Patroli Langit: Mewaspadai Asteroid dan Komet Pengancam Bumi


T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan  Antariksa, LAPAN Bandung

(Dimuat di Republika, 16 Maret 1997)

Akhir Januari 1997, NASA (badan antariksa Amerika Serikat) mengumumkan ditemukannya dua anggota tata surya baru: sebuah asteroid (planet kecil) yang diberi kode 1997 AC11 dan sebuah komet yang diberi kode 1997 A1.

Asteroid 1997 AC11 adalah keluarga asteorid Aten yang orbitnya dekat dengan orbit bumi. Sedangkan komet 1997 A1 diperkirakan mencapai titik terdekat dengan bumi pada 6 Februari 1997 pada jarak sekitar 350 juta km (2,3 kali jarak bumi-matahari).

Penemuan itu dilaporkan oleh empat astronom pengamat tata surya dari JPL (Jet Propulsion Laboratory): Eleanor Helin, Steve Pravdo, David Rabinovitz, dan Ken Lawrence. Pengamatan yang mereka lakukan sebenarnya merupakan bagian dari program patroli langit, mencari asteroid dan komet yang mungkin akan mengancam bumi. Sistem pengamatan otomatik terkomputerisasi yang digunakan diberi nama sistem penjejak asteroid dekat bumi (The Near-Earth Asteroid Tracking – NEAT).

Komponen utama sistem NEAT yang berada di puncak Haleakala (Hawaii) itu terdiri atas sebuah teleskop berdiameter 98 cm yang dilengkapi dengan kamera CCD (kamera elektronik yang citranya diolah dengan komputer) yang sangat peka. Ukuran CCD-nya relatif sangat besar, 4096 x 4096 piksel, jauh lebih besar daripada CCD yang dimiliki kebanyakan observatorium saat ini.

Dengan sistem otomatik yang sangat peka dan mampu merekam medan langit yang luas, pengamatan itu sangat efektif mencari asteroid dan komet baru, terutama untuk mendeteksi kalau-kalau ada yang akan menghantam bumi. Selama bulan Januari 1997 saja berhasil teramati sekitar 700 asteroid. Sedangkan jumlah total objek tata surya yang berhasil diidentifikasi sejak pengoperasiannya pada akhir 1995 lebih dari 9000 objek, setengahnya merupakan objek baru.      Asteroid 1997 AC11 tergolong kelompok asteroid keluarga asteroid Aten yang jarang. Ini adalah asteroid ke-24 dalam keluarga Aten selama 21 tahun pencarian. Asteroid ini tampak sangat redup dengan magnitudo 21, seribu triliun kali lebih redup daripada bintang paling redup yang dapat terlihat mata telanjang. Diameternya diperkirakan sekitar 180 meter. Kemiringan bidang orbitnya terhadap bidang orbit bumi sekitar 31 derajat. Waktu orbitnya mengitari matahari lebih cepat daripada bumi, yaitu hanya 9,5 bulan.

Komet 1997 A1 juga sangat redup, bermagnitudo 19 (sepuluh triliun kali lebih redup dari pada bintang paling redup yang teramati mata telanjang) ketika ditemukan. Komet ini bukan komet periodik seperti komet Halley, karena orbitnya parabolik. Jadi hanya sekali ini komet ini melintas mendekati matahari kemudian menjauh lagi ke luar tata surya.

Asteroid Pengancam Bumi

Asteroid keluarga Aten, seperti asteroid 1997 AC11, perlu diwaspadai karena setengah sumbu panjang orbitnya dekat dengan bumi. Karena kesempatan untuk mendekati orbit bumi paling sering, asteroid keluarga ini mempunyai kemungkinan terbesar untuk menabrak bumi daripada keluarga asteroid lain di dekat bumi.

Selain keluarga asteroid Aten, asteroid yang orbitnya dekat bumi atau melintas orbit bumi adalah keluarga Apollo dan keluarga Amor. Keluarga asteroid Apollo orbitnya melintasi orbit bumi dengan setengah sumbu panjang orbitnya lebih jauh daripada orbit bumi. Sedangkan keluarga asteorid Amor juga melintasi orbit bumi dengan orbit yang lebih jauh dari pada asteroid Apollo. Jarak terdekat dengan matahari berada dekat bumi tetapi jarak terjauhnya berada di dekat orbit planet Mars.

Menurut perkiraan Eugene Shoemaker, asteroid yang orbitnya mendekati orbit bumi ditaksir ada sekitar 1000-2000 buah yang ukurannya lebih dari 500 meter. Setengahnya adalah keluarga asteroid Apollo, hampir setengahnya keluarga asteroid Amor, dan hanya beberapa yang termasuk keluarga asteroid Aten.

Asal usul asteroid dekat orbit bumi ini bisa berasal dari sabuk asteroid (kumpulan asteroid di antara orbit Mars dan Jupiter), tetapi bisa pula dari inti komet yang telah mati. Menurut perhitungan, kemungkinan tumbukan benda langit pada bumi sekitar setengahnya berasal dari asteorid dan setengahnya berasal dari komet. Karena itu kedua benda langit yang melintas dekat bumi itu tetap harus diwaspadai. Sejarah telah memberikan pelajaran betapa hebatnya dampak tumbukan asteroid dan komet pada bumi.

Asteroid Menabrak Bumi

Sebuah asteroid pernah menabrak Bumi dan jatuh di Semenanjung Yukatan di tepi teluk Meksiko 65 juta tahun lalu. Asteroid itu ditaksir berukuran sekitar 10 kilometer seberat setriliun ton. Ini menyebabkan terbentuknya kawah raksasa berdiameter 180 km (hampir seluas Jawa Barat), menyebabkan gelombang raksasa di laut Karibia, dan menghamburkan debu ke atmosfer. Asteroid langsung menembus bumi sehingga sisa-sisanya tidak tampak lagi.

Energi ledakannya setara dengan ledakan 5 miliar bom atom Hiroshima. Debu yang dihamburkan ke atmosfer ditaksir sekitar 100 triliun ton berdasarkan ketebalan endapan debu bercampur Iridium di seluruh dunia. Adanya logam Iridium yang jarang terdapat di Bumi, tetapi melimpah pada asteroid menjadi kunci pembuka tabir rahasia bahwa benda langit yang jatuh adalah asteorid.

Debu-debu yang dihamburkan ke atmosfer sedemikian tebalnya sehingga menghambat masuknya cahaya Matahari. Hilangnya pemanasan Matahari menyebabkan Bumi dilanda musim dingin panjang yang dikenal sebagai “musim dingin tumbukan” (impact winter). Inilah yang diduga penyebab musnahnya hampir setengah makhluk hidup di Bumi, termasuk Dinosaurus.

Komet Menabrak Bumi

Pagi 30 Juni 1908 terjadi ledakan besar di sekitar sungai Tunguska, Siberia Tengah, Rusia. Pukul 07:17 sebuah bola api raksasa meluncur dari langit sangat cepat. Nampaknya jauh lebih besar dari matahari tetapi lebih redup. Jejak di belakangnya tampak seperti ekor berwarna biru. Belum sempat mencapai bumi, pada ketinggian sekitar 8 km terjadilah ledakan dahsyat. Bumi terasa bergetar.

Saksi mata pada jarak 80 km dari pusat ledakan merasakan embusan angin panas dan terlempar dari kursinya. Suara ledakannya terdengar dari jarak 800 km (kira-kira jarak lurus Serang – Surabaya). Pepohonan di bawah titik ledakan terbakar dan sekitar 2000 km persegi hutan diratakan oleh hempasan gelombang kejut.

Bukti-bukti yang ada menyatakan bahwa terjadi ledakan hebat, gelombang kejutnya mampu merobohkan pepohonan pada areal yang luas, hutan di daerah pusat ledakan terbakar, tetapi tidak ada kawah yang terjadi di pusat ledakan itu. Bukti terbaru menunjukkan ditemukannya butiran-butiran intan halus tersebar di sekitar pusat ledakan. Bukti-bukti itu menunjukkan bahwa penyebab ledakan yang sangat mungkin adalah pecahan komet yang menabrak Bumi.

Komet sebagian besar terdiri dari es (campuran air, metana, dan amoniak) dan sedikit butiran batuan halus. Karena itu komet sering disebut sebagai tersusun dari es berdebu. Butiran batuan itu mungkin juga mengadung intan seperti yang dijumpai pada meteorit. Ketika komet menembus atmosfer Bumi, gesekan dengan udara menimbulkan panas dan terlihat seperti bola api raksasa. Es akan menguap. Uap dan debu akan tampak seperti ekor pada bola api itu. Pengereman oleh atmosfer bumi dan pelepasan energi oleh komet menyebabkan timbulnya ledakan hebat di atmosfer. Energi dari bola api itu mampu membakar hutan di bawahnya dan gelombang kejut ledakkannya mampu menumbangkan pepohonan pada area yang sangat luas. Sisa-sisa butiran intan pada inti komet tidak terbakar dan jatuh ke bumi.

Ditaksir komet itu berukuran 100 meter dengan berat sejuta ton dan bergerak dengan kecepatan 30 km/detik (108.000 km/jam). Diduga pecahan itu berasal dari komet Encke. Menurut perhitungan orbitnya, Bumi setiap tahun melintasi orbit komet Encke dua kali: sekitar 2 Juli dan sekitar 1 November. Pada saat perjumpaan sekitar 2 Juli, lintasan komet Encke berada di selatan Bumi dan komet datang dari arah Matahari. Itulah yang menyebabkan pecahan komet yang jatuh di Tunguska pada 30 Juni 1908 nampak berasal dari arah tenggara karena pengaruh rotasi Bumi dan tumbukan terjadi bukan pada malam hari.

Komet Swift-Tuttle

Kabar tentang kemungkinan komet Swift-Tuttle menabrak bumi bermula dari edaran IAU (International Astronomical Union) bernomor 5636, 15 Oktober 1992. Brian G. Marsden, pemimpin biro pusat telegram astronomi di Cambridge, Massachusetts, mengumumkan hasil perhitungannya bahwa komet Swift-Tuttle akan kembali lagi mencapai perihelion pada 11 Juli 2126 dengan ketidakpastian 15 hari. Adanya ketidakpastian itu karena selain gaya-gaya gravitasi, pergerakan komet juga dipengaruhi oleh gaya-gaya lainnya yang merupakan dinamika mikronya yang tidak diketahui dengan pasti.

Andaikan prakiraan Marsden hanya meleset kurang dari satu hari, seperti pada kehadiran Swift-Tuttle 1992, maka tidak perlu khawatir terjadi tumbukan. Komet Swift-Tuttle akan melintas orbit Bumi sebelum bumi sampai pada titik lintasan itu. Tetapi bila komet Swift-Tuttle mencapai perihelion pada batas rentang prakiraannya, 26 Juli 2126, hampir dipastikan komet itu akan bertemu bumi 19 hari kemudian. Pada tanggal 14 Agustus 2126 bumi tepat sampai pada titik persimpangan dengan orbit komet Swift-Tuttle.

Perjumpaan pada titik persimpangan itu, yang dikhawatirkan merupakan tabrakan yang sangat dahsyat yang akan membahayakan kehidupan di bumi. Tetapi, melihat rentang ketidakpastiannya yang besar itu, manusia bisa bernafas lega karena kecil kemungkinannya terjadinya tabrakan komet Swift-Tuttle dengan bumi.

Lagi pula, menurut perhitungan orbitnya, komet Swift-Tuttle sebenarnya tidak tepat memotong orbit bumi. Menurut perhitungan saya, komet hanya melintas dekat bumi pada jarak sekitar 1,8 juta km atau sekitar lima kali jarak bumi-bulan. Yang terjadi bukan tabrakan. Manusia di bumi pada saat itu mungkin akan menyaksikan pemandangan yang luar biasa. Komet dapat terlihat siang hari pada awal Agustus dan hujan meteor Perseid (fenomena seperti bintang berjatuhan di langit utara) yang luar biasa akan terlihat sepanjang malam.

Jadi, komet Swift-Tuttle sebenarnya tidak mengancam bumi. Bahaya dari langit yang sesunguhnya mungkin datang dari asteroid dan komet yang sama sekali belum pernah terdeteksi sehingga belum diketahui perilaku gerakan pada orbitnya. Dalam hal inilah pentingnya usulan para astronom untuk melakukan patroli langit dengan teleskop besar. Bila semua benda langit yang mungkin mengancam bumi berhasil diidentifikasikan, maka langkah-langkah antisipasi bisa disiapkan.

%d blogger menyukai ini: