Hisab Astronomi: Awal Puasa mungkin 10 Januari 1997, Idul Fitri pasti 9 Februari


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika, 8 Januari 1997)

Dalam penentuan awal puasa dan hari raya, tampaknya Indonesia menganut dasar rukyatul hilal (hasil pengamatan bulan sabit pertama) dan hisab (perhitungan) hanya sebagai pembantu. Namun laporan rukyatul hilal yang bertentangan dengan hisab (bulan sudah di bawah ufuk menurut hisab astronomi) kini berani ditolak oleh Departemen Agama RI. Artinya, hisab bukan lagi sebagai pembantu, tetapi juga penentu. Bahkan hasil hisab yang menyatakan bulan sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian tertentu, tanpa laporan ru’yatul hilal, pernah dijadikan dasar pengambilan keputusan pada penentuan 1 Ramadan 1407/1987.

Problema perbedaan penentuan awal bulan dan idul fitri di Indonesia belum berakhir, sewaktu-waktu bisa terjadi. Akar masalahnya bukan pada akurasi rukyatul hilal yang diusulkan diselesaikan dengan teleskop rukyat, tetapi pada akurasi hisab lama yang masih digunakan beberapa kalangan. Diakui atau tidak, rukyatul hilal yang lebih awal sangat dipengaruhi oleh hasil hisab yang tidak akurat lagi yang bersumber dari metode hisab lama, bukan murni rukyatul hilal.

Departemen Agama RI kini berani menolak laporan rukyatul hilal bila menurut hisab astronomi pada saat itu bulan mestinya sudah terbenam. Ini berarti hisab astronomi telah dijadikan sebagai penentu. Kini yang urgen untuk diselesaikan para ahli hisab dan ahli fikih di Indonesia adalah ketegasan kriteria penentuan awal bulan qamariyah.

Ada dua jenis kriteria utama yang kini digunakan oleh para ahli hisab Indonesia. Pertama, kriteria ketinggian hilal yang memungkinkan hilal bisa dirukyat (diamati). Namun belum semua ahli hisab menggunakan kriteria visibilitas yang baku. Kedua, kriteria ijtimak (new moon, bulan baru astronomis) sebelum terbenam matahari (ijtima’ qablal ghurub). Kriteria ini paling mudah karena hanya membandingkan informasi waktu ijtimak dengan waktu ternbenam matahari. Kriteria ini sebenarnya kriteria khusus untuk daerah sekitar khatulistiwa dari kriteria umum bulan mesti di atas ufuk pada saat matahari terbenam.

Kriteria visibilitas yang baku yang ditetapkan oleh IICP (International Islamic Calendar Programme) belum memasyarakat di kalangan ahli hisab Indonesia. Kriteria visibilitas terbagi menjadi tiga, tergantung segi yang diperhitungkan.

1.Kriteria posisi bulan dan matahari: ketinggian minimal hilal dapat teramati adalah 4 derajat bila beda azimut bulan-matahari lebih dari 45 derajat, bila beda azimutnya 0 derajat perlu ketinggian minimal 10,5 derajat.

2.Kriteria beda waktu terbenam: hilal dapat teramati bila bulan terbenam minimal 40 menit lebih lambat daripada matahari dan memerlukan beda waktu lebih besar untuk daerah di lintang tinggi, terutama pada musim dingin.

3.Kriteria umur bulan (dihitung sejak ijtimak): hilal dapat diamati bila berumur lebih dari 16 jam bagi pengamat di daerah tropik dan berumur lebih dari 20 jam bagi pengamat di lintang tinggi.

Dengan membandingkan ketiga kriteria itu, yang terbaik adalah kriteria beda waktu terbenam. Faktor posisi bulan-matahari dan keadaan atmosfer sudah tercakup di dalamnya. Variasi musiman pada kriteria tersebut kecil untuk daerah tropik dan makin membesar sejalan dengan pertambahan lintang tempat.

Penentuan awal bulan

Rasulullah s. a. w. memberikan petunjuk sederhana penentuan awal puasa Ramadan dan Idul Fitri dengan memperhatikan hilal (bulan sabit pertama). Bila hilal terlihat di akhir Sya’ban, itulah pertanda masuknya bulan Ramadan. Bila hilal tampak di akhir Ramadan, itulah petunjuk datangnya Idul Fitri. Bagaimana bila cuaca buruk seperti akhir-akhir ini di Indonesia yang tidak memungkinkan pengamatan hilal?

Rasulullah s. a. w. berpesan agar melakukan “istikmal” (menggenapkan bulan yang berjalan menjadi 30 hari) bila langit  mendung. Cara ini adalah cara yang paling aman dan sederhana, karena tidak mungkin jumlah hari dalam satu bulan melebihi 30 hari. Tetapi dalam hadits sahih lainnya disebutkan pula untuk memperkirakan (“faqdurulahu“). Sebagian besar ulama menafsirkan makna “faqdurulahu” itu sebagai “istikmal”. Ini dapat dimengerti, mengingat cara “istikmal” merupakan cara yang selalu dipakai oleh Nabi, para sahabat, dan generasi awal ummat Islam dalam menyelesaikan masalah pengamatan hilal yang terhalang cuaca buruk.

Alternatif lain yang akurat dalam penentuan awal bulan qomariyah belum berkembang pada masa awal sejarah Islam. Hal ini beralasan. Ilmu hisab astronomi belum berkembang dikalangan ummat Islam waktu itu. Hal ini dikemukakan juga oleh Rasulullah s. a. w. dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari, “Sesungguhnya kami ini ummat yang ummi, yang tak pandai menulis dan menghisab. Bulan itu kadang‑kadang 29 hari, kadang‑kadang 30 hari.”  Pengetahuan empirik bahwa satu bulan itu hanya 29 atau 30 hari, tidak mungkin kurang atau lebih dari itu, memang sudah diketahui. Tetapi hisab yang cermat untuk menentukan posisi hilal belum diketahui. Karenanya, cara “istikmal” dengan menggenapkan bulan yang berjalan menjadi 30 hari adalah cara yang terbaik.

Setelah ilmu hisab astronomi berkembang di kalangan ummat Islam, mulailah alternatif lain penentuan awal bulan qomariyah diperdebatkan, khususnya bila pengamat hilal (ru’yatul hilal) tak mungkin dilakukan karena halangan cuaca buruk. Hadits sahih yang menyatakan “faqdurulahu” (maka perkirakanlah) memberikan isyarat adanya alternatif lain. Satu‑satunya alternatif selain cara “istikmal” adalah hisab astronomi yang teruji kecermatannya.

Adanya alternatif ini menunjukkan sisi lain kesederhanaan kalender hijriyah. Kalender hijriyah bisa ditentukan dengan cara observasi (ru’yat), dapat pula dengan cara hisab (perhitungan astronomi) yang cermat.  Perdebatan soal sahih tidaknya hisab dalam penentuan awal bulan qomariyah merupakan perdebatan lama, sejak awal perkembangan ilmu hisab sampai saat ini. Hal itu tak akan diulas dalam tulisan pendek ini. Cukuplah di sini saya kutip pendapat kompromis dari ulama besar dari kalangan madzhab Syafi’i, Abul Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij (wafat 306 H, sekitar 918 M) yang juga murid Imam Abu Dawud (penyusun kitab hadits “Sunan Abu Dawud”). Abul Abbas Ahmad berpendapat bahwa “istikmal” berlaku bagi orang awam, yang tak faham ilmu hisab, sedangkan perintah “faqdurulahu” berlaku bagi ahli hisab yang mampu memperkirakan hilal telah muncul atau belum.

Hisab Ramadan dan Syawal

Ijtimak awal Ramadan terjadi pada 9 Januari 1997 pukul 11:26 WIB dan ijtimak awal syawal terjadi 7 Februari pukul 22:08 WIB.  Di Indonesia itu berarti pada tanggal 9 Januari dan 8 Februari bulan masih berada di atas ufuk pada saat maghrib. Bagi pengikut hisab ijtima’ qablal ghurub, informasi itu cukup untuk menentukan bahwa awal puasa pada 10 Januari dan Idul Fitri 9 Februari 1997.

Secara global, kriteria ijtima’ qablal ghurub menghasilkan garis tanggal qamariyah (lihat gambar). Garis tanggal awal Ramadan 1417 melintasi Samudra India, laut Timor, Papua Nugini, Kepulauan Hawaii, dan Amerika Serikat. Sehingga berdasarkan garis tanggal tersebut Indonesia, Asia, Afrika, dan benua Ameria memulai puasa pada 10 Januari dan Australia pada 11 Januari.

Garis tanggal awal Syawal 1417 melintasi Amerika Selatan, Afrika Tengah, Timur Tengah, dan Rusia. Dengan demikian Indonesia, Asia, dan Australia beridul fitri pada tanggal 9 Februari. Eropa dan benua Amerika beridul fitri pada 8 Februari.

Garis tanggal awal Ramadan yang sisi baratnya dekat dengan Indonesia menunjukkan bahwa pada saat matahari terbenam bulan hanya sedikit di atas ufuk. Perhitungan posisi hilal menunjukkan bahwa pada saat matahari terbenam pada 9 Januari 1997 tinggi “hilal” kurang dari 4 derajat dan jaraknya sekitar 5 derajat di sebelah utara titik matahari terbenam. Di Aceh tingginya hanya 3,5 derajat, di Jakarta 2,1 derajat, dan di Manado 2 derajat. Umur hilal pun kurang dari 7 jam 15 menit. Itu sangat sulit dirukyat.

Bila mendasarkan murni pada rukyatul hilal, kemungkinan besar hilal baru dapat dirukyat pada tanggal 10 Januari dan awal Ramadan jatuh pada 11 Januari. Tetapi, berdasarkan pengalaman selama ini hilal setinggi 2 derajat pun ada yang melaporkan melihatnya. Maka mungkin juga di Indonesia awal Ramadan akan jatuh pada 10 Januari.

Idul fitri 1417 tampaknya tidak akan menghadapi masalah. Indonesia letaknya dekat dengan sisi timur garis tanggal awal Syawal. Ini berarti hilal cukup tinggi dan mudah dirukyat. Hilal pada saat matahari terbenam di Indonesia pada 8 Februari tingginya berkisar 8 – 11 derajat dan berada sekitar 5 – 8 derajat di sebelah utara titik terbenamnya matahari. Sehingga dapat dipastikan Idul Fitri akan jatuh pada 9 Februari 1997.

%d blogger menyukai ini: