ASTRONOMI MEMBANTAH ASTROLOGI


T. DJAMALUDDIN, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika, 9 April 1995)

Ada sebagian orang masih percaya pada ramalan astrologi. Kabarnya, ada paranormal risau dengan perhitungan astrologinya yang menyatakan posisi planet Uranus dan Neptunus dalam keadaan segaris. Katanya, keadaan ini bisa menyebabkan adanya chaos, kekacauan di alam dan masyarakat. Kerisauan ini bukan hal baru. Sekitar tahun 1980-an pernah juga diramalkan adanya kekacauan akibat posisi segaris beberapa planet.

Terlepas dari “seni” meramal astrologi dan kepercayaan sementara orang pada ramalan itu, ada satu sisi yang bisa dipertanyakan kesahihannya: benarkah planet Uranus dan Saturnus berada pada posisi satu garis. Untuk membuktikannya, astronomi yang mesti menjawab, bukan astrologi.

Astronomi – Astrologi Bercerai

Pada awal perkembangannya astronomi dan astrologi tak bisa dipisahkan: keduanya mempelajari posisi dan perpindahan benda-benda langit. Dasarnya dan orientasinya memang berbeda. Astronomi berdasar kajian ilmiah murni yang menyatakan bahwa setiap teori mestinya dapat diuji kembali untuk pembuktian kebenarannya. Orientasinya adalah mempelajari rahasia alam. Sedangkan astrologi berdasarkan kepercayaan bahwa benda-benda langit berpengaruh pada kehidupan dan masa depan manusia dan tidak memerlukan pembuktian benar tidaknya “teori” yang dikembangkannnya. Orientasinya pada peramalan kemungkinan kehidupan manusia.

Astronomi berkembang menjadi cabang sains yang bukan hanya mengkaji posisi dan pergerakan benda-benda langit, tetapi juga fisis dan evolusinya. Perkembangannya demikian pesatnya yang menimbulkan lahirnya cabang-cabang baru, misalnya astrofisika (menitikberatkan pada segi struktur dan komposisi fisis, bukan lagi posisi dan pergerakan benda langit), kosmogoni (menitikberatkan pada asal-usul dan evolusi tata surya), kosmologi (menitikberatkan pada asal-usul dan evolusi alam semesta), dan yang baru adalah bioastronomi (menitik beratkan kemungkinan adanya kehidupan di luar bumi). Teori-teorinya senantiasa diperbarui bila ada bukti-bukti lain yang menyempurnakan atau menggugurkan teori semula.

Astrologi relatif tidak berkembang. Ramalan-ramalannya belum tentu tetap. Memang beberapa astrolog getol juga menyajikan “bukti-bukti” statistik tentang kebanaran ramalannya. Namun, tidak satu pun yang bertahan bila ditelaah lagi dengan kajian ilmiah. Menurut Abell dan Morrison, konsultan astronomi pada jurnal Skeptical Enquirer, jurnal yang mengkhususkan pada kajian ilmiah berbagai fenomena paranormal itu pernah menyajikan hasil telaah statistik tentang  ramalan astrologi. Kesimpulannya, astrologi tidak bisa dipakai sebagai alat peramal, walaupun sekedar dalam wujud statistik.

Saturnus-Uranus-Neptunus

Republika mengutip ramalan tentang chaos pada tahun 1995 yang menyatakan bahwa planet Saturnus-Uranus (pada bagian lain Uranus-Neptunus) berada pada posisi segaris yang berlangsung selama lima tahun. Benarkah Saturnus-Uranus atau Uranus-Neptunus segaris?

Menurut data astronomi pernyataan itu tidak sepenuhnya benar. Tahun 1995 ketiga planet itu tidak berada pada posisi segaris. Pada tabel ditunjukkan posisi bujur ekliptika (berpusat pada matahari) ketiga planet itu. Hanya planet Uranus dan Neptunus yang berdekatan, tetapi tidak segaris (berbeda sekitar 5 derajat). Planet Saturnus dan Uranus berada pada posisi segaris dengan matahari pada tanggal 9 Juni 1988 pada bujur 268o55′. Dan planet Uranus dan Neptunus berada pada  posisi segaris dengan matahari pada tanggal 21 April 1993 pada bujur 289o16′.

Planet Saturnus mengelilingi matahari sekali dalam waktu 29,46 tahun. Sedangkan periode orbit planet Uranus adalah 84,07 tahun dan planet Neptunus 164,82 tahun. Ini berarti setiap 155 tahun Saturnus-Uranus kembali mendekat, tetapi tidak segaris. Dan Uranus-Neptunus saling mendekat setiap 166 tahun, juga tidak segaris. Posisi Saturnus, Uranus, dan Neptunus pada posisi hampir berdekatan dalam selang waktu 1988 – 1993 mungkin yang menyebabkan timbulnya ramalan pada tahun 1980-an akan adanya kekacauan hebat karena beberapa planet hampir segaris. Terbuktikah ramalan itu?

Orang boleh saja mencocok-cocokkan masa 1988 – 1993 dengan kejadian-kejadian besar di dunia semisal pecahnya Uni Sovyet, perang Teluk II, dan kebiadaban di Bosnia. Tetapi, adakah bukti bahwa kekacauan itu disebabkan oleh posisi ketiga planet itu? Pada saat perang dunia pertama dan kedua ketiga planet itu dalam posisi terpisah. Saturnus-Uranus pada posisi berdekatan pada sekitar tahun 1823 dan Uranus-Neptunus pada sekitar tahun 1827.

Kalau ada orang yang meramalkan chaos pada tahun 1995 ini berdasarkan posisi segaris planet Uranus-Neptunus atau Saturnus-Uranus, rasanya tidak beralasan. Mengapa tidak pada saat tepat segaris pada tahun 1988 dan 1993. Rupanya inilah “seni” astrolog yang tidak bisa dirumuskan secara ilmiah. Nah, masalah “seni” bukan astronomi yang mengkajinya, tetapi “apresiasi” orang yang tidak bisa dirumuskan mekanismenya. Kajian astronomi ini hanyalah untuk menentramkan oarng yang sedikit percaya pada dalih astrologi bahwa planet-planet itu segaris. Data astronomi membantah alasan astrologi.

%d blogger menyukai ini: