BLACK HOLE


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

(Dimuat di Republika — Hikmah –, 26 Juni 2000)

Para astronom meyakini sebagian besar (mungkin 90% atau lebih) materi di alam semesta tidak terdeteksi dengan teleskop besar sekalipun. Itulah  yang dinamakan dark  matter (materi  gelap). Mereka tidak tampak, walaupun diyakini keberadaanya secara tidak langsung.

Salah satu kelompok matarei gelap itu adalah black hole. Black hole diyakini ada di pusat galaksi. Black hole itu super amat sangat  padatnya, hingga gravitasinya luar biasa besarnya. Cahaya pun tertarik oleh medan gravitasinya. Bila ada bintang yang berdekatan dengannya, materinya akan tersedot oleh black hole.

Black hole bisa terbentuk dari inti bintang raksasa yang meledak sebagai supernova. Bagian luarnya tampak hancur  berhamburan ke luar, tetapi intinya memadat ke dalam. Kepadatan black hole dapat diumpamakan bila bola matahari yang berdiameter 1,4 juta km (109 kali diameter bumi) dan bermassa 2 milyar milyar milyar (dengan 27 angka nol) ton dimampatkan hingga diameternya hanya 3 km.

Dalam dimensi sosial, fenomena seperti itu juga ada dan harus mejadi perhatian para pemimpin dalam segala tingkatan. Apa yang dikenal sebagai the silent majority, mayoritas yang diam, mirip dengan dark matter di alam semesta. Jumlahnya mayoritas, tetapi tidak terdeteksi suaranya atau sikapnya yang sebenarnya. Mungkin karena takut, pasrah, atau tak peduli.

Di antara yang diam itu ada yang seperti black hole. Punya kekuatan besar, tetapi tidak tampak. Mungkin terbentuk dari tokoh raksasa yang telah runtuh. Mungkin juga dari orang biasa. Tetapi ciri utama fenomena seperti black hole itu adalah perasaan teraniaya dan sakit hati. Perasaan orang tidak tampak. Tetapi kekuatan orang yang teraniaya dan sakit hati itu sangat luar biasa.

Allah memberi hak kepada orang yang teraniaya untuk membalas secara setimpal dan berjanji akan menolongnya. Dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya (QS 22:60). Bahkan ucapan kasar pun diizinkan bagi mereka ketika membela diri: Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (QS 4:148). Pembalasan orang teraniaya bukan dosa, justru dosanya terletak pada penganiayanya  (QS 42:41-42).

Allah dan Rasul-Nya menjamin bahwa orang yang teraniaya akan diberi hak khusus, tanpa memandang agama mereka. Ketika Muadz diutus menjadi gubernur Yaman, Nabi berpesan bahwa dia akan menghadapi kaum ahli kitab (Nasrani atau Yahudi). Di sampaing pesan da’wah, Rasulullah berpesan agar masalah hak asasi kaum ahli kitab tersebut diperhatikan sungguh-sungguh. ”Jagalah harta mereka dan takutlah doa orang yang teraniaya, karena tidak ada pembatas antara doa mereka dengan Allah.” (HR Bukhari-Musim).

Ibarat black hole, kelak mereka pun dapat menyedot keutamaan para penganiayanya. Nabi berpesan, ”Orang yang pailit dari ummatku adalah orang yang pada hari qiyamat berbekal pahala shalat, puasa, dan zakatnya. Tetapi suka mencaci, menuduh, dan memakan harta orang lain serta menumpahkan darah dan memukul orang. Maka pahalanya diambil  untuk diberikan kepada orang-orang yang teraniaya itu,sedangkan pahalanya tak cukup membayarnya hingga dosa orang yang teraniaya yang ditimpakan kepadanya,  ia masuk neraka” (HR Bukhari-Muslim).

Berhati-hatilah dalam bersikap dan bertutur kata. Bila tidak, berarti kita telah menciptakan sekian banyak black hole di sekitar kita. Ancaman bahaya di dunia dan di akhirat telah diperingatkan Allah dan Rasul-Nya.

%d blogger menyukai ini: