Arah Kiblat Tidak Berubah

T. Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN, Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI

Arah kiblat tidak berubah. Anggapan bahwa arah kiblat yang seolah bergeser akibat gempa perlu segera diluruskan. Karena hal itu tidak berdasar logika ilmiah dan berpotensi meresahkan masyarakat. Pergeseran lempeng bumi hanya berpengaruh pada perubahan peta bumi dalam rentang waktu puluhan atau ratusan juta tahun, karenanya tidak akan berdampak signifikan pada perubahan arah kiblat di luar Mekkah dalam rentang peradaban manusia saat ini. Jadi, saat ini tidak ada pergeseran arah kiblat akibat pergeseran lempeng bumi atau gempa. Semua pihak (terutama Kementerian Agama dan MUI) jangan terbawa pada opini yang didasari pada informasi yang keliru.

Masalah ketidakakuratan arah kiblat yang terjadi pada banyak masjid, bukanlah masalah pergeseran arah kiblat, tetapi karena ketidakakuratan pengukuran pada awal pembangunannya. Itu bukan masalah serius dan mudah dikoreksi. Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama dan BHR Daerah serta kelompok-kelompok peminat hisab rukyat bisa memberikan bantuan penyempurnaan arah kiblat tersebut. Bisa juga dilakukan koreksi massal dengan panduan bayangan matahari pada saat matahari berada di atas Mekkah atau dengan panduan arah kiblat berbasis internet Google Earth/Qiblalocator. Setelah arah kiblat diketahui, tidak harus bangunannya yang diubah, cukup arah shafnya. Kementerian Agama bersama MUI, BHR, BHRD, dan kelompok-kelompok peminat hisab rukyat bisa melakukan sosialisasi penyempurnaan arah kiblat tersebut.

Fatwa MUI No 3/2010 nomor 3 bahwa “Letak geografis Indonesia yang berada di bagian timur Ka’bah/Mekkah maka kiblat umat Islam Indonesia  adalah menghadap ke arah barat” perlu dipertimbangkan lagi karena menghadap arah kiblat yang benar bukan hal sulit dan penyempurnaan arah kiblat di banyak masjid juga tidak harus mengubah bangunannya.

Panduan langsung arah kiblat berbasis Google Earth dapat dilihat di http://www.qiblalocator.com/

Info saat posisi matahari berada di atas Mekkah dapat dilihat di blog saya: https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/15/menyempurnakan-arah-kiblat-dari-bayangan-matahari/

Namun mungkin masih ada yang bertanya, bukankah gempa juga mengubah rotasi bumi sehingga mungkin berpengaruh pada perhitungan posisi matahari saat berada di Mekkah? Pergeseran lempeng yang sebenarnya menyebabkan perubahan rotasi bumi itu, bukan gempanya. Gempa sekadar indikator pelepasan energi akibat pergeseran lempeng bumi. Karena ada pergeseran lempeng bumi, maka kesetimbangan “bola” bumi berubah. Tetapi efeknya sangat-sangat-sangat kecil, tidak terasa oleh manusia.

Akibat pergeseran lempeng kesetimbangan “gambar bumi” sedikit berubah karena titik massa kulit bumi bergesar. Akibatnya, poros “gambar bumi” bergeser. Untuk kasus gempa Chile 2010 pergeserannya sekitar 8 cm (sudutnya bergeser 2,7 mili detik busur =0,00000075 derajat). Dan untuk gempa Aceh 2004 pergeserannya 7 cm (sudutnya bergeser 2,32 mili detik busur = 0,00000064 derajat). Pergeseran itu terlalu kecil untuk dilihat. Akibat pergesaran kesetimbangan massa bumi, rotasi bumi dipercepat 1,26 mikro detik = 0,000000126 detik, juga manusia tidak mungkin merasakannya. Sebenarnya soal percepatan-perlambatan rotasi bumi, bukan hanya disebabkan oleh pergeseran lempeng. Efek pasang surut bulan juga menyebabkan rotasi bumi diperlambat 0,00002 detik per tahun, jauh lebih kuat efeknya daripada gempa (lihat blog saya ”Sinkronisasi Bumi-Bulan” di https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/28/sinkronisasi-bumi-bulan/ )

Kembali ke masalah penentuan arah kiblat. Apakah harus demikian akuratnya penentuan arah kiblat, sampai ketelitian menit busur? Saya kira perbedaan kurang dari 2 derajat masih dianggap tidak terlalu signifikan. Ibaratnya dua masjid berdampingan yang panjangnya 10 meter, perbedaan di ujungnya sekitar 35 cm. Jamaah di kedua masjid akan tampak tidak berbeda arahnya. Untuk jarak Indonesia-Mekkah, perbedaan 2 derajat di Mekkahnya hanya berbeda kurang dari 300 km, yang bila dilihat pada globe besar jaraik itu tidak terlalu signifikan.

Dalam penentuan arah kiblat kesalahan sampai 2 derajat masih bisa ditolerir mengingat kita sendiri tidak mungkin menjaga sikap tubuh kita benar-benar selalu tepat lurus ke arah kiblat. Arah jamaah shalat tidak akan terlihat berbeda, bila perbedaan antarjamaah hanya beberapa derajat. Sangat mungkin, dalam kondisi shaf yang sangat rapat (seperti sering terjadi di beberapa masjid), posisi bahu kadang agak miring, bahu kanan di depan jamaah sebelah kanan, bahu kiri di belakang jamaah sebelah kiri. Mungkin ada yang berpendapat, yang terpenting arah pandangan mata. Apakah  kita bisa betul-betul menempatkan arah pandangan mata dalam rentang plus minus kurang dari 2 derajat? Peralihan pandangan mata dari satu sudut sajadah ke sudut lainnya, kalau kita mau hitung secara cermat, sudah berarti pergeseran yang sangat besar, sekitar 20 derajat. Islam tidak menyulitkan seperti itu.

”dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui”. QS 2:115

Iklan

Sifat Ijtihadiyah Penentuan Awal Ramadan dan Hari Raya

T. Djamaluddin,  Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika, 23 Desember 1997)

Islam mengakui bahwa baik matahari maupun bulan bisa dijadikan alat penentu waktu (Q. S. 6:96). Tetapi, dalam praktek ibadah, Islam menggunakan kalender bulan (qamariyah) yang ditentukan berdasarkan penampakan hilal (bulan sabit pertama) sesaat sesudah matahari terbenam. Alasan utama dipilihnya kalender qamariyah — walau tidak dijelaskan secara eksplisit di dalam Hadits maupun Alquran — nampaknya karena alasan kemudahan dalam penentuan awal bulan dan kemudahan dalam mengenali tanggal dari perubahan bentuk (fase) bulan. Ini berbeda dari kalender syamsiah (kalender matahari) yang menekankan pada keajegan (konsistensi) terhadap perubahan musim, tanpa memperhatikan tanda perubahan hariannya.

Dalam perkembangannya saat ini, ternyata penentuan awal Ramadan dan hari raya tidak lagi dapat dikatakan mudah. Dari segi teknis ilmiah, sebenarnya penentuannya memang mudah karena merupakan bagian ilmu eksakta. Tetapi dalam penerapannya di masyarakat susah, karena menyangkut faktor non-eksakta, seperti perbedaan madzhab hukum (a.l. ada yang menganggap tidak sah cara hisab), perbedaan mathla’ (daerah berlakunya suatu kesaksian hilal), dan kepercayaan kepada pemimpin ummat yang tidak tunggal.

Dalam tulisan ini, akan diulas di mana sebenarnya pokok masalah perbedaan yang selama ini terjadi. Pertama, akan dibahas sifat ijtihadiyah dalam penentuan awal Ramadan dan hari raya. Ini penting difahami untuk bisa menerima fakta adanya perbedaan. Kedua, cara penentuan awal Ramadan dan hari raya secara ilmu hisab dan rukyat serta alasan ilmiah terjadinya perbedaan. Perbedaan pasti ada, walaupun kadang-kadang perbedaan itu sebenarnya semu belaka. Ketiga, upaya yang mesti dilakukan menuju penyatuan kalender Islam sedunia yang dari segi teknis ilmiah mudah dilakukan.

Sifat Ijtihadiyah

Dalam terminologi hukum Islam, ijtihad adalah usaha sungguh-sungguh para ulama dengan mengunakan akalnya untuk menetapkan hukum sesuatu yang belum ditetapkan secara qath’i (pasti) dalam Alquran dan Assunnah. Ijtihad menjadi sumber hukum ketiga sesudah Alquran dan Assunnah.

Kesaksian melihat hilal (ru’yatul hilal), keputusan hisab, dan akhirnya keputusan penetapan awal Ramadan dan hari raya oleh pemimpin ummat semuanya adalah hasil ijtihad. Kebenaran hasil ijtihad relatif. Kebenaran mutlak hanya Allah yang tahu. Tetapi orang yang berijtihad dan orang-orang yang mengikutinya meyakini kebenaran suatu keputusan ijtihad itu berdasarkan dalil-dalil syariah dan bukti empirik yang diperoleh.

Kesaksian rukyat tidak mutlak kebenarannya. Mata manusia bisa salah lihat. Mungkin yang dikira hilal sebenarnya objek lain. Keyakinan bahwa yang dilihatnya benar-benar hilal harus didukung pengetahuan dan pengalaman tentang pengamatan hilal. Hilal itu sangat redup dan sulit mengidentifikasikannya, karena mungkin hanya tampak seperti garis tipis. Saat ini satu-satunya cara untuk meyakinkan orang lain tentang kesaksian itu adalah sumpah yang dipertanggungjawabkan kepada Allah. Jaminan kebenaran rukyatul hilal hanya kepercayaan pada pengamat yang kadang-kadang tidak bisa diulangi oleh orang lain.

Hisab pun hasil ijtihad yang didukung bukti-bukti pengamatan yang sangat banyak. Rumus-rumus astronomi untuk keperluan hisab dibuat berdasarkan pengetahuan selama ratusan tahun tentang keteraturan peredaran bulan dan matahari (tepatnya, peredaran bumi mengelilingi matahari) (Q. S. 6:96). Makin lama, hasil perhitungannya makin akurat dengan memasukkan makin banyak faktor. Orang mempercayai hasil hisab karena didukung bukti-bukti kuat tentang ketepatannya, seperti hisab gerhana matahari yang demikian teliti sampai orde detik. Gerhana matahari pada hakikatnya adalah ijtimak (bulan baru) yang teramati. Maka jaminan kebenarannya lebih kuat dari pada rukyat, karena orang lain bisa mengujinya dan pengamatan posisi bulan bisa membuktikannya.

Keputusan penetapan awal Ramadan dan hari raya itu pun hasil ijtihad. Berdasarkan kesaksian ru’yatul hilal atau hisab yang dianggap sah, pemimpin ummat (pemerintah, ketua organisasi Islam, atau imam masjid) kemudian menetapkannya. Karena pemimpin ummat di dunia ini tidak tunggal, keputusannya pun bisa beragam, hal yang wajar dalam proses ijtihad.

Hisab 1418

Di Indonesia, hisab digunakan sebagai alat bantu rukyat dan kadang-kadang digunakan juga sebagai penentu keputusan. Secara garis besar metode hisab bisa dibagi dua jenis: hisab lokal dan hisab global. Hisab lokal berarti menghitung posisi bulan (dinyatakan dalam satuan derejat) sesudah maghrib pada suatu daerah pengamatan. Hisab global menghitung posisi hilal di seluruh dunia. Hasil perhitungan hisab lokal minimal berupa beda azimut (sepanjang horizon) posisi bulan (hilal) dari titik terbenam matahari dan ketinggian bulan. Hisab global menghasilkan peta garis tanggal qamariyah yang analog dengan garis tanggal internasional.

Sebagai contoh, di sini diberikan hasil hisab lokal untuk daerah Jakarta. Hasil hisab awal Ramadan 1418 menghasilkan posisi bulan pada 30 Desember 1997 adalah sebagai berikut:

Ijtimak                         : 29 Desember 1997, pukul 23:58 WIB

Matahari terbenam       : pukul 18:09

Bulan terbenam           : pukul 18:43

Azimut matahari          : 246o 36′

Azimut bulan               : 252o 31′

Tinggi bulan                : 7o 59′.

Jadi, pada saat matahari terbenam, bulan telah berada di sebelah kanan matahari pada jarak sudut sekitar 6o pada ketinggian sekitar 8o. Menurut kriteria hisab, jarak itu sedikit di atas batas minimal untuk bisa diamati (walaupun sebenarnya amat sulit). Maka, kemungkinan awal Ramadan akan jatuh keesokan harinya, pada 31 Desember 1997.

Sedangkan untuk idul fitri, hisab lokal menghasilkan data untuk 28 Januari 1998 sebagai berikut:

Ijtimak                         : 28 Januari 1998, pukul 13:02 WIB)

Matahari terbenam       : pukul 18:17

Bulan terbenam           : pukul 18:21

Azimut matahari          : 251o 36′

Azimut bulan               : 255o 06′

Tinggi bulan                : 1o.

Menurut kriteria hisab, pada posisi itu hilal tidak mungkin teramati pada 28 Januari, walaupun bulan sudah wujud di atas ufuk. Dengan demikian maka idul fitri tidak jatuh pada 29 Januari, tetapi pada 30 Januari 1998.

Hasil hisab lokal itu bisa dibandingkan dengan hisab global. Hasil hisab global (lihat gambar) menunjukkan bahwa garis tanggal awal Ramadan 1418 melintasi Amerika Selatan, Afrika Tengah, Jazirah Arab, Asia Tengah, dan Jepang. Itu berarti Eropa dan Amerika Utara kemungkinan akan mengawali Ramadan pada 30 Desember 1997. Sedangkan Australia, Indonesia, Asia Tenggara, dan negara-negara Arab akan mengawali Ramadan pada 31 Desember 1997.

Garis tanggal awal Syawal 1418 melintasi Lautan Hindia, Irian, dan lautan pasifik. Berdasarkan kriteria bulan di atas ufuk, sebenarnya hampir seluruh dunia akan beridul fitri pada 29 Januari 1998. Hanya Australia yang beridul fitri 30 Januari. Tetapi bila menggunakan kriteria rukyat, Indonesia yang terletak dekat sisi barat garis tanggal kemungkinan besar akan beridul fitri 30 Januari 1998. Hal ini karena hilal masih sulit teramati pada 28 Januari, walaupun bulan telah wujud di atas ufuk.

Garis tanggal qamariyah pada hisab global bisa menjelaskan mengapa terjadi perbedaan awal Ramadan dan hari raya di seluruh dunia. Perbedaan itu sebenarnya semu. Karena yang kita sebut “berbeda” sebenarnya hanyalah tanggal dan hari syamsiahnya. Sedangkan tanggal qamariyahnya tetap sama, yaitu 1 Ramadan untuk awal puasa dan 1 Syawal untuk idul fitri. Dengan kata lain, kita hidup dengan dua garis tanggal. Definisi hari berdasarkan garis tanggal internasional yang disepakati melintasi garis bujur 180o di samudra Pasifik. Sedangkan definisi awal Ramadan dan hari raya berdasarkan garis tanggal qamariyah yang tidak tetap posisinya, tergantung posisi bulan dan matahari.

Perbedaan semu itu mudah dijelaskan karena itu bersifat eksakta. Tetapi ada juga perbedaan yang hakiki yang sulit dijelaskan dan sulit diselesaikan karena berasal dari faktor non-eksakta, bersumber dari hasil ijtihad yang tidak bisa dipaksakan penyelesaiannya. Ada beberapa contoh kasus tentang masalah ini.

Awal Ramadan 1412 di seluruh dunia yang dilaporkan di internet (via ISNET) menunjukkan ada tiga tanggal: 4, 5, dan 6 Maret 1992. Keputusan awal Ramadan 4 Maret di Arab Saudi, Perancis, Jerman, dan beberapa daerah di Amerika ternyata bersumber dari berita radio Arab Saudi yang melaporkan kesaksian rukyat pada 3 Maret. Padahal ijtimak baru terjadi 4 Maret pukul 16:22 waktu Saudi. Jadi sebenarnya mustahil ada kesaksian rukyat yang mendahului ijtimak.

Dari sekitar 300 pengamat hilal di pantai Nambangan, Surabaya, 12 Maret 1994 hanya ada sekitar 10 orang yang mengaku melihat hilal dan hanya 4 orang yang bersedia disumpah hakim Pengadilan Agama Surabaya. Dengan kesaksian itu dan beberapa kesaksian lainnya, akhirnya pemimpin suatu ormas Islam mengumumkan idul fitri jatuh pada 13 Maret 1994, satu hari lebih awal dari keputusan Pemerintah. Padahal menurut hisab, pada saat maghrib 12 Maret itu sebenarnya bulan telah berada di bawah ufuk, bagaimana mungkin bisa dirukyat.

Idul Adha 1417 di Indonesia ada dua versi: 17 April (mengikuti Arab Saudi) dan 18 April 1997 (mengikuti hisab-rukyat di Indonesia). Kelompok yang melaksanakan Idul Adha pada 17 April beralasan untuk menyertai yaumun nahr di Mina yang terjadi pada hari itu. Sedangkan yang melaksanakan pada 18 April berlandasan pada kesamaan tanggal qamariyah 10 Dzulhijjah, tidak memaksakan kesamaan hari seperti yang dilaksanakan di Arab Saudi. Masing-masing mempunyai dasar yang dianggap kuat untuk ijtihadnya.

Penyatuan Hakiki

Untuk mewujudkan kesatuan pelaksanaan awal Ramadan dan hari raya di seluruh dunia perlu diidentifikasi masalahnya. Akar masalah yang sebenarnya adalah sifat ijtihadiyah penentuan awal Ramadan dan hari raya. Jadi, untuk menciptakan kesatuan perlu adanya ijma’ (kesepakatan) seluruh ulama, suatu hal yang mungkin terjadi, tetapi perlu usaha besar. Sepakat untuk menerima perbedaan hari (yang sifatnya semu) pun sulit, apalagi sepakat untuk menghilangkan perbedaan.

Ada beberapa langkah yang bisa disarankan untuk menuju kesatuan. Pertama, pemakaian hisab global. Masalah teknis ilmiah relatif paling mudah diselesaikan. Rukyat bisa dibantu dengan hasil hisab untuk menentukan posisi hilal. Tetapi kepastian hilal bisa teramati atau tidak masih tergantung faktor cuaca yang di luar kemampuan manusia untuk mengatasinya. Dengan makin akuratnya hisab astronomi, hisab bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan bukan sekedar alat bantu rukyat. Hisab global adalah cara pemecahan yang memberikan kepastian dan keseragaman keputusan bagi semua negara. Kriteria hisab bisa ditentukan berdasarkan pengalaman keberhasilan rukyat, seperti dilakukan oleh IICP. Penyatuan kalender Islam secara internasional dengan pendekatan teknis ilmiah ini yang sudah dilakukan oleh IICP bersama ahli hisab dan rukyat seluruh dunia. Namun belum semua negara mematuhi keputusan-keputusannya, termasuk Arab Saudi dan Indonesia.

Kedua, konfirmasikan setiap kesaksian ru’yatul hilal. Kesaksian rukyat seringkali kontroversial yang menyebabkan munculnya perbedaan. Penyebabnya bisa karena rukyatnya tidak murni lagi, tetapi terpengaruh hasil hisab dengan metode lama yang tidak akurat. Penyebab lainnya adalah ketidaktahuan pengamat untuk membedakan hilal dan objek lain, seperti sabitnya planet Venus yang dilihat dengan teleskop dilaporkan sebagai hilal atau cahaya tipis di kaki langit yang diamati tanpa teleskop mungkin dianggap sebagai hilal. Untuk menghindarkan kesaksian yang kontroversial itu perlu disepakati kriteria untuk mengkonfirmasikannya, tidak cukup sekedar sumpah. Salah satu langkah yang sudah dilakukan oleh Departeman Agama RI adalah menolak kesaksian hilal bila secara hisab yang akurat bulan sebenarnya sudah di bawah ufuk pada saat maghrib. Kriteria lain yang bisa digunakan adalah posisi hilal dan bentuk hilal. Ahli astronomi dan ahli rukyat yang berpengalaman akan mengkonfirmasi benar-tidaknya kesaksian itu.

Ketiga, adakan lembaga antarpemerintah sebagai otoritas tunggal yang ditaati. Kesaksian hilal di suatu wilayah hanya bisa dijadikan dasar keputusan global bila ada otoritas tunggal pengambil keputusan. Selama belum ada otoritas tunggal yang dipercaya sebagai pengambil keputusan dan bisa mengumumkan ke seluruh dunia, kesaksian hilal itu malah akan memunculkan keputusan yang berbeda-beda karena informasinya tidak mungkin tersebar merata. Kesaksian hilal di Arab Saudi belum tentu yang terbaik, karena pelapornya mungkin juga orang awam yang berani di sumpah karena keyakinannya yang merasa benar telah menyaksikan hilal. Benar atau salahnya tidak ada konfirmasi. Untuk tingkat ASEAN, penyeragaman telah bisa dilakukan karena koordinasi antarpemerintah (sebagai otoritas tunggal) telah memungkinkan pengambilan keputusan bersama dan diumumkan secara luas melalui TV dan Radio. Perbedaan akan muncul ketika ada kelompok yang tidak lagi mengakui pemerintah (Menteri Agama bersama majelis isbath) sebagai pengambil keputusan tunggal dengan membuat pengumuman sendiri.

Ramadan dan Idul Fitri di Masjid Kobe

T. Djamaluddin, Alumni Kyoto University, Jepang

(Dimuat di Republika, 26 Februari 1995)

Ramadan dan Idul Fitri tahun ini (1995) bagi masyarakat Muslim di daerah Kansai Jepang (Kobe, Osaka, Kyoto) mungkin agak lain. Gempa bumi 17 Januari lalu nampaknya akan mengubah suasana menjadi lain dari biasanya. Buka puasa bersama yang biasanya dilakukan tiap Sabtu secara bergilir antara masyarakat Arab, India – Pakistan, dan Indonesia – Malaysia saya bayangkan tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Transportasi menjadi kendala utama, kereta api dan mobil tidak selancar sebelumnya. Seorang teman Jepang yang menelpon belum lama ini mengungkapkan perjalanan dari Osaka ke Kobe yang biasanya ditempuh dengan mobil hanya dalam waktu sekitar satu jam, sekarang perlu waktu tiga jam akibat kemacetan. Kabarnya silaturahim masyarakat Indonesia di Wisma Konsulat Jenderal RI di Kobe untuk tahun ini ditiadakan disebabkan beberapa kesulitan akibat gempa tersebut yang belum pulih seluruhnya.

Berita gempa di Kobe itu mengkhawatirkan saya. Selain keselamatan teman-teman yang baru setahun berpisah, saya mengkhawatirkan keutuhan satu-satunya masjid di Jepang, Masjid Kobe. Dari tayangan televisi yang selalu saya ikuti, daerah Sanomiya di pusat Kobe mengalami rusak berat. Masjid Kobe hanya sepuluh menit berjalan kaki dari stasiun Sanomiya itu. Dalam tayangan televisi, kuil Ikuta yang biasa terlewati bila akan ke masjid Kobe terlihat runtuh.

Pada awal Ramadan lalu ada telepon dari Sudaryanto (kakak kelas Yudi Syafei, mahasiswa Indonesia yang sempat diberitakan selamat oleh Republika) yang juga punya kekhawatiran besar akan keutuhan masjid Kobe. Alhamdulillah, dia mengabarkan bahwa masjid Kobe utuh. Hanya sedikit bagian hiasan tembok di mihrab yang pecah dan sedikit retak pada bangunan baru di sisinya. Yang agak berat hanya tembok halaman parkir yang runtuh sebagian.

Itulah perlindungan Allah. Bukan hanya masjid yang utuh, kabarnya kantor perdagangan Pak Ahsan Zia, salah seorang penanggung jawab harian masjid Kobe, yang berada di depan masjid juga selamat. Padahal apartemen di belakang kantor itu ada yang rusak berat. Kuil Ikuta yang berjarak sekitar 100 meter di selatan masjid rusak berat. Demikian juga tempat kumpul anak muda urakan di dekat kuil itu runtuh. “Nampaknya gempa itu seperti pembersih tempat itu,” kata Sudaryanto.

Menurut Pak Ahsan Zia beberapa tahun lalu, masjid Kobe juga selamat dari gempuran bom pada perang dunia II. Padahal banyak bangunan di sekitarnya pada waktu itu yang terbakar. Masjid adalah milik Allah. Dia akan melindunginya kalau masjid itu sentiasa dimakmurkan oleh ummat-Nya.

Ramadan tahun ini, walau mungkin tak seramai tahun lalu, nampaknya masjid Kobe tak akan sepi dari jamaahnya. Bagi kebanyakan masyarakat Muslim yang pernah melewatkan Ramadan dan Idul Fitri di daerah Kansai, nama Masjid Kobe pasti akan teringat. Informasi utama tentang awal Ramadan dan Idul Fitri serta jadwal puasa yang biasa di kirim oleh Konsulat Jendral RI bersumber dari Masjid Kobe. Buka puasa bersama juga sering diadakan di masjid Kobe. Dan saat salat Idul Fitri di masjid Kobe merupakan saat berkumpul masyarakat Indonesia di Jepang Barat.

Kenangan Ramadan

Tujuh kali Ramadan saya lewatkan di Jepang. Tahun 1988 saya tiba 8 hari sebelum Ramadan dan tahun 1994 saya pulang ke tanah air 3 hari setelah Ramadan. Ramadan di negeri orang memang lain rasanya, tetapi suasana Ramadan bisa diciptakan di dalam jiwa, terutama bila bila mengikuti buka puasa bersama di Masjid Kobe atau di Muslim Association.

Ramadan pertama di negeri Sakura saya masuki pada musim bunga Sakura. Mahasiswa Indonesia sebagian besar kebetulan tinggal satu lantai di asrama. Di lantai itu juga tinggal mahasiwa dari Malaysia dan Thailand. Mahasiswa Muslim dari Malaysia biasa menyatu dengan mahasiswa Indonesia, termasuk dalam persiapan makan buka dan sahur serta saling membangunkan waktu sahur. Khususnya untuk makan sahur, mahasiswa Indonesia biasa bergantian memasak di dapur asrama, baik berkelompok maupun sendiri-sendiri. Rupanya kebiasa memasak ini menarik perhatian mahasiswa Thailand. Salah seorang teman dari Thailand itu sempat berkomentar, “Mahasiswa Indonesia suka memasak ya …. Tengah malam pun masih ramai memasak….” Oh, rupanya memasak untuk makan sahur merupakan pemandangan aneh bagi mereka. Saya jelaskan bahwa itu hanya ada pada bulan Ramadan, bulan puasa.

Salat tarawih dilaksakan bersama-sama dengan mahasiswa dari negara-negara Muslim lainnya: Suriah, Mesir, Tunisia, Maroko, dan Bangladesh. Imamnya dari suriah. Ada kenangan menarik tentang salat tarawih ini. Mousallam yang menjadi imam bisa membaca surat yang panjang-panjang. Karenanya untuk mencegah kesalahan temannya dari Mesir memegang Al-Qur’an kecil dan mengoreksinya bila imam keliru membaca, walaupun jarang terjadi. Jumlah rakaatnya 11, termasuk witir. Rupanya teman-teman Indonesia tak tahan berlama-lama. Pada hari kedua jumlah jamaah berkurang, sebagian berwitir sendiri di kamar. Kebiasaan tarawih di tanah air yang biasa dengan “menu” surat-surat pendek At-Takatsur sampai An-Nas yang kadang-kadang dengan kecepatan tinggi masih kental melekat.

Tarawih dan salat Idul Fitri di masjid Kobe punya kenangan sendiri. Pada waktu pertama kali salat tarawih di masjid Kobe ada hal yang membuat bingung. Imam Yahya dari Moro (Filipina) kadang-kadang surat yang dibaca berpindah dari satu bagian surat ke bagian surat yang lain dengan diselingi takbir. Akibatnya, karena tak biasa, banyak jamaah yang terkecoh mengira itu takbir untuk ruku. Ternyata setelah jamaah itu ruku, imam melanjutkan membaca surat.

Madzhab Hanafi yang diterapkan di masjid Kobe biasanya dijelaskan terlebih dahulu sebelum salat Idul Fitri. Menurut madzhab Hanafi, pada rakaat pertama takbir tiga kali sebelum membaca Al-Fatihah dan pada rakaat ke dua takbir tiga kali sesudah membaca surat sebelum ruku. Ini berbeda dari madzhab Syafii yang lazim dipakai di Indoensia yang pada rakaat pertama ada tujuh takbir dan pada rakaat ke dua ada lima takbir, semuanya sebelum Al-Fatihah. Jamaah yang tak mendengar atau tak faham penjelasan itu sering terkecoh. Pada rakaat kedua setelah membaca surat imam bertakbir tiga kali. Banyak diantara jamaah yang mengira itu takbir untuk ruku. Tetapi, kok lalu takbir lagi bukan membaca sami’allah. Ini sering menjadi cerita lucu setelah salat, masing-masing bercerita tentang pengalamannya. Yang paling lucu, pernah ada yang biasa salat memejamkan mata dan mengira hanya kesalahan kecil waktu imam membaca takbir bukan sami’allah. Pada saat takbir ke tiga dia bersiap sujud, padahal imam masih tegak berdiri dan baru pada takbir ke empat ruku. Tentu saja dia bingung.

Saat buka puasa bersama di masjid Kobe punya kekhasan. Masjid memang menyediakan makanan buka puasa setiap hari. Tetapi khusus pada hari Sabtu, biasanya diadakan acara buka bersama yang penanggung jawabnya bergiliran di antara masyarakat Muslim di Kobe. Masing-masing menyediakan makanan khasnya. Pada hari sabtu pertama mungkin kita akan merasakan masakan Arab. Pada Sabtu ke dua mungkin masakan Pakisa – India. Dan pada Sabtu yang lain ada masakan Indonesia. Bagi para masyarakat Indonesia yang rindu makanan Indonesia kesempatan ini merupakan kesempatan yang dicari-cari. Makanan itu disiapkan oleh ibu-ibu dari Konsulat Jenderal RI.

Kunjungan ke Kobe pada Ramadan dan Idul Fitri memang merupakan kunjungan berfungsi banyak: salat di Masjid Kobe, bertemu teman-teman yang tinggal di berbagai kota di Jepang Barat, dan merasakan makanan khas Indonesia pada saat buka puasa bersama di masjid atau pada saat silaturrahim di Wisma Konsulat Jendral RI. Yang tak kalah pentingnya adalah belanja di kota Cina yang tak jauh dari masjid Kobe. Bumbu-bumbu (a.l. bawang merah segar, lengkuas, salam, bumbu instant nasi goreng, bumbu sate), buah-buahan tropik dalam kaleng (a.l. rambutan, nangka, nenas) dan sayuran khas daerah tropik (a.l. kangkung, bayam, petai) serta kacang hijau.