NETRALITAS SAINS: Perbedaan Cara Pandang Saintis dan Pakar Filsafat Ilmu

T. Djamaluddin, Peneliti  Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di  Radar Bandung, 10 dan 11 Nov 2003)

Di kolom “Hikmah” Republika 6 Maret 1999 (https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/15/sains/ ) saya mengulas tentang sains (dalam hal ini sains alami – natural science) yang sering disalahartikan dalam hal netralitasnya terhadap sistem nilai. Dalam tulisan pendek tersebut saya menyatakan bahwa dari segi esensinya semua sains sudah Islami. Islamisasi sains sungguh tidak tepat. Tidak ada sains Islam dan sains non-Islam. Yang ada saintis Islam dan saintis non-Islam. Saintisnya yang tidak bebas nilai, tata nilai yang dianutnya tidak akan lepas dari pikirannya yang mungkin muncul dalam pemaparan yang bersifat populer, bukan pada makalah teknis ilmiah. Demi kesahihan argumentasi ilmiahnya, tata nilai harus dilepaskan dalam pemaparan yang bersifat teknis ilmiah karena saintis harus berpijak pada rujukan yang dapat diterima semua orang.

Pada saat yang sama muncul tulisan Freddy P. Zen dan Husin Alatas di IDEA edisi Maret 1999 berjudul “Islamisasi Sains atau Islamisasi Saintis”. Ide pokoknya sama dengan tulisan saya tersebut, bahwa sains itu bebas nilai. Hal penting yang perlu dilakukan adalah Islamisasi saintis.

Secara umum itulah pandangan saintis. Almarhum Prof. Abdus Salam (pemenang Nobel Fisika 1979, Fisikawan Muslim asal Pakistan — yang dianggap kontroversial sebagai pengikut Ahmadiyah) menyatakan secara tegas di dalam pengantarnya untuk buku “Islam and Science : Religious Orthodoxy and the Battle for Rationality” (Hoodbhoy, P. 1992) menyatakan “There is only one universal science, its problems and modalities are international and there is no such thing as Islamic science just as there is no Hindu science, no Jews science, no Confucian science, nor Christian science.”

Tulisan Zen dan Alatas tersebut ditanggapi oleh Herman Soewardi, Guru besar sosiologi dan filsafat ilmu, dalam makalah yang disampaikan di Pusdai. Dengan menggunakan terminologi dari Tarnas, SBS (Sains Barat Sekuler), tulisan tersebut menilai sains tidak netral. Pandangan bahwa sains netral dianggapnya “terbelakang” dan “sudah ketinggalan zaman”. Dilandasi pandangan para pakar filsafat ilmu, pandangan ketidaknetralan sains tampaknya didasarkan pada dampak buruk SBS yang, katanya, berpokok pangkal pada kesalahan (controverted, disaproved). Pandangan seperti itu akhirnya sampai pada kesimpulannya Kegley bahwa sains itu “paradigm-bound phenomenon“, yang berarti tidak mungkin netral.

Saya menilai perbedaan pendapat tentang netralitas sains tersebut bersumber dari sudut pandang yang berbeda. Saintis berangkat dari makna fisis didasari norma-norma profesionalisme yang selalu digelutinya. Para pakar filsafat ilmu berangkat dari makna filosofis yang belum tentu sesuai dengan makna fisisnya. Saintis mengambil kesimpulan dari data-data yang ada dengan menyadari kesalahan-kesalahan (deviasi) yang harus selalu dinyatakan untuk dapat dinilai akurasinya. Pakar filsafat ilmu menggali lebih dalam, mungkin melibatkan juga metafisika, yang di luar lingkup tinjauan sains.

Dengan memodifikasi gambaran komparatif tentang sains oleh Prof. Herman Suwardi, saya membuat dua klasifikasi: Pertama, Sains versi saintis (yang oleh Prof. Herman Suwardi disebut SBS) yang berangkat dari premis-premis empiris. Sains tidak mungkin dibangun dari sumber-sumber non-fisis yang tidak mungkin dikaji ulang oleh saintis lainnya. Betapa pun rendahnya akurasi data empiris tersebut (tergantung perkembangan teknologi observasi dan analisisnya) tidak dapat dikatakan “salah”. Nilai kebenaran sains memang relatif, tergantung bukti-bukti dan argumentasi fisis yang jadi landasannya. Selama belum ada bukti yang menggugurkan suatu teori sains, maka teori itulah yang dianggap benar.

Ke dua, “sains” versi filsafat yang, katanya, seharusnya berangkat dari premis-premis transendental. Karena berangkat dari premis transedental bisa muncul sebutan “sains” Islam, “sains” Kristen, “sains” Yahudi, “sains” Hindu, “sains” Shinto, dan sebagainya. “Sains” seperti ini dibangun dari nilai-nilai kebenaran yang dipandu wahyu atau sumber transedental yang diakui oleh kelompok tersebut. Nilai kebenaran sains versi filsafat ini mutlak bagi yang mengakuinya, tetapi mungkin dianggap salah total bagi yang tidak mengakuinya.

Untuk memperjelas perbedaan sudut pandang tersebut, saya bahas dua contoh kasus yang disebut dalam makalah Prof. Herman Suwardi.

Teori Relativitas

Teori relativitas ada dua: Teori Relativitas Khusus dan Teori Relativitas Umum. Teori khusus menyatakan bahwa masing-masing pengamat yang bergerak seragam (tanpa percepatan) akan menyatakan hasil pengukuran yang berbeda, misalnya tentang panjang, waktu, dan energi. Asumsinya, prinsip relativitas dan kecepatan cahaya yang konstan. Salah satu bukti kebenaran teori ini yang dikenal masyarakat adalah teori kesetaraan massa dan energi, E=mc2, bila ada m massa yang dihilangkan akan muncul energi sebesar E. Teori inilah yang menjadi dasar penggunaan energi nuklir, baik untuk maksud damai maupun untuk maksud merusak.

Teori umum memperluas teori khusus dengan meninjau pengamat yang bergerak dipercepat relatif terhadap lainnya akibat gravitasi. Teori ini memperkenalkan kelengkungan ruangwaktu. Sumber gravitasi besar menyebabkan kelengkungan ruangwaktu yang dalam. Karena kesetaraan massa dan energi (antara lain cahaya), gravitasi bukan hanya mempengaruhi massa tetapi juga cahaya. Cahaya akan dibelokkan mengikuti geometri ruangwaktu di sekitar sumber gravitasi tersebut. Misalnya, cahaya galaksi yang jauh yang melintasi galaksi lain sebagai sumber gravitasi kuat akan dibelokkan sehingga tampak bukan pada posisi sesungguhnya. Fenomena ini juga dikenal sebagai lensa gravitasi, sehingga satu galaksi yang berada jauh di belakang galaksi lain, tampak seperti beberapa galaksi sejenis di sekitar suatu titik sumber gravitasi.

Teori sains seperti itu, menurut saintis, netral, bebas nilai. Teori tersebut bebas dibuktikan oleh siapa pun. Teori tersebut makin kuat posisinya karena semakin banyak bukti yang mendukungnya. Hukum alam yang diformulasi teori tersebut bukan buatan manusia, tetapi hukum Allah (sunnatullah). Einstein dan para saintis lainnya hanya memformulasikannya. Hukum Allah itu telah ada bersama dengan alam yang diciptakan-Nya. Siapa pun yang memformulasikannya dengan benar akan menghasilkan teori yang sejalan.

Bukti bebas nilainya sains dapat juga ditunjukkan dari lahirnya teori penyatuan gaya lemah dan gaya elektromagnetik yang dirumuskan secara independen oleh Abdus Salam (seorang Muslim) dan Steven Weinberg (seorang ateis). Dua orang yang berbeda sistem nilainya dapat menghasilkan teori yang sama. Mungkin ada motivasi ketauhidan pada diri Abdus Salam, bahwa Alam yang diciptakan oleh Allah yang esa hukum-hukumnya mempunyai keterkaitan yang dapat dipersatukan dalam satu teori besar (Grand Unified Theories — GUTs). Tetapi motivasi dan argumentasi ketauhidan seperti itu tidak akan muncul secara formal dalam publikasi saintifik, karena belum tentu dapat diterima semua orang.

Teori relativitas pun tersebut juga dapat dikatakan Islami. Artinya, mengikuti hukum Allah (Islam dalam arti yang umum berarti berserah diri). Teori yang mengungkapkan bagaimana alam tunduk pada hukum Allah sudah pasti berarti juga mengikuti hukum Allah.

Hukum gravitasi Newton telah mengungkapkan hukum Allah yang mengatur gerakan-gerakan planet mengitari matahari. Orang kemudian melihat suatu keanehan dengan orbit planet Merkurius yang orbitnya selalu bergesar. Bila orang menganggap hukum Newton sebagai formulasi hukum Allah yang sempurna, boleh menyatakan bahwa Merkurius “membangkang” dari hukum Allah. Ternyata kesan “pembangkangan” planet Merkurius disebabkan karena keterbatasan formulasi teori Newton. Karena alam semestinya taat pada hukum Allah sesuai dengan janji ketika diciptakan (Q. S. 41:11), mestinya ada formulasi yang lebih baik yang bisa menjelaskan bahwa planet Merkurius tidak “membangkang” hukum Allah. Teori relativitas menjelaskan bahwa karena posisi Merkurius dekat dengan matahari, ada tambahan gaya dorong yang menyebabkan orbitnya berubah. (Ini contoh pemaparan saintis Islam tentang teori sains yang bebas nilai itu).

Itulah esensi teori sains. Menjelaskan hukum Allah sebatas pengetahuan manusia karena keterbatasan ilmu manusia (Q. S. 17:85). Tidak ada seorang saintis pun yang dapat mengklaim suatu teori sains yang paling benar secara mutlak. Ungkapan yang bisa dinyatakan adalah “bukti-bukti pengamatan saat ini membuktikan teori inilah yang paling kuat”, artinya bisa saja suatu saat ada bukti lain yang menggugurkannya.

Dalam sains tidak masalah “…create more problems than they solve” (mengutip ungkapan tentang SBS dalam makalah Prof. Herman Suwardi), tentu dalam konteks problem saintifik. Karena, saintis selalu merasa tertantang dengan problem-problem baru. Banyak orang tidak menyangka bahwa sebenarnya sebagian besar waktu saintis digunakan untuk merencanakan cara memperoleh data baru untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saintifik terbaru.

Dalam tinjauan filsafat ilmu (mengutip makalah Prof. Herman Suwardi), teori relativitas dipandang makna filosofisnya bahwa ada banyak alternatif untuk menampakkan kebenaran dan kita tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar, atau mana yang mendekati kenyataan. Karena itu orang tidak mungkin tahu (“know”) tentang alam. Maka, mengutip Tarnas, realitas atau “scientific truth” sekarang menjadi kabur. Seseorang tidak mungkin mempunyai akses rasional pada kebenaran universal. Observasi merupakan titik lemah dari sains karena obyektivitas observasi tidak mungkin. Karena semua orang memandang segala hal yang ada di alam empirik ini dengan mata yang dilapisi oleh “lensa” dan setiap orang memiliki lensanya sendiri. Sehingga sains dianggapnya sebagai fenomena yang terikat pada paradigma. Karenanya, beralasan bila dengan cara pandang demikian dan menghendaki kebenaran hakiki (hal yang lazim dalam filsafat) sampai pada kesimpulan “sains” tidak netral. Memang, mengkaji secara mendalam mencari kebenaran universal yang hakiki mau tidak mau akan bersentuhan dengan sistem nilai yang dianut dalam kajian tersebut.

Sebenarnya, mencari kebenaran hakiki bukan lagi ruang lingkup kajian sains. Karena sains tidak mungkin sejauh itu. Sains berkepentingan pada kebenaran saintifik berdasarkan bukti-bukti yang diakui menurut kaidah-kaidah ilmiah. Diharapkan kebenaran saitifik tersebut mendekati kebenaran hakiki, tetapi tak seorang saintis pun berhak mengklaim itulah kebenaran hakiki. Jadi, definisi “sains” yang disebut tidak netral oleh pakar filsafat ilmu pasti bukan sains yang dimaksud oleh para saintis.

Kerusakan Lapisan Ozon

Dampak buruk perkembangan sains dan teknologi sering dijadikan legitimasi bahwa sains tidak netral dan tidak Islami. Sains yang berdampak buruk itu diasosiasikan sebagai sains barat sekuler (SBS). Sebagai alternatifnya ditawarkan sains Islam yang dipandu wahyu yang semestinya tidak akan berdampak buruk. Karena Islam dijanjikan Allah sebagai rahmat bagi alam semesta.

Ada yang rancu di sini. Antara sains dan dampak dari sains. Dampak dari sains (dan teknologi) sudah melibatkan penggunanya (manusia) yang di luar lingkup kajian sains alami. Dalam hal ini, sistem nilai bukan berpengaruh pada sains, tetapi pada perilaku manusia penggunanya. Sains itu ibarat pisau. Netral. Tidak ada spesifikasi pisau Islam, pisau Kristen, pisau tukang sayur, atau pisau tukang daging. Dampak pisau bisa negatif bila digunakan untuk merusak atau membunuh. Tetapi bisa juga positif.

Sains dihadapkan pada masalah kerusakan lapisan ozon. Satelit mendeteksi lapisan ozon di atas antartika yang menipis yang dikenal sebagai lubang ozon. Sains mengkaji sebab-sebabnya. Ada sebab kosmogenik (bersumber dari alam), antara lain variasi akibat aktivitas matahari. Ada sebab antropogenik (bersumber dari aktivitas manusia). Sains juga akhirnya menemukan sumber antropogenik itu salah satunya CFC (Chlor Fluoro Carbon) atau freon yang banyak digunakan sebagai media pendingin kulkas dan AC. Kini sains menemukan bahan alternatif yang tidak merusak ozon.

Dapatkah sains dipersalahkan dan dijuluki sains barat sekuler yang merusak? Kebetulan yang menemukan freon adalah saintis non-Muslim. Karena sains bersifat universal, sebenarnya mungkin juga saintis Muslim yang menemukannya. Bila demikian yang terjadi, bolehkah pada awal penemuannya bahan yang sangat berguna dalam proses pendinginan diklaim sebagai bagian dari hasil sains Islam, sains Barat, atau lainnya? Karena keterbatasan ilmu manusia, tidak semua dampak dapat diprakirakan. Ketika kini diketahui dampak buruknya, tidaklah adil untuk melemparkan tuduhan bahwa itu produk sains barat sekuler. Bisa jadi, bila dulu yang menemukannya seorang Muslim dan diklaim sebagai hasil sains Islam, maka sains Islam yang akan dihujat.

Mungkinkah  Mewujudkan Sains Islam?

Para saintis segera menjawab pertanyaan seperti itu, “Tidak mungkin mewujudkan sesuatu yang tidak ada!”. Karena sains bersifat universal dan bebas nilai, tidak ada sains Islam. Tetapi bagaimana bila diujicobakan dengan usulan menjelmakan ilmu tauhidullah dengan mengganti premis-premis empiris yang sembarang dengan premis-premis transendental?

Pada awal 1980-an Pakistan dibawah kepemimpinan Zia ul Haq yang mencanangkan Islamisasi di segala bidang sudah mencoba mengkaji penciptaan sains Islam. Berdasarkan premis transendental dalam ayat-ayat Al-Quran bahwa jin terbuat dari api tanpa asap, pakar energi ada yang menawarkan energi alternatif: menangkap jin sebagai sumber energi yang gratis. Ada yang mengkaji secara kimia, jin kemungkinan besar terbuat dari gas metan dan hidrokarbon jenuh sehingga bila terbakar tidak mengeluarkan asap. Tetapi tidak dijelaskan bagaimana merealisasikannya. Itulah contoh upaya menjelmakan sains Islam yang dinilai para saintis tidak realistis dan memalukan (Hoodbhooy, 1992).

Ada metode yang ditawarkan dengan menggunakan “hati” sebagai penangkap keghaiban untuk memperoleh premis-premis transendental. Karena metodenya bukan metode fisis, maka hasilnya tidak dapat dianggap sebagai sains. Jadi, metode ini tidak mungkin menghasilkan sains Islam. Lagi pula, siapakah yang dapat mengklaim bahwa premis-premis yang digunakan benar-benar bersifat transendental sehingga menjamin “sains” yang dihasilkan bebas dari limbah berbahaya.

Metode menggunakan “hati” serupa itu pernah dicoba oleh seorang mahasiswa ITB aktivis masjid pada awal 1980-an. Dia bercerita kepada saya bahwa ia berkelana untuk mencari ilmu “laduni” (maknanya ilmu dari sisi-Ku, sisi Allah) yang dia percayai bisa mengatasi segala persoalan, termasuk masalah iptek yang rumit. Saya tidak tahu berhasil atau tidak dia mencari ilmu  non-fisik itu. Namun, awal 1990-an saya mendengar dari seorang kerabatnya dia mengalami stres berat. Ini hanya suatu peringatan bila suatu masalah fisis didekati dengan pendekatan non-fisis dengan harapan yang terlalu besar untuk mendapatkan problem-solving yang ideal.

Iklan

MEMAHAMI HALAL DAN HARAM

T.Djamaluddin, Mantan Ketua Divisi Pembinaa Ummat ICMI Orwil Pasifik/Jepang

(Dimuat di Tabloid Hikmah,  Minggu IV Agustus 1994 dan Minggu I September 1994)

Masalah makanan halal merupakan masalah yang sering mengganggu pikiran kita. Di Indonesia, masalah makanan halal mulai hangat dibicarakan lagi, terutama masalah daging sembelihan. Banyak orang yang tak sadar bahwa daging sapi atau ayam mungkin saja jadi haram bila cara menyembelihnya tidak sesuai dengan syariat Islam.

Syukurlah, setelah heboh lemak babi beberapa tahun silam, Majelis Ulama Indonesia telah membentuk lembaga yang meneliti kehalalan makanan dan obat-obatan. Tetapi, tanpa dukungan masyarakat MUI tak akan mampu terus menerus mengontrolnya. Yang terpenting adalah kesadaran para produsen makanan, termasuk rumah potong hewan, dalam penyediaan makanan halal. Tak cukuplah label HALAL, kalau nyatanya masih mengandung unsur haram, baik sebagai bahan campuran maupun karena caranya yang tidak sesuai syariat. Karenanya, pemahaman halal dan haram merupakan hal mutlak bagi setiap Muslim.

Tulisan ini mencoba mengkaji secara ringkas perihal halal dan haram dalam makanan, minuman, dan beberapa hal yang terkait dengannya.

Dasar Hukum Pokok

Untuk memahami masalah halal dan haram, berikut ini dikutipkan beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits sahih yang bisa dijadikan pegangan.

Mereka menanyakan kepadamu apa yang dihalalkan bagi mereka. Katakanlah: “Dihalalkan bagi mereka yang baik‑baik” (Q.S. 5:4).

Dihalalkan bagi mereka yang baik‑baik dan diharamkan yang buruk‑buruk (Q.S. 7:157).

Dan sesungguhnya Allah telah merinci bagimu apa yang diharamkan‑Nya, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya (Q.S. 6:119).

Katakanlah: Tidak aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali bangkai, darah yang mengalir, atau daging babi karena itu semua najis atau karena kefasikan (yaitu) binatang yang disembelih dengan nama selain Allah (Q.S. 6:145).

Allah menghendaki kemudahan bagimu, tidak menghendaki kesukaran (Q.S.2:185)

(…Sesungguhnya Allah telah) mengharamkan beberapa hal maka jangan dilanggar, dan mendiamkan beberapa hal karena kasih sayang‑Nya, bukan karena lupa maka jangan diungkit‑ungkit (H.R. Daruqutni, hasan menurut Nawawi).

Yang halal jelas dan yang haram pun jelas. Antara keduanya ada hal‑hal yang meragukan (subhat) hingga orang‑orang tak tahu apakah itu halal atau haram. Orang yang menjauhinya untuk menjaga agamanya, selamatlah ia. Bila ia melakukannya mungkin ia melakukan hal yang haram, seperti orang yang menggembalakan ternaknya di ‘hima’ (padang khusus milik raja yang dilarang dimasuki ternak lain), sangat mungkin ternaknya tersesat ke sana. Sungguh tiap raja punya ‘hima’ dan ‘hima’ bagi Allah adalah apa yang telah diharamkan‑Nya. (H.R. Bukhari, Muslim, dan lainnya, dengan lafal riwayat Tirmidzi).

Tidak ada kontradiksi

Kalau kita baca lagi Q.S. 6:145 (lihat di atas) kita tahu bahwa hanya ada empat jenis makanan yang diharamkan: bangkai, darah yang mengalir, daging babi, dan apa‑apa yang (disembelihnya) dengan nama selain Allah. Ketiga yang pertama disebut alasannya karena ‘rijsun’ (kotor, najis). Yang terakhir karena ‘fisq’ (fasik, mengotori jiwa).

Benarkah ada larangan lain selain yang empat? Tidak ada, kecuali apa yang dijelaskan oleh Rasulullah (akan dibahas kemudian). Di dalam Q.S. 5:3 dijelaskan : Diharamkan bagimu (1) bangkai, (2) darah, (3) daging babi, (4) daging yang disembelih dengan nama selain Allah, (5) yang dicekik, (6) yang dipukul, (7) yang jatuh, (8) yang ditanduk, (9) yang dimakan binatang buas kecuali yang sempat kamu sembelih, dan (10) yang disembelih untuk berhala. Dan diharamkan pula bagimu mengundi nasib. Semua itu kefasikan. Sedangkan di dalam Q.S. 6:121 dijelaskan: Jangan kamu makan apa‑apa yang (disembelih) tanpa menyebut nama Allah, karena itu kefasikan. Tidak ada kontradiksi di sini dengan pengharaman hanya empat jenis. Yang satu menjelaskan yang lain.

Al-Qur’an S. 5:3 dan Q.S.2:173 mengharamkan ‘darah’. Apakah darah yang tersisa di dalam daging haram? Ternyata tidak haram. Al-Qur’an Surat 6:145 menjelaskan yang haram hanya ‘darah yang mengalir’, darah yang keluar dari daging.

Al-Qur’an surat 5:3 menjelaskan bahwa semuanya ‘fisqun’ (kefasikan, bisa mengotori jiwa), berlaku untuk sepuluh jenis yang diharamkan itu, bukan hanya sembelihan dengan nama selain Allah. Nomor (5) ‑ (9) merinci pengertian ‘bangkai’. Dan nomor (10) menjelaskan contoh ‘disembelih dengan nama selain Allah’.

Lalu bagaimana dengan Q.S. 6:121 yang mengharamkan binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Allah? Nampaknya binatang yang disembelih tanpa baca bismillah statusnya digolongkan sebagai ‘bangkai’ (juga alasannya ‘fisqun’) karena tidak memenuhi aturan penyembelihan dalam Islam, kecuali sembelihan Muslim yang dinyatakan halal oleh Nabi dan sembelihan ahli kitab yang dikecualikan oleh Allah (insya Allah akan dibahas di bagian tentang hukum sembelihan). Para Sahabat biasa menganggap sembelihan orang Majusi sebagai ‘bangkai’.

Pengharaman di dalam hadits

Rasulullah SAW menetapkan suatu hukum halal atau haram tidak semata‑mata mengikuti kehendaknya, tetapi tak lepas dari petunjuk Allah. Pernyataan Rasulullah SAW adalah tafsir yang paling tepat atas suatu hukum di dalam Al‑Qur’an.

Di dalam Al‑Qur’an Allah mengharamkan bangkai tetapi Rasulullah mengecualikan bangkai binatang laut dan belalang dengan haditsnya: Laut itu airnya suci dan mensucikan, dan bangkainya halal (H.R. Bukhari, Tirmidzi dan lainnya).

Dihalalkan kepada kita dua bangkai dan dua darah: bangkai ikan dan bangkai belalang, dan yang tergolong darah: hati dan limfa. (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Daruquthni, Baihaqi, Sayfi’i).

Ini menjelaskan bangkai yang dimaksud di dalam Al‑Qur’an, bangkai yang dimaksudkan tidak mencakup binatang laut dan belalang. Ini juga sesuai dengan Q.S. 5:96: Dihalalkan bagi kamu binatang laut dan makanan yang berasal dari laut sebagai makanan yang lezat…).

Bila didapati larangan Rasulullah SAW seperti di dalam hadits‑hadits, itu pun tidak bertentangan dengan Al‑Qur’an. Larangan Rasulullah SAW bisa dipandang sebagai penjabaran larangan ‘makanan yang buruk‑buruk’ (Q.S.7:157). Misalnya, Rasulullah SAW melarang memakan binatang buas yang bertaring dan burung yang bercakar (yaitu burung buas) (H.R. Muslim).

Sembelihan yang tidak sah

Hanya sembelihan Muslim yang dewasa (aqil baligh) dan ahli kitab yang dianggap sah. Sembelihan oleh orang gila, anak kecil, orang musyrik dan orang yang murtad dari Islam dianggap tidak sah. Para Sahabat menganggap sembelihan orang Majusi sebagai bangkai.

Menurut syariat Islam, sembelihan yang halal harus memenuhi syarat sebagai berikut:

1. Penyembelihnya Muslim atau Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi).   Membacakan Bismillah bisa dilakukan pada saat memasaknya atau memakannya. Ini didasarkan pada beberapa hadits sahih dan ayat berikut:

Sembelihan orang Muslim itu halal, baik ia membaca Bismillah atau pun tidak’ (H.R. Abu Daud dalam Kitab Maraasil).

…Dan makanan (sembelihan) ahli kitab itu halal bagimu dan makananmu halal bagi mereka‘ (Q.S.5:5).

Dari Aisyah: Suatu kaum bertanya bertanya pada Rasulullah: “Ya Rasulullah, suatu kaum memberi kami daging. Kami tidak tahu apakah mereka waktu menyembelihnya membaca bismillah atau tidak.” Rasul menjawab: “Bacakan (bismillah) dan makanlah.” Aisyah menjelaskan bahwa mereka (:pemberi) baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, jadi penerima ragu apakah mereka baca bismillah atau tidak) (H.R. Bukhari dan lain‑lain).

2. Disembelih  hingga darahnya keluar ‑‑dan tetap dihalalkan kalau pun sampai kepalanya terpisah‑‑ dengan alat apa pun yang tajam.

“…Dan (dengan alat) apapun yang dapat mengalirkan darah dan disebut nama Allah padanya, makanlah. Bukan dengan gigi atau kuku.” (H.R. Muslim).

Bila tidak memenuhi dua syarat itu haramlah daging sembelihan itu.

Sembelihan Ahli Kitab

Sembelihan Ahli Kitab (Nasrani dan Yahudi) yang tidak menyebut apa‑apa halal berdasarkan Q.S.5:5. Tetapi bila mereka menyebut nama selain Allah, tetapi sesuai dengan kebiasaan dalam ajaran mereka (misalnya dengan nama Yesus, Uzair, nama gereja, dsb.) ada tiga pendapat:

1. Tetap halal dengan alasan: Allah telah memberikan kekecualian bagi mereka dan Allah Maha Tahu apa yang mereka lakukan dalam kepercayaannya (a.l. pendapat Ibnu Abas, Atha’).

2. Haram, dengan alasan Q.S. 2:173, 5:3 yang mengharamkan sembelihan yang menyebut nama selain Allah (a.l. pendapat Ali, Aisyah, Ibnu Umar).

3. Imam Malik berpendapat makruh, bukan haram karena ada kekecualian dalam Q.S. 5:5. Bila ada dua pendapat yang alasannya sama kuatnya, keputusannya cenderung kepada yang haram, tetapi tidak mengharamkan sampai jelas bahwa itu haram.

Sembelihan orang musyrik

Sembelihan kaum Musyrik (non‑Muslim non‑ahli kitab) dinyatakan haram dengan alasan:

Di dalam Q.S. 6:121 dinyatakan: “Janganlah kamu makan (daging yang disembelih) tanpa menyebut nama Allah.”

Sangat pasti non‑Muslim tak akan membaca Bismillah waktu menyembelihnya. Ayat Q.S.5:5 yang memberikan kekecualian pada ahli kitab mempertegas hukum bahwa sembelihan non‑Muslim yang bukan ahli kitab haram hukumnya, karena kalau tak haram tak mungkin ada kekecualian bagi ahli kitab.

Karenanya, kalau pergi ke Jepang hindarilah makan daging sapi atau ayam yang dibeli bebas di restoran atau department store. Mayoritas penduduk Jepang bukanlah Muslim dan bukan pula ahli kitab. Karenanya daging sembelihannya haram hukumnya. Carilah daging import yang dilengkapi sertifikat halal.

Daging import

Saat ini mulai diperdagangkan daging import dengan label halal yang disertai dengan sertifikat penyataan halal dari lembaga Islam di negara pengekspornya. Untuk mengatasi kesulitan mencari daging yang disembelih secara Islam, di Jepang saat ini banyak dijumpai daging ‘halal’import dari Denmark, Australia, dan Brazil, juga corned ‘halal’ dari Fiji, serta sosis ‘halal’ dari California. Di Indonesia pun daging import yang disertai sertifikat halal mungkin mulai ada.

Mengingat bahwa Muslim saat ini memang sudah tersebar ke seluruh dunia, informasi dalam sertifikat halal itu sangat mungkin benar. Jadi, daging import seperti itu bisa dianggap halal. Khatib Asy‑Syarbini, pengikut madzhab Syafii menulis di bukunya ‘Al‑Iqna’:”…Kalau orang fasik (Muslim, tetapi suka juga berbuat dosa) atau ahli kitab memberitahu bahwa dialah yang menyembelih domba ini, maka sembelihan itu dihalalkan….”

Kulit bangkai atau babi, najiskah?

Sedikit disinggung di sini masalah sepatu atau jaket dari kulit babi, walaupun ini bukan hal makanan, tetapi sering dirancukan dengan haramnya dimakan.

Kulit bangkai atau kulit babi yang telah disamak tidak najis, boleh dijadikan sepatu atau jaket. Sayid Sabiq dan Yusuf Qardawy mendasarkan pada hadits berikut:

Tentang kulit domba yang mati (bangkai) Rasulullah SAW berkata: ‘Mengapa kalian tidak mengambil kulitnya, menyamaknya lalu memanfaatkannya. …Yang diharamkan hanyalah memakannya‘ (Hadits riwayat Jamaah, kecuali Ibnu Majah).

Karena pengharaman bangkai dan babi sama alasannya (Q.S.6:145), qiyas bisa dilakukan untuk menganggap kulit babi yang telah disamak tidak najis.

Khamr (Minuman Keras)

Rasulullah SAW telah memberikan definisi yang jelas tentang khamr (minumam keras) yang diharamkan.

1. Segala yang memabukkan adalah khamr dan setiap khamr pasti haram. (H.R. Ahmad, Abu Daud). ...Khamr itu yang mengacaukan akal (H.R. Bukhari‑Muslim).

2. (Khamr) terbuat dari anggur, korma, madu, jagung, atau gandum. (H.R. Bukhari‑Muslim).

Jadi, khamr adalah segala yang memabukkan atau mengacaukan akal, terbuat dari berbagai sumber karbohidrat atau gula. Kini telah diketahui bahwa unsur utama penyebab mabuk adalah alkohol yang terjadi dari proses fermentasi karbohidrat atau gula. Lengkapnya proses fermentasi itu seperti ini:

karbohidrat ‑‑> gula ‑‑> alkohol ‑‑> cuka.

Saat ini khamr banyak jenisnya: beer, wine, wisky, sake, dsb. Apa pun namanya, bila itu memabukkan, itu tergolong khamr yang diharamkan.

Berdasarkan kronologis turunnya larangan khamr di dalam Al-Qur’an kita ketahui bahwa pengharamannya bertahap.

1. Mula-mula hanya menyebutkan efek buruk dari khmar. Allah baru memberikan pengertian.

Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: Pada keduanya ada dosa besar dan manfaat, tetapi dosanya lebih besar dari pada manfaatnya (Q.S.2:219).

2. Tahap kedua membatasi saat meminumnya.

Hai orang‑orang yang beriman, janganlah kamu salat dalam keadaan mabuk, (lakukanlah bila) kamu telah mengerti apa yang kamu ucapkan (Q.S.4:43).

3. Tahap ke tiga baru pelarangan total dengan menyamakannya sebagai perbuatan setan.

Hai orang‑orang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berkorban untuk berhala dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan kotor/najis yang termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah agar kamu beruntung. Sesungguhnya syaitan itu ingin menimbulkan permusuhan dan kebencian diantaramu dengan khamr dan judi dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan salat. Maka berhentilah mengerjakan itu. (Q.S.5:90‑91).

Di dalam hadits disebutkan ancaman pelanggaran minuman keras:

1. Dalam hal khamr ada sepuluh kelompok orang yang dikutuk karenanya: pembuatnya, pengedarnya, peminumnya, pembawanya, pengirimnya, penuangnya, penjualnya, pemakan uang hasilnya, pembayarnya, dan pemesannya. (H.R. Ibnu Majah dan Tirmidzi).

2. Tidak mungkin berzina penzina itu selama ia masih mu’min, tidak mungkin mencuri pencuri itu selama ia masih mu’min, dan tidak   mungkin minum khamr peminum itu selama ia masih mu’min. (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i).

Artinya, iman dan perbuatan dosa tak mungkin bersatu, hanya ada satu pilihan di antara dua itu. Peminum khamr dinilai telah hilang keimanannya.

Kasus‑kasus khusus

1. Haramkah tape?

Ada dua hal yang perlu ditinjau: apakah tape itu dan apakah itu memenuhi syarat disebut khamr.

Tape atau peuyeum adalah singkong atau nasi ketan yang diberi ragi hingga terjadi proses fermentasi. Hasil fermentasi pertama dari zat pati pada singkong atau nasi ketan adalah gula yang menyebabkan tape manis rasanya. Tape manis inilah yang disenangi masyarakat. Makin lama disimpan tape makin terasa hangat di kerongkongan karena alkohol mulai terbentuk. Bila tape dipanggang (bikin ‘colenak’) atau dijemur alkoholnya menguap yang tersisa adalah zat gulanya.

Apakah masyarakat menganggap tape memabukkan? Tidak. Maka, tape bukan tergolong khamr. Alkohol memang unsur utama dalam khamr, tetapi tidak setiap yang mengandung alkohol adalah khamr. Dalam definisi Nabi hanya disebutkan bahwa khamr adalah yang memabukkan dan diyakini secara umum, bukan orang per orang. Jadi, tidak haram. Lain kasusnya bila tape itu sengaja disimpan lebih lama untuk mendapat cairan yang lebih banyak dan berkadar alkohol tinggi. Itu sudah menjurus pembuatan khamr. Air tape yang disimpan lebih lama akan menjadi minuman yang memabukkan, itulah khamr, haram hukumnya.

2. Haramkah cuka?

Cuka terbuat dari fermentasi lanjutan alkohol. Cuka secara ijma’ (kesepakatan ulama) dinyatakan halal. Kalau pun itu dibuat dari khamr, tetap halal. Sayyid Sabiq dalam buku Fikih Sunnah menjelaskan: “Bermacam‑macam hukum itu disebabkan oleh bermacam‑macam zatnya. Zat khamr bukanlah zat cuka. Cuka adalah halal menurut ijma’. Bila khamr berubah menjadi cuka, ia mesti halal bagaimana pun ia berubah.”

3.  Najiskah alkohol pada parfum?

Ada golongan yang menghindari parfum (minyak wangi) yang menggunakan alkohol, dengan alasan khamr itu tergolong najis (rijsun, Q.S. 5:90). Sebenarnya, najis di situ dalam arti sifatnya kotor, bukan zatnya yang kotor. Orang kafir pun disebut najis, tetapi bukan dalam arti bila tersentuh mereka kita wajib mencucinya. Dalam kasus kulit bangkai, bangkai pun disebut najis, tetapi kulitnya yang sudah disamak boleh dipakai. Nabi SAW menjelaskan: “Yang diharamkan hanyalah memakannya”. Demikian pula alkohol, diharamkan adalah meminum khamrnya, dan tetap dibolehkan memakai parfum beralkohol untuk pakaian yang digunakan dalam salat.

Komet SL-9

T. Djamaluddin

(Dimuat di Hikmah, Republika 22 November 2000)

Dan janganlah kamu mengikuti hal-hal yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya (QS 17:36).

Peristiwa pecahnya komet Shoemaker-Levy 9 (SL-9) pada 1994 setelah masuk dalam wilayah orbit planet raksasa Jupiter, sangat menarik secara astronomis. Namun juga mengandung pelajaran penting bila merenungkannya. Peristiwa serupa mungkin juga terjadi dalam dimensi sosial. Dampaknya pun tak kalah hebat: kehancuran.

Ahli matematika Perancis Edouard Roche menyatakan ada suatu jarak minimum dari planet induk yang bila dilampaui akan menyebabkan benda yang mengorbitnya akan pecah. Batas minimum itu dikenal sebagai Limit Roche yang tergantung ukuran dan kekuatan benda langit menahan gaya gravitasi planet. Bulan yang kelihatan kokoh pun akan hancur berantakan bila (karena suatu sebab) melewati Limit Roche-nya, masuk dalam orbit yang jaraknya kurang dari 18.000 km dari bumi. Saat ini bulan masih berada pada jarak yang aman 384.000 km.

Seperti kebanyakan komet lainnya, mestinya komet SL-9 ini hanya mengitari matahari. Tetapi, sekitar tahun 1970-an komet ini masuk dalam pengaruh gravitasi Jupiter dan mulai mengitari Jupiter. Sekitar 1992, komet SL-9 mencapai titik terdekatnya dengan Jupiter dan melewati Limit Roche-nya. Pada saat itulah kekuatan materinya yang rapuh karena hanya terdiri dari debu, gas beku, dan es tak mampu menahan gravitasi Jupiter. Secara perlahan komet itu pecah, hancur berkeping-keping, dan jatuh masuk ke Jupiter.

Manusia berperilaku seperti komet SL-9 banyak. Manuver pribadinya bisa membawanya masuk ke dalam lingkaran orang yang punya pengaruh besar. Orang berpengaruh itu mungkin seorang presiden, gubernur, konglomerat, atasan, kyai, atau sekadar dukun. Ibarat gravitasi yang mengikatnya, pengaruh itu bisa demikian kuatnya, hingga ia tidak mampu melepaskan diri lagi. Ia mengabdi sepenuhnya, sadar atau tak sadar. Ia bertaklid buta. Langit biru disebut kuning pun mungkin ia ikuti. Kepribadiannya yang rapuh tidak bisa mengambil sikap lain, selain taat.

Padahal Allah mengingatkan dalam hal ketaatan untuk senantiasa menggunakan ilmu dan akal sehat (QS 17:36). Karena setiap perangkat pengolah informasi pada diri manusia, pendengaran, mata, dan hati, kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Tidak digunakannya mata, telinga, dan hati bisa membawa ke neraka (QS 7:179). Allah menjuluki, “Mereka itu seperti  binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS 7:179).

Ketaatan kepada pemimpin memang diwajibkan Allah (QS 4:59) dan rasul-Nya selama bukan untuk kemaksiyatan (HR Bukhari Muslim). Sekalipun pemimpin itu mengutamakan diri sendiri dan menyeleweng, Nabi berpesan “Tunaikan kewajibanmu dan hanya mengharap kepada Allah akan hak kamu” (HR Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas’ud). Jangan ikuti kesalahannya, apalagi meminta bagian yang bukan hak kita.

Ketaatan kepada pemimpin demi kemaslahatan. Tetapi ketaatan yang bukan taklid. Ibarat bulan yang tetap kokoh mengorbit bumi pada jarak aman. Ada batas syariah dan rasional  yang harus dipertahankan, di samping harus adanya kepribadian yang kokoh.

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI YANG DILEMATIS BAGI ASTRONOMI

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 28 Agustus 1999)

Para astronom kini sedang berjuang melindungi laboratorium alam terbesar agar tidak lenyap dari khasanah keilmuan umat manusia. Sebelum konferensi dunia keantariksaan III (UNISPACE III) di Vienna, Austria, bulan Juli 1999 mereka menggelar simposium  membahas tiga ancaman besar bagi penelitian astronomi: polusi cahaya, interferensi radio, dan sampah antariksa.

Suatu dilemma teknologis dihadapi oleh mereka. Tetapi tidak banyak orang peduli dengan kepentingan umat manusia yang diperjuangkan para astronom. Pernyataan para astronom mungkin akan dinilai anti modernisasi. Dilemma itu antara lain dirasakan para astronom yang mengikuti workshop sains antariksa dasar yang diselenggarakan PBB di Honduras 1997. Ketika itu akan dirumuskan rekomendasi agar masalah-masalah astronomis tersebut masuk dalam draft UNISPACE III. Pimpinan sidang (perwakilan dari ESA, badan antariksa Eropa) mengingatkan agar rumusan jangan terlalu keras karena akan langsung berhadapan dengan kebijakan pengembangan teknologi yang sedang pesat dilakukan oleh banyak negara.

Polusi Cahaya

Polusi cahaya adalah contoh yang bisa dirasakan oleh orang awam. Di tengah kota besar kita tidak akan lagi merasakan keindahan langit dengan jutaan bintang di galaksi Bimasakti yang tampak seperti sungai perak. Cahaya lampu kota mengalahkannya. Purnama pun tidak lagi menarik perhatian orang kota.

Astronom menginginkan lingkungan malam yang gelap gulita sehingga mampu melihat bintang dan galaksi yang paling redup. Tetapi mayoritas masyarakat tentu akan menolaknya bila lampu-lampu luar harus dipadamkan atau dibatasi. Gemerlap lampu kota telah diidentikkan dengan tingkat kemajuan masyarakatnya.

Observatorium Boscha di Lembang merasakan dampak polusi cahaya kota Bandung dan Lembang sendiri yang mulai berkembang. Gemerlap lampu kota Bandung terlihat jelas dari lokasi observatorium. Akibatnya, pengamatan untuk objek redup yang biasanya perlu waktu perekaman lama akan terganggu oleh cahaya latar depan yang cukup kuat.

Observatorium yang letaknya sekitar 150 km dari pusat kota pun masih merasakan dampak polusi cahaya. Pada 1878 observatorium Universitas Tokyo terletak di tengah kota. Tahun 1920-an terpaksa harus dipindahkan ke Mitaka, di pinggiran Tokyo. Dan itu belum berakhir. Akibat perkembangan Tokyo, sejak 1955 lokasi pengamatan pun satu per satu bagiannya berpindah ke berbagai tempat yang jauh dari kota. Dan pada tahun 1990-an Jepang memutuskan mendirikan teleskop raksasanya, Subaru yang berdiameter 8 meter, di Mauna Kea, Hawaii. Mauna Kea saat ini disebut sebagai tempat paling baik untuk observatorium. Namun, ancaman pengembangan kawasan wisata di Hawaii juga mulai mengkhawatirkan para astronom.

Pada 1975 W. Sulliwan mempublikasikan gambar satelit yang diberi judul “Bumi di waktu malam”. Tampak kota-kota di negara-negara maju terang benderang, sedangkan di negara-negara berkembang masih tampak redup. Dengan analisis citra satelit tersebut Kosai dan kawan-kawan (1992) menunjukkan bagaimana energi listrik digunakan secara tidak efisien di negara-negara maju, sekadar untuk penerangan dan hiasan yang berlebihan. Dapat dipastikan saat ini gemerlap “Bumi di waktu malam” sudah merambah negera-negara berkembang.

Menghadapi bahaya polusi cahaya itu para astronom berupaya keras meningkatkan teknologi pencitraan yang mampu meningkatkan kontras objek langit dari cahaya latar depan. Antara lain dengan kamera CCD. Walaupun demikian untuk objek sangat redup, kamera yang sensitif tidak akan mampu mengatasi polusi cahaya yang relatif cemerlang.

Upaya lain yang mulai diterapkan di beberapa negera adalah menganjurkan pemakaian lampu natrium untuk pemakaian di jalan, taman, dan ruang terbuka lainnya. Untungnya lampu natrium tersebut tergolong hemat energi sehingga anjuran tersebut banyak mendapat sambutan masyarakat. Dengan lampu yang berwarna kuning tersebut, para astronom kehilangan ruang spektrum 5800 angtrom, tetapi jendela spektrum lainnya diharapkan relatif aman.

Tantangan baru kini muncul. Saat ini sedang dikembangkan dan mulai diujicobakan satelit yang membawa cermin raksasa yang akan memantulkan cahaya matahari untuk menerangi beberapa bagian bumi pada waktu malam atau sekadar untuk tujuan artistik atau reklame. Himpunan Astronomi Dunia (IAU) sangat menentang program tersebut karena sangat membahayakan pengamatan malam dan pasti akan merusakkan banyak instrumen yang sangat peka cahaya. IAU memanfaatkan pertemuan UNISPACE III untuk mencari dukungan kebijakan internasional untuk melestarikan kondisi pengamatan astronomi sealami mungkin.

Interferensi Radio

Pengamatan semburan radio matahari dengan spektrograf radio di Stasiun Pengamatan Matahari dan Ionosfer LAPAN di Tanjungsari, Sumedang, terpaksa difilter pada frekuensi sekitar 90-100 MHz. Sayang sebenarnya. Informasi tentang aktivitas matahari menjadi tidak lengkap. Maraknya stasiun pemancar radio FM di wilayah Bandung dan sekitarnya sangat menggangu penangkapan pancaran radio dari matahari.

Keluhan semacam itu semakin banyak. Para astronom radio kini menghadapi bahaya menjadi “tuli” untuk mendengarkan isyarat alam semesta yang sangat sayup-sayup. Satelit komunikasi dengan rentang frekuensi yang makin bertambah mendesak cakupan pengamatan astronomi. Padahal banyak rahasia alam yang tak kasat mata digali dari jasa antena parabola astronom radio.

Ledakan besar pembentukan alam semesta (big bang) diyakini kebenarannya dari pembuktian latar bekakang kosmik dengan pengamatan radio. Kisah kelahiran bintang-bintang dari awan antarbintang juga banyak diceritakan oleh pengamatan semacam ini. Pancaran radio pada panjang gelombang 11 cm dari atom hidrogen bercerita banyak tentang struktur galaksi kita yang bukan sekadar dihuni oleh bintang-bintang, tetapi juga oleh debu dan gas yang menjadi materi pembentukan bintang-bintang baru. Kini para pemburu peradaban luar bumi pun giat memantau setiap sinyal radio kosmik, kalau-kalau ada sinyal spesifik yang mengisyaratkan adanya peradaban lain.

Dalam konferensi dunia UNISPACE III yang bertema “Manfaat Antariksa bagi Kemanusiaan pada Abad ke-21” para astronom menggelar simposium “Pelestarian Langit Astronomis”. Salah satunya, untuk mencari dukungan dunia agar ada pengendalian frekuensi  yang lebih ketat demi terselamatkannya “jendela” radio astronomi untuk menguak rahasia alam.

Sampah Antriksa

Tidak semua isyarat kosmik dapat dideteksi dari bumi. Objek-objek panas yang mengindikasikan adanya black hole (materi alam yang luar biasa padatnya sehingga cahaya pun tertarik gravitasinya) atau korona matahari yang bersuhu jutaan derajat bercerita tentang eksistensinya dengan pancaran sinar-X. Sayangnya isyarat itu tidak mungkin terdeteksi dari bumi. Demikian juga isyarat inframerah, ultraviolet, atau sinar gamma dari objek-objek langit yang sangat menarik.

Teknologi antariksa telah membantu para astronom untuk mengatasi masalah itu. Teleskop antariksa seperti teleskop Uhuru, IRAS, Hubble, Yohkoh, dan Soho mampu menangkap isyarat-isyarat itu dan mengirimkannya ke bumi. Dengan Uhuru para astronom mendeteksi objek Cygnus X-1 yang merupakan bukti pertama adanya black hole. IRAS menghasilkan banyak informasi tentang “embrio” bintang. Hubble bercerita lebih rinci tentang galaksi-galaksi yang paling jauh, yang berarti juga yang paling muda dalam ukuran umur alam semesta. Yohkoh dan Soho menggambarkan secara jelas gejolak aktivitas matahari.

Tetapi, ada bahanya mengancam di antariksa. Sampah-sampah antariksa dari pecahan dan sisa-sisa roket dan satelit buatan manusia makin menumpuk. Ini sangat membahayakan keselamatan observatorium antariksa tersebut. Ketika terjadi badai Leonids November 1998 teleskop Hubble diubah arahnya untuk menyelamatkan cermin dan perangkat sensitif lainnya. Hal itu dapat dilakukan karena arah debu-debu hujan meteor telah dapat diperkirakan. Tetapi, arah datangnya sampah antariksa tidak diketahui, bisa tiba-tiba menghantam teleskop tanpa diketahui sebelumnya.

Sampah antariksa yang paling berbahaya adalah yang berukuran antara 1-10 cm. Hal ini karena pelindung satelit hanya efektif untuk menahan benturan benda kecil berukuran kurang dari 1 cm. Benda yang lebih besar dari 10 cm umumnya masih dapat dideteksi oleh sistem patroli antariksa, sehingga bila mengancam satelit, stasiun pengendali dapat segera melakukan langkah-langkah penyelamatan.

Sampah antariksa bukan hanya mengganggu teleskop antariksa, tetapi juga bisa mengganggu kualitas hasil pengamatan dari bumi. Saat ini diketahui bahwa jumlah citra sampah antariksa yang terekam berupa goresan cahaya pada plat foto astronomi makin bertambah. Dikhawatirkan dengan makin banyaknya sampah antariksa, foto hasil pengamatan medan luas akan dikotori oleh goresan-goresan cahaya.

Gangguan juga dapat dirasakan pengamat bila pada saat pengukuran fotometrik terlintas cahaya sampah antariksa yang tepat masuk dalam medan pandang teleskop. Bila hal ini terjadi, hasil pengukuran menjadi sia-sia. Sampah antariksa berukuran sekitar 1 meter yang berada pada jarak orbit satelit geostasioner (sekitar 36.000 km) akan tampak seperti sebuah bintang sangat redup bermagnitudo 16.

Memang suatu dilemma. Pengembangan teknologi pengamatan astronomi kini harus berpacu mengatasi ancaman dari pengembangan teknologi lainnya. Bila tidak terkontrol, kita bagai berada dalam ruang tertutup, karena tidak mampu lagi melihat dan mendengar isyarat-isyarat alam semesta.