Puing-puingnya mengkhawatirkan 80 Negara: Lab Antariksa Mir Jatuh


T. Djamaluddin, Peneliti Antariksa LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat 3 Maret 2001 + ralat 7 Maret 2001)

Laboratorium antariksa Mir, milik Rusia, dijadwalkan didorong keluar dari orbitnya dan jatuh pada awal atau pertengahan Maret 2001. Bila tidak ada upaya pendorongan keluar dariorbitnya. Mir akan jatuh ke bumi tak terkendali sekitar pekan terakhir Maret. Satelit raksasa berbobot 136 ton itu saat ini sedang turun perlahan sekitar 1.4 km per hari. Walaupun diperkirakan akan jatuh di daerah aman, di samudra Pasifik, sekitar 80 negara merasa khawatir akan kemungkinan terburuk kejatuhan puing-puing tersebut.

Mir dibangun secara bertahap hingga menjadi komplek laboratorium raksasa. Bagian pertama dibangun 20 Februari 1986. Selama 15 tahun ini Mir telah disinggahi 31 pesawat antariksa, disuplai 64 pesawat kargo, dan sempat dihuni oleh 28 awak yang menetap lama. Jumlah peneliti yang sempat memanfaatkannya adalah 125 kosmonot/astronot dari 12 negara. Sampai dengan akhir Februari MIR telah mengitari bumi hampir 86.000 kali. Setiap hari MIR mengitari bumi 16 kali dengan orbit lingkaran. Itu berarti Mir 16 kali mengalami malam dan siang dalam waktu 24 jam dan hanya perlu waktu 90 menit untuk keliling dunia

Kondisi 2001

Mir tercatat sebagai satelit nomor 16.609. Pada saat diluncurkan Februari 1986 hanya terdiri dari modul utama berbentuk silinder berdiameter 4,15 meter sepanjang 15 meter dengan bobot 20 ton. Ketinggian operasinya 390 km dengan kemiringan orbit 51.6 derajat. Kemudian menyusul modul-modul lainnya. Antara lain yang sampai saat ini masih bergabung adalah modul Kvant1, Progress, Kvant2, Spektr, Priroda, dan Kristall.

Modul Kvant1 adalah observatorium astrofisika berdiameter 4,15 dengan panjang 5,8 meter berbobot 11 ton. Progress adalah pesawat pensuplai berdiameter 2 meter dengan panjang 7,5 meter berbobot 7 ton. Mir (modul utama), Kvant1, dan Progress dipasang berderet. Spektr adalah modul penginderaan jauh untuk geofisika berbobot 20 ton. Kvant2 digunakan untuk tinggal astronot. Spektr dan Kvant2 dipasang mendatar tegak lurus di kanan kiri Mir.

Priroda adalah modul penginderaan jauh atmosfer untuk penelitian ozon dan aerosol. Priroda yang berbobot 20 ton berdiameter 4,35 dengan panjang 12 meter dipasang tegak lurus di atas Mir. Kemudian di bawahnya ada Kristall, modul laboratorium semikonduktor dan biologi yang berbobot 20 ton berdiameter 4,4 meter dengan panjang 12 meter. Soyuz (pesawat antariksa Rusia) biasa berlabuh di rangkaian modul Mir-Kvant1. Sedangkan pesawat ulang alik Amerika Serikat biasanya berlabuh pada rangkaian modul Kristall. Jadi saat ini kompleks laboratorium Mir  merupakan gerbong yang saling tegak lurus dengan panjang mendatar 32 meter, menyamping 30 meter, dan tegak 27 meter dengan bobot total 136 ton.

Hari-hari awal Maret ini merupakan saat-saat terakhir untuk menyaksikan Mir di langit. Walaupun jarang, Mir dapat disaksikan dengan mata telanjang seperti bintang bergerak. Terutama pengamat di Eropa, Kanada, dan Amerika Serikat yang bisa mengamati pada awal malam. Pengamat di ujung selatan Afrika, sebagian Australia, dan sebagian Amerika Selatan bagian barat juga berkesempatan melihatnya pada pagi hari. Memang hanya singkat, sekitar 2 – 5 menit mengingat Mir bergerak relatif cepat. Pengamatan terlama dapat dilakukan di sekitar Belanda yang bisa berkesempatan melihatnya selama 5 menit melintas di atas kepala.

Sayangnya pengamat di Indonesia tidak berkesempatan untuk melihatnya, karena pada awal Maret ini Mir melintas Indonesia pada siang hari. Misalnya, pada 1 Maret 2001 Mir melintas tiga kali di sekitar Indonesia. Pertama pukul 11.30 WIB melintasi ekuator pada garis bujur  142 derajat (perbatasan Indonesia-Papua Nugini). Kemudian pada pukul 13.00 WIB melintas pada garis bujur 119.6 (di atas Sulawesi). Dan terakhir pada pukul 14.30 WIB melintas pada garis bujur 97 derajat di atas Sumatera. Pengamat di Jawa Barat sebenarnya berkesempatan untuk melihatnya pada tanggal 22 dan 23 Februari lalu sekitar pukul 05.00 pagi, tetapi hanya selama 3 menit dekat kaki langit.

Ancaman Puing-puing MIR

Dari ketinggian normal sekitar 390 km, pada 24 Oktober 2000 ketinggian Mir telah turun menjadi sekitar 340 km dan terus turun. Apalagi sejak 10 Februari 2001 perangkat pengontrol ketinggian telah dimatikan. Saat ini Mir dibiarkan melayang turun. Akhir Februari 2001 telah turun menjadi sekitar 270 km. Saat ini Mir sudah tidak berawak lagi. Untuk mengendalikannya telah digandengkan pesawat Progress M1-5 yang digunakan untuk memberikan dorongan (impuls) pengendali untuk mencapai orbit rendah yang aman saat untuk jatuh. Progress M1-5 dikendalikan dengan sistem telemetri dan telekomando dari stasiun pengendali di Moskow.

Direncanakan Mir akan turun sekitar 1,4 km per hari sambil terus mengorbit untuk mencapai ketinggian 230-250 km. Penurunan terutama diakibatkan oleh faktor hambatan udara. Inilah batas ketinggian yang aman untuk merencanakan secara matang manuver yang tepat untuk jatuh. Diharapkan ketinggian itu akan tercapai antara 6 – 13 Maret 2001, kemungkinan pada 9 Maret. Ketidakpastian tanggal itu diebabkan faktor hambatan udara tidak bisa diprakirakan sebelumnya mengingat aktivitas matahari saat ini sedang mencapai puncaknya. Adanya semburan radiasi dari matahari yang aktif bisa mengubah kerapatan udara yang berakibat pada perubahan gaya hambat udara. Bila aktivitas matahari makin kuat, Mir akan semakin cepat turunnya.

Menurut rencana, setelah mencapai ketinggian 230 – 250 km impuls dari Progress M1-5 diberikan masing-masing selama 15 – 20 menit untuk mengerem laju Mir. Pertama impuls 7 meter/detik,  kemudian 7 meter/detik lagi, dan terakhir 14 meter/detik. Setelah 28 – 42 kali mengitari bumi kemudian impuls 17,3 meter/detik diberikan untuk mengubah orbit lingkaran menjadi orbit elips. Dari ketinggian 230-250 km akan mencapai titik terendah sekitar 150 km. Titik terendah (perigee) itu ditetapkan sekitar Pasifik Selatan. Akibat hambatan udara titik terendahnya akan makin turun. Pada ketinggian 90 – 110 km hambatan udara yang semakin besar akan membakar Mir. Mir sebesar 136 ton itu akan pecah dan sebagian besar akan terbakar di udara. Diperhitungkan puing-puing yang akhirnya mencapai bumi sebanyak 1.500 bagian dengan berat total 13 – 19 ton.

Impuls terakhir yang merupakan pengereman mematikan diperkirakan akan diberikan saat berada di sekitar Moskow. Lalu Mir meluncur seperti lontaran balistik melalui wilayah Cina, laut Cina Selatan, wilayah Pasifik sebelah utara Irian, dan mulai hancur di atas Pasifik selatan. Menurut rencana Mir jatuh di samudra Pasifik selatan, di sebelah timur  Selandia Baru pada posisi (47 LS, 140 BB). Puing-puing akan berserakan di atas wilayah lautan seluas 6000 x 500 km. Sebagai gambaran betapa luasnya daerah yang terancam, bisa dibandingkan dengan luas wilayah Indonesia yang sekitar 5000 x 2000 km. Jadi, luas “kuburan” Mir sekitar 1/4 wilayah Indonesia. Hal yang ditakutkan, bila ternyata sasaran itu meleset dan jatuh di daerah berpenduduk, bukan di samudra Pasifik yang direncanakan. Apalagi ukuran puing-puing itu bisa berton-ton beratnya, misalnya mesinnya atau tangki bahan bakarnya.

Memang dalam perhitungan pun diakui tingkat ketepatan tidak 100 %, tetapi hanya 98%.  Nah, kemungkinan kesalahan yang 2% ini bisa sangat fatal. Oleh karenanya negara-negara di bawah orbit Mir, yang terentang antara lintang 51,6 LU – 51,6 LS (sesuai dengan inklinasi orbitnya), pantas merasa khawatir. Walaupun, lagi-lagi menurut perkiraan, kemungkinan puing-puing itu mengenai kota hanya 0.02 %. Jadi, walaupun jatuhnya di daratan diharapkan tidak mengenai daerah berpenduduk padat.

Tentu Rusia pun tidak mengharapkan adanya klaim ganti rugi dari negara-negara yang kejatuhan puing-puing Mir tersebut. Pengalaman jatuhnya setelit pertahanan Rusia pada 1978 yang mengenai wilayah Kanada tidak ingin terulang. Pada waktu itu Rusia harus membayar ganti rugi sekitar 8 juta dolar. Oleh karenanya, tim pengendali tidak mempercayakan sepenuhnya pada komputer utama mereka, tetapi juga menyiapkan prosedur manual sebagai cadangan. Selain itu, untuk mendapatkan posisi yang akurat untuk pengendalian, mereka juga meminta bantuan badan antariksa Eropa dan Amerika Serikat untuk memantau terus menerus dengan menggunakan radar.

Di Indonesia, LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) sebagai lembaga penelitian antariksa terus mengikuti perkembangan Mir. Bukan hanya masalah kemungkinan dampak puing-puingnya bagi wilayah Indonesia, tetapi juga aspek hukum yang lebih luas dalam masalah benda jatuh dari antariksa menjadi perhatian LAPAN. Semoga saja kehancuran Mir sesuai dengan yang direncanakan, tidak meleset jatuh di wilayah berpenduduk.

%d blogger menyukai ini: