Idul Adha 1417 H Mengapa Berbeda Hari antara Indonesia dan Arab Saudi

T. Djamaluddin, Peneliti  Matahari dan  Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika, 19 April 1997)

Arab Saudi mengumumkan hari wukuf jatuh pada 16 April 1997. Dengan demikian Idul Adha di sana jatuh pada 17 April 1997 (Republika, 10/4). Sedangkan Departemen Agama RI, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura mengumumkan Idul Adha jatuh pada 18 April (Republika, 12/4).

Perbedaan serupa pernah terjadi tahun 1411 H/1991. Idul Adha di Indonesia dan di Arab Saudi berbeda hari. Pada tahun 1991 wukuf di Arafah terjadi pada 21 Juni 1991 dan Idul Adha di Arab Saudi jatuh pada 22 Juni 1991. Sedangkan di Indonesia Idul Adha jatuh pada 23 Juni 1991.

Banyak orang bingung waktu itu. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara Asia bagian timur. Ada juga yang mengecam perbedaan itu seolah-olah tidak berdasar. Bahkan ada tokoh yang mempertanyakan perbedaan itu, mengapa Indonesia yang letaknya lebih ke timur ketimbang Arab Saudi beridul adha belakangan. Ada yang bertanya-tanya mengapa perbedaan waktu yang hanya empat jam antara Arab Saudi dan Indonesia bisa menyebabkan perbedaan hari raya.

Ada dua aspek yang terkait dengan perbedaan itu yang perlu dijelaskan: aspek astronomis penentuan awal bulan Dzulhijjah dan aspek syariah yang berkaitan dengan puasa hari Arafah. Aspek kedua yang mungkin paling merisaukan banyak orang. Bila kita di Indonesia berpuasa hari Arafah 9 Dzulhijjah pada 17 April sementara kita mendengar hari itu di Arab Saudi sudah Idul Adha, mungkin ada bimbang. Berpuasa pada hari raya adalah haram. Lalu haramkah berpuasa pada 17 April itu?

Sebenarnya keduanya bukan masalah bila kita mengetahui duduk soalnya.

Garis Tanggal

Terjadinya perbedaan hari Idul Adha antara Indonesia dan Arab Saudi beralasan secara astronomis. Perhitungan astronomi menyatakan ijtimak awal Dzulhijjah 1417 terjadi pada 7 April 1997 pukul 11:04 UT atau pukul 14:04 waktu Arab Saudi, pukul 18:04 WIB. Dengan demikian di Arab Saudi ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub) sedangkan di sebagian besar Indonesia saat itu matahari sudah terbenam. Berdasarkan saat ijtimak itu saja dapat difahami bahwa masuknya awal Dzulhijjah di Arab Saudi lebih dahulu daripada di Indonesia.

Pada tanggal 7 April, di Mekkah matahari terbenam pukul 18:38 sedangkan bulan terbenam lebih lambat lagi, pukul 18:45. Walaupun secara astronomis itu masih di bawah kriteria visibilitas hilal, tetapi itu menunjukkan bahwa bulan sudah wujud di atas ufuk pada saat maghrib. Sehingga 1 Dzulhijjah di Arab Saudi jatuh pada tanggal 8 April dan Idul Adha jatuh pada 17 April 1997.

Di Indonesia pada tanggal 7 April itu bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari. Di Jakarta bulan terbenam pukul 17:54 dan matahari terbenam pukul 17:55. Dan di Bandung bulan terbenam pukul 17:51 dan matahari terbenam pukul 17:52. Di kawasan Indonesia tengah dan timur perbedaan waktu terbenam bulan dan matahari lebih besar lagi. Secara umum di seluruh Indonesia bulan sudah berada di bawah ufuk pada saat maghrib. Dengan demikian 1 Dzulhijjah jatuh pada 9 April dan Idul Adha jatuh pada 18 April 1997.

Untuk melihat kondisi yang lebih global, sebab perbedaan itu bisa kita lihat pada garis tanggal awal Dzulhijjah. Garis tanggal itu menyatakan daerah yang saat terbenam matahari dan bulan bersamaan. Di sebelah barat garis itu pada tanggal 7 April bulan sudah wujud di atas ufuk pada saat maghrib. Sedangkan di sebelah timurnya bulan sudah berada di bawah ufuk pada saat maghrib. Garis tanggal itu melalui pantai barat Australia, pantai barat Sumatra, India, Kazakhstan, dan Rusia bagian barat. Dengan demikian garis tanggal itu memisahkan Arab Saudi dengan Indonesia.

Bila kita gambarkan peta berdasarkan garis tanggal qamariyah (lunar date line) kita akan jelas melihat bahwa perbedaan hari Idul Adha antara Indonesia dan Arab Saudi hanya semu belaka (lihat gambar). Perbedaan itu hanya disebabkan oleh definisi tanggal syamsiah (solar calendar) yang dipisahkan oleh garis tanggal internasional yang melalui lautan pasifik.

Karena adanya garis tanggal internasional, wilayah di sebelah timur garis itu tanggalnya lebih muda daripada yang di sebelah baratnya. Idul Adha 10 Dzulhijjah di wilayah Asia Timur jatuh pada 18 April sedangkan di Amerika, Eropa, Afrika, dan Timur Tengah jatuh pada 17 April.

Pengaruh definisi garis tanggal internasional yang menyebabkan kejadian yang sama dinyatakan dengan tanggal yang berbeda sebenarnya bukan hal yang aneh. Contoh lain yang terkenal adalah catatan sejarah penyerahan Jepang kepada tentara sekutu. Kejadiannya sama, tetapi buku-buku sejarah di Asia, termasuk di Indonesia, menyebutkan tanggal 15 Agustus 1945. Sedangkan di Amerika Serikat menyebutnya penyerahan itu terjadi pada 14 Agustus 1945. Ini analog dengan perbedaan Idul Adha tersebut.

Jadi, “perbedaan” hari Idul Adha itu sebenarnya tidak berbeda secara hakiki bila dilihat menurut kalender qamariyah dengan garis tanggal qamariyah juga. Merancukan waktu ibadah yang dinyatakan menurut kalender qamariyah dengan tanggal menurut kalender syamsiah bisa menyebabkan timbul kesan seolah-olah ada perbedaan.

Menyamakan dengan Saudi?

Menghadapi kasus “perbedaan” seperti itu sering timbul pertanyaan mengapa tidak diseragamkan saja hari raya itu. Orang yang berpendapat seperti itu menghendaki bila di Arab Saudi Idul Adha tanggal 17 April mengapa di Indonesia dan belahan dunia lainnya tidak mengikutinya saja. Dengan kata lain, waktu Mekkah dijadikan sebagai acuan.

Alasannya sederhana atau disederhanakan. Bukankah Mekah tempatnya Ka’bah, kiblatnya umat Islam sedunia. Sudah sewajarnya penentuan waktu ibadah pun (seperti hari raya) mengiblat juga ke Mekah. Di sisi lain, perbedaan waktu antara Arab Saudi dan Indonesia bagian barat hanya empat jam, semestinya hari rayanya pun bisa dilaksanakan pada hari yang sama.

Sepintas pendapat itu tampak benar dan sederhana. Tetapi bila dikaji lebih mendalam hal itu tidak mempunyai landasan syar’i dan landasan ilmiahnya. Pendapat seperti itu muncul karena menghendaki keseragaman menurut tanggal syamsiah, tetapi mengabaikan tanggal qamariyah. Padahal waktu ibadah dalam Islam ditentukan menurut kalender qamariyah. Menyeragamkan Idul Adha, dalam kasus tahun ini, menjadi tanggal 17 April berarti memaksakan pelaksanaannya di Indonesia menjadi tanggal 9 Dzulhijjah, bukan 10 Dzulhijjah seperti disyariatkan.

Bagaimana dengan puasa hari Arafah? Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, pada hari Arafah itu disunahkan berpuasa. Menurut hadits Rasulullah SAW yang diceritakan Abu Qatadah r. a., puasa hari Arafah akan menghapuskan dosa selama dua tahun, tahun yang berlalu dan tahun mendatang. Oleh karenanya puasa hari Arafah ini tergolong puasa sunah yang muakad (utama) sehingga banyak orang yang melaksanakannya.

Hari Arafah adalah 9 Dzulhijjah. Di Indonesia, 9 Dzulhijjah jatuh pada 17 April. Tetapi orang akan bimbang bila berpuasa pada 17 April karena hari itu di Arab Saudi sudah Idul Adha. Menurut Nabi SAW, berpuasa pada hari raya haram hukumnya. Kalau begitu, ada yang berpendapat berpuasalah pada tanggal 16 April karena itulah hari pelaksanaan wukuf di Arafah.

Sepintas pendapat itu nampaknya benar. Kalau dikaji lebih mendalam sebenarnya pendapat itu pun keliru. Bila alasannya hanya karena beda waktu yang pendek (hanya empat jam antara waktu Arab Saudi dan WIB) untuk menyamakan harinya, hal itu pun rancu.

Apakah definisi “sama” harinya? Pengertian “sama” sangat relatif. Secara astronomi bisa berarti mengalami waktu siang secara bersamaan, dengan kata lain bila beda waktunya kurang dari 12 jam. Bila itu diterapkan dalam kasus di Hawaii yang beda waktunya dengan dengan Arab Saudi (dihitung ke arah timur) hanya 11 jam, definisi “sama” harinya malah berbeda tanggal. Tanggal 16 April di Arab Saudi berarti tanggal 15 April di Hawaii.

Lagi pula, pola pikir untuk menyamakan puasa hari Arafah di Indonesia sama dengan hari wukuf 16 April hanya terjadi bila kita tunduk pada sistem kalender syamsiah dan mengabaikan sistem kalender qamariyah yang disyariatkan.

Pada tanggal 16 April di Indonesia masih tanggal 8 Dzulhijjah, jadi bukan waktunya untuk melaksanakan puasa hari Arafah. Kalau begitu, waktu yang tepat untuk melaksanakan puasa hari Arafah di Indonesia adalah 17 April agar tidak melanggar syariat. Dan secara ilmiah hal itu pun beralasan.

Hal itu dapat dijelaskan dengan meruntut perjalanan waktu berdasarkan peredaran bumi. Bagi Muslim di Timur Tengah puasa Arafah mulai sejak fajar 16 April. Makin ke barat waktu fajar bergeser. Di Eropa Barat waktu fajar awal puasa kira-kira 3 jam sesudah di Arab Saudi. Makin ke barat lagi, di pantai barat Amerika Serikat waktu fajar awal puasa Arafah makin bergeser lagi, 11 jam setelah Arab Saudi. Di Hawaii, puasa Arafah juga masih 16 April, tetapi fajar awal puasanya sekitar 13 jam setelah Arab Saudi.

Bila diteruskan ke barat, di tengah lautan Pasifik ada garis tanggal internasional. Mau tidak mau sebutan 16 April harus diganti menjadi 17 April walaupun hanya berbeda beberapa jam dengan Hawaii. Awal puasa Arafah di Indonesia pun yang dilakukan sekitar 7 jam setelah fajar di Hawaii, dilakukan dengan sebutan tanggal yang berbeda hanya gara-gara melewati garis tanggal internasional. Di Indonesia puasa Arafah yang dilakukan pada 17 April 1997 berarti tetap tanggal 9 Dzulhijjah, sama dengan tanggal qamariyah di Arab Saudi.

Bintang berekor di ufuk barat laut: KOMET RAKSASA HALE-BOPP MENDEKATI MATAHARI

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika,  30 Maret 1997)

Bila cuaca cerah, seusai salat maghrib perhatikanlah baik-baik langit di ufuk barat laut. Di sana, pada akhir Maret dan awal April ini, akan terlihat komet (‘bintang berekor’) yang cukup cemerlang: komet Hale-Bopp. Ekornya tampak seperti rambut terjurai melebar ke arah kanan (utara). Ada yang menyebutnya Great Comet (Komet Besar) 1997, sebagai bandingan Great Comet 1811 yang sangat cemerlang.

Komet ini kini sedang menjadi pusat perhatian, bukan hanya para astronom tetapi juga masyarakat awam karena cukup cemerlang terlihat tanpa teleskop. Para penggemar astronomi pun dilanda demam komet Hale-Bopp, sehingga ada restoran baru di Nobeyama, Jepang, yang diberi nama Restoran Hale-Bopp.

Komet sebenarnya adalah anggota tata surya juga seperti planet dan asteroid yang mengelilingi matahari. Komposisinya terdiri dari es, gas beku, dan debu. Bila mendekat matahari, es dan gas bekunya menyublim (menguap tanpa melalui fase cair) kemudian bersama debu yang terlepas tertiup angin matahari menjurai membentuk ekor. Gas yang terionisasi membentuk ekor ion dan debunya membentuk ekor debu.

Cahaya cemerlang komet berasal dari pemantulan cahaya matahari. Itulah sebabnya komet cemerlang hanya terlihat di dekat matahari menjelang matahari terbit pagi hari atau setelah matahari terbenam pada senja hari.

Komet baru

Nama Hale-Bopp yang diberikan pada komet ini berasal dari nama para penemunya: Alen Hale dari New Mexico dan Thomas Bopp dari Arizona. Hale adalah pengamat komet terkenal yang berpengalaman mengamati sekitar 200 komet. Penemuannya tidak disengaja, bukan dalam program pencarian komet baru. Ini karunia yang besar baginya karena ia pernah melakukan pencarian komet baru secara intensif selama lebih dari 400 jam, namun hasilnya nihil.

Malam 23 Juli 1995, setelah mengamati komet Clark, Hale menunggu kesempatan baik untuk pengamatan komet d’Arrest. Diarahkannya teleskopnya ke arah rasi Sagitarius, di sekitar objek baur M70 (Messier-70). Ada yang menarik perhatiannya di dekat M70: sebuah titik baur yang lebih kecil daripada M70 yang sebelumnya tidak ada. Dia langsung menduga itu komet. Ternyata benar, itu komet yang belum dikenal sebelumnya.

Di tempat lain, di gurun Arizona, Bopp dan teman-temannya para astronom amatir melakukan pengamatan objek-objek baur (objek Messier: nebula, galaksi, atau gugusan bintang) pada saat langit gelap tak berbulan. Di dekat M70 dijumpainya objek baur yang setelah dicek pada peta langit yang dibawanya, mereka tidak mengenal objek baru itu. Selama satu jam, mereka mengamati bahwa objek itu sedikit berubah posisinya, menunjukkan itu objek tata surya. Setelah dilaporkan ke Observatorium Astrofisika Smithsonian, mereka mendapat kepastian bahwa objek yang ditemukannya adalah komet baru.

Penemuan itu diumumkan di dalam Sirkular Uni Astronomi Internasional (IAU). Nama komet kemudian diberikan oleh Komisi 20 IAU: Komite Nama Benda langit Kecil, yang berwenang memberi nama komet dan asteroid. Komet itu diberi nama Hale-Bopp sebagai penghargaan kepada para penemunya. Nama resmi yang digunakan astronom profesional adalah C/1995 O1 yang sekaligus memberikan informasi saat penemuannya. Nama C/1995 O1 berarti komet periode panjang yang ditemukan sebagai objek pertama dalam selang waktu dua-mingguan ke-15 (15-29 Juli, dilambangkan dengan abjad ke-15: O) pada tahun 1995.

Komet Raksasa

Dari berbagai pengamatan yang dilakukan kemudian, telah dapat dihitung elemen-elemen orbitnya. Bidang orbitnya hampir tegak lurus terhadap bidang orbit bumi dengan inklinasi 89,4 derajat (lihat gambar). Orbitnya sangat lonjong dengan eksentrisitas mendekati 1 sehingga periode orbitnya juga sangat panjang, lebih dari 3000 tahun! Walaupun baru ditemukan, komet ini bukan komet baru yang baru keluar dari awan Oort (‘sarang’ komet) jauh di tepi tata surya. Hal ini bisa disimpulkan dari jarak terjauh orbitnya yang tidak mencapai jarak awan Oort itu.

Jarak terdekatnya dengan matahari 138 juta km (0,9 jarak bumi-matahari) yang akan dicapai pada tanggal 1 April 1997. Selama perjalanannya mendekati matahari, posisi komet lebih dekat ke matahari daripada ke bumi. Jarak terdekatnya ke bumi, 194 juta km, dicapai pada tanggal 23 Maret 1997. Karena kecerlangan komet tergantung pada jaraknya terhadap matahari dan bumi, maka puncak kecerlangannya akan terjadi antara 23 Maret – 1 April 1997.

Komet Hale-Bopp memang sangat menarik perhatian. Pada saat ditemukan, komet masih berada pada jarak sekitar 900 juta km, lebih jauh daripada orbit Jupiter. Komet yang pada jarak sejauh itu sudah terlihat dari bumi biasanya adalah komet raksasa. Memang berdasarkan analisis debu yang dilepaskannya, diperkirakan diameter intinya sekitar 40 km. Ini jauh lebih besar daripada komet Halley yang terkenal yang hanya berukuran 8x8x16 km.

Kepala komet (koma) yang merupakan debu dan gas yang menyelubungi inti nanti pada saat maksimum diperkirakan akan berdiameter sekitar 100.000 km. Ini juga lebih besar daripada koma komet Halley yang berdiameter 30-40 km. Panjang ekornya akan mencapai jutaan km.

Di dekat matahari, komponen utama yang mengalami sublimasi adalah es air (H2O). Tetapi komet Hale-Bopp juga diketahui kaya akan kandungan CO dan debu. Bila pada jarak terdekat dengan matahari itu CO dan debu masih banyak tersisa, maka komet akan sangat cemerlang

Hal yang menarik lainnya dari komet Hale-Bopp adalah munculnya semburan (jet) dari intinya pada saat masih jauh dari matahari. Hal ini jarang terjadi pada komet-komet yang pernah teramati. Adanya jet dari intinya memungkinkan untuk memperkirakan periode rotasi intinya. Kini telah dihitung periodenya tidak konstan, tetapi bervariasi antara 11,2 – 11,65 jam.

Cara mencari Hale-Bopp

Komet Hale-Bopp diperkirakan akan sangat terang sehingga pengamat di kota yang mengalami polusi cahaya tidak terlalu parah masih bisa melihatnya. Kepala komet akan terlihat sesudah maghrib menjelang gelap malam, saat bintang-bintang mulai tampak. Di ufuk Barat laut, komet akan tampak paling terang di antara bintang-bintang.

Ekor komet terbentuk karena debu dan gas terdorong oleh angin matahari. Karena itu arahnya selalu menjauhi matahari. Komet bergerak dari arah utara matahari ke arah selatan sehingga arah ekor debunya pun, akibat pengaruh geraknya, akan tampak menyebar melengkung ke arah utara. Sementara itu ekor ionnya tetap lurus tidak terpengaruh oleh gerak komet. Sehingga akan tampak ekor ion dan ekor debu membentuk sudut seperti huruf V dengan sisi kanan yang melengkung. Panjang ekor diperkirakan 20 derajat. Bila diukur dengan tangan yang dijulurkan ke depan, panjangnya sekitar sejengkal. Beberapa pengamat melaporkan berhasil melihat ekornya walaupun langit barat masih cukup terang oleh cahaya senja .

Walaupun relatif cukup terang, untuk bisa mengamatinya dengan baik, pilihlah tempat yang jauh dari polusi cahaya kota. Dan saat terbaik mengamatinya adalah sesudah maghrib antara 26 Maret (18 Dzulqaidah) – 12 April (5 Dzulhijjah) karena pada saat itu tidak ada gangguan dari cahaya bulan. Posisi komet berada pada rasi Andromeda (lihat peta langit). Tetapi tanpa menggunakan peta langit pun, pengamat awam diharapkan bisa menemukannya bila mencermati daerah sekitar ufuk barat laut.

Bagi penggemar fotografi, komet Hale-Bopp sangat menarik untuk diabadikan. Untuk itu selain kamera perlu disiapkan tripod, kabel release, dan film cepat (disarankan ISO 800 atau yang lebih cepat). Waktu pencahayaan (exposure time) sekitar 10 detik atau lebih. Kamera otomatik yang mengatur sendiri exposure time-nya bisa juga dicoba tetapi dengan menggunakan film yang ISO-nya lebih besar lagi (disarankan menggunakan yang paling besar, ISO 3200). Gunakan tripod dan ketika memijit tombol perlu sangat berhati-hati agar kamera tidak bergoyang. Lebih baik lagi menggunakan timer agar ada selang waktu antara pemijitan tombol dan saat mulai pemotretan.

Bukan Masalah: Idul Adha di Arab Saudi dan Indonesia Berbeda Hari

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan  Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 12 April 1997)

Kejadian tahun 1411 H/1991 berulang lagi. Idul Adha di Indonesia dan di Arab Saudi berbeda hari. Pada tahun 1991 wukuf di Arafah terjadi pada 21 Juni 1991 dan Idul Adha di Arab Saudi jatuh pada 22 Juni 1991. Sedangkan di Indonesia Idul Adha jatuh pada 23 Juni 1991.

Tahun ini Arab Saudi mengumumkan hari wukuf 9 Dzulhijjah jatuh pada 16 April 1997 dan Idul Adha jatuh pada 17 April 1997. Sedangkan di Indonesia Idul Adha akan jatuh pada 18 April.

Menghadapi kenyataan itu biasanya timbul beberapa pertanyaan di masyarakat. Mengapa terjadi perbedaan hari Idul Adha? Mengapa Arab Saudi yang terletak di sebelah barat Indonesia bisa lebih dahulu merayakan Idul Adha? Dan kapankah puasa hari Arafah bagi masyarakat di Indonesia, 16 April atau 17 April?

Bila mengetahui asal-usulnya, “perbedaan” itu sebenarnya semu belaka dan pertanyaan-pertanyaan itu sangat mudah terjawab.

Dua Garis Tanggal

Adanya dua sistem kalender yang kita anut, syamsiah (solar calendar) dan qamariyah (lunar calendar), menyebabkan kita akan menghadapi dua garis tanggal: garis tanggal syamsiah dan garis tanggal qamariyah. Garis tanggal mesti ada karena bumi kita bulat sehingga perlu pembatas pergantian hari.

Garis tanggal syamsiah ditentukan berdasarkan kesepakatan internasional yang menjadikan garis bujur 0 derajat melalui Greenwich dan garis bujur 180 derajat melalui lautan Pasifik. Di sebelah timur garis tanggal internasional tanggalnya lebih muda daripada yang di sebelah baratnya. Contoh yang paling baik adalah catatan sejarah penyerahan Jepang kepada tentara sekutu. Kejadiannya sama, tetapi buku-buku sejarah di Amerika menyebutnya penyerahan itu terjadi pada tanggal 14 Agustus 1945. Sedangkan buku-buku di Asia, termasuk di Indonesia, menyebutkan tanggal 15 Agustus 1945.

Garis tanggal qamariyah pun sama sifatnya seperti garis tanggal internasional. Di sebelah timur garis tanggal qamariyah tanggalnya pun lebih muda dari pada di sebelah baratnya. Bedanya, garis tanggal qamariyah tidak tetap pada garis bujur tertentu. Posisinya selalu berubah setiap bulannya, tergantung posisi bulan dan matahari.

Ada dua definisi yang saat ini digunakan dalam pembuatan garis tanggal qamariyah. Pertama, berdasarkan visibilitas hilal seperti yang dilakukan oleh IICP (International Islamic Calendar Programme, berpusat di Malaysia). Dan yang kedua, berdasarkan syarat minimal bulan di horizon pada saat matahari terbenam. Cara yang ke dua yang biasanya digunakan di Indonesia. Cara ini pun yang paling sederhana, namun cukup baik untuk menjadi kriteria pertama mengkonfirmasikan rukyatul hilal.

Berdasarkan perhitungan cara yang ke dua, garis tanggal awal Dzulhijjah 1417/1997 melalui pantai barat Australia, pantai barat Sumatra, India, Kazakhstan, dan Rusia bagian barat. Dengan demikian garis tanggal ini memisahkan Arab Saudi dengan Indonesia.

Adanya garis tanggal yang memisahkan Arab Saudi dan Indonesia itulah yang menyebabkan Idul Adha di Arab Saudi lebih dahulu (menurut kalender syamsiah) daripada di Indonesia. Pada hari Kamis 17 April di bagian barat garis tanggal itu (misalnya Arab Saudi) sudah memasuki 10 Dzulhijjah (Idul Adha) sedangkan di sebelah timurnya masih tanggal 9 Dzulhijjah.

Ini analog dengan contoh penyerahan Jepang kepada tentara Sekutu tersebut di atas yang terjadi tanggal 15 Agustus 1945 menurut catatan di Asia, tetapi menurut catatan di Amerika. Hal ini terjadi karena adanya garis tanggal internasional yang memisahkannya.

Perhitungan astronomis yang lebih rinci bisa membuktikan keadaan itu. Ijtimak 1 Dzulhijjah 1417 terjadi pada 7 April 1997 pukul 11:04 UT atau pukul 14:04 waktu Arab Saudi, pukul 18:04 WIB. Dengan kata lain, di Arab Saudi ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub) sedangkan di sebagian besar Indonesia saat itu matahari sudah terbenam. Jadi berdasarkan saat ijtimak itu saja dapat difahami bahwa masuknya awal Dzulhijjah di Arab Saudi lebih dahulu daripada di Indonesia.

Bukti lain bisa ditunjukkan dengan menghitung saat matahari terbenam dan bulan terbenam. Hilal pada prinsipnya sudah wujud di ufuk barat bila saat bulan terbenam lebih lambat daripada saat matahari terbenam. Pada tanggal 7 April, di Mekkah matahari terbenam pukul 18:38 sedangkan bulan terbenam lebih lambat lagi, pukul 18:45. Sehingga 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 8 April dan Idul Adha jatuh pada 17 April 1997.

Di Indonesia pada tanggal 7 April itu bulan terbenam lebih dahulu daripada matahari. Di Jakarta bulan terbenam pukul 17:54 sedangkan matahari terbenam pukul 17:55. Dan di Bandung bulan terbenam pukul 17:51 sedangkan matahari terbenam pukul 17:52. Bulan sudah di bawah ufuk pada saat matahari terbenam. Dengan demikian 1 Dzulhijjah jatuh pada 9 April dan Idul Adha jatuh pada 18 April 1997.

Kapan Puasa Arafah?

Wukuf di Arafah dilaksanakan pada 9 Dzulhijjah. Bagi umat Islam yang tidak melaksanakan ibadah haji, pada hari Arafah itu disunahkan berpuasa. Menurut hadits Rasulullah SAW yang diceritakan Abu Qatadah r. a., puasa hari Arafah akan menghapuskan dosa selama dua tahun, tahun yang berlalu dan tahun mendatang. Oleh karenanya puasa hari Arafah ini tergolong puasa sunah yang muakad (utama) sehingga banyak orang yang melaksanakannya.

Mendengar pengumuman Arab Saudi bahwa wukuf di Arfah jatuh pada tanggal 16 April dan Idul Adha jatuh pada 17 April, mungkin banyak orang yang bimbang kapan mesti berpuasa hari Arafah.

Hari Arafah adalah 9 Dzulhijjah. Di Indonesia, 9 Dzulhijjah jatuh pada 17 April. Tetapi orang akan bimbang bila berpuasa pada 17 April karena hari itu di Arab Saudi sudah Idul Adha. Menurut Nabi SAW, berpuasa pada hari raya haram hukumnya. Kalau begitu, ada yang berpendapat berpuasalah pada tanggal 16 April karena hari Arafah hanya ada di Arab Saudi, maka mengaculah pada Arab Saudi.

Sepintas pendapat itu nampaknya benar. Kalau dikaji lebih lanjut sebenarnya pendapat itu keliru. Pola pikir seperti itu hanya terjadi bila kita merancukan sistem kalender syamsiah dengan sistem kalender qamariyah. Berpuasa hari Arafah di Indonesia pada tanggal 16 April berarti kita tunduk pada kesamaan tanggal syamsiah antara Arab Saudi dan Indonesia. Bukan pada ketentuan kalender qamariyah, 9 Dzulhijjah. Pada tanggal 16 April itu di Indonesia baru tanggal 8 Dzulhijjah.

Ada satu prinsip yang harus diingat dalam penentuan waktu ibadah: penentuan secara lokal. Wukuf di Arafah ditentukan berdasarkan penentuan awal Dzulhijjah di Arab Saudi. Awal Ramadan ditentukan berdasarkan rukyatul hilal di masing-masing wilayah. Waktu salat ditentukan berdasarkan posisi matahari di masing-masing tempat. Demikian pula waktu untuk melakukan puasa-puasa sunah, termasuk puasa hari Arafah, 9 Dzulhijjah. Tidak bisa diganti menjadi tanggal 8 Dzulhijjah hanya karena alasan perbedaan tanggal syamsiahnya.

Untuk menjawab masalah kapan mesti berpuasa, baiklah kita runtut perjalanan waktu berdasarkan peredaran bumi dengan berpegang pada keyakinan puasa Arafah tetap harus 9 Dzulhijjah. Bagi Muslim di Timur Tengah puasa Arafah mulai sejak fajar 16 April. Makin ke barat waktu fajar bergeser. Di Eropa Barat waktu fajar awal puasa kira-kira 3 jam sesudah di Arab Saudi, tetapi tetap tanggal 16 April. Makin ke barat lagi, di pantai barat Amerika Serikat waktu fajar awal puasa Arafah makin bergeser lagi, 11 jam setelah Arab Saudi. Saat itu orang di Arab Saudi sebentar lagi berbuka puasa. Tanggalnya tetap 16 April. Di Hawaii, puasa Arafah juga 16 April, tetapi fajar awal puasanya sekitar 13,5 jam setelah Arab Saudi.

Bila diteruskan ke barat, di tengah lautan Pasifik ada garis tanggal internasional. Mau tidak mau sebutan 16 April harus diganti menjadi 17 April walaupun hanya berbeda beberapa jam dengan Hawaii. Awal puasa Arafah di Indonesia pun yang dilakukan sekitar 6,5 jam setelah fajar di Hawaii, dilakukan dengan sebutan tanggal yang berbeda hanya gara-gara melewati garis tanggal internasional. Di Indonesia puasa Arafah harus dilakukan pada 17 April 1997. Itulah tetap tanggal 9 Dzulhijjah, sama dengan tanggal qamariyah di Arab Saudi.

Berdasarkan penalaran seperti itu pula, dalam konperensi kelender Islam internasional di Malaysia, ada salah satu panduan penting yang dirumuskan yang bisa menjadi pegangan bagi umat Islam dalam penentuan waktu ibadah. Panduan itu menyatakan bahwa dalam menentukan awal Ramadan atau awal bulan Islam lainnya, jangan mengacu pada wilayah yang di sebelah barat, tetapi mengacu pada wilayah di sebelah timur. Berdasarkan panduan itu, kita akan semakin yakin dan mempunyai alasan kuat untuk berpuasa Arafah pada 17 April, bukan mengikuti Arab Saudi yang berada di sebalah barat Indonesia yang berpuasa pada 16 April.

Gerhana Matahari Total Terakhir di Indonesia Sebelum 2016

T. Djamaluddin,  Peneliti  Matahari & Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika 23 Oktober 1995)

Gerhana Matahari maupun gerhana Bulan mempunyai makna tersendiri bagi kehidupan manusia. Orang dahulu menakutinya sehingga muncul berbagai tradisi atau kepercayaan. Ada masyarakat yang mempercayainya sebagai peristiwa bulan/matahari dimakan raksasa hingga orang harus memukul bunyi-bunyian untuk mengusirnya. Sebagian masyarakat juga mempercayai bahwa gerhana berpengaruh buruk hingga wanita hamil perlu bersembunyi. Dan masyarakat Arab dahulu percaya bahwa gerhana itu berkaitan dengan kematian seseorang.

Bagi ummat Islam, peristiwa gerhana dianggap sebagai tanda kekuasaan dan kebesaran Allah. Karenanya peristiwa gerhana mempunyai kekhususan bagi ummat Islam. Bila gerhana terjadi ummat Islam dianjurkan untuk melakukan salat gerhana, satu-satunya salat yang dianjurkan atas suatu kejadian alam. Selain itu, peristiwa gerhana merupakan cara mencocokkan perhitungan perhitungan waktu bagi para ahli hisab. Gerhana matahari sebenarnya merupakan ijtimak yang teramati (observable newmoon) yang amat penting dalam perhitungan kalender Islam. Dalam keadaan biasa ijtimak (segarisnya bulan dan matahari) tidak teramati. Satu-satunya tanda telah tejadi ijtimak adalah teramatinya hilal (bulan sabit pertama) pada saat maghrib. Itulah awal bulan dalam kalender Islam.

Pada 24 Oktober 1995 gerhana matahari total (GMT) kali ini sangat penting bagi Indonesia. Walaupun sangat singkat (hanya dua menit) dan hanya melintasi pulau kecil di ujung utara Indonesia, Pulau Sangihe di Sulawesi Utara. GMT 1995 ini merupakan GMT yang terakhir yang melintas Indonesia pada abad ke-20 ini. Tidak akan ada GMT yang melintas Indonesia sebelum 2016. GMT baru akan melintasi Indonesia lagi pada 9 Maret 2016 yang merupakan karunia terbesar. GMT 2016 akan melintasi sebagian besar Indonesia: Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Halmahera. Waktunya juga dua kali lebih lama daripada GMT 1995.

LAPAN yang sejak lama melakukan penelitian Matahari tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Dengan pengalaman pengamatan GMT 1983 di Cepu dan GMT 1988 di Pulau Bangka, LAPAN menyiapkan tim pengamat GMT 1995 ke Pulau Sangihe.

Di Bawah Bayangan Bulan

Daerah luas mulai dari Iran sampai Lautan Pasifik pada tanggal 24 Oktober akan berada di bawah bayangan bulan. Daerah yang terkena bayangan intinya (umbra) akan mengalami penggelapan sesaat dan akan menyaksikan GMT. Daerah yang terkena bayangan sekunder (penumbra) hanya akan menyaksikan gerhana sebagian.

Jalur yang mengalami GMT adalah Iran, Afganistan, Pakistan, India, Myanmar, Muangthai, Kamboja, Vietnam, Malaysia Timur (Kalimantan utara), dan Pulau Sangihe di Sulawesi Utara. Wilayah Indonesia lainnya hanya akan menyaksikan gerhana matahari sebagian.

Di kota Tahuna, ibu kota kepulauan Sangir Talaud itu, GMT hanya akan teramati kurang dari dua menit, sejak 13:13:23 WITA (pukul 13 lebih 13 menit 23 detik) sampai 13:15:15. Namun dengan kesempatan yang singkat itu, bila cuaca cerah, akan dapat diamati peristiwa langka: matahari yang gelap akan dikelilingi “mahkota” korona yang beraneka warna.

Daerah Sulawesi Utara dan Halmahera akan mengalami penggelapan (bagian matahari yang tergelapi) antara 90% – 100%. Wilayah lainnya akan mengalami penggelapan antara 50% – 90% pada sekitar tengah hari (lihat tabel).

———————————————————————————————–

Persentase

penggelapan

Wilayah
90 – 100

80 – 90

70 – 80

60 – 70

50 – 60

———————

Sulawesi Utara dan Halmahera

Kaltim, Sulteng, Maluku Selatan, Irja bagian utara

Kalbar, Kalteng, Kalsel, Sulsel, Sultra, Irja bagian Selatan

Sumatra bagian utara, NTT

Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, NTB

————————————————————————————————

Kota Gerhana maksimum
Medan

Palembang

Pontianak

Jakarta

Surabaya

Samarinda

Manado

Ujung Pandang

Mataram

Ambon

11.00 WIB

11.26 WIB

11.34 WIB

11.37 WIB

11.54 WIB

12.57 WITA

13:15 WITA

13:09 WITA

13.04 WITA

14:29 WIT

———————————————————————————————–

Penelitian GMT 1995

Pola korana Matahari yang teramati padpai minimum pada 1986 dan maksimum pada 1989. Berarti pada saat GMT 18 Maret 1988 aktivitas Matahari menjelang aktivitas maksimumnya. Hasil pengamatan GMT 1998 yang dilakukan tim LAPAN dari pantai Penyak Pulau Bangka memang menunjukkan pola korona hampir merata di sekeliling Matahari di samping tampaknya dua prominens. Prominens adalah lontaran materi panas dari permukaan matahari yang biasanya muncul pada saat Matahari aktif.

Saat ini aktivitas Matahari sedang minimum yang ditandai sedikitnya atau tidak adanya bintik Matahari atau aktivitas lainnya yang teramati. Maka diperkirakan bentuk korona yang akan teramati pada GMT 24 Oktober mendatang berpola ekuatorial yang menjulur pada arah ekuatornya. Pengamatan pola korona tersebut dan spektroskopi kromosfer Matahari diharapkan dapat dilakukan oleh tim LAPAN. Ini untuk mengembangkan pengetahuan tentang sifat dan perilaku Matahari.

Kadang orang bertanya tentang berbagai pengaruh GMT di Bumi. Tentu saja ada, terutama pada hal-hal yang peka terhadap perubahan cahaya Matahari. Waktu kegelapan sekitar dua menit pada GMT 1995 mungkin tidak akan tampak jelas pengaruhnya. Tetapi bila memperhitungkan pula pengurangan intensitas Matahari pada beberapa fase gerhana sebagian, pengaruh itu mungkin akan tampak. Salah satunya mungkin akan tampak pada perubahan parameter ionosfer yang berpengaruh pada komunikasi radio. Ini menarik untuk diteliti. Adanya stasiun pengamat ionosfer di Manado, Biak, Pontianak, Sumedang, dan Pameungpeuk akan memungkinkan LAPAN meneliti perubahan-perubahan di ionosfer dalam berbagai tingkat penggelapan gerhana sebagian. Gerhana Matahari total 1995, GMT terakhir di Indonesia sebelum 2016, amat berharga untuk diteliti.

Berbahayakah GMT?

GMT 1983 memberikan pelajaran bagi kita bahwa GMT tidak berbahaya. Masyarakat tidak perlu terlalu takut untuk mengamatinya bila tahu cara menikmatinya yang aman. Pada dasarnya radiasi cahaya Matahari pada saat GMT dan di luar GMT sama saja. Tidak ada radiasi berbahaya yang muncul pada saat GMT. Saat yang paling berbahaya hanyalah bila terlalu asik melihat GMT dan tanpa sadar matahari telah muncul, walau masih sedikit. Pupil mata yang membesar pada saat kegelapan GMT dan kuatnya intensitas Matahari bisa menyebabkan cahaya yang menembus mata terlalu berlebihan yang bisa menyebabkan kebutaan.

Berikut ini dua tip penting untuk menikmati GMT.

1.Sebelum fase total gunakan kaca mata GMT. Kaca mata GMT dibuat secara sederhana: biarkan film hitam putih (bukan film warna) tercahayai beberapa saat lalu di “cuci” (dikembangkan). Hasilnya yang seperti klise hitam pekat itu yang dijadikan sebagai “kaca” yang ditempel pada kertas berlubang yang cukup untuk dua mata kita. Emulsi perak pada film hitam putih (yang langka pada film warna) berfungsi untuk menyaring sinar infra merah dan sinar yang menyilaukan dari Matahari. Kerusakan mata terutama akibat kuatnya intensitas cahaya infra merah yang masuk ke mata. Maka film warna tidak aman untuk dibuat sebagai kaca mata GMT.

2. Pada fase total kaca mata GMT harus dilepas untuk menikmati keindahan korona Matahari yang beraneka warna. Tetapi ingat jangan terlalu asik. Ingatlah fase total hanya berlangsung kurang dari dua menit. Setelah satu menit menikmati keindahan korona bersiap lagi dengan kaca mata GMT untuk melindungi mata pada saat matahari mulai tersibak.

Hisab Astronomi: Awal Puasa mungkin 10 Januari 1997, Idul Fitri pasti 9 Februari

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika, 8 Januari 1997)

Dalam penentuan awal puasa dan hari raya, tampaknya Indonesia menganut dasar rukyatul hilal (hasil pengamatan bulan sabit pertama) dan hisab (perhitungan) hanya sebagai pembantu. Namun laporan rukyatul hilal yang bertentangan dengan hisab (bulan sudah di bawah ufuk menurut hisab astronomi) kini berani ditolak oleh Departemen Agama RI. Artinya, hisab bukan lagi sebagai pembantu, tetapi juga penentu. Bahkan hasil hisab yang menyatakan bulan sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian tertentu, tanpa laporan ru’yatul hilal, pernah dijadikan dasar pengambilan keputusan pada penentuan 1 Ramadan 1407/1987.

Problema perbedaan penentuan awal bulan dan idul fitri di Indonesia belum berakhir, sewaktu-waktu bisa terjadi. Akar masalahnya bukan pada akurasi rukyatul hilal yang diusulkan diselesaikan dengan teleskop rukyat, tetapi pada akurasi hisab lama yang masih digunakan beberapa kalangan. Diakui atau tidak, rukyatul hilal yang lebih awal sangat dipengaruhi oleh hasil hisab yang tidak akurat lagi yang bersumber dari metode hisab lama, bukan murni rukyatul hilal.

Departemen Agama RI kini berani menolak laporan rukyatul hilal bila menurut hisab astronomi pada saat itu bulan mestinya sudah terbenam. Ini berarti hisab astronomi telah dijadikan sebagai penentu. Kini yang urgen untuk diselesaikan para ahli hisab dan ahli fikih di Indonesia adalah ketegasan kriteria penentuan awal bulan qamariyah.

Ada dua jenis kriteria utama yang kini digunakan oleh para ahli hisab Indonesia. Pertama, kriteria ketinggian hilal yang memungkinkan hilal bisa dirukyat (diamati). Namun belum semua ahli hisab menggunakan kriteria visibilitas yang baku. Kedua, kriteria ijtimak (new moon, bulan baru astronomis) sebelum terbenam matahari (ijtima’ qablal ghurub). Kriteria ini paling mudah karena hanya membandingkan informasi waktu ijtimak dengan waktu ternbenam matahari. Kriteria ini sebenarnya kriteria khusus untuk daerah sekitar khatulistiwa dari kriteria umum bulan mesti di atas ufuk pada saat matahari terbenam.

Kriteria visibilitas yang baku yang ditetapkan oleh IICP (International Islamic Calendar Programme) belum memasyarakat di kalangan ahli hisab Indonesia. Kriteria visibilitas terbagi menjadi tiga, tergantung segi yang diperhitungkan.

1.Kriteria posisi bulan dan matahari: ketinggian minimal hilal dapat teramati adalah 4 derajat bila beda azimut bulan-matahari lebih dari 45 derajat, bila beda azimutnya 0 derajat perlu ketinggian minimal 10,5 derajat.

2.Kriteria beda waktu terbenam: hilal dapat teramati bila bulan terbenam minimal 40 menit lebih lambat daripada matahari dan memerlukan beda waktu lebih besar untuk daerah di lintang tinggi, terutama pada musim dingin.

3.Kriteria umur bulan (dihitung sejak ijtimak): hilal dapat diamati bila berumur lebih dari 16 jam bagi pengamat di daerah tropik dan berumur lebih dari 20 jam bagi pengamat di lintang tinggi.

Dengan membandingkan ketiga kriteria itu, yang terbaik adalah kriteria beda waktu terbenam. Faktor posisi bulan-matahari dan keadaan atmosfer sudah tercakup di dalamnya. Variasi musiman pada kriteria tersebut kecil untuk daerah tropik dan makin membesar sejalan dengan pertambahan lintang tempat.

Penentuan awal bulan

Rasulullah s. a. w. memberikan petunjuk sederhana penentuan awal puasa Ramadan dan Idul Fitri dengan memperhatikan hilal (bulan sabit pertama). Bila hilal terlihat di akhir Sya’ban, itulah pertanda masuknya bulan Ramadan. Bila hilal tampak di akhir Ramadan, itulah petunjuk datangnya Idul Fitri. Bagaimana bila cuaca buruk seperti akhir-akhir ini di Indonesia yang tidak memungkinkan pengamatan hilal?

Rasulullah s. a. w. berpesan agar melakukan “istikmal” (menggenapkan bulan yang berjalan menjadi 30 hari) bila langit  mendung. Cara ini adalah cara yang paling aman dan sederhana, karena tidak mungkin jumlah hari dalam satu bulan melebihi 30 hari. Tetapi dalam hadits sahih lainnya disebutkan pula untuk memperkirakan (“faqdurulahu“). Sebagian besar ulama menafsirkan makna “faqdurulahu” itu sebagai “istikmal”. Ini dapat dimengerti, mengingat cara “istikmal” merupakan cara yang selalu dipakai oleh Nabi, para sahabat, dan generasi awal ummat Islam dalam menyelesaikan masalah pengamatan hilal yang terhalang cuaca buruk.

Alternatif lain yang akurat dalam penentuan awal bulan qomariyah belum berkembang pada masa awal sejarah Islam. Hal ini beralasan. Ilmu hisab astronomi belum berkembang dikalangan ummat Islam waktu itu. Hal ini dikemukakan juga oleh Rasulullah s. a. w. dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari, “Sesungguhnya kami ini ummat yang ummi, yang tak pandai menulis dan menghisab. Bulan itu kadang‑kadang 29 hari, kadang‑kadang 30 hari.”  Pengetahuan empirik bahwa satu bulan itu hanya 29 atau 30 hari, tidak mungkin kurang atau lebih dari itu, memang sudah diketahui. Tetapi hisab yang cermat untuk menentukan posisi hilal belum diketahui. Karenanya, cara “istikmal” dengan menggenapkan bulan yang berjalan menjadi 30 hari adalah cara yang terbaik.

Setelah ilmu hisab astronomi berkembang di kalangan ummat Islam, mulailah alternatif lain penentuan awal bulan qomariyah diperdebatkan, khususnya bila pengamat hilal (ru’yatul hilal) tak mungkin dilakukan karena halangan cuaca buruk. Hadits sahih yang menyatakan “faqdurulahu” (maka perkirakanlah) memberikan isyarat adanya alternatif lain. Satu‑satunya alternatif selain cara “istikmal” adalah hisab astronomi yang teruji kecermatannya.

Adanya alternatif ini menunjukkan sisi lain kesederhanaan kalender hijriyah. Kalender hijriyah bisa ditentukan dengan cara observasi (ru’yat), dapat pula dengan cara hisab (perhitungan astronomi) yang cermat.  Perdebatan soal sahih tidaknya hisab dalam penentuan awal bulan qomariyah merupakan perdebatan lama, sejak awal perkembangan ilmu hisab sampai saat ini. Hal itu tak akan diulas dalam tulisan pendek ini. Cukuplah di sini saya kutip pendapat kompromis dari ulama besar dari kalangan madzhab Syafi’i, Abul Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij (wafat 306 H, sekitar 918 M) yang juga murid Imam Abu Dawud (penyusun kitab hadits “Sunan Abu Dawud”). Abul Abbas Ahmad berpendapat bahwa “istikmal” berlaku bagi orang awam, yang tak faham ilmu hisab, sedangkan perintah “faqdurulahu” berlaku bagi ahli hisab yang mampu memperkirakan hilal telah muncul atau belum.

Hisab Ramadan dan Syawal

Ijtimak awal Ramadan terjadi pada 9 Januari 1997 pukul 11:26 WIB dan ijtimak awal syawal terjadi 7 Februari pukul 22:08 WIB.  Di Indonesia itu berarti pada tanggal 9 Januari dan 8 Februari bulan masih berada di atas ufuk pada saat maghrib. Bagi pengikut hisab ijtima’ qablal ghurub, informasi itu cukup untuk menentukan bahwa awal puasa pada 10 Januari dan Idul Fitri 9 Februari 1997.

Secara global, kriteria ijtima’ qablal ghurub menghasilkan garis tanggal qamariyah (lihat gambar). Garis tanggal awal Ramadan 1417 melintasi Samudra India, laut Timor, Papua Nugini, Kepulauan Hawaii, dan Amerika Serikat. Sehingga berdasarkan garis tanggal tersebut Indonesia, Asia, Afrika, dan benua Ameria memulai puasa pada 10 Januari dan Australia pada 11 Januari.

Garis tanggal awal Syawal 1417 melintasi Amerika Selatan, Afrika Tengah, Timur Tengah, dan Rusia. Dengan demikian Indonesia, Asia, dan Australia beridul fitri pada tanggal 9 Februari. Eropa dan benua Amerika beridul fitri pada 8 Februari.

Garis tanggal awal Ramadan yang sisi baratnya dekat dengan Indonesia menunjukkan bahwa pada saat matahari terbenam bulan hanya sedikit di atas ufuk. Perhitungan posisi hilal menunjukkan bahwa pada saat matahari terbenam pada 9 Januari 1997 tinggi “hilal” kurang dari 4 derajat dan jaraknya sekitar 5 derajat di sebelah utara titik matahari terbenam. Di Aceh tingginya hanya 3,5 derajat, di Jakarta 2,1 derajat, dan di Manado 2 derajat. Umur hilal pun kurang dari 7 jam 15 menit. Itu sangat sulit dirukyat.

Bila mendasarkan murni pada rukyatul hilal, kemungkinan besar hilal baru dapat dirukyat pada tanggal 10 Januari dan awal Ramadan jatuh pada 11 Januari. Tetapi, berdasarkan pengalaman selama ini hilal setinggi 2 derajat pun ada yang melaporkan melihatnya. Maka mungkin juga di Indonesia awal Ramadan akan jatuh pada 10 Januari.

Idul fitri 1417 tampaknya tidak akan menghadapi masalah. Indonesia letaknya dekat dengan sisi timur garis tanggal awal Syawal. Ini berarti hilal cukup tinggi dan mudah dirukyat. Hilal pada saat matahari terbenam di Indonesia pada 8 Februari tingginya berkisar 8 – 11 derajat dan berada sekitar 5 – 8 derajat di sebelah utara titik terbenamnya matahari. Sehingga dapat dipastikan Idul Fitri akan jatuh pada 9 Februari 1997.

Mencari Bukti Awal Kehidupan: PESAWAT ANTARIKSA CASSINI-HUYGENS MENUJU LANGIT KETUJUH

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 26 Oktober 1997)

Orang-orang dahulu berfikir langit ada tujuh lapis dan yang terjauh, langit ketujuh, adalah lapisan yang ditempati planet Saturnus. Rabu, 15 Oktober 1997 lalu, NASA (lembaga antariksa AS), ESA (lembaga antariksa Eropa), dan ASI (lembaga antariksa Italia) mengirim missi antariksa ke Saturnus dan satelit terbesarnya, Titan.

Pesawat pengorbitnya diberi nama Cassini yang diambil dari nama astronom Italia abad ke-17, Jean Dominique Cassini, penemu empat satelit Saturnus dan celah pada cincin Saturnus. Sedangkan pesawat penjejak yang akan diterjunkan ke Titan diberi nama Huygens, dari nama fisikawan Belanda abad ke-17, Christian Huygens, yang pertama kali menemukan Titan pada 1655.

Cassini-Huygens akan menempuh perjalanan panjang menuju langit ketujuh itu. Jarak sejauh 9,5 SA (SA : satuan astronomi, jarak bumi-matahari, 150 juta km) akan ditempuh dalam waktu 6,7 tahun. Pemandu arahnya selama perjalanan itu adalah posisi bintang-bintang dan matahari yang dideteksi oleh sensor yang dihubungkan dengan komputer.

Tenaga listrik yang diperlukan selama penelitian di Saturnus akan diperoleh dari PLTN (pembangkit listrik tenaga nuklir) mini, suatu hal yang menimbulkan penentangan dari para pencinta laingkungan. PLTN itu, resminya bernama RTG (radioisotope thermoelectric generator), akan mengubah panas dari peluruhan radioaktif plutonium oksida menjadi energi listrik.

Missi Ilmiah

Secara garis besar missi yang diemban Cassini adalah meneliti lebih rinci planet Saturnus, cincinnya, satelit-satelitnya, dan lingkungan magnetiknya, serta menerjunkan Huygens ke Titan. Semua hasil penelitian itu akan dikirimkan ke bumi dengan gelombang radio.

Subsistem sains radio akan menelaah gelombang gravitasi di alam semesta, atmosfer dan cincin saturnus, serta medan gravitasi di sekitar Saturnus dan satelit-satelitnya dengan mengukur variasi gelombang radio yang dipancarkan oleh pesawat antariksa itu. Subsistem sains pencitraan akan mengambil citra saturnus, cincinnya, dan satelit-satelitnya dalam berbagai panjang gelombang mulai dari ultraviolet dekat, cahaya tampak, sampai inframerah dekat.

Radar Cassini akan memetakan permukaan Titan, menyibakkan halangan kabut tebal untuk mengukur ketinggian dan kedalaman pada permukaan Titan. Spektrometer massa netral dan ion akan meneliti partikel-partikel netral dan terionisasi di sekitar Saturnus, Titan, dan satelit-satelit lainnya untuk mempelajari atmosfer dan ionsofernya.

Spektrometer pemetaan inframerah dan visibel akan mengidentifikasikan komposisi kimiawi cincin Saturnus serta permukaan dan atmosfer Saturnus dan satelit-satelitnya dengan mengukur spektrum cahaya yang dipancarkannya. Penelitian komposisi ini juga didukung oleh perangkat spektrometer inframerah komposit yang mengukur energi inframerah yang dipancarkan untuk mempelajari suhunya dan komposisinya secara umum. Struktur, kimia, dan komposisi atmosfer dan cincin Saturnus juga ditelaah dengan mengukur energi ultravioletnya dengan spektrograf pencitra ultraviolet.

Kandungan debu dan butiran es di sekitar Saturnus akan ditelaah dengan perangkat penganalisis debu kosmik. Ini didukung pula dengan spektrometer gelombang plasma dan radio yang meneliti kandungan debu, gelombang plasma, dan pancaran gelombang radio alami. Medan magnet di sekitar Saturnus dan interaksinya dengan angin matahari diteliti dengan spektrometer plasma, perangkat pencitra magnetosfer, dan magnetometer.

Huygens yang diterjunkan ke Titan juga dilengkapi dengan beberapa perangkat penelitian. Spektrometer massa dan kromatograf gas akan mengidentifikasi dan mengukur kandungan gas-gas di atmosfer Titan. Sedangkan aerosolnya (seperti debu dan partikel lainnya) akan diambil sampelnya dengan pengumpul aerosol dalam perjalanan pendaratannya untuk kemudian dianalisis komposisi kimiawinya dengan spektrometer massa. Selain itu, perangkat penelitian atmosfernya akan mempelajari sifat fisis dan kelistrikan di atmosfer Titan.

Permukaan Titan akan dipotret dan diambil spektrumnya untuk mengetahui kondisi permukaannya dan komposisi kimiawinya. Paket sains permukaan kemudian akan meneliti pelambatan saat tumbukan (dengan akselerometer) dan sifat fisis lainnya seperti indeks bias permukaan, suhu, konduktivitas termal, kapasitas panas, dan kecepatan suara.

Saturnus

Sebelum Cassini, Voyager 1 dan 2 pernah mempelajari saturnus lebih detil dari sebelumnya. Banyak informasi baru yang dihasilkan missi itu, terutama tentang sistem cuaca dan cincin Saturnus serta satelit-satelitnya yang belum banyak diketahui dari pengamatan di bumi. Tetapi, dalam perjumpaan Voyager 1 dan 2 dengan planet itu yang boleh dikatakan sekedar melintas sambil memotret, masing-masing pada November 1980 dan Agustus 1981, informasi yang dikirimkan belum cukup rinci.

Pengamatan Voyager dari jarak relatif dekat menghasilkan gambaran baru tentang atmosfer saturnus yang tampak mirip dengan Jupiter yang mempunyai pita-pita horizontal. Tetapi kabut tebal menyelimuti atmosfer atas Saturnus sehingga sistem awan yang tersusun dari partikel amonia sulit diketahui dengan jelas. Dengan teknik analisis citra, diketahui Saturnus juga mempunyai bintik merah, seperti Jupiter, berukuran 10.000-12.000 km. Di daerah ekuatornya awan bergerak sangat cepat, lebih dari 1,5 juta km/jam. Ini merupakan sistem awan yang tercepat gerakannya di tata surya ini. Berbeda dengan di bumi, gerakan atmosfer saturnus lebih banyak disebabkan oleh energi dari bagian dalam planet daripada energi matahari.

Dari jarak sekitar 10 juta km, Voyager berhasil mendapatkan gambaran tentang cincin Saturnus yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan mempelajari variasi kecerlangan bintang delta Scorpii di balik cincin Saturnus, Voyager berhasil mengungkapkan struktur cincin itu. Strukurnya mirip jalur-jalur benang yang tersusun tidak rata.

Cincin itu sebenarnya tersusun dari partikel-partikel es yang mengitari Saturnus dengan kecepatan sangat tinggi, 10.800 km/jam. Jumlahnya yang sangat banyak dan tumbukannya yang halus menyebabkan struktur cincin itu bersifat seperti fluida dengan sifat viskositasnya. Sifat viskositas (kekentalan) cenderung menyebabkan partikel-partikel di cincin itu bergerak bersama-sama.

Dari pengamatan Voyager itu pula diketahui keadaan satelit-satelit Saturnus yang mempunyai sifat yang berbeda-beda. Ada yang dipenuhi oleh kawah-kawah tumbukan, seperti di Mimas, Dione, dan Rhea. Ada juga yang permukaannya relatif muda akibat penimbunan aliran es, tetapi sumber panas penyebab es meleleh itu belum diketahui. Ada yang mempunyai atmosfer, yaitu Titan, satelit terbesar Saturnus.

Hyperion, satelit Saturnus kecil berdiameter hanya 270 km, mempunyai gerakan rotasi yang aneh, dengan periode rotasi yang berubah-ubah. Mestinya, satelit yang jaraknya cukup dekat dengan planet induknya periode rotasinya akan sama dengan periode orbitnya sehingga akan selalu menampakkan sisi yang sama ke arah planet induknya seperti yang terjadi pada bulannya bumi. Rotasi yang aneh pada Hyperion kini telah diketahui penyebabnya, yang dikenal sebagai rotasi kacau (chaotic rotation) akibat gangguan gravitasi Titan.

Titan

Titan adalah satu-satunya satelit yang diketahui mempunyai atmosfer. Komposisi atmosfernya sebagian besar terdiri dari nitrogen seperti halnya di bumi, tetapi tekanan udara di permukaannya 1,6 kali tekanan di bumi. Gas lainnya adalah metan dan argon. Komposisi yang lebih rinci diharapkan diperoleh dari missi Huygens.

Hasil penting dari pengukuran spektrometer inframerah Voyager 1 yang menjadi daya tarik missi penerjunan Huygens ke Titan adalah ditemukannya adanya banyak molekul organik yang bergabung dengan aerosol. Gabungan molekul organik dengan aerosol itu membentuk lapisan kabut dan awan organik. Awan tebal itulah yang menyebabkan permukaan Titan sama sekali belum diketahui. Huygens yang akan diterjunkan menembus awan tebal dan mendarat dipermukaannya diharapkan bisa menguak tabir rahasia dibalik awan tebal itu.

Hal yang paling menarik dari missi Voyager 1 itu adalah ditemukannya molekul hidrogen sianida (HCN) yang merupakan komponen penting pembentuk DNA. Ini menimbulkan harapan diperolehnya tanda-tanda awal kehidupan di sana, sebab DNA merupakan molekul genetik fundamental yang merupakan unsur sangat penting dalam kehidupan yang dikenal di bumi.

Suhu permukaan Titan sekitar -180o C, sangat dingin sehingga lautan yang ada diperkirakan diisi oleh cairan metan atau etana yang dibumi selalu berbentuk gas. Keadaan seperti ini dengan senyawa organiknya yang stabil mungkin bisa menggambarkan keadaan bumi beberapa milyar tahun yang lalu, pada awal munculnya kehidupan di bumi.

Analisis Hisab Astronomi: Ramadan dan Hari Raya di Berbagai Negeri

T. Djamaluddin, Peneliti  Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 31 Desember 1997)

Kini orang sering menyebut tentang globalisasi. Dengan globalisasi, batasan negara semakin memudar dalam konteks aktivitas manusia dalam berbagai bidang. Penentuan waktu ibadah yang hakikatnya bersifat lokal, kini pun dituntut mengikuti globalisasi, dengan muatan yang berat, “unifikasi” (penyatuan, penyeragaman). Tentang kendala dan saran solusi bagi “unifikasi” penentuan awal Ramadan dan hari raya sudah sering saya bahas (antara lain “PR” 19 Januari 1995, Republika 23 Desember 1997).

Dalam tulisan ini akan ditekankan pada tinjauan global kemungkinan awal Ramadan dan idul fitri di berbagai negeri dengan melihat peta garis tanggal qamariyah 1418. Hal ini penting diketahui agar kita tidak terkejut menghadapi globalisasi informasi melalui media massa dan internet tentang adanya perbedaan penentuannya di berbagai negeri.

Hal lain yang menarik adalah melihat bagaimana puasa di daerah-daerah ekstrim, di lintang tinggi. Tinjauan astronomis akan membantu mencarikan solusi dalam menarik qiyas (analogi) hukumnya. Perihal ijtihad cara puasa di daerah ekstrim sering diulas oleh ahli fikih. Tetapi dengan kemudahan perhitungan astronomi penentuan waktu, hal yang semula abstrak dan dikira-kira bisa menjadi contoh nyata untuk dicarikan solisinya. Ilmu astronomi mestinya tidak hanya membantu menentukan waktu ibadah, tetapi juga mencarikan solusi hukum yang terbaik dalam kasus yang belum terjadi pada zaman Nabi.

Hisab Global

Globalisasi informasi bisa berdampak negatif dalam konteks ukhuwah Islamiyah. Informasi tentang penentuan awal puasa di berbagai negeri, yang mungkin berbeda-beda, dengan cepat menyebar ke seluruh dunia. Masyarakat kadang-kadang menjadi bingung bila menyerap semua informasi itu. Perlu adanya penjelasan yang menjernihkan masalah perbedaan itu. Memang, ada penyebab perbedaan yang sulit dijelaskan. Tetapi, tinjauan astronomis tentang penentuan awal Ramadan dan hari raya bisa membantu juga menjelaskan terjadinya perbedaan itu.

Penampakan hilal, yang menjadi dasar penentuan awal Ramadan dan hari raya, memang tidak seragam di seluruh dunia. Bulan memang satu, tetapi kombinasi posisi bulan, bumi, dan matahari menyebabkan penampakannya tidak mungkin seragam. Dengan hisab global dapat dilihat wilayah mana saja yang kemungkinan akan lebih awal melihat hilal. Ini berarti wilayah itu pula yang akan lebih awal berpuasa dan berhari raya.

Hisab global melahirkan konsep garis tanggal qamariyah (berdasarkan posisi bulan). Dengan garis tanggal itu akan terlihat bahwa daerah di sebelah barat garis itu akan lebih awal melihat hilal daripada yang di sebelah timurnya. Karenanya, seperti juga diserukan dalam Resolusi Penang tentang kalender Islam internasional 1988, secara umum suatu negara tidak boleh mengacu hasil pengamatan hilal pada negara-negara di sebelah baratnya. Misalnya, Indonesia tidak boleh mengacu kepada Arab Saudi.

Garis tanggal qamariyah sifatnya tidak tetap seperti garis tanggal internasional (pada bujur 180o), tetapi berubah sesuai dengan perubahan posisi bulan dan matahari. Garis tanggal yang sederhana dibuat dengan menghitung pada daerah mana saja matahari dan bulan terbenam bersamaan. Ini merupakan syarat minimal ru’yatul hilal, yaitu bulan sudah wujud di ufuk barat. Di sebelah timur garis itu hilal tidak mungkin teramati karena telah berada di bawah ufuk ketika matahari terbenam. Makin ke arah barat kemungkinan ru’yatul hilal semakin besar.

Hasil hisab global  menunjukkan bahwa garis tanggal awal Ramadan 1418 melintasi Amerika Selatan, Afrika Tengah, Jazirah Arab, Asia Tengah, dan Jepang. Itu berarti Eropa dan Amerika Utara kemungkinan akan mengawali Ramadan pada 30 Desember 1997. Sedangkan Australia, Indonesia, Asia Tenggara, dan negara-negara Arab akan mengawali Ramadan pada 31 Desember 1997.

Garis tanggal awal Syawal 1418 melintasi Lautan Hindia, Irian, dan lautan pasifik. Berdasarkan kriteria bulan di atas ufuk, sebenarnya hampir seluruh dunia akan beridul fitri pada 29 Januari 1998. Hanya Australia yang beridul fitri 30 Januari. Tetapi bila menggunakan kriteria rukyat, Indonesia yang terletak dekat sisi barat garis tanggal kemungkinan besar akan beridul fitri 30 Januari 1998. Hal ini karena hilal masih sulit teramati pada 28 Januari, walaupun bulan telah wujud di atas ufuk.

Garis tanggal qamariyah pada hisab global bisa menjelaskan mengapa terjadi perbedaan awal Ramadan dan hari raya di seluruh dunia. Perbedaan itu sebenarnya semu. Karena yang kita sebut “berbeda” sebenarnya hanyalah tanggal dan hari syamsiahnya. Sedangkan tanggal qamariyahnya tetap sama, yaitu 1 Ramadan untuk awal puasa dan 1 Syawal untuk idul fitri. Dengan kata lain, kita hidup dengan dua garis tanggal. Definisi hari berdasarkan garis tanggal internasional yang disepakati melintasi garis bujur 180o di samudra Pasifik. Sedangkan definisi awal Ramadan dan hari raya berdasarkan garis tanggal qamariyah yang tidak tetap posisinya, tergantung posisi bulan dan matahari.

Negeri dekat kutub

Indonesia terletak di daerah khatulistiwa sehingga panjang hari tidak terlalu bervariasi sepanjang tahun. Lamanya berpuasa hanya bervariasi antara 13 – 14 jam. Di Bandung, yang termasuk bagian selatan daerah tropik, perbedaan panjang hari puasa antara bulan Juni dan Desember hanya sekitar 50 menit. Pada bulan Juni, lamanya waktu puasa di Bandung sekitar 13 jam. Sedangkan bila berpuasa pada bulan Desember lamanya puasa sekitar 13 jam 51 menit.

Untuk wilayah di lintang tinggi (dekat daerah kutub), variasi panjang hari akan sangat mencolok. Musim panas merupakan saat siang hari paling panjang dan malam paling pendek. Sebaliknya terjadi pada musim dingin. Panjang hari ini berpengaruh pada lamanya berpuasa.

Puasa pada bulan Juni, seperti pada tahun 1983, merupakan puasa terpanjang bagi wilayah di belahan bumi utara, tetapi terpendek bagi wilayah di belahan bumi selatan. Sedangkan puasa pada bulan Desember – Januari, seperti terjadi tahun ini sampai 2001, merupakan puasa terpendek bagi wilayah di belahan bumi utara, tetapi terpanjang bagi wilayah di belahan bumi selatan.

Puasa pada bulan Juni atau Desember merupakan saat ekstrim yang perlu dibahas. Selain karena lamanya puasa menjadi sangat panjang atau sangat pendek, bisa terjadi pula tidak adanya tanda awal fajar atau tidak adanya tanda maghrib. Sedangkan batasan waktu puasa menurut Q. S. 2:187 dimulai pada awal fajar dan diakhiri pada (awal) malam (atau maghrib).

Pada keadaan ekstrim seperti itu, di daerah lintang tinggi bisa terjadi continous twilight, yaitu bersambungnya cahaya senja dan cahaya fajar. Akibatnya awal fajar tidak bisa ditentukan dan ini berarti sulit memastikan kapan mesti memulai puasanya. Bisa juga terjadi malam terus sehingga awal fajar dan maghrib untuk memulai dan berbuka puasa tidak bisa ditentukan.

Karena saat ini ummat Islam sudah tersebar ke seluruh dunia, maka para ulama pun telah memikirkan bagaimana cara puasa di daerah dengan waktu ekstrim seperti itu. Namun, belum ada satu kesepakatan. Ada yang berpendapat, pada saat ekstrim seperti itu pelaksanaan puasa diqadla (diganti) pada bulan lainnya seperti diusulkan oleh Saadoeddin Djambek dalam buku “Salat dan Puasa di Daerah Kutub”. Tetapi pendapat seperti ini mempunyai kelemahan. Dengan mengqadla puasa, maka keutuhan ibadah Ramadan (a.l. puasa, salat malam, tadarus, dan i’tikaf) tidak sempurna lagi.

Ada juga yang berpendapat bahwa pada keadaan ektrim seperti itu gunakan perhitungan waktu mengikuti daerah normal di sekitarnya (Hasbi Ash-Shiddieqy dalam “Pedoman Puasa”). Pendapat untuk melakukan perkiraan waktu atau hisab ini dilandaskan pada qiyas (analogi) dengan hadits tentang Dajal yang diriwayatkan Muslim dari Yunus ibn Syam’an. Dalam hadits itu disebutkan bahwa pada saat itu satu hari sama dengan setahun. Kemudian ada sahabat yang bertanya,”Cukupkah bagi kami salat sehari?” Nabi menjawab,”Tidak, perkirakan waktu-waktu itu”.

Bila menggunakan qiyas itu, masalahnya adalah apakah tepat mendasarkan perkiraan waktunya pada daerah normal di sekitarnya. Saya berpendapat lebih baik dan lebih pasti menggunakan waktu normal setempat, sebelum dan sesudah waktu ekstrim itu. Dengan perhitungan astronomi hal itu mudah dilakukan.

Dalam program jadwal salat yang saya buat, yang bisa digunakan juga untuk penentuan jadwal puasa di berbagai negeri, dalam keadaan ekstrim seperti itu waktu-waktu salat dan puasa diqiyaskan dengan waktu normal sebelumnya. Bila saat magribnya dapat ditentukan, bisa juga awal fajar dihitung berdasarkan lamanya berpuasa pada saat normal. Berdasarkan perhitungan astronomis, panjang puasa pada saat normal di seluruh dunia tidak lebih dari 20 jam. Jadi, dengan adanya waktu minimal 4 jam untuk berbuka dan bersahur, hal itu masih dalam batas kekuatan manusai.

Tahun ini, puasa Ramadan jatuh pada akhir Desember sampai Januari. Di wilayah lintang tinggi di selatan, seperti bagian Selatan Chile dan Argentina, saat ini sampai tahun 2001 merupakan saat berpuasa paling panjang. Tetapi di wilayah lintang tinggi di utara, seperti di negara-negara Skandianvia, merupakan saat berpuasa paling pendek.

Sebagai contoh, akan ditinjau lama berpuasa di kota Ushuaia (Argentina) dan Tromso (Norwegia). Ushuaia terletak di ujung Selatan Argentina pada posisi sekitar 55 derajat lintang selatan. Sedangkan Tromso adalah kota di bagian utara Norwegia pada lintang utara 69 derajat.

Di kota Ushuaia mulai 10 November sampai 1 Februari merupakan masa tanpa gelap malam. Waktu senja bersambung dengan fajar (continous twilight). Jadi, tidak ada awal fajar yang menjadi batasan awal waktu berpuasa. Waktu normal sebelumnya, 9 November, awal fajar (shubuh) pukul 01:39 dan magrib pukul 21:08. Dan waktu normal sesudahnya, 2 Februari, shubuh pukul 02:08 dan maghrib pukul 21:36. Jadi, lamanya puasa maksimum sekitar 19,5 jam. Masih ada waktu 4,5 jam untuk berbuka dan bersahur.

Maghrib pada awal Ramadan di Ushuaia pada pukul 22:14 dan pada akhir Ramadan pada pukul 21:45. Jadi, awal fajar untuk memulai puasa bisa ditentukan dengan mengurangkan 19,5 jam dari waktu maghrib. Pada awal Ramadan puasa dimulai pukul 02:44 dan pada akhir Ramadan pukul 02:15.

Kasus berbeda terjadi di Tromso. Sejak 2 Desember sampai 11 Januari di sana selamanya malam. Jadi, selama setengah bulan Ramadan ini waktu berpuasa di sana tidak normal. Waktu normal sebelumnya, 1 Desember, shubuh pukul 05:54 dan maghrib pukul 11:37 (lamanya berpuasa 5 jam 43 menit). Dan waktu normal sesudahnya, 12 Januari, shubuh pukul 06:13 dan maghrib pukul 12:24 (lamanya berpuasa 6 jam 11 menit). Sedangkan pada akhir Ramadan, 28 Januari, shubuh pukul 5:42 dan maghrib pukul 14:18.

Dalam kasus malam panjang ini, cara yang terbaik dalam menjabarkan jawaban Nabi (sebagai qiyas) untuk memperkirakan waktunya adalah dengan interpolasi (teknik matematika untuk mengisi data kosong antara dua data yang diketahui). Dengan interpolasi, awal puasa antara pukul 05:54 dan 06:13, tergantung tanggalnya. Demikian juga untuk maghrib antara pukul 11:37 dan 12:24, tergantung tanggalnya.

Kasus ekstrim seperti itu untungnya tidak terjadi selamanya. Adanya perbedaan panjang tahun qamariyah (kalender bulan) dan tahun syamsiah (kalender matahari) menyebabkan awal Ramadan dam hari raya selalau bergeser sekitar 11 hari lebih awal. Sehingga bila Ramadan jatuh pada sekitar bulan Maret dan September, semuanya berjalan normal lagi, seperti halnya puasa di daerah ekuator. Pada sekitar bulan Maret dan September, panjang siang dan malam hampir sama di seluruh dunia.