Tujuh Langit, Tidak Berarti Tujuh Lapis

T. Djamaluddin, Peneliti  Matahari dan  Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Dialog Jumat REPUBLIKA, 12 November 1999)

Menarik menyimak argumentasi para peminat astronomi tentang makna sab’a samaawaat (tujuh langit). Namun ada kesan pemaksaan fenomena astronomis untuk dicocokkan dengan eksistensi lapisan-lapisan langit.

Di kalangan mufasirin lama pernah juga berkembang penafsiran lapisan-lapisan langit itu berdasarkan konsep geosentris. Bulan pada langit pertama, kemudian disusul Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, dan Saturnus pada langit ke dua sampai ke tujuh.

Konsep geosentris tersebut yang dipadukan dengan astrologi (suatu hal yang tidak terpisahkan dengan astronomi pada masa itu) sejak sebelum zaman Islam telah dikenal dan melahirkan konsep tujuh hari dalam sepekan. Benda-benda langit itu dianggap mempengaruhi kehidupan manusia dari jam ke jam secara bergantian dari yang terjauh ke yang terdekat.

Bukanlah suatu kebetulan 1 Januari tahun 1 ditetapkan sebagai hari Sabtu (Saturday — hari Saturnus — atau Doyobi dalam bahasa Jepang yang secara jelas menyebut nama hari dengan nama benda langitnya). Pada jam 00.00 itu Saturnus yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Bila diurut selama 24 jam, pada jam 00.00 berikutnya jatuh pada matahari. Jadilah hari berikutnya sebagai hari matahari (Sunday, Nichyobi). Dan seterusnya.

Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi hari Bulan (Monday, getsuyobi, Senin), hari Mars (Kayobi, Selasa), hari Merkurius (Suiyobi, Rabu), hari Jupiter (Mokuyobi, Kamis), dan hari Venus (Kinyobi, Jum’at). Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari.

Pemahaman tentang tujuh langit sebagai tujuh lapis langit dalam konsep keislaman mungkin bukan sekadar pengaruh konsep geosentris lama, tetapi juga diambil dari kisah mi’raj Rasulullah SAW. Mi’raj adalah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha yang secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal‑hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al‑Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.

Secara sekilas kisah mi’raj di dalam hadits shahih sebagai berikut: Mula-mula Rasulullah SAW memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat shalat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam‑kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non‑fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir.

Jibril juga mengajak Rasulullah SAW melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al‑Qur’an surat An‑Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah shalat wajib.

Lapisan Langit?

Langit (samaa’ atau samawat) di dalam Al-Qur’an berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu, dan gas yang bertebaran. Dan lapisan‑lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda‑benda langit sama sekali tidak dikenal dalam astronomi.

Ada yang berpendapat lapisan itu ada dengan berdalil pada QS 67:3 dan 71:15 sab’a samaawaatin thibaqaa. Tafsir Depag menyebutkan “tujuh langit berlapis-lapis” atau “tujuh langit bertingkat-tingkat”. Walaupun demikian, itu tidak bermakna tujuh lapis langit. Makna thibaqaa, bukan berarti berlapis-lapis seperti kulit bawang, tetapi (berdasarkan tafsir/terjemah Yusuf Ali, A. Hassan, Hasbi Ash-Shidiq, dan lain-lain) bermakna bertingkat-tingkat, bertumpuk, satu di atas yang lain.

“Bertingkat-tingkat” berarti jaraknya berbeda-beda. Walaupun kita melihat benda-benda langit seperti menempel pada bola langit, sesungguhnya jaraknya tidak sama. Rasi-rasi bintang yang dilukiskan mirip kalajengking, mirip layang-layang, dan sebagainya sebenarnya jaraknya berjauhan, tidak sebidang seperti titik-titik pada gambar di kertas.

Lalu apa makna tujuh langit bila bukan berarti tujuh lapis langit? Di dalam Al‑Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh  puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung banyaknya. Dalam matematika kita mengenal istilah “tak berhingga” dalam suatu pendekatan limit, yang berarti bilangan yang sedemikian besarnya yang lebih besar dari yang kita bayangkan. Kira-kira seperti itu pula, makna ungkapan “tujuh” dalam beberapa ayat Al-Qur’an.

Misalnya, di dalam Q.S. Luqman:27 diungkapkan, “Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan tujuh lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah.” Tujuh lautan bukan berarti jumlah eksak, karena dengan delapan lautan lagi atau lebih kalimat Allah tak akan ada habisnya.

Sama halnya dalam Q. S. 9:80: “…Walaupun kamu mohonkan ampun bagi mereka (kaum munafik) tujuh puluh kali, Allah tidak akan memberi ampun….” Jelas, ungkapan “tujuh puluh” bukan berarti bilangan eksak. Allah tidak mungkin mengampuni mereka bila kita mohonkan ampunan lebih dari tujuh puluh kali.

Jadi, ‘tujuh langit’ semestinya difahami pula sebagai benda‑benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan‑lapisan langit.

Lalu apa makna langit pertama, ke dua, sampai ke tujuh dalam kisah mi’raj Rasulullah SAW? Muhammad Al Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi’ra, yang berarti menafsirkan tujuh langit dalam makna fisik. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha juga dari Mesir, berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah isra’ mi’raj adalah langit ghaib.

Dalam kisah mi’raj itu peristiwa fisik bercampur dengan peristiwa ghaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitur Makmur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, saya sependapat dengan  Muhammad Rasyid Ridha dan lainnya bahwa pengertian langit dalam kisah mi’raj itu memang bukan langit fisik yang berisi bintang-bintang, tetapi langit ghaib.

Iklan

Mewaspadai dan Mengamati Satelit BeppoSAX Jatuh (2003)

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika, 27 April 2003)

Setelit BeppoSAX milik Italia yang diluncurkan 30 April 1996 diperkirakan  segera jatuh antara akhir April – awal Mei 2003, sekitar 1 Mei 2003. Karena orbitnya di sekitar ekuator dengan inklinasi 4 derajat, maka lokasi jatuhnya terbatas pada daerah sekitar ekuator antara 4,4 derajat lintang utara – 4,4 derajat lintang selatan. Wilayah Indonesia yang termasuk daerah potensial kejatuhan satelit adalah sebagian besar Sumatra kecuali NAD dan Lampung, Kalimantan, sebagian besar Sulawesi kecuali daerah di selatan Pare-pare dan Kendari, Maluku, dan bagian utara Papua. Negara-negara lain yang berpotensi kejatuhan adalah negara-negara di Afrika Tengah dan Amerika Selatan. Namun, lokasi jatuhnya baru dapat ditentukan paling cepat dua hari sebelum jatuh. Informasi terbaru dapat dilihat di situs LAPAN Bandung (http://www.bdg.lapan.go.id/berita1/BeppoSAX.htm).

Tulisan ini akan mengulas sekilas tentang satelit BeppoSAX dan kemungkinan-kemungkinan peristiwa jatuhnya. Tujuannya agar masyarakat waspada, namun tak perlu cemas. Dan kalau cuaca baik antara maghrib sampai isya atau antara shubuh sampai menjelang matahari terbit, terbuka peluang untuk mengamati pergerakan satelit BeppoSAX yang melintasi Indonesia seperti bintang berpindah dari barat ke timur, walau sangat singkat sekitar 3-4 menit.

Beppo SAX

Nama awalnya adalah satelit SAX (Satellite per Astronomia X), yaitu satelit yang berupa teleskop antariksa  pengamat objek-objek astronomis dengan detektor sinar-X. Nama Beppo ditambahkan sebagai penghargaan pada astrofisikawan Italia yang terkenal, Giuseppe Beppo Occhilaini. Semula hanya direncanakan pengamatan dengan BeppoSAX selama dua tahun yang kemudian diperpanjang jadi empat tahun. Ternyata BeppoSAX mampu bertahan selama enam tahun, 1996 – 2002.

Tanda-tanda keuzuran BeppoSAX muncul pada 23 Januari 2002. Waktu itu 4 dari 36 sel batere I (semuanya ada 2 set), tidak berfungsi karena memang sudah tergolong kadaluwarsa. Maka pasokan listrik untuk mendukung operasional perangkat pengamatan menjadi terganggu. Namun, karena program pengamatan masih tanggung belum terselesaikan semua, operasional dipaksakan dengan mengatur jadwal pemakaian perangkat pengamatan. Namun itu pun hanya bisa bertahan sampai 13 Februari 2002. Sesudah itu tidak ada lagi data pengamatan astronomi yang diperoleh. Pada 23 Februari 2003 stabilitas termo-elektrik di satelit juga terganggu karena batere II juga mulai tidak berfungsi baik. Maka pada 11 April 2002 diputuskan bahwa BeppoSAX akan diakhiri opersional pada 30 April 2002, batas akhir program pengamatan tahap V, sekaligus ulang tahunnya yang ke-6. Sejak 30 April 2002 BeppoSAX menjadi sampah antariksa, mengorbit bumi mengikuti hukum gravitasi dan hambatan atmosfer, secara perlahan turun dari ketinggian sekitar 450 km. Padahal saat awal operasionalnya BeppoSAX berada apad ketinggian sekitar 600 km.

Untuk memahami benda-benda yang mungkin akan jatuh ke bumi, perlu juga diketahui komponen-komponen satelit BeppoSAX. Secara umum, BeppoSAX terbagi menjadi 2 bagian besar: bagian wahana antariksa dan bagian muatan perangkat astronomi. Berat totalnya 1400 kg, dengan berat wahana antariksa 910 kg dan muatan perangkat astronomi 490 kg.

Wahana antariksa terdiri dari 3 modul: modul muatan, modul selubung, dan modul layanan. Modul muatan terbuat dari bahan campuran plastik dan serat karbon dengan penguat titanium dan lapisan aluminium. Modul muatan digunakan untuk menempatkan perangkat pengamatan astronomi. Modul selubung terbuat dari aluminium berlapis untuk pengatur suhu dan pelindung perangkat astronomi. Modul layanan terdiri dari sistem elektronik dan penyangga satelit pada roket saat peluncurannya. Panel surya dipasang di bagian luar wahana antariksa, seperti sayap pesawat terbang. Badan satelit berukuran panjang 3,6 meter dengan penampang 2,4 meter. Panel surya yang terdiri dari 8700 panel membentang 18 meter.

Secara umum wahana antariksa mempunyai beberapa sistem dengan fungsi masing-masing. Fungsi utama adalah sebagai penyangga semua perangkat wahana dan perangkat pengamatan. Sistem lainnya adalah kontrol suhu, kontrol orbit dan arah badan satelit yang terkait dengan arah objek yang diamati, kontrol reaksi bila ketinggiannya merosot di bawah 450 km, serta sistem telemetri, penjejakan, dan komando. Selain itu ada sistem pembangkit listrik dengan panel surya, sistem penyimpan dan pembagi energi listrik, sistem hubungan listrik, sistem penyimpan data, serta sistem pendukung lainnya.

Ada dua bagian sistem yang mendapat perhatian agak khusus saat jatuh karena sifat kimiawinya yang berbahaya. Pertama, sistem kontrol reaksi dengan tangki berupa bola titanium yang berisi 26 kg hidrazin C2H4 dan 0.5 kg gas penekan GN2. Titanium sangat kuat sehingga bola ini akan utuh jatuh ke bumi. Hidrazin tergolong bahan yang sangat beracun yang bila terisap bisa menyebabkan gangguan pernafasan dan gangguan pada sistem syaraf pusat dan bila mengenai mata dapat merusakkannya. Belum bisa dipastikan apakah pada saat turun ke bumi dan mengalami pemanasan luar biasa di angkasa hidrazin akan habis atau tetap bertahan pada tabung bulat tersebut. Kedua, sel batere yang terbuat dari nikel kadmium, NiCd. Kadmium tergolong bahan yang sangat beracun.

Perangkat pengamatan astronomi yang dibawa BeppoSAX terdiri dari 5 komponen yang telah berhasil melakukan lebih dari 1100 pengamatan. Komponen pertama adalah spektrometer pengumpul sinar-X energi rendah yang terdiri dari sebuah teleskop dengan cermin berlapis emas untuk mendapatkan pemantulan maksimum. Spektrometer ini mengambil spektrum dan citra objek pemancar sinar-X berenergi 0,1 – 10 keV. Komponen kedua adalah spektrometer pengumpul sinar-X energi menengah (1 – 10 keV) yang terdiri dari 3 teleskop untuk pengambilan spektrum dan citra objek sinar-X. Komponen lainnya adalah spektrometer untuk energi yang lebih tinggi 3 – 120 keV dan 15 – 300 keV. Semua komponen tersebut untuk pengamatan medan sempit untuk objek-objek tertentu saya.

Komponen terakhir adalah kamera medan luas untuk survai objek-objek pemancar sinar-X berenergi 2 – 30 keV dan pemantau ledakan sinar gamma berenergi 60 – 600 keV. Kamera medan luas ini telah menemukan 130 objek pemancar sinar-X yang baru dan lebih dari 50 ledakan sinar gamma. Objek ledakan sinar gamma adalah objek paling terang di alam semesta sesudah bigbang yang menjadi asal usul alam semesta.

Skenario Jatuh

Pada 23 April 2003 ketinggiannya sekitar 268 km dengan kecepatan turun sekitar 5 km/hari sambil mengorbit bumi setiap 90 menit. Makin lama satelit makin cepat turun karena efek hambatan udara yang semakin padat. Ketika ketinggian satelit telah turun sampai ketinggian sekitar 100 km, satelit akan terbakar karena gesekan dengan udara yang makin rapat. Sebagian besar bahannya akan terbakar habis, hanya sekitar 47% yang  akan tersisa dan jatuh ke permukaan bumi. Bahan-bahan yang tidak terbakar tersebut terbuat dari titanium, baja stainless, aluminium, dan tembaga. Puing-puingnya diperkirakan berjumlah 42 buah dengan bagian terbesar berbobot  120 kg dari badan utama satelit.

Puing-puing lainnya yang akan jatuh terdiri dari 13 potong berbobot 10 – 100 kg, sebagian besar berasal dari perangkat pengamatan, termasuk beberapa potong bekas tabung teleskop. Selain itu ada 13 potong juga berbobot 1 – 10 kg, termasuk tangki bekas hidrazin. Selebihnya sebanyak 15 potong berbobot kurang dari 1 kg, antara lain terdiri dari bekas-bekas pipa dan penyangga perangkat pengamatan. Sebagai gambaran ukurannya, secara total bila semua puing dijajarkan bisa mencapai luas 30 meter persegi (area 5 x 6 meter). Puing terbesar luas penampang rata-rata sekitar 0,8 meter persegi.

Sejak terbakar di angkasa pada ketinggian sekitar 100 km, puing-puing satelit perlu waktu sekitar 40 menit untuk mencapai permukaan bumi. Puing-puing tersebut diperkirakan akan jatuh satu per satu  pada daerah seluas 32 km x 315 km, kira-kira jarak lurus antara Padang – Jambi. Kecepatan jatuhnya antara 60 – 460 km/jam. Memang sangat berbahaya, karenanya perlu diwaspadai.

Secara teoritik, kemungkinan ada manusia yang terkena 1 : 2.000, namun kemungkinan seseorang terkena 1 : 1.000.000.000.000. Sedangkan kemungkinan  suatu pesawat terbang atau kapal laut terkena puing-puing satelit 1 : 10.000.000. Demikian juga dalam sejarah teknologi antariksa belum ada laporan bencana kejatuhan benda antariksa, walaupun frekuensi kajadian benda jatuh dari angkasa rata-rata 3 hari sekali dan yang besar rata-rata setiap dua pekan. Jadi, tidak perlu cemas, namun perlu waspada. Kewaspadaan perlu dilakukan bila telah dipastikan lokasi dan waktu jatuhnya. Masyarakat di wilayah tersebut perlu memperhatikan langit dan berupaya menjauh bila terlihat ada benda jatuh atau berlindung di gedung beratap beton kokoh.

Menjelang jatuhnya, satelit BeppoSAX yang makin rendah bisa dilihat di langit sekitar waktu shubuh atau sesudah maghrib. BeppoSAX akan tampak seperti bintang yang bergerak selama 3 – 4 menit. Pertama kali muncul dari arah Barat Laut (BL) ke Utara (U) lalu ke Timur Laut (TL) atau dari Barat Daya (BD) ke Selatan (S) lalu ke Tenggara (TG). Pada tabel dicantumkan waktu-waktu pengamatan untuk wilayah sekitar Bandung, Jakarta, Padang, dan Pontianak. Untuk daerah lain bisa dicari melalui internet http://www.heavens-above.com dengan memilih dari basis data untuk satelit nomor 23857.

DEBU KOMET HALLEY PENYEBAB MENINGKATNYA CURAH HUJAN

T. Djamaluddin,  Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di KOMPAS, 18 Juli 1996)

Meteor sering disebut orang sebagai bintang jatuh. Sebenarnya meteor adalah debu-debu dari luar Bumi yang masuk ke atmosfer dan terbakar akibat gesekan dengan udara. Pembakaran itulah yang menimbulkan cahaya terang seperti bintang jatuh.

Pada saat-saat tertentu dapat disaksikan meteor yang lebih banyak yang dikenal sebagai hujan meteor. Penyebab hujan meteor biasanya adalah debu-debu yang ditinggalkan oleh komet yang melintas dekat Bumi. Hujan meteor Eta Aquarids yang disebabkan oleh debu-debu komet Halley dapat disaksikan setiap tanggal 3 – 10 Mei dengan puncaknya pada tanggal 4 dan 5 Mei. Bila langit cerah, kita bisa menyaksikan “bintang jatuh” yang relatif sering pada dini hari dari arah langit utara.

Di samping debu-debu penyebab fenomena hujan meteor, komet juga meninggalkan debu-debu yang amat halus yang disebut mikrometeoroid. Mikrometeoroid dari komet yang melayang tanpa terbakar masuk ke stratosfer dan atmosfer bawah. Diduga debu-debu komet tersebut berpotensi menjadi inti kondensasi awan, yang mungkin juga menjadi awan hujan.

Saya telah menganalisis dampak debu-debu komet pada peningkatan curah hujan di Indonesia pada saat komet Halley mendekati Bumi pada tahun 1910 dan 1986. Ini berkaitan dengan program penelitian LAPAN untuk mengkaji berbagai faktor yang mungkin mempengaruhi iklim, khususnya di Indonesia. Memang salah satu tugas utama LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) sebagai lembaga penelitian kedirgantaraan yang dibebankan pemerintah adalah membuat prakiraan iklim jangka panjang.

Kini sedang dikaji oleh para peneliti LAPAN faktor-faktor luar Bumi dan aktivitas manusia (antropogenik) yang mempengaruhi iklim untuk pengembangan model iklim. Pengaruh debu-debu komet termasuk yang diteliti. Faktor lain yang cukup dominan mempengaruhi iklim adalah aktivitas Matahari yang juga menjadi objek penelitian LAPAN. Penelitian LAPAN lainnya yang berkaitan dengan itu adalah penelitian ozon dan gas rumah kaca (gas-gas penyebab pemanasan global).

Pengaruh hujan meteor pada curah hujan sebenarnya telah lama diteliti, tetapi tidak ada kesepakatan hasil. Ada yang menemukan bukti keterkaitannya, tetapi ada juga yang menyatakan tidak ada bukti. Dalam tulisan ini akan saya ulas hasil analisis yang menunjukkan bukti bahwa debu-debu komet Halley berperan meningkatkan curah hujan di Indonesia pada saat komet itu melintas Bumi. Tetapi tidak ada indikasi pengaruhnya terhadap iklim.

Hujan Meteor dari Komet Halley

Dalam penelitian ini dipilih hujan meteor Eta Aquarids yang akan dianalisis pengaruhnya terhadap indeks curah hujan di Indonesia. Alasannya, hujan meteor Eta Aquarids terjadi pada tanggal 3 – 10 Mei, awal musim kering di Indonesia sehingga peningkatan curah hujan yang mungkin diakibatkannya akan lebih mudah teramati.

Alasan ke dua, radian (arah datangnya) hujan meteor ini terletak pada deklinasi (lintang pada bola langit) -1 derajat sehingga pengaruh pada daerah ekuator dan bumi belahan selatan akan cukup kuat.

Hasil pengamatan McCormick dan Trepte (1986) menunjukkan bahwa aerosol (partikel-partikel debu di udara) di stratosfer di atas kutub selatan meningkat setiap bulan Juni – September. Diduga peningkatan itu berkaitan dengan hujan meteor Eta Aquarids.

Hujan meteor ini diakibatkan oleh debu-debu komet Halley yang tertinggal di sepanjang lintasannya. Komet Halley melintas dekat orbit Bumi pada tanggal 20 Mei 1910 dan 11 April 1986 sehingga diduga penambahan debu-debu komet tersebut pada tahun-tahun itu akan meningkatkan intensitas hujan meteor Eta Aquarids dan sekaligus meningkatkan aerosol di atmosfer. Bila aerosol meningkat di atmosfer, ada kemungkinan meningkat pula curah hujan di Indonesia bila aerosol itu berperan sebagai inti kondensasi butiran awan.

Aerosol dan Pembentukan Awan

Awan terbentuk dari uap air dari permukaan Bumi yang naik dan mencapai kelembaban tinggi, saturasi atau supersaturasi (kelembaban relatif 95% – 107%) serta berkondensasi pada partikel-partikel aerosol membentuk butiran awan. Gerakan atmosfer menentukan tempat pembentukan, ketebalan, dan kandungan air pada awan. Sedangkan aerosol menentukan konsentrasi butiran awan. Pada daerah yang bersih aerosol, konsentrasi butiran awan sekitar 1/cm3 dan pada daerah beraerosol tinggi konsentrasinya bisa mencapai sekitar 1000/cm3.

Dari berbagai penelitian diketahui bahwa konsentrasi aerosol di atmosfer terdapat pada berbagai ketinggian: 3, 6, 9 – 12, 17 – 30, 34, 38 – 43, 47 – 50, dan 78 – 83 km. Aerosol di daerah troposfer (0 – 16 km) umumnya berasal dari permukaan bumi. Aerosol di daerah stratosfer (16 – 50 km) bersumber dari debu letusan gunung, proses fotokimia, dan debu mikrometeorit, walaupun jumlah debu meteor ini jumlahnya kurang dari 10%. Sedangkan konsentrasi aerosol di daerah Mesopause (78 – 83) yang diduga berasal dari debu-debu meteor berkaitan dengan pembentukan awan Noktilusen.

Debu-debu meteor secara umum terbagi dalam dua jenis partikel: partikel magnetik dan partikel gelas. Partikel magnetik terutama terdiri dari oksida besi dalam bentuk magnetit, disamping unsur-unsur Mg, Al, Si, K, Cr, dan Ni. Partikel gelas sebagin besar terdiri dari Si dan Al, dengan sedikit besi, Ni, Mn, Cr, dan Ti. Sebagian besar berukuran 2 – 5 mikrometer.

Komposisi kimia itu tidak jauh berbeda dengan hasil analisis debu komet Halley yang menunjukkan komposisinya sebagian besar terdiri dari partikel silikat terutama mengandung Mg, Si, dan Fe serta debu organik, CHON.

Debu-debu meteor yang berukuran kurang dari 1.5 x 10 pangkat (-8) g dan diameternya kurang dari 20 mikrometer tergolong mikrometeoroid dan tidak terbakar di atmosfer. Kecepatan turunnya bergantung pada diameternya. Partikel debu meteor yang terkumpul di mesopause yang membentuk awan Noktilusen pada ketinggian sekitar 80 km bila turun tanpa hambatan sampai mencapai troposfer atas (10 km) memerlukan waktu antara 9 hari (untuk partikel 20 mikrometer) sampai 140 hari (untuk partikel 5 mikrometer).

Perhitungan empirik kecepatan jatuh partikel debu meteor dapat diperkirakan dari waktu yang diperlukan oleh awan Noktilusen untuk lenyap. Hasil pengamatan menyatakan bahwa awan Noktilusen yang mempunyai ketebalan sekitar 0,5 – 2 km hanya teramati selama 5 jam. Hilangnya awan Noktilusen diduga akibat partikel-partikelnya telah turun. Jadi dapat diperkirakan kecepatan jatuhnya sekitar 0,1 – 0,4 km/jam. Dengan demikian untuk menempuh jarak jatuh dari ketinggian 80 km ke 10 km diperlukan waktu antara 7 – 29 hari. Menurut penelitian Rosinsky (1976) debu meteor berukuran 5 – 20 mikrometer memerlukan waktu sekitar 7 minggu untuk jatuh dari lapisan meteor (sekitar 80 km) ke tanah. McKinley (1961) memperkirakan waktu jatuh untuk partikel 1 – 10 mikrometer adalah 20 – 50 hari.

Dari beberapa taksiran itu dapat diperkirakan bahwa pengaruh hujan meteor pada pembentukan awan dan peningkatan curah hujan adalah sekitar 1 – 2 bulan sejak terjadinya hujan meteor. Bowen (1956) mendapatkan adanya tenggang waktu 1 bulan antara hujan meteor dan peningkatan curah hujan. Maka dapat diduga dalam selang waktu antara Juni dan Juli terjadi peningkatan liputan awan dan curah hujan, terutama pada saat komet Halley mendekati bumi tahun 1910 dan 1986.

Curah Hujan

Untuk mengetahui pengaruh hujan meteor Eta Aquarids, terutama pada saat komet Halley mendekat Bumi, saya menganalisis data curah Hujan di Indonesia pada bulan April – Juli sekitar tahun 1910 dan 1986. Data curah hujan yang digunakan mencakup rentang waktu 1900-1914 dan 1985-1990 untuk 22 kota di Indonesia. Kota-kota itu dipilih berdasarkan rata-rata curah hujan yang umumnya tidak menunjukkan kenaikan sejak April sampai Juli. Tujuannya agar kejadian peningkatan curah hujan pada bulan-bulan kering lebih tampak.

Dari analisis indeks curah hujan saya melihat adanya peningkatan curah hujan pada bulan Juni dan sedikit menurun pada bulan Juli untuk tahun 1910 dan 1986 setelah komet Halley mendekati Bumi. Pada tahun-tahun lainnya, kecuali 1900, 1901, dan 1989, indikasi itu tidak tampak. Hal ini memberikan indikasi pengaruh hujan meteor Eta Aquarids awal Mei pada curah hujan bulan Juni dan Juli, 1 – 2 bulan setelah hujan meteor.

Pengaruh tersebut tampak hanya pada tahun 1910 dan 1986, beberapa saat setelah komet Halley mendekati Bumi. Hal ini mungkin disebabkan pada saat itulah mikrometeoroid dari komet paling banyak yang masuk ke atmosfer bumi. Kenaikan curah hujan pada bulan Juni-Juli 1900, 1901, dan 1989 belum diketahui penyebabnya.

Pengaruh Komet

Peningkatan curah hujan pada bulan Juni – Juli 1910 dan 1986 menunjukkan bahwa hujan meteor yang kuat setelah komet Halley mendekat berpengaruh sekitar 1 – 2 bulan kemudian. Ini memperkuat hasil Bowen yang menunjukkan adanya tenggang waktu sekitar 30 hari. Ini juga konsisten dengan perkiraan waktu jatuh partikel-partikel debu meteor.

Penelitian kaitan partikel-partikel debu meteor dengan curah hujan yang dilakukan Rosinski, Nagamoto, dan Bayard (1975) menunjukkan pengaruh peningkatan konsentrasi partikel magnetik sferoid 5 – 20 mikrometer dengan kenaikan curah hujan. Pada air hujan yang diteliti mereka juga ditemukan adanya partikel-partikel sferoid berdiameter sekitar 5 mikrometer.

Mekanisme pembentukan awan hujan dari partikel-partikel debu meteor tersebut diusulkan oleh Rosinski, Nagamoto, dan Bayard.  Partikel magnetik sferoid menjadi inti pembentuk kristal es di awan cirrus. Penelitian sebelumnya menemukan bukti adanya partikel magnetik dari debu meteor pada kristal es awan cirrus. Kristal es itu kemudian akan menjadi inti pembentukan awan rendah. Penelitian lainnya menunjukkan adanya peningkatan aktivitas badai hujan melalui proses pembenihan awan oleh partikel-partikel dari cirrus.

Secara ringkas, proses yang mungkin menjelaskan keterkaitan anatar debu komet dan curah hujan itu adalah sebagai berikut. Debu-debu meteor yang mencapai troposfer atas kemudian menjadi inti kristal es di awan cirrus dan kristal es yang turun itu menjadi inti pembentuk butiran awan penghasil hujan.

Mungkinkah Komet Swift-Tuttle Akan Menabrak Bumi?

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat Pikiran Rakyat, 23 September 1996)

Komet Swift-Tuttle tetap menarik perhatian kita. Penyebab hujan meteor Perseid setiap 7 – 15 Agustus ini dikhawatirkan akan menabrak bumi pada 14 Agustus 2126. Bila setiap tahun bumi kita hanya dihujani debu-debu sisa komet Swift-Tuttle dalam bentuk hujan meteor, maka pada 2126 komet induknya mungkin yang akan menabrak bumi.

Kemungkinan komet Swift-Tuttle menabrak bumi sempat pula disebut-sebut pada rapat Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana Alam Nasional belum lama ini. Tumbukan pecahan komet Shoemaker-Levy 9 pada pertengahan Juli 1994 yang menimbulkan ledakan raksasa di planet Jupiter memberikan pelajaran betapa hebatnya dampak yang akan terjadi bila komet Swift-Tuttle benar-benar akan menabrak bumi.

Jauh sebelum komet Shoemaker-Levy 9 menabrak Jupiter, bumi pun sebenarnya pernah mengalami hantaman pecahan komet. Pecahan komet Encke yang ditaksir berukuran 100 meter dengan berat sejuta ton dan bergerak dengan kecepatan 30 km/detik (108.000 km/jam) telah menyebabkan peristiwa Tunguska 88 tahun lalu. Pukul 07:17 pagi 30 Juni 1908 bola api raksasa meledak di atas wilayah Tunguska, Siberia Tengah, Rusia. Pepohonan di bawah titik ledakan terbakar, hutan pada radius sekitar 25 km diratakan oleh hempasan gelombang kejut, dan debu dihamburkan ke atmosfer atas. Suara ledakannya terdengar dari jarak 800 km.

Tumbukan yang jauh lebih hebat daripada peristiwa Tunguska pernah juga terjadi. Komet atau asteroid (planet kecil) yang menabrak bumi (diperkirakan jatuh di semenanjung Yukatan, Meksiko) 65 juta tahun lalu telah menyebabkan musim dingin berkepanjangan yang disebut musim dingin tumbukan (impact winter). Musim dingin itu disebabkan terhambatnya cahaya matahari oleh debu dalam jumlah yang luar biasa dihamburkan ke atmosfer dan menyebar ke seluruh dunia. Panjangnya masim dingin diduga menyebabkan punahnya banyak makhluk hidup termasuk dinosaurus.

Belajar pada pengalaman mengerikan akibat dampak tumbukan benda langit, wajarlah bila berita kemungkinan komet Swift-Tuttle menabrak bumi menimbulkan was-was, walau bukan generasi kita yang akan mengalaminya. Lebih dari itu, kini timbul pemikiran di kalangan astronom untuk melakukan ‘patroli’ angkasa mengawasi kalau-kalau ada asteroid atau komet yang mengancam bumi.

Pada awal tahun 1990-an ini sebuah komite yang dikepalai oleh astronom NASA David Morison telah mengusulkan pembangunan teleskop besar berdiameter 2 – 3 meter untuk menjejaki benda-benda langit yang mungkin mengancam bumi.

Komet Swift-Tuttle

Komet Swift-Tuttle semula bernama komet Tuttle karena dianggap yang menemukan pertama kalinya Tuttle dan Simons, astronom Amerika, pada 19 Juli 1862. Komet ini juga dikenal sebagai komet 1862 III karena merupakan komet ke tiga yang teramati pada 1862. Ternyata belakangan diketahui ada astronom amatir Amerika yang lebih awal lagi mengamatinya, Lewis Swift, pada 15 Juli 1862. Maka namanya diubah menjadi Swift-Tuttle berdasarkan nama kedua penemu tersebut.

Dari pengamatan selama tiga bulan selama penampakan 1862 dan perhitungan elemen-elemen orbitnya diketahui bahwa komet ini mencapai titik perihelionnya (jarak terdekat dengan matahari) pada 23 Agustus 1862 dan periode orbitnya sekitar 120 tahun. Berdasarkan berbagai perhitungan diperkirakan komet itu akan muncul lagi sekitar tahun 1981 – 1982. Ada yang memprakirakan komet Swift-Tuttle akan mencapai perihelion pada 30 Juni 1982. Prakiraan lain dengan memasukkan faktor gangguan gravitasi menyebutkan tanggal 13 Mei 1981. Maka para pemburu komet sudah mulai mencarinya sejak 1981. Hasilnya nihil. Komet Swift-Tuttle hilang.

Kegagalan penemuan kembali komet ini mendorong para astronom mengkaji ulang berbagai data pengamatan dan perhitungannya. Selain kegagalan itu, hasil perhitungan lama juga menyatakan bahwa komet Swift-Tuttle sebelum 1862 mestinya muncul pada 1748, ternyata tidak ada informasi pengamatan komet terang pada tahun itu. Catatan yang ada menyebutkan bahwa komet terang teramati pada 1737 (komet Kegler 1737 II) yang diduga identik dengan komet Swft-Tuttle 1862.

Kesalahan sistematik pada penentuan posisi komet Swift-Tuttle 1862 sangat mungkin menyebabkan melesetnya perhitungan elemen orbit. Bila memasukkan koreksi kesalahan sistematik penentuan posisi yang mencapai 1 derajat, maka akan diperoleh penampakan komet sebelum 1862 adalah 1737 yang sesuai penampakan komet Kegler 1737II. Berdasarkan perhitungan baru tersebut penampakan yang berikutnya mestinya 1992.

Tahun 1991 tanda-tanda kehadiran komet sudah tampak. Para astronom amatir di Jepang melaporkan terjadinya hujan meteor Perseid yang lebih banyak daripada biasanya. Radar atmosfer Universitas Kyoto mendeteksi peningkatan hujan meteor tiga kali lipat. Brian G. Marsden dalam edaran IAU (International Astronomical Union) nomor 5330 menduga peningkatan hujan meteor ini berkaitan dengan datangnya komet Swift-Tuttle. Debu-debu komet bisa saja menumpuk di depan dan di belakang komet sehingga sebelum komet mendekati bumi debu-debunya akan meningkatkan hujan meteor.

Benar, dini hari 27 September 1992 sekitar pukul 03.00 komet Swift-Tuttle ditemukan. Dengan menggunakan binokuler 15 cm, astronom amatir dari Nagano, Jepang, Tsuruhiko Kiuchi menjadi orang pertama yang melihatnya. Komet tampak sangat redup, masih berupa titik cahaya tanpa ekor. Sejak itu para astronom amatir dan profesional mengarahkan perhatian pada komet yang pernah “hilang” ini. Dari banyak pengamatan dapat dihitung elemen orbitnya dengan lebih cermat. Perihelion dicapai pada 12 Desember 1992 dan periode orbitnya adalah 135 tahun.

Dengan teleskop besar dan teleskop angkasa para astronom masih berusaha mengikuti jejak komet Swift-Tuttle sampai 1998 pada saat jaraknya 15 SA (SA = satuan astronomi = jarak bumi-matahari = 150 juta km). Pada saat itu komet akan sangat redup, mencapai ambang batas kemampuan teleskop dan kamera CCD yang paling peka. Data pengamatan komet sejak 1993 pada saat komet mulai menjauh sampai 3 SA dari matahari sangat penting untuk mendapatkan perhitungan orbit yang lebih cermat.

Menabrak Bumi?

Kabar tentang kemungkinan komet Swift-Tuttle menabrak bumi bermula dari edaran IAU bernomor 5636, 15 Oktober 1992. Brian G. Marsden, pemimpin biro pusat telegram astronomi di Cambridge, Massachusetts, mengumumkan hasil perhitungannya bahwa komet Swift-Tuttle akan kembali lagi mencapai perihelion pada 11 Juli 2126 dengan ketidakpastian 15 hari. Adanya ketidakpastian itu karena selain gaya-gaya gravitasi, pergerakan komet juga dipengaruhi oleh gaya-gaya lainnya yang merupakan dinamika mikronya yang tidak diketahui dengan pasti.

Andaikan prakiraan Marsden hanya meleset kurang dari satu hari, seperti pada kehadiran Swift-Tuttle 1992, maka tidak perlu khawatir terjadi tumbukan. Komet Swift-Tuttle akan melintas orbit Bumi sebelum bumi sampai pada titik lintasan itu. Tetapi bila komet Swift-Tuttle mencapai perihelion pada batas rentang prakiraannya, 26 Juli 2126, hampir dipastikan komet itu akan bertemu bumi 19 hari kemudian. Pada tanggal 14 Agustus 2126 bumi tepat sampai pada titik persimpangan dengan orbit komet Swift-Tuttle.

Bila terjadi tabrakan pada titik persimpangan itu, musim dingin tumbukan (impact winter) yang pernah terjadi 65 juta tahun lalu mungkin akan berulang. Sebagian besar kehidupan akan punah, mungkin termasuk manusia. Tetapi, melihat rentang ketidakpastiannya yang besar itu, manusia bisa bernafas lega karena kecil kemungkinannya terjadinya tabrakan komet Swift-Tuttle dengan bumi.

Lagi pula, menurut perhitungan orbitnya, komet Swift-Tuttle sebenarnya tidak tepat memotong orbit bumi. Menurut perhitungan saya, komet hanya melintas dekat bumi pada jarak sekitar 1,8 juta km atau sekitar lima kali jarak bumi-bulan. Manusia di bumi pada saat itu mungkin akan menyaksikan pemandangan yang luar biasa: komet dapat terlihat siang hari pada awal Agustus dan hujan meteor Perseid yang luar biasa akan terlihat sepanjang malam.

Jadi, komet Swift-Tuttle sebenarnya tidak mengancam bumi. Bahaya dari langit yang sesunguhnya mungkin datang dari benda langit yang sama sekali belum pernah terdeteksi sehingga belum diketahui perilaku gerakan pada orbitnya. Dalam hal inilah pentingnya usulan para astronom untuk melakukan patroli langit dengan teleskop besar. Bila semua benda langit yang mungkin mengancam bumi berhasil diidentifikasikan, maka langkah-langkah antisipasi bisa disiapkan.

Dugaan “Meteorit” Bima Tak Terbukti

(Analisis awal dimuat 10 Mei 2010, direvisi dengan analisis terbaru pada 18 Mei 2010)

Ini ringkasan berita di media massa (Liputan6.com, Bima): Benda diduga meteor jatuh di Pegunungan Wawo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (3/5-2010) malam. Benda yang terlihat bercahaya ketika turun dari langit itu sempat meledak dua kali sebelum menghujam bumi dan meninggalkan lubang berdiameter 50 X 50 centimeter.

Menurut pengakuan  warga sekitar, benda yang jatuh dari langit sekitar pukul 20.30 WITA itu mengeluarkan cahaya hingga satu kilometer panjangnya. Lubang bekas jatuhnya meteor itu terbentuk mirip kubangan batu yang diselimuti kaca dan hingga Selasa pagi masih mengeluarkan hawa panas. Daun-daun pepohonan di sekitar lubang juga kering akibat terkena hawa panas.
Menurut pengakuan beberapa warga yang menyaksikan, sebelum benda tersebut jatuh terlihat sebuah benda yang terbang dengan kecepatan tinggi. Benda terbang tersebut mengeluarkan cahaya aneh. Ketika sampai di tanah benda tersebut mengeluarkan suara desingan dan meledak hingga mengeluarkan cahaya kuning kemerahan yang menerangi hampir seluruh Pegunungan Wawo.
Sebuah kabel listrik yang berada di sekitarnya terputus hingga mengakibatkan desa di sekitar lokasi gelap. Di saat kondisi gelap itulah terjadi dua kali ledakan disertai cahaya yang terlihat hingga jarak sekitar 1,5 km dari lokasi. Kini lokasi jatuhnya benda langit yang diduga meteor ini masih dipenuhi warga dari berbagai daerah di Kabupaten Bima.

Ini gambar-gambar lainnya dari media massa, tampak bekas-bekas lelehan batuan di sekitar lubang yang diduga akibat meteorit (pada gambar terakhir, lelehan beku dipecah)

Apa yang sesungguhnya terjadi? Benda jatuh dari langit (disebut benda jatuh antariksa) terbagi dalam 2 kelompok: sampah antariksa (bekas roket atau satelit) dan meteorit. Analisis orbit sampah antariksa yang dilakukan LAPAN menyimpulkan bahwa pada saat kejadian tidak ada sampah antariksa yang jatuh. Oleh karenanya dengan dukungan informasi kesaksian warga bahwa ada benda jatuh bercahaya, mengeluarkan suara desingan, memanasi ranting pohon yang dilalui, membuat lubang di tanah yang panas dan ada bekas lelehan batuan yang terpapar panas, mengarah pada dugaan bahwa benda jatuh tersebut meteorit. Sayangnya sebelum diteliti oleh LAPAN atau lembaga yang berwenang, masyarakat terlanjur mengambil batuan leleh dan kemungkinan benda yang mungkin meteorit (bila benar).

Dari analisis gambar yang ada di media massa, semula diperkirakan itu meteorit yang jatuh dari arah sekitar Barat. Kecepatan jatuh dan suhu tinggi tampaknya yang menyebabkan meteor masuk cukup dalam ke dalam tanah dan melelehkan batuan di sekitar lubang tersebut. Sampai pagi dikabarkan lubang tersebut masih panas. Diduga meteorit yang jatuh dari jenis logam yang meyimpan panas lebih lama.

Seperti halnya meteorit di Duren Sawit, masalah panasnya objek yang jatuh itu menarik untuk diteliti lebih lanjut. Secara teoritik, biasanya meteorit relatif dingin saat mencapai bumi karena saat memasuki udara yang lebih padat terjadi peningkatan hambatan udara yang mengerem laju jatuhnya dan memberi efek pendinginan. Tetapi, memang itu tidak bersifat umum. Beberapa meteorit diketahui mencapai permukaan bumi dalam keadaan panas atau sangat panas, misalnya meteorit batuan yang ditemukan di dekat Taters, Fribourg, Switzerland ( http://tin.er.usgs.gov/meteor/index.php?code=15486 ) dan meteor besi di Bahrampur dan Man Bishunpur district, Bihar, India (http://tin.er.usgs.gov/meteor/index.php?code=16885).

Analisis belum berakhir. Pada 8 Mei 2010 Tim Bapeten mendapat sampel batuan kaca (glass rocks) dengan bagian luar batuan kasar. Analisis awal di Geologi ITB menunjukkan bahwa batuan tersebut bersifat magnetik (bisa menarik magnet di dekatnya karena kandungan besinya). Ini indikasi yang menarik, karena sebagian besar meteorit bersifat magnetik. Bisa jadi, pecahan meteorit mengkontaminasi lelehan silika pada batuan tersebut. Indikasi itu menarik minat untuk mencari bukti-bukti lainnya, termasuk kalau mungkin mencari meteoritnya di dasar lubang (yang sudah diambil warga)

Tetapi lelehan silika untuk tumbukan kecil tak lazim. Silika mempunyai titik leleh sekitar 1650 derajat C. Belum ada laporan dalam literatur jatuhnya meteor kecil dengan suhu tinggi seperti itu. Memang ada kaitan batuan kaca alami dengan meteorit, yaitu meteorit batuan kaca yang dinamakan Tektite.  Namun itu diperkirakan hasil tumbukan meteorit besar yang panasnya yang sangat tinggi sehingga melelehkan batuan di titik tumbukan. Akibat tumbukan besar itu banyak lelehan terlontar  ke udara dan jatuh di tempat yang jauh.  Ketika jatuh bentuknya menjadi unik. Itulah meteorit Tektite. Jadi batuan kaca yang terjadi akibat tumbukan meteorit kecil dianggap janggal. Pasti ada mekanisme lain yang perlu dijelaskan.

Untuk mendapatkan bukti lebih lanjut dan menganalisis mekanisme pembentukan batuan kaca tersebut, Tim LAPAN mendatangi lokasi pada Ahad, 16 Mei 2010 bersama Tim Unit Identifikasi Polresta Bima yang sebelumnya telah memeriksa TKP. Lokasinya di lereng buktit, hanya sekitar 3 meter dari sisi jalan. Di atas lokasi ada kabel listrik tegangan tinggi.  Pada saat kejadian, kabel paling kiri atas (pada gambar) putus pada posisi dekat tiang listrik dan (menurut PLN) setelah kejadian panjang kabel berkurang sekitar 5 meter.

Lokasi kejadian di lereng bukit.

Kabel listrik tegangan tinggi di atas lokasi kejadian

Peringatam tegangan tinggi di tiang di dekat lokasi kejadian

Menurut keterangan, cahaya terang dan ledakan terjadi ketika kabel listrik tegangan tinggi putus. Jadi warga rancu antara munculnya cahaya dan bunyi ledakan, sehingga muncul anggapan kilatan cahaya akibat benda jatuh. PLN baru mematikan listrik setelah meninjau lokasi dari jalan raya. Paginya warga dan media massa menemukan lubang panas yang asalnya berbentuk segi tiga yang di dalamnya terdapat lapisan seperti kaca hitam.

Apakah lubang itu disebabkan meteorit? LAPAN menggunakan analisis eliminasi faktor-faktor lokal sebelum menyimpulkan dugaan jatuhnya meteorit. Sebelumnya, berdasarkan informasi media massa, tidak ada faktor-faktor lokal yang disebutkan terjadi di lokasi tersebut. Tidak ada ledakan bahan peledak. Putusnya kabel listrik diberitakan seolah sebagai “akibat”, bukan “sebab”. Sehingga  muncul dugaan yang mengarah pada jatuhnya meteorit besi yang panas seperti disebutkan di atas. Walau pun demikian tetap menganggap ada kejanggalan, karena itu terlalu panas untuk jatuhnya meteorit kecil.

Hasil analisis di lapangan dan kajian kepolisian serta PLN setempat, menyimpulkan adanya faktor lokal yang menjadi penyebabnya. Kuncinya adalah putusnya kabel listrik tegangan tinggi. Putusnya kabel litsrik tegangan tinggi bukanlah “akibat” (terkena meteorit), melainkan justru sebagai “sebab”. Itu pula yang menjelaskan adanya lapisan batuan kaca di dalam lubang.

Ketika kabel jatuh masih dengan arus listrik tegangan tinggi, kabel bergerak liar mengenai batuan basah. Ibarat las listrik (arc welding), lompatan arus listrik menyebabkan cahaya sangat terang dan suhu sangat tinggi, mencapai ribuan derajat. Kabel liar itu mengenai batu-batu di lereng bukit tersebut meninggalkan jejak alur-alur hitam bekas goresan paparan panas sangat tinggi yang melelehkan. Akhirnya kabel berhenti di satu titik memanasi batuan di tempat tersebut hingga silikanya meleleh melapisi lubang dan menggenangi bagian dalam lubang. Bahkan ada indikasi lelehan silika itu seperti mendidih (sebenarnya karena efek pelepasan gas dan uap air dari batuan yang meleleh) karena dijumpai ada gelembung-gelembung besar di dalam batuan kaca. Suhu yang sangat tinggi pula yang menjelaskan hilangnya kabel sekitar 5 meter pasca kejadian. Tembaga titik lelehnya hanya sekitar 1080 derajat. Pada sampel yang ditemukan dijumpai lapisan warna tembaga bersama lapisan kaca, yang diduga lelehan tembaga dari kabel listrik.

Batu-batu dengan alur-alur bekas goresan paparan panas tinggi

Lelehan kaca silika gelembung-gelembung dan lapisan warna tembaga

Lalu mengapa pada sampel ada indikasi sifat magnetik yang semula mengarahkan pada kemungkinan kontaminasi pecahan meteorit? Hasil analisis lapangan menunjukkan bahwa batu di sekitar lokasi dan di seberang jalan yang jauh dari lokasi semuanya mengindikasikan sifat magnetik, artinya batuan di sekitar lokasi kejadian memang mengandung besi.

Batu di lokasi kejadian bersifat magnetik.

Batu di seberang jalan, jauh dari lokasi, juga bersifat magnetik.

Jadi, kesimpulannya dugaan jatuhnya meteor atau meteorit di Bima tidak terbukti. Ada faktor lokal yang semula tidak terungkap di media massa dapat menjelaskan terjadinya lubang dengan lapisan batuan kaca.

Ucapan Terima Kasih

– Sampel awal diperoleh dari Direktur Keteknikan dan Kesiapsiagaan Nuklir, Bapeten (Pak Reno Alamsyah)

– Bantuan kepolisian difasilitas Wakapolres Bima (Pak Adi Nugraha)

– Nara sumber di lapangan: Kepala Unit Identifikasi Polresta Bima (Pak Subagyo)

– Salah satu sampel penting diperoleh dari Kapolsek Wawo (Pak Bunyamin)

– Beberapa peralatan analisis batuan diperoleh dari Pak Andri (Geologi ITB)