Mewaspadai dan Mengamati Satelit BeppoSAX Jatuh (2003)


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika, 27 April 2003)

Setelit BeppoSAX milik Italia yang diluncurkan 30 April 1996 diperkirakan  segera jatuh antara akhir April – awal Mei 2003, sekitar 1 Mei 2003. Karena orbitnya di sekitar ekuator dengan inklinasi 4 derajat, maka lokasi jatuhnya terbatas pada daerah sekitar ekuator antara 4,4 derajat lintang utara – 4,4 derajat lintang selatan. Wilayah Indonesia yang termasuk daerah potensial kejatuhan satelit adalah sebagian besar Sumatra kecuali NAD dan Lampung, Kalimantan, sebagian besar Sulawesi kecuali daerah di selatan Pare-pare dan Kendari, Maluku, dan bagian utara Papua. Negara-negara lain yang berpotensi kejatuhan adalah negara-negara di Afrika Tengah dan Amerika Selatan. Namun, lokasi jatuhnya baru dapat ditentukan paling cepat dua hari sebelum jatuh. Informasi terbaru dapat dilihat di situs LAPAN Bandung (http://www.bdg.lapan.go.id/berita1/BeppoSAX.htm).

Tulisan ini akan mengulas sekilas tentang satelit BeppoSAX dan kemungkinan-kemungkinan peristiwa jatuhnya. Tujuannya agar masyarakat waspada, namun tak perlu cemas. Dan kalau cuaca baik antara maghrib sampai isya atau antara shubuh sampai menjelang matahari terbit, terbuka peluang untuk mengamati pergerakan satelit BeppoSAX yang melintasi Indonesia seperti bintang berpindah dari barat ke timur, walau sangat singkat sekitar 3-4 menit.

Beppo SAX

Nama awalnya adalah satelit SAX (Satellite per Astronomia X), yaitu satelit yang berupa teleskop antariksa  pengamat objek-objek astronomis dengan detektor sinar-X. Nama Beppo ditambahkan sebagai penghargaan pada astrofisikawan Italia yang terkenal, Giuseppe Beppo Occhilaini. Semula hanya direncanakan pengamatan dengan BeppoSAX selama dua tahun yang kemudian diperpanjang jadi empat tahun. Ternyata BeppoSAX mampu bertahan selama enam tahun, 1996 – 2002.

Tanda-tanda keuzuran BeppoSAX muncul pada 23 Januari 2002. Waktu itu 4 dari 36 sel batere I (semuanya ada 2 set), tidak berfungsi karena memang sudah tergolong kadaluwarsa. Maka pasokan listrik untuk mendukung operasional perangkat pengamatan menjadi terganggu. Namun, karena program pengamatan masih tanggung belum terselesaikan semua, operasional dipaksakan dengan mengatur jadwal pemakaian perangkat pengamatan. Namun itu pun hanya bisa bertahan sampai 13 Februari 2002. Sesudah itu tidak ada lagi data pengamatan astronomi yang diperoleh. Pada 23 Februari 2003 stabilitas termo-elektrik di satelit juga terganggu karena batere II juga mulai tidak berfungsi baik. Maka pada 11 April 2002 diputuskan bahwa BeppoSAX akan diakhiri opersional pada 30 April 2002, batas akhir program pengamatan tahap V, sekaligus ulang tahunnya yang ke-6. Sejak 30 April 2002 BeppoSAX menjadi sampah antariksa, mengorbit bumi mengikuti hukum gravitasi dan hambatan atmosfer, secara perlahan turun dari ketinggian sekitar 450 km. Padahal saat awal operasionalnya BeppoSAX berada apad ketinggian sekitar 600 km.

Untuk memahami benda-benda yang mungkin akan jatuh ke bumi, perlu juga diketahui komponen-komponen satelit BeppoSAX. Secara umum, BeppoSAX terbagi menjadi 2 bagian besar: bagian wahana antariksa dan bagian muatan perangkat astronomi. Berat totalnya 1400 kg, dengan berat wahana antariksa 910 kg dan muatan perangkat astronomi 490 kg.

Wahana antariksa terdiri dari 3 modul: modul muatan, modul selubung, dan modul layanan. Modul muatan terbuat dari bahan campuran plastik dan serat karbon dengan penguat titanium dan lapisan aluminium. Modul muatan digunakan untuk menempatkan perangkat pengamatan astronomi. Modul selubung terbuat dari aluminium berlapis untuk pengatur suhu dan pelindung perangkat astronomi. Modul layanan terdiri dari sistem elektronik dan penyangga satelit pada roket saat peluncurannya. Panel surya dipasang di bagian luar wahana antariksa, seperti sayap pesawat terbang. Badan satelit berukuran panjang 3,6 meter dengan penampang 2,4 meter. Panel surya yang terdiri dari 8700 panel membentang 18 meter.

Secara umum wahana antariksa mempunyai beberapa sistem dengan fungsi masing-masing. Fungsi utama adalah sebagai penyangga semua perangkat wahana dan perangkat pengamatan. Sistem lainnya adalah kontrol suhu, kontrol orbit dan arah badan satelit yang terkait dengan arah objek yang diamati, kontrol reaksi bila ketinggiannya merosot di bawah 450 km, serta sistem telemetri, penjejakan, dan komando. Selain itu ada sistem pembangkit listrik dengan panel surya, sistem penyimpan dan pembagi energi listrik, sistem hubungan listrik, sistem penyimpan data, serta sistem pendukung lainnya.

Ada dua bagian sistem yang mendapat perhatian agak khusus saat jatuh karena sifat kimiawinya yang berbahaya. Pertama, sistem kontrol reaksi dengan tangki berupa bola titanium yang berisi 26 kg hidrazin C2H4 dan 0.5 kg gas penekan GN2. Titanium sangat kuat sehingga bola ini akan utuh jatuh ke bumi. Hidrazin tergolong bahan yang sangat beracun yang bila terisap bisa menyebabkan gangguan pernafasan dan gangguan pada sistem syaraf pusat dan bila mengenai mata dapat merusakkannya. Belum bisa dipastikan apakah pada saat turun ke bumi dan mengalami pemanasan luar biasa di angkasa hidrazin akan habis atau tetap bertahan pada tabung bulat tersebut. Kedua, sel batere yang terbuat dari nikel kadmium, NiCd. Kadmium tergolong bahan yang sangat beracun.

Perangkat pengamatan astronomi yang dibawa BeppoSAX terdiri dari 5 komponen yang telah berhasil melakukan lebih dari 1100 pengamatan. Komponen pertama adalah spektrometer pengumpul sinar-X energi rendah yang terdiri dari sebuah teleskop dengan cermin berlapis emas untuk mendapatkan pemantulan maksimum. Spektrometer ini mengambil spektrum dan citra objek pemancar sinar-X berenergi 0,1 – 10 keV. Komponen kedua adalah spektrometer pengumpul sinar-X energi menengah (1 – 10 keV) yang terdiri dari 3 teleskop untuk pengambilan spektrum dan citra objek sinar-X. Komponen lainnya adalah spektrometer untuk energi yang lebih tinggi 3 – 120 keV dan 15 – 300 keV. Semua komponen tersebut untuk pengamatan medan sempit untuk objek-objek tertentu saya.

Komponen terakhir adalah kamera medan luas untuk survai objek-objek pemancar sinar-X berenergi 2 – 30 keV dan pemantau ledakan sinar gamma berenergi 60 – 600 keV. Kamera medan luas ini telah menemukan 130 objek pemancar sinar-X yang baru dan lebih dari 50 ledakan sinar gamma. Objek ledakan sinar gamma adalah objek paling terang di alam semesta sesudah bigbang yang menjadi asal usul alam semesta.

Skenario Jatuh

Pada 23 April 2003 ketinggiannya sekitar 268 km dengan kecepatan turun sekitar 5 km/hari sambil mengorbit bumi setiap 90 menit. Makin lama satelit makin cepat turun karena efek hambatan udara yang semakin padat. Ketika ketinggian satelit telah turun sampai ketinggian sekitar 100 km, satelit akan terbakar karena gesekan dengan udara yang makin rapat. Sebagian besar bahannya akan terbakar habis, hanya sekitar 47% yang  akan tersisa dan jatuh ke permukaan bumi. Bahan-bahan yang tidak terbakar tersebut terbuat dari titanium, baja stainless, aluminium, dan tembaga. Puing-puingnya diperkirakan berjumlah 42 buah dengan bagian terbesar berbobot  120 kg dari badan utama satelit.

Puing-puing lainnya yang akan jatuh terdiri dari 13 potong berbobot 10 – 100 kg, sebagian besar berasal dari perangkat pengamatan, termasuk beberapa potong bekas tabung teleskop. Selain itu ada 13 potong juga berbobot 1 – 10 kg, termasuk tangki bekas hidrazin. Selebihnya sebanyak 15 potong berbobot kurang dari 1 kg, antara lain terdiri dari bekas-bekas pipa dan penyangga perangkat pengamatan. Sebagai gambaran ukurannya, secara total bila semua puing dijajarkan bisa mencapai luas 30 meter persegi (area 5 x 6 meter). Puing terbesar luas penampang rata-rata sekitar 0,8 meter persegi.

Sejak terbakar di angkasa pada ketinggian sekitar 100 km, puing-puing satelit perlu waktu sekitar 40 menit untuk mencapai permukaan bumi. Puing-puing tersebut diperkirakan akan jatuh satu per satu  pada daerah seluas 32 km x 315 km, kira-kira jarak lurus antara Padang – Jambi. Kecepatan jatuhnya antara 60 – 460 km/jam. Memang sangat berbahaya, karenanya perlu diwaspadai.

Secara teoritik, kemungkinan ada manusia yang terkena 1 : 2.000, namun kemungkinan seseorang terkena 1 : 1.000.000.000.000. Sedangkan kemungkinan  suatu pesawat terbang atau kapal laut terkena puing-puing satelit 1 : 10.000.000. Demikian juga dalam sejarah teknologi antariksa belum ada laporan bencana kejatuhan benda antariksa, walaupun frekuensi kajadian benda jatuh dari angkasa rata-rata 3 hari sekali dan yang besar rata-rata setiap dua pekan. Jadi, tidak perlu cemas, namun perlu waspada. Kewaspadaan perlu dilakukan bila telah dipastikan lokasi dan waktu jatuhnya. Masyarakat di wilayah tersebut perlu memperhatikan langit dan berupaya menjauh bila terlihat ada benda jatuh atau berlindung di gedung beratap beton kokoh.

Menjelang jatuhnya, satelit BeppoSAX yang makin rendah bisa dilihat di langit sekitar waktu shubuh atau sesudah maghrib. BeppoSAX akan tampak seperti bintang yang bergerak selama 3 – 4 menit. Pertama kali muncul dari arah Barat Laut (BL) ke Utara (U) lalu ke Timur Laut (TL) atau dari Barat Daya (BD) ke Selatan (S) lalu ke Tenggara (TG). Pada tabel dicantumkan waktu-waktu pengamatan untuk wilayah sekitar Bandung, Jakarta, Padang, dan Pontianak. Untuk daerah lain bisa dicari melalui internet http://www.heavens-above.com dengan memilih dari basis data untuk satelit nomor 23857.

Iklan

Satu Tanggapan

  1. […] Artikel tentang satelit BeppoSax (menjelang jatuh) di blog Pak Thomas Djamaluddin Share this:FacebookTwitterLinkedInLike this:SukaBe the first to like this post. Categories: Antariksa Tag:benda jatuh, sampah antariksa Komentar (4) Lacak Balik (2) Tinggalkan komentar Lacak balik […]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: