Di manakah Tujuh Langit Itu?

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Anatriksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 10 Januari 1995)

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba‑Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda‑tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Isra’ : 1).

Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat  sebahagian tanda‑tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (Q.S. An‑Najm:13‑18).

Ayat-ayat itu mengisahkan tentang peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina. Mi’raj adalah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha. Sidratul muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal‑hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al‑Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.

Di dalam kisah yang agak lebih rinci di dalam hadits disebutkan bahwa Sidratul Muntaha dilihat oleh Nabi setelah mencapai langit ke tujuh. Dari kisah itu orang mungkin bertanya-tanya di manakah langit ke tujuh itu. Mungkin sekali ada yang mengira langit di atas itu berlapis-lapis sapai tujuh dan Sidratul Muntaha ada di lapisan teratas. Benarkah itu? Tulisan ini mencoba membahasnya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.

Sekilas Kisah Isra’ Mi’raj

Di dalam beberapa hadits sahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan isra’ dan mi’raj dengan menggunakan “buraq”. Di dalam hadits hanya disebutkan bahwa buraq adalah ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Ini menunjukkan bahwa “kendaraan” yang membawa Nabi SAW dan Malaikat Jibril mempunyai kecepatan tinggi.

Apakah buraq sesungguhnya? Tidak ada penjelasan yang lebih rinci. Cerita israiliyat yang menyatakan bahwa buraq itu seperti kuda bersayap berwajah wanita sama sekali tidak ada dasarnya. Sayangnya, gambaran ini sampai sekarang masih diikuti oleh sebagian masyarakat, teruatam di desa-desa.

Dengan buraq itu Nabi melakukan isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Setelah melakukan salat dua rakaat dan meminum susu yang ditawarkan Malaikat Jibril Nabi melanjutkan perjalanan mi’raj ke Sidratul Muntaha.

Nabi SAW dalam perjalanan mi’raj mula-mula memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat salat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam‑kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non‑fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir.

Jibril juga mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al‑Qur’an surat An‑Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah salat wajib.

Mulanya diwajibkan salat lima puluh kali sehari‑semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringan dan diberinya pengurangan sepuluh‑sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardlu‑Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba‑Ku.”

Di manakah Tujuh Langit

Konsep tujuh lapis langit sering disalahartikan. Tidak jarang orang membayangkan langit berlapis-lapis dan berjumlah tujuh. Kisah isra’ mi’raj dan sebutan “sab’ah samawat” (tujuh langit) di dalam Al-Qur’an sering dijadikan alasan untuk mendukung pendapat adanya tujuh lapis langit itu.

Ada tiga hal yang perlu dikaji dalam masalah ini. Dari segi sejarah, segi makna “tujuh langit”, dan hakikat langit dalam kisah Isra’ mi’raj.

Sejarah Tujuh Langit

Dari segi sejarah, orang-orang dahulu –jauh sebelum Al-Qur’an diturunkan — memang berpendapat adanya tujuh lapis langit. Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka bahwa ada tujuh benda langit utama yang jaraknya berbeda-beda. Kesimpulan ini berdasarkan pengamatan mereka atas gerakan benda-benda langit. Benda-benda langit yang lebih cepat geraknya di langit dianggap lebih dekat jaraknya. Lalu ada gambaran seolah-olah benda-benda langit itu berada pada lapisan langit yang berbeda-beda.

Di langit pertama ada bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius (bintang Utarid). Venus (bintang kejora) berada di langit ke tiga. Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (bintang Siarah/Zuhal). Itu keyakinan lama yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta.

Orang-orang dahulu juga percaya bahwa ke tujuh benda-benda langit itu mempengaruhi kehidupan di bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh, Saturnus, sampai yang terdekat, bulan. Karena itu hari pertama itu disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris atau Doyoubi (hari Saturnus/Dosei) dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Indonesia Saturday adalah Sabtu. Ternyata, kalau kita menghitung hari mundur sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu.

Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi Hari Matahari (Sunday, Ahad), Hari Bulan (Monday, Senin), Hari Mars (Selasa), Hari Merkurius (Rabu), Hari Jupiter (Kamis), dan Hari Venus (Jum’at). Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari.

Jumlah tujuh hari itu diambil juga oleh orang-orang Arab. Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, …, sampai tujuh, yakni ahad, itsnaan, tsalatsah, arba’ah, khamsah, sittah, dan sab’ah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu. Hari ke enam disebut secara khusus, Jum’at, karena itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan adanya kewajiban salat Jum’at berjamaah.

Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis Dominggo yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, karenanya lebih menyukai pemakaian “Ahad” daripada “Minggu”.

Makna Tujuh Langit

Langit (samaa’ atau samawat) di dalam Al-Qur’an berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan‑lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda‑benda langit sama sekali tidak ada. Sedangkan warna biru bukanlah warna langit sesungguhnya. Warna biru dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh atmosfer bumi.

Di dalam Al‑Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh  puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al‑Baqarah:261 Allah menjanjikan:

Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan TUJUH  tangkai yang masing‑masingnya berbuah seratus butir.  Allah MELIPATGANDAKAN pahala orang‑orang yang dikehendakinya….

Juga di dalam Q.S. Luqman:27:

Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan TUJUH lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….

Jadi  ‘tujuh langit’ semestinya difahami pula sebagai tatanan benda‑benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan‑lapisan langit.

Tujuh langit pada Mi’raj

Kisah Isra’ Mi’raj sejak lama telah minimbulkan perdebatan soal tanggal pastinya dan apakah Nabi melakukannya dengan jasad dan ruhnya atau ruhnya saja. Demikian juga dengan hakikat langit. Muhammad Al Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi’ra. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha dari Mesir, berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah isra’ mi’raj adalah langit ghaib.

Dalam kisah mi’raj itu peristiwa lahiriyah bercampur dengan peristiwa ghaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitur Makmur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, nampaknya pengertian langit dalam kisah mi’raj itu memang bukan langit lahiriyah yang berisi bintang-bintang, tetapi langit ghaib.

Antara Limit Astronomis dan Harapan Teleskop Rukyat: Tantangan Rukyatul Hilal

T. Djamaluddin, Peneliti  Matahari dan  Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di  Republika 17 Januari 1996)

Para ahli hisab dari Departemen Agama RI dan beberapa ormas Islam telah menyepakati kemungkinan idul fitri jatuh pada 20 Februari 1996. Tetapi posisi hilal 1 Syawal 1416 untuk wilayah Indonesia sebanarnya kurang menguntungkan untuk dirukyat. Sedangkan Departemen Agama sebagai lembaga yang mempunyai otoritas menentukan kepastian saat idul fitri masih menganut rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit pertama) sebagai dasar keputusannya. Karena itu masih terbuka kemungkinan puasa Ramadan menjadi 30 hari dan idul fitri jatuh pada tanggal 21 Februari 1996.  Bila hilal tidak teramati pada tanggal 19 Februari, maka keputusan yang diambil akan berdasarkan istikmal, melengkapkan bulan Ramadan menjadi 30 hari.

Posisi hilal 1 Syawal 1416 akan menghambat keberhasilan rukyat di Indonesia. Tidak seperti hilal awal Ramadan lalu yang relatif tinggi, hilal awal Syawal sedikit di bawah limit kriteria visibilitas (kenampakan) hilal. Memang pada saat maghrib 19 Februari bulan sudah berada di atas ufuk barat di Indonesia. Dan bila berdasarkan kriteria bulan di atas ufuk, seluruh dunia akan merayakan idul fitri pada tanggal 20 Februari, kecuali Amerika Utara yang berkemungkinan beridul fitri 19 Februari. Tetapi agar hilal dapat diamati, syarat bulan berada di atas ufuk belum cukup.

Limit Astronomis

Pada tahun 1932 dan 1936 Danjon melaporkan hasil pengamatan hilal di majalah astronomi. Dari 75 bukti pengamatan hilal yang dikumpulkan dari berbagai pengamat di seluruh Eropa diperoleh syarat batas penampakan hilal yang kini dikenal sebagai limit Danjon. Danjon dalam laporannya itu menganalisis hubungan jarak sudut (jarak di langit dalam ukuran sudut pandang — dinyatakan dalam derajat) Matahari-Bulan dan besarnya lengkungan sabit pada hilal. Dari 75 data itu diketahui bahwa makin dekat jarak sudut Matahari-Bulan, lengkungan sabit yang bisa teramati makin kecil. Data-data itu menunjukkan bahwa hilal tidak mungkin teramati bila jarak sudut Matahari-Bulan kurang dari 7 derajat. Ini kemudian dikenal sebagai limit Danjon. Dengan limit itu astronom akan menolak laporan pengamatan hilal dengan mata telanjang bila jarak sudut Matahari-Bulan kurang dari 7 derajat.

Ada alasan kuat untuk mendukung limit Danjon itu. Menurut perhitungan Schaefer (1991) di sebuah jurnal astronomi, limit itu disebabkan batas sensitivitas mata manusia. Mata manusia tidak sanggup menangkap cahaya amat redup pada kedua ujung lengkungan sabit hilal. Untuk membuktikannya Schaefer membuat model teoritik hubungan antara besarnya lengkungan sabit hilal dengan kecerlangan hilal tesebut. Dengan limit sensitivitas mata manusia sekitar 8 magnitudo (besaran kecerlangan relatif dalam astronomi) pada jarak sekitar 8 derajat hilal hanya akan terlihat seperti goresan tipis yang tanpa ada tanda-tanda lengkungan (panjang lengkungan sabit hanya sekitar 40 derajat, sepersembilan lingkaran). Itu sudah sulit dikenal sebagai hilal.

Di samping limit Danjon, ada lagi kriteria visibilitas hilal. Bulan yang jarak sudutnya lebih dari 7 derajat dari Matahari belum tentu dapat teramati. Mohammad Ilyas, seorang Muslim yang kini mengepalai International Islamic Calendar Program di Malaysia, telah mengumpulkan banyak bukti pengamatan di seluruh dunia untuk menentukan kriteria hilal agar bisa teramati.

Secara ringkas, kriteria yang dihasilkan dari banyak data pengamatan terbagi dalam tiga kelompok, tergantung aspek apa yang ditinjau. Dilihat dari ketinggian hilal di atas ufuk, tidak ada hilal yang teramati pada ketinggian kurang dari 4 derajat. Untuk hilal yang sangat dekat dengan Matahari (pada jarak mendatar sekitar 5 derajat) hilal harus lebih tinggi dari 10 derajat. Ditinjau dari umur hilal (selang waktu sejak saat ijtimak sampai saat pengamatan), tidak ada hilal yang lebih muda dari 16 jam, kecuali pada saat tertentu rekor termuda yang tercatat adalah 13,5 jam. Dan dilihat dari sudut pandang beda waktu terbenam antara Matahari dan Bulan, hilal tidak mungkin teramati bila beda waktu terbenamnya kurang dari 40 menit.

Berdasarkan kriteria itu, bagi kalangan astronomi, laporan pengamatan hilal yang tinggginya kurang dari 4 derajat (seperti yang sering terjadi di Indonesia) terasa aneh. Ini menimbulkan kecurigaan adanya kesalahan dalam identifikasi hilal (tanpa meragukan kualitas iman dan kejujuran pengamatnya). Ada yang menyebutnya hilal yang teramati mungkin hanya halusinasi akibat pengaruh keyakinan bahwa hilal mestinya dapat dirukyat berdasarkan hasil hisabnya.

Posisi Hilal

Untuk memberikan gambaran mungkin tidaknya keberhasilan rukyatul hilal di Indonesia, di sini akan diulas posisi hilal pada saat maghrib di dua tempat pengamatan hilal: Banda Aceh dan Pelabuhan Ratu. Banda Aceh adalah daerah yang mempunyai kesempatan yang relatif paling baik dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Namun tetap masih mempunyai kemungkinan kecil untuk berhasilnya rukyatul hilal.

Pada saat Matahari terbenam di Banda Aceh, pukul 18:51 WIB, umur bulan baru 12 jam 19 menit. Jadi masih di bawah syarat keberhasilan rukyatul hilal. Sedangkan perbedaan terbenamnya Matahari dan Bulan hanya 20 menit. Ini pun kurang dari syarat minimum kreteria visibilitas hilal. Demikian juga dengan ketinggian bulan yang hanya 5,4 derajat pada beda azimut dengan Matahari 5,1 derajat akan menyulitkan pengamatan hilal. Sebenarnya, jarak sudut Matahari-Bulan yang 7,8 derajat sudah melebihi limit Danjon, tetapi dengan mata telanjang akan sangat sulit untuk merukyatnya. Mungkin masih ada harapan bila mengamatinya dengan teleskop yang dilengkapi dengan detektor yang lebih peka daripada mata manusia. Kalau nanti ada laporan yang menyatakan hilal sudah terlihat oleh pengamat tanpa alat bantu, secara astronomi itu dapat diterima. Mungkin pengamatnya mempunyai mata yang amat tajam dan cuaca mendukungnya.

Posisi bulan di Pelabuhan Ratu pun kurang menguntungkan. Ketinggian bulan pada saat Matahari terbenam hanya 3,8 derajat. Sedangkan umurnya baru 11 jam 44 menit dan beda waktu terbenam Matahari-Bulan hanya 15 menit. Kesemuanya masih di bawah syarat batas untuk keberhasilan pengamatan hilal dengan mata telanjang. Jarak sudut Matahari-Bulan 7,5 derajat hanya sedikit di atas limit Danjon, sehingga kemungkinan keberhasilan rukyatul hilal tetap kecil.

Dengan mempertimbangakan posisi bulan yang kurang menguntungkan itu kaum Muslimin di Indonesia dan Asia Tenggara mesti bersiap dengan kemungkinan berpuasa 30 hari. Kemungkinan adanya keputusan istikmal sangat terbuka. Dengan informasi ini diharapkan kaum Muslimin tidak bingung dan berprasangka buruk bila ternyata pengumuman pemerintah menetapkan idul fitri jatuh pada tanggal 21 Februari 1996. Apa pun keputusan pemerintah (idul fitri jatuh tanggal 20 atau 21 Februari) mesti menjadi acuan yang sah.

Harapan Teleskop Rukyat

Munculnya gagasan teleskop rukyat yang kini telah menjadi kenyataan mungkin menimbulkan harapan dapat diatasinya kendala rukyatul hilal itu. Sayangnya, teleskop rukyat saat ini masih mempunyai kelemahan, seperti diakui oleh pembuatnya (Republika 18 Januari 1996). Kelemahan dari sudut pandang astronomi juga menyebabkan adanya keraguan dari kalangan astronom dari Observatorium Bosscha. Keberhasilan teleskop rukyat melihat hilal 1 Rajab 1416 (23 September 1995) di Saudi Arabia sebenarnya tidak luar biasa karena hilal pada saat itu sudah cukup tinggi, 12 derajat, sudah melebihi kriteria visibilitas hilal. Wajar untuk terlihat, meskipun tanpa alat bantu.

Teleskop rukyat sebenarnya tidak berbeda jauh dengan teleskop pada umumnya. Mungkin perbedaannya yang paling jelas dengan teleskop astronomi umumnya adalah sumbu geraknya. Sumbu gerak utama teleskop astronomi umumnya sejajar dengan sumbu rotasi bumi agar bisa mengikuti gerak semu benda-benda langit dari timur ke barat. Sedangkan teleskop rukyat dipasang secara alt-azimut, yang memungkinkan teleskop bergerak vertikal dan horizontal.

Jenis teleskop rukyat adalah teleskop reflektor, cahaya objek dipantulkan oleh cermin cekung dan difokuskan dengan sistem Newtonian ke lensa pengamat (eyepiece) di sisi tabung teleskop. Secara umum, fungsi utama teleskop (selain sebagai pembesar penampakan objek) adalah memperkuat cahaya objek dengan cara pengumpulan cahaya, baik dengan cermin cekung maupun lensa. Semakin besar diameter cermin atau lensa teleskop, semakin banyak cahaya yang bisa dikumpulkan sehingga makin besar kemampuannya memperkuat cahaya objek. Cahaya yang sudah difokuskan itu bisa teruskan ke lensa pengamat untuk pengamatan lansung atau direkam dengan perangkat video, kamera fotografi, maupun detektor lainnya seperti kamera elektronik (CCD).

Kemampuan suatu teleskop biasanya diukur dari kemampuannya mendeteksi objek lemah. Dalam astronomi, kecerlangan suatu objek dinyatakan dengan magnitudo. Makin besar nilainya, makin redup objek itu. Mata manusia rata-rata masih mampu mendeteksi bintang redup dengan magnitudo 6,5. Dengan menggunakan binokuler kemampuannya meningkat sehingga mampu mendeteksi bintang yang lebih redup lagi dengan magnitudo 10. Dengan teleskop berdiameter 15 cm (seukuran teleskop rukyat) objek paling redup yang dapat terdeteksi mempunyai magnitudo 13. Selisih limiting magnitude (magnitudo batas) suatu teleskop dengan mata manusia bisa menjadi ukuran kemampuan penguatan cahayanya dengan menggunakan rumus sederhana: 10 pangkat (beda magnitudo/2,5). Misalnya, teleskop 15 cm (sekelas teleskop rukyat) mempunyai kemampuan penguatan cahaya 10 pangkat (6,5/2,5), yaitu 400 kali (pembuat teleskop rukyat mengklaim penguatan 40.000 kali — Republika 18 Januari 1996 — hal yang menimbulkan pertanyaan bagi astronom).

Apakah teleskop mampu mengatasi kesulitan rukyatul hilal? Pertanyaan itu telah terjawab dengan hasil penelitian Schaefer (1991). Menurut hasil pengamatan hilal di berbagai tampat dengan mata telanjang dan menggunakan teleskop serta model teoritik yang dikembangkannya, disimpulkan bahwa dengan teleskop pun hilal tetap tidak mungkin teramati bila jarak sudut Matahari-Bulan kurang dari 7 derajat. Selain itu, ada masalah lain dalam pengamatan hilal: kontras antara hilal dan cahaya langit senja. Dengan menggunakan teleskop, baik cahaya  hilal maupun cahaya langit sama-sama diperkuat. Alhasil, kontrasnya sama dengan pengamatan tanpa alat bantu.

Gagasan awal pembuat teleskop rukyat untuk pemakaian filter dan pemasangan detektor perekam menarik untuk dikaji. Dua hal yang harus dipertimbangkan adalah efektivitas filter dan sensitivitas detektor.

Cahaya hilal berasal pantulan cahaya matahari oleh permukaan bulan. Sedangkan cahaya langit senja berasal dari pantulan cahaya matahari oleh partikel-partikel di atmosfer bumi. Untuk memilih jenis filter yang tepat perlu penelitian spektrum cahaya bulan di ufuk (untuk mudahnya bisa diambil cahaya bulan purnama di ufuk timur) dan spektrum cahaya senja. Dengan mempelajari spektrum tersebut akan dapat diketahui rentang panjang gelombang yang dominan pada cahaya bulan daripada cahaya langit senja. Filter berfungsi untuk menghambat sebanyak mungkin cahaya langit senja, tetapi meneruskan sebanyak mungkin cahaya bulan.

Saya belum menemukan data spektrum cahaya bulan dan cahaya langit senja. Namun saya menduga spektrumnya pada cahaya tampak tidak akan jauh berbeda karena sumbernya sama dan mengalami hamburan atmosfer yang hampir sama. Jadi, saya menduga filter kurang efektif untuk meningkatkan kontras antara hilal dan cahaya langit senja. Selain itu, pemakaian filter berarti pula pengurangan intensitas objek yang berarti hilal akan makin sulit teramati.

Pengamatan dengan teleskop yang dilengkapi kamera fotografi atau detektor elektronik pada prinsipnya bisa menolong mengenali hilal yang redup bila sensitivitasnya lebih baik daripada sensitivitas mata. Dengan makin baiknya sensitivitas kamera, limit Danjon akan dapat diperkecil. Dengan kata lain pada jarak sudut Matahari-Bulan kurang dari 7 derajat hilal mungkin dapat terdeteksi. Kontras mungkin dapat ditingkatkan dalam pemrosesan citranya. Teknologi kamera CCD dan pemrosesan citra dengan komputer sudah lazim dipakai para astronom untuk mendeteksi objek redup. Mungkin inilah satu-satunya cara untuk mengatasi kelemahan teleskop rukyat. Kita tunggu pengembangannya.

MENGURAI KEPELIKAN KALENDER HIJRIYAH: Dari Mana Kita Mulai?

T. Djamaluddin, Peneliti  Matahari dan  Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 06 Juli 1995)

Bila ditanyakan peran astronomi yang langsung dirasakan masyarakat umum, dengan mudah kita jawab: penentuan waktu dan arah. Umur Astronomi bisa dikatakan sama dengan umur peradaban manusia. Matahari, bulan, dan bintang-bintang hampir tak lepas dari kehidupan manusia. Keteraturan peredarannya dan posisinya yang hampir tetap di langit pada suatu musim telah dijadikan sebagai penentu waktu dan arah.

Pada awal peradabannya, ketergantungan manusia pada benda-benda astronomis itu demikian kuatnya, sampai-sampai ada yang mempertuhankan matahari atau bintang paling terang (Sirius). Karena ketergantungannya, mereka pun selalu memperhatikan perubahan-perubahan di langit. Dari pengalaman empirik tentang keteraturan peredaran benda-benda langit itu kemudian berkembanglah astronomi yang pada awalnya memfokuskan pada peredaran dan posisi benda-benda langit. Almanak astronomi merupakan salah satu produk evolusi pengetahuan manusia yang memungkinkannya tidak perlu setiap saat memperhatikan langit. Keteraturan di langit telah dirumuskan secara sistematik di dalamnya sehingga memudahkan orang dalam memprakirakan fenomena astronomis — terutama setelah ditemukannya teknologi alternatif penentuan waktu (:jam) dan arah (:kompas).

Almanak astronomi adalah tabel, buku, atau perangkat lunak komputer yang menyajikan informasi tentang waktu kejadian fenomena astronomis seperti saat terbit/terbenamnya matahari dan bulan, fase bulan, posisi matahari, bulan, dan planet-planet, gerhana atau okultasi benda-benda langit, serta waktu bintang (sidereal time).

Tulisan ini akan menyoroti peran almanak astronomi dalam penyelesaian kepelikan penentuan kalender hijriyah. Hal itu sebenarnya telah disadari banyak ahli hisab dan ru’yat di Indonesia. Masalahnya adalah belum seragamnya acuan yang dipakai dan belum adanya kriteria baku bagi visibilitas hilal yang diikuti semua ahli hisab. Itulah kunci masalah yang sering menimbulkan kebingungan masyarakat. Perbedaan pendapat antara penganut hisab dan ru’yat adalah cerita lama, yang menurut pengamatan dalam banyak kasus di Indonesia bukan masalah lagi. Diakui atau pun tidak, hisab telah mendominasi penentuan kalender hijriyah. Ru’yatul hilal terkesan “didikte” oleh hasil hisab.

VISIBILITAS HILAL

Kalender Islam ditentukan berdasarkan penampakan hilal (bulan sabit pertama) sesaat sesudah matahari terbenam. Alasan utama dipilihnya kalender bulan (qamariyah) — walau tidak dijelaskan di dalam Hadits maupun Al-Qur’an — nampaknya karena alasan kemudahan dalam menentukan awal bulan dan kemudahan dalam mengenali tanggal dari perubahan bentuk (fase) bulan. Ini berbeda dari kalender syamsiah (kalender matahari) yang menekankan pada keajegan (konsistensi) terhadap perubahan musim, tanpa memperhatikan tanda perubahan hariannya. Karena kemudahan itu — orang awam pun bisa menentukan kapan pergantian bulan — sistem kalender tradisional banyak yang bertumpu pada kalender bulan. Pada masyarakat yang menghendaki adanya penyesuaian dengan musim, diadakan sistem kalender gabungan: qamari-syamsiah (luni-solar calendar), seperti kalender Yahudi dan kalender Arab sebelum masa kerasulan Muhammad SAW. Pada sistem gabungan ini ada bulan ketiga belas setiap 3 tahun agar kalender qamariah tetap sesuai dengan musim. Nama bulan pun  disesuaikan dengan nama musimnya, seperti Ramadan yang semula berarti bulan musim panas terik. Dalam ajaran Islam penambahan bulan itu (disebut nasi) dilarang karena biasanya bulan ke-13 itu diisi dengan upacara atau pesta yang dipandang sesat (Al-Qur’an S. 9:37).

Karena waktu ibadah sifatnya lokal, penentuannya yang berdasarkan penampakan hilal memang merupakan cara yang termudah. Masyarakat di suatu tempat cukup memperhatikan kapan hilal teramati untuk menentukan saat ibadah puasa Ramadan, beridul fitri, beridul adha, atau saat berhaji (khusus di daerah sekitar Mekkah). Seandainya cuaca buruk, Nabi Muhammad SAW memberikan petunjuk praktis: genapkan bulan sekarang menjadi 30 hari, karena tidak mungkin bulan qamariyah lebih dari 30 hari. Tentunya ini menuntut pengamatan hilal yang lalu. Karena sifatnya lokal, apapun keputusan di suatu daerah sah berlaku untuk daerah itu. Daerah lain mungkin saja berbeda.

Penentuan awal bulan yang saat ini sering membingungkan hanyalah merupakan akibat perkembangan zaman. Faktor-faktor penyebab kerumitan itu antara lain:

1.tuntutan penyeragam waktu ibadah untuk daerah yang luas, bahkan ada pula yang menuntut penyeragaman yang sifatnya mendunia tanpa menyadari bahwa banyak kendala yang dengan teknologi maju saat ini belum bisa teratasi;

2.ru’yatul hilal (pengamatan hilal) saat ini tidak murni lagi, hisab secara tak sadar telah mendominasi sebagian besar pengamat — padahal hisab (perhitungan) yang mereka gunakan banyak yang tidak akurat;

3.tidak banyak lagi orang yang mengenali hilal, terutama di kota-kota besar, sehingga kemungkinan keliru mengidentifikasi objek lain sebagai hilal lebih mungkin terjadi;

4.polusi atmosfer (debu dan cahaya) mempersulit pengamatan hilal yang redup.

Kerumitan itu sebenarnya bisa sedikit di atasi dengan memanfaatkan data posisi hilal yang akurat dari almanak astronomi mutakhir (hasil penyempurnaan almanak astronomi sepanjang sejarah perkembangannya). Akurasi almanak astronomi dalam penentuan ijtima’ (astronomical new moon) kini telah teruji pada ketepatan perhitungan waktu gerhana matahari yang pada hakikatnya adalah ijtima’ teramati (observable new moon). Setidaknya informasi posisi hilal yang akurat bisa mencegah terjadinya kesalahan identifikasi hilal. Lazimnya, tidak mungkin terjadi hilal teramati mendahului saat yang peroleh dari hisab. Pengamatan hilal mungkin saja gagal karena faktor cuaca dan halangan atmosfer lainnya sehingga bisa terjadi hilal teramati sehari lebih lambat daripada waktu menurut hisab.

Kalau data almanak astronomi tentang posisi hilal sudah bisa diterima secara luas, satu langkah lagi dalam mengatasi kerumitan itu: menentukan kriteria visibilitas hilal. Inilah bagian tersulit, tetapi telah dimulai oleh IICP (International Islamic Calendar Programme) di Malaysia yang dipimpin Mohammad Ilyas. Kriteria visibilitas hilal yang dirumuskan IICP (dengan sedikit modifikasi: bukan nilai rata-rata yang diambil sebagai kriteria, tetapi nilai minimalnya) terbagi menjadi tiga jenis, tergantung aspek yang ditinjau.

1.Kriteria posisi bulan dan matahari: ketinggian minimal hilal dapat teramati adalah 4 derajat bila beda azimut bulan – matahari lebih dari 45 derajat, bila beda azimutnya 0 derajat perlu ketinggian minimal 10,5 derajat.

2.Kriteria beda waktu terbenam: minimal bulan 40 menit lebih lambat terbenam daripada matahari dan memerlukan beda waktu lebih besar untuk daerah di lintang tinggi, terutama pada musim dingin.

3.Kriteria umur bulan (dihitung sejak ijtima’): hilal harus berumur lebih dari 16 jam bagi pengamat di daerah tropik dan berumur lebih dari 20 jam bagi pengamat di lintang tinggi.

Kriteria IICP sebenarnya belum final, mungkin berubah dengan adanya lebih banyak data. Visibilitas berdasarkan umur bulan dan beda posisi nampaknya kuat dipengaruhi jarak bulan-bumi dan posisi lintang ekliptika bulan, bukan hanya faktor geografis. Rekor pengamatan hilal termuda bisa dijadikan bukti kelemahan kriteria beda posisi dan umur hilal. Rekor keberhasilan pengamatan hilal termuda tercatat pada umur hilal 13 jam 24 menit yang teramati pada tanggal 5 Mei 1989 (6 Mei 01:10 UT) di Houston, Amerika Serikat, mengalahkan rekor sebelumnya 14 jam 30 menit pada tanggal 2 Mei 1916 di Inggris. Hasil ini jauh di bawah kriteria umur bulan. Menurut kriteria umur bulan, pada bulan Mei umur minimal kenampakan hilal dari daerah lintang tinggi: 26 jam (daerah lintang lebih dari 50 derajat) dan 16 jam (daerah lintang 30 derajat). Beda azimut dan ketinggiannya juga di bawah ambang batas kriteria posisi. Dua pengamatan awal Mei itu memang saat terbaik untuk mengamati hilal termuda karena bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi (perigee), ditambah lagi dengan lintang ekliptika bulan mendekati maksimum (sekitar 5o). Pada tanggal 2 Mei 1916 bulan berada pada posisi lintang ekliptika +4o48′ dan pada tanggal 5 Mei 1989 pada posisi +4o58′. Beda waktu terbenam matahari-bulan kedua kasus tersebut memenuhi kriteria beda waktu terbenam: pada tanggal 2 Mei 1916 beda waktu terbenam adalah 57 menit (sesuai kriteria untuk lintang lebih dari 50o) dan pada tanggal 5 Mei 1989 beda waktunya 41 menit (sesuai dengan kriteria untuk lintang 30o).

Dengan membandingkan ketiga kriteria itu, yang terbaik adalah kriteria beda waktu terbenam. Faktor posisi bulan – matahari dan keadaan atmosfer sudah tercakup di dalamnya. Variasi musiman pada kriteria tersebut kecil untuk daerah tropik dan makin membesar sejalan dengan pertambahan lintang tempat. Kriteria beda waktu terbenam sangat dominan dipengaruhi oleh keadaan atmosfer setempat. Variasi musiman untuk daerah lintang tinggi sangat dipengaruhi oleh temperatur, pada musim dingin cenderung kenampakan hilal mensyaratkan beda waktu terbenam yang lebih besar.

Dalam prakteknya kriteria visibilitas hilal belum banyak di pakai, mungkin karena belum memasyarakat. Kriteria utama yang banyak di pakai adalah bulan sudah di atas ufuk yang pada hakikatnya syarat wujudul hilal. Menurut data Badan Hisab dan Ru’yat Departemen Agama RI hilal dengan ketinggian 2 derajat berhasil di ru’yat. Itu berarti beda waktu terbenam hanya sekitar 8 menit, jauh di bawah ambang batas kriteria visibilitas hilal.

GARIS TANGGAL QAMARIYAH

Kriteria visibilitas hilal berperan besar dalam menentukan mungkin tidaknya hilal diamati di suatu tempat. Tetapi, akibat globalisasi informasi perbedaan hasil ru’yatul hilal di berbagai tempat di dunia dapat segera tersebar ke seluruh dunia. Tanpa adanya penjelasan sebab-sebab perbedaan itu, masyarakat akan bingung. Salah satu cara memberikan penjelasan kemungkinan perbedaan ru’yatul hilal di berbagai tempat adalah dengan membuat kalender global yang memuat garis tanggal qamariyah. Dengan garis tanggal itu akan terlihat bahwa daerah di sebelah barat garis itu akan lebih awal melihat hilal daripada yang di sebelah timurnya. Karenanya, seperti juga diserukan dalam Resolusi Penang tentang kalender Islam internasional 1988, secara umum suatu negara tidak boleh mengacu hasil pengamatan hilal pada negara-negara di sebelah baratnya. Misalnya, Indonesia tidak boleh mengacu kepada Arab Saudi.

Garis tanggal qamariyah sifatnya tidak tetap seperti garis tanggal internasional (pada bujur 180o), tetapi berubah sesuai dengan perubahan kemungkinan penampakan hilal. Garis tanggal yang sederhana dibuat dengan menghitung pada daerah mana saja matahari dan bulan terbenam bersamaan. Ini merupakan syarat minimal ru’yatul hilal, yaitu bulan sudah wujud di ufuk barat. Di sebelah timur garis itu hilal tidak mungkin teramati karena telah berada di bawah ufuk ketika matahari terbenam. Makin ke arah barat kemungkinan ru’yatul hilal semakin besar. Sebagai contoh, garis tanggal Dzulhijjah 1415 melintas lautan Atlantik. Wilayah di sebelah timur garis itu tidak mungkin mengamati hilal pada tanggal 29 April. Bulan berada di atas ufuk di wilayah Eropa, Afrika, Asia, dan Australia baru pada tanggal 30 April. Sehingga dengan kriteria wujudul hilal tersebut tanggal 1 Dzulhijjah jatuh pada tanggal 1 Mei, wukuf di Arafah tanggal 9 Mei, dan Idul Adha pada tanggal 10 Mei 1995. Garis tanggal seperti ini yang digunakan banyak ahli di Indonesia.

Bila memasukkan kriteria visibilitas hilal, yaitu beda waktu terbenam matahari dan bulan yang tergantung musim dan lintang tempat, garis tanggal itu lebih bergeser sekitar 20 jam ke arah barat. Garis tanggal Dzulhijjah 1415 yang dipublikasikan IICP menyatakan bahwa 1 Dzulhijjah untuk wilayah Eropa, Afrika Timur, Asia, dan Australia jatuh pada tanggal 2 Mei 1995. Maka wukuf di Arafah mestinya jatuh pada tanggal 10 Mei dan Idul Adha di wilayah itu baru dirayakan tanggal 11 Mei 1995. Hasilnya satu hari lebih lambat dari pada kriteria hisab yang biasa dilakukan di Indonesia.

HISAB DAN RU’YAT DI INDONESIA

Kriteria visibilitas hilal belum populer digunakan baik dalam hisab lokal (informasi posisi bulan dan matahari dari suatu tempat) maupun hisab global (disajikan dalam bentuk garis tanggal). Salah satu sebabnya mungkin karena menghasilkan hari pelaksanaan ibadah puasa, hari raya, dan wukuf satu hari lebih lambat daripada kebiasaan hisab-ru’yat selama ini, seperti dicontohkan di atas. Secara sadar atau tak sadar masyarakat terpengaruh dengan apa yang tertulis di kalender hijriyah yang bersumber dari ahli hisab Departemen Agama RI atau lembaga Islam lainnya. Hisab yang mereka lakukan sama sekali belum mengacu pada kriteria visibilitas hilal atau setidaknya kriteria yang digunakan belum teruji secara ilmiah. Dalam praktiknya, hasil hisab yang menyatakan bulan sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian tertentu, tanpa laporan ru’yatul hilal, sudah cukup dijadikan dasar pengambilan keputusan, seperti kasus penentuan 1 Ramadan 1407/1987.

Diakui atau pun tidak, hasil ru’yatul hilal sangat kuat dipengaruhi oleh hisab atau kalender hijriyah yang dijadikan acuannya. Sayangnya — seperti sering terjadi, termasuk juga di Arab Saudi — hasil hisab/kalender yang dijadikan acuan itu kadang-kadang tidak sesuai dengan data astronomi yang mengakibatkan adanya pengakuan ru’yatul hilal walaupun menurut almanak astronomi mestinya bulan sudah berada di bawah ufuk ketika matahari terbenam. Untuk pengakuan ru’yatul hilal padahal bulan sudah di bawah ufuk, Departemen Agama RI sudah berani langsung menolaknya. Tetapi terhadap pengakuan ru’yatul hilal yang di bawah ambang batas kriteria visibilitas hilal, nampaknya belum ditangani secara serius. Tampaknya kriteria yang selama ini digunakan hanyalah: menurut hisab hilal telah berada di atas ufuk dengan ketinggian lebih dari 2o.

Sahkah kriteria itu untuk penentuan waktu ibadah? Menurut kaidah hukum, sahnya suatu ibadah cukup atas dasar dugaan kuat (dzhan). Pembatasnya hanya satu: tinggalkan yang meragukan, misalnya puasa pada hari yang masih diragukan masuk awal Ramadan atau belum (yaumusy-syak) dilarang menurut syariah. Para ahli hisab dan ru’yat di Indonesia merasa yakin bahwa dengan ketinggian hilal 2o sudah cukup untuk diru’yat. Mungkin ini berdasarkan laporan ru’yatul hilal yang telah lalu yang disahkan Departemen Agama RI. Barangkali yang memegang “rekor” pengamat hilal termuda adalah kelompok Cakung yang mengaku berhasil mengamati hilal yang hanya 2o tingginya (menurut hisab mereka). Pada pengamatan hilal awal Ramadan 1415/1995 lalu, ada beberapa ahli ru’yat yang melaporkan melihat hilal padahal ketinggian hilal rata-rata di seluruh Indonesia hanya sekitar 4o dan beda waktu terbenam bulan – matahari rata-rata hanya 15 menit. Karena mereka yakin telah melihat hilal, walaupun itu masih di bawah ambang batas visibilitas hilal, puasa mulai 1 Maret 1995 adalah sah.

Tetapi sahihkah laporan ru’yatul hilal itu? Ini masalah lain. Laporan ru’yatul hilal yang memungkinkan pengujian untuk keperluan penelitian tampaknya belum mendapat perhatian. Sebenarnya sederhana: pengamat hilal berbekal jam, dapat menggunakan jari sebagai alat ukur ketinggian hilal, dan dapat menggambarkan secara jelas arah gerak hilal mulai tampak sampai menghilang, seperti yang dilakukan pengamat hilal yang berhasil membuat rekor melihat hilal termuda (lihat cuplikan laporannya di bawah). Beberapa pengamat hilal hanya berbekal jam dan ilmu hisabnya. Pada tahun 1992 ada pengamat NU yang mengaku melihat hilal selama 11 menit lalu menyatakan ketinggian hilal yang teramati itu 2,8o, padahal menurut data astronomi mestinya bulan sudah di bawah ufuk. Ketinggian itu bukan hasil pengukuran, melainkan hasil perhitungan sederhana 11 menit/24 jam x 360o. Pengamat hilal yang demikian berbekal hisab (yang mungkin keliru) untuk memastikan adanya hilal, memperhatikan lamanya objek “hilal” teramati, kemudian menghitung dengan ilmu hisabnya ketinggian hilalnya, tanpa memperhatikan arah gerakan “hilal” itu dan mengukur langsung ketinggiannya. Seandainya laporan hilal di bawah ambang batas kriteria visibilitas hilal dapat dipertanggungjawabkan, maka data itu sangat berguna untuk mengoreksi kriteria itu.

LAPORAN RU’YATUL HILAL

Sebagai gambaran bagaimana laporan ru’yatul hilal yang dianggap bisa dipertanggungjawabkan di sini akan dicuplikkan sebagian laporan dari keluarga Mohammad Iqbal Badat dan Saleh Al-Thani. Mereka dianggap sebagai pemegang rekor melihat hilal termuda (13 jam 24 menit) yang teramati pada tanggal 5 Mei 1989 dari Amerika. Hilal yang teramati itu adalah hilal bulan syawal, tanda datangnya Idul Fitri 1409/1989.

Berikut adalah cuplikan laporan keluarga Mohammad Iqbal Badat:

“Saya bersama keluarga (paman, saudara-saudara saya, dan istri saya) sedang bersiap salat maghrib 5 Mei 1989 di Houston, Texas. Matahari terbenam kira-kira pukul 20:04 (waktu setempat). Kami baru saja berbuka dan berkumpul di halaman belakang bersiap untuk salat maghrib. Sebelum salat saya menengok ke belakang untuk melihat kalau-kalau hilal terlihat. Dari Amerika Serikat arah kiblat hampir berlawanan dengan arah matahari terbenam. Jam menunjukkan pukul 20:16 ketika saya melihat hilal. Karena salat telah dimulai saya segera mengikuti salat dahulu. Salat dan berdua memakan waktu sekitar 5 menit. Hilal masih terlihat sampai sekitar pukul 20:30. Hilal seperti benang putih melengkung. Kemudian kami memastikannya dengan binokuler. Hilal berada sedikit di atas cahaya merah senja. Bentuk lengkungannya dapat digambarkan dengan lingkaran jam khayal di ufuk barat: lengkungannya mulai dari posisi jam (angka) 2 sampai lebih sedikit dari jam 8. Tinggi hilal kira-kira tiga tebal jari ketika pertama kali terlihat dan ketika menghilang tingginya kira-kira setebal jari. Yang berhasil mengamati adalah: saudara saya Mohammed Hanif (29 tahun), Abdul Quadir (25), dan Fatimah (24), serta istri saya Fahmida (24), dan saya sendiri (31). Ada juga yang tidak berhasil melihatnya: ayah saya Mohammed Yakub (59), teman saya Mohammed Ibrahim (26), dan paman. Ayah saya mulanya tidak percaya sebelum diyakinkan oleh kesaksian istri dan saudara perempuan saya. Kemudian segera kami laporkan kepada ISNA (Islamic Society of North America).”

Laporan itu diperkuat dengan laporan kelompok lain yang disampaikan oleh Saleh Al-Thani. Berikut ini cuplikannya:

“Saya berada di masjid Houston barat daya pada hari Jum’at petan 5 Mei 1989 bersama dua teman: Nasir Al-Qaouq dan Aymen Qadorah. Kami berada di daerah kosong dengan pandangan jelas ke arah ufuk barat. Matahari terbenam sekitar pukul 20:02. Setelah berbuka kami berusaha mencari hilal karena hari itu atau besok hilal diharapkan akan terlihat. Pukul 20:10 kami bertiga berhasil melihatnya selama empat menit. Kemudian kami berjamaah salat maghrib. Seusai salat kami mencoba lagi mencarinya sejak 20:25, tetapi kami tak melihatnya lagi. Bila digambarkan pada lingkaran jam imajiner di ufuk barat hilal itu melengkung daru dari angka 2 sampai angka 7. Hilal itu tebal pada posisi angka 7 dan tipis pada ujung lainnya. Hilal berada di atas ufuk kira-kira 8 kali tebal jari bila tangan dilencangkan ke depan.”

Dua laporan independen itu menunjukkan bentuk hilal yang sama. Hilal sebenarnya sangat sulit membentuk setengah lingkaran. Berdasarkan analisis posisinya, semestinya pusat lengkungan hilal ada pada sekitar angka 7 pada lingkaran jam imajiner. Itu terbukti pada laporan kedua yang menyatakan pada posisi itu hilal tampak tebal. Cahaya yang memanjang melengkung di kanannya belum diketahui penyebabnya, mungkin juga efek atmosfer bumi. Tentang ketinggian yang jauh lebih tinggi dari hasil hisab, disebabkan oleh ketidakakuratan menentukan garis ufuk. Yang jelas, pengamat hilal ini murni melaporkan apa yang terlihat seadanya, tanpa berusaha mereka-reka data. Walau pun ada beberapa hal yang tidak akurat, tetapi dari segi astronomi laporan mereka bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

PENUTUP

Masyarakat awam sangat percaya dengan kelender hijriyah yang beredar di pasaran yang bersumber dari hitungan para ahli hisab Departemen Agama RI atau lembaga Islam yang mempunyai badan hisab. Sedangkan para ahli hisab (dan juga para ahli ru’yat) sangat terpengaruh pula dengan pegangan ilmu hisab dan data yang dimilikinya. Bila ada informasi yang berbeda daripada apa yang dipercayai atau diyakininya, mereka pasti menjadi ragu.

Jadwal salat yang sepenuhnya berlandaskan hisab sudah diterima masyarakat, walaupun ada beberapa perbedaan definisi. Masalah pelik tentang kalender Islam sebenarnya juga mudah diselesaikan. Dari mana mesti memulainya? Tuntaskan akar masalahnya: acuan ilmu hisab para ahli hisabnnya diseragamkan. Bila semua berlapang dada untuk berdiskusi mencari acuan yang paling sahih di antara data dan metode yang kini ada di masyarakat kemudian menjadikannya sebagai acuan baku yang diikuti semua, maka jalan mengurai kerumitan telah terbuka. Almanak astronomi kini sudah diakui keakuratannya dalam menentukan berbagai fenomena bulan – matahari, terbukti dari ketepatannya dalam menentukan saat gerhana matahari dan bulan. Bila semua ahli hisab telah mengacu pada almanak astronomi, satu langkah lagi adalah menyepakati kriteria visibilitas hilal. Kriteria IICP yang memberikan syarat batas visibilitas hilal: beda waktu terbenam matahari dan bulan lebih dari 40 menit di daerah tropik sangat baik diterapkan di Indonesia dan negara-negara ASEAN. Bila semua ahli hisab dan ru’yat, khususnya Departeman Agama RI, mulai memasyarakatkan kriteria hisab berdasar kriteria visibilitas hilal dan mempublikasikan hasilnya di kalender umum, akhirnya masyarakat akan terbiasa juga.

Kalender Hijriyah: TUNTUTAN PENYERAGAMAN MENGUBUR KESEDERHANAANNYA

T. Djamaluddin, Peneliti  Matahari dan  Antariksa, LAPAN, Bandung

(Dimuat di Republika, 10 Juni 1994)

Alhamdulillah Idul Adha tahun 1414 H  lalu di Indonesia dilaksakanan pada hari yang sama dengan di Arab Saudi, Sabtu 21 Mei 1994.  Kesamaan hari dan tanggal seperti itu secara rancu dianggap sebagai wujud keseragaman kalender Islam, suatu hal yang dituntut banyak orang. Menurut hisab astronomi,  kesamaan itu beralasan. Pada tanggal 11 Mei di seluruh Asia, termasuk Arab Saudi dan Indonesia, bulan terbenam lebih lambat dari pada  matahari. Terbenamnya bulan yang lebih lambat dari  pada matahari merupakan salah satu syarat pokok agar hilal bisa teramati.

Apakah keseragaman seperti itu dapat terus dipertahankan untuk tahun-tahun mendatang  dan dapatkah keseragaman itu juga diterapkan untuk penentuan awal Ramadan dan Idul Fitri? Jawabnya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”, karena makna “keseragaman” ternyata masih rancu.

Menyambut datangnya tahun baru 1415 H, saya ingin mengulas kalender Hijriyah secara astronomi dengan landasan syariat dan menjelaskan masalah penyeragamannya yang dirancukan masyarakat. Masalah penyeragaman saat ini menjadikan kesederhanaan  kalender Hijriyah terkubur. Paling tidak, masyarakat sering dibuat bingung dan merasa penentuan kalender tidak sederhana lagi.

KESEDERHANAANNYA

Kalender Islam ditentukan berdasarkan peredaran bulan. Karena itu dikenal pula sebagai kalender qomariyah (bulan). Penamaan kalender Hijriyah mengacu pada pengambilan peristiwa hijrahnya Nabi s.a. w. dari Mekkah ke Madinah sebagai saat awal penghitungan tahun dalam kalender Islam.

Kalender qomariyah merupakan kalender yang paling sederhana, yang mudah dibaca di alam. Awal bulan ditandai oleh penampakan hilal (bulan sabit) sesudah matahari terbenam (maghrib). Karena itu, awal hari dalam Islam bermula dari saat maghrib, bukan tengah malam seperti dalam kalender Masehi yang umum yang kita pakai saat ini.  Bila hilal terlihat, itulah tanggal satu. Tanggal 7 ditandai dengan bulan setelah bulatan di awal malam. Bulan purnama menunjukkan malam itu tanggal 14. Bulan setengah bulatan di akhir malam menandakan itu tanggal 21. Memang demikian sederhananya membaca tanggal dalam kalender hijriyah, bisa langsung dengan memperhatikan bentuk-bentuk bulan.

Kerena kesederhanaan ini, Rasulullah s.a. w. memberikan petunjuk agar penentuan awal puasa Ramadan dan Idul Fitri  dilakukan dengan memperhatikan hilal. Bila hilal terlihat di akhir Sya’ban, itulah pertanda masuknya bulan Ramadan. Bila hilal tampak di akhir Ramadan, itulah petunjuk datangnya Idul Fitri..  Bagaimana  bila cuaca buruk,  tidak memungkinkan pengamatan hilal?

Rasulullah s. a. w. berpesan agar melakukan “isti’mal” (menggenapkan bulan yang berjalan menjadi 30 hari) bila langit  mendung. Cara ini adalah cara yang paling aman dan sederhana, karena tidak mungkin jumlah hari dalam satu bulan melebihi 30 hari. Tetapi dalam hadits sahih lainnya disebutkan pula untuk memperkirakan (“faqdurulahu”). Sebagian besar ulama menafsirkan makna “faqdurulahu” itu sebagai “isti’mal”.  Ini dapat dimengerti, mengingat cara “isti’mal” merupakan cara yang selalu dipakai oleh Nabi, para sahabat, dan generasi awal ummat Islam dalam menyelesaikan masalah pengamatan hilal yang terhalang cuaca buruk.

Alternatif lain yang akurat dalam penentuan awal bulan qomariyah belum berkembang pada masa awal sejarah Islam. Hal ini beralasan. Ilmu hisab astronomi belum berkembang dikalangan ummat Islam waktu itu. Hal ini dikemukakan juga oleh Rasulullah s. a. w. dalam sebuah hadits sahih riwayat Bukhari, “Sesungguhnya kami ini ummat yang ummi, yang tak pandai menulis dan menghisab. Bulan itu kadang-kadang 29 hari, kadang-kadang 30 hari.”  Pengetahuan empirik bahwa satu bulan itu hanya 29 atau 30 hari, tidak mungkin kurang atau lebih dari itu, memang sudah diketahui. Tetapi hisab yang cermat untuk menentukan apakah bulan ini 29 atau 30 hari belum diketahui. Karenanya, cara “isti’mal” dengan menggenapkan bulan yang berjalan menjadi 30 hari adalah cara yang terbaik.

Setelah ilmu hisab astronomi berkembang di kalangan ummat Islam, mulailah alternatif lain penentuan awal bulan qomariyah diperdebatkan, khususnya bila pengamat hilal (ru’yatul hilal) tak mungkin dilakukan karena halangan cuaca buruk. Hadits sahih yang menyatakan “faqdurulahu” (maka perkirakanlah) memberikan isyarat adanya alternatif lain. Satu-satunya alternatif selain cara “isti’mal” adalah hisab astronomi yang teruji kecermatannya.

Adanya alternatif ini menunjukkan sisi lain kesederhanaan kalender hijriyah. Kalender hijriyah bisa ditentukan dengan cara observasi (ru’yat), dapat pula dengan cara hisab (perhitungan astronomi) yang cermat.  Perdebatan soal sahih tidaknya hisab dalam penentuan awal bulan qomariyah merupakan perdebatan lama, sejak awal perkembangan ilmu hisab sampai saat ini. Hal itu tak akan diulas dalam tulisan pendek ini. Cukuplah di sini saya kutip pendapat kompromis dari ulama besar dari kalangan madzhab Syafi’i, Abul Abbas Ahmad bin Umar bin Suraij (wafat 306 H, sekitar 918 M) yang juga murid Imam Abu Dawud (penyusun kitab hadits “Sunan Abu Dawud”). Abul Abbas Ahmad berpendapat bahwa “isti’mal” berlaku bagi orang awam, yang tak faham ilmu hisab, sedangkan perintah “faqdurulahu” berlaku bagi ahli hisab yang mampu memperkirakan hilal telah muncul atau belum.

Apa yang telah dikemukakan di atas adalah penentuan awal bulan qomariyah yang bersifat lokal dan terbatas. Informasi penampakan hilal di suatu daerah segera diketahui oleh masyarakat di tempat itu dan mungkin sekian banyak orang bisa segera membuktikannya bila diperlukan. Masyarakat secara yakin akan memulai puasa Ramadan atau merayakan Idul Fitri berdasarkan informasi lokal itu.

Namun kini,  globalisasi informasi memaksa kita mendengarkan informasi yang beragam. Di suatu daerah hilal telah teramati, tetapi di daerah lain belum. Masyarakat yang tak faham duduk soalnya akan bingung dalam pengambilan keputusan, mana yang mesti diikuti. Sementara untuk mengolah semua informasi dan menyatukannya dalam satu keputusan yang berlaku mendunia, bukan hal yang mudah. Lancarnya jaringan telekomunikasi dewasa ini bukan jaminan cepatnya pengambilan keputusan.

PENYERAGAMAN

Penyeragaman awal Ramadan dan hari raya kini tetap menjadi dambaan ummat. Namun sayangnya, makna “penyeragaman” kadang tak difahami hakikatnya. Yang tak faham kadang-kadang terlalu menggampangkan masalah penyeragaman, seolah-olah hanya beda waktu antara satu tempat dan tempat lain yang menjadi faktor penentu dalam bedanya penampakan hilal. Bila itu yang terpikirkan, solusinya pun hanya mendasarkan pada masalah beda waktu. Keadaan bumi kita bulat dan adanya batas tanggal Internasional kadang luput dari perhatian.

Hal yang sering kita dengar adalah masalah penyeragaman Idul Adha antara Indonesia dan Arab Saudi.  Solusi alternatif yang biasanya diajukan misalnya, “Bukankah Indonesia barat dan Arab Saudi hanya berbeda lima jam, semestinya Idul Adha bisa dilaksanakan pada hari dan tanggal yang sama.” Apakah sesederhana itu?

Karena penyeragaman kalender adalah hal yang global, kita tidak bisa hanya meninjau kasus di Indonesia. Saya berikan contoh ekstrim  untuk menunjukkan bahwa masalah penyeragaman tidak sesederhana masalah perbedaan waktu.

Andaikan kita menghendaki seluruh dunia beridul adha secara serentak pada tanggal dan hari yang sama, misalnya Sabtu 21 Mei, seperti yang baru lalu. Ambillah contoh kasus Hawaii. Beda waktu antara Hawaii dan Arab Saudi hakikatnya adalah 13 jam pada hari yang sama bila ditelusur pada bola bumi dari Hawaii ke Arab Saudi melalui benua Amerika dan Eropa atau 11 jam tetapi berbeda hari  bila ditelusur pada bola bumi dari Hawaii melewati garis tanggal  dan benua Asia.

Kalau beda waktu yang terpendek yang diambil  (bila solusi yang ditawarkan untuk Indonesia tersebut di atas juga diterapkan dalam contoh kasus ini), apa konsekuensinya?  Mereka harus melakukan salat Ied pada hari Jum’at 20 Mei. Sudah pasti solusi ini malah bikin bingung, karena Jum’at dan Sabtu pasti dianggap tak sama. Itulah konsekuensi adanya garis tanggal Internasional yang kadang luput dari perhatian karena pola pikir kita kadang-kadang terbelenggu olehnya, sadar atau tak sadar. Definisi hari Ahad sampai Sabtu yang kita kenal mengacu pada garis tanggal Internasional itu, yang secara syariat tidak mempunyai landasan kuat.

Sekarang coba kita lepaskan belenggu pola pikir yang mengacu pada garis tanggal Internasional yang secara konvensional ditetapkan pada bujur 180 derajat di lautan Pasifik dan mengacu pada garis tanggal Islam yang mesti kita rumuskan. Seperti disebut di atas, perhitungan hari dalam Islam di mulai sejak terbenamnya matahari, saat dilakukannya ru’yatul hilal (pengamatan hilal). Ini menunjukkan definisi hari yang terkait dengan ru’yatul hilal. Maka sudah selayaknya garis tanggal Islam pun mengacu pada kriteria penampakan hilal itu. Garis itu membatasi daerah yang lebih awal melihat hilal (di sebelah barat garis) dan daerah yang lebih lambat (di sebelah timurnya). Garis ini bukan merupakan garis tetap pada garis bujur tertentu seperti halnya garis tanggal Internasional, melainkan garis yang bergeser sesuai dengan penampakan hilal.

Penyeragaman kalender Islam hanya dapat dilakukan setelah menentukan garis tanggal Islam. Mau tak mau, garis tanggal Islam hanya dapat ditentukan secara hisab yang akurat, tetapi dapat dibuktikan dengan ru’yatul hilal . Semakin jauh ke arah barat dari garis itu, kemungkinan berhasilnya ru’yatul hilal semakin besar. Bila definisi hari Ahad sampai Sabtu  yang mengacu pada garis tanggal Internasional tetap kita gunakan –demi menjaga konsistensi dalam sistem Internasional yang berlaku kini dan yang tercatat dalam sejarah– mestinya kita tidak perlu memusingkan beda hari itu, karena itu bukan hal yang esensial.

Sekedar contoh, andaikan garis tanggal Islam melintasi India  Idul Adha di Arab Saudi terjadi tanggal 10 Februari, maka bila di Indonesia terjadi pada tanggal 11 Februari, perbedaan itu bukan hal yang perlu dirisaukan. Terjadinya perbedaan 10 Februari dan  11 Februari hanya disebabkan oleh garis tanggal Internasional. Bila pola pikir yang terbelenggu garis tanggal Internasional itu kita hilangkan dalam soal penentuan waktu ibadah dan kita hanya mengacu pada garis tanggal Islam, maka kita bisa berkata bahwa penyeragaman yang hakiki bisa terwujud.