Purnama Meredup Menjelang GMT 1995


T. Djamaluddin, Peneliti  Matahari & Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 10 Oktober 1995)

Pada 24 Oktober 1995 gerhana matahari total (GMT)  terjadi kembali. GMT kali ini sangat penting bagi Indonesia, walaupun sangat singkat (hanya dua menit) dan hanya melintasi pulau kecil di ujung utara Indonesia, Pulau Sangihe di Sulawesi Utara. GMT 1995 ini merupakan GMT yang terakhir yang melintas Indonesia pada abad ke-20 ini. Tidak akan ada lagi GMT yang melintas Indonesia sebelum 2016. GMT baru akan melintas Indonesia lagi pada 9 Maret 2016 yang merupakan karunia terbesar. GMT 2016 akan melintasi sebagian besar wilayah Indonesia: Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Halmahera. Waktunya pun dua kali lebih lama daripada GMT 1995.

Dua pekan sebelum GMT tersebut, pada hari Ahad 8 Oktober 1995 terjadi peredupa bulan purnama yang secar astronomi bisa digolongkan sebagai gerhana bulan. Tetapi dalam pengamatan awam itu tidak tampak sebagai gerhana bulan sehingga tidak perlu diadakan salat gerhana bulan. Yang akan tampak hanyalah meredupnya bulan purnama mulai pukul 21.00 sampai 01.08 dengan saat puncak pada pukul 23.04. Adakah kaitan antara meredupnya bulan purnama itu dengan peristiwa GMT 1995 yang akan datang? Ada!

Purnama Meredup

Dalam sistem Matahari, Bumi, dan Bulan yang terjadi adalah Bulan mengelilingi bumi sementara keduanya mengelilingi Matahari. Pada saat bulan berada di antara Matahari dan Bumi kita menyebutnya bulan mati menjelang bulan baru yang teramati sebagai hilal (bulan sabit pertama). Dan pada saat Bumi yang berada di antara Matahari dan Bulan, yang teramati dari bumi adalah bulan purnama, yaitu bagian siang pada Bulan menghadap secara penuh ke arah Bumi.

Bumi dan Bulan yang tercahayai oleh Matahari senantiasa mempunyai bayangan: bayangan inti (umbra) yang gelap total dan bayangan sekunder (penumbra) yang redup. Pada saat bayangan bulan mengenai bumi: terjadilah gerhana matahari. Wilayah yang terkena bayangan inti mengalami GMT atau atau gerhana cincin. Pada saat GMT arang akan melihat matahari tampak gelap total. Sedangkan pada saat gerhana cincin hanya bagian tengah Matahari yang tampak gelap, sisi luar Matahari masih tampak hingga menyerupai cincin. Daerah yang terkena bayangan sekunder hanya akan mengalami gerhana sebagian.

Pada saat bayangan bumi mengenai bulan terjadilah gerhana bulan. Gerhana Bulan total terjadi bila bayangan inti mengenai seluruh piringan Bulan. Bila hanya bayangan sekunder yang menutup bulan yang termati adalah purnama meredup.

Gerhana Bulan atau Matahari terjadi bila Matahari, Bumi, dan Bulan segaris. Bila pada saat purnama Matahari, Bumi, dan Bulan segaris atau hampir segaris maka pada bulan mati dua pekan sebelum atau sesudahnya ketiganya akan segaris atau hampir segaris lagi. Karenanya tidak mengherankan bila gerhana Bulan dan Matahari terjadi berurutan berselang dua pekan. Misalnya, sesudah terjadi gerhana bulan sebagian 15 April 1995 lalu, terjadi gerhana matahari cincin pada 29 April 1995 yang melintasi Amerika Selatan. Menjelang GMT 24 Oktober 1995 yang terjadi bukan penggelapan bulan (gerhana) melainkan hanya peredupan karena bulan hanya memasuki bayangan Bumi sekunder (penumbra).

GMT 1995

GMT 1995 akan teramati mulai dari Iran pada pagi hari sampai lautan Pasifik pada sore hari. Daerah yang dilalui adalah Iran, Afganistanintasan, Pakistan, India, Myanmar, Muangthai, Kamboja, Vietman, Malaysia Timur (Kalimantan Utara), dan Pulau Sangihe di Sulawesi Utara. Di Kota Tahuna, ibu kota Kepulauan Sangir Talaud itu, GMT akan mulai 13:13:23 (pukul 13 lebih 13 menit 23 detik) WITA dan berakhir pada 13:15:15. Jadi Matahari hanya selama kira-kira dua menit tertutup bulan. Namum waktu dua menit itu, bila cuaca cerah, akan cukup mempesona dengan penampakan korona, “mahkota” indah beraneka warna disekeliling matahari yang gelap.

Sebelum dan sesudah GMT di Tahuna itu dan juga di wilayah lain Indonesia hanya akan teramati gerhana Matahari sebagian. Hampir semua daerah di Jawa hanya akan mengamati gerhana sebagian dengan maksimum penggelapan sekitar 50%. Di Jawa Barat puncak gerhana sebagian itu akan terjadi sekitar pukul 11:40 WIB.

Bagi penduduk Bandung, gerhana akan mulai termati pukul 10:14 dengan mulai tertutupnya titik utara matahari. Puncak gerhana terjadi pukul 11:38 dengan penggelapan belahan utara Matahari. Pada pukul 13:04 bulan meninggalkan Matahari dari titik timurnya.

Perbandingan dengan GMT 1983 dan 1988

Dalam dua belas tahun terakhir ini Indonesia beruntung dilintasi tiga kali GMT. Pada tanggal 11 Juni 1983 GMT melintasi Jawa, Sulawesi Selatan, dan Irian Jaya bagian Selatan. Lama GMT sekitar 5 menit. Sedangkan GMT 18 Maret 1988 yang melintas Sumatra dan Kalimantan waktunya lebih pendek, sekitar 3,75 menit.

Pada saat GMT 1983 aktivitas Matahari berada dalam keadaan menengah setelah mencapai maksimum tahun 1979 dan menjelang minimum tahun 1986.  Menurut hasil penelitian LAPAN dengan pengamatan rutin jumlah bintik Matahari di Stasiun Pengamat Matahari Sumedang, aktivitas             mencapai minimum pada 1986 dan kembali mencapai maksimum 1989. Jadi, pada saat GMT 1988 matahari menjelang aktivitas maksimum.

Aktivitas Matahari berkaitan dengan bentuk korona Matahari yang tampak pada saat GMT. Ini berkaitan dengan aktivitas magnetik di Matahari dan pelepasan materi dari permukaannya. Pada saat aktivitas Matahari minimum korona akan melebar pada arah timur dan barat, kurang tampak pada bagian kutubnya. Sedangkan pada saat aktivitas Matahari maksimum bentuk korona hampir merata di sekeliling Matahari.

Hasil pengamatan tim LAPAN dari pantai Penyak Pulau Bangka, GMT 1988 menunjukkan bentuk korona hampir merata sesuasi dengan aktivitas Matahari yang hampir maksimum. Selain itu teramati juga adanya dua promimensi (lontaran materi panas di tepi piringan Matahari) yang biasa tampak pada saat Matahari aktif.

Pada saat ini aktivitas Matahari sedang atau menjelang saat minimum. Maka diperkirakan bentuk korona Matahari yang akan terlihat menjulur pada kedua sisi timur dan barat dan tipis pada kedua kutubnya. Tim pengamat GMT akan mempelajari bentuk korona yang akan terjadi di samping juga perubahan-perubahan pada ionosfer. Ionosfer yang biasa kita kenal sebagai pemantul gelombang radio dalam komunikasi jarak jauh, mungkin terpengaruh oleh penggelapan sesaat.

%d blogger menyukai ini: