Pancaran Inframerah: Menguak Struktur Alam Semesta

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 2 Oktober 1995)

Komponen terkecil alam semesta dalam tinjauan skala besar adalah galaksi. Galaksi sendiri sebenarnya adalah kumpulan milyaran bintang. Tetapi dalam skala besar alam semesta, galaksi-galaksi itu hanya dipandang sebagai titik-titik yang tersebar di dalam ruang yang amat besar. Dari pengamatan jarak dan sebaran galaksi-galaksi diketahui bahwa galaksi-galaksi itu berkelompok membentuk gugusan galaksi (Cluster). Daerah kosong yang tidak mengandung galaksi disebut kehampaan (void). Tetapi ternyata tidak semua daerah langit berhasil dipetakan. Ada zona gelap yang masih merupakan wilayah kabur yang belum banyak diketahui struktur sebaran galaksi pada arah itu. Ini menantang astronom untuk berusaha menembusnya, diantaranya dengan mendeteksi pancaran sinar inframerah dari galaksi-galaksi luar.

Gugusan Galaksi

Bila kita melihat foto langit hasil pemotretan dengan teleskop besar, misalnya foto survai langit oleh observatorium Palomar (Palomar Observatory Sky Survey, POSS), yang terlihat adalah titik-titik putih. Itu adalah bintang-bintang yang berada di galaksi kita. Kalau kita teliti lebih cermat dengan menggunakan lup (kaca pembesar), pada daerah-daerah tertentu ada titik-titik yang bentuknya bukan seperti titik biasanya, melainkan berbentuk agak lonjong atau bahkan disertai bentuk “S” yang kabur. Objek-objek seperti itu adalah galaksi yang sangat jauh. Karena jaraknya yang amat jauh, ratusan milyar bintang pada galaksi itu hanya tampak sebagai satu noktah terang. Di beberapa daerah langit kita bisa menjumpai adanya kumpulan galaksi di sela-sela titik-titik bintang.

Dengan mempelajari spektrum cahaya galaksi-galaksi itu, astronom bisa menentukan jaraknya. Ternyata galaksi-galaksi itu berkelompok. Kelompok terkecil menempati ruang dalam skala tiga juta tc (tc : tahun cahaya, jarak yang ditempuh cahaya dalam waktu satu tahun dengan kecepatan 300.000 km/detik; 9,5 trilyun km), misalnya yang disebut grup lokal yang berisi 21 galaksi, termasuk galaksi kita (galaksi Bima Sakti). Kelompok-kelompok kecil itu membentuk kelompok yang lebih besar yang disebut gugus raksasa (supercluster). Gugus raksasa itu menempati ruang berskala 60 juta tc atau lebih.

Menurut hasil penelitian dalam dasa warsa terakhir ini, diketahui bahwa struktur alam semesta terdiri dari gugus raksasa yang membentuk seperti pita (filamen) atau bidang dan void (kehampaan) yang besar. Void didefinisikan sebagai ruang alam semesta yang tidak mengandung galaksi dalam rentang 90 juta tc.

Sebagian besar gugus galaksi itu berkumpul dalam gugus raksasa yang berbentuk seperti bidang yang disebut bidang super galaktik. Gugus raksasa lainnya yang telah diketahui berbentuk filamen, misalnya filamen Hydra (melalui rasi Hydra) dan filamen Puppis (melalui rasi Puppis).

Struktur gugus raksasa itu kini terus dipelajari untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang struktur alam semesta kita. Tetapi para astronom mendapat kendala karena ada langit yang tidak transparan, sehinggga di daerah itu sedikit sekali galaksi luar yang terlihat. Daerah itu disebut zona langka galaksi atau zona gelap (zone of avoidance), yang struktur sebaran galaksinya tidak banyak kita ketahui.

Zona Gelap

Galaksi kita, galaksi Bima Sakti, sebenarnya bukan hanya terdiri dari bintang-bintang, tetapi juga awan gas dan debu yang biasanya disebut awan molekul. Seperti halnya awan di angkasa bumi menghalangi pengamatan bintang, awan molekul menghalangi pengamatan galaksi-galaksi luar yang lebih jauh dari bintang-bintang yang biasa kita lihat. Akibat serapan cahaya oleh kumpulan awan molekul di hampir seluruh bidang galaksi kita itu, menyebabkan daerah langit yang dilalui Bima Sakti sebagai zona gelap. Hanya sebagian kecil saja yang sedikit mengandung awan molekul yang dikenal sebagai jendela galaksi, misalnya di sekitar Puppis. Di daerah Puppis ini jumlah galaksi luar yang teramati relatif banyak dibandingkan dengan di daerah bidang galaksi lainnya.

Untuk mengetahui lebih jelas struktur alam semesta dalam skala besar, telaah sebaran galaksi-galaksi di zona gelap ini sangat diperlukan. Tetapi bagaimana?

Galaksi-galaksi luar itu memancarkan sinar infra merah yang cukup kuat. Sifat sinar infra merah yang utama adalah kemampuannya menembus halangan awan molekul. Sehingga kalau kita menggunakan kamera yang peka menangkap pancaran sinar infra merah dari galaksi-galaksi luar itu, kita akan melihat lebih banyak galaksi luar di zona gelap itu.

Maka pencarian galaksi di zona gelap itu dilakukan terutama dengan memanfaatkan hasil survai langit yang mendeteksi pancaran sinar infra merah. Pencarian ini dapat dilakukan dengan memanfaatklan data IRAS (Infrared Astronomical Satelite) yang dikonfirmasikan secara visual pada foto langit (paper print) POSS (Palomar Observatory Sky Survey) dan atlas inframerah UK Schmidt.

Dari hasil pencarian itu diperoleh ribuan galaksi di zona gelap itu. Setelah dianalisis, struktur sebarannya menunjukkan adanya kesinambungan gugus galaksi raksasa yang membentuk filamen Hydra dan Puppis dan beberapa filamen lainnya. Sebelumnya struktur yang “terpenggal” oleh zona gelap masih merupakan teka-teki, apakah struktur itu bersambung atau memang terpenggal.

Dengan telaah sinar infra merah yang dipancarkan galaksi-galaksi luar teka-teki itu terjawab. Tetapi masih diperlukan telaah lebih mendalam untuk mempelajari struktur alam semesta yang lebih lengkap lagi. Kini dengan teleskop pendeteksi sinar infra merah yang lebih canggih yang berada di satelit di luar angkasa usaha itu masih diteruskan. Semakin jauh kita menembus kedalaman langit menguak struktur alam semesta, kita akan makin tahu kekecilan galaksi kita, apalagi bumi dan diri kita sendiri.

Iklan

Ru’yatul Hilal Awal Ramadan dan Iedul Fitri

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika, 21 Januari 1995)

Hasil pengamatan awal Bulan Sya’ban 1415 oleh Tim Departemen Agama RI telah menetapkan bahwa 1 Sya’ban jatuh pada tanggal 3 Januari 1995. Itu berarti tanggal 29 Sya’ban akan jatuh pada tanggal 31 Januari 1995. Menurut hisab Departemen Agama, NU, dan Persis 1 Ramadan jatuh pada tanggal 1 Februari 1995 (Republika, 4 Januari 1995). Kesamaan ini hasil hisab ini semoga juga terjadi pada hasil ru’yat (pengamatan hilal) yang biasanya kukuh dilakukan kalangan NU.

Untuk memberikan bekal kepada para pengamat hilal, tulisan ini akan memaparkan hasil rinci hisab astronomi untuk memperkirakan posisi hilal awal Ramadan dan sekaligus hilal 1 Syawal. Kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi juga akan diulas agar masyarakat bisa lebih arif dalam pengambilan keputusan, tidak saling berprasangka.

Sebagai informasi awal perlu juga diketahui bahwa ijtima’ bulan Ramadan terjadi pada 30 Januari pukul 22:50 GMT (31 Januari, 05:50 WIB). Dan ijtima’ bulan Syawal terjadi pada 1 Maret 1995 pukul 11:50 GMT (18:50 WIB). Ijtima’ dikenal juga sebagai astronomical newmoon (bulan baru astronomis) yang tidak mungkin di ru’yat karena masih terlalu muda. Ijtima’ hanya dapat diamati dalam kejadian gerhana matahari total, seperti yang terjadi pada Ramadan tahun 1983. Saat ijtima’ ini menjadi pembatas awal yang menyatakan tidak mungkin ada ru’yatul hilal sebelum saat ijtima’.

Garis Tanggal

Untuk memahami pemunculan hilal secara global sangat penting diketahui garis tanggalnya, yaitu –yang paling sederhana– adalah garis yang menyatakan di daerah mana saja bulan dan matahari terbenam secara bersamaan. Garis ini mununjukkan bahwa pada hari itu di sebelah timurnya hilal terbenam lebih awal dari matahari dan di sebelah baratnya hilal lebih lambat terbenamnya daripada matahari. Akibatnya, ru’yatul hilal di sebelah barat garis itu terjedi lebih awal daripada di sebelah timurnya. Makin jauh ke arah barat, ru’yatul hilal makin mudah dilakukan. Dengan berpedoman pada garis itu, bisa juga diperkirakan daerah-daerah tempat ru’yatul hilal yang paling besar kemungkinannya akan berhasil, bila tanpa memperhitungkan keadaan cuaca.

Garis tanggal Ramadan 1415 melintas dari Australia, Pasifik ke Atlantik melalui Meksiko terus ke Eropa bagian Utara. Sehingga sebagian besar negara akan berpuasa mulai tanggal 1 Februari 1995. Letak Indonesia yang relatif dekat dengan garis tanggal akan menyebabkan ru’yatul hilal pada tanggal 31 Januari agak sulit. Kalau ternyata tidak ada laporan ru’yatul hilal, ada kemungkinan diputuskan isti’mal, yaitu menggenapkan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Kalau keputusan isti’mal yang diambil maka berarti puasa Ramadan akan mulai tanggal 2 Februari 1995.

Garis tanggal Syawal 1415 melintasi Amerika Selatan, Afrika Tengah, India, dan China. Maka Amerika Utara, Eropa, dan negara-negara Timur Tengah mungkin akan beridul Fitri pada tanggal 2 Maret. Sedangkan Asia Tenggara, Indonesia, Jepang, dan Australia kemungkinan besar pada tanggal 3 Maret, tidak mungkin lebih awal. Letak Indonesia yang jauh ke arah barat dari garis tanggal akan menyebabkan ru’yatul hilal pada tanggal 2 Maret 1995 relatif mudah. Sehingga diharapkan tidak akan ada dua kali Iedul Fitri pada tahun ini.

Prakiraan Ru’yatul Hilal

Hasil hisab posisi hilal Ramadan dan Syawal di beberapa kota (yang mempunyai pantai yang terbuka ke arah barat) pada tanggal 31 Januari dan 2 Maret 1995 di tunjukkan pada Tabel. Pada tabel diberikan saat terbenamnya matahari dan bulan serta azimutnya (jarak sudut dihitung dari arah utara ke arah timur; Azimut 180 derajat adalah arah Selatan dan Azimut 270 derajat adalah arah Barat). Dari data azimut itu terlihat bahwa bulan akan terbenam disebelah kanan titik terbenamnya matahari.

Dari data saat terbenam matahari dan bulan dihitung pula perbedaan waktunya (dinyatakan dalam menit). Ini bisa digunakan untuk memperkirakan jangka waktu antara matahari terbenam dan bulan terbenam. Beda waktu matahari terbenam dan bulan terbenam pada tanggal 31 Januari hanya sekitar 15 menit. Ini relatif singkat dan menyulitkan pengamatan hilal akibat ufuk barat masih cukup teramx. Sedangkan mxda waktunya pada tanggal 2 Maret cukup panjang, sekitar 30 menit yang memungkinkan ru’yatul hilal.

Perbedaan azimut titik terbenamnya matahari dan bulan juga dicantumkan pada tabel tersebut. Ketinggian hilal pada saat matahari terbenam hanya diperkirakan secara kasar berdasarkan perbedaan waktu terbenamnya. Data perbedaan posisi ini dapat digunakan sebagai acuan untuk memperkirakan arah pengamatan. Data-data itu menunjukkan bahwa hilal berada pada posisi kanan atas dari titik matahari terbenam. Bila melakukan pengamatan dengan mata telanjang, bisa digunakan lebar ujung jari dan kepalan tangan sebagai pengukur jarak sudut. Dengan lengan yang dijulurkan ke depan, lebar ujung jari kira-kira 1,5 derajat. Sedangkan lebar kepalan tangan sekitar 10 derajat.

Data hisab itu juga menunjukkan bahwa daerah yang terbaik untuk pengamatan hilal adalah daerah Aceh dan pantai Barat Sumatra lainnya.

Perhatian untuk Pengamatan

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengamatan hilal:

1. Hilal adalah obyek yang redup dan mungkin hanya tampak sebagai segores cahaya. Sedapat mungkin mengkonfirmasikan dengan menggunakan binokuler atau teropong bila melihat obyek terang yang mirip bulan sabit tipis atau garis.

2.Pengamatan dari bangunan tinggi di tengah kota mempunyai resiko gangguan pengamatan akibat polusi asap, debu, dan cahaya kota.

3.Lokasi pengamatan dengan arah pandang ke barat yang tidak terbuka atau dipenuhi oleh pepohonan bukanlah lokasi yang baik untuk pengamatan hilal. Daerah pantai yang terbuka ke arah barat adalah lokasi yang terbaik.

4.Hal penting bagi ru’yatul hilal adalah kemampuan untuk membedakan antara hilal dan bukan hilal. Sumpah memang penting untuk menunjukkan kejujuran pengamat, tetapi belum cukup untuk memastikan obyek yang dilihatnya itu benar-benar hilal atau bukan. Saat ini faktor penyebab kesalahan pengamatan hilal makin banyak.

Arah Kiblat Tidak Berubah

T. Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN, Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama RI

Arah kiblat tidak berubah. Anggapan bahwa arah kiblat yang seolah bergeser akibat gempa perlu segera diluruskan. Karena hal itu tidak berdasar logika ilmiah dan berpotensi meresahkan masyarakat. Pergeseran lempeng bumi hanya berpengaruh pada perubahan peta bumi dalam rentang waktu puluhan atau ratusan juta tahun, karenanya tidak akan berdampak signifikan pada perubahan arah kiblat di luar Mekkah dalam rentang peradaban manusia saat ini. Jadi, saat ini tidak ada pergeseran arah kiblat akibat pergeseran lempeng bumi atau gempa. Semua pihak (terutama Kementerian Agama dan MUI) jangan terbawa pada opini yang didasari pada informasi yang keliru.

Masalah ketidakakuratan arah kiblat yang terjadi pada banyak masjid, bukanlah masalah pergeseran arah kiblat, tetapi karena ketidakakuratan pengukuran pada awal pembangunannya. Itu bukan masalah serius dan mudah dikoreksi. Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama dan BHR Daerah serta kelompok-kelompok peminat hisab rukyat bisa memberikan bantuan penyempurnaan arah kiblat tersebut. Bisa juga dilakukan koreksi massal dengan panduan bayangan matahari pada saat matahari berada di atas Mekkah atau dengan panduan arah kiblat berbasis internet Google Earth/Qiblalocator. Setelah arah kiblat diketahui, tidak harus bangunannya yang diubah, cukup arah shafnya. Kementerian Agama bersama MUI, BHR, BHRD, dan kelompok-kelompok peminat hisab rukyat bisa melakukan sosialisasi penyempurnaan arah kiblat tersebut.

Fatwa MUI No 3/2010 nomor 3 bahwa “Letak geografis Indonesia yang berada di bagian timur Ka’bah/Mekkah maka kiblat umat Islam Indonesia  adalah menghadap ke arah barat” perlu dipertimbangkan lagi karena menghadap arah kiblat yang benar bukan hal sulit dan penyempurnaan arah kiblat di banyak masjid juga tidak harus mengubah bangunannya.

Panduan langsung arah kiblat berbasis Google Earth dapat dilihat di http://www.qiblalocator.com/

Info saat posisi matahari berada di atas Mekkah dapat dilihat di blog saya: https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/15/menyempurnakan-arah-kiblat-dari-bayangan-matahari/

Namun mungkin masih ada yang bertanya, bukankah gempa juga mengubah rotasi bumi sehingga mungkin berpengaruh pada perhitungan posisi matahari saat berada di Mekkah? Pergeseran lempeng yang sebenarnya menyebabkan perubahan rotasi bumi itu, bukan gempanya. Gempa sekadar indikator pelepasan energi akibat pergeseran lempeng bumi. Karena ada pergeseran lempeng bumi, maka kesetimbangan “bola” bumi berubah. Tetapi efeknya sangat-sangat-sangat kecil, tidak terasa oleh manusia.

Akibat pergeseran lempeng kesetimbangan “gambar bumi” sedikit berubah karena titik massa kulit bumi bergesar. Akibatnya, poros “gambar bumi” bergeser. Untuk kasus gempa Chile 2010 pergeserannya sekitar 8 cm (sudutnya bergeser 2,7 mili detik busur =0,00000075 derajat). Dan untuk gempa Aceh 2004 pergeserannya 7 cm (sudutnya bergeser 2,32 mili detik busur = 0,00000064 derajat). Pergeseran itu terlalu kecil untuk dilihat. Akibat pergesaran kesetimbangan massa bumi, rotasi bumi dipercepat 1,26 mikro detik = 0,000000126 detik, juga manusia tidak mungkin merasakannya. Sebenarnya soal percepatan-perlambatan rotasi bumi, bukan hanya disebabkan oleh pergeseran lempeng. Efek pasang surut bulan juga menyebabkan rotasi bumi diperlambat 0,00002 detik per tahun, jauh lebih kuat efeknya daripada gempa (lihat blog saya ”Sinkronisasi Bumi-Bulan” di https://tdjamaluddin.wordpress.com/2010/04/28/sinkronisasi-bumi-bulan/ )

Kembali ke masalah penentuan arah kiblat. Apakah harus demikian akuratnya penentuan arah kiblat, sampai ketelitian menit busur? Saya kira perbedaan kurang dari 2 derajat masih dianggap tidak terlalu signifikan. Ibaratnya dua masjid berdampingan yang panjangnya 10 meter, perbedaan di ujungnya sekitar 35 cm. Jamaah di kedua masjid akan tampak tidak berbeda arahnya. Untuk jarak Indonesia-Mekkah, perbedaan 2 derajat di Mekkahnya hanya berbeda kurang dari 300 km, yang bila dilihat pada globe besar jaraik itu tidak terlalu signifikan.

Dalam penentuan arah kiblat kesalahan sampai 2 derajat masih bisa ditolerir mengingat kita sendiri tidak mungkin menjaga sikap tubuh kita benar-benar selalu tepat lurus ke arah kiblat. Arah jamaah shalat tidak akan terlihat berbeda, bila perbedaan antarjamaah hanya beberapa derajat. Sangat mungkin, dalam kondisi shaf yang sangat rapat (seperti sering terjadi di beberapa masjid), posisi bahu kadang agak miring, bahu kanan di depan jamaah sebelah kanan, bahu kiri di belakang jamaah sebelah kiri. Mungkin ada yang berpendapat, yang terpenting arah pandangan mata. Apakah  kita bisa betul-betul menempatkan arah pandangan mata dalam rentang plus minus kurang dari 2 derajat? Peralihan pandangan mata dari satu sudut sajadah ke sudut lainnya, kalau kita mau hitung secara cermat, sudah berarti pergeseran yang sangat besar, sekitar 20 derajat. Islam tidak menyulitkan seperti itu.

”dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha mengetahui”. QS 2:115

Sifat Ijtihadiyah Penentuan Awal Ramadan dan Hari Raya

T. Djamaluddin,  Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika, 23 Desember 1997)

Islam mengakui bahwa baik matahari maupun bulan bisa dijadikan alat penentu waktu (Q. S. 6:96). Tetapi, dalam praktek ibadah, Islam menggunakan kalender bulan (qamariyah) yang ditentukan berdasarkan penampakan hilal (bulan sabit pertama) sesaat sesudah matahari terbenam. Alasan utama dipilihnya kalender qamariyah — walau tidak dijelaskan secara eksplisit di dalam Hadits maupun Alquran — nampaknya karena alasan kemudahan dalam penentuan awal bulan dan kemudahan dalam mengenali tanggal dari perubahan bentuk (fase) bulan. Ini berbeda dari kalender syamsiah (kalender matahari) yang menekankan pada keajegan (konsistensi) terhadap perubahan musim, tanpa memperhatikan tanda perubahan hariannya.

Dalam perkembangannya saat ini, ternyata penentuan awal Ramadan dan hari raya tidak lagi dapat dikatakan mudah. Dari segi teknis ilmiah, sebenarnya penentuannya memang mudah karena merupakan bagian ilmu eksakta. Tetapi dalam penerapannya di masyarakat susah, karena menyangkut faktor non-eksakta, seperti perbedaan madzhab hukum (a.l. ada yang menganggap tidak sah cara hisab), perbedaan mathla’ (daerah berlakunya suatu kesaksian hilal), dan kepercayaan kepada pemimpin ummat yang tidak tunggal.

Dalam tulisan ini, akan diulas di mana sebenarnya pokok masalah perbedaan yang selama ini terjadi. Pertama, akan dibahas sifat ijtihadiyah dalam penentuan awal Ramadan dan hari raya. Ini penting difahami untuk bisa menerima fakta adanya perbedaan. Kedua, cara penentuan awal Ramadan dan hari raya secara ilmu hisab dan rukyat serta alasan ilmiah terjadinya perbedaan. Perbedaan pasti ada, walaupun kadang-kadang perbedaan itu sebenarnya semu belaka. Ketiga, upaya yang mesti dilakukan menuju penyatuan kalender Islam sedunia yang dari segi teknis ilmiah mudah dilakukan.

Sifat Ijtihadiyah

Dalam terminologi hukum Islam, ijtihad adalah usaha sungguh-sungguh para ulama dengan mengunakan akalnya untuk menetapkan hukum sesuatu yang belum ditetapkan secara qath’i (pasti) dalam Alquran dan Assunnah. Ijtihad menjadi sumber hukum ketiga sesudah Alquran dan Assunnah.

Kesaksian melihat hilal (ru’yatul hilal), keputusan hisab, dan akhirnya keputusan penetapan awal Ramadan dan hari raya oleh pemimpin ummat semuanya adalah hasil ijtihad. Kebenaran hasil ijtihad relatif. Kebenaran mutlak hanya Allah yang tahu. Tetapi orang yang berijtihad dan orang-orang yang mengikutinya meyakini kebenaran suatu keputusan ijtihad itu berdasarkan dalil-dalil syariah dan bukti empirik yang diperoleh.

Kesaksian rukyat tidak mutlak kebenarannya. Mata manusia bisa salah lihat. Mungkin yang dikira hilal sebenarnya objek lain. Keyakinan bahwa yang dilihatnya benar-benar hilal harus didukung pengetahuan dan pengalaman tentang pengamatan hilal. Hilal itu sangat redup dan sulit mengidentifikasikannya, karena mungkin hanya tampak seperti garis tipis. Saat ini satu-satunya cara untuk meyakinkan orang lain tentang kesaksian itu adalah sumpah yang dipertanggungjawabkan kepada Allah. Jaminan kebenaran rukyatul hilal hanya kepercayaan pada pengamat yang kadang-kadang tidak bisa diulangi oleh orang lain.

Hisab pun hasil ijtihad yang didukung bukti-bukti pengamatan yang sangat banyak. Rumus-rumus astronomi untuk keperluan hisab dibuat berdasarkan pengetahuan selama ratusan tahun tentang keteraturan peredaran bulan dan matahari (tepatnya, peredaran bumi mengelilingi matahari) (Q. S. 6:96). Makin lama, hasil perhitungannya makin akurat dengan memasukkan makin banyak faktor. Orang mempercayai hasil hisab karena didukung bukti-bukti kuat tentang ketepatannya, seperti hisab gerhana matahari yang demikian teliti sampai orde detik. Gerhana matahari pada hakikatnya adalah ijtimak (bulan baru) yang teramati. Maka jaminan kebenarannya lebih kuat dari pada rukyat, karena orang lain bisa mengujinya dan pengamatan posisi bulan bisa membuktikannya.

Keputusan penetapan awal Ramadan dan hari raya itu pun hasil ijtihad. Berdasarkan kesaksian ru’yatul hilal atau hisab yang dianggap sah, pemimpin ummat (pemerintah, ketua organisasi Islam, atau imam masjid) kemudian menetapkannya. Karena pemimpin ummat di dunia ini tidak tunggal, keputusannya pun bisa beragam, hal yang wajar dalam proses ijtihad.

Hisab 1418

Di Indonesia, hisab digunakan sebagai alat bantu rukyat dan kadang-kadang digunakan juga sebagai penentu keputusan. Secara garis besar metode hisab bisa dibagi dua jenis: hisab lokal dan hisab global. Hisab lokal berarti menghitung posisi bulan (dinyatakan dalam satuan derejat) sesudah maghrib pada suatu daerah pengamatan. Hisab global menghitung posisi hilal di seluruh dunia. Hasil perhitungan hisab lokal minimal berupa beda azimut (sepanjang horizon) posisi bulan (hilal) dari titik terbenam matahari dan ketinggian bulan. Hisab global menghasilkan peta garis tanggal qamariyah yang analog dengan garis tanggal internasional.

Sebagai contoh, di sini diberikan hasil hisab lokal untuk daerah Jakarta. Hasil hisab awal Ramadan 1418 menghasilkan posisi bulan pada 30 Desember 1997 adalah sebagai berikut:

Ijtimak                         : 29 Desember 1997, pukul 23:58 WIB

Matahari terbenam       : pukul 18:09

Bulan terbenam           : pukul 18:43

Azimut matahari          : 246o 36′

Azimut bulan               : 252o 31′

Tinggi bulan                : 7o 59′.

Jadi, pada saat matahari terbenam, bulan telah berada di sebelah kanan matahari pada jarak sudut sekitar 6o pada ketinggian sekitar 8o. Menurut kriteria hisab, jarak itu sedikit di atas batas minimal untuk bisa diamati (walaupun sebenarnya amat sulit). Maka, kemungkinan awal Ramadan akan jatuh keesokan harinya, pada 31 Desember 1997.

Sedangkan untuk idul fitri, hisab lokal menghasilkan data untuk 28 Januari 1998 sebagai berikut:

Ijtimak                         : 28 Januari 1998, pukul 13:02 WIB)

Matahari terbenam       : pukul 18:17

Bulan terbenam           : pukul 18:21

Azimut matahari          : 251o 36′

Azimut bulan               : 255o 06′

Tinggi bulan                : 1o.

Menurut kriteria hisab, pada posisi itu hilal tidak mungkin teramati pada 28 Januari, walaupun bulan sudah wujud di atas ufuk. Dengan demikian maka idul fitri tidak jatuh pada 29 Januari, tetapi pada 30 Januari 1998.

Hasil hisab lokal itu bisa dibandingkan dengan hisab global. Hasil hisab global (lihat gambar) menunjukkan bahwa garis tanggal awal Ramadan 1418 melintasi Amerika Selatan, Afrika Tengah, Jazirah Arab, Asia Tengah, dan Jepang. Itu berarti Eropa dan Amerika Utara kemungkinan akan mengawali Ramadan pada 30 Desember 1997. Sedangkan Australia, Indonesia, Asia Tenggara, dan negara-negara Arab akan mengawali Ramadan pada 31 Desember 1997.

Garis tanggal awal Syawal 1418 melintasi Lautan Hindia, Irian, dan lautan pasifik. Berdasarkan kriteria bulan di atas ufuk, sebenarnya hampir seluruh dunia akan beridul fitri pada 29 Januari 1998. Hanya Australia yang beridul fitri 30 Januari. Tetapi bila menggunakan kriteria rukyat, Indonesia yang terletak dekat sisi barat garis tanggal kemungkinan besar akan beridul fitri 30 Januari 1998. Hal ini karena hilal masih sulit teramati pada 28 Januari, walaupun bulan telah wujud di atas ufuk.

Garis tanggal qamariyah pada hisab global bisa menjelaskan mengapa terjadi perbedaan awal Ramadan dan hari raya di seluruh dunia. Perbedaan itu sebenarnya semu. Karena yang kita sebut “berbeda” sebenarnya hanyalah tanggal dan hari syamsiahnya. Sedangkan tanggal qamariyahnya tetap sama, yaitu 1 Ramadan untuk awal puasa dan 1 Syawal untuk idul fitri. Dengan kata lain, kita hidup dengan dua garis tanggal. Definisi hari berdasarkan garis tanggal internasional yang disepakati melintasi garis bujur 180o di samudra Pasifik. Sedangkan definisi awal Ramadan dan hari raya berdasarkan garis tanggal qamariyah yang tidak tetap posisinya, tergantung posisi bulan dan matahari.

Perbedaan semu itu mudah dijelaskan karena itu bersifat eksakta. Tetapi ada juga perbedaan yang hakiki yang sulit dijelaskan dan sulit diselesaikan karena berasal dari faktor non-eksakta, bersumber dari hasil ijtihad yang tidak bisa dipaksakan penyelesaiannya. Ada beberapa contoh kasus tentang masalah ini.

Awal Ramadan 1412 di seluruh dunia yang dilaporkan di internet (via ISNET) menunjukkan ada tiga tanggal: 4, 5, dan 6 Maret 1992. Keputusan awal Ramadan 4 Maret di Arab Saudi, Perancis, Jerman, dan beberapa daerah di Amerika ternyata bersumber dari berita radio Arab Saudi yang melaporkan kesaksian rukyat pada 3 Maret. Padahal ijtimak baru terjadi 4 Maret pukul 16:22 waktu Saudi. Jadi sebenarnya mustahil ada kesaksian rukyat yang mendahului ijtimak.

Dari sekitar 300 pengamat hilal di pantai Nambangan, Surabaya, 12 Maret 1994 hanya ada sekitar 10 orang yang mengaku melihat hilal dan hanya 4 orang yang bersedia disumpah hakim Pengadilan Agama Surabaya. Dengan kesaksian itu dan beberapa kesaksian lainnya, akhirnya pemimpin suatu ormas Islam mengumumkan idul fitri jatuh pada 13 Maret 1994, satu hari lebih awal dari keputusan Pemerintah. Padahal menurut hisab, pada saat maghrib 12 Maret itu sebenarnya bulan telah berada di bawah ufuk, bagaimana mungkin bisa dirukyat.

Idul Adha 1417 di Indonesia ada dua versi: 17 April (mengikuti Arab Saudi) dan 18 April 1997 (mengikuti hisab-rukyat di Indonesia). Kelompok yang melaksanakan Idul Adha pada 17 April beralasan untuk menyertai yaumun nahr di Mina yang terjadi pada hari itu. Sedangkan yang melaksanakan pada 18 April berlandasan pada kesamaan tanggal qamariyah 10 Dzulhijjah, tidak memaksakan kesamaan hari seperti yang dilaksanakan di Arab Saudi. Masing-masing mempunyai dasar yang dianggap kuat untuk ijtihadnya.

Penyatuan Hakiki

Untuk mewujudkan kesatuan pelaksanaan awal Ramadan dan hari raya di seluruh dunia perlu diidentifikasi masalahnya. Akar masalah yang sebenarnya adalah sifat ijtihadiyah penentuan awal Ramadan dan hari raya. Jadi, untuk menciptakan kesatuan perlu adanya ijma’ (kesepakatan) seluruh ulama, suatu hal yang mungkin terjadi, tetapi perlu usaha besar. Sepakat untuk menerima perbedaan hari (yang sifatnya semu) pun sulit, apalagi sepakat untuk menghilangkan perbedaan.

Ada beberapa langkah yang bisa disarankan untuk menuju kesatuan. Pertama, pemakaian hisab global. Masalah teknis ilmiah relatif paling mudah diselesaikan. Rukyat bisa dibantu dengan hasil hisab untuk menentukan posisi hilal. Tetapi kepastian hilal bisa teramati atau tidak masih tergantung faktor cuaca yang di luar kemampuan manusia untuk mengatasinya. Dengan makin akuratnya hisab astronomi, hisab bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan bukan sekedar alat bantu rukyat. Hisab global adalah cara pemecahan yang memberikan kepastian dan keseragaman keputusan bagi semua negara. Kriteria hisab bisa ditentukan berdasarkan pengalaman keberhasilan rukyat, seperti dilakukan oleh IICP. Penyatuan kalender Islam secara internasional dengan pendekatan teknis ilmiah ini yang sudah dilakukan oleh IICP bersama ahli hisab dan rukyat seluruh dunia. Namun belum semua negara mematuhi keputusan-keputusannya, termasuk Arab Saudi dan Indonesia.

Kedua, konfirmasikan setiap kesaksian ru’yatul hilal. Kesaksian rukyat seringkali kontroversial yang menyebabkan munculnya perbedaan. Penyebabnya bisa karena rukyatnya tidak murni lagi, tetapi terpengaruh hasil hisab dengan metode lama yang tidak akurat. Penyebab lainnya adalah ketidaktahuan pengamat untuk membedakan hilal dan objek lain, seperti sabitnya planet Venus yang dilihat dengan teleskop dilaporkan sebagai hilal atau cahaya tipis di kaki langit yang diamati tanpa teleskop mungkin dianggap sebagai hilal. Untuk menghindarkan kesaksian yang kontroversial itu perlu disepakati kriteria untuk mengkonfirmasikannya, tidak cukup sekedar sumpah. Salah satu langkah yang sudah dilakukan oleh Departeman Agama RI adalah menolak kesaksian hilal bila secara hisab yang akurat bulan sebenarnya sudah di bawah ufuk pada saat maghrib. Kriteria lain yang bisa digunakan adalah posisi hilal dan bentuk hilal. Ahli astronomi dan ahli rukyat yang berpengalaman akan mengkonfirmasi benar-tidaknya kesaksian itu.

Ketiga, adakan lembaga antarpemerintah sebagai otoritas tunggal yang ditaati. Kesaksian hilal di suatu wilayah hanya bisa dijadikan dasar keputusan global bila ada otoritas tunggal pengambil keputusan. Selama belum ada otoritas tunggal yang dipercaya sebagai pengambil keputusan dan bisa mengumumkan ke seluruh dunia, kesaksian hilal itu malah akan memunculkan keputusan yang berbeda-beda karena informasinya tidak mungkin tersebar merata. Kesaksian hilal di Arab Saudi belum tentu yang terbaik, karena pelapornya mungkin juga orang awam yang berani di sumpah karena keyakinannya yang merasa benar telah menyaksikan hilal. Benar atau salahnya tidak ada konfirmasi. Untuk tingkat ASEAN, penyeragaman telah bisa dilakukan karena koordinasi antarpemerintah (sebagai otoritas tunggal) telah memungkinkan pengambilan keputusan bersama dan diumumkan secara luas melalui TV dan Radio. Perbedaan akan muncul ketika ada kelompok yang tidak lagi mengakui pemerintah (Menteri Agama bersama majelis isbath) sebagai pengambil keputusan tunggal dengan membuat pengumuman sendiri.

Ramadan dan Idul Fitri di Masjid Kobe

T. Djamaluddin, Alumni Kyoto University, Jepang

(Dimuat di Republika, 26 Februari 1995)

Ramadan dan Idul Fitri tahun ini (1995) bagi masyarakat Muslim di daerah Kansai Jepang (Kobe, Osaka, Kyoto) mungkin agak lain. Gempa bumi 17 Januari lalu nampaknya akan mengubah suasana menjadi lain dari biasanya. Buka puasa bersama yang biasanya dilakukan tiap Sabtu secara bergilir antara masyarakat Arab, India – Pakistan, dan Indonesia – Malaysia saya bayangkan tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Transportasi menjadi kendala utama, kereta api dan mobil tidak selancar sebelumnya. Seorang teman Jepang yang menelpon belum lama ini mengungkapkan perjalanan dari Osaka ke Kobe yang biasanya ditempuh dengan mobil hanya dalam waktu sekitar satu jam, sekarang perlu waktu tiga jam akibat kemacetan. Kabarnya silaturahim masyarakat Indonesia di Wisma Konsulat Jenderal RI di Kobe untuk tahun ini ditiadakan disebabkan beberapa kesulitan akibat gempa tersebut yang belum pulih seluruhnya.

Berita gempa di Kobe itu mengkhawatirkan saya. Selain keselamatan teman-teman yang baru setahun berpisah, saya mengkhawatirkan keutuhan satu-satunya masjid di Jepang, Masjid Kobe. Dari tayangan televisi yang selalu saya ikuti, daerah Sanomiya di pusat Kobe mengalami rusak berat. Masjid Kobe hanya sepuluh menit berjalan kaki dari stasiun Sanomiya itu. Dalam tayangan televisi, kuil Ikuta yang biasa terlewati bila akan ke masjid Kobe terlihat runtuh.

Pada awal Ramadan lalu ada telepon dari Sudaryanto (kakak kelas Yudi Syafei, mahasiswa Indonesia yang sempat diberitakan selamat oleh Republika) yang juga punya kekhawatiran besar akan keutuhan masjid Kobe. Alhamdulillah, dia mengabarkan bahwa masjid Kobe utuh. Hanya sedikit bagian hiasan tembok di mihrab yang pecah dan sedikit retak pada bangunan baru di sisinya. Yang agak berat hanya tembok halaman parkir yang runtuh sebagian.

Itulah perlindungan Allah. Bukan hanya masjid yang utuh, kabarnya kantor perdagangan Pak Ahsan Zia, salah seorang penanggung jawab harian masjid Kobe, yang berada di depan masjid juga selamat. Padahal apartemen di belakang kantor itu ada yang rusak berat. Kuil Ikuta yang berjarak sekitar 100 meter di selatan masjid rusak berat. Demikian juga tempat kumpul anak muda urakan di dekat kuil itu runtuh. “Nampaknya gempa itu seperti pembersih tempat itu,” kata Sudaryanto.

Menurut Pak Ahsan Zia beberapa tahun lalu, masjid Kobe juga selamat dari gempuran bom pada perang dunia II. Padahal banyak bangunan di sekitarnya pada waktu itu yang terbakar. Masjid adalah milik Allah. Dia akan melindunginya kalau masjid itu sentiasa dimakmurkan oleh ummat-Nya.

Ramadan tahun ini, walau mungkin tak seramai tahun lalu, nampaknya masjid Kobe tak akan sepi dari jamaahnya. Bagi kebanyakan masyarakat Muslim yang pernah melewatkan Ramadan dan Idul Fitri di daerah Kansai, nama Masjid Kobe pasti akan teringat. Informasi utama tentang awal Ramadan dan Idul Fitri serta jadwal puasa yang biasa di kirim oleh Konsulat Jendral RI bersumber dari Masjid Kobe. Buka puasa bersama juga sering diadakan di masjid Kobe. Dan saat salat Idul Fitri di masjid Kobe merupakan saat berkumpul masyarakat Indonesia di Jepang Barat.

Kenangan Ramadan

Tujuh kali Ramadan saya lewatkan di Jepang. Tahun 1988 saya tiba 8 hari sebelum Ramadan dan tahun 1994 saya pulang ke tanah air 3 hari setelah Ramadan. Ramadan di negeri orang memang lain rasanya, tetapi suasana Ramadan bisa diciptakan di dalam jiwa, terutama bila bila mengikuti buka puasa bersama di Masjid Kobe atau di Muslim Association.

Ramadan pertama di negeri Sakura saya masuki pada musim bunga Sakura. Mahasiswa Indonesia sebagian besar kebetulan tinggal satu lantai di asrama. Di lantai itu juga tinggal mahasiwa dari Malaysia dan Thailand. Mahasiswa Muslim dari Malaysia biasa menyatu dengan mahasiswa Indonesia, termasuk dalam persiapan makan buka dan sahur serta saling membangunkan waktu sahur. Khususnya untuk makan sahur, mahasiswa Indonesia biasa bergantian memasak di dapur asrama, baik berkelompok maupun sendiri-sendiri. Rupanya kebiasa memasak ini menarik perhatian mahasiswa Thailand. Salah seorang teman dari Thailand itu sempat berkomentar, “Mahasiswa Indonesia suka memasak ya …. Tengah malam pun masih ramai memasak….” Oh, rupanya memasak untuk makan sahur merupakan pemandangan aneh bagi mereka. Saya jelaskan bahwa itu hanya ada pada bulan Ramadan, bulan puasa.

Salat tarawih dilaksakan bersama-sama dengan mahasiswa dari negara-negara Muslim lainnya: Suriah, Mesir, Tunisia, Maroko, dan Bangladesh. Imamnya dari suriah. Ada kenangan menarik tentang salat tarawih ini. Mousallam yang menjadi imam bisa membaca surat yang panjang-panjang. Karenanya untuk mencegah kesalahan temannya dari Mesir memegang Al-Qur’an kecil dan mengoreksinya bila imam keliru membaca, walaupun jarang terjadi. Jumlah rakaatnya 11, termasuk witir. Rupanya teman-teman Indonesia tak tahan berlama-lama. Pada hari kedua jumlah jamaah berkurang, sebagian berwitir sendiri di kamar. Kebiasaan tarawih di tanah air yang biasa dengan “menu” surat-surat pendek At-Takatsur sampai An-Nas yang kadang-kadang dengan kecepatan tinggi masih kental melekat.

Tarawih dan salat Idul Fitri di masjid Kobe punya kenangan sendiri. Pada waktu pertama kali salat tarawih di masjid Kobe ada hal yang membuat bingung. Imam Yahya dari Moro (Filipina) kadang-kadang surat yang dibaca berpindah dari satu bagian surat ke bagian surat yang lain dengan diselingi takbir. Akibatnya, karena tak biasa, banyak jamaah yang terkecoh mengira itu takbir untuk ruku. Ternyata setelah jamaah itu ruku, imam melanjutkan membaca surat.

Madzhab Hanafi yang diterapkan di masjid Kobe biasanya dijelaskan terlebih dahulu sebelum salat Idul Fitri. Menurut madzhab Hanafi, pada rakaat pertama takbir tiga kali sebelum membaca Al-Fatihah dan pada rakaat ke dua takbir tiga kali sesudah membaca surat sebelum ruku. Ini berbeda dari madzhab Syafii yang lazim dipakai di Indoensia yang pada rakaat pertama ada tujuh takbir dan pada rakaat ke dua ada lima takbir, semuanya sebelum Al-Fatihah. Jamaah yang tak mendengar atau tak faham penjelasan itu sering terkecoh. Pada rakaat kedua setelah membaca surat imam bertakbir tiga kali. Banyak diantara jamaah yang mengira itu takbir untuk ruku. Tetapi, kok lalu takbir lagi bukan membaca sami’allah. Ini sering menjadi cerita lucu setelah salat, masing-masing bercerita tentang pengalamannya. Yang paling lucu, pernah ada yang biasa salat memejamkan mata dan mengira hanya kesalahan kecil waktu imam membaca takbir bukan sami’allah. Pada saat takbir ke tiga dia bersiap sujud, padahal imam masih tegak berdiri dan baru pada takbir ke empat ruku. Tentu saja dia bingung.

Saat buka puasa bersama di masjid Kobe punya kekhasan. Masjid memang menyediakan makanan buka puasa setiap hari. Tetapi khusus pada hari Sabtu, biasanya diadakan acara buka bersama yang penanggung jawabnya bergiliran di antara masyarakat Muslim di Kobe. Masing-masing menyediakan makanan khasnya. Pada hari sabtu pertama mungkin kita akan merasakan masakan Arab. Pada Sabtu ke dua mungkin masakan Pakisa – India. Dan pada Sabtu yang lain ada masakan Indonesia. Bagi para masyarakat Indonesia yang rindu makanan Indonesia kesempatan ini merupakan kesempatan yang dicari-cari. Makanan itu disiapkan oleh ibu-ibu dari Konsulat Jenderal RI.

Kunjungan ke Kobe pada Ramadan dan Idul Fitri memang merupakan kunjungan berfungsi banyak: salat di Masjid Kobe, bertemu teman-teman yang tinggal di berbagai kota di Jepang Barat, dan merasakan makanan khas Indonesia pada saat buka puasa bersama di masjid atau pada saat silaturrahim di Wisma Konsulat Jendral RI. Yang tak kalah pentingnya adalah belanja di kota Cina yang tak jauh dari masjid Kobe. Bumbu-bumbu (a.l. bawang merah segar, lengkuas, salam, bumbu instant nasi goreng, bumbu sate), buah-buahan tropik dalam kaleng (a.l. rambutan, nangka, nenas) dan sayuran khas daerah tropik (a.l. kangkung, bayam, petai) serta kacang hijau.

Di manakah Tujuh Langit Itu?

T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Anatriksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat, 10 Januari 1995)

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba‑Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda‑tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Isra’ : 1).

Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat  sebahagian tanda‑tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (Q.S. An‑Najm:13‑18).

Ayat-ayat itu mengisahkan tentang peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Palestina. Mi’raj adalah perjalanan dari masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha. Sidratul muntaha secara harfiah berarti ‘tumbuhan sidrah yang tak terlampaui’, suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal‑hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al‑Qur’an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu.

Di dalam kisah yang agak lebih rinci di dalam hadits disebutkan bahwa Sidratul Muntaha dilihat oleh Nabi setelah mencapai langit ke tujuh. Dari kisah itu orang mungkin bertanya-tanya di manakah langit ke tujuh itu. Mungkin sekali ada yang mengira langit di atas itu berlapis-lapis sapai tujuh dan Sidratul Muntaha ada di lapisan teratas. Benarkah itu? Tulisan ini mencoba membahasnya berdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.

Sekilas Kisah Isra’ Mi’raj

Di dalam beberapa hadits sahih disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan isra’ dan mi’raj dengan menggunakan “buraq”. Di dalam hadits hanya disebutkan bahwa buraq adalah ‘binatang’ berwarna putih yang langkahnya sejauh pandangan mata. Ini menunjukkan bahwa “kendaraan” yang membawa Nabi SAW dan Malaikat Jibril mempunyai kecepatan tinggi.

Apakah buraq sesungguhnya? Tidak ada penjelasan yang lebih rinci. Cerita israiliyat yang menyatakan bahwa buraq itu seperti kuda bersayap berwajah wanita sama sekali tidak ada dasarnya. Sayangnya, gambaran ini sampai sekarang masih diikuti oleh sebagian masyarakat, teruatam di desa-desa.

Dengan buraq itu Nabi melakukan isra’ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Setelah melakukan salat dua rakaat dan meminum susu yang ditawarkan Malaikat Jibril Nabi melanjutkan perjalanan mi’raj ke Sidratul Muntaha.

Nabi SAW dalam perjalanan mi’raj mula-mula memasuki langit dunia. Di sana dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Perjalanan diteruskan ke langit ke dua sampai ke tujuh. Di langit ke dua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit ke tiga ada Nabi Yusuf. Nabi Idris dijumpai di langit ke empat. Lalu Nabi SAW bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, Nabi Musa di langit ke enam, dan Nabi Ibrahim di langit ke tujuh. Di langit ke tujuh dilihatnya baitul Ma’mur, tempat 70.000 malaikat salat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam‑kalam (‘pena’). Dari sidratul muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non‑fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat di Iraq dan sungai Nil di Mesir.

Jibril juga mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al‑Qur’an surat An‑Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya. Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah salat wajib.

Mulanya diwajibkan salat lima puluh kali sehari‑semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringan dan diberinya pengurangan sepuluh‑sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, “Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah.” Maka Allah berfirman, “Itulah fardlu‑Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba‑Ku.”

Di manakah Tujuh Langit

Konsep tujuh lapis langit sering disalahartikan. Tidak jarang orang membayangkan langit berlapis-lapis dan berjumlah tujuh. Kisah isra’ mi’raj dan sebutan “sab’ah samawat” (tujuh langit) di dalam Al-Qur’an sering dijadikan alasan untuk mendukung pendapat adanya tujuh lapis langit itu.

Ada tiga hal yang perlu dikaji dalam masalah ini. Dari segi sejarah, segi makna “tujuh langit”, dan hakikat langit dalam kisah Isra’ mi’raj.

Sejarah Tujuh Langit

Dari segi sejarah, orang-orang dahulu –jauh sebelum Al-Qur’an diturunkan — memang berpendapat adanya tujuh lapis langit. Ini berkaitan dengan pengetahuan mereka bahwa ada tujuh benda langit utama yang jaraknya berbeda-beda. Kesimpulan ini berdasarkan pengamatan mereka atas gerakan benda-benda langit. Benda-benda langit yang lebih cepat geraknya di langit dianggap lebih dekat jaraknya. Lalu ada gambaran seolah-olah benda-benda langit itu berada pada lapisan langit yang berbeda-beda.

Di langit pertama ada bulan, benda langit yang bergerak tercepat sehingga disimpulkan sebagai yang paling dekat. Langit ke dua ditempati Merkurius (bintang Utarid). Venus (bintang kejora) berada di langit ke tiga. Sedangkan matahari ada di langit ke empat. Di langit ke lima ada Mars (bintang Marikh). Di langit ke enam ada Jupiter (bintang Musytari). Langit ke tujuh ditempati Saturnus (bintang Siarah/Zuhal). Itu keyakinan lama yang menganggap bumi sebagai pusat alam semesta.

Orang-orang dahulu juga percaya bahwa ke tujuh benda-benda langit itu mempengaruhi kehidupan di bumi. Pengaruhnya bergantian dari jam ke jam dengan urutan mulai dari yang terjauh, Saturnus, sampai yang terdekat, bulan. Karena itu hari pertama itu disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris atau Doyoubi (hari Saturnus/Dosei) dalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Indonesia Saturday adalah Sabtu. Ternyata, kalau kita menghitung hari mundur sampai tahun 1 Masehi, tanggal 1 Januari tahun 1 memang jatuh pada hari Sabtu.

Hari-hari yang lain dipengaruhi oleh benda-benda langit yang lain. Secara berurutan hari-hari itu menjadi Hari Matahari (Sunday, Ahad), Hari Bulan (Monday, Senin), Hari Mars (Selasa), Hari Merkurius (Rabu), Hari Jupiter (Kamis), dan Hari Venus (Jum’at). Itulah asal mula satu pekan menjadi tujuh hari.

Jumlah tujuh hari itu diambil juga oleh orang-orang Arab. Dalam bahasa Arab nama-nama hari disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, …, sampai tujuh, yakni ahad, itsnaan, tsalatsah, arba’ah, khamsah, sittah, dan sab’ah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu. Hari ke enam disebut secara khusus, Jum’at, karena itulah penamaan yang diberikan Allah di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan adanya kewajiban salat Jum’at berjamaah.

Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis Dominggo yang berarti hari Tuhan. Ini berdasarkan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi orang Islam tidak mempercayai hal itu, karenanya lebih menyukai pemakaian “Ahad” daripada “Minggu”.

Makna Tujuh Langit

Langit (samaa’ atau samawat) di dalam Al-Qur’an berarti segala yang ada di atas kita, yang berarti pula angkasa luar, yang berisi galaksi, bintang, planet, batuan, debu dan gas yang bertebaran. Dan lapisan‑lapisan yang melukiskan tempat kedudukan benda‑benda langit sama sekali tidak ada. Sedangkan warna biru bukanlah warna langit sesungguhnya. Warna biru dihasilkan dari hamburan cahaya biru dari matahari oleh atmosfer bumi.

Di dalam Al‑Qur’an ungkapan ‘tujuh’ atau ‘tujuh  puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al‑Baqarah:261 Allah menjanjikan:

Siapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah ibarat menanam sebiji benih yang menumbuhkan TUJUH  tangkai yang masing‑masingnya berbuah seratus butir.  Allah MELIPATGANDAKAN pahala orang‑orang yang dikehendakinya….

Juga di dalam Q.S. Luqman:27:

Jika seandainya semua pohon di bumi dijadikan sebagai pena dan lautan menjadi tintanya dan ditambahkan TUJUH lautan lagi, maka tak akan habis Kalimat Allah….

Jadi  ‘tujuh langit’ semestinya difahami pula sebagai tatanan benda‑benda langit yang tak terhitung banyaknya, bukan sebagai lapisan‑lapisan langit.

Tujuh langit pada Mi’raj

Kisah Isra’ Mi’raj sejak lama telah minimbulkan perdebatan soal tanggal pastinya dan apakah Nabi melakukannya dengan jasad dan ruhnya atau ruhnya saja. Demikian juga dengan hakikat langit. Muhammad Al Banna dari Mesir menyatakan bahwa beberapa ahli tafsir berpendapat Sidratul Muntaha itu adalah Bintang Syi’ra. Tetapi sebagian lainnya, seperti Muhammad Rasyid Ridha dari Mesir, berpendapat bahwa tujuh langit dalam kisah isra’ mi’raj adalah langit ghaib.

Dalam kisah mi’raj itu peristiwa lahiriyah bercampur dengan peristiwa ghaib. Misalnya pertemuan dengan ruh para Nabi, melihat dua sungai di surga dan dua sungai di bumi, serta melihat Baitur Makmur, tempat ibadah para malaikat. Jadi, nampaknya pengertian langit dalam kisah mi’raj itu memang bukan langit lahiriyah yang berisi bintang-bintang, tetapi langit ghaib.

Antara Limit Astronomis dan Harapan Teleskop Rukyat: Tantangan Rukyatul Hilal

T. Djamaluddin, Peneliti  Matahari dan  Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di  Republika 17 Januari 1996)

Para ahli hisab dari Departemen Agama RI dan beberapa ormas Islam telah menyepakati kemungkinan idul fitri jatuh pada 20 Februari 1996. Tetapi posisi hilal 1 Syawal 1416 untuk wilayah Indonesia sebanarnya kurang menguntungkan untuk dirukyat. Sedangkan Departemen Agama sebagai lembaga yang mempunyai otoritas menentukan kepastian saat idul fitri masih menganut rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit pertama) sebagai dasar keputusannya. Karena itu masih terbuka kemungkinan puasa Ramadan menjadi 30 hari dan idul fitri jatuh pada tanggal 21 Februari 1996.  Bila hilal tidak teramati pada tanggal 19 Februari, maka keputusan yang diambil akan berdasarkan istikmal, melengkapkan bulan Ramadan menjadi 30 hari.

Posisi hilal 1 Syawal 1416 akan menghambat keberhasilan rukyat di Indonesia. Tidak seperti hilal awal Ramadan lalu yang relatif tinggi, hilal awal Syawal sedikit di bawah limit kriteria visibilitas (kenampakan) hilal. Memang pada saat maghrib 19 Februari bulan sudah berada di atas ufuk barat di Indonesia. Dan bila berdasarkan kriteria bulan di atas ufuk, seluruh dunia akan merayakan idul fitri pada tanggal 20 Februari, kecuali Amerika Utara yang berkemungkinan beridul fitri 19 Februari. Tetapi agar hilal dapat diamati, syarat bulan berada di atas ufuk belum cukup.

Limit Astronomis

Pada tahun 1932 dan 1936 Danjon melaporkan hasil pengamatan hilal di majalah astronomi. Dari 75 bukti pengamatan hilal yang dikumpulkan dari berbagai pengamat di seluruh Eropa diperoleh syarat batas penampakan hilal yang kini dikenal sebagai limit Danjon. Danjon dalam laporannya itu menganalisis hubungan jarak sudut (jarak di langit dalam ukuran sudut pandang — dinyatakan dalam derajat) Matahari-Bulan dan besarnya lengkungan sabit pada hilal. Dari 75 data itu diketahui bahwa makin dekat jarak sudut Matahari-Bulan, lengkungan sabit yang bisa teramati makin kecil. Data-data itu menunjukkan bahwa hilal tidak mungkin teramati bila jarak sudut Matahari-Bulan kurang dari 7 derajat. Ini kemudian dikenal sebagai limit Danjon. Dengan limit itu astronom akan menolak laporan pengamatan hilal dengan mata telanjang bila jarak sudut Matahari-Bulan kurang dari 7 derajat.

Ada alasan kuat untuk mendukung limit Danjon itu. Menurut perhitungan Schaefer (1991) di sebuah jurnal astronomi, limit itu disebabkan batas sensitivitas mata manusia. Mata manusia tidak sanggup menangkap cahaya amat redup pada kedua ujung lengkungan sabit hilal. Untuk membuktikannya Schaefer membuat model teoritik hubungan antara besarnya lengkungan sabit hilal dengan kecerlangan hilal tesebut. Dengan limit sensitivitas mata manusia sekitar 8 magnitudo (besaran kecerlangan relatif dalam astronomi) pada jarak sekitar 8 derajat hilal hanya akan terlihat seperti goresan tipis yang tanpa ada tanda-tanda lengkungan (panjang lengkungan sabit hanya sekitar 40 derajat, sepersembilan lingkaran). Itu sudah sulit dikenal sebagai hilal.

Di samping limit Danjon, ada lagi kriteria visibilitas hilal. Bulan yang jarak sudutnya lebih dari 7 derajat dari Matahari belum tentu dapat teramati. Mohammad Ilyas, seorang Muslim yang kini mengepalai International Islamic Calendar Program di Malaysia, telah mengumpulkan banyak bukti pengamatan di seluruh dunia untuk menentukan kriteria hilal agar bisa teramati.

Secara ringkas, kriteria yang dihasilkan dari banyak data pengamatan terbagi dalam tiga kelompok, tergantung aspek apa yang ditinjau. Dilihat dari ketinggian hilal di atas ufuk, tidak ada hilal yang teramati pada ketinggian kurang dari 4 derajat. Untuk hilal yang sangat dekat dengan Matahari (pada jarak mendatar sekitar 5 derajat) hilal harus lebih tinggi dari 10 derajat. Ditinjau dari umur hilal (selang waktu sejak saat ijtimak sampai saat pengamatan), tidak ada hilal yang lebih muda dari 16 jam, kecuali pada saat tertentu rekor termuda yang tercatat adalah 13,5 jam. Dan dilihat dari sudut pandang beda waktu terbenam antara Matahari dan Bulan, hilal tidak mungkin teramati bila beda waktu terbenamnya kurang dari 40 menit.

Berdasarkan kriteria itu, bagi kalangan astronomi, laporan pengamatan hilal yang tinggginya kurang dari 4 derajat (seperti yang sering terjadi di Indonesia) terasa aneh. Ini menimbulkan kecurigaan adanya kesalahan dalam identifikasi hilal (tanpa meragukan kualitas iman dan kejujuran pengamatnya). Ada yang menyebutnya hilal yang teramati mungkin hanya halusinasi akibat pengaruh keyakinan bahwa hilal mestinya dapat dirukyat berdasarkan hasil hisabnya.

Posisi Hilal

Untuk memberikan gambaran mungkin tidaknya keberhasilan rukyatul hilal di Indonesia, di sini akan diulas posisi hilal pada saat maghrib di dua tempat pengamatan hilal: Banda Aceh dan Pelabuhan Ratu. Banda Aceh adalah daerah yang mempunyai kesempatan yang relatif paling baik dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Namun tetap masih mempunyai kemungkinan kecil untuk berhasilnya rukyatul hilal.

Pada saat Matahari terbenam di Banda Aceh, pukul 18:51 WIB, umur bulan baru 12 jam 19 menit. Jadi masih di bawah syarat keberhasilan rukyatul hilal. Sedangkan perbedaan terbenamnya Matahari dan Bulan hanya 20 menit. Ini pun kurang dari syarat minimum kreteria visibilitas hilal. Demikian juga dengan ketinggian bulan yang hanya 5,4 derajat pada beda azimut dengan Matahari 5,1 derajat akan menyulitkan pengamatan hilal. Sebenarnya, jarak sudut Matahari-Bulan yang 7,8 derajat sudah melebihi limit Danjon, tetapi dengan mata telanjang akan sangat sulit untuk merukyatnya. Mungkin masih ada harapan bila mengamatinya dengan teleskop yang dilengkapi dengan detektor yang lebih peka daripada mata manusia. Kalau nanti ada laporan yang menyatakan hilal sudah terlihat oleh pengamat tanpa alat bantu, secara astronomi itu dapat diterima. Mungkin pengamatnya mempunyai mata yang amat tajam dan cuaca mendukungnya.

Posisi bulan di Pelabuhan Ratu pun kurang menguntungkan. Ketinggian bulan pada saat Matahari terbenam hanya 3,8 derajat. Sedangkan umurnya baru 11 jam 44 menit dan beda waktu terbenam Matahari-Bulan hanya 15 menit. Kesemuanya masih di bawah syarat batas untuk keberhasilan pengamatan hilal dengan mata telanjang. Jarak sudut Matahari-Bulan 7,5 derajat hanya sedikit di atas limit Danjon, sehingga kemungkinan keberhasilan rukyatul hilal tetap kecil.

Dengan mempertimbangakan posisi bulan yang kurang menguntungkan itu kaum Muslimin di Indonesia dan Asia Tenggara mesti bersiap dengan kemungkinan berpuasa 30 hari. Kemungkinan adanya keputusan istikmal sangat terbuka. Dengan informasi ini diharapkan kaum Muslimin tidak bingung dan berprasangka buruk bila ternyata pengumuman pemerintah menetapkan idul fitri jatuh pada tanggal 21 Februari 1996. Apa pun keputusan pemerintah (idul fitri jatuh tanggal 20 atau 21 Februari) mesti menjadi acuan yang sah.

Harapan Teleskop Rukyat

Munculnya gagasan teleskop rukyat yang kini telah menjadi kenyataan mungkin menimbulkan harapan dapat diatasinya kendala rukyatul hilal itu. Sayangnya, teleskop rukyat saat ini masih mempunyai kelemahan, seperti diakui oleh pembuatnya (Republika 18 Januari 1996). Kelemahan dari sudut pandang astronomi juga menyebabkan adanya keraguan dari kalangan astronom dari Observatorium Bosscha. Keberhasilan teleskop rukyat melihat hilal 1 Rajab 1416 (23 September 1995) di Saudi Arabia sebenarnya tidak luar biasa karena hilal pada saat itu sudah cukup tinggi, 12 derajat, sudah melebihi kriteria visibilitas hilal. Wajar untuk terlihat, meskipun tanpa alat bantu.

Teleskop rukyat sebenarnya tidak berbeda jauh dengan teleskop pada umumnya. Mungkin perbedaannya yang paling jelas dengan teleskop astronomi umumnya adalah sumbu geraknya. Sumbu gerak utama teleskop astronomi umumnya sejajar dengan sumbu rotasi bumi agar bisa mengikuti gerak semu benda-benda langit dari timur ke barat. Sedangkan teleskop rukyat dipasang secara alt-azimut, yang memungkinkan teleskop bergerak vertikal dan horizontal.

Jenis teleskop rukyat adalah teleskop reflektor, cahaya objek dipantulkan oleh cermin cekung dan difokuskan dengan sistem Newtonian ke lensa pengamat (eyepiece) di sisi tabung teleskop. Secara umum, fungsi utama teleskop (selain sebagai pembesar penampakan objek) adalah memperkuat cahaya objek dengan cara pengumpulan cahaya, baik dengan cermin cekung maupun lensa. Semakin besar diameter cermin atau lensa teleskop, semakin banyak cahaya yang bisa dikumpulkan sehingga makin besar kemampuannya memperkuat cahaya objek. Cahaya yang sudah difokuskan itu bisa teruskan ke lensa pengamat untuk pengamatan lansung atau direkam dengan perangkat video, kamera fotografi, maupun detektor lainnya seperti kamera elektronik (CCD).

Kemampuan suatu teleskop biasanya diukur dari kemampuannya mendeteksi objek lemah. Dalam astronomi, kecerlangan suatu objek dinyatakan dengan magnitudo. Makin besar nilainya, makin redup objek itu. Mata manusia rata-rata masih mampu mendeteksi bintang redup dengan magnitudo 6,5. Dengan menggunakan binokuler kemampuannya meningkat sehingga mampu mendeteksi bintang yang lebih redup lagi dengan magnitudo 10. Dengan teleskop berdiameter 15 cm (seukuran teleskop rukyat) objek paling redup yang dapat terdeteksi mempunyai magnitudo 13. Selisih limiting magnitude (magnitudo batas) suatu teleskop dengan mata manusia bisa menjadi ukuran kemampuan penguatan cahayanya dengan menggunakan rumus sederhana: 10 pangkat (beda magnitudo/2,5). Misalnya, teleskop 15 cm (sekelas teleskop rukyat) mempunyai kemampuan penguatan cahaya 10 pangkat (6,5/2,5), yaitu 400 kali (pembuat teleskop rukyat mengklaim penguatan 40.000 kali — Republika 18 Januari 1996 — hal yang menimbulkan pertanyaan bagi astronom).

Apakah teleskop mampu mengatasi kesulitan rukyatul hilal? Pertanyaan itu telah terjawab dengan hasil penelitian Schaefer (1991). Menurut hasil pengamatan hilal di berbagai tampat dengan mata telanjang dan menggunakan teleskop serta model teoritik yang dikembangkannya, disimpulkan bahwa dengan teleskop pun hilal tetap tidak mungkin teramati bila jarak sudut Matahari-Bulan kurang dari 7 derajat. Selain itu, ada masalah lain dalam pengamatan hilal: kontras antara hilal dan cahaya langit senja. Dengan menggunakan teleskop, baik cahaya  hilal maupun cahaya langit sama-sama diperkuat. Alhasil, kontrasnya sama dengan pengamatan tanpa alat bantu.

Gagasan awal pembuat teleskop rukyat untuk pemakaian filter dan pemasangan detektor perekam menarik untuk dikaji. Dua hal yang harus dipertimbangkan adalah efektivitas filter dan sensitivitas detektor.

Cahaya hilal berasal pantulan cahaya matahari oleh permukaan bulan. Sedangkan cahaya langit senja berasal dari pantulan cahaya matahari oleh partikel-partikel di atmosfer bumi. Untuk memilih jenis filter yang tepat perlu penelitian spektrum cahaya bulan di ufuk (untuk mudahnya bisa diambil cahaya bulan purnama di ufuk timur) dan spektrum cahaya senja. Dengan mempelajari spektrum tersebut akan dapat diketahui rentang panjang gelombang yang dominan pada cahaya bulan daripada cahaya langit senja. Filter berfungsi untuk menghambat sebanyak mungkin cahaya langit senja, tetapi meneruskan sebanyak mungkin cahaya bulan.

Saya belum menemukan data spektrum cahaya bulan dan cahaya langit senja. Namun saya menduga spektrumnya pada cahaya tampak tidak akan jauh berbeda karena sumbernya sama dan mengalami hamburan atmosfer yang hampir sama. Jadi, saya menduga filter kurang efektif untuk meningkatkan kontras antara hilal dan cahaya langit senja. Selain itu, pemakaian filter berarti pula pengurangan intensitas objek yang berarti hilal akan makin sulit teramati.

Pengamatan dengan teleskop yang dilengkapi kamera fotografi atau detektor elektronik pada prinsipnya bisa menolong mengenali hilal yang redup bila sensitivitasnya lebih baik daripada sensitivitas mata. Dengan makin baiknya sensitivitas kamera, limit Danjon akan dapat diperkecil. Dengan kata lain pada jarak sudut Matahari-Bulan kurang dari 7 derajat hilal mungkin dapat terdeteksi. Kontras mungkin dapat ditingkatkan dalam pemrosesan citranya. Teknologi kamera CCD dan pemrosesan citra dengan komputer sudah lazim dipakai para astronom untuk mendeteksi objek redup. Mungkin inilah satu-satunya cara untuk mengatasi kelemahan teleskop rukyat. Kita tunggu pengembangannya.