Bukti Ketaatan Makhluk pada Khaliqnya: ALAM PUN BERTHAWAF


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Pikiran Rakyat,  23 Maret 1998)

Thawaf dalam makna asalnya berarti mengelilingi sesuatu. Dalam pengertian syariat, thawaf adalah salah satu bentuk ibadah dengan cara mengelilingi ka’bah tujuh kali. Dalam rangkaian ibadah haji, kedudukan thawaf sangat penting sekali. Dan selama berhaji sangat dianjurkan untuk memperbanyak thawaf sunnah (tathawu) karena keutamaannya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa setiap hari Allah menurunkan 120 rahmat kepada orang yang berhaji ke rumah Allah yang suci: 60 untuk yang berthawaf, 40 untuk yang shalat, dan 20 untuk yang menyaksikannya (hadits hasan riwayat Baihaqi).

Apakah makna dibalik thawaf? Di dalam Alquran dan hadits tidak dijelaskan makna berkeliling di sekitar ka’bah itu. Tetapi ayat-ayat Allah di alam semesta ini bisa membantu menjelaskan maknanya. Kalau kita perhatikan alam semesta secara mendalam, thawaf juga dilakukan oleh semua makhluk-Nya. Hal inilah yang akan diulas dalam tulisan ini bagaimana alam pun berthawaf sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya.

Ketaatan Makhluk

Pada awal penciptaan alam semesta, Allah mengambil “janji” langit dan bumi dalam bahasa-Nya yang diabadikan di dalam Alquran surat Fush-shilat:9-12.

Katakanlah, “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada (Allah) yang menciptakan bumi dalam dua masa dan kamu adakan sekutu‑sekutu bagiNya? (Allah itulah) Rabb semesta alam. Dan dia menciptakan di bumi itu gunung‑gunung yang kokoh, memberkahinya, dan menentukan padanya kadar makanan‑makanan (penghuni-)nya dalam empat masa. (Itulah jawaban) bagi orang‑orang yang bertanya. Kemudian Dia menyempurnakan langit, (ketika) itu masih berupa kabut. Dia berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kalian dengan taat atau terpaksa”. Keduanya menjawab, “Kami datang dengan taat”. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap‑tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang‑bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik‑baiknya. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

Untuk memahami “janji” langit dan bumi tersebut, perlu juga difahami proses evolusi alam semesta secara keseluruhan. Secara ringkas, kronologi evolusi alam semesta dengan dipandu isyarat di dalam Al-Qur-an (Q.S. 41:9-12 dan Q.S. 79:27-32) terdiri enam tahapan proses sejak penciptaan alam sampai hadirnya manusia. Masa pertama dimulai dengan ledakan besar (big bang) (Q.S. 21:30, langit dan bumi asalnya bersatu) sekitar 12-20 milyar tahun lalu. Langit (ruang alam semesta) kemudian mengembang (Q.S. 51:47). Materi yang mula-mula terbentuk adalah hidrogen yang menjadi bahan dasar bintang-bintang generasi pertama.

Masa yang ke dua adalah pembentukan bintang-bintang dengan bahan dasar dukhan (debu-debu dan gas antarbintang, Q. S. 41:11). Masa ke tiga dan ke empat dalam penciptaan alam semesta adalah proses penciptaan tata surya termasuk bumi. Proses pembentukan matahari sekitar 4,6 milyar tahun lalu dan mulai dipancarkannya cahaya dan angin matahari itulah masa ke tiga penciptaan alam semesta. Proto-bumi (‘bayi’ bumi) yang telah terbentuk terus berotasi yang menghasilkan fenomena siang dan malam di bumi. Masa pemadatan kulit bumi agar layak bagi hunian makhluk hidup adalah masa ke empat.

Hadirnya air dan atmosfer di bumi sebagai prasyarat kehidupan merupakan masa ke lima proses penciptaan alam. Atmosfer yang ada kini sebagian dihasilkan oleh proses-proses di bumi sendiri, sebagian lainnya berasal dari pecahan komet atau asteroid yang menumbuk bumi. Komet yang komposisi terbesarnya adalah es air (20% massanya) diduga kuat merupakan sumber air bagi bumi karena rasio Deutorium/Hidrogen (D/H) di komet hampir sama dengan rasio D/H pada air di bumi, sekitar 0.0002.

Lahirnya kehidupan di bumi yang dimulai dari makhluk bersel tunggal dan tumbuh-tumbuhan merupakan masa ke enam dalam proses penciptaan alam. Hadirnya tumbuhan dan proses fotosintesis sekitar 2 milyar tahun lalu menyebabkan atmosfer mulai terisi dengan oksigen bebas. Pada masa ke enam itu pula proses geologis yang menyebabkan pergeseran lempeng tektonik dan lahirnya rantai pegunungan di bumi terus berlanjut.

Semua proses alami itu yang seolah-olah berjalan dengan sendirinya, sebenarnya berjalan menurut ketentuan Allah. Tanpa tawar menawar, alam patuh mengikuti proses itu. Itu “janji” alam ketika Allah menciptakannya.

Benda-benda langit ditentukan urusannya masing-masing. Bulan mengelilingi bumi. Bumi dan planet-planet lainnya serta komet dan asteorid (planet kecil) mengelilingi matahari. Matahari dan bintang-bintang mengelilingi pusat galaksi. Semua tunduk pada aturan-Nya.

Demikian juga segala proses alami di bumi berjalan sesuai aturan-Nya. Bumi berotasi yang menghasilkan fenomena malam dan siang. Angin bertiup dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Air mengalir mencari daerah yang lebih rendah. Semuanya taat mengikuti ketentuan Allah sesuai janji pada saat penciptaannya.

Alam berthawaf

Thawafnya alam semesta adalah bentuk ketaatan yang paling nyata. Hal ini akan tampak jelas mulai dari proses pembentukan bintang dan planet-planet sampai pada skala galaksi.

Penelitian astronomi menunjukkan banyak bintang bermassa kecil (hampir massa matahari) masih dalam proses pembentukan. Bagian intinya membentuk embrio bintang yang dikelilingi piringan debu dan gas. Hasil pengamatan itu didukung model teoritik berdasarkan perhitungan fisika.

Menurut telaah teoritik, pembentukan bintang bermula dari kontraksi (pemadatan) debu dan gas (dukhan) secara lambat akibat gaya gravitasinya sendiri sambil berotasi. Gas dan debu berthawaf mengelilingi inti pemadatan yang akhirnya nanti akan menjadi bakal bintang.

Akibat rotasi itu, debu dan gas itu tidak semuanya memadat ke intinya, tetapi sebagian membentuk piringan di sekitar intinya yang juga terus berotasi. Embrio bintang dan piringan masih diselubungi oleh debu yang amat tebal sehingga tidak terlihat dari luar. Hanya pancaran sinar inframerah yang dapat diamati.

Dalam proses selanjutnya, embrio bintang berkembang menjadi bintang muda yang didalam intinya mulai terjadi reaksi nuklir. Bintang muda itu kemudian memancarkan partikel-partikel halusnya yang disebut angin bintang. Ini dimulai dari arah kutubnya selanjutnya ke arah ekuatornya. Dengan itu pula proses pemadatan berhenti dan selubung debunya mulai tersibak. Yang tersisa adalah piringan gas dan debu di sekitar bintang muda tersebut.

Sisa piringan gas dan debu itu disebut nebula proto-planet, karena di piringan itulah kemudian terbentuk planet-planet. Bintang (termasuk matahari) dan piringan debunya selanjutnya memasuki masa pembentukan planet-planetnya.

Salah satu teori menyebutkan bahwa nebula proto-planet mula-mula berdiameter sekitar 20 SA (SA = Satuan Astronomi, jarak bumi-matahari) ketika pemadatan berhenti, belum seluas tata surya kita sekarang (berdiameter lebih dari 50.000 SA). Kemudian nebula proto-planet melebar yang disertai dengan proses pendinginan.

Proses pendinginan nebula proto-planet menyebabkan terjadinya penggumpalan gas dan debu. Senyawa yang mula-mula berkondensasi adalah besi dan silikat. Di bagian luar tata nebula proto-planet yang temperaturnya lebih rendah, es air juga ikut berkondensasi. Teori yang kini dianggap kuat menyatakan bahwa planet-planet berasal dari penggumpalan itu yang disebut planetesimal.

Bumi dan planet-planet dekat matahari lainnya (Merkurius, Venus, dan Mars) hanya terbentuk dari materi padat yang terkondensasi, terutama dari senyawa besi dan silikat. Sedangkan Jupiter dan planet-planet raksasa lainnya terbentuk dari planetesimal besar, antara lain akibat turut terkondensasinya es air, sehingga mampu menangkap gas, terutama Hidrogen dan Helium. Planetesimal kecil yang tidak membentuk planet atau pecah akibat tumbukan sesamanya tersisa sebagai komet, asteroid, dan meteoroid.

Thawafnya dukhan pada penciptaan matahari dan anggotanya masih tampak pada rotasi matahari yang berperiode 27 hari dan peredaran planet-planet mengitari matahari.

Matahari dan dan bintang-bintang pun tidak diam di tempat. Semua anggota galaksi bima sakti, yang jumlahnya ratusan milyar bintang juga berthawaf mengitari pusat galaksi. Matahari dan anggota tata suryanya berthawaf mengitari pusat galaksi sekali dalam 200 juta tahun dengan kecepatan sekitar 200‑300 km per detik.

Bagaimana cara thawaf makhluk-makhluk lainnya di atas bumi? Tumbuhan dan binatang juga berthawaf mengitari poros bumi sekali dalam 24 jam. Hanya karena gerakannya dalam skala besar, kita tidak menyadarinya. Malah kita merasakannya seolah-olah benda-benda langit yang mengelilingi kita, yang tampak dalam proses terbit dan terbenamnya matahari, bulan, dan bintang-bintang.

Thawafnya Manusia

Secara jasmani, manusia merupakan bagian dari alam yang pada awal penciptaannya, telah berjanji akan taat kepada-Nya. Maka manusia pun turut dalam proses alam. Termasuk berthawaf bersama tumbuhan dan binatang mengitari poros bumi, walau kadang-kadang tidak menyadarinya.

Secara ruhani, pada awal penciptaan di alam rahim, diri manusia pun telah berjanji untuk taat mengakui Allah sebagai Rabb, Tuhan pencipta dan pemeliharanya.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak‑anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang‑orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Q.S. 7:172).

Pada hari perhitungan kelak, yang mesti dipertanggungjawabkan manusia bukanlah dimensi jasmaninya, tetapi dimensi ruhaninya. Karena jasmani manusia sebenarnya telah taat kepada ketentuan Allah. Ketika terpeleset, jasmani manusia akan jatuh tertarik gravitasi bumi. Ketika terkena wabah penyakit, jasmani manusia bisa rusak. Ketika mati, jasmani manusia pun akan hancur dalam proses pembusukan. Itulah contoh ketaatan jasmani manusia.

Secara ruhani manusia berpotensi untuk ingkar janji, karena adanya nafsu. Ketaatan berdasarkan pengakuan Allah sebagai penciptanya yang pernah dijanjikannya sering terlupakan.

Haji sebagai puncak ibadah mengingatkan akan janji awal manusia untuk taat, sebagai mana alam semesta memenuhi janjinya untuk taat kepada-Nya. Dalam ibadah haji, thawaf bisa mengingatkan jiwa manusia untuk taat kepada Allah sebagaimana alam pun taat pada penciptanya.

Tujuh kali mengelilingi ka’bah bisa bermakna proses yang terus menerus tiada henti sebagaimana thawafnya alam semesta. Di  dalam Alqur’an ungkapan ‘tujuh’  atau  ‘tujuh  puluh’ sering mengacu pada jumlah yang tak terhitung. Misalnya, di dalam Q.S. Al‑Baqarah:261 Allah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Perumpamaan yang diberikan Allah seperti menanam sebutir benih menghasilkan tujuh tangkai berisi masing-masing seratus butir.

Demikian juga perumpamaan tak terbatasnya Kalimat Allah yang tak mungkin dapat dituliskan walaupun semua pohon jadi pena dan lautan jadi tintanya dan di tambah tujuh lautan lagi (Q.S. Luqman:27). Ungkapan tujuh langit pun bisa bermakna seluruh benda langit yang tak terhitung jumlahnya.

Bagi diri manusia, pelaksanaan thawaf tujuh kali merupakan simbol ketaatan dirinya seperti taatnya benda-benda langit berthawaf tiada henti. Tetapi, bila dilihat sebagai kelompok, manusia yang berthawaf silih berganti tiada henti akan tampak seperti miniatur anggota tata surya yang sedang mengitari matahari. Atau seperti bintang-bintang yang sedang mengitari pusat galaksi.

Satu Tanggapan

  1. […] desakan kerinduan itu, untuk menghibur diri saya up-load tulisan lama “Bukti Ketaatan Makhluk pada Khaliqnya: ALAM PUN BERTHAWAF” http://t-djamaluddin.spaces.live.com/blog/cns!D31797DEA6587FD7!291.entry pada 8 Juli 2008. Ternyata […]

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: