Laboratorium Antariksa Mir Dijatuhkan


T. Djamaluddin, Peneliti Antariksa LAPAN Bandung

(Diterbitkan Pikiran Rakyat, 23 Maret 2001)

Setelah beberapa kali berubah, rencana penjatuhan laboratorium antariksa Mir dilaksanakan hari ini, 23 Maret 2001. Komisi antardepartemen Rusia akhirnya memutuskan menjatuhkan Mir dalam tiga tahap terkendali agar jatuh di daerah aman di  lautan Pasifik Selatan.

Ada dua alasan utama yang mempengaruhi perubahan rencana penjatuhan terkendali tersebut. Pertama, faktor aktivitas matahari yang mempengaruhi kerapatan udara. Kedua, strategi penghematan bahan bakar pengendalian agar lebih efektif. Rencana awal Mir akan dijatuhkan pada tanggal 6 Maret 2001 pada saat ketinggiannya sekitar 250 km. Rencana ini beberapa kali mundur karena aktivitas matahari ternyata lebih lemah daripada yang diperkirakan semula, sehingga tingkat ketinggian 250 km sempat diperkirakan dicapai sekitar tanggal 9 Maret, kemudian 15 Maret. Aktivitas matahari melemah berarti kerapatan udara berkurang yang mengakibatkan kecepatan turunnya berkurang juga.

Belakangan diputuskan untuk menurunkan ketinggian penjatuhan dari 250 km menjadi 220 km. Alasannya untuk penghematan bahan bakar di modul pengendali Progress M1-5. Akibatnya Mir direncanakan akan dijatuhkan  22 Maret, kemudian diubah menjadi 23 Maret. Lagi-lagi faktor aktivitas matahari berpengaruh pada penggeseran tanggal tersebut.

Informasi terakhir (22 Maret) yang diperoleh dari Pusat Kendali Missi di Moskow menyatakan ketinggian 220 km telah tercapai pada 21 Maret. Pada saat itu kecepatan turunnya mencapai 4,2 km per hari, meningkat drastis berkat kenaikan aktivitas matahari yang diklasifikasikan sebagai tingkat aktif. Maka pada 22 Maret mulai dilakukan operasi dinamik untuk menstabilkan posisi dan arah Mir. Deorbiting (keluar dari orbit) untuk penjatuhan dilakukan pada 23 Maret.

Ada tiga tahapan penjatuhan Mir. Pertama, pukul 07.32 WIB roket kendali di Progress M1-5 dinyalakan selama 21 menit untuk mengerem laju Mir. Impuls (dorongan untuk mengerem) yang diberikan berkecepatan 9 km/detik. Akibatnya orbitnya menjadi lonjong dengan tinggi maksimum 218 km dan tinggi minimum 187 km. Setelah satu kali mengelilingi bumi, impuls ke dua diberikan pada pukul 09.01 WIB selama 22 menit. Impulsnya sedikit diperkuat dengan kecepatan 9,6 m/detik. Dengan impuls ini menyebabkan orbitnya makin lonjong. Tinggi maksimum 217 km dan tinggi minimum 159 km.

Impuls terakhir yang betul-betul menjatuhkan Mir dilakukan setelah dua putaran berikutnya. Pada pukul 12.08 WIB impuls berkekuatan 25 m/detik diberikan selama 22 menit. Motor roket impuls ketiga ini dinyalakan ketika Mir berada di atas Libia, Afrika Utara, dan baru berhenti ketika berada di atas Mongolia. Kemudian Mir akan meluncur cepat menuju Lautan Pasifik Selatan. Impuls terakhir ini akan menyebabkan orbit yang lebih lonjong dengan tinggi maksimumnya 205 km dan tinggi minimum 67 km. Tinggi minimum itu berarti mengirimkan Mir ke wilayah yang udaranya lebih rapat untuk penghancuran.

Hanya perlu waktu sekitar 45 menit sejak impuls terakhir, Mir akan mencapai  “titik penghancuran” pada pukul 12.45 WIB, saat maghrib waktu setempat di atas perairan Tonga. Kecepatan jatuhnya mencapai 24.000 km/jam. Akibat gesekan dengan udara yang makin rapat dan efek aerodinamika menyebabkan Mir membara dan mulai pecah. Dari sekitar 136 ton bobot asalnya, sebagian besar akan terbakar, dan sisanya sekitar 20 ton pecah menjadi sekitar 1500 keping. Mungkin di antaranya ada kepingan berukuran besar yang beratnya beberapa ton. Semua puing-puingnya yang tidak terbakar habis diperkirakan akan mencapai permukaan laut pukul 13.00 WIB. Karena gesekan udara, kecepatan jatuh puing-puing itu diperlambat menjadi sekitar 200 km/jam ketika mencapai permukaan laut.

Indonesia Aman

Bila prosedur deorbiting bisa terlaksana dengan baik, tidak perlu ada kekhawatiran puing-puing Mir bakal jatuh di Indonesia. Dilihat dari trayektorinya, bisa disimpulkan bahwa terlalu jauh puing-puing itu mencapai Indonesia.

Hal yang dikhawatirkan adalah bila prosedur deorbiting gagal. Tahap awal yang menentukan dalam operasi dinamika untuk pengaturan arah Mir sebelum impuls pertama diberikan mungkin tidak mudah. Udara yang semakin rapat pada ketinggian 220 km mungkin menyulitkannya. Walaupun pusat pengendali di Moskow punya pengalaman deorbiting satelit, tetapi umumnya pada ketinggian di atas 250 km. Skenerio deorbiting pada 220 km baru pertama kali akan dicoba. Tetapi, pusat pengendali  masih menganggapnya bisa dikendalikan selama ketinggiannya masih di atas 200 km. Ada tenggang waktu 24 jam untuk mengatasinya bila ada masalah sebelum deorbiting.

Kalau prosedur deorbiting gagal, Mir akan jatuh tak terkendali sekitar 28 Maret (dengan rentang kemungkinan 27 – 29 Maret). Jatuhnya bisa di mana saja. Sekitar 80 negara di antara lintang 51,6 LU dan 51,6 LS terancam oleh reruntuhannya. Namun, diperkirakan reruntuhannya jatuh di daratan kemungkinannya sekitar 10 persen. Tetapi bila prosedur deorbiting bisa dilaksakanan, kemungkian meleset dari sasaran di Pasifik diperkirakan hanya 2 persen dan kemungkinan mengenai kota hanya sekitar 0.02 persen. Semoga saja tidak ada masalah dalam proses deorbiting tersebut, sehingga skenario jatuh tak terkendali yang mengkhawatirkan itu tidak perlu terjadi.

%d blogger menyukai ini: