Dugaan “Meteorit” Bima Tak Terbukti


(Analisis awal dimuat 10 Mei 2010, direvisi dengan analisis terbaru pada 18 Mei 2010)

Ini ringkasan berita di media massa (Liputan6.com, Bima): Benda diduga meteor jatuh di Pegunungan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (3/5-2010) malam. Benda yang terlihat bercahaya ketika turun dari langit itu sempat meledak dua kali sebelum menghujam bumi dan meninggalkan lubang berdiameter 50 X 50 centimeter.

Menurut pengakuan  warga sekitar, benda yang jatuh dari langit sekitar pukul 20.30 WITA itu mengeluarkan cahaya hingga satu kilometer panjangnya. Lubang bekas jatuhnya meteor itu terbentuk mirip kubangan batu yang diselimuti kaca dan hingga Selasa pagi masih mengeluarkan hawa panas. Daun-daun pepohonan di sekitar lubang juga kering akibat terkena hawa panas.
Menurut pengakuan beberapa warga yang menyaksikan, sebelum benda tersebut jatuh terlihat sebuah benda yang terbang dengan kecepatan tinggi. Benda terbang tersebut mengeluarkan cahaya aneh. Ketika sampai di tanah benda tersebut mengeluarkan suara desingan dan meledak hingga mengeluarkan cahaya kuning kemerahan yang menerangi hampir seluruh Pegunungan Wawo.
Sebuah kabel listrik yang berada di sekitarnya terputus hingga mengakibatkan desa di sekitar lokasi gelap. Di saat kondisi gelap itulah terjadi dua kali ledakan disertai cahaya yang terlihat hingga jarak sekitar 1,5 km dari lokasi. Kini lokasi jatuhnya benda langit yang diduga meteor ini masih dipenuhi warga dari berbagai daerah di Kabupaten Bima.

Ini gambar-gambar lainnya dari media massa, tampak bekas-bekas lelehan batuan di sekitar lubang yang diduga akibat meteorit (pada gambar terakhir, lelehan beku dipecah)

Apa yang sesungguhnya terjadi? Benda jatuh dari langit (disebut benda jatuh antariksa) terbagi dalam 2 kelompok: sampah antariksa (bekas roket atau satelit) dan meteorit. Analisis orbit sampah antariksa yang dilakukan LAPAN menyimpulkan bahwa pada saat kejadian tidak ada sampah antariksa yang jatuh. Oleh karenanya dengan dukungan informasi kesaksian warga bahwa ada benda jatuh bercahaya, mengeluarkan suara desingan, memanasi ranting pohon yang dilalui, membuat lubang di tanah yang panas dan ada bekas lelehan batuan yang terpapar panas, mengarah pada dugaan bahwa benda jatuh tersebut meteorit. Sayangnya sebelum diteliti oleh LAPAN atau lembaga yang berwenang, masyarakat terlanjur mengambil batuan leleh dan kemungkinan benda yang mungkin meteorit (bila benar).

Dari analisis gambar yang ada di media massa, semula diperkirakan itu meteorit yang jatuh dari arah sekitar Barat. Kecepatan jatuh dan suhu tinggi tampaknya yang menyebabkan meteor masuk cukup dalam ke dalam tanah dan melelehkan batuan di sekitar lubang tersebut. Sampai pagi dikabarkan lubang tersebut masih panas. Diduga meteorit yang jatuh dari jenis logam yang meyimpan panas lebih lama.

Seperti halnya meteorit di Duren Sawit, masalah panasnya objek yang jatuh itu menarik untuk diteliti lebih lanjut. Secara teoritik, biasanya meteorit relatif dingin saat mencapai bumi karena saat memasuki udara yang lebih padat terjadi peningkatan hambatan udara yang mengerem laju jatuhnya dan memberi efek pendinginan. Tetapi, memang itu tidak bersifat umum. Beberapa meteorit diketahui mencapai permukaan bumi dalam keadaan panas atau sangat panas, misalnya meteorit batuan yang ditemukan di dekat Taters, Fribourg, Switzerland ( http://tin.er.usgs.gov/meteor/index.php?code=15486 ) dan meteor besi di Bahrampur dan Man Bishunpur district, Bihar, India (http://tin.er.usgs.gov/meteor/index.php?code=16885).

Analisis belum berakhir. Pada 8 Mei 2010 Tim Bapeten mendapat sampel batuan kaca (glass rocks) dengan bagian luar batuan kasar. Analisis awal di Geologi ITB menunjukkan bahwa batuan tersebut bersifat magnetik (bisa menarik magnet di dekatnya karena kandungan besinya). Ini indikasi yang menarik, karena sebagian besar meteorit bersifat magnetik. Bisa jadi, pecahan meteorit mengkontaminasi lelehan silika pada batuan tersebut. Indikasi itu menarik minat untuk mencari bukti-bukti lainnya, termasuk kalau mungkin mencari meteoritnya di dasar lubang (yang sudah diambil warga)

Tetapi lelehan silika untuk tumbukan kecil tak lazim. Silika mempunyai titik leleh sekitar 1650 derajat C. Belum ada laporan dalam literatur jatuhnya meteor kecil dengan suhu tinggi seperti itu. Memang ada kaitan batuan kaca alami dengan meteorit, yaitu meteorit batuan kaca yang dinamakan Tektite.  Namun itu diperkirakan hasil tumbukan meteorit besar yang panasnya yang sangat tinggi sehingga melelehkan batuan di titik tumbukan. Akibat tumbukan besar itu banyak lelehan terlontar  ke udara dan jatuh di tempat yang jauh.  Ketika jatuh bentuknya menjadi unik. Itulah meteorit Tektite. Jadi batuan kaca yang terjadi akibat tumbukan meteorit kecil dianggap janggal. Pasti ada mekanisme lain yang perlu dijelaskan.

Untuk mendapatkan bukti lebih lanjut dan menganalisis mekanisme pembentukan batuan kaca tersebut, Tim LAPAN mendatangi lokasi pada Ahad, 16 Mei 2010 bersama Tim Unit Identifikasi Polresta Bima yang sebelumnya telah memeriksa TKP. Lokasinya di lereng buktit, hanya sekitar 3 meter dari sisi jalan. Di atas lokasi ada kabel listrik tegangan tinggi.  Pada saat kejadian, kabel paling kiri atas (pada gambar) putus pada posisi dekat tiang listrik dan (menurut PLN) setelah kejadian panjang kabel berkurang sekitar 5 meter.

Lokasi kejadian di lereng bukit.

Kabel listrik tegangan tinggi di atas lokasi kejadian

Peringatam tegangan tinggi di tiang di dekat lokasi kejadian

Menurut keterangan, cahaya terang dan ledakan terjadi ketika kabel listrik tegangan tinggi putus. Jadi warga rancu antara munculnya cahaya dan bunyi ledakan, sehingga muncul anggapan kilatan cahaya akibat benda jatuh. PLN baru mematikan listrik setelah meninjau lokasi dari jalan raya. Paginya warga dan media massa menemukan lubang panas yang asalnya berbentuk segi tiga yang di dalamnya terdapat lapisan seperti kaca hitam.

Apakah lubang itu disebabkan meteorit? LAPAN menggunakan analisis eliminasi faktor-faktor lokal sebelum menyimpulkan dugaan jatuhnya meteorit. Sebelumnya, berdasarkan informasi media massa, tidak ada faktor-faktor lokal yang disebutkan terjadi di lokasi tersebut. Tidak ada ledakan bahan peledak. Putusnya kabel listrik diberitakan seolah sebagai “akibat”, bukan “sebab”. Sehingga  muncul dugaan yang mengarah pada jatuhnya meteorit besi yang panas seperti disebutkan di atas. Walau pun demikian tetap menganggap ada kejanggalan, karena itu terlalu panas untuk jatuhnya meteorit kecil.

Hasil analisis di lapangan dan kajian kepolisian serta PLN setempat, menyimpulkan adanya faktor lokal yang menjadi penyebabnya. Kuncinya adalah putusnya kabel listrik tegangan tinggi. Putusnya kabel litsrik tegangan tinggi bukanlah “akibat” (terkena meteorit), melainkan justru sebagai “sebab”. Itu pula yang menjelaskan adanya lapisan batuan kaca di dalam lubang.

Ketika kabel jatuh masih dengan arus listrik tegangan tinggi, kabel bergerak liar mengenai batuan basah. Ibarat las listrik (arc welding), lompatan arus listrik menyebabkan cahaya sangat terang dan suhu sangat tinggi, mencapai ribuan derajat. Kabel liar itu mengenai batu-batu di lereng bukit tersebut meninggalkan jejak alur-alur hitam bekas goresan paparan panas sangat tinggi yang melelehkan. Akhirnya kabel berhenti di satu titik memanasi batuan di tempat tersebut hingga silikanya meleleh melapisi lubang dan menggenangi bagian dalam lubang. Bahkan ada indikasi lelehan silika itu seperti mendidih (sebenarnya karena efek pelepasan gas dan uap air dari batuan yang meleleh) karena dijumpai ada gelembung-gelembung besar di dalam batuan kaca. Suhu yang sangat tinggi pula yang menjelaskan hilangnya kabel sekitar 5 meter pasca kejadian. Tembaga titik lelehnya hanya sekitar 1080 derajat. Pada sampel yang ditemukan dijumpai lapisan warna tembaga bersama lapisan kaca, yang diduga lelehan tembaga dari kabel listrik.

Batu-batu dengan alur-alur bekas goresan paparan panas tinggi

Lelehan kaca silika gelembung-gelembung dan lapisan warna tembaga

Lalu mengapa pada sampel ada indikasi sifat magnetik yang semula mengarahkan pada kemungkinan kontaminasi pecahan meteorit? Hasil analisis lapangan menunjukkan bahwa batu di sekitar lokasi dan di seberang jalan yang jauh dari lokasi semuanya mengindikasikan sifat magnetik, artinya batuan di sekitar lokasi kejadian memang mengandung besi.

Batu di lokasi kejadian bersifat magnetik.

Batu di seberang jalan, jauh dari lokasi, juga bersifat magnetik.

Jadi, kesimpulannya dugaan jatuhnya meteor atau meteorit di Bima tidak terbukti. Ada faktor lokal yang semula tidak terungkap di media massa dapat menjelaskan terjadinya lubang dengan lapisan batuan kaca.

Ucapan Terima Kasih

– Sampel awal diperoleh dari Direktur Keteknikan dan Kesiapsiagaan Nuklir, Bapeten (Pak Reno Alamsyah)

– Bantuan kepolisian difasilitas Wakapolres Bima (Pak Adi Nugraha)

– Nara sumber di lapangan: Kepala Unit Identifikasi Polresta Bima (Pak Subagyo)

– Salah satu sampel penting diperoleh dari Kapolsek Wawo (Pak Bunyamin)

– Beberapa peralatan analisis batuan diperoleh dari Pak Andri (Geologi ITB)

%d blogger menyukai ini: