Peristiwa Astronomi Langka: KOMET MENABRAK JUPITER


T.Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika, 15 Juli 1994)

Sebuah peristiwa langka kini dinantikan para astronom sedunia: komet Shoemaker-Levy 9 yang telah pecah akan menabrak Jupiter selama sepekan, diperkirakan sekitar 18 – 24 Juli 1994. Bukan hanya tabrakan komet-planet  yang langka, tetapi juga pecahnya komet sebelum tabrakan itu merupakan peristiwa pertama dalam sejarah astronomi observasional. Karenananya, peristiwa ini menarik perhatian astronom sejagat. Hampir semua observatorium di muka dan di angkasa serta pesawat antariksa Galileo dan Voyager 2 bersiap-siap mengamatinya. Juga para ahli teoritik sibuk menafsirkan hasil-hasil pengamatan selama ini dan membuat simulasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada planet raksasa Jupiter. Tulisan ini mencoba mengkaji beberapa aspek yang menarik dari peristiwa ini.

Komet Pecah

Awalnya astronom Jim Scotti di observatorium Kitt Peak, Universitas Arizona,  yang mendapat telepon dari  Observatorium Palomar bahwa ada kawanan komet di dekat Jupiter.  Malam itu, 25 Maret tahun lalu, Scotti segera mengarahkan teleskopnya yang berukuran 90 cm ke arah kawanan komet tersebut. Ternyata benar, kamera elektronik yang dipasang pada teleskop itu berhasil memotret kawanan komet berbentuk seperti kalung mutiara berderet. Ada lebih dari sebelas benda terang berderet. Komet itu diberi nama dengan Shoemaker-Levy 9, sesuai dengan nama para penemunya, pasangan Eugene dan Carolyne Shoemaker, David Levy, dan Philippe Bendjoya.

Potret komet yang diambil pada hari-hari berikutnya menunjukkan bahwa “kalung mutiara” itu makin memanjang yang berarti masing-masing komponen komet saling menjauh. Ini menujukkan bahwa komet-komet itu berasal dari komet yang pecah. Pengamatan-pengamatan yang lebih cermat menyatakan ada sekitar 22 pecahan yang ukurannya cukup besar dan mungkin sekian banyak lagi pecahan kecil yang tak teramati.

Adanya komet pecah baru pertama kali teramati dalam sejarah astronomi. Secara teoritik,  pecahnya komet atau benda langit lainnya yang melintas dekat suatu planet sudah diketahui sejak abad 19. Ahli matematika Perancis Edouard Roche menyatakan ada suatu jarak minimum dari planet induk yang bila dilampaui akan menyebabkan suatu benda langit akan pecah. Batas minimum itu dikenal sebagai Limit Roche yang tergantung ukuran, keramatan materinya dan kekuatan benda langit itu. Sebagai contoh, Limit Roche untuk bulan  — satelit alam bumi —  adalah 18..000 km. Artinya bila bulan, karena  suatu sebab, masuk dalam orbit yang jaraknya kurang dari 18.000 km dari bumi, bulan kita akan pecah. Saat ini bulan berada pada jarak yang aman 384.000 km, lebih dari Limit Roche.

Dari banyak pengamatan diketahui bahwa planet Shoemaker-Levy 9 tidak mengitari matahari seperti umumnya komet lainnya, tetapi mengorbit Jupiter, paling tidak sejak tahun 1970. Menurut perhitungan Donald K. Yeomans dan Paul W. Chodas serta Marsden, pada tanggal 8 Juli dua tahun lalu, komet melintasi titik terdekat ke planet Jupiter  pada jarak kira-kira 43.000  – 50.000 km, melewati Limit Roche-nya. Pada saat itulah komet pecah.  Satu tahun kemudian, 16 Juli 1993 komet itu mencapai titik terjauhnya, sekitar 50.000.000 km. Saat ini pecahan-pecahan komet itu sedang mendekati Jupiter dan diperkirakan akan menabraknya satu persatu selama sepekan bulan Juli 1994 ini.

Peristiwa di Jupiter

Para pakar teoritik sibuk membuat model untuk menjelaskan apa yang kira-kira terjadi pada planet Jupiter. Tumbukan pecahan komet dengan kecepatan sekitar 60 km per detik itu jelas akan memberikan dampak yang hebat pada planet raksasa itu. Andaikan permukaan Jupiter itu  materi padat tanpa atmosfer seperti di bulan, maka di permukaannya akan terjadi deretan kawah besar dan akan terjadi gempa hebat akibat hantaman pecahan komet itu.  Tetapi, Jupiter adalah planet yang permukaannya diduga berupa hidrogen cair dengan atmosfer  yang tebal, dampaknya pasti akan berbeda.

Kelompok MIT membuat simulasi dampak pada Jupiter dan menyatakan mungkin akan terjadi gelombang atmosfer pada permukaannya, mirip seperti gelombang pada permukaan air bila sebuah batu dijatuhkan padanya. Yang jelas, pecahan komet itu akan menimbulkan ledakan yang hebat. Satu bongkah materi komet yang berdiameter 1 km bila menumbuk Jupiter akan menimbulkan ledakan setara dengan ledakan 250.000 megaton TNT, atau kira-kira 12,5 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Sedangkan di antara bongkahan itu diduga ada yang berdiameter hampir 4 km, tentunya akan menimbulkan ledakan yang lebih hebat lagi.

Diperkirakan ketika bongkahan komet itu menghantam atmosfer Jupiter akan timbul ledakan besar dan gelombang kejut yang memanaskan gas atmosfer sepanjang lintasannya sampai puluhan ribu derajat. Materi kometnya sendiri akan terbakar dan menyala terang. Sementara itu, gas panas disekitarnya akan terlempar ke atas membentuk bola api raksasa yang terlempar keluar atmosfer. Diharapkan cahaya akibat tumbukan itu dipantulkan oleh satelit Jupiter agar saat ledakan itu bisa teramati dari bumi. Tumbukan itu sendiri tidak dapat terlihat secara langsung dari bumi karena terjadi di sisi malam yang tak teramati.

Walaupun peristiwa itu sangat hebat, kejadian itu sama sekali tak akan terasa di muka bumi. Bahkan mengamatinya pun amat sulit karena amat jauhnya. Dengan mata telanjang, planet Jupiter nampak tak ada bedanya dengan bintang-bintang, hanya setitik cahaya. Dengan teleskop kecil, tanpa peralatan yang peka terhadap perubahan cahaya peristiwa itu sulit teramati. Perlu teleskop sedang dan besar dengan kamera yang peka, seperti kamera elektronik (CCD).

Informasi rinci mungkin akan banyak diperoleh dari teleskop angkasa Hubble serta pesawat antariksa Galileo dan  Voyager 2. Teleskop Hubble yang mempunyai resolusi tinggi  diharapkan bisa mendeteksi perubahan-perubahan kecil pada atmosfer Jupiter. Pesawat Galileo milik Amerika Serikat, walaupun tidak bisa bisa mengamati langsung posisi tumbukan diharapkan bisa mendeteksi lontaran gas panas yang keluar dari atmosfer pada saat tumbukan itu. Pesawat Voyager 2 yang mulai mengembara ke tepi tata surya diharapkan masih bisa memberikan informasi berharga peristiwa ini. Kebetulan posisi Voyager 2 tepat menghadap langsung lokasi tumbukan yang diramalkan. Sayangnya, jarak Voyager 2 sudah sangat jauh, lebih dari 6 milyar km dari Jupiter dan sudah lama (hampir empat tahun) berhenti dari pengambilan gambar-gambar tata surya.

%d blogger menyukai ini: