah potensial tersebut.

Ketiga, pencarian di bawah tanah yang mengandung air yang mungkin menjadi tempat kehidupan masa kini. Tetapi saat ini belum ada instrumen yang mampu mengidentifikasikannya dan mulai dikaji pengembangannya.

Dengan strategi itu, missi ke Mars menjelang dan pada milenium ke tiga telah disiapkan. Selain Pathfinder yang mendarat Juli ini, Mars Global Surveyor (MGS) akan mengorbit rendah pada September 1997. MGS akan memetakan permukaan Mars dengan resolusi 1,5 m. Tahun depan, Planet B milik Jepang akan diluncurkan menuju Mars. Kemudian disusul Mars Surveyor 1998 pengorbit dan Mars Surveyor 1998 pendarat dengan dua mikroprob yang akan menembus tanah Mars sedalam 0,3 – 2 m.

Saat ini mulai juga dikaji pengiriman missi Mars Surveyor 2001 pengorbit, Mars Surveyor 2001 pendarat dan rover, dan Mars Surveyor 2003 pengorbit/pendarat/rover. Ada juga usulan untuk pendaratan manusia di Mars pada 2011 atau 2019 pada peringatan 50 tahun pendaratan manusia di bulan.

Menjaga Jiwa Istiqamah

T.Djamaluddin

(Dimuat di Tadzkir – Buletin DKM LAPAN Bandung, Januari 1995)

Dalam perjalanan hidup seorang Muslim, iman senantiasa naik turun. Dan kita semua tahu bahwa perjalanan hidup ini penuh tantangan, debu-debu dosa pun terserak di mana-mana. Sementara itu kita tidak tahu ke arah mana perjalanan hidup ini akan berlangsung di masa depan kita. Kita tidak tahu lingkungan keluarga bagaimanakah yang akan tercipta. Kita tidak tahu lingkungan tempat kerja yang bagaimanakah yang akan jita masuki. Dan kita tak pernah tahu lingkungan masyarakat yang bagaimanakah yang akan kita jumpai. Yang menjunjung nilai-nilai Islam kah? Yang liberal kah? Atau yang anti Islam? Lebih jauh dari itu, kita tak pernah tahu masih adakah iman ini ketika malakul maut menjemput. Akankah kita mati masih dalam iman Islam?

Coba kita baca diri kita. Kita persiapkan hidup kita. Kalaupun lumpur-lumpur dosa bertebaran di mana-mana, sedapat mungkin kita waspada. Perkuat jiwa istiqamah kita, jiwa yang kukuh menjaga iman kita. Tetapi bagaimana? Kita mesti berbenah diri, kita saling mengingatkan dan tak memandang diri lebih baik dari yang lain.

Pembinaan pribadi

Salat menjaga kita dari perbuatan tercela dan dosa (Q.S.29:45). Salat adalah cara kontrol pribadi yang paling efektif bila dilakukan dengan benar. Salat yang dilakukan minimal lima kali sehari senantiasa mengingatkan bahwa kita dalam pengawasan-Nya setiap saat. Tidak ada saat sekejap pun yang memungkinkan kita berbuat dosa dan tercela yang luput dari hisab-Nya.

Namun, godaan dan tantangan yang berupa penderitaan, ketakutan, dan berbagai kesulitan hidup tak akan lepas dari kehidupan manusia. Putus asa dan “kepalang basah” bukanlah solusi menghadapi godaan dan tantangan itu. Allah memberikan solusinya agar meminta pertolongan Allah dengan salat dan sabar (Q.S.2:45, 153). Ada dua segi yang ditekankan dalam dua ayat itu. Pertama, dalam Q.S. Al-Baqarah:45 menekankan bahwa memohon pertolongan dengan sabar dan salat itu tidak gampang. Hanya orang yang khusyu’ yang bisa melakukannya, yaitu orang yang

yakin menghadap Allah dan yakin akan kembali kepada-Nya. Kedua, Q.S. Al-Baqarah:253 menekankan bahwa Allah senantiasa beserta orang-orang yang sabar. Dalam kata sabar terkandung makna “usaha yang terus-menerus dalam mengatasi tantangan dan godaan”, bukan sikap pasrah menerima apa adanya. Sabar mencakup sabar dalam melaksanakan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi penderitaan.

Hal penting lainnya dalam memperkuat pribadi adalah salat malam (tahajjud) dan membaca Al-Qur’an dengan baik, karena semua itu untuk menguatkan jiwa dan menempatkan kita pada tempat yang terpuji (Q.S. 17:78, 73:3).

Pembinaan Keluarga

Kita sadar bahwa jiwa keagamaan seseorang terus berkembang. Dalam pembinaan di keluarga, kita harus tahu sampai pada tahap mana perkembangan jiwa keagamaan kita dan anak kita. Dari sana kita tahu bagaimana metode pembinaan yang tepat. Sekedar gambaran umum yang mungkin pernah kita rasakan dan kita amati, anak yang berumur kurang dari 11 tahun pemahaman keagamaannya masih ikut-ikutan. Contoh yang baik kepada mereka amat diperlukan. Pada umur 12 – 17 tahun biasanya mereka mulai kritis dalam beragama. Jelaskan dasar-dasar agama dengan pengamalan dan diskusi. Remaja umur 18 – 24 tahun biasanya mengalami masa kebimbangan, inilah masa kritis dalam pembinaan. Bina mereka dengan keterbukaan dan keluasan berfikir. Seorang dewasa umur 24 – 39 tahun sedang menuju kemantapan, kemapanan berfikir dan beragama. Umur 40 tahun, biasanya mereka yang terbina baik akan mapan dalam beragama.

Pembinaan keluarga dimulai sejak kita mencari pasangan hidup. Nabi berpesan agar kriteria pemilihan calon haruslah pada ketaatan pada agama. Karena itu yang akan menjamin keselamatan dunia akhirat. Suami harus bisa membina istri dan keluarganya kelak. Istri pun harus bisa mengingatkan suami akan jalan Allah yang lurus. Saling mengingatkan bisa dimulai sejak saling mengenal. Pengenalan sang calon dan keluarganya pun sangat penting sebelum memutuskan pernikahan. Tetapi dalam masa pengenalan itu, semua pembicaraan dan pertemuan janganlah menyendiri berdua, sebab Nabi berpesan bahwa dalam keadaan demikian setanlah pihak yang ketiga, yang bisa menggoda ke arah dosa. Bertemu bersama keluarganya untuk saling mengenal adalah cara yang terbaik. Kalau sudah sesuai, segera menikah bila telah mampu, jangan terlalu lama menunggu yang mungkin bisa membawa fitnah.

Allah sudah mengingatkan bahwa istri/suami dan anak-anak bisa menjadi suatu cobaan bagi keimanan kita. Diperlukan pembinaan dengan penuh kesabaran dan kelapangan dada (Q.S.64:14-15). Jagalah diri kita dan keluarga kita dari dosa-dosa yang bisa membawa kita ke neraka (Q.S.66:6). Berdoa agar keluarga kita menjadi keluarga yang sakinah, saling mencintai dan saling mengingatkan pada ketaqwaan (Q.S.25:74) harus menjadi kebiasaan.

Istiqamah di Masyarakat

Di mana pun kita berada menjaga jiwa istiqamah amat diperlukan. Kukuh menghadapi segala cobaan dan godaan. Mata, telinga, dan lisan kita harus kita jaga. Tangan dan kaki harus kita jaga. Perut pun harus kita jaga dari makanan dan minuman, serta harta yang haram.

Menghadapi tantangan dan godaan yang tak ringan kini dan di masa depan, idealisme di masa muda dan masa mahasiswa –yang biasanya kaya akan slogan-slogan anti penyelewengan dan kemaksiatan– mungkin lambat laun akan terkikis. Tanpa usaha gigih menjaga jiwa istiqomah, slogan yang pernah digembar-gemborkan mungkin tinggal sekedar slogan kosong, dan larutlah dalam arus yang mudah menggelincirkan dan menghanyutkan. Na’udzu billah min dzalik. Tanpa jiwa istiqomah para pemegang amanat pemerintahan dan kita semua, pemerintahan yang bersih hanya sekedar omong kosong.

Robbanaa laatuzigh qulubana ba’da idzhadaytana wahablana minladunka rohmah innaka antalwahhab (Tuhan kami, jangan Kau goncangkan hati kami setelah Engkau beri kami petunjuk, karuniakanlah rahmat dari sisi-Mu. Sungguh Engkau Maha Pemberi Rahmat) (Q.S. 3:8).

Keragaman Penentuan Awal Ramadan dan Hari Raya

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika , 18 Desember 1998)

Masih banyak orang mengira sumber keragaman penentuan awal Ramadan dan hari raya hanya perbedaan antara hisab (perhitungan astronomis) dan rukyat (pengamatan bulan). Saat ini tidak sesederhana itu lagi. Perdebatannya pun tidak lagi terbatas antara penganut hisab dan rukyat. Bisa antara penganut hisab dengan hisab atau rukyat dengan rukyat.

Oleh karenannya, tinjauan fikih dalam referensi lama perlu diperkaya lagi dengan memasukkan faktor-faktor mutakhir, termasuk analisis astronomis yang tak terpisahkan. Masalah ijtihadiyah yang terus berkembang menambah faktor keragaman tersebut.

Penentuan hari raya 1418 tahun lalu yang diakui pemerintah adanya dua tanggal untuk idul fitri menunjukkan keragaman itu makin tidak sederhana disatukan. Memang sumber keragaman tersebut bukan sekedar landasan dalil naqli-nya, tetapi juga menyangkut landasan astronomisnya yang belum disepakati.

Keragaman penentuan idul fitri 1418 tersebut menunjukkan dua sisi perbedaan yang sebenarnya berdiri sendiri-sendiri, tidak bisa saling mengkonfirmasikan. Pertama, antara hisab berdasarkan wujudul hilal dan hisab berdasarkan imkan ru’yat. Kedua, antara rukyat terpandu hisab dan rukyat bebas hisab. Selain itu, ada sisi perbedaan lainnya yang muncul dari semangat unifikasi kalender Islam, yaitu antara rukyat lokal dan rukyat global.

Di tengah suasana reformasi yang membuka pemikiran semua orang tentang wajarnya keberagaman, kita coba meninjau secara kritis sumber keberagaman itu. Hanya dengan memahami sumber keberagaman kita bisa menghargai orang lain yang berbeda pendapat dan bisa mengambil sikap yang mantap tanpa menganggap dirinya yang paling benar.

Sifat ijtihadiyah hisab dan rukyat memungkinkan terjadinya keragaman. Baik hisab maupun rukyat sama-sama berpotensi benar dan salah. Bulan dan matahari yang dihisab dan dirukyat masing-masing memang satu. Hukum alam yang mengatur gerakannya pun satu, sunnatullah. Tetapi, interpretasi orang atas hasil hisab bisa beragam. Lokasi pengamatan dan keterbatasan pengamatan juga tidak mungkin disamakan.

Hisab vs Hisab

Semula para ulama mempertentangkan hisab dengan rukyat saja. Kini hisab pun dipertentangkan dengan hisab. Kriteria hisab mana yang akan dijadikan pegangan. Di Indonesia setidaknya ada dua kriteria hisab yang dianut. Ada yang berdasarkan kriteria wujudul hilal, asalkan bulan telah wujud di atas ufuk pada saat maghrib sudah dianggap masuk bulan baru. Kriteria ini dipakai oleh Muhammadiyah. Kriteria lainnya adalah imkan ru’yat, berdasarkan perkiraan mungkin tidaknya hilal dirukyat. Kriteria ini digunakan antara lain oleh Persis. Kedua ormas Islam itu sama-sama menggunakan hisab, tanpa perlu menanti rukyat.

Dalil naqli yang mereka gunakan tidak jauh berbeda, yang intinya menganggap hisab bisa menggantikan rukyat. Tetapi penafsiran hasil hisabnya bisa berbeda. Basit Wahid dari Majelis Tarjih Muhammadiyah (PR, Februari 1998) menjelaskan alasan Muhammadiyah mengambil kriteria wujudul hilal sejak 1969, yaitu karena di Indonesia belum ada kriteria yang sahih secara ilmiah bagi imkan rukyat.

Memang, selama ini berdasarkan data kesaksian rukyatul hilal yang dikumpulkan Departemen Agama ketinggian hilal minimum yang berhasil dirukyat adalah dua derajat. Belakangan hal itu digugat sebagai tidak akurat dan tampaknya bukan hasil pengukuran ketinggian melainkan dihitung dengan rumus sederhana: tinggi “hilal” = (beda waktu antara mulai teramati sampai menghilang)/24 jam x 360 derajat. Padahal tidak ada konfirmasi benar tidaknya “hilal” itu, mungkin juga objek terang lain.

Berdasarkan statistik kesaksian hilal di berbagai negara, M. Ilyas dari International Islamic Calendar Program (IICP) telah mempubliksikan temuannya di jurnal astronomi bahwa ketinggian minimal hilal dapat dirukyat adalah 4 derajat. Itu pun bila jarak bulan-matahari cukup jauh. Bila jaraknya dekat, perlu ketinggian 10,5 derajat.

Ada juga penelitian teoritik yang menjelaskan batas minimal visibilitas hilal. Kemampuan mata manusia untuk melihat benda langit terbatas hanya sampai keredupan 8 magnitudo dalam skala astronomi. Kalau pun melihatnya dari antariksa, batas kemampuan mata manusia itu tidak berubah. Dengan kemampuan deteksi mata manusia seperti itu, pada jarak matahari-bulan kurang dari 7 derajat, cahaya hilal tidak akan tampak sama sekali. Bila memperhitungkan faktor-faktor pengganggu di atmosfer bumi, syarat itu bertambah besar.

Perintah operasional puasa dan beridul fitri dalam hadits didasarkan pada rukyatul hilal. Di dalam Alquran walaupun bulan dan matahari disebut sebagai alat untuk perhitungan waktu (Q. S. 6:96), tetapi dalam prakteknya, hilal (bulan sabit pertama) yang dijadikan acuan (Q. S. 2:189), bukan posisi bulan. Karena orang awam sekali pun bisa menentukan ada tidaknya hilal walaupun tidak mengerti seluk beluk peredaran bulan.

Wujudnya bulan di atas ufuk belum menjamin adanya hilal menurut pandangan manusia. Hilal bisa diperkirakan keberadaannya dengan memperhitungkan kriteria penampakan hilal. Jadi, bila ditimbang dari segi dasar pengambilan hukum, saya berpendapat hisab dengan kriteria imkan rukyat (walau pun masih terus disempurnakan, seperti lazimnya riset ilmiah) lebih dekat kepada dalil syar’i daripada kriteria wujudul hilal.

Rukyat vs Rukyat

Dalam beberapa kali kesaksian rukyatul hilal (bebas hisab) yang kontroversial, satu-satunya penyelesaiannya adalah dengan sumpah. Secara syar’i itu sah. Apalagi para pengamat itu umumnya orang yang ditokohkan yang tidak diragukan lagi keimanannya dan kejujurannya. Tetapi dari segi kebenaran objek yang dilihatnya apakah benar-benar hilal atau objek terang lainnya, kita masih boleh meragukannya sebelum ada bukti ilmiah yang meyakinkannya.

Bukti ilmiah yang bisa menguatkan kesaksian akan rukyatul hilal antara lain posisi hilal, bentuknya, serta waktu mulai teramati dan terbenamnya. Bukti ilmiah itu bisa diuji kebenarannya dengan rukyat hari-hari berikutnya.

Bagi kalangan yang mempercayai rukyat terpandu hisab, bukti ilmiah itu bisa ditambah dengan hasil hisabnya. Hasil rukyat bisa segera dicocokkan dengan hasil hisabnya. Dengan kriteria hisabnya, kalangan ini bisa menolak kesaksian hilal bila dianggap meragukan. Misalnya, bulan semestinya (menurut hisab yang akurat) telah terbenam tidak mungkin bisa dirukyat.

Perlukah bukti ilmiah itu? Saya berpendapat sangat perlu. Untuk saat ini, sumpah saja belum cukup. Pengamat hilal ternyata banyak juga yang belum memahami hilal dan belum bisa membedakannya dengan objek terang lainnya. Gangguan polusi di ufuk barat bisa menyulitkan pengamatan. Objek terang pada arah pandang saat ini juga bisa beragam. Tidak heran bila sering terjadi kasus kesaksian hilal yang kontroversial.

Lokal vs Global

Masalah rukyat lokal dan rukyat global muncul akibat berkembangnya media komunikasi yang semakin cepat. Berita tentang penetapan awal Ramadan dan hari raya di Arab Saudi atau negara-negara lainnya dengan cepat tersebar dan sering menjadi acuan. Masalahnya, kemudian masyarakat menjadi bingung mana yang akan diturut. Oleh karenanya argumentasi ijtihadiyah keduanya perlu ditinjau untuk menimbang mana yang paling meyakinkan.

Dasar hukum rukyat lokal adalah hadits Nabi yang memerintahkan berpuasa bila melihat hilal dan berbuka atau beridul fitri bila melihat hilal. Sedangkan penampakan hilal bersifat lokal, tidak bisa secara seragam terlihat di seluruh dunia. Demi keseragaman hukum di suatu wilayah, pemimpin umat bisa menyatakan kesaksian di mana pun di wilayah itu berlaku untuk seluruh wilayah.

Tidak perlunya mengikuti kesaksian hilal di wilayah lainnya bisa didasarkan pada tidak adanya dalil yang memerintahkan untuk bertanya pada daerah lain bila hilal tak terlihat. Dalil lainnya adalah ijtihad Ibnu Abbas tentang perbedaan awal Ramadan di Syam dan Madinah. Tampaknya, Ibnu Abbas berpendapat hadits Nabi itu berlaku di masing-masing wilayah.

Tetapi, sebagian ulama lainnya berpendapat tidak ada batasan tempat kesaksian hilal. Di mana pun hilal teramati, itu berlaku bagi seluruh dunia. Dasarnya, karena hadits Nabi sendiri tidak memberi batasan keberlakukan rukyatul hilal itu, jadi mestinya berlaku untuk seluruh dunia. Namun mereka tidak merinci teknis pemberlakuan di seluruh dunia yang sebenarnya tidak sederhana. Belakangan di antara pengikut pendapat ini ada yang merumuskan, bila ada kesaksian hilal di mana pun, maka wilayah yang belum terbit fajar wajib menjadikannya sebagai dasar untuk berpuasa atau beridul fitri.

Kedua pendapat itu hasil ijtihad dengan argumentasi masing-masing yang dianggapnya kuat. Hadits yang digunakannya sama. Penganut rukyat lokal bisa berargumentasi Nabi tidak memerintahkan bertanya tentang kesaksian hilal di wilayah lain. Penganut rukyat global bisa berargumentasi Nabi tidak membatasi keberlakukan kesaksian hilal. Manakah yang sebaiknya diikuti?

Di dalam Q. S. 2:185 yang berkaitan dengan puasa Allah memberikan pedoman umum, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu”. Bila mengikuti rukyat global, setiap orang harus sabar berjaga sepanjang malam dalam ketidakpastian. Karena rukyat tidak bisa dipastikan di mana dan kapan bisa terlihat. Tentunya, hal ini lebih menyulitkan umat daripada rukyat lokal. Keputusan rukyat lokal cukup dinantikan sekitar 1-2 jam setelah maghrib.

Untuk mendukung argumentasinya, ada yang berpendapat rukyat global lebih menjamin keseragaman daripada rukyat lokal. Tetapi analisis astronomi membantah pendapat itu. Baik rukyat global maupun rukyat lokal tidak mungkin menghapuskan perbedaan.

Kemungkinan 1419

Rukyat lokal didukung hisab global (jangan keliru dengan rukyat global) akan memberikan kemantapan dalam mengantisipasi segala kemungkinan perbedaan dengan negara-negara lain. Hisab global direpresentasikan dengan garis tanggal qamariyah berdasarkan kriteria wujudul hilal. Kriteria itu digunakan karena paling mudah menghitungnya dan bisa dipakai sebagai pemandu awal oleh pengguna rukyat terpandu hisab sebelum menghitung data rukyat lokal. Garis tanggal itu membagi bumi dalam dua bagian yang pada saat maghribnya bulan masih di atas ufuk atau telah tenggelam.

Garis tanggal awal Ramadan 1419 melintasi Amerika Tengah, Afrika bagian utara, Eropa bagian Selatan, dan Rusia. Maka pada saat maghrib 19 Desember di wilayah Amerika Selatan, Afrika, sebagian besar Asia, dan Australia bulan telah berada di atas ufuk. Berdasarkan hal ini dapat difahami Muhammadiyah memutuskan awal Ramadan jatuh pada 20 Desember.

Hisab lokal untuk wilayah Indonesia menunjukkan bahwa pada kahir Sya’ban ketinggian bulan sekitar 5 derajat atau kurang. Bulan berada sekitar 4 derajat dari titik terbenamnya matahari. Jarak matahari-bulan sekitar 7 derajat yang berarti memenuhi syarat minimal untuk munculnya hilal. Berdasarkan hal ini hisab imkan rukyat (seperti dilakukan Persis) masih dapat dibenarkan untuk memutuskan awal Ramadan jatuh pada 20 Desember.

Tetapi ketinggian 5 derajat sebenarnya sangat sulit dirukyat untuk beda azimut sekitar 4 derajat tersebut. Apalagi umur bulan pada saat matahari terbenam kurang dari 16 jam. Hambatan lain adalah cuaca mendung pada musim hujan ini. Sehingga bagi kalangan yang berpegang pada rukyat mesti bersiap dengan kemungkinan dilakukan istikmal, yaitu awal Ramadan jatuh pada 21 Desember 1998. Bila itu terjadi, tidak tertutup kemungkinan Pemerintah mengambil sikap seperti penetapan idul fitri tahun lalu, mengakui adanya dua tanggal.

Berbeda dengan penetapan awal Ramadan, kemungkinan idul fitri akan ditetapkan tanpa masalah. Ketinggian bulan pada akhir Ramadan cukup tinggi, hampir 9 derajat dengan jarak matahari-bulan sekitar 10 derajat. Posisi itu relatif mudah untuk dirukyat. Jadi diharapkan semua pengikut hisab dan rukyat akan bersepakat beridul fitri pada 19 Januari 1999. Tetapi itu dengan catatan bila awal Ramadan sepakat dimulai 20 Desember 1998.

Bila awal Ramadan ditetapkan dengan cara istikmal, ada kemungkinan terjadi keputusan istikmal pula untuk idul fitri. Hal ini mengingat cuaca mendung pada musim hujan ini. Bila itu terjadi, tidak tertutup kemungkinan ada juga yang akan merayakan idul fitri pada 20 Januari 1999.