Mungkinkah Komet Swift-Tuttle Akan Menabrak Bumi?


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat Pikiran Rakyat, 23 September 1996)

Komet Swift-Tuttle tetap menarik perhatian kita. Penyebab hujan meteor Perseid setiap 7 – 15 Agustus ini dikhawatirkan akan menabrak bumi pada 14 Agustus 2126. Bila setiap tahun bumi kita hanya dihujani debu-debu sisa komet Swift-Tuttle dalam bentuk hujan meteor, maka pada 2126 komet induknya mungkin yang akan menabrak bumi.

Kemungkinan komet Swift-Tuttle menabrak bumi sempat pula disebut-sebut pada rapat Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana Alam Nasional belum lama ini. Tumbukan pecahan komet Shoemaker-Levy 9 pada pertengahan Juli 1994 yang menimbulkan ledakan raksasa di planet Jupiter memberikan pelajaran betapa hebatnya dampak yang akan terjadi bila komet Swift-Tuttle benar-benar akan menabrak bumi.

Jauh sebelum komet Shoemaker-Levy 9 menabrak Jupiter, bumi pun sebenarnya pernah mengalami hantaman pecahan komet. Pecahan komet Encke yang ditaksir berukuran 100 meter dengan berat sejuta ton dan bergerak dengan kecepatan 30 km/detik (108.000 km/jam) telah menyebabkan peristiwa Tunguska 88 tahun lalu. Pukul 07:17 pagi 30 Juni 1908 bola api raksasa meledak di atas wilayah Tunguska, Siberia Tengah, Rusia. Pepohonan di bawah titik ledakan terbakar, hutan pada radius sekitar 25 km diratakan oleh hempasan gelombang kejut, dan debu dihamburkan ke atmosfer atas. Suara ledakannya terdengar dari jarak 800 km.

Tumbukan yang jauh lebih hebat daripada peristiwa Tunguska pernah juga terjadi. Komet atau asteroid (planet kecil) yang menabrak bumi (diperkirakan jatuh di semenanjung Yukatan, Meksiko) 65 juta tahun lalu telah menyebabkan musim dingin berkepanjangan yang disebut musim dingin tumbukan (impact winter). Musim dingin itu disebabkan terhambatnya cahaya matahari oleh debu dalam jumlah yang luar biasa dihamburkan ke atmosfer dan menyebar ke seluruh dunia. Panjangnya masim dingin diduga menyebabkan punahnya banyak makhluk hidup termasuk dinosaurus.

Belajar pada pengalaman mengerikan akibat dampak tumbukan benda langit, wajarlah bila berita kemungkinan komet Swift-Tuttle menabrak bumi menimbulkan was-was, walau bukan generasi kita yang akan mengalaminya. Lebih dari itu, kini timbul pemikiran di kalangan astronom untuk melakukan ‘patroli’ angkasa mengawasi kalau-kalau ada asteroid atau komet yang mengancam bumi.

Pada awal tahun 1990-an ini sebuah komite yang dikepalai oleh astronom NASA David Morison telah mengusulkan pembangunan teleskop besar berdiameter 2 – 3 meter untuk menjejaki benda-benda langit yang mungkin mengancam bumi.

Komet Swift-Tuttle

Komet Swift-Tuttle semula bernama komet Tuttle karena dianggap yang menemukan pertama kalinya Tuttle dan Simons, astronom Amerika, pada 19 Juli 1862. Komet ini juga dikenal sebagai komet 1862 III karena merupakan komet ke tiga yang teramati pada 1862. Ternyata belakangan diketahui ada astronom amatir Amerika yang lebih awal lagi mengamatinya, Lewis Swift, pada 15 Juli 1862. Maka namanya diubah menjadi Swift-Tuttle berdasarkan nama kedua penemu tersebut.

Dari pengamatan selama tiga bulan selama penampakan 1862 dan perhitungan elemen-elemen orbitnya diketahui bahwa komet ini mencapai titik perihelionnya (jarak terdekat dengan matahari) pada 23 Agustus 1862 dan periode orbitnya sekitar 120 tahun. Berdasarkan berbagai perhitungan diperkirakan komet itu akan muncul lagi sekitar tahun 1981 – 1982. Ada yang memprakirakan komet Swift-Tuttle akan mencapai perihelion pada 30 Juni 1982. Prakiraan lain dengan memasukkan faktor gangguan gravitasi menyebutkan tanggal 13 Mei 1981. Maka para pemburu komet sudah mulai mencarinya sejak 1981. Hasilnya nihil. Komet Swift-Tuttle hilang.

Kegagalan penemuan kembali komet ini mendorong para astronom mengkaji ulang berbagai data pengamatan dan perhitungannya. Selain kegagalan itu, hasil perhitungan lama juga menyatakan bahwa komet Swift-Tuttle sebelum 1862 mestinya muncul pada 1748, ternyata tidak ada informasi pengamatan komet terang pada tahun itu. Catatan yang ada menyebutkan bahwa komet terang teramati pada 1737 (komet Kegler 1737 II) yang diduga identik dengan komet Swft-Tuttle 1862.

Kesalahan sistematik pada penentuan posisi komet Swift-Tuttle 1862 sangat mungkin menyebabkan melesetnya perhitungan elemen orbit. Bila memasukkan koreksi kesalahan sistematik penentuan posisi yang mencapai 1 derajat, maka akan diperoleh penampakan komet sebelum 1862 adalah 1737 yang sesuai penampakan komet Kegler 1737II. Berdasarkan perhitungan baru tersebut penampakan yang berikutnya mestinya 1992.

Tahun 1991 tanda-tanda kehadiran komet sudah tampak. Para astronom amatir di Jepang melaporkan terjadinya hujan meteor Perseid yang lebih banyak daripada biasanya. Radar atmosfer Universitas Kyoto mendeteksi peningkatan hujan meteor tiga kali lipat. Brian G. Marsden dalam edaran IAU (International Astronomical Union) nomor 5330 menduga peningkatan hujan meteor ini berkaitan dengan datangnya komet Swift-Tuttle. Debu-debu komet bisa saja menumpuk di depan dan di belakang komet sehingga sebelum komet mendekati bumi debu-debunya akan meningkatkan hujan meteor.

Benar, dini hari 27 September 1992 sekitar pukul 03.00 komet Swift-Tuttle ditemukan. Dengan menggunakan binokuler 15 cm, astronom amatir dari Nagano, Jepang, Tsuruhiko Kiuchi menjadi orang pertama yang melihatnya. Komet tampak sangat redup, masih berupa titik cahaya tanpa ekor. Sejak itu para astronom amatir dan profesional mengarahkan perhatian pada komet yang pernah “hilang” ini. Dari banyak pengamatan dapat dihitung elemen orbitnya dengan lebih cermat. Perihelion dicapai pada 12 Desember 1992 dan periode orbitnya adalah 135 tahun.

Dengan teleskop besar dan teleskop angkasa para astronom masih berusaha mengikuti jejak komet Swift-Tuttle sampai 1998 pada saat jaraknya 15 SA (SA = satuan astronomi = jarak bumi-matahari = 150 juta km). Pada saat itu komet akan sangat redup, mencapai ambang batas kemampuan teleskop dan kamera CCD yang paling peka. Data pengamatan komet sejak 1993 pada saat komet mulai menjauh sampai 3 SA dari matahari sangat penting untuk mendapatkan perhitungan orbit yang lebih cermat.

Menabrak Bumi?

Kabar tentang kemungkinan komet Swift-Tuttle menabrak bumi bermula dari edaran IAU bernomor 5636, 15 Oktober 1992. Brian G. Marsden, pemimpin biro pusat telegram astronomi di Cambridge, Massachusetts, mengumumkan hasil perhitungannya bahwa komet Swift-Tuttle akan kembali lagi mencapai perihelion pada 11 Juli 2126 dengan ketidakpastian 15 hari. Adanya ketidakpastian itu karena selain gaya-gaya gravitasi, pergerakan komet juga dipengaruhi oleh gaya-gaya lainnya yang merupakan dinamika mikronya yang tidak diketahui dengan pasti.

Andaikan prakiraan Marsden hanya meleset kurang dari satu hari, seperti pada kehadiran Swift-Tuttle 1992, maka tidak perlu khawatir terjadi tumbukan. Komet Swift-Tuttle akan melintas orbit Bumi sebelum bumi sampai pada titik lintasan itu. Tetapi bila komet Swift-Tuttle mencapai perihelion pada batas rentang prakiraannya, 26 Juli 2126, hampir dipastikan komet itu akan bertemu bumi 19 hari kemudian. Pada tanggal 14 Agustus 2126 bumi tepat sampai pada titik persimpangan dengan orbit komet Swift-Tuttle.

Bila terjadi tabrakan pada titik persimpangan itu, musim dingin tumbukan (impact winter) yang pernah terjadi 65 juta tahun lalu mungkin akan berulang. Sebagian besar kehidupan akan punah, mungkin termasuk manusia. Tetapi, melihat rentang ketidakpastiannya yang besar itu, manusia bisa bernafas lega karena kecil kemungkinannya terjadinya tabrakan komet Swift-Tuttle dengan bumi.

Lagi pula, menurut perhitungan orbitnya, komet Swift-Tuttle sebenarnya tidak tepat memotong orbit bumi. Menurut perhitungan saya, komet hanya melintas dekat bumi pada jarak sekitar 1,8 juta km atau sekitar lima kali jarak bumi-bulan. Manusia di bumi pada saat itu mungkin akan menyaksikan pemandangan yang luar biasa: komet dapat terlihat siang hari pada awal Agustus dan hujan meteor Perseid yang luar biasa akan terlihat sepanjang malam.

Jadi, komet Swift-Tuttle sebenarnya tidak mengancam bumi. Bahaya dari langit yang sesunguhnya mungkin datang dari benda langit yang sama sekali belum pernah terdeteksi sehingga belum diketahui perilaku gerakan pada orbitnya. Dalam hal inilah pentingnya usulan para astronom untuk melakukan patroli langit dengan teleskop besar. Bila semua benda langit yang mungkin mengancam bumi berhasil diidentifikasikan, maka langkah-langkah antisipasi bisa disiapkan.

%d blogger menyukai ini: