Fenomena Cuaca Antariksa: MENGKAJI SIFAT BADAI METEOR LEONID


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN, Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 19 November 1999)

Badai meteor Leonid 18 November bukan hanya dipandang sebagai pertunjukan spektakuler penampakan ratusan atau ribuan meteor, tetapi yang utama harus dipandang sebagai fenomena cuaca antariksa yang harus diwaspadai sampai tahun 2002.

Mirip dengan cuaca di bumi, di antariksa pun kita mengenal cuaca antariksa. Bila di bumi kita mengenal musim panas dan musim dingin, di antariksa kita kenal masa matahari aktif dan masa matahari tenang yang siklusnya sebelas tahun. Bila di bumi kita mengenal ledakan petir, di antariksa kita mengenal ledakan flare matahari.

Di bumi kita mengenal musim hujan, di antariksa ada musim hujan meteor. Ada sekitar dua puluh musim hujan meteor, ada yang besar ada yang kecil. Di bumi sewaktu-waktu terjadi hujan badai atau topan. Di antariksa pun sewaktu waktu bisa terjadi hujan badai meteor. Badai Leonids adalah badai meteor yang paling hebat.

Informasi cuaca antariksa terutama sangat berguna bagi penghuni antariksa, terutama satelit-satelit dan pesawat antariksa ulang-alik. Saat ini ada sekitar 500 satelit yang masih aktif mengorbit bumi. Jenisnya beragam, antara lain satelit komunikasi, satelit penginderaan jauh, satelit observatorium angkasa, satelit militer, dan satelit sistem penentuan posisi (GPS).

Informasi cuaca antariksa itu dapat diperoleh di lembaga-lembaga keantariksaan. Di Indonesia, informasi itu bisa diperoleh antara lain dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) atau Observatorium Bosscha dan Jurusan Astronomi ITB. Indonesia yang kini banyak memanfaatkan jasa satelit komunikasi sudah semestinya peduli dengan masalah cuaca antariksa ini.

Hujan Meteor

Sama halnya di bumi, matahari adalah penggerak utama cuaca antariksa. Di bumi energi matahari menggerakkan air dalam bentuk uap naik ke atas membentuk awan yang aknhirnya menjatuhkan hujan. Di antariksa pun peran matahari sangat besar dalam membentuk gugusan meteoroid (sumber meteor) atau boleh juga disebut “awan” meteor.

Ketika komet mendekat matahari, energi matahari menguapkan dan menghamburkan es dan debu di inti komet membentuk ekor. Debu-debu ekor komet yang tertinggal di sepanjang lintasan orbitnya merupakan gugusan meteoroid yang bisa menyebabkan hujan meteor di bumi bila bumi melintasinya.

Lagi-lagi mirip dengan cuaca bumi. Awan di bumi ada yang menghasilkan hujan lebat, tetapi ada juga yang hanya menurunkan gerimis. Gugusan meteoroid itu pun sifatnya berbeda-beda tergantung umurnya dan peluruhan meteoroidnya.

Ada gugusan meteoroid yang masih padat tetapi terkonsentrasi di sekitar inti komet sehingga hanya akan menyebabkan hujan meteor periodik, sesuai dengan waktu kehadiran komet mendekat bumi. Golongan ini diwakili oleh hujan meteor Draconids (pada awal Oktober) tahun 1933, 1946, dan 1985 yang disebabkan oleh komet Giacobini-Zinner.

Golongan ke dua adalah gugusan meteoroid tipis di sepanjang lintasannya, tetapi di dekat kometnya kerapatannya tinggi. Misalnya, gugusan meteoroid Leonid (penyebab hujan meteor 14-19 November) yang disebabkan oleh komet Tempel-Tuttle.

Golongan ke tiga adalah gugusan meteoroid yang tersebar merata di sepanjang lintasannya yang menyebabkan hujan meteor yang hampir seragam intensitasnya setiap tahun. Misalnya, hujan meteor Geminids (11-16 Desember) yang disebabkan oleh komet yang telah mati, asteroid Phaethon. Makin tua umurnya, gugusan meteoroid itu makin tipis dan akhirnya tidak menunjukkan lagi gejala hujan meteor.

Beberapa hujan meteor telah diidentifikasikan berkaitan dengan komet yang masih aktif. Hujan meteor Eta Aquarids (3-10  Mei) dan Perseids (7-15 Agustus) masing-masing disebabkan oleh komet Halley dan Swift-Tuttle. Beberapa lainnya dikaitkan dengan komet yang telah hancur, seperti hujan meteor Andromedids (5-23 November) dari debu komet Biela yang hancur sekitar 1860-an. Ada juga yang berasal dari komet yang telah mati, seperti hujan meteor Geminids yang diakibatkan oleh komet mati yang tinggal intinya berupa asteroid Phaethon. Dan beberapa hujan meteor lainnya yang belum diketahui komet-komet penyebabnya seperti hujan meteor Quadrantids 2 – 5 Januari.

Waspadai Leonid

Hujan meteor Leonid (tampak berasal dari rasi Leo) berasal dari debu-debu komet Tempel-Tuttle yang berperiode 33 tahun. Komet Tempel-Tuttlenya telah dikenal sejak 1366 dan terakhir teramati mendekati bumi tahun 1965 dan awal 1998. Sedangkan hujan meteornya telah dikenal jauh sebelumnya, sejak tahun 585.

Hujan meteor Leonid biasa (beberapa meteor per jam) sebenarnya tampak setiap tahun sekitar 14-19 November dengan puncaknya pada 17-18 November. Tetapi, sewaktu-waktu menjadi badai meteor bila komet induknya mendekati bumi. Badai meteor Leonid terakhir teramati 1965, 1966, dan 1998 lalu. Badai meteor Leonid 1966 merupakan badai meteor terbesar dengan jumlah sekitar 150.000 meteor per jam.

Berdasarkan sifat pertemuan lintasan komet dan orbit bumi, sifat hujan meteor Leonid 1998-2000 tidak sama dengan tahun 1966. Badai meteor 1998 lalu hanya menampakkan sekitar 300 meteor per jam. Untuk tahun ini, dilaporkan puncak badai meteor terjadi sekitar pukul 09.15 WIB dengan jumlah 5000 meteor per jam. Ini berarti badai meteor tahun ini memang lebih hebat daripada tahun lalu.

Berbeda dengan hujan meteor umumnya, Leonid merupakan hujan meteor yang paling deras. Rata-rata kecepatan partikel hujan meteor umumnya hanya sekitar 10.000 km/jam, sedangkan kecepatan partikel Leonid sekitar 250.000 km/jam. Kecepatan tinggi itu disebabkan arah orbit partikel Leonid hampir berlawanan dengan arah orbit bumi dengan sudut inklinasi sekitar 17 derajat dan perihelionnya (titik terdekat ke matahari dengan kecepatan orbit maksimum) relatif dekat dengan orbit bumi.

Walaupun ukuran debunya kebanyakan hanya sebesar pasir halus, dengan semburan partikel kecepatan tinggi itu dan dalam jumlah besar, badan satelit yang mengorbit bumi serta panel surya, detektor, dan perangkat elektronik lainnya dapat mengalami gangguan.

Makin tinggi orbit satelit akan mengalami semburan debu yang makin hebat karena berarti semakin dekat dengan bagian Leonid berkerapatan tinggi. Ini berarti satelit yang orbitnya sangat lonjong dengan apogee sangat jauh (sekitar 100.000 km) atau orbit geostasioner (ketinggian 36.000 km) akan lebih terancam daripada satelit berorbit rendah.

Walaupun kemungkinannya hanya sebagian kecil satelit yang terganggu, tetapi gangguan terhadap satelit akibat meteor pernah terjadi. Ketika terjadi peningkatan hujan meteor Perseid pada Agustus 1993, satelit komunikasi Olympus mengalami kerusakan. Gangguan yang mungkin paling sering terjadi adalah timbulnya muatan listrik (plasma) akibat tumbukan dengan meteor halus yang mengganggu sistem elektronik satelit.

Karena bumi berputar, potensi gangguan debu meteor Leonid berlaku untuk semua satelit selama masa bumi masuk dalam area gugusan meteoroidnya, 14-19 November. Memang masa paling kritis terjadi saat puncak badai meteor. Dengan jumlah debu yang maksimal kemungkinan tumbukan pun menjadi lebih besar.

Dari segi risiko harian, saat paling kritis adalah saat dini hari. Karena pada saat itu gabungan kecepatan partikel meteor, orbit bumi, dan rotasi bumi adalah yang maksimal.

Satu Tanggapan

  1. […] Artikel tentang sifat badai meteor Leonid di blog Pak Thomas Djamaluddin Share this:FacebookTwitterLinkedInLike this:SukaBe the first to like this post. Categories: Antariksa, Penelitian Tag:cuaca antariksa, hujan meteor, satelit Komentar (0) Lacak Balik (0) Tinggalkan komentar Lacak balik […]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: