HOAX: Purnama Ganda, Mars Purnama Terdekat Pasca 27 Agustus 2003

T. Djamaluddin, Peneliti Astronomi Astrofisika, LAPAN Bandung

Kabar bohong (hoax) sekitar purnama ganda sering beredar di beberapa milis setiap menjelang Agustus sejak 2003. Beritanya seperti ini: “ … 27th Aug the Whole World is waiting for………….Planet Mars will be the brightest in the night sky starting August. It will look as large as the full moon to the naked eye. This will cultivate on Aug. 27 when Mars comes within 34.65M miles of earth. Be sure to watch the sky on Aug. 27 12:30 am . It will look like the earth has 2 moons. The next time Mars may come this close is in 2287.”

Oposisi Mars (purnama Mars) terdekat terjadi pada 27 Agustus 2003 lalu dan baru akan terjadi lagi 31 Juli 2018, walau tidak sedekat 27 Agustus 2003.  Apakah Mars Purnama pada 27 Agustus 2003  sebesar bulan purnama? Pertanyaan itu muncul karena ada media yang memberitakannya, mungkin karena salah kutip. Mars tak mungkin tampak sebesar bulan purnama. Mars purnama terbesar pada 27 Agustus 2003 ukurannya hanya sebesar 25,1 detik busur. Artinya lebar piringan Mars dilihat dari mata kita hanya membentuk sudut 25 detik busur atau 1/144 derajat. Bulan purnama dan juga matahari besarnya sekitar 1/2 derajat atau kira-kira setengah lebar ujung telunjuk kalau lengan kita rentangkan ke depan. Jadi, pada saat puncak purnama, Mars ukurannya kira-kira 1/72 ukuran bulan purnama. Hanya tampak titik cahaya seperti bintang cemerlang. Itu pun masih kalah dengan Bintang Kejora (Venus purnama).

Mars purnama pada 27 Agustus 2003 menjadi objek malam paling terang ke tiga sesudah bulan purnama dan Venus purnama (dikenal sebagai Bintang Kejora saat senja atau Bintang Timur saat pagi). Mars purnama 27 Agustus 2003 memang merupakan rekor penampakan yang hanya terjadi sekali seumur hidup. Jaraknya mencapai titik terdekat dengan bumi pada pukul 16:51 WIB, sejauh 55.758.006 km. Ini jarak terdekat dalam hampir 60.000 tahun dan akan berulang lagi baru 284 tahun lagi. Jadi tidak mungkin ada manusia mengalaminya dua kali. Jarak terdekat terakhir kali tercatat pada tahun 57.517 sebelum masehi. Ini disimpulkan berdasarkan perhitungan orbit planet-planet di tata surya. Jaraknya 55.718.000 km, lebih dekat daripada tahun 2003. Jarak terdekat berikutnya baru akan terjadi lagi pada 28 Agustus 2287.

Sebenarnya setiap 15 – 17 tahun sekali Mars mencapai titik terdekat dengan bumi. Namun tidak sedekat 27 Agustus 2003. Pada Agustus 1971 jaraknya sekitar 59 juta km. Kemudian pada September 1988 jaraknya sekitar 63 juta km. Tahun 2003 ini mencapai titik terdekat, 55,7 juta km . Berikutnya baru pada 31 Juli 2018 dengan jarak 57,7 juta km.

Purnama Meredup Menjelang GMT 1995

T. Djamaluddin, Peneliti  Matahari & Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 10 Oktober 1995)

Pada 24 Oktober 1995 gerhana matahari total (GMT)  terjadi kembali. GMT kali ini sangat penting bagi Indonesia, walaupun sangat singkat (hanya dua menit) dan hanya melintasi pulau kecil di ujung utara Indonesia, Pulau Sangihe di Sulawesi Utara. GMT 1995 ini merupakan GMT yang terakhir yang melintas Indonesia pada abad ke-20 ini. Tidak akan ada lagi GMT yang melintas Indonesia sebelum 2016. GMT baru akan melintas Indonesia lagi pada 9 Maret 2016 yang merupakan karunia terbesar. GMT 2016 akan melintasi sebagian besar wilayah Indonesia: Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Halmahera. Waktunya pun dua kali lebih lama daripada GMT 1995.

Dua pekan sebelum GMT tersebut, pada hari Ahad 8 Oktober 1995 terjadi peredupa bulan purnama yang secar astronomi bisa digolongkan sebagai gerhana bulan. Tetapi dalam pengamatan awam itu tidak tampak sebagai gerhana bulan sehingga tidak perlu diadakan salat gerhana bulan. Yang akan tampak hanyalah meredupnya bulan purnama mulai pukul 21.00 sampai 01.08 dengan saat puncak pada pukul 23.04. Adakah kaitan antara meredupnya bulan purnama itu dengan peristiwa GMT 1995 yang akan datang? Ada!

Purnama Meredup

Dalam sistem Matahari, Bumi, dan Bulan yang terjadi adalah Bulan mengelilingi bumi sementara keduanya mengelilingi Matahari. Pada saat bulan berada di antara Matahari dan Bumi kita menyebutnya bulan mati menjelang bulan baru yang teramati sebagai hilal (bulan sabit pertama). Dan pada saat Bumi yang berada di antara Matahari dan Bulan, yang teramati dari bumi adalah bulan purnama, yaitu bagian siang pada Bulan menghadap secara penuh ke arah Bumi.

Bumi dan Bulan yang tercahayai oleh Matahari senantiasa mempunyai bayangan: bayangan inti (umbra) yang gelap total dan bayangan sekunder (penumbra) yang redup. Pada saat bayangan bulan mengenai bumi: terjadilah gerhana matahari. Wilayah yang terkena bayangan inti mengalami GMT atau atau gerhana cincin. Pada saat GMT arang akan melihat matahari tampak gelap total. Sedangkan pada saat gerhana cincin hanya bagian tengah Matahari yang tampak gelap, sisi luar Matahari masih tampak hingga menyerupai cincin. Daerah yang terkena bayangan sekunder hanya akan mengalami gerhana sebagian.

Pada saat bayangan bumi mengenai bulan terjadilah gerhana bulan. Gerhana Bulan total terjadi bila bayangan inti mengenai seluruh piringan Bulan. Bila hanya bayangan sekunder yang menutup bulan yang termati adalah purnama meredup.

Gerhana Bulan atau Matahari terjadi bila Matahari, Bumi, dan Bulan segaris. Bila pada saat purnama Matahari, Bumi, dan Bulan segaris atau hampir segaris maka pada bulan mati dua pekan sebelum atau sesudahnya ketiganya akan segaris atau hampir segaris lagi. Karenanya tidak mengherankan bila gerhana Bulan dan Matahari terjadi berurutan berselang dua pekan. Misalnya, sesudah terjadi gerhana bulan sebagian 15 April 1995 lalu, terjadi gerhana matahari cincin pada 29 April 1995 yang melintasi Amerika Selatan. Menjelang GMT 24 Oktober 1995 yang terjadi bukan penggelapan bulan (gerhana) melainkan hanya peredupan karena bulan hanya memasuki bayangan Bumi sekunder (penumbra).

GMT 1995

GMT 1995 akan teramati mulai dari Iran pada pagi hari sampai lautan Pasifik pada sore hari. Daerah yang dilalui adalah Iran, Afganistanintasan, Pakistan, India, Myanmar, Muangthai, Kamboja, Vietman, Malaysia Timur (Kalimantan Utara), dan Pulau Sangihe di Sulawesi Utara. Di Kota Tahuna, ibu kota Kepulauan Sangir Talaud itu, GMT akan mulai 13:13:23 (pukul 13 lebih 13 menit 23 detik) WITA dan berakhir pada 13:15:15. Jadi Matahari hanya selama kira-kira dua menit tertutup bulan. Namum waktu dua menit itu, bila cuaca cerah, akan cukup mempesona dengan penampakan korona, “mahkota” indah beraneka warna disekeliling matahari yang gelap.

Sebelum dan sesudah GMT di Tahuna itu dan juga di wilayah lain Indonesia hanya akan teramati gerhana Matahari sebagian. Hampir semua daerah di Jawa hanya akan mengamati gerhana sebagian dengan maksimum penggelapan sekitar 50%. Di Jawa Barat puncak gerhana sebagian itu akan terjadi sekitar pukul 11:40 WIB.

Bagi penduduk Bandung, gerhana akan mulai termati pukul 10:14 dengan mulai tertutupnya titik utara matahari. Puncak gerhana terjadi pukul 11:38 dengan penggelapan belahan utara Matahari. Pada pukul 13:04 bulan meninggalkan Matahari dari titik timurnya.

Perbandingan dengan GMT 1983 dan 1988

Dalam dua belas tahun terakhir ini Indonesia beruntung dilintasi tiga kali GMT. Pada tanggal 11 Juni 1983 GMT melintasi Jawa, Sulawesi Selatan, dan Irian Jaya bagian Selatan. Lama GMT sekitar 5 menit. Sedangkan GMT 18 Maret 1988 yang melintas Sumatra dan Kalimantan waktunya lebih pendek, sekitar 3,75 menit.

Pada saat GMT 1983 aktivitas Matahari berada dalam keadaan menengah setelah mencapai maksimum tahun 1979 dan menjelang minimum tahun 1986.  Menurut hasil penelitian LAPAN dengan pengamatan rutin jumlah bintik Matahari di Stasiun Pengamat Matahari Sumedang, aktivitas             mencapai minimum pada 1986 dan kembali mencapai maksimum 1989. Jadi, pada saat GMT 1988 matahari menjelang aktivitas maksimum.

Aktivitas Matahari berkaitan dengan bentuk korona Matahari yang tampak pada saat GMT. Ini berkaitan dengan aktivitas magnetik di Matahari dan pelepasan materi dari permukaannya. Pada saat aktivitas Matahari minimum korona akan melebar pada arah timur dan barat, kurang tampak pada bagian kutubnya. Sedangkan pada saat aktivitas Matahari maksimum bentuk korona hampir merata di sekeliling Matahari.

Hasil pengamatan tim LAPAN dari pantai Penyak Pulau Bangka, GMT 1988 menunjukkan bentuk korona hampir merata sesuasi dengan aktivitas Matahari yang hampir maksimum. Selain itu teramati juga adanya dua promimensi (lontaran materi panas di tepi piringan Matahari) yang biasa tampak pada saat Matahari aktif.

Pada saat ini aktivitas Matahari sedang atau menjelang saat minimum. Maka diperkirakan bentuk korona Matahari yang akan terlihat menjulur pada kedua sisi timur dan barat dan tipis pada kedua kutubnya. Tim pengamat GMT akan mempelajari bentuk korona yang akan terjadi di samping juga perubahan-perubahan pada ionosfer. Ionosfer yang biasa kita kenal sebagai pemantul gelombang radio dalam komunikasi jarak jauh, mungkin terpengaruh oleh penggelapan sesaat.

Detektor dan Pemroses Citra Astronomi Mengurai Kegelapan Alam Semesta

T. Djamaluddin, Peneliti  Matahari dan  Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 12 Juni 1996)

Dalam astronomi, bahasa universal adalah cahaya atau lebih umumnya gelombang elektromagnetik (EM), termasuk sinar-X, sinar ultra violet, sinar infra merah, dan gelombang radio. Semua benda langit bercerita tentang dirinya dengan pancaran gelombang EM. Fisika dan matematika menjadi juru bahasanya.

Objek yang sangat panas, seperti pada peristiwa tumbukan materi yang sangat kuat akibat tarikan Lubang Hitam (Black Hole), bercerita tentang dirinya dengan pancaran sinar-X. Dengan fisika dapat ditafsirkan bahwa objek itu sangat panas dan apa yang mungkin menyebabkannya. Objek-objek yang sangat dingin, seperti “embrio” bintang (protostar), bercerita banyak kepada astronom dengan pancaran sinar infra merah dan gelombang radio. Galaksi-galaksi yang sedang berlari menjauh memberikan pesan lewat spektrum cahayanya yang bergeser ke arah merah (red shift).

Untuk dapat mendengarkan cerita alam semesta yang “sayup-sayup” itu digunakan teleskop. Teleskop berfungsi untuk menangkap isyarat-isyarat yang sangat redup. Agar cerita itu dapat difahami makna fisisnya, teleskop itu perlu dilengkapi detektor yang berfungsi merekam informasi dari objek alam semesta itu. Wujudnya bisa berupa skema pengamatan visual, foto, isyarat elektronik, atau data digital yang bisa diolah komputer.

Teleskop

Teleskop atau teropong adalah perangkat yang berfungsi mengumpulkan sebanyak mungkin gelombang elektromagnetik dari objek yang sangat jauh. Secara umum kita kenal ada dua jenis teleskop: optik dan radio. Teleskop optik merupakan susunan cermin dan/atau lensa untuk memfokuskan cahaya. Semakin besar diameternya, semakin banyak cahaya yang mampu dikumpulkan sehingga makin mampu mendeteksi objek-objek langit yang sangat redup. Teleskop radio merupakan antena parabola yang menangkap gelombang radio yang dipancarkan objek-objek langit. Semakin besar ukurannya, semakin tinggi resolusinya hingga mampu mendeteksi detil objek-objek dingin di alam semesta.

Alam semesta ini sangat gelap. Semakin jauh menembus kedalaman langit, semakin redup objeknya. Oleh karenanya teleskop saja belum memadai untuk mendeteksi objek-objek redup itu. Perlu detektor yang mampu memperkuat citra dan mampu meningkatkan kontras antara objek dan langit di sekitarnya. Kombinasi antara teleskop dan detektornya menentukan keandalan perangkat kerja astronom dalam mengurai kegelapan alam semesta.

Saat ini astronom berusaha mendapatkan perangkat kerja dengan teleskop yang sekecil mungkin agar praktis pengoperasiannya, namun mampu mendeteksi detil objek yang diteliti. Ini menuntut peningkatan kualitas detektor dan metode pengolahan citranya. Astronom sebagai pengguna teknologi memanfaatkan teknologi untuk mengenali langit lebih dalam. Misalkan, sebuah teleskop kecil berkemampuan penguatan 40.000 kali (bila benar ada), itu akan meningkatkan ambang batas magnitudo sebesar 11,5, yang berarti meningkatkan ambang batas mata manusia dari 6,5 magnitudo menjadi 18 magnitudo (ukuran kecerlangan relatif dalam astronomi, makin besar harganya berarti makin redup objek yang diamati). Ini akan sangat menarik minat astronom untuk melakukan pengamatan objek langit redup, termasuk sky deep survey (mendeteksi objek-objek langit sampai yang sangat redup.

Detektor Astronomi

Mata adalah detektor alamiah yang sampai kini pun tetap digunakan dalam pengamatan astronomi. Hasil pengamatannya bisa juga mempunyai nilai tinggi dalam penelitian astronomi. Contohnya dalam penghitungan jumlah bintik Matahari dalam pemantauan aktivitas Matahari, seperti yang dilakukan Stasiun Pengamatan Matahari LAPAN. Untuk mendapatkan data yang bisa diperbandingkan secara internasional, hasil pengamatan mata yang bisa berbeda-beda tergantung kemampuan teleskop dan kepekaan mata pengamat, ada faktor koreksi berdasarkan suatu acuan yang disepakati. Selain data numerik jumlah objek yang diteliti, pengamatan dengan mata menghasilkan sketsa.

Sejak ditemukannya perangkat fotografi, hampir semua teleskop dilengkapi dengan kamera fotografi. Dengan menggantikan lensa okuler (untuk pengamatan dengan mata) dengan kamera fotografi, teleskop bisa digunakan untuk memotret objek-objek langit bila teleskop dilengkapi dengan penyambung yang cocok untuk pemasangan kamera tersebut. Beragam objek dapat direkam untuk analisis fisis atau struktur (seperti dalam pengamatan awan antarbintang) atau sekedar mengumpulkan bukti pengamatan (seperti pengamatan hilal, bulan sabit pertama).

Penyebaran awan antarbintang di galaksi kita diketahui dari analisis fotografi hasil survey seluruh langit. Syarat batas keberhasilan rukyatul hilal juga ditentukan secara fotografi selain dengan mata. Foto hilal bisa dijumpai di majalah astronomi dan merupakan tantangan untuk menunjukkan rekor pemotretan bulan sabit termuda. Bahkan kartu lebaran dari teman astronom di Malaysia bergambar foto hilal Ramadan yang baru lalu yang dipotret di Tregganu pada tanggal 21 Januari 1996 pada saat bulan berumur 23 jam pada ketinggian 4 derajat.

Dalam pemakaiannya untuk mendeteksi objek redup kamera fotografi perlu waktu pencahayaan (exposure time) yang lama. Ini dimaksudkan agar semakin banyak foton cahaya yang terkumpul pada plat atau film fotografi. Namun, ada efek kejenuhan pada batas tertentu sehingga semakin lama pencahayaanya kontras pada citra objek terang makin hilang. Walaupun demikian, karena kemampuannya merekam objek langit dengan medan luas menyebabkan detektor fotografi dipertahankan dalam pengamatan astronomi. Teknik hipersensitisasi dikembangkan agar mampu mendeteksi objek yang lebih redup. Teknik pemotretan dengan panduan komputer juga digunakan untuk menghasilkan citra medan langit yang lebih luas dalam satu plat potret.

Penemuan teknologi yang memanfaatkan efek fotolistrik (efek pelepasan elektron bila terkena foton cahaya) dimanfaatkan astronom untuk mendapatkan detektor elektronik yang mampu menguatkan isyarat cahaya dari objek redup. Detektor pengganda cahaya (photomultiplier) sudah lama digunakan untuk mendeteksi objek-objek sangat redup, terutama untuk pengukuran fotometri (kuat cahaya) bintang. Detektor penguat citra elektronik (electronic image intensifier) yang bisa dipantau pada layar TV juga digunakan astronom, terutama untuk pemandu teleskop dalam pemotretan objek redup secara otomatik. Rendahnya akurasi detektor penguat citra dalam pengukuran kecerlangan objek menyebabkan detektor ini tidak banyak digunakan dalam analisis fisis citra objek langit.

Perkembangan teknologi semikonduktor melahirkan detektor astronomi yang kini dianggap yang paling membantu astronom dalam mengurai kegelapan alam semesta. Detektor itu adalah CCD, Charge-Coupled Device. Dengan kemera CCD astronom dapat mendeteksi objek sangat redup dengan ukuran teleskop yang lebih kecil. Kelebihan utama kamera CCD adalah kemampuannya merekam setiap foton (partikel cahaya) yang mengenainya dengan rentang panjang gelombang mulai dari sinar-X, sinar-UV, cahaya tampak, sampai sinar inframerah. Artinya, dengan CCD akan dapat diamati objek-objek yang sangat jauh, yang sangat redup, yang sangat panas, atau yang sangat dingin. Lagi pula dengan kamera CCD astronom bisa mengolah citranya secara lebih cepat, akurat, dan dalam format yang beragam dengan bantuan perangkat lunak komputer.

Kamera CCD

CCD, Charge-Coupled Device, bisa diterjemahkan sebagai alat perangkai muatan listrik. CCD sendiri sebenarnya terdiri dari deretan bahan semikonduktor berbentuk bujur sangkar sangat kecil yang sangat peka terhadap cahaya yang biasa disebut sebagai piksel (pixel, picture element, elemen gambar). Karena sangat halusnya ukuran piksel tersebut, sebuah CCD yang mempunyai ratusan ribu piksel berukuran hanya sebesar kuku ibu jari tangan dan permukaannya tampak sangat rata.

Cahaya yang jatuh pada piksel diubah menjadi muatan listrik kemudian dirangkai secara berurutan dan dialirkan ke perangkat komputer untuk disimpan dan diolah lebih lanjut. Secara mudahnya CCD dapat dibayangkan seperti susunan genteng di atap rumah. Bila hujan turun dan jatuh pada genteng rumah (ibarat cahaya jatuh pada CCD) aliran air hujan (ibarat muatan listrik) pada masing-masing deretan genteng itu kemudian dialirkan ke talang dan selanjutnya dialirkan melalui pipa saluran air di bawah.

Berbeda dengan air hujan yang jatuh di atas genteng itu, muatan listrik pada CCD nantinya bisa ditentukan asal pikselnya dengan perangkat lunak komputer. Dengan demikian dapat ditentukan jumlah foton yang jatuh pada masing-masing piksel itu. Maka bila disusun kembali dilayar komputer dengan menggunakan warna atau derajat kehitaman berdasarkan jumlah foton yang jatuh pada tiap piksel, gambar objek yang diamati akan tampak. Kontras citra dapat ditingkatkan dengan menentukan gradasi warna atau tingkat kehitaman yang lebih tajam. Noktah yang diketahui bukan berasal dari objek yang diamati (misalnya dari sinar kosmik) dapat dihilangkan dari gambar sehingga citra yang diperoleh akan lebih bersih.

Banyak keunggulan CCD dibandingkan detektor astronomi lainnya. Resolusinya sangat tinggi sehingga bisa mengungkap detil dari objek yang diamati. Efisiensi kuantumnya juga tinggi yang berarti radiasi apa pun yang jatuh pada CCD akan terdeteksi. Respon spektrumnya lebar sehingga bisa digunakan untuk pengamatan sinar-X sampai sinar inframerah, bukan hanya cahaya tampak. Noise-nya rendah sehingga citra objek akan tampak lebih jelas. Rentang dinamiknya lebar, objek yang terang dan yang redup bisa sama-sama ditampilkan secara jelas. Ini berbeda dengan fotografi yang terpaksa harus mengorbankan salah satunya, yang terang atau yang redup. Kemampuan pengukuran kuat cahaya objek sangat akurat sehingga suatu objek yang dua kali lebih terang daripada objek alinnya akan secara tepat ditampilkan seperti itu.

Karena keunggulannya itu, kamera CCD kini luas digunakan dalam pengamatan astronomi. Pesawat antariksa yang mengamati komet Halley pada pertengahan tahun 1980-an juga dilengkapi denga kamera CCD. Teleskop Hubble, teleskop yang ditempatkan di luar angkasa yang saat ini menguak rahasia alam semesta secara lebih detil, menggunakan kamera CCD sebagai detektor utamanya. Saat ini hampir semua observatorium sudah memiliki teleskop yang dilengkapi dengan kamera CCD, termasuk Observatorium Bosscha dan LAPAN. Astronom amatir pun kini banyak yang memilikinya.

Dengan perkembangan teknologi detektor dan kontrol teleskop yang berbasis komputer, astronom kini cukup duduk di depan komputer di ruang kontrol. Tidak perlu lagi selalu berada di dekat teleskopnya.

Renungan Tahun Baru 1419 H: PELAJARAN TIGA HARI RAYA

T. Djamaluddin, Peneliti  Matahari dan  Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 15 April 1998)

Perbedaan hari idul fitri 1418 yang lalu banyak disesalkan masyarakat. Demikian juga idul adha 1417 tahun lalu yang dirayakan berbeda oleh sebagian masyarakat kita. Namun, alhamdulillah, idul adha 1418  dirayakan seragam. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia. Tiga hari raya terakhir itu memberikan pelajaran penting tentang akar masalah yang selalu kita hadapi. Keseragaman idul adha 1418 bukan pertanda telah dicapainya kesepakatan untuk penyeragaman hari raya, tetapi lebih disebabkan oleh posisi bulan dan matahari yang memungkinkan untuk itu. Akar masalah perbedaan hari idul fitri dan idul adha belum hilang. Hari raya berbeda masih mungkin terjadi di tahun-tahun mendatang.

Perbedaan idul adha 1417 tahun lalu lebih bersumber pada perbedaan rukyat regional dan rukyat global. Rukyat regional yang dianut pemerintah menetapkan idul adha 1417 jatuh pada 18 April 1997, sedangkan rukyat global yang mengacu hasil rukyat di Arab Saudi menetapkan idul adha jatuh pada 17 April 1997.

Sedangkan perbedaan idul fitri 1418 baru lalu lebih bersumber pada dua hal: Pertama, perbedaan antara rukyat berlandaskan hisab (keputusan pemerintah) dan rukyat murni (sebagian warga NU di Jawa Tengah dan Jawa Timur). Kedua, perbedaan antara hisab dengan kriteria visibilitas hilal (keputusan Pemerintah dan Persis) dan hisab dengan kriteria wujudnya bulan di atas ufuk (Muhammadiyah). Pemerintah dan Persis dengan mengacu pada hasil rukyat/hisab berlandaskan kriteria visibilitas hilal menetapkan idul fitri jatuh pada 30 Januari 1998. Sedangkan penganut rukyat murni dan hisab dengan kriteria wujudnya hilal di atas ufuk menetapkan idul fitri jatuh pada 29 Januari 1998.

Menyambut tahun baru hijriyah 1419, tulisan ini mengajak merenung untuk mengurai akar masalah belum usainya perbedaan hari raya dengan mengambil pelajaran dari tiga hari raya terakhir. Memahami suatu masalah secara jernih merupakan langkah awal menuju penyelesaiannya. Karena masalahnya bersumber pada argumentasi ijtihad, semestinyalah semua pihak mau mengkaji dan menimbang semua landasan pemikiran pihak yang berbeda pendapat.

Seragam tanpa musyawarah

Idul adha tahun ini memang istimewa. Tanpa ada musyawarah pun seluruh dunia bisa seragam merayakannya pada 7 April 1998. Semua ini Allah yang mengaturnya. Garis tanggal qamariyah berdasarkan hisab dengan kriteria bulan di atas ufuk melintas dekat garis tanggal internasional. Garis tanggal qamariyah itu melintasi samudra Pasifik melalui koordinat-koordinat (lintang, bujur) : (60 LU, 139 BT), (30 LU, 167 BB), (0, 139 BB), dan (30 LS, 104 BB). Akibatnya, idul adha tahun ini dirayakan seragam di seluruh dunia pada hari yang sama.

Ijtimak awal Dzulhijjah 1418 jatuh pada tanggal 28 Maret 1998 pukul 10:15 WIB. Pada saat maghrib 28 Maret itu hampir di seluruh dunia bulan sudah berada di atas ufuk. Pada saat maghrib, di Jakarta bulan berada pada ketinggian 4 derajat 30 menit sedangkan di Sabang ketinggiannya 4 derajat 51 menit (jarak bulan-matahari 5,8 derajat). Di Mekah, pada saat maghrib bulan sudah berada pada ketinggian 6 derajat 28 menit (jarak bulan-matahari 7,9 derajat).

Selama ini di Indonesia digunakan kriteria hisab ketinggian bulan di atas 2 derajat untuk menetapkan masuknya tanggal qamariyah, walaupun kriteria itu masih di bawah limit visibiltas hilal menurut astronomi. Bila itu yang digunakan, maka 1 Dzulhijjah di Indonesia jatuh pada 29 Maret (sama dengan di Arab Saudi) dan idul adha jatuh pada 7 April.

Perbedaan karena beda metode

Beberapa tahun lalu, ketika idul fitri dan idul adha dilaksanakan seragam masyarakat merasa lega dan menganggap persoalan perbedaan hari raya telah usai. Nyatanya belum. Keseragaman yang pernah terjadi bukan hasil musyarawah ummat, tetapi lebih disebabkan oleh posisi bulan dan matahari yang memungkinkan untuk seragam.

Akar masalah perbedaan itu adalah beda metode dan kriteria yang sampai kini belum bisa disatukan. Hal itu wajar dalam proses ijtihad. Dalam tulisan ini argumentasi ijtihad itu akan diulas secara ringkas agar kita bisa memilih yang paling diyakini dan bisa memahami serta menghormati orang lain yang berbeda pendapat.

Rukyat lokal atau regional merupakan metode penetapan tanggal berdasarkan penampakan hilal di wilayah tertentu. Hal ini telah dilakukan Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Singapura yang bersepakat bahwa di mana pun hilal tampak di kawasan itu akan menjadi dasar pengambilan keputusan bersama. Laporan rukyatul hilal dari kawasan lain tidak akan dijadikan dasar pengambilan keputusan.

Dasar hukum rukyat regional adalah hadits Nabi yang memerintahkan berpuasa bila melihat hilal dan berbuka atau beridul fitri bila melihat hilal. Sedangkan penampakan hilal bersifat lokal, tidak bisa secara seragam terlihat di seluruh dunia. Demi keseragaman hukum di suatu wilayah, pemimpin umat bisa menyatakan kesaksian di mana pun di wilayah itu berlaku untuk seluruh wilayah.

Dengan makin luasnya penyebaran ummat Islam, maka para ulama mulai berijtihad tentang keberlakuan suatu kesaksian hilal. Apakah berlaku lokal atau global. Tak satu pun dalil qath’i (pasti) yang menjelaskannya. Semua argumentasi yang diajukan para ulama, termasuk sejak zaman Muawiyah, bersifat ijtihadiyah.

Keberlakuan secara lokal/regional dan tidak perlunya mengikuti kesaksian hilal di wilayah lain didasarkan pada tidak adanya dalil yang memerintahkan untuk bertanya pada daerah lain bila hilal tak terlihat. Hal inilah yang tampaknya mendasari ijtihad Abdullah Ibnu Abbas tentang perbedaan awal Ramadan di Syam dan Madinah. Ijtihad Ibnu Abbas ini menjadi dasar pendapat sebagian ulama, termasuk ulama madzhab Syafii.

Tetapi, sebagian ulama lainnya berpendapat tidak ada batasan tempat kesaksian hilal. Di mana pun hilal teramati, itu berlaku bagi seluruh dunia. Dasarnya, karena hadits Nabi sendiri tidak memberi batasan keberlakukan rukyatul hilal itu, jadi mestinya berlaku untuk seluruh dunia.

Namun para ulama tidak merinci teknis pemberlakuan rukyat yang berlaku global yang sebenarnya tidak sederhana. Belakangan di antara pengikut pendapat ini ada yang merumuskan, bila ada kesaksian hilal di mana pun, maka wilayah yang belum terbit fajar wajib menjadikannya sebagai dasar untuk berpuasa atau berhari raya.

Pendapat rukyat regional dan global adalah hasil ijtihad dengan argumentasi masing-masing yang dianggapnya kuat. Hadits yang digunakannya sama. Penganut rukyat regional bisa berargumentasi Nabi tidak memerintahkan bertanya tentang kesaksian hilal di wilayah lain. Penganut rukyat global bisa berargumentasi Nabi tidak membatasi keberlakukan kesaksian hilal.

Untuk menimbang mana yang sebaiknya diikuti, bisa mengacu pada Q. S. 2:185 yang berkaitan dengan pelaksanaan puasa. Pada ayat itu Allah memberikan pedoman umum, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesulitan bagimu”. Manakah di antara kedua ijtihad itu yang lebih mudah diikuti umat dan sedikit mudharatnya?

Untuk menimbang mana yang lebih meringankan umat, diberikan ilustrasi berikut ini. Bila di Indonesia hilal belum teramati karena ketinggian hilal sangat rendah, maka ada kemungkinan rukyatul hilal baru terjadi ketika saat maghrib di Amerika. Saat maghrib di Amerika berarti pagi hari di Indonesia. Ini berarti, bila murni berdasarkan rukyat global, setiap orang harus sabar berjaga sepanjang malam dalam ketidakpastian. Karena rukyat tidak bisa dipastikan di mana dan kapan bisa terlihat. Hal ini lebih menyulitkan umat daripada rukyatul hilal regional. Keputusan ada tidaknya kesaksian hilal di Indonesia biasanya bisa ditunggu sampai dengan pukul 19.30 WIB.

Untuk mendukung argumentasinya, ada yang berpendapat rukyat global lebih menjamin keseragaman daripada rukyat regional. Tetapi analisis astronomi membantah pendapat itu. Contoh berikut membuktikannya. Saat maghrib di Calcuta, India, 30 Desember 1997 hilal dapat dirukyat. Bila rukyat ini berlaku global, di San Francisco saat itu dini hari 30 Desember sebelum fajar. Berarti di India awal puasa 31 Desember dan di Amerika 30 Desember. Ada ketidakseragaman tanggal.

Pada saat maghrib 28 Januari 1998 di San Francisco hilal dapat dirukyat. Saat itu di India 29 Januari pagi hari. Apa yang mesti dilakukan pagi itu oleh Muslim di India, tetap berpuasa atau salat id? Masing-masing pilihan jawaban punya konsekuensi ketidakseragaman. Bila tetap berpuasa, berarti idul fitri di India (30 Januari) berbeda dengan di Amerika (29 Januari). Bila beridul fitri hari itu, berarti berbeda jumlah hari puasa, di India 29 hari di Amerika 30 hari.

Jadi, baik rukyat global maupun rukyat regional tidak mungkin menghapuskan perbedaan. Dan dari segi hukum, keduanya sederajat sama-sama hasil ijtihad, punya kemungkinan benar dan salah. Tetapi, rukyat global lebih menyulitkan umat daripada rukyat regional. Silakan pilih yang mana.

Bagaimana dengan metode hisab? Sebagian ulama berpendapat hisab hanya alat bantu rukyat, tidak dapat menggantikan rukyat secara mutlak. Sebagian lagi berpendapat, hisab yang akurat seperti yang dilakukan dengan perhitungan astronomi modern dengan alat bantu komputer, bisa menggantikan rukyat secara mutlak. Salah satu alasannya adalah isyarat dalam hadits shahih yang mengizinkan untuk memperkirakan (faqdurulahu) posisi hilal bila tidak memungkinkan dirukyat.

Ada juga yang beralasan, hisab merupakan ru’yat bil ‘ilmi, mengamati dengan “mata” ilmu, bukan mata fisik. Dalam hal ini, tidak ada keunggulan mata fisik daripada “mata” ilmu. Bahkan “mata” ilmu bisa “melihat” sebelum terjadi.

Namun di kalangan yang membolehkan hisab, walaupun hasil hisabnya sama, kriteria pengambilan keputusannya bisa berbeda-beda. Ada yang berdasarkan ijtimak. Ada yang berdasarkan bulan telah wujud di atas ufuk. Ada yang berdasarkan kriteria kemungkinan untuk dirukyat (imkan ru’yat). Ketiga kriteria itu berdasarkan ijtihad.

Ijtimak menjadi dasar karena itu pertanda awal bulan. Bila berpendapat batasannya sebelum maghrib (ijtima’ qablal ghurub), karena memang definisi hari dalam Islam bermula dari saat maghrib, saat biasanya orang melakukan ru’yatul hilal. Bila berpendapat batasannya sebelum fajar (ijtima’ qablal fajr), karena puasa bermula sejak fajar.

Pendapat ke dua menganggap ijtimak tidak cukup. Nabi memerintahkan berpuasa atau beridul fitri bila melihat hilal atau hilal diperkirakan bisa dilihat. Maka tidak mungkin melihat hilal bila bulan sudah terbenam. Jadi pendapat ke dua mensyaratkan bulan mesti di atas ufuk pada saat maghrib. Dengan “mata” ilmu bisa diyakini bulan telah wujud di ufuk barat sebagai tanda awal bulan. Bila tidak ada halangan (termasuk terangnya cahaya senja akibat hamburan cahaya matahari), mungkin saja hilal itu bisa dirukyat.

Pendapat ke tiga merasa hilal di atas ufuk pun belum menjamin hilal dapat dirukyat. Kalau pun terangnya cahaya senja bisa dihilangkan dengan mengamatinya dari pesawat antariksa, ada syarat lain untuk bisa melihat cahaya hilal. Analisis astronomi menunjukkan, pengamatan dari antariksa yang bebas udara pun mempunyai syarat minimal untuk bisa melihat cahaya hilal itu.

Kemampuan mata manusia untuk melihat benda langit terbatas hanya sampai keredupan 8 magnitudo dalam skala astronomi. Kalau pun melihatnya dari antariksa, batas kemampuan mata manusia itu tidak berubah. Dengan kemampuan deteksi mata manusia seperti itu, pada jarak matahari-bulan kurang dari 7 derajat, cahaya hilal tidak akan tampak sama sekali. Dengan kata lain, walaupun bulan telah wujud tetapi hilal belum wujud. Bila memperhitungkan faktor-faktor pengganggu di atmosfer bumi, syarat itu bertambah besar.

Bila ditimbang dari segi dasar pengambilan hukum, ketiga kriteria hisab itu sederajat. Sebagai hasil ijtihad, semuanya berpotensi benar dan salah. Dari segi kemudahan, semuanya sama mudahnya, apalagi dengan alat bantu program komputer. Tetapi dari segi kedekatannya pada makna hadits yang jadi dasar ijtihadnya, akan tampak perbedaannya.

Perintah operasional puasa dan beridul fitri dalam hadits didasarkan pada rukyatul hilal. Di dalam Alquran walaupun bulan dan matahari disebut sebagai alat untuk perhitungan waktu (Q. S. 6:96), tetapi dalam prakteknya, hilal (bulan sabit pertama) yang dijadikan acuan (Q. S. 2:189), bukan posisi bulan. Karena, orang awam sekali pun bisa menentukan ada tidaknya hilal walaupun tidak mengerti seluk beluk peredaran bulan.

Ijtimak tidak mungkin dirukyat, kecuali dalam keadaan gerhana matahari. Wujudnya bulan di atas ufuk pun belum menjamin adanya hilal menurut penglihatan mata manusia. Hilal bisa diperkirakan keberadaannya dengan memperhitungkan kriteria penampakan hilal. Berdasarkan pertimbangan ini, maka kriteria hisab berdasarkan kemungkinan rukyatul hilal lebih dekat kepada dalil rukyatul hilal.

Jadi, di tengah keragaman metode dan kriteria penentuan hari raya, langkah yang diambil pemerintah dengan mengacu pada hasil rukyat regional berlandaskan kriteria visibilitas hilal adalah cara yang paling tepat. Analisis ini menepis anggapan miring bahwa pemerintah terpaksa memutuskan idul fitri jatuh pada 30 januari 1998 agar tidak menggagalkan acara takbir akbar yang dibuka Presiden.